Skip to content

Percobaan Pelat Nomor Ganjil Genap Dimulai

25 Juli 2016

ganjil genap jakarta3

PARA pemilik mobil pribadi di Jakarta mesti siap-siap mencermati aturan pelat nomor ganjil genap kalau tidak mau kena semprit polisi lalu lintas (polantas). Maklum, bila kedapatan melanggar aturan tersebut sanksinya bisa kena denda maksimal Rp 500 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Polda Metro Jaya mulai memberlakukan ujicoba terhitung 27 Juli 2016 hingga 26 Agustus 2016. Usai ujicoba pemberlakuan aturan pengganti three in one itu pun sudah di depan mata. Sejumlah ruas jalan di Jakarta bakal menerapkan aturan tersebut yakni, Jl Sisingamangaraja, Jl Sudirman, Jl MH Thamrin, Jl Medan Merdeka Barat, dan sebagian Jl Gatot Subroto.

Ruas-ruas jalan tersebut sebagian masuk Jakarta Selatan dan sebagian lainnya masuk Jakarta Pusat. Tentu saja, ruas-ruas jalan tersebut terletak di kawasan pusat bisnis dan pemerintahan.

Ujicoba berlangsung dalam dua rentang waktu, yakni pukul 07.00-10.00 WIB dan 16.00-20.00 WIB. Artinya, diluar rentang waktu itu penerapan pelat nomor ganjil genap tidak berlaku.

Oh ya, penentuan ganjil dan genap berlaku untuk nomor terakhir dari pelat nomor mobil. Misalnya, B1234YYY yang dianggap genap adalah angka ‘4’ nya, sedangkan B1235XXX yang dianggap ganjil adalah angka ‘5’ nya.

Penerapan aturan ganjil genap mencuatkan spekulasi tentang pemakaian pelat nomor palsu. Di sisi lain, spekulasi penambahan jumlah mobil pun mencuat bagi para pemilik daya beli yang kuat.

Boleh jadi spekulasi itu pupus manakala pola bertransportasi warga kota justeru yang berubah. Bila semula menggunakan mobil pribadi, kemudian bergeser ke angkutan umum massal. Andaikata pergeseran pola itu yang terjadi dengan massif, tujuan akhir penerapan aturan ganjil genap dapat terwujud, yakni mengurangi kemacetan lalu linta jalan Ibukota Republik Indonesia.

Tentu ada prasyarat yang mesti dipenuhi guna menggeser pola bertransportasi tersebut. Jumlah angkutan umum dan kondisi angkutan umum dapat lebih aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terintegrasi, terjangkau, dan ramah lingkungan. Moda angkutan yang seperti itu mau tidak mau harus segera diwujudkan oleh penanggung jawab transportasi.

Ngomong-ngomong, penerapan aturan ganjil genap ternyata adalah transisi sebelum pemerintah menerapkan aturan jalan berbayar (electronic road pricing/ERP) di sejumlah jalan di Jakarta. ERP rencananya juga diterapkan di sejumlah jalan protokol di Jakarta. (edo rusyanto)

Pengalaman Pertama Mengulas Road Safety di Markas Penjaga Langit

24 Juli 2016

IMG-20160724-WA0034

SAAT pertamakali diajak bro Willy, region commander Tiger Riders Club (Tric) Indonesia untuk membahas keselamatan jalan (road safety) di kalangan Tentara Nasional Indonesia (TNI), saya merespons antusias. Saat itu yang terlintas di benak saya adalah menyeberangkan pemahaman road safety di kalangan penjaga kedaulatan Republik Indonesia. Menularkan pemahaman sekaligus menggugah peran TNI dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat.

Maklum, data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, dalam rentang 2010-2014 sekitar 4.300 anggota TNI menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan. Korban tersebut mencakup meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan. Sedangkan dari sisi pelaku jalan, tercatat sekitar 3.100 anggota TNI yang terlibat kecelakaan.

Oh ya, komposisi TNI sebagai korban maupun pelaku kecelakaan memang amat minim, yakni masing-masing sekitar 1% dari total korban maupun pelaku kecelakaan.

Ajakan bro Willy akhirnya terwujud pada Minggu, 24 Juli 2016. Kami mengunjungi Markas Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional I/Jakarta (Kosekhanudnas I), di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Instansi tersebut bagian dari Kohanudnas yang kini memiliki empat sektor. Wilayah tanggung jawab Kosek Hanudnas I meliputi Riau, Laut Cina Selatan, Kalimantan bagian Barat, Laut Jawa, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sebagian Samudera Indonesia.

Laman kohanudnas.mil.id menyebutkan, Kohanudnas adalah Komando Gabungan Khusus yang merupakan Kotama Utama Operasi TNI dengan komponen TNI AU sebagai kekuatan inti, diperkuat dan dibantu oleh unsur-unsur kekuatan angkatan lain.  Kohanudnas juga merupakan Komando Utama Pembinaan TNI AU  yang berkedudukan langsung di bawah Panglima TNI dalam bidang pembinaan kesiagaan operasi dan pelaksanaan Operasi Pertahanan Udara, di wilayah udara nasional , dan Kasau dalam bidang pelaksanaan pembinaan administrasi dan kesiapan unsur TNI AU untuk operasi Hanud.

tric di halim paparan panglima

Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional merupakan Komando pelaksana operasi pertahanan udara yang dipimpin oleh seorang Panglima dan bertanggung jawab kepada Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas). “Kami menjadi penjaga langit Indonesia,” tutur Panglima Kosekhanudnas I, Marsekal Pertama TNI Novyan Samyoga, dalam paparannya, Minggu pagi.

Bagi saya, ini adalah kali pertama memaparkan soal road safety di kalangan TNI. Mengajak TNI, khususnya TNI Angkatan Udara (AU) untuk andil dalam keselamatan jalan menjadi pengalaman tersendiri. Bagi saya, TNI memiliki keunggulan dari warga sipil. Ada tiga hal utama yang dapat menjadi bekal besar TNI dalam mendukung terwujudnya lalu lintas jalan yang aman dan selamat.

Ketiganya mencakup disiplin yang tinggi, jiwa nasionalisme yang kuat, dan figur teladan. Khusus yang terakhir, maksudnya, bila TNI mampu memberi contoh yang baik kepada publik akan mudah ditiru oleh masyarakat kebanyakan.

Soal yang kedua tentu tidak bisa dibantah mengingat TNI punya sistem yang solid dan berdisiplin kuat. Bila hal ini diterapkan juga di jalan raya, tentu menjadi bekal yang dahsyat. Maklum, kedisiplinan pula yang kini menjadi persoalan di lalu lintas jalan.

panglima kosekhanudnas dan edo 2016

Begitu juga dengan persoalan nasionalisme. Di dada TNI merah putih adalah mutlak. Rasa cinta Tanah Air diwujudkan dengan menyerahkan jiwa raga untuk keutuhan Ibu Pertiwi. Manakala kecelakaan lalu lintas jalan mengancam kehidupan anak bangsa yang sepanjang 20 tahun terakhir merenggut lebih dari 300 ribu jiwa, TNI bisa menjadi garda terdepan. Khususnya, lewat figur teladan dengan mencontohkan kedisiplinan yang tinggi saat berlalu lintas jalan. Tentu saja, salah satu wujud kedisiplinan adalah dengan mentaati aturan yang berlaku saat ini.

“Hal ini perlu terus disosialisikan dan saya ingin ikut mensosialisasikan di kalangan saya,” tutur Panglima saat berdialog dengan saya di ajang diskusi bertajuk ‘Peran TNI dalam Keselamatan Jalan’.

Tapi, tambah Panglima, dirinya juga berharap Tric ikut mensosialiasikan keselamatan jalan di kalangan anggota pesepeda motor. Sontak hal itu ditimpali bro Willy bahwa pihaknya terus aktif mensosialisasikan road safety di kalangan pengguna jalan, termasuk di kalangan anggota kelompok pesepeda motor.

Diskusi itu bagian dari kunjungan Tric ke Kosekhanudnas I yang digelar Minggu. “Kami ingin sesuatu yang berbeda dan ingin menjadikan kegiatan ini sebagai fortofolio kami,” tutur bro Dave Masri, region comander Tric Indonesia saat berbincang dengan saya seusai diskusi. (edo rusyanto)

foto:edo dan willy

Jangan Cetak Anak-anak Menjadi Monster di Jalan Raya

23 Juli 2016

anak tak helm berempat3

BARU-BARU ini saya dikirimi link video tentang anak-anak di bawah umur yang bersepeda motor ke sekolah. Anak-anak itu masih memakai seragam merah putih, yakni seragam siswa sekolah dasar (SD). Tampak diantara mereka ada yang sedang menunggang kuda besi, mulai dari yang sendirian hingga berboncengan.

Video yang diunggah ke media sosial facebook itu membuat miris para orang tua yang melihatnya. Sejumlah netizen yang belum berkeluarga pun memiliki suara yang senada. Di bagian bawah tayangan video terdapat tulisan yang intinya karena alasan jarak rumah ke sekolah cukup jauh membuat anak-anak naik sepeda motor.

Memasuki Hari Anak Nasional, 23 Juli kita diingatkan akan pentingnya mendidik anak-anak sebagai pribadi yang kuat dengan tubuh yang sehat. Mereka adalah cikal bakal penerus bangsa yang notabene menjadi penentu kehidupan Indonesia pada masa mendatang. Anak-anak yang sehat, cerdas, dan berkepribadian menjadi bekal penting dalam perjalanan bangsa.

Situasi menjadi drastis ketika anak-anak justeru diincar oleh petaka dan direnggut di usia pertumbuhan mereka. Salah satu bentuk ancaman pertumbuhan yang cukup nyata saat ini adalah kecelakaan lalu lintas jalan. Untuk menyegarkan ingatan kita, data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, sepanjang 2010-2015, setidaknya 176 ribu anak-anak di bawah umur menjadi korban kecelakaan di jalan. Artinya, setiap hari terdapat 85 anak-anak di bawah 15 tahun yang menjadi korban kecelakaan.

Tunggu dulu, di sisi lain, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan ternyata juga cukup memprihatinkan. Dalam rentang 2010-2015, sedikitnya tercatat 27 ribu anak-anak yang memicu terjadinya kecelakaan di jalan. Miris.

anak sd naik motor trenggalek

Ketika membiarkan anak-anak di bawah umur bersepeda motor di jalan raya, para orang tua secara tidak sadar telah memberi ruang terjadinya kecelakaan. Lantas, saat sang anak kemudian memicu terjadinya kecelakaan, yakni menjadi pelaku, orang tua memberi ruang kepada anak untuk berurusan dengan hukum. Dua kondisi itu seakan mencerminkan kita para orang tua menjadi sosok yang kejam. Padahal, anak-anak di bawah umur adalah kelompok yang belum bisa mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan.

Sebagai pelaku kecelakaan, anak-anak tadi tak ubahnya seperti monster menyeramkan di jalan raya. Mereka yang secara fisik dan mental belum mapan, dapat dengan mudah tergoyahkan oleh kondisi jalan yang karut marut. Mereka mudah terprovokasi, termasuk hilang kendali sehingga riskan memicu terjadinya kecelakaan.

Kita para orang tua, jangan cetak anak-anak kita menjadi monster di jalan raya. Indonesia punya catatan kelam di jalan raya. Setiap jam, sedikitnya terjadi 10 kasus kecelakaan yang merenggut tiga jiwa. Sekali lagi, jangan cetak anak-anak kita menjadi monster di jalan raya.

Selamatkan anak-anak kita dari potensi petaka di jalan raya. Jangan biarkan mereka berkendara di jalan raya, apapun dalihnya, kecuali sudi memikul risiko fatal. Kita tahu, ancaman keselamatan anak-anak kita cukup banyak di negeri ini. Bahkan, anak-anak di bawah umur kita terungkap telah diserbu oleh vaksin palsu.

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli. (edo rusyanto)

foto:istimewa

Ulah Mengkhawatirkan Sopir Angkot Jakarta

22 Juli 2016

DENYUT Kota Jakarta tak bisa dilepaskan dari keberadaan angkutan kota alias angkot. Inilah moda transportasi yang membantu warga, terutama di pinggiran, dalam memenuhi kebutuhan bermobilitas sehari-hari. Angkot menjadi tulang punggung transportasi masyarakat.

Peran angkot amat penting transportasi anak sekolah, mahasiswa, ibu rumah tangga, para pekerja swasta hingga para profesional sekalipun. Tarifnya yang relatif terjangkau kocek, saat ini berkisar Rp 3.000-5.000 per orang sekali jalan, menempatkan kehadiran angkot dinanti-nanti konsumen.

Jenis kendaraan angkot kini beragam. Ada yang dari kategori low multiple vehicle purpose (MPV) dan ada yang jenis lebih kecil lagi. Kapasitas tempat duduknya bisa mencapai 12 orang termasuk sang pengemudi. Para penumpang duduk berhadap-hadapan, kecuali penumpang yang duduk di samping sang sopir.

Umumnya sang pengemudi sopir angkot mendapat upah atas kelebihan jumlah uang yang wajib disetor ke sang pemilik mobil. Misal, setoran Rp 300 ribu, lalu saat beroperasi mendapat Rp 500 ribu, sang pengemudi mengantongi Rp 200 ribu. “Uang bensin dari kita,” ujar seorang pengemudi angkot,” saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Di balik besarnya jasa angkot dalam urusan transportasi warga kota, tersimpan juga sejumlah ulah pengemudi yang mengkhawatirkan. Beberapa di antaranya yang sempat saya alami sendiri adalah;

1. Melawan arus
Ketika kemacetan lalu lintas jalan yang menggila, sang pengemudi berinisiatif masuk ke jalur yang berlawanan.

2. Kejar-kejaran
Ada yang ngebut saling kejar-kejaran demi mendapatkan penumpang. Bisa jadi dari sinilah istilah kejar setoran lahir. Pengemudi saling berebut mencari penumpang agar mendapat uang setoran.

3. Keluar dari trayek
Lagi-lagi, soal kemacetan lalu lintas jalan menjadi alasan pengemudi untuk mencari jalur alternatif. Ironisnya, angkot yang bersangkutan keluar dari trayek yang semestinya, walau tujuan akhir tetap sama. Masalahnya, penumpang yang bertujuan ke trayek semestinya menjadi terabaikan haknya.

4. Putar balik
Belum lagi sampai ke terminal tujuan, sang pengemudi berputar arah atau putar balik. Sang penumpang pun dipindahkan ke angkot lainnya, atau bahkan, diturunkan begitu saja dengan dikembalikan sebagian uangnya.

5. Menurunkan/menaikkan di tengah jalan
Menurunkan atau menaikkan penumpang di bagian tengah jalan menjadi salah satu ulah pengemudi angkot yang mengkhawatirkan. Mobil tidak diarahkan ke sisi jalan di tempat sang penumpang berdiri, melainkan menunggu di tengah jalan atau di sisi kanan jalan di dekat separator jalan. Begitu juga saat menurunkan penumpang.

Beberapa ulah di atas amat mengkhawatirkan mengingat berpotensi menimbulkan kesemrawutan jalan, bahkan memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Ketergesaan, tidak peduli dengan sesama pengguna jalan, bahkan tidak peduli pada keselamatan, tampaknya menjadi pemicu ulah-ulah di atas. Bila akarnya ada pada kejar setoran, rasanya perlu sosialisasi tentang pentingnya memprioritaskan keselamatan berlalu lintas jalan. Bukankah ada istilah, uang bisa dicari, tapi nyawa cuma satu? (edo rusyanto)

Terkuak Penyebab Kecelakaan Bus Maut Lembang

21 Juli 2016

mudik laka bus maut lembang2 2016

JERIT tangis dan ratapan para penumpang bus pariwisata Parahyangan membelah angkasa Jumat, 9 Juli 2016 sekitar pukul 15.30 WIB. Bus maut yang mengangkut 55 penumpang itu merenggut sembilan korban jiwa dan belasan yang luka-luka.

Bus maut bernomor polisi T 7035 DL itu menabrak dua mobil dan dua sepeda motor yang ada di depannya, di Jalan Kolonel Masturi kilometer 4, kawasan Kota Cimahi Utara, Kabupaten Bandung. Sontak pihak kepolisan, dinas perhubungan hingga Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun sibuk turun tangan. Investigasi pun dilakukan.

“Bus itu remnya blong. Bus itu juga dua tahun tidak mengikuti kir, padahal kir itu setahun dua kali,” ujar Pudji Hartanto, direktur jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam diskusi live di acara Coffee Break, TV One, Selasa, 20 Juli 2016 pagi.

Dia menjelaskan, berdasarkan penelitian juga ditemui bahwa selang yang menuju ke kabel rem sudah tidak berfungsi. Ketika dipaksakan mengerem menjadi lepas dan blong. “Rem tangannya juga tidak berfungsi,” tambah Pudji yang juga mantan Kakorlantas Mabes Polri itu.

Ditambah lagi, tuturnya, jalan di lokasi kejadian kondisinya menurut. Jadilah bus rem blong itu menabrak empat kendaraan lainnya, lalu terguling.

Menurut dia, bus itu luput dari perhatian pihaknya yang fokus pada bus antar kota antar provinsi (AKAP). Bus maut itu dicarter para penumpang asal Kabupaten Karawang yang berwisata ke Curug Cimahi dan saat saat kejadian posisinya dalam perjalanan pulang wisata. Ke depan, tegasnya, setiap bus yang akan dipakai mengangkut orang akan diperiksa seperti bus AKAP. “Bus pariwisata atau bus karyawan yang disewakan untuk mengangkut saat musim mudik harus diperisksa juga,” tuturnya.

Pudji juga mengatakan bahwa pada musim mudik Lebaran 2016, kecelakaan lalu lintas jalan yang melibatkan bus turun drastis. Jumlah bus yang terlibat kecelakaan musim mudik Lebaran 2016 tercatat anjlok 35%. Ini adalah angka penurunan tertinggi diantara enam jenis kendaraan yang terlibat kecelakaan. Dari sisi kontribusi, bus mencapai sekitar 2,77%. Torehan itu juga jauh lebih baik dibandingkan setahun sebelumnya yang sekitar 3,49%.

“Hal itu sesuai dengan target Menteri Perhubungan yakni zero accident di angkutan umum selama musim mudik,” tuturnya. (edo rusyanto)

foto:istimewa

Daftar Lengkap Kendaraan yang Terlibat Kecelakaan Mudik

20 Juli 2016

motor mudik 2009

MUSIM mudik Lebaran 2016 telah usai. Para pemangku kepentingan (stake holder) keselamatan jalan mengumumkan angka kasus kecelakaan menurun sekitar 6% dibandingkan setahun sebelumnya. Bahkan, tingkat fatalitas merosot sekitar 20%. Melegakan.

Sekalipun buah sinergi para stake holder terasa manis, kita tetap miris mengingat setiap hari dalam musim mudik Lebaran rata-rata 35 orang tewas akibat kecelakaan di jalan. Mereka bergelimpangan akibat 186 kasus kecelakaan per hari.

Tahukah Anda jenis-jenis kendaraan yang dominan terlibat kecelakaan sepanjang musim mudik Lebaran 2016?

Data Operasi Ramadniya 2016 yang berlangsung dalam rentang 30 Juni 2016 – 15 Juli 2016 atau selama 16 hari memperlihatkan fakta sebagai berikut;

Pertama, sepeda motor 66,61%
Jenis kendaraan bermotor roda dua menyumbang sekitar 67% terhadap total kendaraan yang terlibat kecelakaan pada musim mudik Lebaran 2016. Pada musim itu total kendaraan yang terlibat sebanyak 5.653. Jumlah sepeda motor yang terlibat kecelakaan anjlok 19%, yakni dari 4.661 menjadi 3.766 unit pada 2016. Artinya, setiap hari ada 235 sepeda motor yang terlibat kecelakaan.

Kedua, mobil penumpang alias mobil pribadi 15,10%
Mobil pribadi menjadi penyumbang kedua terbesar dalam kecelakaan musim mudik kali ini dengan kontribusi sekitar 15%. Pada musim mudik Lebaran 2015 kontribusi mobil sekitar 14,84%. Dari segi volume, mobil yang terlibat kecelakaan anjlok sekitar 16% dibandingkan tahun 2015.

Ketiga, mobil barang 7,19%
Mobil barang atau angkutan barang menempati posisi ketiga terbesar dalam kecelakaan tahun ini, yaitu berkontribusi sekitar 7,19%. Sekalipun dari sisi volume yang terlibat kecelakaan melorot 14%, yakni menjadi 407 mobil, namun dari sisi kontribusi, tahun ini meningkat mengingat tahun 2015 sekitar 6,90%.

Keempat, kendaraan tidak bermotor 7,19%
Kendaraan tidak bermotor kontribusinya sekitar 7,19% dalam kecelakaan musim mudik Lebaran 2016. Jenis kendaraan ini antara lain adalah becak, delman, dan sepeda kayuh.

Kelima, kendaraan bus 2,77%
Jumlah bus yang terlibat kecelakaan musim mudik Lebaran 2016 tercatat anjlok 35%. Ini adalah angka penurunan tertinggi diantara enam jenis kendaraan yang terlibat kecelakaan. Dari sisi kontribusi, bus mencapai sekitar 2,77%. Torehan itu juga jauh lebih baik dibandingkan setahun sebelumnya yang sekitar 3,49%.

Keenam, kendaraan khusus 0,91%
Jenis kendaraan ini merupakan kontributor yang terkecil, yakni sekitar 0,91%. Tapi, dari segi volume yang terlibat kecelakaan justeru melonjak 174%, yakni dari 19 menjadi 52 unit.

Kita berharap kecelakaan terus menurun dari tahun ke tahun. Tentu saja yang utama adalah tingkat fatalitasnya terus merosot. Bila melihat keenam jenis kendaraan di atas terlihat bahwa kecelakaan yang melibatkan kendaraan atau angkutan umum jumlahnya amat minim, yakni sekitar 3%. Penggunaan kendaraan pribadi masih menonjol sehingga keterlibatannya pun menjadi dominan. (edo rusyanto)

Pesepeda Motor Berstiker Ini Tak Tergoda Libas TL

19 Juli 2016

lampu merah kuningan jaksel dilibas

BAGI sebagian orang menaati aturan di jalan menjadi hal mutlak. Sedangkan melanggar aturan adalah pilihan. Tentu, pilihan yang memikul segudang risiko.

Tingkat pelanggaran di jalan-jalan Jakarta masih cukup tinggi. Setidaknya tercatat sekitar satu juta pelanggaran setiap tahun. Artinya, tak kurang dari 2.700 pelanggaran per harinya.

Pelanggaran yang dilakukan oleh para pengguna jalan bisa jadi bukan semata karena niat sang pelanggar. Ada yang kedapatan melanggar karena ikut-ikutan, bahkan, ada yang karena ketidaktahuan akan aturan yang ada, secara tidak sengaja melanggar aturan. Namun, apapun alasannya, melanggar tetap melanggar. Risiko yang dipikul bisa terkena denda atau berujung pada petaka jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan.

Mengingat populasi kendaraan bermotor yang terbesar adalah sepeda motor, para pelanggar pun mayoritas datang dari kelompok ini. Ada yang menerobos lampu merah (traffic light/TL), melibas marka jalan, merangsek trotoar hingga melawan arus lalu lintas. Contoh yang tergolong ikut-ikutan melanggar adalah merangsek zebra cross alias marka jalan di perempatan jalan atau di area TL. Melihat ada pesepeda motor lain yang merangsek maju, pesepeda motor yang lain ikut-ikutan.

Ironisnya, ada pemikiran bahwa kalau melanggar bersama-sama dalam jumlah besar akan sulit ditindak. Polantas dianggap kesulitan mana yang akan ditindak karena itu semangat melanggar menjadi berkobar-kobar.

Di tengah pemikiran seperti itu suatu ketika saya melihat seorang pesepeda motor yang punya pendirian teguh. Kejadian itu persis di perempatan Kuningan dari arah Mampang yang menuju ke Jl Rasuna Said atau arah Kuningan. Perempatan itu mempertemukan tiga jalan, selain kedua jalan tadi, dari arah Cawang menuju Semanggi atau sebaliknya adalah Jl Jenderal Gatot Subroto.

Senin, 18 Juli 2016 siang, di perempatan jalan itu TL berwarna merah. Namun, sejumlah pesepeda motor perlahan mulai merangsek maju hingga ke kolong jalan layang (fly over). Mereka berhenti bergerombol disana. Jumlahnya puluhan mungkin bisa mencapai seratusan sepeda motor.

Nah, pesepeda motor yang bagian belakang tunggangannya penuh dengan stiker kelompok motor itu tetap teguh. Dia tak terpancing untuk ikut melanggar TL. Ketika terdengar suara klakson dari arah belakang yang seakan meminta jalan untuk maju, sang pesepeda motor tadi tetap tenang. Barulah ketika TL berwarna hijau dia bergerak.

Barangkali ada diantara kita yang menganggap melanggar TL adalah hal sepele. Tapi, tampaknya bagi pesepeda motor tadi hal itu bisa jadi sumber perkara. Ketaatannya pada rambu dan TL mencerminkan dia tak butuh aksi ikut-ikutan atau menyepelekan persoalan. Bisa jadi karena dia sadar, hal gede kerap kali muncul oleh hal yang dianggap sepele. (edo rusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 7.877 pengikut lainnya