Lanjut ke konten

Biar Afdol, Pakai Alat Ukur Dong Akh

10 Januari 2014

bising dan pengukurannya

PERNAH ditilang lantaran suara knalpot sepeda motor kita dianggap bising? Kalau sudah pernah, apa indikator dari kebisingan tersebut? Adakah alat ukurnya? Lalu, bagaimana cara mengukurnya? Saya juga jadi pingin tahu jawaban itu semua.

Kalau merujuk pada Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) memang bisa jadi suara knalpot yang dianggap bising bakal kena semprit. UU tersebut bilang, khususnya di pasal 48 dan 210, setiap kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan tingkat kebisingan. Lalu, dalam pasal 285 ditegaskan bahwa yang melanggar aturan itu bakal diancam sanksi pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Lantas, bagaimana batasan kebisingan itu?

Kita pun dirujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No 7 Tahun 2009 tertanggal 6 April 2009. Dalam aturan itu dibilang bahwa uji tipe kebisingan adalah pengujian tingkat kebisingan terhadap kendaraan bermotor tipe baru yang berlaku 1 Juli 2013. (lihat tabel di atas)

Lebih jelasnya bisa lihat di artikel saya yang ini.

Namun, rasanya lebih afdol jika petugas memiliki alat ukur untuk lebih memastikan pelanggaran yang dimaksud. Selain itu, cara pengukurannya pun dijelaskan agar publik memahami itu semua.

Ya, suara yang super bising tentu bisa mengganggu pendengaran dan jangan-jangan juga mengganggu konsentrasi para pengendara. Kalau konsentrasi hilang bisa bikin lengah berkendara yang buntutnya bisa jadi memicu terjadinya kecelakaan. Maklum, di faktor manusia, kelengahan menjadi pemicu nomor dua terbesar di Indonesia.

Balik lagi soal alat ukur. Rasanya menjadi penting bagi kita semua agar lebih fair. Mengingat di lapangan sudah terjadi sejumlah tindakan. Sekalipun, dengan telinga telanjang bisa dirasakan, namun sebagai sebuah tindakan hukum, perlu adanya basis keilmiahan yang bisa dipertanggung jawabkan. Setuju? (edo rusyanto)

7 Komentar leave one →
  1. 10 Januari 2014 14:31

    DB meter

  2. 10 Januari 2014 14:34

    setuju…

  3. 10 Januari 2014 16:24

    kenapa ga sekalian dilarang aja knalpot racing kecuali untuk balapan resmi saja 🙂
    di jalanan pasti bunyinya adem tuh kalo gitu

  4. 10 Januari 2014 22:05

    Sangat setuju!!…
    Cuma, galak banget mereka (isilop) kalau dah di lapangan, kaga mau tau wkwkwkwk, gimana tuh kang?

    http://kobayogas.com/2014/01/10/seberapa-pentingnya-helm-bagi-anda/

  5. 11 Januari 2014 00:40

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  6. 11 Januari 2014 02:27

    kalo di kampus ane itu alat namanya SLM (Sound Level Meter) dan cara ngukur kebisingan itu juga harus make rumus jarak dan standarisasi SNI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: