Skip to content

Baca Ini Sebelum Touring ke Kawah Putih

1 Mei 2017

MALAM terus merangkak menuju pagi. Rombongan sepeda motor menapaki tikungan demi tikungan di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Udara dingin menemani sepanjang perjalanan, bahkan kian dingin mulai dari Cisarua, Ciloto, Cibodas hingga Cianjur, tempat perhentian untuk istirahat.

Kota Cianjur dipilih untuk istirahat untuk pengisian bahan bakar minyak (BBM) rombongan sepeda motor kami. Maklum, perjalanan masih cukup panjang untuk menuju Ciwidey, Bandung Selatan, Jawa Barat. Dari Jakarta menuju Ciwidey dengan menggunakan sepeda motor harus menempuh sekitar 188 kilometer (km). Artinya, BBM yang dibutuhkan pun lumayan banyak bila satu liter bisa menempuh 30 km.

Rute bersepeda motor dari Jakarta menuju Ciwidey memiliki beberapa jalur. Kami memilih jalur Jakarta-Depok-Bogor-Puncak-Cianjur-Padalarang-Batujajar-Soreang-Ciwidey untuk menuju ke kawasan wisata yang sejak 1991 dikelola Perum Perhutani. Sedangkan untuk rute pulang, kami menempuh Ciwidey-Padalarang-Cianjur-Jonggol-Jakarta. Khusus kali ini rute sempat diputar ke Cibarusah karena ada jembatan rusak di kawasan Jonggol. Jadilah total rute perjalanan bukannya 376 km, tapi menyentuh 390 km. Lumayan.

Nah, saat menuju Ciwidey, praktis kami melintasi Puncak, Bogor. Kawasan wisata ini menjadi favorit warga Jakarta untuk menghabiskan waktu akhir pekan. Kini, saat libur panjang Hari Buruh 1 Mei 2017, kawasan yang membentang dari Bogor hingga Cianjur itu kian sesak didatangi kendaraan bermotor para wisatawan.

Jalannya yang berkelok, menanjak, dan menurun cukup menggoyang adrenalin. Apalagi, banyak titik di kawasan ini tidak memiliki penerangan jalan yang cukup. Praktis para pesepeda motor mengandalkan lampu utama yang ada ditungangannya. Ajib.

Saya dan rombongan Independent Bikers Club (IBC) berangkat dari kawasan Jakarta Selatan, Jumat, 28 April 2017 dinihari. Ada 16 sepeda motor dan 18 orang yang ikut dalam touring kali ini. Selain dari IBC, terdapat juga perwakilan dari kelompok pesepeda motor Skill’s Jakarta, Monkey Road, dan Hondar Revo Club (HRC). Perjalanan pun kian menjadi asyik.

Jalur Batujajar

Matahari telah terbit ketika kami melintas di kawasan Batujajar, Sabtu, 29 April 2017 sekitar pukul 06.00 WIB. Jalur ini kami pilih sebagai upaya menghindari kemacetan lalu lintas jalan yang lebih buruk di jalur Cimahi dan Kopo, Bandung.

Aktifitas warga mulai berdenyut. Mereka yang hendak ke tempat bekerja seperti kantor dan pabrik tampak berseliweran di jalan raya. Mereka yang hendak berdagang ke pasar pun hilir mudik. Sedangkan pemandangan siswa sekolah menuju tempat belajar juga tampak. Sepeda motor pun terlihat menjadi angkutan untuk aktifitas tersebut selain menggunakan angkutan umum.

Jujur saja, kami belum pernah melintas di jalur Batujajar ini. Tak heran jika sebatas mengandalkan teknologi informasi dirasa tidak cukup. Sempat beberapa kali bertanya untuk memupus keraguan.

Kondisi jalan di sepanjang rute Batujajar ke Soreang sebelum akhirnya ke Ciwidey, mayoritas dalam kondisi baik. Di sejumlah titik kami temui jalan berlubang dan bergelombang serta genangan air yang meluber dari drainase.
Untuk urusan kemacetan masih tergolong normal. Hal yang perlu diwaspadai, di jalur ini banyak cabang alias persimpangan jalan. Bagi pemula yang melintas disini mesti ekstra waspada kalau tidak mau membuang waktu karena nyasar.

Belakangan, saat pulang dari Ciwidey kami pun melintas jalur ini dan sempat satu kali salah jalan alias nyasar walau belum terlalu jauh.

Kawah Putih

Selepas Batujajar dan Soreang, jalur menuju Ciwidey belum terlalu ramai pada Sabtu pagi itu. Kontras dengan kondisi sebaliknya saat kami menuju Jakarta yang macet total. Maklum, akhir pekan dan libur panjang. Banyak warga yang memanfaatkannya untuk berlibur.

Dari arah Soreang, jalur menanjak harus kami jalani untuk menuju Ciwidey. Jalan berkelok pun harus dilalui dengan hati-hati. Hijaunya pepohonan mulai tampak di kawasan wisata favorit itu. Udara dingin menyelusup ke balik jaket. Dalam catatan saya butuh sekitar delapan jam untuk kami melumat 188 km dari Jakarta Selatan ke Ciwidey.

Udara pegunungan terasa sangat sejuk bagi kami warga Jakarta. Pengukur suhu udara menunjukkan angka sekitar 18 derajat celcius di penginapan tempat kami beristirahat di Agro Wisata, Ciwalini, yakni sekitar 1,5 km dari gerbang Kawah Putih, Ciwidey. Tapi, jangan khawatir karena pengelola penginapan menyediakan fasilitas mandi air panas untuk mengusir rasa dingin.

Penginapan yang membanderol Rp 1,5 juta untuk dua kamar dengan tiga tempat tidur menyodorkan pemandangan indah. Selain hijaunya perkebungan teh dan pepohonan lainnya, pemandangan kabut turun dan temaramnya mentari senja membuat pengunjung terlena.

Bagi pesepeda motor yang ke Kawah Putih, harus membayar tiket masuk Rp 20 ribu dan biaya angkutan umum Ontang Anting Rp 15 ribu. Biaya angkutan itu sudah termasuk untuk pulang pergi. Sedangkan sepeda motor dan helm yang dititipkan di areal parkir mesti membayar jasa penitipan Rp 10 ribu. Jadi, total biaya untuk berkunjung Kawah Putih untuk satu pesepeda motor Rp 40 ribu. Lumayan.

Perjalanan menggunakan Ontang Anting dari areal parkir bawah menuju ke kawah cukup seru. Sang pengemudi cukup cekatan di jalur menanjak dan berkelok sepanjang 5,6 km. Kapasitas Ontang Anting 12 orang. Penumpang duduk menghadap ke depan. Sejuknya udara pegunungan dan indahnya pemandangan tak membuat lelah perjalanan di atas aspal yang sesekali berlubang dan bergelombang.

Semua lunas ketika tiba di Kawah Putih. Indahnya pemandangan kawah yang diketemukan oleh orang Belanda keturunan Jerman, Franz Wilhelm pada 1837 itu mengobati rasa lelah. Oh ya, bagi pengunjung usia lanjut alias lansia, kini disediakan shelter khusus. Dari atas shelter yang terbuat dari kayu, pengunjung dapat menikmati indahnya Kawah Putih dari ketinggian.

Tentu saja bagi yang mereka yang turun hingga ke bibir kawah punya sensasi tersendiri. Kawah berwarna hijau toska menjadi pemandangan tersendiri, apalagi dilengkapi dengan kabut tipis yang mulai turun. Tak heran banyak pengunjung yang mengabadikan semua pengalaman itu ke dalam foto maupun rekaman video. Kalau nggak mau repot, tersedia sejumlah warga pemberi jasa foto langsung jadi.

Oh ya, jangan lupa, jadwal berada di areal bibir kawah diupayakan tidak lebih dari 15 menit mengingat bahaya yang mengintip. Rambu peringatan yang dipasang oleh pengelola Kawah Putih menuliskan bahwa ketika lebih dari 15 menit bisa jadi mengalami gejala pusing dan mual. Maklum, uap belerang dari kawah itu bisa mengusik kenyamanan bernafas para pengunjung sekalipun memakai masker. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: