Skip to content

Inilah 10 Provinsi Paling Fatal Kecelakaannya

1 April 2015

S/W Ver: 85.98.90R

KECELAKAAN lalu lintas jalan masih menjadi persoalan serius bagi Indonesia. Setiap hari, Indonesia kehilangan 70-an putera-puterinya akibat petaka di jalan raya. Di luar faktor penyakit yang menimbulkan kematian, kecelakaan rasanya cukup ganas bila dibandingkan dengan faktor lainnya. Sebut saja misalnya bila dibandingkan dengan kematian akibat narkoba yang setiap hari sekitar 50 jiwa.

Lantas, di provinsi mana saja kecelakaan paling fatal alias paling banyak merenggut korban jiwa? Ini dia.

Data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mabes Polri memperlihatkan, pada 2013, ternyata provinsi Jawa Timur (Jatim) merupakan wilayah yang paling fatal. Di wilayah yang berpenduduk sekitar 38,1 juta jiwa ini setiap hari terjadi sekitar 59 kasus kecelakaan. Petaka itu merenggut sekitar 15 jiwa per hari.

Pada tahun itu kita kerap mendengar bagaimana kecelakaan fatal menimpa wilayah di ujung Pulau Jawa itu. Kasus kecelakaan yang kerap menjadi pemberitaan adalah bagaimana bus angkutan umum terlibat kecelakaan fatal yang merenggut banyak korban jiwa.

Di posisi kedua adalah provinsi Jawa Tengah (Jateng). Bila dibandingkan jumlah penduduknya, Jateng memang lebih rendah daripada Jatim. Penduduk Jateng tercatat sekitar 32,9 juta jiwa. Nah, kalau soal kecelakaan lalu lintas jalan, di Jateng tercatat 53 kasus kecelakaan setiap hari dan merenggut rata-rata 9 jiwa per hari.

Sementara itu di posisi ketiga adalah Jawa Barat (Jabar). Inilah provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia. Namun, untuk urusan kecelakaan provinsi ini menempati posisi ketiga dengan rata-rata 21 kasus kecelakaan per hari. Sedangkan fatalitas yang ditimbulkan merenggut delapan jiwa per hari. Oh ya, penduduk Jabar tercatat sekitar 46,4 juta jiwa.

Negara mencanangkan target penuruna fatalitas hingga 50% pada 2020 terhitung sejak 2011. Sedangkan hingga 2035 diharapkan terjadi penuruna fatalitas hingga 85%.

Posisi kecelakaan paling fatal keempat justeru terjadi di Sumatera Utara (Sumut). Wilayah yang berpenduduk sekitar 13,2 juta jiwa ini mencatat kehilangan lima penduduk per hari. Angka itu berasal dari 17 kasus kecelakaan per hari yang terjadi di Sumut.

Provinsi kelima terfatal juga berasal dari luar Jawa, yakni di Sulawesi Selatan (Sulsel). Provinsi berpenduduk sekitar 8,1 juta jiwa ini mencatat bahwa setiap hari terjadi 13 kasus kecelakaan yang merenggut sekitar tiga orang per hari.

Nah, posisi keenam juga berasal dari luar Jawa, yaitu Sumatera Selatan (Sumsel). Wilayah ini kehilangan tiga penduduk per hari akibat enam kasus kecelakaan per hari. Sumsel memiliki jumlah penduduk sekitar 7,4 juta jiwa.

Sedangkan diurutan ke-7 hingga ke-10 masing-masing adalah Lampung dengan 5 kasus per hari dan merenggut dua korban jiwa. Lalu, Jakarta sekitar 28 kasus (2 jiwa), Aceh 4 kasus per hari (2 jiwa), dan Riau 4 kasus per hari (2 jiwa).

Sepuluh provinsi tersebut menyumbang sekitar 71% dari total korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia.

Negara mencanangkan target penuruna fatalitas hingga 50% pada 2020 terhitung sejak 2011. Sedangkan hingga 2035 diharapkan terjadi penuruna fatalitas hingga 85%. Target tinggal target jika kita semua tak peduli pada petaka di jalan raya. Bagi para pemangku kepentingan sudah saatnya membuang jauh-jauh ego sektoral sehingga target bersama dapat dicapai. Selamatkan anak bangsa dari petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

Gara-gara Lampu Belakang Mati, Bikin Orang Meninggal

31 Maret 2015

lampu belakang

PERNAH melihat sepeda motor yang lampu belakangnya tidak berfungsi? Pernah dibikin kaget oleh motor yang seperti itu?

Barangkali ada yang berpikir bahwa urusan lampu belakang sepeda motor adalah hal sepele. Mereka yang berpikir seperti itu mungkin menganggap enteng denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan. Tapi, pernahkah kita berpikir bahwa gara-gara lampu belakang yang tidak berfungsi membuat orang menderita? Bahkan, sampai meninggal dunia.

Derita yang dipikul Badran, kita sebut saja begitu, bisa jadi tak pernah terpikirkan sebelumnya. Pria berusia 50 tahunan itu sudah bertahun-tahun menjadi pengemudi angkutan umum. Pengalaman demi pengalaman dia lalui saat melintasi kota-kota yang menjadi rute bus tempatnya bekerja. Hingga akhirnya pada suatu malam yang dingin cerita menjadi amat berbeda.

Malam itu hujan turun membasahi permukaan aspal. Lampu penerangan jalan yang semestinya membantu para pengendara, tidak tersedia. Badran melaju dengan kecepatan sekitar 70 kilometer per jam (kpj). Di depannya terdapat satu mobil MPV, diapun mendahului. Namun, terdengar teriakan,”Awas!”.

Ternyata ada sepeda motor lampu belakangnya tidak berfungsi sehingga tak terlihat. Teriakan dari sang kenek bus membuat Badran membanting stir ke kanan. Ironisnya, dari arah berlawanan ada sepeda motor yang ditumpangi dua orang. Brakkkk!!!!

Kepanikan seketika membalut malam yang masih diguyur hujan. Darah berceceran. Dua orang yang di sepeda motor meninggal dunia. Sedangkan motor yang tidak menyalakan lampu tadi teronggok di pinggir jalan, pengendaranya melarikan diri.

Badran pun menjadi pesakitan. Berbulan-bulan dia menjalani persidangan hingga akhirnya divonis tujuh bulan penjara. Dia tidak ditemani pengacara untuk membela diri.

Di bagian lain, sang isteri harus mengganti rugi sepeda motor yang rusak sekaligus memberi santunan kepada keluarga korban.

Lampu Belakang

Derita yang dipikul Badran barangkali tak perlu terjadi bila pengendara sepeda motor yang tidak memakai lampu belakang itu tidak wira-wiri di jalan. Atau, pengendara motor tersebut tergolong yang menganggap remeh masalah lampu belakang. Entah lah.

Pastinya, perundangan yang berlaku saat ini, yakni UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) beserta turunannya, mengatur soal itu. Setiap kendaraan yang berseliweran di jalan wajib memakai lampu belakang. Lampu itu tentu saja mutlak dalam keadaan berfungsi.

Lazimnya peraturan, ketentuan itu juga memiliki sanksi. Pelanggar aturan bisa dikenai denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Keberadaan lampu belakang dapat membantu pengendara yang ada di belakangnya untuk lebih waspada. Keberadaan sang lampu juga bisa membantu untuk terhindarnya insiden tabrak belakang terutama pada malam hari. Atau, dalam kasus Badaran, gara-gara lampu tidak berfungsi membuat dua nyawa melayang dan seorang bapak meringkuk di penjara. (edo rusyanto)

Jangan Tiru yang Keliru (Lagi)

30 Maret 2015

busway motor 2a

SUATU siang di Jakarta. Lampu pengatur lalu lintas jalan masih berwarna merah. Tiba-tiba satu pesepeda motor melenggang, menerabas. Selang satu detik, dua pesepeda motor lainnya mengikuti. Entah apa yang ada di benak mereka.

Masih di Jakarta. Lalu lintas jalan padat merayap, sedangkan di busway tampak lengang. Tak ayal sebuah mobil melabrak jalur yang kosong itu dengan memotong median jalan. Tak perlu berlama-lama, di belakangnya mengekor mobil yang lain dan tentu saja sejumlah pesepeda motor ikut mengekor.

Ada yang bilang, begitulah potret sebagian pengguna jalan kita. Suka ikut-ikutan.

Tapi, tunggu dulu. Aksi libas melibas aturan di jalan bukan monopoli milik para pengguna jalan dari kalangan sipil. Pernah saya menyaksikan petugas yang dengan entengnya menerobos lampu merah, atau bercokol di atas zebra cross saat menunggu lampu merah. Entah apakah mereka sedang bertugas atau tidak.

Ibarat dikomando, aksi petugas tadi pun langsung ditiru. Jadilah, pelanggaran berjamaah. Mereka meniru yang keliru.

Khusus untuk petugas, semestinya menjadi figur panutan. Masyarakat rindu pada petugas yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Terkait kredibelitas fondasinya adalah sosok yang menjunjung tinggi aturan yang ada sekaligus bertanggung jawab. Disinilah akar dari kewibawaan sang petugas, selain tentu saja menegakkan aturan secara tegas dan konsisten. Saat itu tak ada, kewibawaan hukum akan runtuh. Dan, ketika itulah pelanggaran demi melanggaran terus bermunculan.

Padahal, di sisi lain kita kerap mendengar bahwa kecelakaan senantiasa diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Tak heran kita kesulitan memangkas fatalitas secara drastis bila kondisi lalu lintas jalannya karut marut. Pelanggaran dianggap sebagai hal lumrah.

Oh ya, tiga jawaban teratas dari pertanyaan, “kenapa melanggar aturan di jalan” adalah; terburu-buru, tidak ada petugas, dan ikut-ikutan. Apapun itu alasannya, saya termasuk yang yakin bahwa alasan mendasarnya adalah mereka belum merasa dirugikan oleh tindakan melanggar aturan itu.

Semua berawal dari ikut-ikutan, lama-lama menjadi kebiasaan. Bukan mustahil kesemua itu ujungnya berhenti pada kecelakaan lalu lintas jalan. Mungkin hari ini, esok hari, lusa, atau pekan depan. Hanya menunggu waktu. (edo rusyanto)

Tiga Tempat Memikat di Singkawang

29 Maret 2015

singkawang_sudut kota

SINGKAWANG, Kalimantan Barat (Kalbar) memang menggoda. Kota yang berjarak sekitar 145 kilometer (km) dari Ibukota Kalbar, Pontianak ini kerap bikin penasaran untuk disinggahi. Tak semata ingin mencaritahu bagaimana kehidupan masyarakatnya, tapi juga menikmati potensi wisatanya.

Saat mendapat kesempatan singgah belum lama ini saya pun tak menyia-nyiakan melahap tempat-tempat eksotik di Singkawang. Kota berpenduduk sekitar 150 ribu jiwa ini ternyata menyimpan keindahan alam berupa pantai yang menggoda. Selain, tentu saja wisata klenteng dengan sajian budaya yang sudah berumur cukup lama.

Perjalanan darat dengan menggunakan bus sedang dari Pontianak ke Singkawang cukup menyenangkan. Waktu tempuh yang berkisar tiga hingga empat jam menjadi terasa tidak begitu melelahkan. Maklum, saat itu saya menjadi penumpang bus carteran sehingga badan tidak lelah mengemudi.

Dari kota Pontianak kami melewati sejumlah lokasi yang eksotik. Rute yang dipilih adalah Pontianak – Mempawah – Bengkayang – Singkawang. Jalan aspal yang dilewati tergolong cukup baik. Hanya saja, lebar jalan beraspal hanya cukup untuk dua bus sedang. Maksudnya, dua bus yang berpapasan masih bisa melintas dengan nyaman. Namun, jika dua bus besar berpapasan, sang pengemudi mesti hati-hati.

Pemandangan yang disajikan di sepanjang perjalan cukup memikat. Di kanan-kiri jalan disodori pemandangan hijaunya pepohonan dan sesekali hunian tapak warga setempat. Selain itu, tentu saja pemandangan sungai dan pantai yang membiru. Bahkan, pada petang hari kita bisa menikmati detik-detik matahari tenggelam alias sunset.

singkawang_peta

Nah, ketika mendekati kota Singkawang, kita disodori pemandangan perbukitan dan jalan yang berkelok. Dalam perjalanan saat itu, kami kerap berpapasan dengan angkutan berupa bus sedang, pesepeda motor, dan mobil pribadi.

singkawang_jalan masuk kota

Tiga Tempat

Tempat pertama yang cukup memikat untuk disinggahi adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Pusat Kota Singkawang. Inilah salah satu bangunan yang dilindungi oleh Undang Undang No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Bangunan klenteng yang cukup ramai dikunjungi wisatawan atau mereka yang hendak sembahyang ini masuk dalam Registrasi Daerah No 6172/S/0002.

Saat saya singgah, klenteng ini dipadati oleh para wisatawan. Di bagian luar, wisatawan banyak yang mengabadikan klenteng dengan kamera profesional maupun kamera ponsel. Tentu saja tak sedikit yang berpose di bangunan yang terletak di Jalan Sejahtera, Singkawang.

Bangunan yang oleh warga setempat disebut Tai Pak Kung(Toa Pekong) ini dikenal cukup bersejarah. Diperkirakan usianya seumur dengan sejarah keberadaan komunitas Tionghoa Singkawang. Komunitas itu sendiri ditaksir sudah berusia lebih dari 200 tahun. Tahun 1933, menurut laman http://www.cintasingkawang.com, kelenteng Tri Dharma Bumi Raya Singkawang diperluas dan dibangun baru. Namun, pada 1936 pernah terjadi kebakaran sehingga klenteng ini kembali direnovasi.

Siang itu, saat saya berkunjung, di bagian dalam tampak banyak warga yang sedang beribadah. Wangi yang ditebarkan oleh hio yang dibakar menyebar di bagian dalam Vihara. Seorang kolega saya, Eddy Hussy dengan khusu menjalankan sembahyang. Ditangannya terdapat hio berwarna merah.

singkawang_sembahyang klenteng

Suasana religius begitu kental. Pesan-pesan mulia terukir di tembok bangunan vihara. Salah satunya berbunyi “Berteman dengan orang yang berkarakter mulia adalah seperti masuk ke dalam sebuah kamar yang penuh dengan mawar yang wangi, jika kamu tinggal di ruangan itu cukup lama kamu akan menjadi wangi – Konfusius.”

Pesan lain yang cukup penting adalah “Kedamaian mudah dipelihara, kesulitan mudah diatasi sebelum dimulai, yang rapuh mudah dihancurkan, yang kecil mudah menyebar. Cegahlah sebelum terjadi. Buatlah teratur sebelum ada kekacauan – Tao Te Ching.”

Dari pesan tersebut saya menangkap isyarat tingginya tingkat toleransi warga kota Singkawang.

Tempat kedua. Tak jauh dari klenteng tersebut berdiri Masjid Raya Singkawang. Masjid yang berdiri megah dengan dominan warna hijau menjadi tempat ibadah umat muslim kota Singkawang. Masjid yang dibangun pada 1885 oleh Kapitan Bawasahib Marican asal India itu juga pernah terbakar pada 1927. Namun, tempat ibadah umat muslim itu kemudian dibangun kembali pada 1936. Bahkan, setelah mengalami sejumlah renovasi masjid itu kini memiliki menara yang menjulang ke angkasa.

Di sisi bangunan masjid torehkan kutipan ayat suci Munajat Hamba, “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkat derajatku, beri aku rezeki, beri aku petunjuk, sehatkan aku & maafkan aku.”

Itulah esensi doa diantara dua sujud, Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’kni warzuqni wahdini wa’afini wa’kfu ‘anni (O Lord, Forgive me, Bless me, Rectify me, Raise my status, Give me my Sustenance, Guide me, Strengthen me and Pardon me).

singkawang_masjid raya

Tempat ketiga. Selain pusat kota yang identik dengan arsitektur Tiongkok, tempat lain yang layak dikunjungi adalah kawasan wisata Pasir Panjang. Lokasinya di pinggir kota. Jika kita datang dari arah Pontianak, kawasan wisata pantai ini menjemput kita sebelum masuk ke kota Singkawang.

Pasirnya yang putih, birunya air laut, serta hijaunya perbukitan seakan berpadu untuk mengunci kita tak ingin pulang dari kawasan yang satu ini. Pantai pasir putihnya memanjang hingga sekitar tiga kilometer. Untuk memasuki kawasan ini kita akan melewati jalan kecil yang cukup dilintasi satu bus ukuran besar. Segarnya udara pantai di tengah teriknya cuaca Singkawang, membuat kita berlama-lama menikmati sepoi-sepoinya angin laut.

Saat itu saya singgah ke arena wisata pantai Bajau Bay. Tiket untuk masuk ke kawasan ini relatif terjangkau yakni berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu tergantung hari libur atau tidak. Sejumlah arena bermain seperti kora-kora dan perahu ayun, serta perahu cukup menggoda untuk dijajal. Sedangkan di sisi pantai terdapat restoran atau cafe untuk menikmati segarnya air kelapa muda sambil bercengkerama.

singkawang_tatung

Nah, di bagian bukit terdapat Bajau Bay Hotel yang cukup megah. Hotel yang dominan berwarna keemasan itu berdiri kokoh di punggung bukit. Saya sempat menjajal naik dan turun sambil berjalan kaki, lumayan. Dari hotel ini pemandangan ke teluk demikian indah. Sontak banyak wisatawan yang juga berpose dengan latar belakang teluk.

singkawang_bajau bay

Kebetulan saat itu sedang ada pagelaran budaya barongsai dan tatung. Suara tetabuhan dan petasan sempat bercampur baur. Atraksi demi atraksi dinikmati dengan penuh perhatian oleh para wisatawan, terutama saat atraksi tatung atau debus. Adegan bagian wajah yang ditusuk benda tajam dan atraksi menginjak pedang tajam membuat penonton menahan nafas.

singkawang_motordagang

Saya sempat menikmati segarnya air kelapa muda di hotel ini. Bahkan, sempat berpose bersama gadis jelita memakai baju khas Tionghoa berwarna merah menyala. Posenya hampir sama dengan ketika saya berfoto ria dengan pak Walikota Singkawang, Awang Ishak di depan Vihara yah?

Ngomong-ngomong, di sudut-sudut Bajau Bay saya menjumpai anak-anak di bawah umur yang bersepeda kayuh. Di sepeda mereka terdapat sejumlah makanan dan minuman ringan. Hampir serupa dengan sepeda motor yang dipakai oleh perempuan dewasa di area yang sama. Bedanya, di sepeda motor perempuan itu terdapat lebih banyak barang-barang yang dijajakan.

Kapan mau singgah ke Singkawang? (edo rusyanto)

singkawang_edo dan walikota

singkawang_edo dan perempuan

Iklan Motornya ‘Sangar’ Euy

28 Maret 2015

2015-03-27 20.47.08_resized

SEPEDA motor terus merangsek perkampungan dan perkotaan di Indonesia. Dimana-mana dengan mudah kita menjumpai si roda dua dengan beragam peruntukkan. Pastinya, si kuda besi untuk wira-wiri sang penunggang alias sebagai alat transportasi.

Saat beberapa waktu lalu berkunjung ke Kalimantan Barat (Kalbar), pemandangan orang menunggang kuda besi amat mudah dijumpai. Tidak hanya di Pontianak, ibukota Kalbar, tapi juga di sejumlah kota lain seperti Mempawah, Bengkayang, dan Singkawang.

Para penunggangnya beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, pedagang, petani, pegawai negeri sipil (PNS), hingga para aparat hukum. “Kini motor kian banyak pak, warga lebih suka naik motor,” ujar seorang mahasiswi saat berbincang dengan saya, di Pontianak, belum lama ini.

Sedangkan seorang pria pekerja swasta menambahkan, tingginya jumlah motor karena mudah dan murahnya uang muka kredit motor. Dia bercerita, cukup dengan membayar uang muka Rp 500 ribu, konsumen sudah bisa membawa pulang motor. Tak heran jika populasi motor di Pontianak hampir menyamai populasi penduduknya, yakni 500 ribuan unit.

Nah, saat bertandang ke Singkawang, salah satu kota di Kalbar, pemandangan serupa juga dengan mudah dijumpai. Para penunggangnya beragam, ada remaja, orang tua, pria, dan wanita. Soal pemakaian helm jangan ditanya, sama saja dengan kota-kota lain di Jawa, ada yang memakai helm, tapi tak sedikit yang tanpa pelindung kepala.

Iklan media luar ruang seperti baliho dan papan reklame terlihat di sudut-sudut kota Singkawang. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah iklan berupa reklame yang menampilkan sepeda motor skutik Honda Vario. Dalam papan reklame berwarna merah itu tertulis ‘Fakta, Vario Mutlak Pilihan Warga Singkawang’.

Iklannya ‘sangar’ euy. Langsung menancapkan jargon bahwa motor itu menjadi pilihan warga. “Biasanya di beberapa daerah iklannya seperti itu, beda dengan iklan di Jakarta,” ujar seorang karyawan dealer utama Honda saat berbincang dengan saya, baru-baru ini.

Saking penasarannya, akhirnya saya lihat-lihat iklan serupa di Jakarta. Ternyata benar, jargon yang dipakai amat berbeda. Tulisan di papan reklame di Jakarta mencantumkan kalimat ‘Ride The Perfection.’

Iklan memang bisa mempengaruhi seseorang untuk memutuskan membeli barang atau jasa. Dan, tentu saja termasuk mempengaruhi seseorang untuk membeli sepeda motor.
Tak bisa dipungkiri, kehadiran sepeda motor adalah sebagai alat transportasi.

Fungsi iklan ternyata ada beberapa loh. Menurut blog ini fungsi iklan terdiri atas; Informing, adanya iklan membuat konsumen sadar (aware) akan merek-merek baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat merek, serta menfasilitasi penciptaan citra merek yang positif. Lalu, persuading, iklan yang efektif akan mampu mempersuasi (membujuk) pelanggan untuk mencoba produk dan jasa yang diiklankan.

Kemudian, reminding, iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar dalam ingatan para konsumen dan adding value, periklanan memberi nilai tambah pada merek dengan mempengaruhi persepsi konsumen.

Nah, kira-kira iklan motor di Singkawang itu masuk fungsi yang mana hayo?

Ngomong-ngomong, Honda memang mendominasi pasar sepeda motor skutik di Indonesia. Pada 2014, Honda menguasai sekitar 73% pasar motor skutik dengan penjualan sekitar 3,8 juta unit. Di posisi kedua adalah Yamaha (26%) setara dengan 1,3 juta unit, sedangkan diposisi ketiga, Suzuki (1%) setara 74 ribuan unit. (edo rusyanto)

Berduyun-duyun Boyong Dolar Otomotif

27 Maret 2015

S/W Ver: 85.98.90R

SIAPAPUN presidennya, Indonesia menjadi incaran para produsen otomotif dunia untuk membenamkan investasi mereka. Dolar pun datang, pabrik berkembang. Tak heran jika kemudian produsen asal Jepang berduyun-duyun memboyong dolar otomotif ke negeri yang punya pasar sekitar 250 juta jiwa.
Kini, kita mendengar kabar sekitar Rp 41 triliun bakal menggerojok Indonesia untuk investasi otomotif, khususnya mobil. Angka itu baru datang dati tiga pemain.

Toyota Motor Company (TMC) mengaku siap mengguyur Rp 20 triliun terhitung kini hingga 2017. Lalu, Suzuki Motor Corporation (SMC) merogoh kocek hingga US$ 1,3 miliar. Dan, Mitsubishi yang menggelontorkan sekitar Rp 6 triliun. Ketiganya menargetkan pada 2017 pabrik yang dibangun sudah dapat beroperasi.

TMC mengaku bakal menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan bermotor dan suku cadang merek Toyota di Asean. Mitsubishi dengan investasi sebesar itu pada April 2017 bakal mampu memproduksi hingga 160 ribu mobil per tahun dengan sekitar 25% nya bakal diekspor. Sedangkan Suzuki mengaku bakal meningkatkan ekspornya dari 20% menjadi 30%. Kalau dihitung-hitung, potensi ekspor mobil berpeluang naik dari 200 ribu unit menjadi 700 ribu unit pada 2017. Selebihnya? Ya menggerojok pasar domestik.

Penjualan mobil di pasar domestik memasuki masa keemasan dalam tiga tahun terakhir. Pada rentang 2012-2014, tiap tahun rata-rata 1,1 juta mobil mengguyur Indonesia. Tahun-tahun sebelumnya penjualan mobil paling tinggi menyentuh angka 800 ribuan unit per tahun. Bahkan, pada 2015 ini ditargetkan sekitar 1,2 juta mobil merangsek pasar di Nusantara. Target itu cukup konvensional mengingat 2012 dan 2013 juga sudah menyentuh 1,2 juta unit per tahun.
Pasar otomotif kita masih besar?

Jawabannya amat mungkin, iya. Hal itu jika disandingkan antara populasi kendaraan bermotor dengan populasi penduduk Indonesia. Misal, populasi mobil di Indonesia hingga kini tak lebih dari 10 juta unit, sedangkan penduduk Indonesia menyentuh 250 juta jiwa. Atau, populasi sepeda motor di Indonesia ditaksir sekitar 120 juta unit, sedangkan jumlah penduduk ya itu tadi, 250 juta jiwa.
Para pengusaha tentu saja melihat ada celah untuk terus merangsek pasar domestik. Salah satu caranya, mendekatkan pusat produksi dengan pasar. Artinya, bangunlah pabrik di dekat lokasi pemasaran. Pilihannya saat ini masih di Pulau Jawa, khususnya di Jakarta dan Jawa Barat, seperti Bekasi, Cikarang, hingga Karawang.

Dinamika itu membuat perekonomian bertumbuh dan tenaga kerja terserap. Tapi, di sisi lain, dinamika jalan raya juga kian riuh rendah oleh beragam persoalan, mulai dari soal kemacetan lalu lintas jalan hingga persoalan kecelakaan di jalan. Untuk urusan kecelakaan di jalan, kita disodori fakta bagaimana tiap hari tak kurang dari 300-an kasus. Ironisnya, tiap hari, 70-an jiwa melayang sia-sia menggelepar di jalan raya. Sedangkan seratusan orang lainnya menderita luka-luka. Mayoritas kecelakaan melibatkan kendaraan pribadi, perpaduan antara mobil dan sepeda motor.

Pada sisi satunya lagi muncul pertanyaan, bagaimana dengan moda transportasi angkutan umum massal kita? Apakah pemerintah sanggup memenuhi hajat orang banyak untuk soal yang satu ini?

Apa iya warga kota dan desa harus memakai kendaraan pribadi untuk hak bermobilitasnya? Jika jawabannya iya, pembangunan pabrik menjadi solusi. Tapi, kalau jawabannya lain, ya pemerintah berkewajiban membangun angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan. Bisa kan? (edo rusyanto)

Terpental dari Motor, Balita Masuk ke Sungai

26 Maret 2015

anak di motor

BERITA mengejutkan muncul Selasa, 24 Maret 2015. Anak di bawah lima tahun (balita) terpental dari sepeda motor skutik yang dikendarai ibunya. Tragis, sang balita masuk ke sungai dan tidak bisa diselamatkan. Bagaimana dengan sang ibu?

Hingga Selasa sore sang ibu belum bisa ditemukan. Sungai yang menyeretnya seperti menyimpan misteri.

Laman wartakota memberitakan, peristiwa diawali ketika sang ibu mengajak anak balitanya untuk pergi ke pasar. Tak ada yang menduga, perjalanan pada pagi sekitar pukul 06.30 WIB itu menjadi perjalanan terakhir mereka. Saat melintas di jembatan, bagian standard skutik menyentuh besi jembatan sehingga motor terjatuh dan balita terpental. Sontak sang ibu ingin menolong, namun nasib bercerita lain.

Peristiwa tragis itu terjadi di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Kita tahu, Jakarta adalah kota yang disesaki dengan tak kurang dari 10 juta sepeda motor. Kota yang tak pernah tidur dan akrab dengan sepeda motor. Jutaan perjalanan warga kota ditemani oleh si roda dua karena dianggap mangkus dan sangkil. Karena itu, setiap hari kita menikmati pemandangan warga yang wira-wiri dengan menunggang kuda besi.

Pemandangan ibu yang memboncengi sang anak menjadi santapan sehari-hari. Adegan itu lebih mudah lagi dijumpai di kawasan pemukiman. Membawa anak balita di sepeda motor, khususnya skutik, kerap dianggap sebagai situasi yang mudah diatasi. Sang anak ditempatkan di bagian depan skutik yang memang memiliki pijakan lebih lebar bila dibandingkan sepeda motor bebek. Bahkan, tak jarang kita jumpai sang anak tidak dilengkapi dengan helm pelindung kepala. Sekali lagi, berkendara seperti itu bukan tanpa risiko.

Kondisinya dilematis. Di satu sisi ada kebutuhan untuk membawa serta anak karena jika ditinggal di rumah tak ada yang menemani. Di sisi lain, sang pengendara memikul risiko yang tidak kecil. Berangkat dari realitas itu lahirlah gagasan dari seorang ibu di pinggiran Jakarta yang menciptakan kursi bagi sang balita. Kursi yang ditempatkan di bagian belakang motor juga dilengkapi dengan tali pengikat agar balita tidak terlontar.

Hadirnya kursi itu bagian dari ikhtiar dalam mempertahankan keselamatan diri saat berkendara di jalan raya. Menjaga keselamatan balita yang dibawa serta di sepeda motor. Kita tahu setiap orang tua memiliki naluri untuk melindungi si buah hati. Apalagi, kita disodori fakta bahwa di Jakarta dan sekitarnya, korban kecelakaan lalu lintas jalan yang berasal dari anak di bawah umur prosentasenya terus menanjak.

Untuk menyegarkan ingatan kita, anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan pada 2014 kontribusinya sekitar 4,04% dari total korban kecelakaan. Angka itu meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai sekitar 3,70%. Sepanjang lima tahun terakhir, sedikitnya 2.200 anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan di wilayah Polda Metro Jaya.

Di tingkat nasional, jumlah anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan prosentasenya masih tergolong tinggi. Data Korlantas Polri menyebutkan, anak-anak usia di bawah 15 tahun yang menjadi korban kecelakaan kontribusinya sebesar 15,45% pada 2013. Setiap hari, sebanyak 20-an anak-anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan.

Kita para orang tua mesti ekstra waspada manakala memilih membawa serta anak di sepeda motor. Menjauhkan anak-anak dari kecelakaan lalu lintas jalan adalah tanggung jawab para orang tua. Anak di bawah umur belum mampu melindungi diri secara maksimal ketika berkendara. Pilihan menggunakan kursi hanyalah satu dari beberapa upaya melindungi anak-anak kita. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.799 pengikut lainnya.