Skip to content

Niat Mau Touring Malah Kena Tilang

23 Mei 2015

pemandangan gunung jabar

SAAT ini salah satu agenda favorit kelompok pesepeda motor adalah menggelar perjalanan wisata alias touring. Kelompok pengguna sepeda motor biasanya memilih perjalanan keluar kota yang memiliki pemandangan indah. Biasanya, perjalanan sudah direncanakan jauh-jauh hari agar anggota kelompok bisa mengatur waktu sebaik mungkin.

Begitu juga dengan Samin, kita sebut saja begitu. Remaja ini punya hasrat menjelajah kota di Jawa Barat sebagai relaksasi dari penatnya kehidupan kota Jakarta. Bersama sejumlah temannya, Samin berencana touring Jakarta-Cianjur-Jakarta. Pilihan jatuh pada akhir pekan.

Pagi hari ketika matahari mulai muncul malu-malu, kelompok remaja ini berangkat beriringan. Sepeda motor mereka pun meninggalkan hiruk pikuk Jakarta. Rute yang dipilih melintasi kota Bogor, Puncak, lalu selanjutnya ke kota Tauco, Cianjur.

Kepadatan arus kendaraan bermotor di kawasan Puncak membuat perjalanan sedikit tersendat. Kepenatan sepanjang dari Jakarta terlunasi oleh indahnya pemandangan di kawasan wisata tersebut. Udaranya yang segar membuat para remaja itu terus bersemangat menempuh perjalanan.

Tak ada aral merintang. Perjalanan lima sepeda motor yang ditunggangi para remaja berusia 17-20 tahun ini pun melenggang melahap aspal kawasan wisata Puncak. Hingga akhirnya di salah satu ruas jalan di kawasan Cianjur rombongan lima sepeda motor ini dihentikan oleh petugas yang sedang menjalani operasi rutin pemeriksaan kendaraan. “Petugas minta surat-surat. Tapi, karena SIM gue belum jadi, oleh petugas gue mau ditilang,” kata Samin yang kini berusia 18 tahun.

Jadilah tawar menawar. Samin merasa keberatan jika ditilang dan mengikuti persidangan di kota Cianjur. Dia kebayang bagaimana ribetnya mengatur waktu dari Jakarta untuk mengikuti sidang di Cianjur. “Petugasnya akhirnya mau damai, duit gue yang cuma selembar Rp 100 ribu gue serahin ke petugas,” ujar Samin dengan suara parau.

Habis sudah duit di dompet Samin. Perjalanan touring pun menjadi kurang semarak tanpa perbekalan sepeser pun di dompetnya. Touring yang diagendakan menginap satu malam di Cianjur pun terasa kecut. “Terpaksa minjem duit teman buat beli makanan dan minuman. Untung nginepnya di rumah saudaranya teman gue di Cianjur, jadi nggak perlu duit banyak,” kata remaja kelas tiga SMU itu.

“Kapok nggak touring?” tanya saya.

“Nggak. Tapi, kapok touring kalau nggak punya SIM,” selorohnya. (edo rusyanto)

Semakin Ngebut, Bisa Semakin Fatal

22 Mei 2015

kecepatan dan fatalitas

PESEPAKBOLA Benzema pernah mencicipi getirnya ngebut di jalan raya. Dua tahun lalu dia dimintai keterangan soal rekaman yang memperlihatkan dia ngebut di jalan raya. Dia melaju dengan kecepatan 216 km/jam, padahal batas kecepatan maksimal adalah 100 km/jam. Bahkan, pada 2019, dia diberitakan mengalami kecelakaan menabrak pohon saat kebut-kebutan di jalan.

Banyak juga contoh kasus kecelakaan yang dipicu oleh kendaraan yang melaju diatas batas kecepatan maksimum alias ngebut. Bukan semata merugikan sang pengendara yang ngebut, tapi juga merugikan orang lain termasuk keluarga sang korban kecelakaan.

Laman korlantas-irms menegaskan bahwa banyak orang cenderung kehilangan kontrol saat memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Hasilnya, kecelakaan lalu lintas sulit terhindari. Laman itu juga memperlihatkan grafis bahwa semakin ngebut, semakin tinggi pula peluang fatalitas kecelakaan yang bakal dipikul seseorang.

Di negara kita, setiap hari setidaknya ada 36 kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh aspek berkecepatan tinggi. Data Korlantas Polri tahun 2013 itu juga memperlihatkan bahwa kecelakaan akibat ngebut menyumbang sekitar 13% terhadap total kecelakaan di Indonesia.

Di dunia, seperti dikutip dari laporan WHO yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’, masalah ngebut juga menjadi biang kerok terjadinya kecelakaan di jalan. Bahkan, disebutkan bahwa pejalan kaki dan pesepeda menjadi kelompok paling berisiko cedera akibat pola berkendara yang berkecepatan tinggi. Tiap hari, rata-rata 747 pejalan kaki tewas atau 31 orang per jam. Sedangkan pesepeda yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di dunia, tiap hari sebanyak 169 jiwa. WHO menyebutkan kecelakaan lalu lintas jalan merenggut sekitar 1,24 juta jiwa di dunia.


Batas Kecepatan Maksimal

Kecepatan maksimum kendaraan bermotor di jalan raya diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Aturan rincinya tertuang di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

kecepatan dan pengereman_rtmc korlantas

Untuk di jalan bebas hambatan diatur juga batas kecepatan paling rendah, yakni 60 kilometer per jam (kpj). Sedangkan batas paling tinggi 100 kpj. Untuk jalan antarkota batas kecepatan paling tingginya adalah 80 kpj. Lalu, untuk di kawasan perkotaan kecepatan maksimal 50 kpj. Sedangkan di kawasan permukiman kecepatan paling tinggi adalah 30 kpj.

Ada catatan penting dalam aturan tersebut, yakni bahwa batas kecepatan paling tinggi dapat ditetapkan lebih rendah jika memenuhi tiga aspek. Aspek pertama yang menjadi dasar pertimbangan adalah frekuensi kecelakaan yang tinggi di lingkungan jalan yang bersangkutan. Kedua, perubahan kondisi permukaan jalan atau geometri jalan atau lingkungan sekitar jalan. Nah yang ketiga, ada usulan masyarakat melalui rapat forum lalu lintas dan angkutan jalan sesuai dengan tingkatan status jalan.

Oh ya, batas kecepatan maksimal maupun perubahan atas batas kecepatan harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas. (edo rusyanto)

sumber grafis dari sini

Waspadai Lima Hal Ini Saat Berkendara

21 Mei 2015

tikungan tajam

TAK jarang kita menjumpai hal konyol di jalan raya. Ada saja ulah pengguna jalan yang bikin dongkol. Situasi yang seperti itu lama kelamaan bukan mustahil merusak konsentrasi seorang pengendara di jalan raya.

Tahukah Anda ada banyak hal yang tak semata bikin kesal, tapi justeru bisa bikin pengendara terjungkal?

Berikut ini lima hal yang patut diwaspadai saat berkendara di jalan raya.

Pertama, berkendara tidak tertib alias ugal-ugalan. Perilaku berkendara yang seperti ini merupakan hal yang paling atas mesti diwaspadai para pengendara. Pengguna jalan yang masuk kategori ini adalah mereka yang melanggar aturan di jalan, misal melawan arus atau menerobos lampu merah.

Faktanya, pada 2013, setiap hari perilaku ugal-ugalan rata-rata memicu 114 kecelakaan lalu lintas jalan. Inilah aspek di faktor manusia yang sangat perlu diwaspadai. Gaya berkendara seperti ini bukan saja akan merugikan sang pelaku, tapi amat mungkin merugikan orang lain. Oh ya, perilaku ugal-ugalan menjadi penyumbang terbesar dalam memicu kecelakaan. Tahun 2013, sumbangan aspek ini mencapai sekitar 42% dari total faktor maupun aspek yang memicu kecelakaan di jalan.

Kedua, lengah saat berkendara. Jangan main-main dengan soal yang satu ini. Lengah pada saat berkendara menjadi pemicu kedua terbesar terhadap kecelakaan di Indonesia. Aspek ini menempati posisi kedua terbesar dengan sumbangan sekitar 29% terhadap total kecelakaan. Setiap hari rata-rata terjadi 81 kasus kecelakaan akibat pengemudi yang lengah.

Barangkali kita mesti mencamkan secara sungguh-sungguh bahwa jangan bercanda dengan maut. Secara umum tak sedikit yang bisa bikin seseorang lengah dalam berkendara. Bila dikelompokan secara besar, hal yang bikin lengah bisa dari dalam diri sendiri atau dari luar diri sang pengemudi.

Kata kunci untuk yang satu ini adalah konsentrasi. Fokus dan waspada menjadi akar untuk menghasilkan konsentrasi yang prima. Tak heran jika para pegiat keselamatan jalan pun menyimpulkan bahwa konsentrasi adalah harga mati. Mutlak.

Ketiga, melampaui batas kecepatan yang ditentukan. Sekitar 13% kecelakaan di Indonesia dipicu oleh pengemudi yang melaju dengan kecepatan tinggi alias ngebut. Setiap hari, sedikitnya terjadi 36 kasus kecelakaan akibat ngebut di jalan raya.

Lantas, berapa sih batas kecepatan maksimal menurut perundangan yang berlaku saat ini?

Ini dia, Peraturan Pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur tentang batas kecepatan maksimal dan minimal. Untuk di jalan bebas hambatan (tol) batas kecepatan paling rendah 60 kilometer per jam (kpj), sedangkan batas paling tinggi 100 kpj. Lalu, untuk jalan antarkota batas kecepatan paling tingginya adalah 80 kpj. Kemudian, untuk di kawasan perkotaan kecepatan maksimal 50 kpj. Sedangkan di kawasan permukiman, kecepatan paling tinggi adalah 30 kpj.

Keempat, tikungan tajam. Kondisi jalan yang seperti ini mutlak untuk diwaspadai secara khusus. Maklum, inilah aspek jalan yang paling banyak memicu kecelakaan di faktor jalan. Setiap hari sedikitnya empat kasus kecelakaan yang dipicu oleh tikungan tajam.

Benar bahwa bila pengemudinya berkendara dengan sesuai ketentuan yang ada, tikungan tajam bisa dijinakan. Misal, pengemudi jangan mendahului ketika melintas di tikungan tajam. Atau, jangan memaksakan diri memacu kecepatan diatas rata-rata ketika menikung.

Kelima, kondisi rem yang buruk. Banyak kasus kecelakaan yang memperlihatkan kepada kita bahwa urusan rem mengerem amat vital. Kondisi rem yang tidak prima menyebabkan apa yang secara umum disebut rem blong. Kalau sudah begini, kecelakaan lalu lintas sudah di depan mata.

Fakta memperlihatkan bahwa setiap hari setidaknya terjadi dua kasus kecelakaan akibat rem blong. Di dalam faktor kendaraan, aspek ini menjadi salah satu penyumbang kecelakaan yang terbesar.

Pengemudi dituntut untuk mengetahui secara pasti kondisi rem kendaraan yang dikemudikannya. Karena itu, mesti dibudayakan senantiasa memeriksa kondisi rem sesaat sebelum berkendara. Tentu saja, hal itu mesti dibarengi dengan menservis kendaraan secara berkala. Dan, hal yang tak kalah penting adalah menggunakan suku cadang yang mumpuni.

Oh ya, data-data terkait kecelakaan diatas merujuk pada Korlantas Mabes Polri. (edo rusyanto)

Mengintip Kecelakaan Angkutan Umum

20 Mei 2015

tabrakan rem blong

MIRIS membaca berita satu keluarga tewas diseruduk truk di Jombang, Jawa Timur, baru-baru ini. Mobil angkutan barang itu oleng lantaran pecah ban dan menabrak sepeda motor yang ditumpangi oleh empat orang.
Pertanyaannya sejauhmana manajemen keselamatan jalan perusahaan angkutan barang itu?

Sebelum kasus di Jombang itu sebenarnya banyak kecelakaan serupa. Bahkan, ada yang merenggut korban jiwa lebih banyak seperti di Cianjur, Jawa Barat beberapa tahun lalu. Bahkan, yang terbaru kasus kecelakaan di Ambon.
Dari kasus-kasus tersebut masalahnya hampir sama, yakni suku cadang kendaraan yang kurang berfungsi maksimal, khususnya aspek rem. Akibatnya, kecelakaan terjadi lantaran rem blong. Masalah ban, baik itu tekanan anginnya maupun kondisi ban yang sudah kurang mumpuni, sama pentingnya dengan masalah rem. Disinilah letak pentingnya manajemen keselamatan jalan di perusahaan angkutan yang beroperasi di Tanah Air.

Manajemen keselamatan yang maksimal senantiasa memperhatikan segala aspek secara detail. Mulai dari perawatan secara berkala kendaraan yang dipakai, pemakaian suku cadang yang kualitasnya mumpuni, hingga ritme kerja awak kendaraan. Lewat manajemen yang disiplin menunjukan keselamatan sebagai prioritas.

Ironisnya jika manajemen keselamatan diterapkan ala kadarnya. Misal, pemakaian suku cadang yang tidak terkontrol, bahkan terjadi kanibalisme. Atau, penerapan jam kerja yang membuat awak kendaraan menjadi cepat lelah. Bukan mustahil memperlebar celah terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Siapa yang mengontrol itu semua?

Tentu saja yang bertanggung jawab adalah manajemen perusahaan angkutan itu sendiri. Manajemen yang peduli akan keselamatan akan mati-matian mempertahankan aturan yang dibuat untuk dilaksanakan sebaik mungkin. Hal itu mengingat mereka sadar bukan semata soal reputasi, juga keberlangsungan usaha yang dirintisnya.

Sementara itu, pihak otoritas angkutan jalan mestinya tidak ragu-ragu menerapkan standardisasi yang sudah dibuatnya. Pemeriksaan rutin kondisi kendaraan diterapkan secara tegas. Urusan keselamatan pengguna jalan bukan persoalan main-main. Bila kondisi kendaraan dianggap tidak layak, mesti dibilang tidak layak. Jangan sebaliknya.
Bahkan, pada saat melakukan razia dan kedapatan kendaraan angkutan dianggap membahayakan keselamatan, sang petugas juga harus tegas. Jangan mempertaruhkan keselamatan pengguna jalan demi kepentingan sesaat. Apalagi sekadar kepentingan individu. Memalukan.

Kecelakaan Dipicu Faktor Kendaraan 2015:

1. Sabtu, 16 Mei 2015, truk pecah ban dan menabrak motor.
Truk bermuatan pasir menabrak pesepeda motor akibat pecah ban. Setelah mengalami pecah ban, truk oleng ke kanan dan menabrak pesepeda motor. Kecelakaan di Jombang, Jawa Timur ini menewaskan empat orang yang menumpang satu sepeda motor.

2. Rabu, 15 April 2015, truk tabrak pesepeda motor
Kecelakaan yang diduga dipicu oleh rem blong terjadi antara truk pengangkut pasir dan sepeda motor terjadi di kawasan Cikole, Sukabumi, Jawa Barat. Truk pengangkut pasir itu diduga rem blong dan menabrak sepeda motor yang dikendarai tiga orang. Dua dari tiga penumpang tewas dan satu lainnya luka berat.

3. Selasa, 14 April 2015, truk menabrak empat kendaraan
Truk yang diduga mengalami rem blong menabrak empat kendaraan yang terdiri atas dua sepeda motor, Suzuki Carry, dan Mitsubishi Mirage. Kecelakaan di kawasan Bergas, Semarang ini menyebabkan satu orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka. Belakangan sang pengemudi truk ditetapkan sebagai tersangka.

4. Jumat, 27 Maret 2015, truk nabrak empat mobil dan dua sepeda motor
Kecelakaan maut di Ambon ini diduga akibat truk yang rem blong. Truk pengangkut semen tersebut menabrak empat mobil dan dua motor. Tabrakan beruntun ini merenggut enam korban jiwa dan menyebabkan 20 lainnya luka-luka.

5. Senin, 23 Maret 2015, truk menabrak truk
Akibat pecah ban, sebuah truk berhenti dipinggir jalan, namun ditabrak oleh truk lainnya. Kecelakaan yang terjadi di Dusun Kubangjaran Desa Karanganyar Kecamatan Pusakajaya Kabupaten Subang, Jawa Barat ini menyebabkan satu korban jiwa dan satu korban luka-luka.

6. Kamis, 05 Maret 2015, truk menabrak motor
Seorang pesepeda motor tewas akibat ditabrak truk yang diduga mengalami rem blong. Truk pengangkut minuman ringan itu terlibat kecelakaan di Jalan Raya Malangbong, Tanjakan Gentong, Desa Cibahayu, Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya.

7. Jumat, 20 Januari 2015, truk menabrak tiga kendaraan.
Truk yang diduga mengalami rem blong menabrak tiga kendaraan termasuk sebuah angkutan kota. Kecelakaan yang terjadi di kawasan Megamendung, Bogor, Jawa Barat ini merenggut dua korban jiwa dari penumpang angkot. Sedangkan 12 orang penumpang angkot mengalami luka-luka. (edo rusyanto)

Sembunyi di Hutan Usai Tabrakan

19 Mei 2015

jalan di pelosok

BANYAK peristiwa dramatis di jalan raya kita. Kejadian yang dialami Eduardo, kita sapa saja begitu, menjadi salah satu fakta.

Sore itu dia melaju dengan kecepatan tak lebih dari 70 kilometer per jam (kpj). Tiba di sebuah ruas jalan di dekat kawasan hutan, mobil yang dikemudikannya tertahan sebuah truk. Merasa situasi cukup aman, dia mendahului truk tadi dari sisi kanan dengan melibas garis putih menyambung. Naas, dari arah berlawanan ada mobil lain dan terjadilah tabrakan. Brak!!!

Benturan keras mengundang penduduk sekitar mendatangi lokasi terjadinya tabrakan. Eduardo panik. Di benaknya melintas bayangan mengerikan. Dikeroyok oleh massa.

Dia pun mengambil langkah seribu ke arah hutan dan bersembunyi disana. Hanya satu yang ada di benaknya saat melarikan diri, yakni agar tidak menjadi bulan-bulanan massa. Tidak sedikit fakta yang memperlihatkan amuk massa terhadap pengemudi yang memicu kecelakaan. Bogem mentah bertebaran ke wajah sopir naas. Eduardo tidak ingin mengalami nasib seperti itu.

Setiba di hutan, sambil menahan luka yang diderita di bagian lengan, pikirannya kian berkecamuk. Ada penyesalan, ada rasa takut, hingga rasa bersalah. Tak lebih dari dua jam persembunyiannya diketahui oleh aparat kepolisian dan dia pun digelandang ke kantor polisi.

Belakangan Eduardo baru tahu bahwa akibat tabrakan yang dipicu dirinya menimbulkan korban jiwa. Tiga orang penumpang mobil meninggal dunia lantaran cedera fatal yang ditimbulkan tabrakan. Rasa bersalah kian menghantui pria muda tersebut.

Pasca kejadian, hari demi hari dilalui pengemudi muda itu dalam pencaharian keadilan. Dia didudukan sebagai tersangka. Setelah melewati sejumlah persidangan yang menghadirkan sejumlah saksi, majelis hakim memutuskan hukuman dua bulan penjara bagi Eduardo. Pria beranak dua itu pun meringkuk di balik jeruji besi sambil menyesali perbuatannya. (edo rusyanto)

Masuk Busway Pria Ini Kehilangan Rp 20 Ribu

18 Mei 2015

busway motor 2a

PAGI baru saja merangkak. Matahari bersinar malu-malu menyapa jalan raya yang sudah sesak oleh kendaraan bermotor. Rozi melenggang naik sepeda motor menuju tempatnya berdagang di salah satu sudut pusat bisnis Jakarta.

Jakarta yang setiap hari dipadati tak kurang dari 20-an juta perjalanan, kerap membuat para pengguna jalannya menjadi permisif. Ingin disiplin, tapi sering tergoda untuk melanggar aturan demi memangkas waktu tempuh. Begitu juga dengan Rozi yang pagi itu melenggang dengan sepeda motor lawasnya.

Dari jauh Rozi melihat antrean kendaraan bermotor yang merayap di sekitar sudut pusat bisnis Jakarta Selatan. Di depannya sejumlah sepeda motor merangsek busway yang semestinya khusus untuk bus Trans Jakarta. Tanpa pikir panjang pria 30 tahunan itu pun ikut rombongan penjarah busway. “Biasanya kalau rame-rame nggak ditilang polisi,” paparnya.

Tapi pagi itu suasana berbeda. Rozi terperanjat karena melihat ada polisi lalu lintas yang sedang menilang pesepeda motor yang menjarah busway. Rozi buru-buru mencari celah untuk menghindar. “Kebetulan separatornya jarang-jarang sehingga saya bisa keluar dari busway,” katanya.

Tidak kena ditilang di busway, pria muda ini justeru kena tilang di jalur arteri. Dialog pun terjadi.

“Selamat pagi,” sergah sang petugas.

“Pagi pak,” jawab Rozi.

“Kamu tahu salahnya apa?” tanya petugas.

“Iya pak, tadi masuk busway. Tapi saya ikut-ikutan aja pak,” sahut Rozi.

Rozi bercerita, setelah melihat surat-surat kendaraan dan surat izin mengemudi (SIM), sang petugas memberi tahu soal denda atas pelanggaran masuk busway.

Ternyata, kata dia, sanksi dendanya gede, yakni Rp 500 ribu. Rozi mengaku minta ditilang aja. “Tapi, dia nanya kamu punya uang berapa. Saya bilang, cuma punya Rp 20 ribu, eh diambil juga. Saya bersyukur cuma kena Rp 20 ribu,” ujarnya.

Rozi mengaku sering melibas busway. Alasannya, kata dia, untuk menghindari kemacetan lalu lintas jalan Jakarta yang menggila. Dia memilih-milih saat merangsek busway dan seringnya beramai-ramai agar tidak ditilang.

Kalau melihat perundangan yang berlaku, para penjarah busway disemprit dengan tuduhan melanggar marka dan rambu jalan. Di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sanksinya berupa denda maksimal Rp 500 ribu. Atau, pidana penjara maksimal dua bulan. (edo rusyanto)

Lima Pendulang Triliunan Rupiah dari Bisnis Sepeda Motor

17 Mei 2015

honda stok dealer1

SEPANJANG Januari-April 2015 perputaran bisnis sepeda motor menyentuh sekitar Rp 32,1 triliun. Siapa sajakah pemain utama yang mendulang rupiah dari bisnis si kuda besi ini?

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) memperlihatkan, sepanjang empat bulan pertama 2015, omzet bisnis sepeda motor menyentuh Rp 32,1 triliun. Torehan itu berasal dari penjualan 2,18 juta sepeda motor dikalikan dengan harga sebelum pajak. Omzet kian menggelembung jika ditambah unsur pajak.

Inilah para pendulang rupiah dari bisnis sepeda motor.

1. Honda

Omzet sepeda motor Honda memimpin di posisi pertama dengan raihan sekitar Rp 20,4 triliun sepanjang Januari-April 2015. Honda menguasai sekitar 63.46% omzet sepeda motor anggota Aisi.

Maklum, dari sisi volume Honda juga paling moncer, yakni dengan penjualan sekitar 1,46 juta motor. Sang raja bisnis sepeda motor ini menguasai sekitar 67,11% pangsa pasar Indonesia.

Pemain yang sudah lebih dari 40 tahun berkecimpung di Indonesia ini kian mengandalkan segmen motor skutik. Pada empat bulan pertama 2015, skutik menyumbang sekitar 83,66% omzet Honda. Sedangkan dua segmen lainnya masing-masing motor bebek Rp 1,77 triliun (8,69%) dan motor sport Rp 1,56 triliun (7,65%).

2. Yamaha

Sepeda motor Yamaha mengantongi omzet sekitar Rp 9,2 triliun per akhir April 2015. Sepanjang empat bulan pertama 2015, Yamaha menempati posisi kedua dengan penguasaan kue bisnis sekitar 28,88%.

Omzet itu dikumpulkan dari penjualan sekitar 613 ribuan sepeda motor. Dari segi volume, Yamaha menguasai sekitar 28,07% pangsa pasar.

Andalan Yamaha masih bertumpu pada motor skutik, yakni sekitar Rp 4,5 triliun atau setara dengan 49,5% dari total omzet. Namun, sumbangan kedua terbesar justeru datang dari motor sport, yakni sekitar Rp3,66 triliun (39,41%). Sedangkan segmen motor bebek penyumbang ketiga, yaitu Rp 1,03 triliun (11,09%).

3. Kawasaki

Sekalipun hanya mengandalkan dua segmen, yaitu motor sport dan motor bebek, Kawasaki menempati posisi ketiga. Sepanjang empat bulan pertama 2015, omzet Kawasaki sekitar Rp 1,65 triliun atau setara dengan 5,14% dari total omzet Aisi.

Dalam periode kali ini, nyaris seluruh pendapatan Kawasaki berasal dari segmen motor sport. Maklum, per akhir April 2015, Kawasaki hanya mencatat omzet sekitar Rp 74, 7 juta dari segmen motor bebek.

Pada periode itu Kawasaki melego sekitar 51 ribuan sepeda motor dengan market share sekitar 2,35%.

4. Suzuki

Posisi keempat yang mengantongi omzet terbesar adalah Suzuki. Sepanjang Januari-April 2015, Suzuki mengantongi omzet sekitar Rp 738,9 miliar. Raihan itu setara dengan 2,3% dari total omzet motor.

Per akhir April 2015, Suzuki mengantongi penjualan sekitar 47 ribuan motor dengan pangsa pasar 2,19%.

5. TVS

Produsen motor asal India, TVS menempati posisi kelima, yakni dengan omzet sekitar Rp 69,9 miliar. Sebagai posisi juru kunci di Aisi, penguasaan omzet TVS sekitar 0,22%.

Sepanjang Januari-April 2015, TVS melego sekitar enam ribuan unit sepeda motor. Dari sisi volume, pangsa pasar TVS sekitar 0,28%. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.890 pengikut lainnya.