Skip to content

Pengalaman Pertama Menggunakan Grab Car

6 Desember 2015

grab car serpong jakarta

PERJALANAN dari pinggiran menuju ke tengah Jakarta menjadi agak berbeda. Saya ditemani pengemudi yang cukup ramah. Cara mengemudinya pun tergolong santun.

“Saya nggak suka zig-zag hanya demi mengejar waktu,” tutur Heru, pengemudi mobil sewa berbasis aplikasi seluler Grab Car, suatu siang awal Desember 2015.

Kami menelusuri jalan tol dari Serpong, Tangerang Selatan, Banten menuju Kuningan, Jakarta Selatan. Jarak tempuh sekitar 38 kilometer.

Cuaca mendung pekat. Tak lama kemudian hujan pun turun. Antrean panjang mulai terlihat. “Kita keluar tol aja ya pak, ada jalur alternatif,” kata pria beranak satu itu.

Kami pun melintas di jalur arteri hingga mencapai kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Butuh waktu sekitar 90 menit untuk tiba di kantor saya. “Buat kami yang penting konsumen puas,” katanya.

Heru bercerita, sebagai pengemudi mobil sewaan, dirinya menghindari jebakan kemacetan. Lewat aplikasi di ponselnya dia memantau arus kendaraan di jalur yang akan dilintasinya. Tak jarang juga dia bertukar informasi dengan sesama kelompoknya.

Lazimnya angkutan berbasis aplikasi, untuk memakai jasa mereka setiap konsumen memesan lewat aplikasi yang diunduhnya. Setiap pemesan wajib mengisi tempat penjemputan dan lokasi yang dituju. Setelah itu aplikasi secara otomatis akan meneruskan pemesanan ke pengemudi terdekat sang pemesan.
“Tadi lokasi saya cukup dekat dari tempat bapak, makanya saya ambil,” ujar dia.

Oh ya, aplikasi seluler juga akan menjelaskan jarak tempuh dan ongkos yang harus dibayar tunai oleh konsumen. Pengalaman saya saat itu untuk jarak tempuh sekitar 38 km dikenai biaya Rp 102 ribu.

Para konsumen juga memberi komentar di kolom yang disediakan diaplikasi grabcar. Setiap kesan dan masukan konsumen akan jadi pertimbangan bagi pengelola.

“Kalau saya posisinya mitra dengan pengelola aplikasi. Mobil yang saya pakai milik teman yang berbisnis rental mobil,” tutur Heru.

Untuk jasa sewa mobil dia membayar Rp 150 ribu per hari yang disetorkan seminggu sekali. Sedangkan biaya bahan bakar minyak dia merogoh Rp 150 ribu per hari. ” Saya biasanya menargetkan dapat Rp 500 ribu agar bisa bawa pulang Rp 200 ribu setelah dipotong biaya operasional,” katanya.

Kalau dipikir-pikir, tahun 2015 menjadi tahunya angkutan berbasis aplikasi. Selain penyewaan mobil, aplikasi serupa lebih meruyak untuk angkutan yang menggunakan sepeda motor. Di Jakarta, saat ini setidaknya ada tujuh angkutan berbasis aplikasi. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 6 Desember 2015 21:51

    Cb Angkot meniru langkah spt ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: