Skip to content

Penampakan Motor Para Penjaga Makam

21 Mei 2017

KENDARAAN bermotor hilir mudik. Di beberapa titik tampak terjadi penumpukan. Deru mesin dan asap knalpot berebutan ke udara.

Begitulah suasana tempat pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Minggu, 21 Mei 2017 siang. TPU dipadati oleh para penjiarah. Apalagi, saat ini menjelang bulan Ramadan. Menjadi kebiasaan kaum muslim untuk berziarah ke makam orang tua, anak, atau sanak family untuk mendoakan mereka yang sudah berpulang lebih dahulu ke pangkuan Nya.

Kendaraan bermotor yang digunakan macam-macam. Mulai dari sepeda motor, mobil pribadi hingga angkutan umum yang disewakan. Di bagian lain, mereka yang bersepeda kayuh dan berjalan kaki pun tumpah ruah.

Di tengah hiruk pikuk kendaraan para penjiarah tampak sejumlah sepeda motor yang menggoda perhatian. Si roda dua diberi sedikit sentuhan modifikasi untuk mengangkut air. Tempat air dari semacam ember plastik ditaruh di kanan dan kiri bagian belakang sepeda motor dengan tumpuan berupa kerangka kayu.

“Ngambil airnya di sungai yang ada didekat pemakaman,” ujar seorang pria penjaga makam saat berbincang dengam saya, Minggu siang.

Air itu dimanfaatkan untuk merawat dan membersihkan makam. Rerumputan dibersihkan disiram agar tetap terawat dengan baik. Tak heran jika mayoritas makam yang ada membentuk pemandangan bak karpet hijau. Menyejukan mata yang memandang.

Motor para penjaga makam jumlahnya juga tak kalah banyak dengan para penjiarah. Hampir setiap saat tampak melintas.

Pengendaranya tak semata membawa tempat air. Terlihat ada yang membawa gunting pemotong rumput, cangkul, golok, bahkan alat semacam garpu penggali tanah. Hampir semua penunggang motor itu tidak memakai helm pelindung kepala.

“Cuma dekat ini kok, lagian nggak ada polisi,” seloroh seorang pengendara.

Ya. Pemakaian helm menjadi bukan prioritas. Alasan jarak dekat dan tidak ada petugas menjadi dua alasan yang paling atas. Mereka lebih memprioritaskan kepraktisan dan mengejar uang sumbangan dari keluarga yang makamnya diurus. Sumbangan sukarela dari warga menjadi lebih penting untuk menyambung hidup ketimbang pakai helm. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: