Skip to content

Taman Pintar Yogyakarta Dilengkapi HRT

6 Desember 2016

yahm-yogyakarta-003

TAMAN Pintar, Yogyakarta kini dilengkapi fasilitas anyar. Tak semata fasilitas hiburan, kelengkapan anyar ini menekankan edukasi keselamatan lalu lintas jalan (road safety). Khususnya lagi, edukasi keselamatan bersepeda motor (safety riding).

Ya. Fasilitas itu bernama Zona Keselamatan Berkendara dan Teknologi. Zona besutan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) ini diharapkan dapat memperkuat upaya peningkatan kesadaran berkendara dengan baik dan benar di kalangan masyarakat. Terutama, di kalangan anak-anak dan generasi muda pengunjung wahana edukasi terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

“Kami memperbaharui media komunikasi pendidikan kami dengan menghadirkan sarana bermain sekaligus tempat belajar tentang teknologi dan cara berkendara yang baik dan benar bagi pengunjung Taman Pintar,” ujar Ketua YAHM I Putu Astawa, dalam publikasinya di Jakarta yang saya terima Senin, 5 Desember 2016.

Dia menjelaskan, Zona Keselamatan Berkendara dan Teknologi YAHM seluas 656 meter persegi itu terletak di areaplayground Taman Pintar Yogyakarta. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Plt Walikota Yogyakarta Sulistyo, Senin, 5 Desember 2016.

Menurut dia, Wahana edukasi ini terbagi dalam dua area utama, yaitu indoor dan outdoor. Pada area indoor, pengunjung dapat menyaksikan tiga bagian utama yaitu informasi seputar teori dan praktiksafety riding, serta sejarah dan perkembangan teknologi dan sepeda motor Honda. Selain itu, beragam contoh kegiatan yang menggambarkan tanggung jawab sosial perusahaan. Untuk di arena outdoor, pengunjung Taman Pintar dapat melihat sekaligus melakukan praktik belajar berkendara aman dan benar di jalan raya melalui beragam rambu lalu lintas yang ada di sana.

“Kami yakin kolaborasi erat dengan Taman Pintar ini dapat memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya pengunjung Taman Pintar yang berasal dari berbagai daerah ini,” tambah Putu.

Dia mengaku kerja sama dengan Taman Pintar sudah dirintis sejak 2009. Saat itu, kata dia, pihaknya membangun dan mengoperasikan Zona Teknologi Otomotif Roda Dua yang berada di Gedung Kotak lantai II Taman Pintar Yogyakarta. Melalui zona tersebut pengunjung Taman Pintar dapat mempelajari teknologi dan perkembangannya yang ada di industri roda dua.

Oh ya, Taman Pintar merupakan wahana edukasi yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Desember 2008. Pembangunannya dilatarbelakangi keinginan untuk menghadapi realitas perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, serta komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi masyarakat dan para pelajar.

Taman Pintar dikenal tidak hanya secara nasional namun juga internasional. Sebagai lembaga yang berada di bawah naungan Pemerintah Kota Yogyakarta, Taman Pintar memiliki tanggungjawab untuk selalu melayani masyarakat dalam menumbuhkembangkan minat anak dan generasi muda terhadap sains, melalui imajinasi, percobaan dan permainan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan jumlah pengunjung yang tidak kurang dari satu juta setiap tahun, Taman Pintar menjadi sebuah science center atau pusat pembelajaran sains/ilmu pengetahuan yang telah berperan dalam menanamkan dan mengembangkan literasi sains masyarakat. (edo rusyanto)

Waspada, Jalan Ini Bergelombang

5 Desember 2016

taman-mini-perbaikan-jalan-rambu2

KAWASAN Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  Jakarta Timur merupakan salah satu destinasi wisata. Beragam wahana dan wisata budaya dapat dinikmati oleh wisatawan di area yang satu ini.

Obyek wisata yang dibuka pada 20 April 1975 itu merangkum Indonesia dalam satu tempat. Seluruh budaya Nusantara tersaji di TMII. Bahkan, obyek wisata ini juga dilengkapi dengan beragam museum. Ada museum olahraga, transportasi hingga museum prajurit. Hal itu menjadikan TMII sebagai wahan wisata edukasi selain rekreasi keluarga.

TMII dikunjungi ratusan ribu orang setiap tahunnya. Karena itu, tak heran jika tingkat aksesibilitasnya harus bagus. Salah satunya adalah akses jalan darat yang menghubungkan TMII dengan sejumlah wilayah di DKI Jakarta maupun dengan kota lain.

Nah, kali ini, upaya merawat jalan sedang digulirkan, terutama di akses utama, yakni Jl Raya TMII. Ini adalah akses menuju pintu utama. TMII punya tiga akses masuk dan keluar. Dua akses laiinya adalah pintu melalui Asrama Haji Pondok Gede dan satunya lagi via Keong Emas. 

Jalan bergelombang itu merupakan bagian dari upaya pelapisan ulang. Sebelum dilapisi aspal, permukaan jalan digaruk dengan alat berat. Dampak dari penggarukan itulah yang menimbulkan jalan bergelombang. 

Bagi kendaraan roda empat tidak terlalu terasa gelombang jalan tersebut. Namun, bagi kendaraan roda dua justeru sebaliknya. Pesepeda motor mesti ekstra waspada. Terlebih dalam musim penghujan saat ini. 

Lengah sedikit saja bisa tergelincir. Hindari pengereman mendadak ketika melintas di jalan bergelombang. Salah-salah justeru bisa terjerembab. 

Saat saya melintas di area itu, Minggu, 4 Desember 2016 sore terlihat sebuah pesan peringatan berbunyi “Hati-hati Jalan Bergelombang”. 

Pesan agar pengguna jalan berhati-hati itu dibuat mencolok agar mudah dibaca. Harapannya tentu saja agar proses pelapisan aspal itu tidak merenggut korban akibat kecelakaan. 

Maklum, di Indonesia, faktor jalan merupakan salah satu penyumbang kecelakaan lalu lintas. Walau kontribusinya sekitar 5%, tetap saja kecelakaan berdampak luas. Siapa sih yang mau celaka?  Jangan sampai deh.  (edo rusyanto) 

Melanggar Bersama-sama Kian Berani

4 Desember 2016

garis-setop-dilibas-cawang-2016b

SAAT saya mengunggah foto pesepeda motor yang berhenti tertib di belakang garis setop di media sosial, ada yang terperangah. Dia bertanya, dimana lokasi pengambilan foto?

“Biasanya mereka (pesepeda motor) berhenti di zebra cross,” ujar Darmaningtyas, pemerhati transportasi mengomentari unggahan saya di lini masa twitter, beberapa waktu lalu.

Darmaningtyas adalah salah satu pemerhati transportasi yang gigih mendorong lalu lintas jalan yang humanis. Salah satunya, mendorong yerwujudnya angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan.

Bisa jadi komentar sejenis ada di benak warga dunia maya maupun dunia nyata. Mereka bingung ada pesepeda motor yang tertib, mengingat setiap hari lebih banyak melihat pelanggaran ketimbang yang tertib. Herannya, pelanggaran yang dilakukan bersama-sama itu didiamkan sehingga dianggap lumrah. Aneh.

Oh ya, garis setop adalah marka jalan penanda batas terdepan kendaraan yang berhenti di perempatan atau pertigaan jalan. Artinya, jika melewati garis itu sang pelaku telah melanggar aturan.

UU No 22/2009 tentang LLAJ menegaskan, pelanggaran atas marka dan rambu jalan dapat didenda maksimal Rp 500 ribu. Atau, pidana penjara maksimal dua bulan.

Selain garis setop, di area perhentian juga biasanya terdapat marka jalan zebra cross, yakni tempat menyeberang jalan para pedestrian.

Pemandangan yang sering saya jumpai di Jakarta, marka jalan itu diinjak-injak. Pelanggaran dilakukan beramai-ramai. Barangkali di benak pelanggar tersirat bahwa jika dilakukan bersama-sama, tidak ditindak oleh petugas. Dan, ironisnya, mayoritas pelanggaran itu memang benar-benar tidak ditindak.

Padahal, jargon yang sering dilontarkan adalah kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Artinya, ketika melanggar aturan di jalan bukan mustahil memicu terjadinya kecelakaan. Faktanya juga demikian, sekitar 29% pemicu kecelakaa

Tapi, bukan mustahil diantara pelanggar itu memang ada yang benar-benar tidak tahu aturan soal marka dan rambu jalan. Mereka sekadar ikut-ikutan. Repotnya, mereka yang tahu aturan justeru pura-pura tidak tahu, bahkan tidak peduli merampas hak orang lain, yakni pedestrian.

Adegan demi adegan saling merampas hak sesama pengguna jalan seakan mempertontonkan watak keseharian kehidupan di masyarakat. Tak peduli nasib orang lain, memanipulasi hak orang lain, hingga menyuap penegak keadilan. Kalau sudah begitu mereka yang memiliki kekuatanlah yang berkuasa. (edo rusyanto)

Near Miss di Kawasan Taman Mini

3 Desember 2016

taman-mini-lalin-2016b

INSIDEN di jalan raya Jakarta seakan tak pernah surut. Seorang perwira menengah polisi lalu lintas, bahkan pernah berujar, insiden dan kecelakaan sulit dibendung.

Dia beralasan bahwa ketika penggunaan kendaraan bermotor terus bertambah, petaka jalan bisa terjadi setiap saat. Ironisnya, faktor perilaku pengendaralah yang banyak makan korban. Khususnya, perilaku ugal-ugalan alias melanggar aturan.

Coba tengok sekeliling kita, ada benarnya fakta opini itu. Walau, fakta data juga berbicara hal serupa. Kalau sudah begini, hal yang mesti maksimal adalah berupaya memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas. Sekali lagi, berupaya secara maksimal.

Kejadian yang saya saksikan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, baru-baru ini, seakan menguatkan hal itu. Perilaku ugal-ugakan dapat memicu insiden.

Bagaimana tidak, di tengah sesaknya kendaraan bermotor mengantre di lampu merah, tiba-tiba hadir sang penerobos. Ceritanya begini.

Laju kendaraan dari arah kami berhenti karena lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah. Di pertigaan itu jumlah kendaraan bermotor tumpah ruah. Mereka yang berhenti sabar menanti. Dari arah kanan kami, arus kendaraan melaju normal karena sedang kebagian lampu berwarna hijau. Di barisan depan lajur kami berjejal belasan sepeda motor. Boleh jadj ada yang memang sudah tidak sabar menanti pergantian warna lampu.

Tak lama kemudian lampu berganti menjadi hijau. Tiba-tiba, dari arah yang semestinya berhenti, menyelonong seorang pesepeda motor. Suara klakson pun menjadi riuh rendah, bersahut-sahutan. Saya memaknainya sebagai suara pengingat agar tidak terjadi kecelakaan di jalan.

Belum lagi usai, dalam hitungan detik tiba-tiba muncul mobil jenis hatchback. Dia melaju agak kencang dengan membunyikan klakson keras-keras. Entah apa maksudnya, barangkali minta diprioritaskan untuk lewat. Atau, mengingatkan agar yang lain minggir agar tidak terjadi benturan.

Apa pun itu, insiden sudah terjadi. Nyaris (near miss) terjadi kecelakaan. Pesepeda motor yang ada di barisan depan menumpahkan kekesalan tak semata lewat klakson nyaring, tapi juga sumpah serapah. Bahkan, sepintas saya lihat ada yang melemparkan sesuatu ke arah mobil sang penerobos lampu merah. Walai, sepintas juga terlihat bahwa yang dilempar adalah bukan benda berbahaya.

Fakta tadi, insiden yang terjadi, nyaris melebar. Tapi, tampaknya kesabaran masih menaungi para pengguna jalan. Kemampuan menahan amuk masih lebih unggul ketimbang emosi meledak-ledak.

Kian nyata bahwa musuh terbesar bukan ulah orang lain, melainkan bersemayam di dalam diri. Termasuk ketika kita di jalan raya. (edo rusyanto)

Pengalaman Berbagi dengan Guru Sekitar Pabrik

2 Desember 2016

yahm_1b

INI sih bukan pengalaman saya pribadi. Tapi, barangkali bisa menjadi inspirasi bagi kita jika suatu ketika membutuhkan hal serupa.

Guru atau para pendidik di sekolah merupakan sosok panutan sekaligus pembuka jendela ilmu pengetahuan. Lewat tangan mereka bisa lahir sosok generasi cerdas dan berbudi pekerti luhur. Gurulah yang mengerti akan kebutuhan para anak didik, selain tentu saja para orang tua di rumah.

Tutur sapa dan tingkah laku guru tak jarang ditiru oleh para anak didik. Tidak mustahil termasuk yang digugu dan ditiru adalah cara berkendara mereka. Misal, ketika sang guru bersepeda motor ke sekolah tanpa memakai helm, anak didik menganggap itu sebagai hal yang lumrah. Lalu, mereka menirunya.

“Peran guru sangat besar dalam berbagi nilai-nilai postif bagi anak didik. Kami yakin dengan program ini para guru bisa menggunakan pengaruh positifnya untuk menumbuhkan kesadaran keselamatan berkendara di lingkungan sekolah,” ujar Ketua Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) I Putu Astawa, dalam publikasinya di Jakarta, yang saya terima baru-baru ini.

Pernyataan Putu itu terkait dengan kegiatan Road Safety Campaign Bersama Guru yang digelar YAHM, di Karawang, Jawa Barat, belum lama ini. Guru yang dihadirkan adalah mereka yang tinggal di sekitar lokasi pabrik PT Astra Honda Motor (AHM), di Karawang, Jawa Barat. Setidaknya hadir 150 guru dari berbagai sekolah.

Para guru secara interaktif terlibat dalam pelatihan keselamatan berkendara. Dalam ajang itu mereka saling berbagi pengalaman tentang kesadaran keselamatan berkendara di sekolah masing-masing. Tentu saja, para guru itu mendapatkan penjelasan secara komprehensif mengenai aturan dasar safety riding hingga motivasi untuk membagikan ilmu tersebut kepada para siswa.

Road Safety Campaign kali ini juga dilengkapi dengan praktek langsung menggunakan Honda Riding Trainer (HRT) dengan teknologi terkini. Pemahaman guru akan materi safety riding diharapkan bisa menambah keterampilan mereka saat menggunakan alat simulasi HRT sehingga mereka dapat merasakan sensasi berkendara sepeda motor dengan baik dan benar di berbagai kondisi jalan.

“Guru mempunyai peran penting dalam memberikan pendidikan yang tepat bagi para siswa,” tutur Putu.

Pernyataan Putu amat beralasan. Bagi anak didik, guru adalah sosok yang ditiru. Karena itu, sekali lagi contohnya adalah soal helm, saat guru bersepeda motor tanpa helm, bukan mustahil cara berkendara itu ditiru para anak didik. Setidaknya, masuk dalam alam bawah sadar para anak didik bahwa bersepeda motor tanpa memakai helm bukan suatu persoalan besar. Nah loh. (edo rusyanto)

foto: astra honda motor

Jakarta Siaga 112

1 Desember 2016

jakarta-112-a

LEBIH dari 35 tahun saya tinggal di kota Jakarta. Banyak cerita yang datang silih berganti, termasuk tentu saja kehidupan di jalan rayanya.

Saat masih bocah sekolah dasar di pinggiran Jakarta Selatan, tak pernah terlintas menunggang sepeda motor. Maklum, tahun 1970-an keluarga yang punya sepeda motor bisa dihitung jari. Jangan dibandingkan dengan saat ini yang setiap keluarga bisa punya lebih daru satu unit. Dan, anak usia sekolah dasar pun berseliweran naik sepeda motor.

Begitu juga dengan angkutan umum Jakarta yang bergerak amat dinamis. Mulai dari era bus tingkat kelolaan PPD hingga bus gandeng berpendingin udara. Kini, sekalipun ada, bus tingkat hanya khusus angkutan pariwisata.

Dari sisi ongkos, mulai dari zaman tarif bus masih Rp 100 per orang hingga kini menjadi Rp 3.500. Bahkan, sejak 2004 diperkenalkan Trans Jakarta yang memiliki jalur sendiri.

Apalagi soal hiburan, perkembangannya amat pesat. Mulai dari zaman layar tancap hingga kini bioskop dengan sistem pengeras suara yang canggih. Mulai dari bioskop yang membolehkan penonton merokok dan pedagang asongan wira-wiri, hingga kini bioskop yang menyediakan cafe dengan aneka kudapan dan mesin hiburan.

Semua berkembang seiring derap pertumbuhan ekonomi kota. Lihat saja harga hunian yang bisa mencapai Rp 15 miliar per unit. Atau, beragam kendaraan bermotor mulai dari yang harganya belasan juta rupiah hingga miliaran rupiah per unit.

Jakarta sudah menjadi metropolitan dan sesak dengan penduduk yang sudah menyentuh tak kurang dari 9,5 juta jiwa. Saking dirasa kurang lahan, digulirkanlah proyek menguruk teluk untuk membuat 17 pulau buatan. Jangan kaget, hanya untuk menguruk saja butuh sekitar Rp 5 triliun.

Di sudut lain, kemajuan teknologi informasi juga membalut kota yang kini berusia 487 tahun itu. Pengaturan kota menjadi lebih praktis. Gubernur bisa menyaksikan langsung berbagai sudut kota lewat bantuan kamera pengawas dan daring.

Warga juga biaa menyampaikan masukan, keluhan, lewat daring. Bahkan, pola belanja melalui daring kian digemari. Tinggal pencet aplikasi sana-sini barang yang dibeli sudah tiba di depan rumah. Termasuk, untuk urusan angkutan, aplikasi di genggaman tangan sudah bisa mendatangkan kendaraan yang siap mengangkut sesuai tujuan yang diinginkan.

Kini, Ibukota Republik Indonesia itu menyediakan sistem komunikasi canggih berupa nomor panggilan terpadu dalam satu nomor. Mereka menyebutnya Nomor Tunggal Layanan Darurat Jakarta Siaga 112.

Nomor telepon tunggal itu dapat dimanfaatkan warga kota untuk banyak hal. Mulai dari urusan darurat medis, kebakaran, bantuan keamanan hingga informasi kecelakaan lalu lintas jalan.

Oh ya, bila menelepon dari ponsel, ternyata tidak perlu menggunakan kode area Jakarta, yakni 021. Penelepon bisa langsung menekan tombol 112.

Ya. Jakarta memang megah. Walau, disana-sini, kita menemui sejumlah kekurangan. Saking hebatnya Jakarta, orang pun berlomba-lomba menyorongkan diri untuk menjadi pemimpin provinsi dengan APBD sekitar Rp 70 triliun itu. (edo rusyanto)

Pengalaman Bikin SIM di Sampit Kalteng

30 November 2016

sim-keliling

TELEPON seluler (ponsel) saya berdering. Nomor pemanggil tidak tercatat di ponsel. Saya pikir panggilan dari para tele marketing.

“Apa kabar Do?” terdengar suara dari seberang sana, Senin, 28 November 2016 siang.

“Kabar baik. Siapa ini?” tanya saya

“Ini Yas, gue pake nomor daerah,” sergah dia.

Yas adalah kolega saya. Dia tinggal di pinggir Jakarta. Sama dengan saya.
Dia menjelaskan, nomor daerah dimaksud adalah nomor seluler yang dibelinya di kota tempat dia saat itu menelepon. Saat menelepon dia mengaku sedang di Sampit, Kalimantan Tengah. Maklum, bisnisnya adalah usaha perkebunan. Praktis perjalanan bolak-balik ke Kalimantan dilakoni.

Siang itu dia bukan mau cerita soal bisnis perkebunan. Justeru dia menyampaikan hal yang amat berbeda. “Ini orang gua, teman gua bikin SIM bolak-balik gagal di Sampit, Kalimantan Tengah. Udah tiga kali, tapi dia mau coba terus sampai berhasil,” ujar dia.

Padahal, kata Yas, orangnya itu harus menempuh perjalanan darat hampir seratus kilometer untuk ke kantor Polres. Butuh energi banyak hanya untuk membuat surat izin mengemudi (SIM). Sekalipun demikian bakal dicoba terus sampai berhasil. “Orang gua ini nggak mau pake jalan pintas. Dia ingin murni lewat tes dan ujian,” tambahnya.

Lantas, persoalan utamanya dimana? Gumam saya dalam hati.

Seakan membaca jalan pikiran saya, Yas menyerahkan telpon ke teman yang dia tadi ceritakan.

“Awalnya saya gagal saat tes tertulis, mas. Terus sayacoba lagi hingga dua kali baru deh lulus. Tapi, kali ini tes praktek, gagal,” ujar orangnya Yas.
Sekalipun begitu, dia mengaku akan terus mencoba hingga lulus dan memperoleh SIM. “Hanya saja, kok tidak diberitahu salahnya dimana agar kita bisa belajar,” keluh dia.

Banyak pernyataan serupa saya dengar sebelumnya. Mereka yang tidak lulus tes tertulis tidak tahu salahnya dimana. Mereka ingin tahu di soal mana saja salahnya sehingga bisa belajar lebih jauh.

tes-praktek-sim-c-motor_syahrir

Tes praktek ujian SIM motor (foto:instagram syahrir)

Secara umum, para peserta ujian tertulis SIM tidak mempelajari apa saja soal yang akan diuji. Bisa jadi karena tidak tahu mau belajar dimana. Sekalipun di daring terdapat soal-soal yang mirip, persoalannya belum semua masyarakat memiliki akses ke daring.

Begitu pula saat ujuan praktek. Banyak orang yang saya jumpai belajar secara otodidak. Saya juga awalnya otodidak.

“Saya nggak lulus ujian praktek SIM motor karena salah saat memutar lintasan seperti angka delapan,” papar kawannya Yas.

Oh ya, kawannya Yas harus menjalani semua tes layaknya bikin SIM baru karena lupa memperpanjang saat jatuh tempo. Aturan yang berlaku saat ini mewajibkan seseorang mengikuti proses bikin SIM baru jika tidak memperpanjang ketika masa berlakunya sudah habis sekalipun lewat satu hari.

Nah, kalau merujuk pada Peraturan Kapolri No 9 tahun 2012 tentang SIM, Ujian pada perpanjangan SIM hanya dilaksanakan ujian keterampilan melalui simulator. Walau, lebih banyak tanpa ujian praktek, cukup mengisi formulir, foto, dan membayar pungutan resmi, beres. Bahkan, sekarang dimudahkan lagi dengan tersedianya mobil SIM keliling serta ada yang di pusat perbelanjaan modern alias mal. (edo rusyanto)