Lanjut ke konten

Aturan Kebisingan Motor Berlaku Juli 2013

24 Februari 2012

SUMPAH. Baru nyadar kalau aturan soal kebisingan knalpot roda dua berlaku untuk sepeda motor baru. Aturannya pun bisa diterapkan pada 1 Juli 2013. Lantas, bagaimana jika ada penilangan terhadap kebisingan knalpot yang terjadi di lapangan? Tuh, bingung kan? Sama.
Mari kita tengok aturan soal kebisingan yang diatur oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No 7 Tahun 2009 tertanggal 6 April 2009. Dalam aturan itu dibilang bahwa uji tipe kebisingan adalah pengujian tingkat kebisingan terhadap kendaraan bermotor tipe baru.
Lalu disebutkan bahwa ambang batas kebisingan kendaraan bermotor tipe baru kategori L sebagaimana tercantum dalam Lampiran II untuk: a. tabel C tahap 1 (i) mulai berlaku enam bulan setelah peraturan ini
ditetapkan sampai dengan 30 Juni 2013; b. tabel C tahap 2 (ii) mulai berlaku pada 1 Juli 2013.
Soal besaran berapa desibel bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. Sebagai contoh, sepeda motor bermesin lebih dari 175cc batas kebisingan desibelnya sebesar 83. Nah loh.
Deputi II Kementerian Lingkungan Hidup MR Karliansyah dalam seminar Forum Wartawan Otomotif (Forwot) di Jakarta, Kamis (23/2/2012) mengatakan, saat ini Indonesia masih menerapkan baku mutu Euro-2 yang sudah diberlakukan sejak 1 Januari 2005, sehingga Industri otomotif membutuhkan kepastian informasi mengenai regulasi emisi yang akan datang, khususnya untuk sepeda motor.
Menurut dia, sejak tahun lalu KLH menyusun draf peraturan menteri LH tentang baku mutu emisi gas buang sepeda motor EURO 3, dan pemberlakukannya sekitar dua tahun setelah standar ini ditetapkan. “Mudah-mudahan tahun 2012 ini segera finalisasi dan bisa kita umumkan,” kata dia.
Sayangnya, Karliansyah tergesa-gesa meninggalkan seminar karena ada acara lain, sehingga saya tidak bisa diskusi lebih jauh seputar aturan kebisingan knalpot. Namun, staf Kemen LH yang menggantikan Karliansyah saat ajang tanya jawab sempat menjelaskan soal belum adanya aturan untuk kebisingan knalpot sepeda motor yang saat ini beredar. Artinya? “Permen LH tahun 2009 itu untuk motor baru,” kata dia.
Kesulitan pengaturan kebisingan knalpot untuk motor yang kini beredar, kata dia, karena konsumen banyak yang mengganti knalpot mereka dengan bukan standar pabrikan.
Kalau begitu, untuk saat ini, bagaimana mengukur batas kebisingan knalpot sepeda motor? Berapa standar desibel maksimal yang diizinkan? Tuh bingungkan?

Memang, dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) disebutkan bahwa untuk syarat kelaikan jalan, sepeda motor harus memenuhi ambang kebisingan. Lagi-lagi, butuh batasan detail soal berapa desibel. Dan, setahu saya, hal itu belum ada aturan turunan UU tersebut yang khusus terkait kebisingan knalpot motor.
Malahan, repotnya, dalam UU tersebut sudah ada aturan soal sanksi kebisingan. Pelanggar aturan diancam sanksi pidana penjara maksimal satu bulan atau sanksi denda maksimal Rp 250 ribu.
Duh, aturannya belum jelas, tapi sanksi di lapangan sudah mencuat. Ayo dong pak, aturannya diperjelas, disediakan alat pengukur yang valid, disosialisasikan, baru deh diimplementasikan. Setuju? (edo rusyanto)

30 Komentar leave one →
  1. 24 Februari 2012 00:18

    90 / 83 db > 175cc, Harley suaranya katak petir gitu gimana ???

    Lagipula untuk penertiban, polisi harus punya alat pengukur db 🙂

    • new permalink
      26 Februari 2012 20:33

      Kl urusan beginian, bukannya TJ dinas perhubungan? kdg ada uji emisi jg. Toh, gak hrz polisi, kl misal di lab kampus ada Sound level meter, diukur sndiri aja ^_^. Autodidak bisa kok…

    • new permalink
      26 Februari 2012 20:49

      Eh, itu PERMEN LH ya?? Jd yg berhak DIshub atau KLH ya??
      Bingung ^_^

  2. 24 Februari 2012 00:24

    woh…

  3. satria_bajahitam permalink
    24 Februari 2012 00:43

    Setuju banget mbah,kalo ada batasan desibel + ketersediaan alat pengukur baru deh terapin undang-undangnya,tapi kalo belum ada berarti cuma tong kosong.

  4. 24 Februari 2012 08:19

    Shiiip,.tp klo razia..jgn ‘menyelam smbil mnum air!

  5. 24 Februari 2012 08:21

    saya udah pernah tanya seputar knalpot di http://pelayanmasyarakat.blogspot.com/2011/10/tilang.html tapi saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan,jawaban dari si empunya blog yang seorang polisi penuh dengan kesubyektifan dan asumsi pribadi..sayang reply terakir saya blm dibalas juga(atau mungkin ngga bisa balas) soalnya agak kritis sih.
    coba masbro sekalian baca di komen saya (iwan 6 feb 2012) dan juga tanggapan empunya blog..share pendapat anda

  6. 24 Februari 2012 09:16

    wonk penegak hukumnya adja pake knlapot yg bising.. hrusnya jdilah penegak yg menjadi teladan….

  7. 24 Februari 2012 10:05

    berati bolehmodif asal sesuai UU…..

  8. 24 Februari 2012 11:09

    wahhh..makin bising donk jalanan, 😦

    nitip om edo..
    http://boerhunt.wordpress.com/2012/02/24/ktm-thanks-to-india-bajaj-this-is-something/

  9. 24 Februari 2012 12:49

    cara ngukurnya juga ribet nih, pak.. kecuali bisa dibuat murah dan massal.. hehe 😀

    ga kebayang klo pejalan kaki bisa dengan mudah menuntut pengendara motor yang bising, karena si pejalan kaki punya alat ukut kebisingan.. 😀

  10. 24 Februari 2012 12:50

    Yang berhak menilang semestinya dari KLH karena instansi itu yang punya aturan, tapi yang punya sempritan di jalan lebih sigap menerapkan agar dapat tilangan, yang protes dianggap melawan dan diberi kertas warna merah…..

  11. 24 Februari 2012 12:54

    Titip usul nih Om Edo…. kenapa yang ditilang pemotornya bukan pembuat kenalpotnya atau tokonya? Bukankah mereka yang bertanggung jawab?

    • 24 Februari 2012 12:56

      Setahu saya, jika SNI Wajib diterapkan, sang produsen juga bisa kena semprit.

  12. dudung59 permalink
    24 Februari 2012 19:26

    om…
    batas tsb diukur pada motor langsam atw dengan rpm tertentu???

  13. 24 Februari 2012 22:36

    Sudah ada aturanya toh

  14. 25 Februari 2012 09:53

    om edo…
    sepertinya ada salah ketik 🙂

    “Aturannya pun bisa diterapkan pada 1 Juli 2003”

    sekalian mohon ijin repost artikelnya yaaa…
    Thanks…

  15. 25 Februari 2012 11:42

    makasih mas bro masukannya,silakan.salam.

  16. indra77 permalink
    26 Februari 2012 11:45

    negeri dan lalu lintas carut marut, pengambil kebijakan juga caru marut, bikin aturannya juga carut marut. Belum disiapkan infrastruktur, fasilits pengujian dan mekanismenya, sudah mengeluarkan aturan. Sekadar contoh, KIR pun hanya akal-akalan.

  17. dawam permalink
    26 Februari 2012 21:34

    harus segera ditetapkan berapa db dan yg lainnya, soalnya citra polisi tercemar buruk dengan masalah seperti ini

  18. 29 Februari 2012 09:31

    Hukum nya masih dari KARET jadi masih bisa dgn mudah nya di plentar plintir para OKNUM deh ….

    qt nya aja pinter2 ngadapin petugas nya ….. jgn kalah gesit silat lidah aja sama oknum tsb yak !

    susah laah ngadapin oknum baju besi tameng nya hukum ….

    “kamu mau melawan petugas ya !?”
    padahal kita mempertanyakan tundingan secara hukum nya yak !

    dasar negara hukum carut marut ……. #tepokjidat ah

  19. Penghancur Koruptor permalink
    2 Maret 2012 16:10

    Hanya pejabat korup yang sedan cari-cari alasan aja yang bilang knalpot bising belum bisa ditindak. Gangguan ketertiban ya wilayahnya kepolisian. Pejabat KLH menanggung beban terlalu banyak karena dah disogok oleh distributor.

    KPK, segera sidik tuh pejabat KLH. Masukkan bui saja, tak usah diadili lagi. Dah jelas kok.

    Nih pejabatnya koruptor, masyarakatnya preman. Kapan majunya?

  20. jack permalink
    7 Maret 2013 14:48

    kenapa hanya kendaraan roda saja yg harus diberlakukan, skrg kendaraan roda 4 juga harus berlaku, ini namanya pemerintah pilih kasih. berlakunya sebuah peraturan harus diimbangi dengan sosialisasi yang tepat kepada masyarakat dan khususnya pengguna kendaraan. jangan bisa nya langsung menilang saja,

  21. 31 Juli 2013 05:38

    Reblogged this on My spare time and commented:
    alhamdulillah 🙂 sudah ada aturan seperti ini

  22. 12 Januari 2015 17:22

    Tidak semudah itu melakukan pengujian emisi kebisingan knalpot, semua tertera di
    PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
    NOMOR 07 TAHUN 2009
    TENTANG
    AMBANG BATAS KEBISINGAN KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU

  23. Sigit permalink
    15 Maret 2016 10:05

    Berdalih belom ada alat ukur yang jelas jadi alasan menghalalkan ganti knalpot broomm. Ente pake logika aja kalo kuping elu dideketin knalpot bising kagak? Tuhan kasih panca indra sudah melebihi alat ukur desibel

Trackbacks

  1. Kalo “Ngaspal” aja belon bisa ngapain ngurusin suara ? Dasar Arogan ! « INDOBIKERMAGS
  2. Biar Afdol, Pakai Alat Ukur Dong Akh | Edo Rusyanto's Traffic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: