Skip to content

Gara-gara Pandangan Terhalang, Sopir Ini Masuk Penjara

29 Maret 2016

kabut halangi pandangan

PENGEMUDI truk, kita sapa saja Kinto, harus berurusan dengan hukum. Saat mengemudi pada suatu dinihari dia terlibat kecelakaan yang menyebabkan pedestrian meninggal dunia.

Kejadian bermula saat Kinto hendak menuju kediaman dengan mengendarai truk. Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh jam dia berpapasan dengan kendaraan lainnya di suatu ruas jalan yang kondisinya cukup bagus. Cuaca saat itu cukup cerah.

Di sisi jalan banyak kendaraan lain yang sedang parkir sehingga membuat arus kendaraan yang melintas sedikit tersendat. Namun, Kinto tidak mengurangi kecepatan di area itu dan tiba-tiba melintas penyeberang jalan. Laju kendaraan tak bisa dihentikan dan tabrakan pun tak terhindari.

Nyawa pedestrian tak tertolong. Kinto pun harus berurusan dengan meja hijau.

Sekalipun sudah memberikan uang santunan, dia sempat dituntut satu tahun penjara, walau akhirnya divonis kurang dari satu tahun. Jaksa menuntutnya dengan pasal 310 ayat 4, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Peristiwa pada pukul 03.00 WIB itu menjadi pembelajaran berharga buat kita semua. Bagi para pengemudi, konsentrasi berkendara merupakan harga mati. Mengendarai kendaraan bermotor mutlak untuk senantiasa fokus dan waspada. Maklum, sang petaka jalan raya tak pernah bisa diduga kehadirannya. Dia bisa datang kapan saja.

Secara teori, fondasi keselamatan jalan saat berkendara adalah terlihat dan melihat. Sang pengemudi harus mampu melihat area yang akan dilintasi dengan seksama. Pandangan yang terhalang menyimpan risiko amat besar. Dalam kasus Kinto, dia mengaku pandangannya terhalang oleh kendaraan lain.

Pandangan terhalang merupakan salah satu pemicu kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Pada semester pertama 2015, aspek itu menyumbang sekitar 1% terhadap total kasus kecelakaan. Pada periode itu setiap hari rerata ada dua kasus kecelakaan yang akibat pandangan pengemudi terhalang.

Oh ya, Korlantas Polri memasukan aspek pandangan terhalang ke dalam faktor jalan yang memicu kecelakaan. Di dalam faktor jalan, pandangan terhalang menyumbang sekitar 11%. Angka itu setara dengan lima besar dari 10 aspek di faktor jalan.

Di sisi lain, para pedestrian juga dituntut untuk ekstra waspada saat menyeberang jalan. Dalam kasus Kinto, sekalipun sang sopir akhirnya divonis bersalah, dapat menjadi pembelajaran bagi kita pedestrian. Menyeberang mutlak dilakukan dengan cara-cara yang aman dan selamat. Salah satunya, memastikan arus kendaraan tidak membahayakan. Selain itu, memberi tanda kepada para pengendara ada penyeberang jalan yang akan melintas.

Tentu saja, eloknya menyeberang di tempat yang telah disediakan, dengan catatan jika memang ada fasilitas itu. Dan, ini patut kita catat, para pengendara ketika tahu ada penyeberang jalan harus memberi prioritas kepada mereka. (edo rusyanto)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: