Skip to content

Pengalaman Jakarta-Pelabuhan Ratu dengan 7 Liter BBM

31 Mei 2016

motor di cikidang_ibc

MENYELUSURI jalan raya Jakarta ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat dengan menunggang sepeda motor memang cukup menggoda. Kondisi jalan yang amat beragam memberikan sensasi tersendiri saat melaju dengan si kuda besi.

Kondisi jalan dari Jakarta menuju Bogor, sebelum akhirnya masuk kawasan Sukabumi, aspalnya relatif bagus. Misal, jalur Jl Raya Bogor hingga kota Bogor. Di sepanjang jalan itu pada pagi hari, rentang pukul 06.00-07.00 WIB, laju kendaraan cukup lancar. Saat saya melintas, Sabtu, 28 Mei 2016 pagi kondisi seperti itu cukup terasa.

Hanya di sejumlah titik seperti di pasar Cisalak dan pasar Cibinong ada sedikit ketersendatan. Begitu juga di sejumlah titik di kawasan pabrik. Maklum, di rentang waktu itu merupakan jam masuk kerja. Sedangkan kondisi aspalnya juga relatif mendukung. Ada sejumlah yang rusak ringan seperti aspal yang mengelupas dan jalan bergelombang.

Pagi itu dari kawasan Cibubur, Jakarta Timur saya meluncur sendirian menuju titik kumpul (tikum) satu di Mc Donald, Jl Pajajaran, Bogor. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai lokasi itu. Jarak tempuh sekitar 18,27 kilometer (km) dan menghabiskan 0,51 liter bahan bakar minyak (BBM) premium.

Pertemuan di tikum pertama menggabungkan 10 sepeda motor dengan jumlah orang sebanyak 12 mengingat dua orang menjadi penumpang. Setelah sebagian besar sarapan pagi dengan menu mulai dari nasi uduk hingga burger, rombongan pun berangkat menuju Pelabuhan Ratu. Cuaca cukup cerah pagi itu. Pilihan rute adalah melintas ke Batutulis dan keluar di kawasan Cigombong. Itu adalah jalur memotong dibandingkan dengan rute Bogor-Ciawi lalu ke Jalan Raya Sukabumi.

ibc pl ratu bareng

Di rute ini banyak ditemui sejumlah jalan yang rusak, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Praktis membuat kuda besi bergetar cukup hebat hingga ada yang bautnya lepas. Sebagian jalan juga menanjak dan menurun dengan tajam. Jalan di rute ini tidak terlalu lebar, yakni hanya bisa dua mobil jenis MPV berpapasan. Ada sebagian titik yang bisa dua mobil bus sedang berpapasan. Rute yang sama kami gunakan untuk pulang dari Pelabuhan Ratu menuju Jakarta. Bedanya, saat malam hari penerangan terasa minim di sejumlah titik. Karena itu, butuh kewaspadaan yang tinggi agar tidak nyelonong masuk ke jurang.

Keluar dari Cigombong, Bogor menuju ke Pelabuhan Ratu, kami melintas di Jl Raya Sukabumi. Ini adalah jalan utama yang menghubungkan kota Bogor dengan kota Sukabumi. Jarak tempuh dari lokasi tikum pertama menuju tikum kedua di SPBU jelang memasuki Cikidang, Sukabumi, sekitar 37,57 km dengan waktu tempuh sekitar 1,58 jam. Untuk menempuh perjalanan sejauh itu si kebo tunggangan saya menghabiskan BBM sekitar 1,04 liter. Lumayan irit yah?

tugu laka sukabumi

Oh ya, si kebo adalah sepeda motor keluaran tahun 2013 dengan kubikasi mesin 150cc besutan pabrikan sepeda motor Jepang, Yamaha. Sebelum berangkat menyelusuri Jakarta-Pelabuhan Ratu saya isi BBM sekitar 10 liter.

Jalur Berkelok

Cikidang menjadi salah satu rute favorit para penunggang kuda besi yang ingin menuju ke Pelabuhan Ratu. Rute ini menjadi pilihan selain via Cibadak. Jalannya yang berkelok, menanjak, dan menurun membuat adrenalin meningkat. Udara pegunungan yang sejuk plus hijaunya pemandangan di kanan kiri jalan, memberi kesegaran tersendiri.

Mayoritas permukaan aspal di jalur ini cukup baik. Di sebagian tempat tampak perkebunan sawit dan pohon karet. Tentu saja tak ketinggalan hijaunya perkebunan teh. “Pemandangannya sangat indah sehingga membuat perjalanan menyenangkan,” ujar Andi, salah seorang penunggang Vespa.

Dia bahkan merekam perjalanannya menggunakan kamera perekam yang dipakai di bagian atas helm. Banyaknya tikungan, termasuk tikungan tajam, membuat para penyuka cornering melepaskan kerinduan untuk menikung bak pebalap di sirkuit. Tentu saja kawasan ini lalu lintas jalannya tidak seramai jalur utama di Cibadak sehingga banyak kesempatan untuk rebah, istilah menikung ala pebalap di kalangan pesepeda motor.

Di beberapa lokasi terdapat kedai makan dan minum yang bisa dimanfaatkan para pesepeda motor untuk beristirahat. Selain itu, terdapat sejumlah lokasi wisata arung jeram yang terkenal di Sungai Citarik, Sukabumi. Wisata arung jeram di kawasan ini cukup favorit bagi penyuka olahraga air yang menggunakan perahu karet tersebut. Setidaknya ada dua operator arung jeram besar yang berkiprah di kawasan tersebut.
IMG-20160529-WA0084

Pemukiman tak seramai di jalan utama. Pada beberapa titik terdapat pemukiman penduduk dan fasilitas penunjangnya seperti sekolah dan pusat kesehatan. Saat kami melintas Sabtu pagi itu tampak sejumlah anak-anak yang bermain dan berseragam sekolah.

Sejumlah rambu dipasang untuk menunjukkan banyaknya anak-anak di pemukiman itu. Termasuk, rambu yang menunjukkan adanya sekolah di sisi jalan pemukiman.

Bahkan, di sejumlah jalan yang terjal terdapat baliho raksasa bertuliskan peringatan “Hati-hati Rawan Kecelakaan. Kurangi Kecepatan!.” Baliho yang terletak di sisi kiri jalan menuju Pelabuhan Ratu itu juga menyematkan logo kepolisian lalu lintas (lantas) dan logo dinas perhubungan (dishub).

Peringatan serupa sempat saya lihat di Jl Raya Sukabumi sebelum memasuki kawasan Cikidang. Bedanya, peringatan tersebut berupa tugu yang terbuat dari mobil ringsek. Patut diduga mobil ringsek itu sisa dari korban kecelakaan lalu lintas jalan. Di dekat tugu dipasang spanduk besar bertuliskan, “Jangan Jadi Korban Selanjutnya!”. Tentu saja dilengkapi dengan logo kepolisian dan dishub. Tugu dipasang di kiri jalan di dekat tikungan sehingga mudah terlihat oleh para pengguna jalan.

Jalur Cikidang kami lewati dengan menghabiskan waktu sekitar dua jam sebelum akhirnya kami tiba di Karang Hawu, Pelabuhan Ratu. Jarak tempuh 55,40 km itu menghabiskan 1,54 liter BBM.

Seafood dan PLTU

Rasa letih selama 4,5 jam menunggang si Kebo terobati oleh birunya laut dan deburan ombak di tepi pantai. Langit yang cerah, walau ketika memasuki sore menjadi mendung, kian lengkap dengan belaian sepoi-sepoinya angin laut.
pltu pl ratu1

“Sekarang giliran kita makan seafood. Habis makan silakan istirahat atau menikmati pantai,” kata saya kepada teman-teman dari Jakarta.

Jadilah ikan bakar, ikan goreng, kepiting hingga udang sebagai menu makan siang. Tentu saja dilengkapi dengan segarnya tumis kangkung. Minuman segar, termasuk kelapa muda menjadi pelengkap yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

Usai bergoyang lidah, sebagian beristirahat, mulai update status di media sosial, hingga ada yang menghabiskan waktu berjalan menyelusuri pantai sekaligus bermain buih ombak. Sungguh suatu pemandangan yang indah. “Keren pemandangannya,” kata Febry, salah satu anggota tim Sabtu itu.
Usai beristirahat, satu lagi tujuan perjalanan kali ini adalah pemandangan di sekitar PLTU Pelabuhan Ratu. Pusat pembangkit listrik itu mengizinkan pengunjung untuk berpose di dekat tanggul pantai dengan latar belakang crane batubara dan cerobong PLTU yang tinggi menjulang ke angkasa. Jaraknya sekitar 4,4 km dari Karang Hawu mengarah ke pusat pelelangan ikan.

Puas menikmati pemandangan pantai dan sisi lain PLTU kami pun berkemas untuk kembali ke Jakarta. Kali ini rute yang dipilih berbeda, yakni via Cibadak. Ternyata, rute ini jauh berbeda dengan via Cikidang yang mayoritas mulus. Rute ini ujungnya sama-sama ketemu dengan Jl Raya Sukabumi. Namun, mayoritas aspal di jalur ini cukup buruk. Banyak jalan yang rusak. Menjadi lebih dramatis mengingat kerusakan juga terjadi di kelokan jalan dan minimnya penerangan jalan mengingat terdapat banyak hutan di kiri dan kanan jalan.

IMG-20160529-WA0057

Memasuki Jl Raya Sukabumi kesabaran pengguna jalan kembali diuji oleh antrean kendaraan truk yang membuat kemacetan disana-sini. Truk-truk besar pengangkut air minum berjalan terseok-seok di tanjakan sehingga antrean menjadi panjang.

Situasi mengalir baru terasa ketika kami memasuki jalur alternatif via Cigombong yang tembus ke Batutulis. Walau, di dua titik kami mengalami hambatan karena kemacetan yang tercipta akibat berkerumunnya penduduk yang menggelar kegiatan menjelang Ramadhan tiba.

Bila perjalanan pergi menghabiskan waktu sekitar 4,12 jam, kembali ke Jakarta menghabiskan waktu 4,14 jam. Beda-beda tipis. Oh ya, itu waktu perjalanan belum ditambah waktu istirahat.

Konsumsi BBM si Kebo sepanjang perjalanan kali ini tercatat 6,74 liter untuk jarak tempuh 243,24 km. Bila dihitung-hitung si Kebo lumayan irit juga karena konsumsi BBM itu setara dengan 1 liter menempuh 36,08 km. Hemmm…

tbike rekam perjalanan
Oh ya, penghitungan jarak tempuh, waktu tempuh, dan konsumsi BBM si Kebo dilakukan dengan memakai aplikasi T-bike. Aplikasi ini melengkapi device yang dipasang di sepeda motor. Fitur itu melengkapi fungsi utama sang device yang bertugas menjaga keamanan si kuda besi. (edo rusyanto)

foto-foto: dok pribadi dan IBC

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. 31 Mei 2016 06:11

    Waaaaah jadi pengen ke pelabuhan ratu. Ukuran ban r&f berapa om? Harusnya bisa >38km/L ya kalo ori

  2. oki setiawan permalink
    1 Juni 2016 14:13

    Itu sih boros,,,gw pake thunder 2008 cuma 6,3 liter udah sampe sawarna,,start dari kebonjeruk…

  3. 2 Juni 2016 13:13

    om itu ngitung konsumsi BBmnya pake aplikasi apa sih..?
    pengen nyobain juga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: