Lanjut ke konten

Menanti Jalan yang Humanis

9 Januari 2014

IMG01452-20100809-0851

Infrastruktur jalan raya menjadi tulang punggung ekonomi. Distribusi barang dan jasa bertumpu pada infrastruktur jalan. Baik itu pergerakan dari tempat sumber bahan baku, pusat produksi, hingga menuju ke pasar barang dan jasa. Infrastruktur jalan yang bagus juga memengaruhi produktifitas sumber daya manusia (SDM) suatu negara.

Begitu pentingnya infrastruktur, termasuk infrastruktur jalan, berdasarkan studi World Bank (1994) disebutkan elastisitas Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap infrastruktur di suatu negara adalah antara 0,07 sampai dengan 0,44. Menurut Bappenas, hal ini berarti dengan kenaikan 1% saja ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan pertumbuhan PDB sebesar 7% sampai dengan 44%, variasi angka yang cukup signifikan.

Indonesia setidaknya memiliki 38 ribu kilometer (km) jalan nasional, 48 ribu km jalan provinsi, dan 288 ribu km jalan kabupaten atau kota. Sedangkan panjang jalan nasional tol sekitar 742 km. Dari jumlah keseluruhan jalan nasional, sekitar 11% dalam kondisi rusak berat dan ringan. Butuh perhatian khusus dari pemerintah, dalam hal ini kementerian pekerjaan umum yang bertanggung jawab selaku penyelenggara jalan.

Ironisnya, di mata masyarakat, ruwetnya penanganan infrastruktur jalan di Indonesia bisa terlihat dari tren perbaikan dan perawatan jalan. Terkesan, perawatan dan pembangunan jalan memanfaatkan momentum-momentum. Kondisi menjelang Lebaran merupakan salah satu momentum yang dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memperbaiki jalan. Alasannya, saat itu, arus kendaraan dan orang maupun barang meningkat signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Kementerian PU sebagai penanggung jawab jalan nasional maupun dinas-dinas pekerjaan umum di pemerintah provinsi/kabupaten/kota, berlomba-lomba unjuk kerja pada momentum-momentum tersebut. Padahal, disisi lain, pelaksanaan kerja itu tak jarang menimbulkan ekses ketersendatan lalu lintasjalan yang luar biasa. Bahkan, pada kasus khusus, tak jarang para penyelenggara jalan terkesan memanfaatkan momentum pemilihan kepala daerah (pemilukada) untuk bekerja memperbaiki jalan. Terutama ketika sang kepala daerah incumbent ikut bertarung dalam pemilukada. Pelayanan publik dipolitisasi.

Penanganan jalan yang rusak, baik berat maupun ringan, terkesan tak bisa diatasi dengan cepat oleh para penyelenggara jalan. Alasannya sistem pendanaan yang bersifat periodik. Pemerintah daerah tak bisa dengan serta merta mengucurkan dana dengan cepat untuk memperbaiki jalan. Ada aturan dan mekanisme yang tidak memberi prioritas pada perbaikan jalan.

Beban dan Keselamatan

Tingginya pertumbuhan penduduk di Indonesia, mendorong frekuensi mobilitas barang dan orang makin membubung. Pergerakan orang mulai dari keperluan pendidikan, bekerja, hingga berinteraksi sosial kian meruak. Tentu amat signifikan bedanya jika dibandingkan pergerakan penduduk sebanyak 240 juta pada tahun 2012 dengan tahun 1971 yang jumlah penduduknya baru sekitar 76 juta.

Jumlah penduduk yang wara-wiri kian tinggi, beban jalan kian bertambah. Artinya, para penyelenggara jalan harus punya kinerja yang mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut.

prediksi korban laka 2010 2035

Beban jalan pun kian berat manakala pertumbuhan jumlah kendaraan bak bola salju. Terus bergulir. Terus bertambah. Kini, pada 2011, sedikitnya ada 84 juta unit kendaraan di Indonesia. Bandingkan dengan jumlah kendaraan yang baru sekitar 7,98 juta unit pada tahun 1987.

Industri otomotif yang kian agresif menyasar konsumen di Indonesia berujung pada tingginya penjualan kendaraan. Produsen berlomba-lomba menambah kapasitas produksi. Lazimnya para pebisnis, kian tinggi permintaan pasar, para produsen menggenjot kapasitas terpasang.

Permintaan kendaraan juga ditopang oleh membaiknya daya beli masyarakat Indonesia. Selain, jurus para produsen otomotif yang menggandeng perusahaan pembiayaan. Kemudahan yang diberikan oleh perbankan atau lembaga pembiayaan untuk proses pembelian kendaraan juga punya andil cukup besar atas meruaknya penjualan kendaraan. Sekadar ilustrasi, sekitar 60-70% pembelian kendaraan memanfaatkan sistem kredit. Dari total konsumen yang membeli dengan pola kredit, hanya minoritas yang memakai skema uang muka (down payment) 20%. Sebagian besar, sekitar 70% konsumen yang membeli dengan pola kredit menggunakan fasilitas uang muka di bawah 10%. Artinya, jika harga mobil Rp 100 juta per unit, uang muka yang disetorkan cukup Rp 10 juta. Sedangkan untuk sepeda motor, jika harga per unitnya Rp 10 juta, uang muka yang disediakan cukup Rp 1 juta. Bahkan, khusus untuk sepeda motor, ada jurus diskon uang muka, sehingga konsumen hanya cukup merogoh kocek Rp 500 ribu, sepeda motor sudah boleh dibawa pulang ke rumah.

Di luar persoalan beban jalan yang kian berat akibat tingginya laju kendaraan, infrastruktur jalan juga berkontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas jalan. Faktor pemicu utama kecelakaan masih pada perilaku pengguna jalan. Sekalipun kontribusi faktor jalan berkisar 10-20% terhadap total kecelakaan tersebut, sudah selayaknya menjadi perhatian serius bagi para penyelenggara jalan. Maklum, kecelakaan juga punya imbas ke sendi-sendi perekonomian. Selain berdampak kepada masalah sosial masyarakat.

Tahun 2011, setiap hari ada sekitar 230 kasus kecelakaan di seluruh Indonesia. Sedikitnya rata-rata korban tewas mencapai 68 orang per hari dan ratusan lainnya luka-luka. Pemerintah menargetkan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan baru bisa ditekan hingga 80% pada 2025.

Langkah untuk itu perlu ditempuh secara bahu membahu, termasuk pembenahan di infrastruktur jalan. Kondisi jalan yang bisa memicu kecelakaan di antaranya adalah jalan bergelombang, berlubang, dan jalan rusak yang berpasir dan berkerikil.

Kecelakaan membawa dampak cukup signifikan bagi Indonesia. Tiga tahun terakhir, rata-rata 30 ribu korban jiwa akibat kecelakaan. Sedangkan kerugian langsung dan tidak langsung menyentuh angka Rp 200 triliun. Sudah sepatutnya, para penyelenggara jalan menyediakan infrastruktur jalan yang aman dan selamat. Pasti bisa. (edo rusyanto)

*tulisan ini dicukil dari buku Manajemen Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah 2012

3 Komentar leave one →
  1. 9 Januari 2014 11:53

    Kongkritnya bagaimana solusi masalah ini?

  2. 9 Januari 2014 22:18

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  3. 9 Januari 2014 23:34

    Reblogged this on YUSWANTO.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: