Skip to content

Anak-anak di Tengah Permisifnya Orang Tua

23 Juli 2017

SAAT anak di bawah umur mencari teladan, pasti yang dilihat dan didengar pertama adalah orang yang ada di sekitar. Keluarga menjadi panutan.

Tak heran bila lahir pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohon.

Pepatah tadi meyakinkan kita bahwa anak-anak meniru perilaku orang tua. Lantas, bagaimana perilaku kita, terutama di jalan raya?

Hal ini menjadi penting terutama terkait dengan fakta data keterlibatan anak dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Khususnya ketika anak-anak atau remaja berada di posisi sebagai pelaku kecelakaan. Artinya, mereka aktif memicu terjadinya kecelakaan.

Mari kita tengok sejenak fakta data yang dilansir Korlantas Mabes Polri.

Dalam rentang lima tahun terakhir, yakni 2012-2016, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan mencapai sekitar 21 ribuan orang. Angka itu setara dengan sekitar 4,25% dari total pelaku kecelakaan yang tercatat di Indonesia.

Bagaimana dengan anak-anak yang menjadi korban?

Angkanya lebih fantastis. Dalam lima tahun terakhir tercatat sekitar 139 ribu anak menjadi korban kecelakaan. Jumlah itu setara dengan sekitar 16% dari total korban kecelakaan di Tanah Air.

Pentingnya Teladan

Pendidikan yang baik adalah dengan contoh nyata. Misal, ketika orang tua mengajarkan kepada anak untuk selalu mentaati aturan, maka saat bersepeda motor, sang orang tua memakai helm pelindung kepala.

Pemakaian helm diatur oleh Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Para pesepeda motor dan penumpangnya wajib memakai helm sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI). Ada sanksi bagi pelanggar aturan itu, yakni dendak maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Artinya, ketika orang tua menjarkan anak untuk memakai helm saat bersepeda motor, dia sedang mengajarkan anak untuk taat pada aturan. Seperti lazimnya peraturan, dibuat untuk kehidupan menjadi aman, nyaman, dan selamat. Mirip dengan orang tua yang membuat aturan bahwa sang anak harus tidur tidak larut malam atau anak harus menghormati orang tua.

Dalam benak sang anak akan terjadi kontradiksi ketika dalam praktiknya sang orang tua justeru naik sepeda motor tidak memakai helm. Atau, mengajak sang anak bersepeda motor, namun sang anak tidak dipakaikan helm.

Contoh lain pentingnya teladan soal disiplin. Antre di tengah kemacetan lalu lintas jalan adalah mutlak. Namun, ketika kemacetan menggila lantas sang orang tua yang membawa mobil malah merangsek bahu jalan, menunjukkan bahwa disiplin masih rendah.

Ironisnya jika di dalam mobil ada sang anak yang dengan kasat mata melihat pembelajaran bahwa melibas bahu jalan adalah sah-sah saja di tengah kemacetan. Lagi-lagi, benak sang anak akan berkecamuk. Di rumah diajarkan disiplin, tapi di jalan ada contoh perilaku semena-mena.

Tentu, teladan bukan semata harus dilakukan orang tua. Para guru, penegak hukum maupun para birokrat serta para pemimpin mutlak memberi teladan bagaimana berlalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang mengedepankan akal sehat dan nurani.

Mendidik anak-anak menyelamatkan generasi penerus. Kita sudah banyak kehilangan anak bangsa akibat kecelakaan di jalan raya. Dalam rentang lima tahun terakhir, 2012-2016, sekitar 137 ribu jiwa melayang sia-sia di jalan raya. Belum lagi mereka yang menderita luka berat dan ringan, jumlahnya berlipat-lipat, yakni sekitar 720 ribuan orang.

Ironisnya, pemicu utama kecelakaan adalah perilaku pengemudi yang melanggar aturan. Perilaku ugal-ugalan, tidak disiplin, dan mau menang sendiri.

Nah, kalau kita menyemai gabah, kelak memanen padi, bukan keladi. (edo rusyanto)

foto: akun IG polantasindonesia

Touring ke Batu Karas Jangan Sampai Kena Sanksi Adat

22 Juli 2017

BELASAN sepeda motor dengan tertib antre di pintu masuk. Sebagian lainnya mengekor di antrean mobil.

“Sepeda motor ambil kiri, langsung ke pintu masuk,” terdengar suara perempuan ditujukan kepada pesepeda motor yang mencoba melaju di sisi kanan.

Perempuan berseragam warna biru bertuliskan dinas perhubungan berdiri di tengah jalan. Di lengannya terdapat pengeras suara berwarna putih. Sesekali tangannya menunjukan arah yang harus dilalui pesepeda motor. Maklum, entah karena tidak tahu atau karena alasan lain, masih saja ada yang masuk ke jalur bukan peruntukannya.

Begitulah suasana ketika musim liburan di obyek wisata pantai Batu Karas. Lokasinya dekat dengan obyek wisata Green Canyon yang terkenal dengan sungai dan tebingnya itu.

Obyek wisata pantai yang satu ini terletak di Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 350 kilometer dari Jakarta dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 10 jam lewat jalan darat.

Dari Jakarta, wisatawan dapat menempuh jalur lewat Bandung, lalu ke Garut. Pemandangan indah dengan hijaunya pegunungan sudah tersaji sejak dari Garut menuju Pameungpeuk, Garut.

Suasana sedikit berbeda ketika memasuki jalur Pameungpeuk menuju ke Batu Karas. Wisatawan disajikan dengan pemandangan suasana pantai selain hijaunya pesawahan dan hutan di sisi jalan. Kondisi aspal jalan di sepanjang Pameungpeuk menuju Batu Karas cukup mulus. Sesekali menurun dan berkelok, walau mayoritas dalam kondisi jalan mendatar.

Bermain Ombak

Setelah melewati gerbang obyek wisata Batu Karas, wisatawan disambut dengan suara deburan ombak dan angin pantai yang mengelus wajah. Pantai dengan pasir hitam dan deburan ombak menggoda untuk para pengunjung bermain air. Di salah satu sudut pantai disediakan area bagi wisatawan untuk berenang. Mereka dari berbagai kalangan usia tampak asyik mahsyuk bermain ombak. Sebagian lainnya duduk-duduk di area pantai dengan alas tikar sambil memandangi pesona laut Pantai Selatan Jawa.

Kami datang dari Bogor ingin menikmati keindahan pesona pantai sekaligus mandi di pantai,” ujar pria muda yang datang bersama keluarganya saat berbincang dengan saya di Batu Karas, belum lama ini.

Anak-anak, remaja hingga orang dewasa berkejaran dengan ombak. Tawa canda dan keceriaan menikmati deburan ombak menjadi sensasi tersendiri. Bagi wisatawan yang hendak menggunakan ban atau alat berenang lainnya, dapat menyewa dari warga atau pengelola yang ada di sisi pantai. Harganya pun relatif terjangkau, yakni berkisar Rp 20.000-30.000. Tidak berbeda jauh dengan tarif masuk di gerbang utama, yakni Rp 65.000 untuk satu mobil ukuran minibus dan sedan.

Biaya itu mencakup masuk ke obyek wisata Rp 50.000. Lalu, iuran sampah Rp 5.000, parkir Rp 5.000, dan asuransi Rp 5.000.

Nah, bagi pesepeda motor biayanya total Rp 14.000 sudah termasuk penumpang atau pengendaranya. Biaya itu mencakup masuk ke obyek wisata Rp 10.000. Lalu, iuran sampah Rp 1.000, parkir Rp 2.000, dan asuransi Rp 1.000.

Oh ya, di sudut lain, yakni di luar area tempat berenang, wisatawan dapat menikmati ombak yang lebih besar. Di area ini wisatawan dapat berselancar sambil menikmati indahnya pesona Batu Karas. Untuk yang lebih santai, dapat menyewa perahu atau banana boat sambil menikmati belaian angin dan birunya air laut.

Bagi yang berniat meluncur di atas ombak juga terdapat penyewaan perlengkapan berselancar. Bahkan, tersedia juga instruktur berpengalaman yang siap mendampingi para pemula.

Ada tiga titik di Pantai Batu Karas, yaitu Bulak Pendak, Legok Pari, dan Karang. Di Bulak Pendak, gelombang yang datang dapat membuat dinding tinggi dan panjang.Area ini menjadi tempat ideal bagi peselancar profesional. “Untuk mencapai Bulak Pendak, peselancar mesti menyewa perahu,” tulis laman wisatakotabanjar.

Titik lainnya, yaitu Legok Pari, merupakan yang paling terkenal lantaran terbilang lumayan aman mengingat ombaknya yang tak terlalu tinggi. Lokasi ini cocok bagipemula. Terakhir, Karang. Namun, peluang untuk berselancar di titik hanya dapat dilakukan ketika air laut sedang mengalami pasang.

Sanksi Adat

Menikmati pemandangan yang indah jangan sampai terlena. Apalagi sampai buang sampah sembarangan. Rasanya berdosa jika keindahan alam dicemari oleh sampah. Terlebih jika sampahnya tidak bisa terurai secara alami seperti kemasan plastik.

Nah, di kawasan pantai Batu Karas jangan coba-coba buang sampah sembarangan. Sebuah papan peringatan dengan warna mencolok mata menyebutkan sanksi berbeda dengan di kebanyakan tempat. Pengunjung yang nekat buang sampah sembarangan bakal dikenai sanksi adat.

“Kalau terbukti membuang sampah sembarangan, sang pelaku akan kena sanksi adat, yakni memungut sampah di seluruh areal pantai,” tutur seorang pria petugas keamanan berseragam warna pekat, kepada saya, belum lama ini.

Dia bercerita, sanksi itu diterapkan dengan terlebih dahulu sang pelaku dihadapkan kepada tetua di wilayah itu, lalu disaksikan oleh petugas keamanan dan ketika diputuskan bersalah barulah menjalani sanksi adat tadi.

Kuliner dan Souvenir

Para wisatawan kuliner maupun mereka yang hendak bergoyang lidah tak perlu khawatir. Banyak tersedia rumah makan atau kafe yang menggoda selera.

Beragam menu tradisional, hidangan laut, maupun menu internasional siap menyambut wisatawan kuliner. Rumah makan siap melayani bagi mereka yang ingin memulihkan energi setelah lelah bermain di pantai. “Saya memilih hidangan laut, rasanya lebih pas kalau wisata ke pantai,” ujar perempuan muda dari Jakarta.

Para penikmat hidangan laut tentu saja dimanjakan di kawasan wisata pantai. Harganya pun relatif terjangkau. Untuk menyantap nasi dengan lauk pauk berupa udang, ikan laut, hingga sayur-sayuran, wisatawan dapat merogoh kocek berkisar Rp 500-600 ribu untuk 10 orang. Artinya, setiap orang membayar berkisar Rp 50-60 ribu. Itu pun sudah mendapat minuman berupa teh manis hangat atau kopi.

Usai mengisi perut, bagi wisatawan yang hendak membawa cindera mata dari Batu Karas, dapat menuju toko yang berjajar di dekat pantai. Beragam jenis pakaian hingga kerajinan tangan sudah menanti bagi mereka yang hendak membawa oleh-oleh khas Batu Karas.

Penginapan di Batu Karas

Pengunjung tak perlu khawatir untuk urusan menginap di kawasan Batu Karas, Ciamis, Jawa Barat. Sejumlah penginapan dapat dengan mudah dijumpai.

Hotel berbintang dan home stay sudah menanti, sebut saja misalnya, Pondok Puteri, Sunrise Resort Batukaras, Buana Home Stay, dan Cibuarial Homestay. Lokasi penginapan itu berada di sekitar obyek wisata pantai tersebut. Para wisatawan tinggal memilih sesuai anggaran yang sudah disiapkan.

Soal tarif penginapan pun beragam. Para pengelola membanderol penginapan mereka mulai dari yang Rp 300 ribu per malam, Rp 600 ribu, Rp 800 ribu hingga ada yang mencapai Rp 1,5 juta per malam.

Sunrise Resort Batukaras yang terletak di Jl Pantai Indah, Batukaras, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat, dapat menjadi salah satu pilihan. Tersedia kamar dengan tempat tidur yang nyaman setara hotel berbintang.

Penginapan lainnya, yakni Pondok Puteri juga dapat menjadai alternatif. Pengelola menyediakan kamar dengan tempat tidur nyaman, ruangan ber-AC hingga televisi.

Selain penginapan berupa hotel atau resor, wisatawan juga dapat memilih home stay yang lebih sederhana, namun cukup nyaman untuk bermalam.

Tersedia pilihan lain bagi wisatawan yang suka berkemah. Di dekat pantai Batu Karas juga tersedia area berkemah (camping ground). Tentu saja ‘penginapan’ yang satu ini khusus bagi mereka yang suka berpetualang. (edo rusyanto)

Foto-foto: dokumen pribadi dan istimewa

Lima Kawasan Paling Banyak Dihuni Mobil

20 Juli 2017

DI Indonesia, saat ini populasi mobil sudah menyentuh 10,3% dari total kendaraan yang tercatat di Korlantas Mabes Polri. Per 2016, jumlah kendaraan di Tanah Air mencapai sekitar 128,3 juta unit.

Kendaraan bermotor itu mencakup mobil penumpang, bus, mobil barang, kendaraan khusus (ransus), dan sepeda motor. Tentu saja kendaraan bermotor yang paling dominan masih dipegang oleh sepeda motor. Si roda dua masih menjadi favorit karena dinilai lebih mangkus dan sangkil. Belum lagi harganya yang relatif terjangkau oleh kebanyakan masyarakat kita.

Nah, dari keseluruhan jumlah mobil yang tercatat, berikut ini adalah lima kawasan yang paling banyak dihuni mobil jenis penumpang alias mobil pribadi.

Pertama, kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek).
Di kawasan ini, pada 2016, bersemayam sekitar 3,67 juta mobil penumpang alias mobil pribadi. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan empat wilayah lainnya. Jumlah mobil di kawasan ini menyumbang sekitar 19% dari total populasi kendaraan bermotor. Jauh lebih kecil dibandingkan sepeda motor yang mencapai sekitar 75%.

Kedua, kawasan Jawa Barat, yakni 1,36 juta unit.
Kontribusi mobil penumpang terhadap total kendaraan bermotor di Jawa Barat mencapai sekitar 13%. Sepeda motor masih dominan di kawasan ini dengan kontribusi sekitar 81%.

Ketiga, kawasan Jawa Timur sekitar 1,30 juta unit.
Di provinsi ini sepeda motor masih didominan, yakni berkontribusi sekitar 87% terhadap total kendaraan bermotor. Sedangkan sumbangan mobil penumpang sekitar 8%.

Keempat, Jawa Tengah sekitar 1,08 juta unit.
Sumbangan mobil terhadap populasi kendaraan bermotor di provinsi ini sekitar 7%. Jauh lebih kecil dibandingkan sepeda motor yang sekitar 88%.

Kelima, Sumatera Selatan sekitar 1,03 juta unit.
Inilah provinsi di luar Pulau Jawa yang memiliki jumlah mobil paling besar. Kontribusinya sekitar 12% terhadap jumlah kendaraan bermotor di Sumsel. Mirip dengan di Jawa, sepeda motor masih dominan, yakni sekitar 82%. (edo rusyanto)

Lima Kecelakaan Paling Mematikan Tahun 2017

18 Juli 2017

MEMASUKI bulan ketujuh tahun 2017 Indonesia belum bisa terlepas dari petaka jalan raya. Kecelakaan demi kecelakaan terjadi. Korban pun terus berjatuhan.

Ratusan, bahkan ribuan kecelakaan terjadi hingga pertengahan Jul 2017. Jerit tangis, kesedihan, dan teriakan minta tolong mewarnai lalu lintas jalan di berbagai kota di Tanah Air.

Dari ribuan kecelakaan yang terjadi tersebut tercatat setidaknya lima kecelakaana paling mematikan di Indonesia. Kelimanya terjadi di lima lokasi yang berbeda. Disebut paling mematikan karena akibat kecelakaan yang ditimbulkan merenggut jumlah korban jiwa yang cukup banyak.

1). Kecelakaan Bus di Probolinggo

Kecelakaan maut menggegerkan Desa Curah Sawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo , Jawa Timur, Jumat, 14 Juli 2017 sekitar pukul 02.30 WITA. Jeritan tangis dan kesakitan memecah udara dingin yang berbalut kegelapan. Sebanyak 10 orang meregang nyawa dan belasan menderita luka-luka.

Mereka adalah korban dari tabrakan bus malam Medali Mas nopol N 7130 UA dengan truk bermuatan pupuk DR 8600 AB. Bus berpenumpang sekitar 40 orang itu berangkat dari Bali menuju Malang, Jawa Timur.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Burung dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/7), menyatakan, awalnya, kendaraan truk Hino dengan nomor polisi DR-8600-AB yang dikemudikan Munawir berjalan dari barat ke timur. Kemudian terjadi serempetan dengan bus Medali Mas bernopol N-7130-UA yang dikemudikan Rifai Kerto. Saat di jalan menikung, truk berjalan di tengah-tengah menghabiskan bagian jalan yang semestinya dipakai kendaraan dari arah berlawanan. Tak pelak tabrakan pun terjadi dengan bus Medali Mas yang melaju kencang dari arah sebaliknya.

2). Kecelakaan Minibus Maut di Dairi

Minibus berpenumpang 12 orang terbalik dan masuk ke dalam kolam di pingir jalan. Buntutnya, sembilan orang meninggal dunia dan selebihnya menderita luka-luka.

Peristiwa mengenaskan yang menimpa penumpang Toyota Avanza hitam BK 1568 KM itu terjadi di desa Tanjung Beringin, kecamatan Sumbul, Dairi, Sumatera Utara (Sumut), Senin, 2 Januari 2017 sekitar pukul 16.00 WIB. Mobil melaju dari arah Medan menuju Sidikalang. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Padahal, kondisi jalan saat itu menurun, sempit dan menikung. Selain itu, kondisis jalan pun agak rusak.

Kapolres Dairi AKBP Kobul Syahrin Ritonga yang dihubungi Republika, mengatakan, mobil keluar badan jalan. Lalu, terbalik dan masuk kolam yang berada di bahu jalan sebelah kiri yang kedalamannya lima meter dari permukaan jalan. Seluruh penumpang yang meninggal dan selamat merupakan keluarga besar Lamsir Banjarnahor, warga desa Martudu, Baktiraja, Humbang Hasundutan.

3). Kecelakaan Bus Pariwisata di Cipanas

Jerit kesakitan dan meminta tolong kembali terdengar di kawasan Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu, 30 April 2017. Bus pariwisata menabrak sejumlah kendaraan dan akhirnya terjerembab di ladang milik warga.

Delapan orang meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka. Bus pariwisata bernomor polisi B 7057 BGA menabrak tiga mobil, empat sepeda motor, dan sebuah angkot jurusan Cipanas – Puncak. Saat itu, bus melaju dari arah Puncak menuju Cipanas.

Laman kompas.com menyebutkan bahwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Mengutip keterangan resmi pihak kepolisian, laman itu memberitakan bahwa kejadian di Cipanas menjadi peristiwa mengenaskan kedua di kawasan Puncak, setelah sepekan sebelumnya terjadi hal serupa di Gadog, Bogor.

4). Kecelakaan Mobil Travel di Jembrana

Niat para pemudik asal Jember, Jawa Timur (Jatim) berlebaran di kampung halaman pupus. Mobil travel microbus Elf yang mereka tumpangi dari Bali menuju Jember, Jatim bertabrakan dengan truk tronton, Sabtu, 17 Juni 2017 sekitar pukul 21.30 WITA.

Kecelakaan di KM 121-122 atau 300 meter sebelah barat dari Pura Tirta Segara Rupek, Gilimanuk, Melaya, Jembrana, Bali ini merenggut delapan korban jiwa. Selain itu, tiga korban luka berat dan dua korban luka ringan. Kesemuanya penumpang mobil travel.
Korban bergelimpangan ketika microbus Isuzu Elf bernopol S 7485 N dari arah timur (Denpasar) menuju Jember menabrak Truk Hino bernopol DK 9455 WL yang melaju dari arah barat (Gilimanuk) dengan tujuan Denpasar. Sebelum menabrak truk Hino, saksi mata melihat mobil travel berpenumpang 13 orang itu oleng dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Seluruh korban kecelakaan maut tersebut merupakan buruh proyek yang bekerja di Petitenget, Canggu, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali.

5). Kecelakaan Minibus di Probolinggo

Jalur Pantura Jawa, persisnya di kawasan Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menjadi saksi bisu kecelakaan maut antara mobil Toyota Avanza dengan bus pariwisata, Sabtu, 24 Juni 2017. Enam dari tujuh penumpang Avanza meregang nyawa, sedangkan satu dalam kondisi kritis.

Hasan, salah satu keluarga korban, menjelaskan, dalam kecelakaan ini, dia kehilangan anak, mertua, adik kandung, dan adik ipar. Sedangkan anak laki-lakinya dalam kondisi kritis.

Buntut dari kecelakaan itu puluhan penumpang bus dari Bali tujuan Blitar dan Tulungagung, keduanya di Jawa Timur, sempat tekatung-katung di tempat kejadian.

Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara mengatakan, kecelakaan itu terjadi akibat human error sopir Avanza. “Avanza menyalip kendaraan di depannya lalu menabrak bus pariwisata. Akibatnya, kecelakaan tak bisa dihindarkan,” kata dia. (edo rusyanto)

Sumber: berbagai media massa
Foto: tribunmedan

Gagal Toleran di Jalan

16 Juli 2017

BANYAK yang bisa berkendara, tapi belum tentu bisa berlalu lintas jalan yang baik dan benar. Berkendara yang baik artinya sesuai dengan etika yang ada, sedangkan berkendara yang benar artinya sejalan dengan peraturan

Sekadar contoh. Seseorang bisa mengendarai sepeda motor, namun ketika berlalu lintas jalan seenaknya melintas di trotoar jalan.

Jelas-jelas bahwa trotoar adalah untuk pedestrian. Hak pedestrian dilindungi Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) serta perangkat turunannya hingga peraturan daerah (perda).

Pembenaran untuk melintas di trotoar biasanya bermuara pada, pertama, lalu lintas jalan macet total. Kedua, hendak buru-buru. Ketiga, urusan pencernaan alias urusan perut.

Idealnya para pengguna jalan, entah itu pejalan kaki, pesepeda motor ataupun pengendara mobil, sudi toleran. Saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing. Maklum, setiap pengguna jalan ada porsinya. Ketika toleransi runtuh yang tersisa adalah ego masing-masing. Saat ego berlindung diantara pembenaran-pembenaran tadi kita menjadi kelompok yang permisif.

Indahnya toleransi membuat lalu lintas jalan menjadi aman, nyaman, dan selamat. Itulah nafas dari regulasi. Aturan dibuat untuk menjamin keselamatan para pengguna jalan. Ketika aturan dilanggar, petaka sudah di depan mata.

Saat gagal toleran di jalan mencerminkan bahwa kita belum sepenuhnya mengusung keadaban kita sebagai manusia. Esensi keadaban kita adalah menggunakan akal sehat dan nurani. Bisa jadi, gagal toleran karena kita lupa menggunakan akal sehat dan nurani. (edo rusyanto)

Lima Wilayah Berpopulasi Motor Terbesar di Indonesia

13 Juli 2017

TAHUKAH bahwa populasi sepeda motor di Indonesia pada 2016 mencapai sekitar 106,5 juta unit?

Bila dibandingkan dengan total populasi kendaraan bermotor di Tanah Air, kontribusi sepeda motor mencapai sekitar 83%. Suatu angka yang jauh diatas jenis kendaraan bermotor lainnya.

Lantas, dari sekitar 106,5 juta sepeda motor, di wilayah manakah yang paling banyak bersemayam si roda dua?

Merujuk pada data yang dilansir Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Kepolisian Republik Indonesia (Polri), berikut ini lima wilayah dengan populasi sepeda motor terbesar.

Pertama, wilayah Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Di wilayah ini tercatat ada 14,6 juta sepeda motor. Tak pelak pada jam-jam sibuk kemacetan lalu lintas jalan dengan mudah dijumpai di sana-sini. Populasi sepeda motor sekitar 75% dari total kendaraan bermotor di Jadetabek.

Kedua, wilayah Jawa Tengah, yakni sekitar 13,7 juta sepeda motor. Kontribusi sepeda motor mencapai 88% terhadap total populasi kendaraan di provinsi yang berpenduduk 35,5 juta jiwa pada 2015 tersebut.

Ketiga, wilayah Jawa Timur dengan populasi sekitar 13,4 juta sepeda motor. Di provinsi dengan jumlah penduduk 38,8 juta jiwa (2015) ini sepeda motor menyumbang 87% terhadap total kendaraan bermotor.

Keempat, wilayah Jawa Barat, yakni 8,7 juta sepeda motor. Provinsi berpenduduk sekitar 46,7 juta jiwa (2015) ini mencatat populasi sepeda motor sebesar 81% dibandingkan total kendaraan bermotor.

Kelima, wilayah Sumatera Selatan, yakni 7,1 juta sepeda motor. Kontribusi sepeda motor sekitar 82% terhadap total kendaraan di provinsi yang berpenduduk 8,05 juta jiwa ini (2015).

Tampaknya sepeda motor masih menjadi pilihan masyarakat. Si roda dua dimanfaatkan untuk alat transportasi, baik untuk bekerja, berusaha, beranjangsana hingga berwisata. Tak heran jika dalam empat tahun kedepan Indonesia diprediksi kedatangan 27,8 juta sepeda motor. Dahsyat kan? (edo rusyanto)

Ini Syarat Kalau Mau Membatasi Motor

12 Juli 2017

Pembatasan pergerakan lalu lintas sepeda motor sudah diterapkan di Indonesia, khususnya di Jakarta, sejak 17 Januari 2015. Tanggal itu menandai mulai diberlakukannya sanksi bagi para pelanggar aturan tersebut.

Sepeda motor dilarang melintas di jalur utama kota Jakarta, persisnya di dua ruas jalan protokol, yaitu Jl MH Thamrin dan Jl Medan Merdeka Barat. Keduanya terletak di Jakarta Pusat yang dikenal sebagai pusat pemerintahan serta pusat ekonomi dan bisnis. Sedangkan jam pembatasan berlaku dalam rentang pukul 05.00 hingga pukul 23.00 WIB.

Awalnya, latar belakang pembatasan sepeda motor santer dikaitkan dengan upaya menurunkan kecelakaan lalu lintas jalan. Namun, belakangan isu itu reda dengan sendirinya dan alasan pun bertumpu pada soal upaya mengurai kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta yang sudah demikian kronis. Masyarakat pun dapat memahami untuk alasan tersebut.

Secara hukum, pembatasan pergerakan lalu lintas jalan cukup kuat. DKI Jakarta memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 5 tahun 2014 yang ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada 28 April 2014. Dalam aturan ini disebutkan bahwa untuk melaksanakan pengendalian lalu lintas jalan, salah satunya Pemda dapat melakukan pembatasan lalu lintas sepeda motor pada kawasan tertentu dan/atau waktu dan/atau jaringan jalan tertentu.

Perda tersebut merujuk pada UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang diteken oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 Juni 2009. Selain itu, merujuk pada PP No 32/2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas yang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juni 2011. Kedua regulasi ini memungkinkan untuk terjadinya pembatasan lalu lintas sepeda motor.

Kapan sebuah ruas jalan dapat melakukan pembatasan?

Di dalam PP 32/2011 ditegaskan bahwa jalan yang dibatasi sedikitnya memenui kriteria memiliki perbandingan volume lalu lintas kendaraan bermotor dengan kapasitas jalan pada salah satu jalur jalan sama dengan atau lebih besar dari 0,5 (nol koma lima). Dan kedua, telah tersedia jaringan dan pelayanan angkutan umum dalam trayek yang memenuhi standar pelayanan minimal pada jalan, kawasan, atau koridor yang bersangkutan.

Masih merujuk pada PP 32/2011, angkutan umum yang disediakan harus memenuhi standar pelayanan minimal (SPM). Defenisi SPM bila merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 98 tahun 2013 yang diteken Menteri Perhubungan EE Mangidaan pada 30 Desember 2013 meliputi; keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, dan keteraturan.

Salah satu aspek dalam keteraturan, khususnya dalam jarak antara kendaraan angkutan perkotaan disebutkan bahwa pada waktu puncak paling lama 15 menit dan non puncak paling lama 30 menit. Penentuan waktu puncak disesuaikan kondisi masing-masing daerah.

Artinya, jika angkutan umum yang dimaksud telah terwujud, pembatasan sepeda motor pun dapat melenggang dengan mulus. Namun, tetap dengan catatan, dilakukan sosialisasi dengan massif dan tepat sasaran. Lalu, pemerintah menjalankan transparansi informasi ke publik perihal alasan pembatasan dan dampak dari penerapan pembatasan. Apakah ada efeknya dalam mengurai kemacetan lalu lintas jalan? (edo rusyanto)

foto:istimewa