Skip to content

Kenali 7 Kecelakaan Yang Tidak Dijamin Asuransi Ini

18 Januari 2017

asuransi-bhayangkara-2017c

TAHUKAH kita ada tujuh jenis kecelakaan yang tidak dijamin Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi (AKDP) besutan PT Asuransi Bhakti Bhayangkara (ABB)? 

AKDP besutan ABB ada dua model, yakni untuk pengemudi mobil dan pengendara sepeda motor. Keduanya dibanderol Rp 30 ribu untuk rentang lima tahun. 

Bedanya, santunan bagi korban kecelakaan yang meninggal dunia Rp 2 juta (pesepeda motor).  Dan, Rp 4 juta untuk pengemudi mobil. 

Para pengendara umumnya memperoleh AKDP saat membuat atau memperpanjang surat izin mengemudi (SIM). Berbeda dengan asuransi Jasa Raharja yang setahun sekali. 

Nah, berikut ini tujuh jenis kecelakaan yang tidak dijamin. 

1. Ikut serta dalam tindak kejahatan atau sengaja bunuh diri. 

2. Tidak mematuhi peraturan lalu lintas jalan. 

3. Mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk/tidak waras. 

4. Ikut serta dalam perlombaan (balap/rally) baik yang diadakan swcara resmi maupun tidak. 

5. Perang, huru-hara atau yang disamakan dengan itu. 

6. Terkena reaksi inti Atom. 

7. Mengadakan persekongkolan dengan pihak lain untuk mencari keuntungan atas kecelakaan yang terjadi. 

Hal yang menarik adalah kecelakaan di jenis kedua, yakni tidak mematuhi peraturan lalu lintas jalan. Hampir bisa dibilang semua kecelakaan lalu lintas jalan diawali oleh pelanggaran. Misal, menerobos lampu pengatur lalu lintas. Atau, melabrak marka dan rambu jalan. Nah loh. 

Artinya, hak pemegang kartu raib seketika saat dia melanggar aturan. Ironisnya, di sisi lain, pelanggar aturan itu juga dapat didudukkan sebagai pelaku kecelakaan. Dalam posisi itu amat memprihatinkan. Maklum, sang pelaku dapay dikenai sanksi pidana penjara dan denda.

Singkat kata, sudah jatuh, tertimpa tangga. (edo rusyanto) 

Begini Cara Memperpanjang SIM C Tahun 2017

17 Januari 2017

mobil-sim-keliling-2017b

MASYARAKAT memadati areal parkir di kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata, Jakarta Selatan. Mereka antre dengan sabar untuk memperpanjang masa berlaku surat izin mengemudi (SIM).

“Ambil formulir dulu, lalu antri sesuai nomor urutan untuk pemeriksaan kesehatan,” ujar seorang pria muda kepada saya, di areal SIM Keliling Polda Metro Jaya di Kalibata, Selasa, 17 Januari 2017 pagi.

Sebelumnya dia meminta saya memperlihatkan SIM C, yakni SIM untuk pengendara sepeda motor yang akan diperpanjang. Setelah membaca masa berlaku SIM dia menyodorkan formulir berwarna biru yang berisi data pemohon perpanjangan SIM. “Kalau lewat sehari aja harus bikin baru,” seloroh dia seraya memberikan formulir ke saya.

Saya tidak sendiri. Pagi itu saya lihat sekeliling dipadati puluhan anggota masyarakat. Mereka dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa, pekerja, wiraswasta hingga aparat penegak hukum. Tidak ada yang istimewa, mereka harus sabar antre. Bahkan, mereka juga berdatangan dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Jakarta Selatan. Ada yang dari Jakarta Timur seperti saya dan ada yang dari Jakarta Pusat.

Saat mengisi formulir jangan sampai keliru. Termasuk, kode pos kota tempat kita tinggal hingga nama ayah dan ibu kita. Lucunya, ada saja yang memanfaatkan peluang. “Kalau mau diisiian juga bisa, kasih saja seikhlasnya,” tutur seorang pria muda berpakaian sipil.

sim-c-formulir-2017a

Pria muda itu berdiri tidak jauh dari lokasi mobil SIM keliling. Dia juga menyediakan jasa foto kopi dan laminating. Biaya foto kopi Rp 2 ribu per lembar, sedangkan laminating Rp 5 ribu.

Seingat saya, kedua biaya itu lebih rendah dibandingkan lima tahun lalu ketika saya memperpanjang di kawasan Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur. Saat itu, biaya fotokopi Rp 3 ribu dan laminating Rp 10 ribu. Baguslah, turun biayanya.

foto-sim-perpanjang-2017a

Oh ya, dalam formulir kali ini sudah tertera pengkategorian SIM C yang sebelumnya pada 2012 hal itu tidak ada. Kini, ada tiga jenis SIM untuk pesepeda motor, yakni SIM C, untuk pengendara motor hingga 250 cc. Lalu, SIM CI untuk rentang 251-500 cc dan SIM CII untuk pengendara motor di atas 500cc. “Kalau kita punya tiga jenis motor itu yah mesti punya tiga jenis SIM itu,” jelas pria yang memakai kaos lengan panjang berlogo Ditlantas Polda Metro Jaya.

Usai mengisi formulir, saya antre untuk pemeriksaan kesehatan. Ada perempuan berpakaian putih seperti baju dokter pada umumnya. Dia mengisi formulir kecil seraya bertanya ukuran kaca mata saya minus berapa. Lalu, dia meminta saya untuk melihat semacam angka di atas meja. Angkanya saya lihat 35 dan 69. Bentuknya samar, tapi untuk ukuran yang berpenglihatan normal, cukup terlihat.

Tak lebih dari lima menit, urusan pemeriksaan kesehatan beres. “Biayanya Rp 25 ribu yah pak,” tutur perempuan muda tadi.

Nah, proses selanjutnya, saya diminta antre untuk pemotretan. Antrean yang hendak difoto cukup panjang. Saya kebagian nomor urut 49. “Setiap hari paling banyak 200 SIM yang diperpanjang. Jam operasi mulai pukul 08.00 sampai 14.00,” kata pria tadi.

sim-perpanjang-kalibata-2017b

Oh ya, sebelum pemotretan, masyarakat diminta menyerahkan formulir, SIM versi lama, foto kopi KTP, dan membayar Rp 30 ribu untuk asuransi kecelakaan.

Tak lebih dari 20 menit, saya pun dapat giliran difoto. Prosesnya cukup cepat, tidak lebih dari 5 menit. Selain difoto yang harus lepas kacamata, kita diminta sidik jari jempol, dan tanda tangan digital. “Biayanya Rp 75 ribu yah pak,” ujar petugas berseragam coklat kepolisian.

Beres sudah proses perpanjangan SIM kali ini. Biaya yang saya keluarkan ternyata lebih murah dibandingkan tahun 2012 yang saya catat Rp 153 ribu, sedangkan tahun 2017 total Rp 137

Ini rinciannya.

1. Biaya kesehatan Rp 25 ribu
2. Biaya asuransi Rp 30 ribu
3. Biaya perpanjangan SIM C Rp 75 ribu
4. Biaya laminating Rp 5 ribu
5. Biaya fotokopi Rp 2 ribu.

Khusus biaya nomor 4 dan 5 sifatnya opsional. Maksudnya, masyarakat bisa memfotokopi sendiri atau di tempat lain. Begitu juga dengan laminating atau plastik pelapis SIM, masyarakat tidak dipaksa. Sifatnya, sukarela.

Oh ya, proses perpanjangan SIM kali ini tidak terlalu lama. Saya hitung waktu yang dibutuhkan berkisar 70-90 menit sudah termasuk waktu menunggu. (edo rusyanto)

Delapan Kecelakaan Paling Mengerikan di Tol Cipali

16 Januari 2017

cipali-laka_antara

KECELAKAAN lalu lintas jalan yang cukup mengerikan banyak terjadi di tol Cikopo-Palimanan (Cipali). Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 13 Juni 2015 hingga 15 Januari 2017, tercatat delapan kecelakaan paling maut atau paling mengerikan.

Isak tangis, duka cita, dan kesedihan merambat ke ruang-ruang keluarga yang tertimpa kecelakaan lalu lintas jalan. Selain merenggut korban jiwa, kecelakaan demi kecelakaan itu juga menyebabkan korban luka ringan dan berat. Bahkan, berujung pada kasus pidana ketika sang pengemudi ditetapkan sebagai tersangka. Kecelakaan tersebut menimpa mobil pribadi, angkutan umum hingga angkutan barang.

Berikut ini deretan kecelakaan paling mengerikan di tol Cipali.

Pertama, kecelakaan minibus menabrak truk, Senin, 6 Juli 2015.
Kecelakaan ini diawali oleh minibus Daihatsu Grand Max yang melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan kepolisian menyebut angka 110 kilometer per jam (kpj), hendak mendahului dari bahu jalan. Ironisnya, di bahu jalan ada truk B 9427 UFU yang sedang berhenti untuk memperbaiki sistem pengereman truk. Tabrakan pun tak bisa dihindarkan sehingga minibus bernomor polisi E1720 NF itu terbakar.

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 15.50 WIB itu pun akhirnya merenggut tujuh korban jiwa dan empat korban luka kritis. Peristiwa terjadi di tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 178.

Kanit Laka Lantas Polres Majalengka Iptu Suhendi saat diwawancarai tvOne, Selasa, 7 Juli 2015, seperti dikutip laman viva.co.id, menyebutkan, minibus menabrak sebelah kanan truk. “Kemudian oleng ke kanan, berputar dan masuk ke parit jalan, terbakar,” ujarnya.

Oh ya, laman itu juga menyebutkan, minibus Grand Max memiliki kapasitas maksimal delapan orang termasuk sopir. Namun, saat kejadian diisi 11 orang termasuk pengemudi.

Guna mengungkap lebih akurat pemicu kecelakaan, Korlantas Polri bahkan menurunkan Tim Technical Analysis Accident (TAA). Tim diharapkan bisa meneliti lebih rinci pemicu kecelakaan sehingga bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi publik.

Kedua, bus menabrak pembatas jalan, Selasa, 14 Juli 2015.
Kecelakaan di tol Palimanan-Kanci KM 202, Cirebon, Jawa Barat ini terjadi pada sekitar pukul 14.00 WIB. Akibat kecelakaan tunggal bus PO Rukun Sayur AD 1543 CF itu sebanyak 12 orang tewas dan 35 menderita luka-luka.

Saat kejadian, kendaraan dikemudikan oleh Sularno yang sesungguhnya adalah kernet bus. Sang pengemudi, Sutarjo digantikan karena sedang mengantuk. Sesaat setelah kejadian, Sularno melarikan diri karena takut diamuk massa.

Pria yang mengalami patah tangan itu melarikan diri dari tempat kejadian perkara (TKP) melalui gorong-gorong hingga memasuki perkampungan lalu ke terminal dan pulang ke kampungnya. Belakangan, dia menyerahkan diri kepada polisi.

Kasus ini bahkan merembet ke soal izin trayek PO Rukun Sayur. Terkait hal ini, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan sampai menyurati Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bus tersebut mengantongi izin Bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) bukan Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Izin AKDP ada di Gubernur, sedangkan AKAP ada di kementerian perhubungan.

cipali-laka-elf-des-2015_tribunnews

Ketiga, kecelakaan minibus menabrak truk, Jumat, 24 Juli 2015. Tabrakan maut ini menimpa Toyota Kijang Innova bernomor polisi B 1805 EKX yang lepas kendali lalu menabrak pembatas jalan sehingga masuk ke jalur berlawanan dan tertabrak bus. Peristiwa yang terjadi di jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 166.600 jalur A ini merenggut tujuh korban jiwa dan satu orang kritis.

Korban tewas dan luka adalah para penumpang Innova. Mereka hendak menuju Jakarta. Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 23.15 WIB ini diduga dipicu oleh pengemudi, Tri Wahyono (34 tahun) yang mengantuk sehingga mobil oleng dan menabrak pembatas jalan (guardriel). Mobil yang meluncur dari arah Cirebon menuju ke Jakarta itu masuk ke arah berlawanan dan saat itu bus PO Setia Negara berpelat nomor E 7607 YC yang dikemudikan Enco (58)sedang melintas sehingga tabrakan pun terjadi.

Keempat, minibus menabrak truk, Kamis, 3 Desember 2015. Inilah kecelakaan paling mencekam pada penutup tahun 2015. Rombongan pedagang sayur yang hendak pulang ke Brebes, Jawa Tengah mengalami naas di Tol Cipali KM 137 KM Indramayu-Cirebon, Jawa Barat sekira pukul 05.30 WIB.

Sang sopir yang menderita luka ringan mengaku dalam kondisi mengantuk. Sedangkan para penumpang mayoritas dalam kondisi tidur sehingga tidak tahu apa yang terjadi secara persis. Minibus Isuzu Elf B 8378 QU yang mereka tumpangi menabrak truk dari belakang.

Buntut dari kecelakaan maut itu sebanyak 11 penumpang minibus meninggal dunia, termasuk dua anak berusia empat dan lima tahun. Sedangkan delapan orang menderita luka berat dan tiga luka ringan. Selain itu, sang sopir, Abdul Ghofur (34), warga Brebes, Jawa Tengah ditetapkan sebagai tersangka.

Kelima, minibus menabrak truk, Minggu, 6 Desember 2015. Suryanto, pengemudi minibus Daihatsu Luxio bernomor Polisi D 1277 ZJ tak pernah menyangka dinihari itu menjadi kelam. Mobil yang mengangkut 10 penumpang itu menabrak truk dari belakang.

Kecelakaan mengerikan itu terjadi sekitar pukul 04.11 WIB di km 128.200 jalur A dari Jakarta menuju Cirebon. Persisnya di kawasan Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Tabrakan maut tersebut merenggut tujuh korban jiwa dan empat korban luka-luka. Saat kejadian, sang sopir diduga mengantuk sehingga tidak mampu mengendalikan kendaraannya yang melaju dalam kecepatan tinggi. Pria warga Majalengka, Jawa Barat itu ditetapkan sebagai tersangka.

Keenam, truk boks menabrak mobil, Jumat, 8 April 2016. Sopir truk boks yang mengantuk membawa maut. Mengaku ngantuk, Candra Purwanto (35), sopir truk B 9808 SX pengangkut minuman ringan menciptakan duka bagi satu keluarga dari Bandung, Jawa Barat, Jumat, 8 April 2016. Truk yang dikemudikannya dari Cirebon ke Jakarta, oleng dan masuk ke jalur berlawanan di kilometer 137 Jalan Tol Cipali, Indramayu, Jawa Barat.

Saat bersamaan, di jalur berlawanan datang city car Daihatsu Agya D 1175 ADW yang berisi satu keluarga. Kecelakaan tak terhindarkan.

Kecelakaan sekira pukul 05.45 WIB itu merenggut empat jiwa, termasuk sang pengemudi Rudi Hermawan. Dari lima anggota keluarga di mobil naas itu satu balita, Revan Isja Hermawan (3) selamat, walau harus dirawat karena luka serius.

Candra Purwanto yang berangkat dari PT Goodfood di Jl Marikangen Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat itu mengaku mengantuk. Bahkan, dia mengaku terlelap beberapa detik sebelum akhirnya menabrak mobil dari arah berlawanan.

Ketujuh, minibus menabrak beton jembatan, Sabtu, 6 Agustus 2016. Kecelakaan memilukan menimpa warga Dusun Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang menumpang Nissan Grand Livina B1812SRF. Uut Budianto (49) sang pengemudi diduka mengantuk saat mengemudi sehingga mobil tak terkendali dan menabrak ujung beton jembatan.

Tabrakan maut terjadi di KM226+100 jalur B ruas jalan Tol Kanci-Pejagan, Dusun Cangkuang, Kecamatan Babakan, Cirebon. Peristiwa mengerikan yang terjadi sekira pukul 02.30 WIB tersebut membuat pengemudi luka berat.

Kedelapan, minibus menabrak truk, Minggu, 15 Januari 2017. Inilah kecelakaan maut awal 2017 yang cukup menyita perhatian publik. Tujuh orang meninggal dunia dan tiga lainnya menderita luka berat akibat kecelakaan di jalur A Tol Cipali kilometer 161, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Kecelakaan pada pukul 02.30 WIB itu diduga karena sang pengemudi tak mampu mengendalikan kendaraan sehingga akhirnya menabrak truk dari belakang. Kepolisian menyatakan, pengemudi Daihatsu Luxio B 1138 UK yang akhirnya meninggal dunia itu menyalip dari kiri jalan kemudian menabrak truk tronton AB 8837 AK.

Kepolisian menyebutkan, selain dinilai mengangkut jumlah penumpang yang melebihi kapasitas, mobil Luxio juga diduga melebihi batas kecepatan maksimal. Luxio itu diduga melaju berkisar 80-100 kilometer per jam (kpj), padahal di ruas itu maksimal 80 kpj. (edo rusyanto)

foto: tribunnews dan antara

Menikmati Purnama di Samasta Bali

15 Januari 2017

samasta-saat-purnama-2017a

BUIH ombak mencium kaki kami. Ada jeritan kaget. Sedangkan di langit, bulan purnama berselimut awan tipis.

“Makin malam, ombaknya kian ke atas, lebih baik bapak mejanya geser aja ke atas,” tutur seorang pelayan kepada kami di Jimbaran, Bali, baru-baru ini.

Malam itu kami berniat santap malam menu hidangan laut (seafood). Pilihan jatuh ke Jimbaran. Kawasan ini dikenal sebagai wisata kuliner laut. “Selalu ramai, tidak hanya akhir pekan,” tutur pemandu kami.

Benar saja. Setiba di kawasan itu tampak banyak pengunjung. Tak semata orang seperti kami dari Jakarta, Indonesia, banyak terlihat pengunjung dari mancanegara. Ada dari Asia, Eropa, bahkan Amerika. Mereka menikmati malam di tepi pantai. Tentu sambil bergoyang lidah dengan menu seafood.

Nah, kini di kawasan Jimbaran kita punya alternatif, yakni Samasta Movenpick. Urusan kuliner di ikon wisata anyar Jimbaran ini nggak kalah yahud dibandingkan dengan yang di tepi pantai. Malah, kalau saya perhatikan, positioning nya cukup berbeda.

Coba aja lihat. Di Samasta menu yang disodorkan bervariasi. Mulai dari menu Asia, seperti hidangan ala Korea hingga menu negara-negara Barat. Plus, tentu saja beragam minuman yang menyegarkan sudah siap menanti.
smasta-jimbaran-moge1

“Di Samasta juga ada fasilitas lain seperti tempat belanja oleh-oleh khas Bali, yakni outlet Krisna hingga toko kebutuhan sehari-hari,” kata Kunti Puspita Sari, marcomm Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali, saat berbincang dengan saya, di Samasta, Jimbaran, baru-baru ini.

Samasta ditata cukup apik. Bangunan-bangunan yang disediakan cukup eksotis beraksitektur modern dan tradisional. Maklum, sang pengembang, yakni PT Summarecon Agung Tbk sudah merogoh Rp 50 miliar untuk membangun Samasta.

Untuk urusan parkir cukup memadai. Baik untuk sepeda motor maupun mobil. Bahkan, saya lihat ada motor gede yang nangkring di salah satu sudut pelataran Samasta.

samasta-jimbaran-2017-siang2
Saat saya singgah, baru-baru ini, nuansa Samasta terasa berbeda. Air mancur warna-warni menyambut kami. Angin sepoi-sepoi membelai rambut. Dari lantai atas Barrels kami mencicipi hidangan ala western.

Di langit, purnama bersinar penuh. Alunan musik merayap ke seantero ruangan terbuka di lantai satu yang berkonsep semi outdoor. Suasana menjadi terasa romantis, menyantap hidangan di bawah langit berhias purnana. Waktu pun terasa cepat bergulir. (edo rusyanto)

Pengalaman Pertama Berjalan di Trotoar Pantai Rahasia

14 Januari 2017

pandawa-trotoar-edo

BALI memang selalu bisa membuat wisatawan datang kembali. Banyak alasan untuk itu. Pemandangan alam yang indah dan seni budaya yang memesona masih menjadi magnet utama.

Tak heran jika jutaan wisatawan Nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) silih berganti menjejakan kaki di Bali.

Tiga tahun terakhir, yakni 2014-2016, sedikitnya 11 juta wisman yang berlibur ke Bali. Trennya terus meningkat. Dari tiga juta, lalu empat juta, dan tahun lalu tak kurang dari 4,6 juta wisman yang datang.

Semua berbondong-bondong ke surga pariwisata itu.

“Bahkan, kami ditargetkan mendatangkan delapan juta wisman pada 2019,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, Tjokorda Raka Darmawan, saat berbincang dengan saya di Jimbaran, Bali, baru-baru ini.

pandawa-trotoar2

Angka itu, tambah dia, setara dengan 40% target pemerintah Indonesia pada 2019. Saat itu, pemerintah berobsesi mendatangkan 20 juta wisman. “Ini merupakan tantangan termasuk bagi Bali. Kami harus kerja keras. Selain meningkatkan kualitas pekerja pariwisata, kami juga terus meningkatkan kualitas infrastrukturnya,” tutur pria berkacamata itu.

Tak heran, saat saya bertandang ke salah satu obyek wisata di Badung, yakni Pantai Pandawa, permukaan aspal jalan begitu mulus. Kawasan yang berada di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung ini mayoritas marka dan rambu jalan cukup jelas sehingga memandu pengendara dengan baik.

Bahkan, setelah melewati gerbang masuk Pantai Pandawa, wisatawan disuguhi trotoar apik. Praktis, pedestrian bisa berjalan dengan nyaman menuju pantai. Sesekali wisatawan yang berjalan kaki bisa mengambil gambar pemandangan cantik dengan kamera profesional atau kamera ponsel.

Trotoar itu ada di samping tebing batu yang kokoh. Kondisi trotoar yang bersih membuat suasana nyaman. Belum lagi, pedestrian diauguhi obyek foto menarik berupa patung-patung yang ditempatkan dalam gua buatan. Namun, wisatawan dilarang masuk ke dalam gua.

Pemandangan nan elok menemani pedestrian menyusuri jalan menurun tak kurang dari 300 meter hingga bibir pantai yang juga dikenal sebagai Pantai Rahasia (Secret Beach). Disebut demikian karena letaknya yang nyentrik di balik bukit-bukit atau tebing batu. Saat siang hari, panas terasa menyengat di kawasan ini. “Maklum, pantainya ada di balik bukit, kalau siang panas sekali,” tutur seorang sopir pariwisata, ketika bercerita mengenai kawasan Pantai Pandawa.

Lelah berjalan kaki terlunasi oleh eloknya pemandangan pantai yang elok. Birunya air laut, putihnya deburan ombak, menjadi lengkap dengan hembusan angin laut yang menyegarkan. Sebutir kelapa muda pun ikut menyegarkan tenggorokan yang kering.

pandawa-pantai-edo

Oh ya, di tengah apiknya trotoar kawasan wisata cantik itu ada saja kelakuan penjarah trotoar. Tak tanggung-tanggung, pelakunya adalah sebuah mobil sport utility vehicle (SUV) berpelat nomor Jakarta. Mobil berwarna putih itu nangkring di atas trotoar. Entah, pengemudi dan penumpangnya sedang apa. Ironis. (edo rusyanto)

Bajaj Ala Hotel Rp 600 Miliar di Bali

13 Januari 2017

bajaj-movenpick-jimbaran-bali2

PERNAH naik Bajaj di Jakarta? Pasti seru yah?

Suara mesin angkutan roda tiga itu lebih keras dari suara kita yang ada di dalamnya. Bahkan, terpaan angin dengan bebas menerobos ruang tempat penumpang duduk. Dan, sudah barang tentu mengacak-ngacak ruang kemudi. Asyik.

Bagaimana rasanya kalau naik bajaj di kawasan wisata Jimbaran, Bali? Pasti ada sensasi tersendiri.

“Kami menyediakan ‘bajaj’ itu untuk para tamu kalau mau ke pantai,” tutur Kunti Puspita Sari, marketing communications Manager Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali, saat berbincang dengan saya di Jimbaran, Badung, Bali, baru-baru ini.

Lokasi hotel bintang lima itu sejatinya dekat dari pantai. Para wisatawan yang menginap di hotel senilai Rp 600 miliar tersebut punya alternatif selain berjalan kaki, yakni kendaraan roda tiga mirip bajaj.

“Kalau saya tadi jalan kaki, waktu tempuh sekitar lima menit,” tutur Lusi, salah seorang tamu, saat berbincang dengan saya di hotel yang baru diresmikan Kamis, 12 Januari 2017 itu.

Bajaj ala Movenpick Jimbaran berkapasitas enam penumpang dan satu pengemudi. Empat di antaranya duduk berhadap-hadapan. Selama tiga hari di Movenpick, saya melihat salah satu bajaj nangkring di depan lobby hotel. “Setahu saya, radius pemakaian bajaj ini sekitar satu kilometer di lingkungan hotel,” papar seorang karyawan hotel.

bajaj-movenpick-bali
Oh ya, hotel yang terletak di Jalan Wanagiri 1, Jimbaran, Bali ini menggulirkan harga promosi hingga 25 Juni 2017. Tarif itu terutama untuk pemesanan kamar yang dilakukan melalui situs resmi Movenpick, yakni Rp 1.880.000 per malam. Untuk ukuran suites harganya bisa mencapai lebih dari Rp 5 juta per malam.

Nah, lebih detail soal hotel kelolaan operator asal Swiss itu akan saya ulas dalam tulisan tersendiri. Tunggu yah. (edo rusyanto)

Nabrak Pejalan Kaki Didenda Rp 1 Juta

12 Januari 2017

pedestrian-nyeberang-jalan

PEDESTRIAN alias pejalan kaki termasuk pengguna jalan yang rentan menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melansir bahwa 22% korban kecelakaan di dunia adalah pedestrian. Angka itu setara dengan setiap hari 750-an pejalan kaki sebagai korban kecelakaan.

Kondisi serupa juga mewarnai jalan-jalan raya di Tanah Air. Setiap hari, belasan pedestrian menjadi korban kecelakaan. Walau, bukan tidak mungkin pedestrian juga berkontribusi atas terjadinya kecelakaan itu.

Sebut saja misalnya kasus yang menimpa Radiantmi, bukan nama sebenarnya ini. Kecelakaan yang dideritanya terjadi saat dia sedang berkerumun di pinggir jalan dengan sesama temannya. Malam itu saat bersamaan melintas sebuah mobil. Sekalipun melaju perlahan karena ada kerumuman orang, tetap saja terjadi kecelakaan.

“Mobil melintas tanpa memberi isyarat klakson,” papar seorang saksi.

Radiantmi menderita luka-luka atas kecelakaan tersebut. Sang pengemudi, kita sebut saja Falen, sekalipun sudah meminta maaf dan belakangan berdamai, harus menjadi pesakitan di pengadilan.

Setelah melewati sejumlah persidangan, Falen yang semula dituntut denda Rp 1,5 juta akhirnya divonis denda Rp 1 juta. Falen dibidik dengan Pasal 310 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Pengalaman menjadi guru yang jujur dan amat berharga bagi kita semua. Kejadian yang menimpa Falen mengajarkan kepada kita bahwa kecelakaan berdampak luas. Di sisi lain, pembelajaran yang berharga lainnya adalah bagaimana kita para pengendara patut memberi prioritas kepada pedestrian. Memberi isyarat klakson menjadi salah satu upaya untuk menghindari terjadinya tabrakan. (edo rusyanto)