Lanjut ke konten

Wah, Jerman Mau Bangun Tol Sepeda Sepanjang 100 Km

30 Desember 2015

sepeda di cfd jakarta

SORE itu kami berbincang seputar sepeda kayuh. Kolega saya, bro Iwan menceritakan soal gowes menggowes di Jeman.

“Jerman punya rencana membangun jalan tol sepeda sepanjang 100 kilometer,” ujar penyuka gowes itu, pada pekan penghujung Desember 2015.

Perbincangan kami berpangkal dari tulisan bro Iwan yang dengan apik menggambarkan niatan Jerman membangun jalur khusus bebas hambatan bagi pesepeda. Saya membaca ulasan bro Iwan dan penasaran ingin menanyakan beberapa hal detail. “Tol yang dimaksud itu bukan seperti jalan tol yang kita kenal, yakni berbayar. Tol di Jerman itu tidak berbayar,” jelas dia lagi.

Ini tulisan bro Iwan.

Berlin – Inilah impian semua pesepeda di jalan raya: tidak bertemu lampu merah, tidak berpapasan dengan truk dan kendaraan-kendaraan lain, hanya jalanan bebas dan mulus untuk melaju menembus angin yang tanpa henti menerpa wajah. Pemerintah daerah Jerman mewujudkan jalan tol sepeda yang pertama.
Para penggemar bersepeda menyambutnya sebagai jawaban atas permasalahan kemacetan lalu lintas di perkotaan maupun polusi udara. Ini juga merupakan solusi bagi para pekerja kantoran untuk ber-bike to workdengan aman.
Jerman membuka sekilas tabir masa depan transportasi hijau perkoraan dengan jalan tol sepeda pertama sepanjang lima kilometer (km) di wilayah Ruhr, yang nantinya akan terus membentang hingga lebih dari 100 km.
Jalan tol sepeda tersebut akan mengoneksikan 10 kota di bagian barat, termasuk Duisburg, Bochum, dan Hamm serta empat universitas. Jalan tol sepeda ini dibangun di atas bekas rel kereta api kawasan industri Ruhr, yang sekarang meredup.
“Di radius 2 km dari rute awal tersebut tinggal lebih dari juta orang. Mereka bisa memanfaatkannya untuk bepergian harian dengan bersepeda,” ujar Martin Toennes dari grup usaha pembangunan kawasan RVR.
Hasil studi RVR memprediksikan, trek baru sepeda itu bisa menarik 50.000 kendaraan dari jalanan setiap harinya.
Gagasan pembuatan jalan tol sepeda ini sebenarnya dirintis oleh Belanda dan Denmark. Jerman mengikuti tren dan terbantu oleh maraknya permintaan sepeda listrik, yang disukai pesepeda untuk menjelajah jalanan menanjak.
Kota pusat perbankan Frankfurt berencana membuat jalan tol sepeda sepanjang 30 km hingga ke kota Darmstadt di sebelah selatan. Sedangkan ibukota Bavaria, Munich, berencana membuat 15 km jalan tol sepeda di daerah pinggiran bagian utara.
Adapun Nuremberg sedang mempelajari pembuatan jalan tol sepeda yang akan tersambung ke empat kota.
Di ibukota Berlin, pemerintah kotanya pada awal bulan ini memberi lampu hijau untuk mulai mempelajari dibuatnya jalan tol sepeda dari pusat kota ke daerah pinggiran barat daya, Zehlendorf.
Kehadiran jalan tol sepeda ini merupakan perbaikan yang sangat wah, untuk menggantikan jalur sepeda satu lajur yang umum ditemui di kota-kota seluruh Jerman. Jalur sepeda juga kerap bergelombang karena dari bawah tertekan oleh akar pohon atau tiba-tiba putus atau tiba-tiba menyatu dengan jalur khusus bus.
Adapun jalan tol sepeda ini selebar empat meter, memiliki lajur untuk mendahului, dan melintasi jalan raya via jembatan layang serta terowongan bawah jalan. Pesepeda dibuat semakin nyaman karena jalurnya terang berlampu dan bersih dari salju selama musim dingin.

Masalah Klasik

Meski begitu, sama dengan proyek-proyek infrastruktur lainnya, Autobahn sepeda ini juga dihadapkan pada permasalahan klasik: pendanaan.
Di Jerman, situasinya pelik karena pemerintah federal biasanya hanya membangun serta memelihara jalan raya, rel kereta api, dan jalur transportasi air. Sedangkan infrastruktur sepeda menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Jalur sepanjang 5 km di Ruhr biaya pembangunannya dibagi, yakni separuh dari Uni Eropa (UE), 30% dari negara bagian Rhine-Westphalia Utara, dan RVR sebesar 20%. Total biaya pembangunan jalan tol sepeda hingga 100 km diperkirakan sebesar 180 juta euro (US$ 196 juta).
“Tanpa bantuan negara, proyek ini akan tidak akan berhasil,” ujar Toennes.
Bagi Berlin yang utangnya pemerintah kotanya menumpuk, partai konservatif CDU mengupayakan pendanaan dari swasta. Sebagai imbalan, swasta boleh beriklan di sepanjang jalur.
“Jalan tol sepeda adalah hal baru di Jerman. Kami harus menemukan konsep baru untuk mendanai pembangunannya,” ujar Birgit Kastrup, yang mengepalai proyek ini di Munich.
Klub sepeda Jerman ADFC berpendapat, infrastruktur sepeda seharusnya mendapatkan pendanaan federal minimal 10%. Sebab, sekitar 10% dari perjalanan warganya dilakukan dengan bersepeda.
“Pembangunan jalan tol di kota-kota adalah resep membahayakan nyawa warisan tahun 1960-an. Orang-orang sudah tidak mau ada lebih banyak mobil di jalanan,” kata Burkhard Stork, manajer ADFC.

Oh ya, tulisan bro Iwan dituangkan di laman beritasatu. Setelah membaca tulisan itu jadi kebayang kalau di Indonesia juga sudah ada langkah serupa. Bedanya, jalur khusus sepeda itu kerap dijarah oleh pengguna jalan yang lain. Kapan yah jalur sepeda bisa steril? (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 30 Desember 2015 18:40

    Wah sebuah impian yg menarik….nih,kala dijakarta masih dipusingkan kemacetan, perluasan jalan, trotoar yang dirampok… Dinegara maju dah buat terobosan demikian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: