Skip to content

Mengintip Risiko di Tikungan Tajam

30 Maret 2016

tikungan tajam lombok

KAMI sempat terperanjat ketika di tikungan tiba-tiba muncul sepeda motor yang mendahului dari kanan jalan. Saat itu, mobil kami sedang menelusuri jalan-jalan di kawasan Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sopir yang membawa kami sempat berkata bahwa perilaku seperti itu kerap terjadi di wilayah tersebut.

Pemandangan perilaku pengguna jalan yang mendahului di tikungan, bahkan di tikungan tajam, kerap kita jumpai. Entah apa yang ada di benak sang pendahulu itu. Sekadar menebak-nebak, barangkali dia menganggap di tikungan dia lebih mudah mendahului karena orang lain cenderung melambat.

Risiko mendahului di tikungan tajam cukup besar. Karena itu, tidak disarankan untuk mendahului di tikungan. Risiko tabrakan dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan amat besar. Kecelakaan seperti itu amat mungkin menimbulkan fatalitas yang merenggut korban jiwa.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, kecelakaan di tikungan tajam menyumbang sekitar 1% dari total kecelakaan tahun 2015. Data Korlantas Polri untuk periode semester pertama 2015 membeberkan, tikungan tajam merupakan salah satu dari 10 aspek di faktor jalan yang memicu kecelakaan. Pada periode itu, tikungan tajam menempati posisi keenam sebagai kontributor terbesar di faktor jalan.

Dalam rentang waktu tersebut, setiap hari terjadi dua kasus kecelakaan di tikungan tajam di Indonesia.

Hal yang memungkinkan terjadinya kecelakaan adalah lantaran kita sulit mengetahui datangnya kendaraan dari arah lawan. Belum lagi, bila kendaraan yang hendak mendahului ternyata terlalu melebar ke kanan jalan, risiko kian besar. Bahkan, risiko kian membesar manakala ternyata kondisi jalan dalam keadaan rusak. Lengkap sudah risiko yang ada bagi pengendara yang ingin mendahului di tikungan, terlebih di tikungan tajam.

Di sisi lain, kita patut belajar dari pengalaman yang ada. Indonesia mencatat penurunan signifikan untuk kasus kecelakaan di tikungan tajam. Untuk periode yang sama, bila pada 2015 setiap hari rerata dua kasus kecelakaan, dua tahun sebelumnya setiap hari rerata ada empat kasus kecelakaan. Anjlok sekitar 50%.

Tentu kita berharap tren itu terus merosot. Dan, hal itu hanya bisa diwujudkan ketika kita tidak memaksakan diri mendahului di tikungan tajam. Ketika melintas di areal itu juga tidak memaksakan diri memacu kecepatan di atas rata-rata. Serta, tentu saja diharapkan agar kita kian fokus dan waspada ketika berkendara. Coba deh. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: