Skip to content

Kepedulian Bikers Ini Patut Ditiru

25 September 2016

img-20160924-wa0032

RASA pilu menyeruak saat membaca, melihat foto dan video banjir bandang Garut, Jawa Barat. Air sungai Cimanuk bagai mengamuk. Melabrak dan melibas benda-benda yang dilaluinya. Nyawa pun bergelimpangan. Semua berduka.

Banjir bandang pada Rabu, 21 September 2016 itu belakangan setidaknya menelan 30 korban jiwa dan belasan orang lainnya dinyatakan hilang. Belum lagi mereka yang menderita luka fisik maupun trauma. Sedangkan kerugian harta benda sudah tak terbilang. Satu lagi potret bahwa bencana alam masih membayangi negeri kita tercinta, Indonesia.

Seingat saya, setidaknya dalam 20 tahun terakhir belum ada banjir seganas September 2016 ini.

Mamang MS menulis, banjir pernah terjadi pada 25 Oktober 1920. Koran De Preanger-bode memberitakan berturut-turut pada 25 dan 26 Oktober 1920. Hujan deras yang melanda Garoet sehari semalam membuat sungai Tjimanoek meluap. Areal pesawahan yang luas di cekungan Tjimanoek terendam. Kolam-kolam ikan dan jembatan-jembatan desa jebol. Ikan-ikan mati tertutup lumpur. Disebutkan, banjir besar pernah pula terjadi pada 20 tahun sebelumnya. Besok harinya dikabarkan jembatan Tjimanoek di Bajongbong jebol. Jalan menuju Pameungpeuk ditutup.

Banjir bandang sungai Tjimanoek pernah pula hampir merusak konstruksi jembatan Leuwidaoen yang sedang dibangun pada tahun 1939.

Ya. Di era kemerdekaan hingga kini, banjir bandang pada 21 September 2016 lalu menjadi peristiwa yang terdahsyat bagi Garut. Peristiwa itu membuat mereka yang terkena bencana amat menderita. Menguras simpati dan empati mereka yang mendengar dan melihat peristiwa itu sekalipun tinggal di belahan kota yang jaraknya puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilometer dari lokasi bencana.

img-20160921-wa0011

Ketika saya lontarkan gagasan untuk ikut meringankan berban para korban ke sejumlah pengurus Independent Bikers Club (IBC) Jakarta, mereka merespons. “Boleh bang, kita bantu para korban,” ujar bro Acoy, ketua IBC Jakarta, di Jakarta, baru-baru ini.

Saya pun mengontak kolega yang saya kenal di Garut. Sejumlah orang menginformasikan mengenai situasi, kondisi, dan apa yang dibutuhkan para korban. Maklum, sekitar 400-an orang mengungsi akibat bencana itu.

“Sebaiknya bantuan diberikan berupa barang-barang kebutuhan seperti popok bayi dan kebutuhan makanan,” tutur Donny, warga Garut yang menjadi relawan membantu para korban bencana.

Jadilah para anggota IBC Jakarta urun rembug. Mereka bahu membahu menyisihkan sedikit uang yang dimiliki untuk membantu korban bencana tersebut. Selain itu, uang kas pun dikeluarkan sebagai bentuk kepedulian kelompok penunggang sepeda motor tersebut. Dalam waktu dua hari terhimpun sekitar Rp 3,75 juta. Bagaimana cara menyalurkannya?

Secara kebetulan, salah satu anggota IBC Jakarta, yakni bro Mamed sedang berada di Garut. Dia sedang meneliti sejumlah obyek wisata di Garut sebagai bagian dari tugas akhir perkuliahannya. “Siyap eyang, saya akan bantu menyalurkan bantuan dari teman-teman IBC,” tuturnya.

Caranya, uang yang terkumpul ditransfer ke rekening kerabat bro Mamed, lalu dibelanjakan sejumlah kebutuhan yang diperlukan para warga. Bantuan disalurkan melalui Posko RW 02 Kel. Suka karya, Gang Dirgahayu, Kec. Tarogong Kidul, Kab. Garut. “Lokasi posko hanya sekitar lima menit dari tempat saya tinggal di Garut,” sergah bro Mamed.

img-20160924-wa0028
Akhirnya, pada Sabtu, 24 September 2016 bro Mamed dibantu bro Donny menginventarisasi barang-barang apa saja yang dibutuhkan. Lalu, mereka membelanjakan uang yang terkumpul tadi.

Bro Mamed menjelaskan, uang donasi yang masuk total Rp 3,75 juta digunakan untuk membeli minyak goreng 4 karton, sarden 4 karton, beras 80 kg, telur 45 kg, pampers 2 lusin, dan pembalut 2 lusin. Bantuan tersebut memang tidak banyak. Namun, IBC Jakarta berharap dapat sedikit meringankan beban para warga yang terkena bencana.

“Terimakasih atas bantuannya kawan-kawan, bantuan ini amat bermanfaat bagi warga,” ujar bro Donny. (edo rusyanto)

Bahas Road Safety Bareng Corona Absolut Indonesia

24 September 2016

jasinergicorona1

SUDUT Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur kali ini terasa berbeda. Belasan anak-anak muda duduk bersimpuh di atas lantai. Sesekali mereka menyantap kudapan yang ditemani air minum dalam kemasan.

“Kali ini adalah kopdar anggota se Jabodetabek. Kopdar kami gelar setiap satu bulan sekali,” papar bro Arif, ketua Corona Absolut Indonesia (CAI), saat berbincang dengan saya, Sabtu, 24 September 2016 siang.

Saya hadir atas undangan kelompok pengguna mobil besutan produsen Toyota, Jepang itu. Ketika bro Jeje, dari CAI mengundang saya sekitar sepekan sebelumnya, sempat saya tanyakan, kenapa tertarik membahas isu keselamatan jalan (road safety), dia berujar, “Untuk menambah wawasan dan pengetahuan sekaligus bekal agar lebih aman dan selamat berlalulintas jalan.”

Jadilah siang itu saya bersama dua kolega dari kelompok Sinergi, yakni bro Djoko dan bro Yogi, menyambangi kopdar CAI yang sudah menyebar di berbagai kota di Jawa dan luar Jawa. Bagi saya dan teman-teman Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) menyambangi komunitas adalah bagian dari tanggung jawab moral untuk saling berbagi pemahaman dan pengetahuan pentingnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

Kali ini, saya menyodorkan bahasan “Membangun Budaya Keselamatan di Jalan.” Sebuah topik yang terdengar cukup berat di sela kopdar yang juga dihadiri para keluarga anggota CAI.

Perbincangan pun mengalir secara informal. Pijakan pembahasan adalah bagaimana menerapkan perilaku berkendara yang mengusung akal sehat dan nurani. Keadaban kita sebagai manusia kerap diuji saat di jalan raya, termasuk bagaimana tidak terpancing emosi oleh hadirnya perilaku ugal-ugalan.
Alur perbincangan mengalir dua arah. Sesekali mencuat perbedaan pendapat. Lumrah.

“Saya kurang setuju emosi diredam saat berkendara karena sebagai manusia kita pasti emosi saat ketemu orang yang tiba-tiba nyalip seenaknya,” ujar bro Teguh, salah satu anggota CAI.
jasinergiedo1

Sudut pandang itu tidak sepenuhnya benar dan sebaliknya. Namun, akhirnya kami bermuara pada bagaimana sebagai manusia mesti memakai akal sehat dan nurani, termasuk di jalan raya. Akal sehat mengajarkan kita untuk berpikir dan bertindak, salah satunya mentaati aturan dan menghargai sesama pengguna jalan.

Kupasan siang itu juga masuk ke beragam hal, mulai dari menghilangkan kebiasaan berponsel sambil berkendara, hak utama di jalan raya, hingga persoalan ‘polisi tidur’. Soal berponsel, dalam diskusi informal itu dilontarkan risiko dan upaya meredam hasrat berponsel. Berpijak pada data bahwa kontribusi menerima telepon melonjak lebih dari 100% pada 2015, perbincangan kami bermuara pada menunda menerima telepon dan tentu saja seluruh aktifitas berponsel ketika berkendara.

“Walau, kadang terpaksa menerima telepon, terutama dari klien,” sergah bro Arif.

Di bagian lain, soal lampu hazard menjadi sorotan perbincangan. “Kalau saya, pemakaian lampu hazard semestinya ketika kondisi darurat,” tutur bro Djoko.

Perbincangan hangat dalam suasana kekeluargaan nyaris menghabiskan waktu dua jam. Mengingat masih ada agenda dari kopdar CAI kali ini, bro Arif menutup bincang-bincang kali ini dengan menghaturkan terimakasih dan memberkan cendera mata berupa kaos dan stiker CAI.
“Kegiatan ini cukup bermanfaat bagi kami,” ujarnya.

Sementara itu, sebelum ditutup, bro Heri meminta agar dibuatkan kesimpulan dari beragam perbincangan kali ini.

jasinergicoronabareng1
Saya katakan bahwa kesimpulan silakan dibuat masing-masing, namun intinya adalah membangun budaya keselamatan di jalan merupakan bagian dari upaya menghindar atau mengurangi fatalitas kecelakaan. Harapannya, ketika berkendara di jalan raya dapat terhindar dari posisi sebagai obyek, apalagi sebagai subyek kecelakaan lalu lintas jalan. Urusan bisa berantakan dan panjang. Semua bisa mengalami kerugian. (edo rusyanto)

Belajar Dari Tabrakan Wartawati Muda

24 September 2016

tabrakan-nori-mobil

KECELAKAAN lalu lintas jalan bisa menimpa siapa saja. Pastinya, kecelakaan bisa berawal ketika pengendara terganggu konsentrasinya.

“Saat kecelakaan, saya sedang memindahkan tempat minum,” sergah wartawati muda di salah satu televisi swasta, ketika berbincang dengan saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menambahkan, selain itu, dirinya sedikit kaget karena adanya pesepeda motor yang hadir diluar perkiraannya. “Tapi, memang kondisi saya saat itu sedikit lelah. Laju mobil juga sedikit kencang. Belum lagi, di dekat lokasi seperti ada gundukan di jalan,” papar dia.

Jadilah, mobil yang dikendarainya ‘terbang.’ Gerobak besi itu kemudian menghantam lokasi tempat mendaratnya. Kerusakan cukup serius terjadi di bagian depan kanan mobil, persisnya di dekat roda depan bagian kanan. “Saya tidak mengalami luka berat. Ada luka memar dan sedikit sesak di dada,” ujar dia.

Kecelakaan lalu lintas jalan hadir ketika sang pengendara lengah. Konsentrasi yang buyar amat mengurangi kemampuan mengantisipasi situasi yang ada. Beberapa hal yang dapat merusak konsentrasi di antaranya adalah lelah, mengantuk, dan sakit.

Perhatian yang teralihkan dalam hitungan detik juga bisa merusak konsentrasi. Dalam kecelakaan wartawati muda di atas, dia mengaku sedang memindahkan tempat minum. Memang, ada aspek lain seperti sedikit rasa lelah dan kecepatan yang dianggap sedikit kencang.

Indonesia masih punya catatan kelam di jalan raya. Setidaknya, setiap hari ada 250-an kecelakaan di seantero Nusantara. Kecelakaan tersebut merenggut 70-an jiwa dan ratusan orang lainnya menderita luka-luka, setiap hari.

Usia muda merupakan kelompok yang paling banyak terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Entah karena mayoritas pengguna jalan adalah kelompok usia tersebut, atau memang pengendara usia tersebut kerap terusik konsentrasinya. (edo rusyanto)

Saat Radio Menyoroti Anak di Bawah Umur Berkendara

23 September 2016

pelajar-tak-helm

DUA hari berturut-turut dua stasiun radio swasta di Jakarta mengulas satu topik yang nyaris sama,  risiko berkendara anak di bawah umur.

Bedanya,  Radio Elshinta FM,  Jakarta fokus pada dampak pidana kecelakaan lalu lintas jalan. Dalam siaran live interactive,  Selasa,  20 September 2016 sore,  radio berita itu menyantol pada petisi menyeret orang tua ke ranah pidana.  Maksudnya,  orang tua yang mengizinkan anaknya berkendara dan sang anak menjadi pelaku kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal dunia diusulkan dapat dipidana.

Sedangkan Radio Pelita Kasih (RPK)  Jakarta menitikberatkan soal ketidakstabilan anak di bawah umur ketika berkendara di jalan raya. “Kami ingin tahu batas usia ideal seseorang berkendara, ” kata Arthur,  penyiar RPK fm,  saat siaran bersama saya,  Rabu,  21 September 2016 sore.
Bagi saya,  anak di bawah umur amat riskan saat berkendara di jalan raya. Ketidakstabilan emosi yang mudah terprovokasi amat potensial memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan.

Tapi, mereka terpaksa berkendara dan tentu bukan mustahil atas “restu” orang tua. Dan, para orang tua pun bukan begitu saja mengizinkan sang anak berkendara. Ada alasan kuat, salah satunya, angkutan umum yang ada belum memadai. Bahkan, lebih jauh lagi, para orang tua belum menempatkan keselamatan sebagai prioritas saat berlalulintas jalan. Anak-anak menjadi korban dari sistem yang ada di tengah masyarakat kita.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, sepanjang 2010-2015, setidaknya 176 ribu anak-anak di bawah umur menjadi korban kecelakaan di jalan. Artinya, setiap hari terdapat 85 anak-anak di bawah 15 tahun yang menjadi korban kecelakaan.

Tunggu dulu, di sisi lain, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan ternyata juga cukup memprihatinkan. Dalam rentang 2010-2015, sedikitnya tercatat 27 ribu anak-anak yang memicu terjadinya kecelakaan di jalan. Miris.

Sejumlah pendengar yang ikut diskusi interaktif di Elshinta menilai peran orang tua dan petugas amat penting. Bahkan,  ada yang setuju orang tua diseret ke ranah pidana.  Sedangkan sebagian lainnya mengaku miris melihat anak di bawah umur yang bersepeda motor dan berkendara ugal-ugalan.

Sementara itu, di RPK FM pendekatan lebih kepada mengajak orang tua agar tidak begitu saja mengizinkan sang anak berkendara. Tentu saja setelah melihat risiko yang ada dan fakta data yang beredar di tengah masyarakat kita.

Anak-anak harus dilindungi karena mereka adalah pewaris negeri ini, bahkan pewaris bumi ini. (edo rusyanto)

Baca Ini Kalau Mau Tahu Sedikit Sejarah Polantas

22 September 2016

edo-dan-tim-hut-lantas-2016

MASYARAKAT di tempat saya tinggal ketika menyebut sosok polisi, maka yang kerap disebutkan selalu berangkat dari pengalaman berinteraksi dengan polisis lalu lintas (polantas). Kata, ‘polisi’ selalu diidentikkan dengan polantas. Tak heran jika kemudian polantas seakan menjadi etalase dari unsur kepolisian secara keseluruhan.

Baik buruknya polisi citranya, tak jarang muncul dari persepsi masyarakat terhadap polantas. Padahal, belum tentu semuanya relevan.

Hal itu terjadi karena interaksi masyarakat lebih banyak dengan para polantas. Hampir segala aktifitas masyarakat bersinggungan dengan polantas mengingat mayoritas aktifitas masyarakat menggunakan angkutan jalan. Mau berangkat mencari ilmu, mencari rezeki, beranjangsana, hingga hendak berwisata senantiasa akan berhubungan dengan polantas.

Pengalaman getir berhadapan dengan polantas akan menimbulkan stigma di masyarakat. Kalau sudah begitu, urusannya menjadi repot. Apalagi jika hingga bermuara pada ketidakpercayaan pada aparat penegak hukum. Bisa runyam urusannya.

Lalu lintas jalan pun menjadi kian karut marut. Mereka yang melanggar aturan di jalan merasa bisa mengatasi masalahnya ketika terjaring razia. Mereka pikir, kasih uang habis perkara.

Padahal, kita tahu bahwa pelanggaran demi pelanggaran itu berbuah pahit, yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Kalau sudah urusan kecelakaan, buntutnya juga bisa panjang. Mulai dari kerugian akibat kerusakan barang, terjadinya luka-luka, korban jiwa hingga berujung di meja pengadilan.

Tak heran jika kemudian Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Mabes Polri Irjen Pol Agung Budi Maryoto, menyerukan agar jajarannya membuat kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Hal itu dinilai, dapat membentuk citra polantas yang melayani dan mengayomi masyarakat. “Kami harus instropeksi terhadap kekurangan. Harus menjadi contoh. Sehingga terjadi role model yang menular secara positif,” kata dia, seperti dilansir laman beritasatu.com, Kamis, 22 September 2016.

Sejarah Panjang

Peran polantas amat vital bagi pergerakan orang dan barang maupun jasa. Maklum, mayoritas pergerakan masih bertumpu pada lalu lintas angkutan jalan. Karena itu, pihak kepolisian menaruh perhatian penuh pada persoalan lalu lintas jalan.

Bahkan, hal itu dapat terlihat ketika pada pada 22 September 1955, Kepala Jawatan Kepolisian Negara mengeluarkan Order No 20/XVI/1955 tanggal 22 September 1955 tentang Pembentukan Seksi Lalu Lintas Jalan. Pada tingkat pusat yang taktis langsung di bawah Kepala Kepolisian Negara. Sejak saat itu dikenal istilah lalu lintas jalan untuk pertamakalinya yang mempunyai rumusan tugas sebagai berikut;

1. Mengumpulkan segala bahan yang bersangkutan dengan urusan lalu lintas jalan.
2. Memelihara/mengadakan peraturan, peringatan, dan grafik tentang kecelakaan lalu lintas, jumlah pemakai jalan, pelanggaran lalu lintas jalan.
3. Mengadakan pengawasan atas pelaksanaan perundang-undangan lalu lintas jalan dan menyiapkan instruksi guna pelaksanaan di berbagai daerah
4. Melayani sebab-sebab kecelakaan lalu lintas jalan di berbagai tempat di Indonesia dan menyiapkan instruksi dan petunjuknya guna menurunkan/mengurangi angka kecelakaan lalu lintas.

Tahun 1956, seperti dilansir https://dikyasapolman.wordpress.com di tiap kantor Polisi Propinsi dibentuk Seksi Lalu Lintas dengan Order Kepala Kepolisian Negara No. 20 / XIII /1956 tanggal 27 Juli 1956 kemudian di kesatuan – kesatuan / kantor -kantor Polisi Karesidenan, selanjutnya pada tingkat Kabupaten di bentuk pula seksi – seksi Lalu lintas dengan berdasar pada Order KKN tersebut.

Kelak, tanggal 22 September itu dijadikan Hari Lalu Lintas berskala nasional. Setiap tanggal itu jajaran Korlantas merayakan hari jadi mereka.

Kini, Korlantas bertugas membina dan menyelenggarakan fungsi lalu lintas yang meliputi pendidikan masyarakat, penegakkan hukum, pengkajian masalah lalu lintas, resgistrasi, indentifikasi pengemudi dan kendaraan bermotor serta patoli jalan raya. Tentu kesemua itu tugas yang amat vital di tengah tingginya penggunaan jalan sebagai pergerakan orang maupun barang. Pada ujungnya, juga ikut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.

Selamat hari jadi ke-61 Korlantas Polri. (edo rusyanto)

Air pun Merangsek ke Lorong-lorong Rumah Sakit

21 September 2016

img-20160921-wa0048

SAAT mendengar kabar banjir bandang menerjang Garut, Jawa Barat sempat tak percaya. Namun, setelah sejumlah foto-foto masuk ke ponsel pintar saya, sepanjang Rabu, 21 September 2016, rasa lemas menjalar ke sekujur tubuh.

Bagaimana tidak, sejumlah foto menggambarkan air bah menerjang sekolah, rumah sakit, hingga rumah penduduk. Bangku dan meja belajar siswa berantakan. Areal bermain berubah warna menjadi kecoklatan.

Di sudut lain, mobil-mobil terjungkir balik. Gerobak besi itu tak mampu menahan gelombang kekuatan sang alam.

Kondisi memilukan juga terjadi di sudut lain ketika air bah menerjang lorong-lorong Rumah Sakit Slamet, Garut. Tampak sejumlah pasien tertidur di atas tempat tidur yang di bagian bawahnya air menerjang. Di sudut lainnya, air menerjang selasar dan area parkir rumah sakit di kota Garut itu.

Belum selesai sampai disitu. Sebuah foto dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggambarkan air bah yang menerjang bangunan hingga ke bagian atap. Air berwarna coklat dari luapan Sungai Cimanuk bak mengamuk. Rakyat pun menjerit.

img-20160921-wa0013
Sejumlah korban meninggal, luka-luka, dan korban hilang pun masuk daftar yang dilansir ke publik. Foto-foto yang saya terima juga menggambarkan bagaimana sejumlah jenazah ditemukan berbalut lumpur kehitaman. Tubuh-tubuh anak negeri yang tak berdaya diterjang amukan air bah.

Air bah menerjang bak tanpa tedeng aling-aling. Bencana alam merenggut mulai dari usia balita hingga usia dewasa. Mulai dari anak-anak, perempuan hingga pria dewasa. Garut berduka.

Sepanjang saya berkunjung ke Garut sejak sekitar 20 tahun lalu, banjir bandang kali ini merupakan yang terhebat. Bagaimana tidak, selain meluluhlantakan harta benda, banjir kali ini setidaknya merenggut 20 korban jiwa dan belasan orang lain yang dinyatakan hilang. Belum lagi mereka yang menderita luka-luka.

Garut yang saya kenal memiliki sejumlah destinasi wisata yang indah nan mempesona. Sejumlah gunung menjulang dengan pemandangan hijau nan elok. Tak terbayangkan jika tiba-tiba air sungai meluap di tengah malam yang gelap. Ketika justeru orang sedang tidur terlelap, tiba-tiba diterjang dinginnya air yang menggulung apa pun yang dilewatinya.
img-20160921-wa0003

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB dalam siaran pers, Rabu, meminta masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan dari ancaman banjir dan longsor. Hujan akan terus meningkat hingga puncaknya Januari 2017. “La Nina, dipole mode negatif dan hangatnya perairan laut di Indonesia menyebabkan hujan melimpah, lebih besar dari normalnya sehingga dapat memicu banjir dan longsor,” kata Sutopo.

Dia menjelaskan, banjir bandang dan longsor ini dipicu hujan deras sejak Selasa, 20 September 2016, pukul 19.00 WIB. Curah hujan tinggi menyebabkan debit Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamuri naik secara cepat. Pukul 20.00 WIB banjir setinggi lutut kemudian sekitar jam 23.00 WIB banjir setinggi 1,5 – 2 meter. Saat ini, sebagian banjir sudah surut. Ini menunjukkan kondisi hulu DAS Cimanuk sudah rusak dan kritis.

Semoga semua para korban diberi kekuatan dan ketabahan. Garut berduka. (edo rusyanto)

Polantas Diminta Memberi Teladan di Jalan Raya

20 September 2016

polisi-sepatu-roda-pmj3

DI TENGAH minimnya teladan berlalu lintas jalan, para polisi lalu lintas (polantas) diminta memberi teladan kepada masyarakat.

“Petugas harus jadi tauladan bagi masyarakat dan anak-anak,” ujar Wakil Kepala Polda (Wakapolda) Metro Jaya, Brigjen Suntana, di Jakarta, baru-baru ini.

Teladan menjadi penting untuk membentuk karakter para pengguna jalan. Tentu saja, karakter pengguna jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan.

“Pembentukan karakter itu sebaiknya dilakukan sejak usia dini,” tambah dia.

Anak-anak belajar dari lingkungan terdekat, selain lingkungan masyarakat. Figur teladan petugas tentu hanya salah satu sosok yang dapat menjadi panutan sang anak. Figur orang tua atau orang di dekat keluarga menjadi sosok yang amat mempengaruhi karakter sang anak.

“Dalam rangka mewujudkan lalin yang humanis perlu pendidikan sejak dini dan melibatkan dukungan masyarakat,” tambah Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Syamsul Bahri, saat berbincang dengan saya, di sela acara HUT Lalu Lintas ke-61, di area Car Free Day, Jakarta Pusat, Minggu, 18 September 2016.

Di sisi lain, katanya, polisi juga terus meng-updgrade layanan termasuk dalam bidang penegakan hukum.

Oh ya, di wilayah Polda Metro Jaya, setiap hari terjadi sekitar 18 kecelakaan lalu lintas jalan. Akibat kecelakaan itu, setiap hari dua orang tewas di jalan raya dan belasan orang lainnya menderita luka-luka.

Karena itu, bagi Wakapolda, Ibu-ibu jangan lagi naik motor tidak memakai helm.

Bukan mustahil apa yang dilakukan ibu-ibu akan ditiru oleh anak-anak mereka. Begitu kan yah pak? (edo rusyanto)