Lanjut ke konten

Bahas Agen Road Safety di HSFCI

20 April 2014

rsa di hsfci jakarta 2014
foto:dok hsfci

BANYAK kelompok pengguna sepeda motor di Indonesia yang memiliki pandangan soal pentingnya keselamatan di jalan (road safety). Salah satunya, Honda Street Fire Club Indonesia (HSFCI).

Kelompok para penunggang sepeda motor Honda CB 150 R ini sadar betul bahwa berkendara yang aman dan selamat perlu diimplementasikan. Safety riding alias keselamatan bersepeda motor bukan berhenti sebagai slogan. Karena itu, Road Safety Association (RSA) Indonesia merasa perlu hadir saat diundang dalam ajang Musyawarah Nasional (Munas) pertama mereka di Gedung Wahana, Gunung Sahari, Jakarta Utara, Sabtu, 19 April 2014 sore hingga malam hari. Munas dihadiri ratusan anggota HSCFI dari sekitar 38 kota di Indonesia.

“Bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran safety di dalam diri kita?” Tanya Dino, dari HSFCI Depok, Jawa Barat.
Dia bertanya begitu mengingat di masyarakat masih tumbuh perilaku bahwa berkendara jarak dekat tidak perlu pakai helm. Padahal, kata dia, kecelakaan bisa terjadi di manapun, jarak dekat maupun jarak jauh.

Terkait hal itu, RSA Indonesia mengajak Dino maupun anggota HSFCI yang kumpul sore itu untuk meningkatkan lagi pemahaman soal keselamatan. Masalah safety riding atau road safety bukan semata masalah kewajiban memenuhi aturan atau etika di masyarakat, melainkan harus menjadi sebuah kebutuhan. Saat kebutuhan itu melekat menjadi kebutuhan mendasar manusia lainnya, seperti makan dan tidur, para pengendara sepeda motor bakal berkendara yang aman dan selamat. Salah satunya, seberapapun jarak yang akan ditempuh, memakai helm adalah mutlak sebagai ikhtiar melindungi kepala dari risiko lebih fatal saat terjebak dalam insiden atau kecelakaan lalu lintas jalan.
Di sisi lain, Arman dari HSFCI Samarinda, Kalimantan Timur menyodorkan fakta bahwa di sekeliling kita banyak anak-anak di bawah umur berkendara di jalan raya. Atau, anak-anak yang berjejalan di satu sepeda motor dengan orang tua mereka. “Semua itu karena transportasi publiknya tidak ada. Sepeda motor menjadi alat transportasi satu-satunya. Kenapa pemerintah tidak menyediakan transportasi bagi warganya?” Sergah dia.

Anak di bawah umur jelas-jelas belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang merupakan persyaratan mutlak berkendara, termasuk bersepeda motor. Sedangkan orang tua yang memaksakan mengangkut penumpang lebih dari satu orang sehingga si kuda besi diisi tiga bahkan hingga empat dan lima orang, tentu memikul risiko yang tinggi. Keseimbangan saat berkendara bukan mustahil mengganggu konsentrasi yang membuka peluang lebih besar terjadinya kecelakaan di jalan.

Karena itu, RSA Indonesia memandang pentingnya pemerintah menyediakan moda transportasi public yang aman, nyaman, selamat, serta terjangkau secara akses dan finansial. Penggunaan angkutan umum diharapkan mampu mereduksi kasus kecelakaan lalu lintas jalan menjadi seminimal mungkin. Maklum, saat ini, keterlibatan kendaraan pribadi amat dominan dalam kecelakaan di Indonesia. Tahun 2013, dari 270-an kasus kecelakaan di jalan, lebih dari separuhnya melibatkan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Ironisnya, korban yang ditimbulkan mencapai sedikitnya 70-an jiwa tewas sia-sia per hari.

Sementara itu, Putra dari HSFCI Jakarta menyoroti soal konvoi kendaraan di jalan raya. Dia mengaku pernah mendapat pernyataan bahwa konvoi bisa mendapat prioritas di jalan. Terkait hal ini, RSA Indonesia perlu menyegarkan ingatan bahwa konvoi yang legal sesuai perundangan, yakni Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) adalah iring-iringan kendaraan yang mendapat pengawalan polisi lalu lintas. Bila sudah dikawal seperti itu priortas sudah di tangan. Hanya saja, persoalannya adalah bagaimana dengan etika berkendara di jalan raya. Bila ternyata mengusik nurani dan etika masyarakat, rasanya tidak elok meminta prioritas, apalagi ternyata tujuan konvoi bukan untuk urusan genting.

IKRAR HONDA BIKERS

Nah, soal genting dan penting menjadi sorotan. Prioritas semestinya untuk urusan yang genting seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Jika hanya untuk kepentingan touring yang esensinya untuk bersenang-senang, rasanya menodai esensi keadaban sebagai manusia.

HSFCI merupakan bagian dari kelompok pesepeda motor yang dinaungi dealer utama Honda maupun PT Astra Honda Motor (AHM), memiliki “Ikrar Honda Bikers”. Ada lima ikrar tersebut yang esensi utamanya adalah menjadi pesepeda motor dan kelompok pesepeda motor yang menjunjung tinggi keadaban manusia Indonesia. Hal itu termasuk di dalamnya adalah mentaati aturan dan mengkampanyekan keselamatan di jalan kepada masyarakat.

Bila demiian, RSA Indonesia menilai bahwa HSFCI sudah memiliki bekal untuk menjadi agen keselamatan jalan. Menjadi kelompok yang menempatkan keselamatan sebagai sebuah kebutuhan sehari-hari, terutama saat berkendara di jalan raya.
Apakah ikrar itu bisa dilanggar? “Bisaaa” jawab anggota HSFCI. “Bisa tapi gak mau.” Ujar mereka lagi serempak.
Ya. Bisa tapi kalau tidak mau bakal tidak terwujud. Artinya, ikrar tersebut semestinya bisa diimpelementasikan. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga kelompok. (edo rusyanto)

Kok Kaca Spionnya Cuma Satu Yah?

19 April 2014

spion satu_edit

PERNAH bertemu pesepeda motor yang memakai kaca spion hanya satu? Biasanya yang “dihilangkan” adalah bagian kanan. Entah apa alasannya. Timbul pertanyaan, apakah tidak berbahaya berkendara di jalan umum hanya memakai satu kaca spion?

Kaca spion merupakan cermin untuk melihat ke arah belakang kendaraan secara jelas. Karena itu, bagi pesepeda motor amat membantu saat hendak berbelok, baik itu ke kanan, maupun ke kiri jalan. Bahkan, kaca spion juga membantu saat sang pesepeda motor hendak mendahului.

Lewat kaca spion sang pesepeda motor bisa memastikan bahwa arus kendaraan dari arah belakang cukup aman untuk berbelok. Bahkan, guna melengkapi kepastian informasi dari kaca spion, ada yang melengkapi dengan gerakan menoleh sesaat alias head check. Menoleh loh yah, bukan menengok hingga 180 derajat. Harapannya, saat hendak berbelok atau mendahului tidak terjadi benturan atau tabrak belakang. Atau, tidak terjadi serempetan sehingga membuka peluang terjadinya insiden yang memilukan.

Karena itu, tak heran jika kemudian regulasi yang ada mengatur adanya kaca spion sebanyak dua buah di sepeda motor. Satu di sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan. Fungsinya, ya itu tadi, ketika hendak berbelok ke kanan atau ke kiri bisa melihat arus kendaraan yang ada di belakang.

Saking pentingnya fungsi kaca spion, negara bahkan membuatkan Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk kaca spion. Di sisi lain, regulasi kita, yakni Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan sepeda motor memiliki kaca spion. Unsur ini menjadi bagian pendukung dari kendaraan roda dua sehingga dapat dinyatakan laik jalan.

UU No 22/2009 tentang LLAJ juga menegaskan, bagi pelanggar aturan tersebut bisa kena semprit. Pilihannya ada dua, mau didenda maksimal Rp 250 ribu atau pidana kurungan maksimal satu bulan.

Bahkan, sanksi bisa lebih berat untuk kendaraan roda empat atau lebih. Sanksi bagi mereka bisa dua kali lipat dari sanksi bagi pesepeda motor.

Oh ya, dalam Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2012 tentang Kendaraan ditegaskan bahwa jumlah kaca spion harus dua.
Nah, jika hanya satu bisa ditafsirkan melangar aturan yang ada. Namun, terlepas dari hal itu, rasanya amat riskan jika bersepeda motor hanya memakai satu kaca spion. Bisa jadi mengundang sang petaka jalan raya untuk semakin dekat bagi sang penguna jalan. (edo rusyanto)

Laris Manis R15 dan Fenomena Motor Sport Yamaha

18 April 2014

r15 yamaha sport

MANAJEMEN Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) mengklaim motor sport Yamaha YZF-R15 laris manis di Indonesia. Sebanyak 1.500 unit motor sport yang ditawarkan via online itu ludes dalam waktu 23 jam pada Selasa, 15 Maret 2014. Wow!

”Harga R15 Rp 28 juta dan uang muka Rp 6 juta cocok dengan kantong penduduk kelas menengah, tambah lagi dengan produk ini yang memang sangat dinantikan, membuat konsumen tidak berpikir panjang untuk membelinya,” ujar Eko Prabowo, general manager Marketing Communication & Community Development Yamaha Indonesia, dalam publikasinya di Jakarta, baru-baru ini.

Inikah strategi anyar Yamaha di Indonesia dalam mempertahankan hegemoni di segmen motor sport?
Yamaha Indonesia yang dikenal sebagai pemain nomor wahid di segmen motor sport versi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), tentu tak ingin kebobolan di segmen tersebut. Pelajaran berharga sudah dienyam di segmen motor skutik. Ketika Yamaha Indonesia lengah, segmen yang semula digenggamnya, berpindah tangan ke Honda.

Sepanjang Januari-Maret 2014, Yamaha Indonesia memang masih mengantongi pangsa pasar terbesar dengan torehan 45,47%. Raihan tersebut semakin tipis dengan sang kompetitor utama, yakni PT Astra Honda Motor (AHM) alias Honda. Maklum, per akhir Maret 2014, Honda sudah mengantongi 43,38%. Jarak semakin dekat. Mengingat pada periode sama 2013, rentang diantara keduanya cukup lebar. Saat itu, Yamaha mengantongi 53,37%, sedangkan Honda sebanyak 33,75%.

Boleh jadi pergerakan pangsa pasar Honda ditopang oleh bejibunnya peluru yang digelontorkan di pasar Indonesia. Pada 2014, setidaknya Honda memiliki CBR 150, CBR 250, Tiger, Honda New Megapro, CB150 R, dan Verza. Sedangkan Yamaha mengandalkan, New Vixion, Byson, dan Scorpio Z.

Boleh jadi juga ada aspek lain, misalnya, mindset konsumen yang menganggap sepeda motor sport Yamaha lebih ciamik. Tapi, ini tentu amat subyektif. Tergantung selera dan daya beli konsumen.

Yamaha tampaknya tak bisa duduk tenang di segmen motor sport. Sekalipun raihan pangsa pasarnya masih moncer, dari sisi volume penjualan justeru terjadi penyusutan. Simak saja data Aisi per akhir Maret 2014. Yamaha harus puas mencatat penurunan volume penjualan sekitar 2,96%. Sebaliknya, sang kompetitor, yakni Honda, justeru mendongkrak penjualannya hingga 46,42%.

sport jan mar 13 14

Di tengah itu semua, konsumen di Indonesia tampaknya mulai terus melirik segmen motor sport. Setidaknya jika kita melihat data Aisi yang menyebutkan bahwa segmen motor sport kini sudah mencapai 14,37% dari total penjualan motor tiga bulan pertama 2014 yang sekitar 1,99 juta unit. Coba bandingkan dengan torehan periode sama 2013 yang sekitar 12,74%. Bahkan, volume penjualannya pun ikut meningkat, yakni sekitar 13,91% menjadi sekitar 286 ribuan motor. Artinya, setiap hari rata-rata terjual 3.100-an motor sport.

Sinyalemen daya beli masyarakat yang kian meningkat seperti dilontarkan Eko Prabowo boleh jadi amat masuk akal. Saat Yamaha menjual 1.500 unit YZF-R15 dalam waktu singkat, padahal harga per unitnya Rp 28 juta (on the road Jakarta dan sekitarnya), boleh jadi cerminan membaiknya daya beli masyarakat Indonesia. Kelas menengah terus bertumbuh.

Namun, apa dampaknya kehadiran YZF-R15 terhadap penguasaan Yamaha di segmen motor sport? Kita hanya bisa menerka-nerka. Hanya konsumen yang bisa menjawab. (edo rusyanto)

Secuil Pengurusan SIM yang Hilang

17 April 2014

sim keliling

AKHIRNYA kolega saya bisa tersenyum lega. Kini dia sudah kembali mengantongi surat izin mengemudi (SIM). Sebelumnya, dia panik ketika kehilangan surat mandat dari negara itu.

“Dompet gue hilang, nah SIM A dan C ada di dompet itu. Mau gak mau harus mengurus ulang, daripada kena tilang,” seloroh kolega saya yang sehari-hari menunggang sepeda motor skutik, di Jakarta, baru-baru ini.

Perbincangan di sela makan siang itu mulai agak seru ketika dia menceritakan bagaimana proses mengurus SIM yang hilang tersebut. Kolega saya bercerita.

Suasana di kantor Samsat di Daan Mogot, Jakarta Barat sekarang ini jauh berbeda dengan akhir tahun 1990-an. Dulu dia mengaku ramai ditawari para calo pembuat SIM. Penawaran sudah ada sejak mulai masuk ke areal parkir hingga proses pemotretan.

“Nah, sekarang ini luar biasa. Pengurusannya cepat dan calo yang bergentayangan cuma ada di areal parkir,” katanya.
Proses pengurusan SIM yang hilang di kantor Samsat, Jakarta Barat dimulai dengan tes kesehatan. Biaya untuk urusan yang satu ini sebesar Rp 25 ribu. Lalu, membeli formulir untuk SIM yang dituju. Biaya formulir untuk SIM C sebesar Rp 75 ribu dan SIM A Rp 80 ribu. Biaya baru dikeluarkan lagi saat mengambil kartu asuransi Bhayangkara yang sebesar Rp 30 ribu. “Totalnya gue keluar Rp 240 ribu, udah gitu lancar banget pengurusannya. Yang ngeri, calo nawarin Rp 500 ribu buat ngurus dua SIM, gue gak mau, mahal banget,” kata pria yang tinggal di kawasan Bekasi itu.

Oh ya, katanya, ketika SIM nya hilang, dia melapor ke kantor polisi di area perkiraan hilangnya surat penting tersebut. Setelah membuat surat keterangan hilang, barulah dia mengurus SIM ke kantor Samsat, di Jakarta Barat. “Ngurus surat keterangan di kantor polisi juga gratis, cuma gue ngasih uang buat beli rokok aja,” celotehnya.

Ya. SIM menjadi vital bagi para pengguna kendaraan bermotor. Surat itu merupakan bukti kompetensi dari seorang pengendara. Sang pemegang SIM dianggap memiliki kemampuan menunggang sepeda motor atau mengemudi mobil. Setidaknya ada beberapa tes yang harus dilewati bagi calon penerima SIM, yakni tes kesehatan, tes tertulis, tes psikologi, dan tes praktik. Entah apakah langkah-langkah itu sudah diterapkan sepenuhnya oleh sang penerbit SIM.

Pastinya, SIM menjadi lebih berharga ketika proses penerbitannya pun berbasis pada kompetensi sang pengendara. Pemberian SIM yang keliru bukan mustahil menambah potensi terjadinya kecelakaan. Tahun 2013, setiap hari kita disuguhi tragedi 270-an kasus kecelakaan yang berbuntut tewasnya nyaris tujuh puluh jiwa per hari. (edo rusyanto)

Ini Dia Provinsi yang Kecelakaannya Paling Fatal

16 April 2014

provinsi terfatal 2013

JAWA menjadi wilayah yang paling fatal kecelakaan lalu lintas jalannya. Dalam jajaran lima provinsi paling fatal kecelakaannya, empat di antaranya ada di Jawa. Lima provinsi itu sesuai urutannya mencakup Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Provinsi yang kecelakaannya paling banyak menimbulkan korban jiwa adalah Jawa Timur. Pada 2013, menurut data Korlantas Polri, tiap hari sebanyak 15 orang tewas akibat kecelakaan di Jawa Timur. Korban tersebut mencuat lantaran setiap hari rata-rata ada 59 kasus kecelakaan di provinsi yang berpenduduk sekitar 37 juta jiwa itu.
Bila dibandingkan dengan tahun 2012, kasus kecelakaan di Jawa Timur ternyata menurun sekitar 15,25%. Tahun 2012, setiap hari ada 68 kasus kecelakaan yang merenggut jiwa sekitar 16 orang per hari. Tahun 2012, Jawa Timur juga menempati posisi pertama provinsi yang paling fatal kecelakaannya.

Di posisi kedua adalah Provinsi Jawa Tengah. Provinsi ini menempati posisi kedua dalam rentang dua tahun terakhir. Pada 2012, Jawa Tengah mencatat 63 kasus kecelakaan per hari dengan korban tewas sekitar 11 jiwa per hari. Provinsi berpenduduk sekitar 32 juta jiwa ini mencatat penurunan kasus kecelakaan hingga hampir 16% pada 2013. Namun, jumlah korban yang tewas akibat kecelakaan justeru meningkat sekitar 7 % menjadi 12 orang per hari.
Lalu, posisi ketiga terbesar adalah Jawa Barat. Provinsi berpenduduk paling padat di Indonesia, yakni sekitar 43 juta jiwa, tiap hari mencatat ada 21 kasus kecelakaan pada 2013. Sedangkan korban tewas yang ditimbulkan kecelakaan tersebut rata-rata 8 jiwa per hari. Angka kasus tahun 2013 di Jawa Barat menurun jika dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Kasus kecelakaan Jawa Barat tahun 2013 turun sekitar 4%, sedangkan korban tewas turun 6,19%.

Di luar Pulau Jawa, posisi keempat kecelakaan lalu lintasnya yang paling fatal adalah Sumatera Utara. Pada 2013, provinsi ini mencatat 17 kasus kecelakaan per hari dengan korban tewas rata-rata 5 orang. Kecelakaan di Sumatera Utara yang berpenduduk sekitar 13 juta jiwa ini, pada 2013 anjlok 29,35% jika dibandingkan 2012. Sedangkan jumlah korban yang tewas turun hampir 14% pada 2013.

Sementara itu, provinsi kelima terbesar dalam fatalitas kecelakaan adalah Sulawesi Selatan. Provinsi berpenduduk sekitar 8 juta jiwa ini mencatat adanya 13 kasus kecelakaan per hari pada 2013. Angka kasus itu naik sekitar 10% jika dibandingkan setahun sebelumnya. Sedangkan jumlah korban yang tewas tercatat naik hampir 2% menjadi sekitar 3 orang per hari.

Ya. Kelima provinsi tersebut cukup rawan jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Namun, bukan berarti provinsi lain tidak mencatat fluktuasi dalam kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Secara nasional, pada 2013, Indonesia mencatat penurunan kasus kecelakaan sekitar 15%, sedangkan fatalitas kecelakaan turun sekitar 11% menjadi 70-an jiwa per hari. Semoga fatalitas kecelakaan kian menurun dalam setiap tahunnya. Cukup sudah lebih dari 340 ribu jiwa tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya sepanjang 1992-2013. Amin. (edo rusyanto)

Tiap Hari, Jawa Diserbu 13 Ribu Motor Lebih

15 April 2014

mudik2_fajar

KUE bisnis sepeda motor di Jawa masih super legit. Coba saja simak data yang dilansir Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Penjualan sepeda motor di pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia itu ternyata menyumbang 62,32% atau sekitar 1,2 juta unit. Itu untuk periode Januari-Maret 2014.

Menurut data tersebut, dalam rentang tiga bulan pertama 2014, pulau Jawa setiap harinya diserbu 13.700-an sepeda motor. Angka itu naik sekitar 2% jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2013. Jawa memang seksi.

Pulau berpenduduk sekitar 137 juta jiwa itu menjadi idaman para pemain bisnis sepeda motor anggota Aisi yang mayoritas berprinsipal asal Jepang. Dari lima anggota Aisi, empat di antaranya berprinsipal asal Jepang, yakni Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki. Hanya TVS yang berprinsipal asal India. Di luar anggota Aisi, para pemain bisnis yang berprinsipal asal Eropa, Amerika Serikat maupun asal Tiongkok juga berbondong-bondong menggarap pasar Pulau Jawa.

Selain sebagai pulau berpenduduk terbesar di Indonesia, Jawa juga menjadi pusat perputaran uang di Indonesia. Pergerakan beragam dunia usaha, mulai dari pasar modal hingga perdagangan dan jasa, tumpah ruah di Jawa. Tak heran jika kemudian para produsen otomotif, termasuk pemain bisnis sepeda motor, mengincar pasar yang satu ini. Apalagi, sistem transportasi publik yang ada di pulau Jawa masih dianggap belum mampu memobilisasi penduduknya secara mangkus dan sangkil. Di tengah itu semua, si roda dua masih menjadi alternatif utama. Entah sampai kapan.

Pulau Jawa menjadi tambang emas bagi para pemain bisnis sepeda motor anggota Aisi. Coba saja simak laporan Aisi untuk periode Januari-Maret 2014. Saat itu, pemain nomor satu di bisnis sepeda motor, yakni Astra Honda Motor (AHM) mencatat bahwa kontribusi Jawa mencapai 41,17% terhadap total penjualan AHM alias Honda. Di Jawa, produsen berlambang Sayap Tunggal ini melego 9.000-an motor per hari.

Begitu juga bagi pemain nomor dua terbesar di Indonesia, yakni Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) alias Yamaha Indonesia. Jawa menyumbang sekitar 57,83% terhadap total penjualan Yamaha yang pada tiga bulan pertama 2014 mengantongi 612 ribuan motor di pasar domestik.

Bahkan, bagi Suzuki dan Kawasaki, kontribusi Jawa terhadap penjualan mereka menyentuh angka 63%. Sedangkan bagi TVS, pasar Jawa menyumbang hampir 50%.

Sementara itu, peta kekuatan pemain bisnis sepeda motor di Jawa masih belum bergeser signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari-Maret 2014, Honda masih merajai pasar Jawa dengan pangsa pasar 65,70%. Keperkasaan Honda masih belum mendapat lawan sebanding, mengingat setahun sebelumnya Honda pun masih bercokol di posisi puncak, namun dengan raihan 64,93%.

Untuk periode 90 hari 2014, posisi dua ditempati Yamaha, yakni dengan torehan 28,55%. Pangsa pasar itu turun tipis jika dibandingkan dengan periode sama 2013 yang sekitar 28,61%.

Lantas, hingga kapan Jawa masih menjadi pasar utama para produsen sepeda motor? (edo rusyanto)

Belajar dari Putri yang Tegar

14 April 2014

kompas minggu Putri

Membaca kisah Elianaputri Antonio di harian Kompas, edisi Minggu, 13 April 2014, memberi sejumlah pembelajaran, sekaligus inspirasi. Desainer permata lulusan Jepang itu berbagi pengalamannya ketika harus berhadapan dengan tragedi jalan raya. Mobilnya yang melaju sekitar 40 kilometer per jam (kpj) dihantam mobil berkecepatan 184 kpj. Brakkk!!!

Di dalam mobil, selain Putri yang duduk di balik kemudi, ada dua anaknya, yakni Matthew (11 tahun) dan Samara (9 tahun) yang duduk di kursi belakang. Putri koma tiga hari dan terluka parah. Kepalanya disangga sekrup yang akhirnya bisa dilepas setelah empat bulan. Luka fisik tak seberapa dibandingkan luka batin karena kehilangan Matthew. Di tengah itu semua dia bersyukur anak perempuannya selamat tanpa cedera serius. Belakangan baru ketahuan bahwa sang penabrak dalam peristiwa pada Oktober 2009 di Australia itu adalah pengemudi yang sedang dipengaruhi obat dan sedang dikejar polisi. Tragedi.

Bangkit dari keterpurukan setelah mengalami kecelakaan lalu lintas jalan sebuah hal yang mutlak. Hidup harus terus bergulir. Putri mengajarkan hal itu kepada kita semua. Setelah koma dan luka parah dan melewati pergulatan luka batin atas kehilangan putera yang dicintainya, kini ia menjalani hidup dengan penuh cinta. Berkarya dan berbagi dengan sesama. Dia membuat karya desain perhiasan emas, perak, dan batu berharga di bengkelnya di Bali. Putri mengusung merek Epajewel yang diluncurkan secara resmi pada 2012. Ada sejumlah koleksi, salah satunya adalah Prince Matthew. Khusus koleksi yang ini, seluruh penjualannya disumbangkan untuk kegiatan sosial.

Di Indonesia, menurut data Korlantas Polri, setiap hari ada 270-an kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Buntut dari hal itu, setiap hari 70-an jiwa melayang sia-sia. Selain itu, sekitar 77 orang menderita luka berat dan 300-an orang menderita luka ringan. Setiap hari.

Kecelakaan lalu lintas jalan menjadi sebuah tragedi bagi anak manusia yang tak terperikan. Para keluarga yang ditinggalkan, apalagi jika yang pergi adalah tulang punggung ekonomi keluarga, tragedi itu menimbulkan dampak yang cukup luas. Mereka harus bangkit. Begitu juga dengan mereka yang menderita luka-luka, baik itu luka berat maupun ringan.

Bangkit dari keterpurukan mutlak. Hidup harus terus berjalan. Rasa sedih dan luka menyayat hati harus disembuhkan. Tinggal bagaimana cara terbaik untuk melanjutkan hidup yang sempat terputus lantaran luka berat yang diderita.
Terkait hal ini, saya jadi ingat seorang kolega yang menggulirkan aksi sosial membagikan kaki palsu bagi para korban kecelakaan lalu lintas jalan yang terpaksa kehilangan kakinya. Kaki palsu dibagikan kepada mereka yang berhak dan diharapkan bisa membantu proses pemulihan kembali kehidupan sang korban. Aksi sosial itu layak diapresiasi.

Di luar sana pasti banyak orang-orang yang mampu secara ekonomi dan bisa membantu mereka yang terpuruk. Para korban kecelakaan adalah termasuk kelompok yang rentan. Pemulihan kemampuan sang korban untuk menghidupi keluarga bisa terganggu. Butuh proses pemulihan yang tepat atas luka fisik dan luka batin atau trauma kecelakaan sehingga sang korban bisa kembali seperti sediakala. Saatnya kita bergandengan tangan membantu melepaskan anak negeri dari jeratan nestapa akibat petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.098 pengikut lainnya.