Skip to content

Menyusupkan Ideologi Road Safety di Skill’s Jakarta

24 April 2017

MALAM terus bergulir. Kian malam, makin banyak anggota kelompok pesepeda motor (bikers) yang berdatangan.

Atribut khas bikers mewarnai Carburator Springs, Jakarta Selatan, Sabtu, 22 April 2017 malam. Selain rompi kulit dengan aneka emblem, sepatu boot dan jaket berwarna gelap juga mewarnai pesta para bikers.

Sang tuan rumah, Skill’s Jakarta bahkan menyediakan panggung mini untuk foto bersama. Praktis, bikers yang hadir hilir mudik berpose di panggung yang dilengkapi dengan backdrop bertuliskan logo tuan rumah. Foto sebagai bukti hadir dalam hajatan 17 tahun Skill’s Jakarta.

Selain berdatangan dari Jakarta dan sekitarnya, mereka yang hadir malam itu juga datang dari kota Jember (Jawa Timur), Lampung, dan Bandung (Jawa Barat).

“Kami datang dari Lampung untuk belajar bagaimana mengelola klub motor sampai 17 tahun, sekaligus silaturahmi,” ujar bikers dari Lampung.

Kehadiran saya di tengah mereka atas undangan bro Mario, ketua Skill’s Jakarta. Pria bertubuh tinggi besar itu meminta saya sebagai nara sumber dalam talkshow keselamatan jalan (road safety).

Bagi Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) kegiatan ini merupakan bagian dari Road Safety Movement yang terus digulirkan ke berbagai elemen masyarakat. Upaya menyusupkan ideologi road safety kepada para pengguna jalan. “Kami ingin bertukar pikiran sekaligus sosialisasi safety riding ke teman-teman bikers lewat talkshow road safety,” kata dia.

Talkshow menjadi pembuka rangkaian acara HUT Skill’s Jakarta kali ini. Acara lainnya ada pertunjukan pencak silat, band, dan sexy dancer. Wow!

Topik yang saya pilih untuk talkshow kali ini adalah mengenali kecelakaan dan bagaimana mengurangi risiko. Lewat pengenalan apa saja pemicu kecelakaan lalu lintas jalan diharapkan bisa mengurangi potensi terlibat dalam kecelakaan. “Bagaimana menjaga jarak aman saat di jalan,” tanya Edo, seorang bikers saat sesi tanya jawab.

Sontak saya sodori teori rentang tiga detik antar kendaraan saat melaju di jalan. Teori ini memungkinkan pengendara untuk melakukan respons lebih maksimal saat terjadi situasi kritis. Selain itu, secara gamblang dapat mencegah terjadinya tabrak belakang.

Di bagian lain, peserta diskusi melontarkan pertanyaan terkait helm pelindung kepala. Dua bikers melontarkan pertanyaan seberapa penting memakai helm dan fitur apa yang akan ada di helm pada masa mendatang.

Saya ajak mereka melihat fungsi helm saat mengurangi benturan. Lapisan keras dan bagian dalam helm bisa mereduksi cedera lebih serius dibandingkan bila pesepeda motor tidak memakai helm. Helm mengurangi risiko. Baik itu bersepeda motor jarak dekat maupun jauh.

Melihat fakta yang dilontarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa helm mengurangis risiko kematian sebesar 40%, kedepan diharapkan helm yang diproduksi dapat lebih tinggi daya lindungnya. Fitur yang ada diharapkan lebih melindungi sang pemakai helm dari benturan yang terjadi.

Dalam waktu yang tidak lebih dari satu jam, diskusi kali ini cukup menyedot antusiasme peserta. “Saya merasa banyak manfaatnya,” kata seorang bikers.

Syukurlah. (edo rusyanto)

Lima Kecelakaan Bus Maut di Jalur Puncak

23 April 2017

JALUR kawasan Puncak, Jawa Barat menyimpan ‘amarah’ yang sewaktu-waktu dapat meledak. Kawasan wisata yang membentang dari Bogor hingga Cianjur, Jawa Barat itu sempat mencatat kelamnya petaka jalan raya yang melibatkan bus.

Sedikitnya lima kecelakaan bus maut yang terjadi di jalur Puncak dalam rentang 2007-2017. Kecelakaan tersebut merenggut puluhan jiwa dan melukai ratusan orang. Belum lagi menimbulkan kerusakan kendaraan dan bangunan yang diseruduk kendaraan.

Berikut ini tujuh kasus kecelakaan bus maut yang saya rangkum dari dokumen resmi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecuali kecelakaan termutakhir, Sabtu, 22 April 2017. Khusus untuk kecelakaan yang terakhir saya rangkum dari laporan yang beredar di kalangan jurnalis.

1). Kecelakaan 7 Juli 2007

Pagi baru saja merayap menuju siang. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 10.20 WIB, Sabtu, 7 Juli 2007. Bus pengangkut rombongan wisata sebanyak 54 orang dari SMP Islam Ar-Ridho melaju menuju Taman Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Rombongan itu terdiri atas siswa dan staf pengajar SMP Islam Ar-Ridho.

Saat tiba di jalan turunan Ciloto menjelang pertigaan Kota Bunga, Cimacan ± 100 meter sebelum jembatan Cikundul, bus tersebut oleng. Bus menabrak beberapa kendaraan yang meluncur dari arah berlawanan dan juga menabrak kendaraan di depannya . Kendaraan tersebut antara lain sepeda motor, Mitsubishi Colt 100 Pick Up dan Toyota Kijang.

Setelah menabrak beberapa kendaraan tersebut, bus kembali ke jalur sebelah kiri dan menabrak Daihatsu Ferosa serta Toyota Kijang yang berada di depannya. Kemudian bus kembali ke jalur sebelah kanan menabrak tembok dan pagar jembatan lalu jatuh ke dalam jurang dengan kedalaman ± 15 meter.

Dalam kecelakaan ini 14 orang meninggal dunia di lokasi kejadian, 1 (satu) orang meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, 1 (satu) orang meninggal setelah mendapat perawatan. Kecelakaan ini juga mengakibatkan 28 (dua puluh delapan) orang mengalami luka berat dan 14 (empat belas) orang luka ringan.

Semua korban adalah penumpang, pengemudi dan kernet yang berada di bus Limas serta pengemudi motor juga penumpang Daihatsu Ferosa.

Seluruh korban kecelakaan dievakuasi ke Rumah Sakit Cimacan, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, PMI Bogor, dan RSUD Cianjur.

KNKT menyimpulkan faktor-faktor kemungkinan penyebab kecelakaan tersebut utamanya adalah akibat, pertama, pengemudi bus ngebut pada saat akan menyalip kendaraan di depannya dan tidak dapat mengendalikan busnya lagi.

Lalu, kedua, kendaraan yang tercatat masa ujinya berlaku dan dikatakan dirawat dengan baik, namun pada kenyataannya kendaraan tersebut tidak memenuhi persyaratan keselamatan. Ketiga, kondisi geometrik jalan yang menurun panjang dan menikung dengan ruang pandang yang tertutup dengan pohon dan bangunan, turut memberikan kontribusi yang besar terhadap kecelakaan.

2). Kecelakaan 10 Februari 2012

Peristiwa memilukan terjadi pada Jumat, 10 Februari 2012, sekitar pukul 18.00 WIB di kawasan Cisarua, Bogor. Mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA dari Garut menuju terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur melalui Cianjur-Puncak-Ciawi mengalami kecelakaan di kawasan Cisarua.

Kecelakaan terjadi sekitar 208 meter dari lokasi cheq point bus di depan RS. Paru dr M. Goenawan P, Cisarua. Bus menabrak sisi kanan papan reklame yang berada di tikungan menurun. Sesudah menabrak papan reklame pada jarak 392 meter berikutnya, bus berturut-turut menabrak mobil penumpang Mitsubishi Pajero dari arah berlawanan dan dua sepeda motor yang berada di belakang mobil penumpang Mitsubishi Pajero tersebut. Setelah itu bus bergerak ke kiri dan menabrak dua mobil angkutan kota yang berada di depannya, mobil penumpang Nissan Grand Livina dan mobil barang pengangkut tanaman yang juga berada pada jalur yang sama.

Kemudian bus bergerak kembali ke kanan dan menabrak mobil bus PO. Doa Ibu dengan nomor kendaraan Z-7588-HB yang datang dari arah berlawanan menyebabkan mobil bus PO. Doa Ibu Z-7588-HB terdorong mundur sejauh 18 meter dan tertahan oleh pagar taman yang berada di pertigaan jalan. Setelah itu mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kembali bergerak ke kiri dan kemudian menabrak mobil barang pengangkut sayur, mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kemudian bergerak kembali ke kanan dan menabrak tiang telepon serta dua sepeda motor yang sedang parkir di halaman minimarket.

Selanjutnya menabrak warung bakso, tembok dan akhirnya terperosok ke pekarangan Wisma Syailendra, dengan kedalaman sekitar 9 (sembilan) meter di bawah permukaan jalan. Kondisi akhir mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA setelah kecelakaan posisi bagian depan berada di bawah.

Akibat kecelakaan ini 13 orang meninggal dunia di lokasi kecelakaan dan 1 (satu) orang meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit, 10 orang mengalami luka berat serta 44 orang mengalami luka ringan.

Seluruh korban meninggal dunia dan luka – luka dievakuasi ke RS Paru dr M. Goenawan P Cisarua, RS Ciawi Bogor, RS PMI Bogor, dan RS. Sentra Medika Cibinong.

KNKT menyimpulkan bahwa kemungkinan penyebab (Probability Cause) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah bersumber dari kegagalan berfungsinya rem utama dan rem parkir tangan. Selain itu, pengemudi yang tidak berhasil mengendalikan kendaraan pada saat menghadapi situasi kritis.

3). Kecelakaan 27 Februari 2013

Rombongan bus peziarah dari Bogor menuju Cianjur, Jawa Barat pada Rabu, 27 Februari 2013. Sekitar pukul 07.30 WIB, bus pariwisata PO. Mustika Mega Utama dengan nomor kendaraan F-7263-K berangkat dari Desa Sukajaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor dengan mengangkut 82 orang menuju Desa Cikundul, Kabupaten Cianjur untuk melakukan ziarah dengan rincian 1 (satu) orang pengemudi dan 81 orang penumpang.

Mobil bus tersebut sekitar pukul 09.00 WIB sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit untuk beristirahat di salah satu SPBU di Desa Leuwiliang, sebelum kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan ke Desa Cikundul.

Sekitar pukul 11.30 WIB, mobil bus tersebut melintasi ruas Jalan Raya Puncak – Ciloto KM. 87 Kabupaten Cianjur dengan geometri jalan yang menurun ± 10º dan menikung. Sepanjang 500 m pada ruas jalan tersebut diatas terdapat banyak lubang baik di jalur kiri maupun jalur kanan dan pada saat itu kondisi cuaca dalam keadaan berkabut dan tidak hujan. Mobil bus kehilangan kendali setelah menghindari lubang dan akhirnya menabrak dinding tebing yang berada pada sebelah kiri jalan menikung searah laju mobil bus tersebut.

Kecelakaan ini mengakibatkan 17 orang meninggal dunia, yaitu 15 orang meninggal di tempat kejadian dan 2 (dua) orang meninggal pada saat mendapat perawatan di rumah sakit, 26 orang luka berat dan 32 orang luka ringan. Untuk para korban yang meninggal dan korban luka-luka dibawa ke RS. Cimacan dan RSUD. Ciawi, Jawa Barat.

Kemungkinan rangkaian penyebab (Probable Causes) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah karena pengemudi tidak familiar dengan rute tersebut. Lalu, kondisi jalan yang rusak berat, penggunaan komponen rem yang tidak standar serta muatan yang melebihi kapasitas berakibat yang bersangkutan kurang mampu dalam mengatasi kondisi kritis yang datang secara tiba-tiba.

4). Kecelakaan 18 Agustus 2013

Minggu, 18 Agustus 2013 pukul 24.00 WIB rombongan jemaat GBI Kelapa Gading, Jakarta berangkat menuju Cipanas Bogor dengan menggunakan mobil bus PO.Giri Indah nomor kendaraan B-7185-XA dan sampai di Wisma Kapendrai daerah Cipanas pukul 03.00 WIB untuk melakukan ibadah sampai dengan hari Rabu 21 Agustus 2013.


Pada hari Rabu 21 Agustus 2013 pukul 08.00 WIB rombongan jemaat GBI berjumlah 50 orang dan 3 (tiga) orang awak kendaraan kembali ke Jakarta dengan menggunakan mobil bus PO. Giri Indah dengan nomor kendaraan B-7297-BI.
Mobil bus melintasi ruas jalan daerah Gunung Mas yang geometri jalan menurun dan menikung. Informasi dari saksi bahwa setelah melintasi perkebunan teh Gunung Mas mobil bus melaju dengan kecepatan tinggi.

Mobil bus pada pukul 08.30 WIB tiba di ruas Jalan Raya Puncak Bogor KM. 86, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat merupakan ruas jalan yang menurun dan menikung, mobil bus menabrak mobil pick up yang parkir di tepi jalan jalur berlawanan di depan toko material untuk menurunkan muatan tabung gas elpiji 3 kg. Kemudian mobil bus menabrak seorang yang sedang berada di depan toko material, selanjutnya mobil bus menabrak toko material dan akhirnya beserta mobil pick up masuk ke dalam sungai yang mempunyai kedalaman 8 (delapan) meter di sebelah kanan jalan.

Pada saat kejadian cuaca cerah dan kondisi lalu lintas lancar (ilustrasi kecelakaan dapat dilihat pada gambar 6). Kecelakaan ini mengakibatkan 20 orang meninggal dengan rincian 14 orang meninggal dunia di tempat kecelakaan dan 6 (enam) orang meninggal dunia di rumah sakit, yang terdiri dari 18 orang penumpang mobil bus, 1 (satu) orang awak mobil bus dan 1 (satu) orang warga setempat.

Selain korban meninggal dunia, korban luka-luka berjumlah 34 orang. Korban yang meninggal dunia maupun luka-luka semua awalnya dievakuasi ke RS. Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, setelah dilakukan tindakan medis pertama selanjutnya sebagian di rujuk ke RS. Sentra Medika Cibinong dan sebagian lagi dirujuk ke RSUD Ciawi.

Tabrakan mengakibatkan mobil bus dan mobil pick up berada di dasar sungai dengan jarak 2 (dua) meter satu sama lain dengan posisi mobil bus terbalik dan mobil pick up berbalik arah dengan menghadap arah kedatangan. Dari hasil investigasi disimpulkan faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan ini adalah kondisi geometri jalan yang merupakan bahwa turunan panjang dan tikungan yang cukup tajam. Untuk melewati ruas jalan ini memerlukan konsentrasi, kewaspadaan dan keterampilan dalam mengemudikan kendaraannya.

5). Kecelakaan 22 April 2017

Sabtu, 22 April 2017 menjadi sore kelabu bagi kawasan Puncak, Bogor. Kecelakaan bus yang menabrak belasan kendaraan bermotor lainnya merenggut empat korban jiwa. Lokasi kejadian di Jalan Raya Puncak, tepatnya di Tanjakan Selarong, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan data dari Unit Lakalantas Polres Bogor Kabupaten, seperti dilansir kantor berita Antara, Sabtu malam, menyebutkan bahwa korban keempat yang meninggal dunia adalah Diana Simatupang usai 24 tahun, beralamat Griya Cisaup Serpong RT-01/RW-08 Blok AB, Nomor 01 Tanggerang.

Sementara itu, tiga korban meninggal dunia lainnya yang sudah dilaporkan yakni Dadang usia 45 tahun merupakan Kepala Desa Citeko, bertempat tinggal di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua.

Korban kedua bernama Jainudin beralamat Babakan Lebak RT-02/RW-06 Kecamatan Sinar Galih, Kabupaten Bogor, dan Oktariyansyah Purnama Putra (26) warga Jalan Rawa 8 Nomor 634 RT-10/RW-02 Kelurahan Lebak Gajah, Kecamatan Sematang Borong, Kota Palembang.

Peristiwa kecelakaan tersebut juga mengakibatkan tiga orang luka berat dan tiga lainnya luka ringan, para korban telah dilarikan ke rumah sakit terdekat, yakni RSUD Ciawi dan RS Paru Cisarua.

Kecelakaan bermula dari bus Hino Pariwisata PO HS Transport dengan Nomor Polisi AG 7057 UR yang dikemudikan Bambang Hernowo (51) melaju dari arah Puncak menuju Jakarta.

Setibanya di lokasi kejadian Tanjakan Selarong, bus kehilangan kendali, diduga karena remnya blong.

Bus kemudian mengalami hilang kendali dan menabrak sejumlah kendaraan secara beruntun, yakni Grand Livina B 7401 NDY yang dikemudikan oleh Wanda Komara (37) warga kampung Citeko, Kecamatan Cisarua.

Lalu menabrak sepeda motor Viaro B 4446 SBC yang dikemudikan oleh Jaenudin (40) yang tewas saat kejadian.

Bus naas itu juga menabrak mobil Daihatsu Ayla F 1423 NH yang dikemudikan Tommy Gunawan (36) yang mengalami luka ringan, lalu dengan sepeda motor Yamaha Vixion warna hitam yang dikendari oleh Oktariansyah Purnama Putra (26) tewas dalam kecelakaan.

Selanjutnya bus menabrak kendaraan mini bus Avanza warna putih B 1818 EFB yang belum diketahi identitas pengemudinya, selanjutnya menabrak Toyota Rus B 2826 DFL, lalu menabrak lagi angkot F 1976 MP yang dikemudikan M Darus Jaelani (40) yang mengalami luka ringan.

Setelah menabrak angkot, bus kembali menghantam sejumlah kendaraan yang melintas di jalur Puncak.

Kendaraan berikutnya Toyata Avanza B 1347 WOC, lalu Avanza warna hitam F 1851 CD yang dikemudikan oleh Dani Hermansyah (25) warga Perum Griya Raharja, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea. Selanjutnya menabrak sepeda motor Yamaha Vixion warna biru B 3167 CAT yang dikemudikan oleh Hasanudin (22) yang mengalami luka ringan.

Kendaraan berikutnya turut jadi korban hantaman bus yakni Honda Vario yang belum diketahui identitas pengendaranya, lalu sepeda motor Beat F 2711 DG yang dikemudikan Muhammad Silfa Arif (23), warga Jalan Wanajaya, Pasirjaya, Kota Bogor.

Kerugian material akibat kecelakaan tersebut ditaksi sebesar Rp500 juta.

Menurut informasi dari Kanit Laka Polres Bogor Kabupaten IPDA Asep, pengendara bus pariwisata HS tidak mengantongi STNK dan tidak memilik SIM. Bus juga tidak memiliki kartu KIR kendaraan. (edo rusyanto)

foto-foto:istimewa

Perempuan Benteng Keselamatan Jalan Keluarga

21 April 2017

PEREMPUAN menjadi sosok tangguh di rumah, di kantor, bahkan di jalan raya. Di rumah, sebagai ibu dan isteri, dia melayani keluarga dengan sepenuh hati.

Seorang ibu dengan kasih sayang merawat, mendidik, dan membesarkan anak dengan penuh cinta. Kecintaan ibu pada sang anak melebihi kecintaan pada dirinya sendiri. Dia melindungi anaknya dengan sekuat tenaga.

Dalam posisi sebagai isteri, kecintaan pada suami dicurahkan dengan segenap tenaga dan perasaan. Jangan sekali-sekali coba melukai perasaannya, ketika terluka dia mampu berbuat lebih dahsyat. Sayangilah isteri yang sudah memberi segenap waktu, tenaga, perasaan, dan cintanya kepada kita.

Ya, perempuan adalah sosok tangguh di balik kelembutan dan kasih sayangnya yang melimpah. Mereka kini sudah sejajar dengan kaum pria. Di berbagai lini profesi yang semula dikesankan hanya dilakoni para pria, kini sudah dapat ditempati para perempuan. Inilah buah perjuangan emansipasi sosok pahlawan nasional, Raden Ajeng Kartini.

Dalam urusan berlalulintas jalan, perempuan juga punya peran strategis. Dialah garda terdepan keluarga dalam menanamkan kesadaran berlalulintas jalan yang aman dan selamat. Perempuan tak ingin orang yang dicintai direnggut oleh petaka jalan raya bernama, kecelakaan lalu lintas. Beginilah bayangan saya Kartini modern saat ini.

Perempuan yang memiliki pengetahuan luas akan keselamatan jalan bakal menularkannya dengan lemah lembut kepada anggota keluarga. Sentuhan kasih sayangnya bakal memperkuat kesadaran anggota keluarga akan keselamatan jalan (road safety). Cara berlalulintas jalannya pun bakal menempatkan keselamatan sebagai prioritas. Tidak mengumbar emosi apalagi sampai melabrak aturan alias berlalulintas jalan yang ugal-ugalan.

Rasanya perempuan seperti itu menjadi sosok idaman bagi keluarga yang ingin hidup berjalan harmonis dan langgeng tanpa petaka di jalan raya. Anda pasti salah satunya? (edo rusyanto)

Kuis Ala Australia Buat Jaga Kewaspadaan Pengemudi

20 April 2017

MALAM merangkak menuju dinihari ketika sebuah pesan tertulis masuk via akun facebook saya. 

“Malam pak Edo. Apa kabar?” tulis Efi, dari seberang sana, baru-baru ini. 

“Baik. Apa kabar Efi?” jawab saya. 

Dia pun menjawab hal yang sama. Kami sudah cukup lama tidak berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. 

Efi adalah perempuan muda yang gemar berjalan-jalan alias traveling ke manca negara. Kolega saya yang satu ini terkenal cukup dinamis. Suatu waktu ada di Asia, namun di lain kesempatan ada di Australia. Saat berkomunikasi dinihari itu dia sedang ada di Kolombia, Amerika Latin. 

“Pak saya lagi liat-liat foto perjalanan saya di Australia kemarin. Eh, nemu yang kayaknya seru buat dibagi ke followers pak Edo,” sergahnya.

Wah, pasti menarik nih. Seru saya dalam hati. “Foto apa?”

Efi pun mengirimkan foto yang dia maksud. Tampak terlihat ada papan rambu jalan yang bertuliskan pertanyaan kuis. Sedangkan di foto lainnya ditegaskan bahwa kehadiran kuis diharapkan dapat membantu kewaspadaan para pengendara.

“Foto diambil di antara kota Maryborough dan Bundaberg, Australia. Nah, yang di Bruce Highway ini rambu jalan yang berisi pertannyaan trivia quiz,” tuturnya.

Menurut dia, jalanan di Australia banyak yang lurus dan mulus. Kadang, membuat bosan dan bikin ngantuk. “Jadi biasanya di tiap highway ada anjuran dari pengatur jalan raya untuk para pengendara berhenti untuk berisitrahat biar nggak terlalu capek,” kata Efi.

Pertanyaannya, tutur dia, seputar sejarah Queensland dan apa yang menarik dari negara bagian tersebut. Papan pertama isinya pertanyaan, lalu papan berikutnya setelah beberapa kilometer (km) berisi jawaban atas pertanyaan yang ada. “Jarak antar papan rambu yang satu dengan yang lain sekitar 5 kilometer,” urainya.

Kehadiran kuis itu bagi Efi cukup membantu.

“Saya pernah nyetir dari Brisbane, ibu kota Queensland, ke Bundaberg yang jaraknya 400 km. Pas liat rambu ini di tengah-tengah perjalanan justeru bikin semangat karena pengen tau jawabannya,” kata dia.

Dia menceritakan, jalur perjalanan Brisbane-Bundaberg ditempuh dalam delapan jam karena diselingi dengan berhenti untuk istirahat tidur. “Karena sehari sebelumnya gantian nyetir jarak 1.300 km dalam waktu 14-15 jam. Sebenarnya untuk perjalanan Brisbane-Bundaberg tanpa berhenti bisa ditempuh 4-5 jam,” tukasnya.

Menarik juga nih kuis, batin saya. Kewaspadaan pengendara menjadi bekal untuk tetap berkonsentrasi ketika mengemudi. Lewat konsentrasi yang terjaga diharapkan mampu memperkecil potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

Coba Lima Jurus Ini Jika Ketemu Razia Lalin

19 April 2017

KITA kenal beragam bentuk operasi kepolisian lalu lintas di jalan raya. Sebut saja misalnya, Operasi Simpatik, Operasi Zebra, dan Operasi Patuh.

Ketiganya, kalau kita perhatikan seksama, bermuara pada persoalan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan berlalu lintas jalan.

Tak bisa diabaikan bahwa persoalan keselamatan berlalu lintas menempati porsi terbesar. Itu dalam pemikiran saya. Maklum, kepolisian berujar bahwa kecelakaan senantiasa diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Kalau pelanggaran dapat ditekan, kasus kecelakaan juga bisa berkurang dong?

Nah, menghadapi razia lalu lintas jalan sesungguhnya hal yang biasa. Selaku pengendara perlu memperhatikan beberapa hal agar suasana tetap nyaman dan aman. Kalau pengalaman saya seperti ini.

Pertama, selalu membawa kelengkapan surat-surat seperti surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan surat izin mengemudi (SIM). Tentu, masa berlaku surat-surat itu pastikan tetap hidup.

Kedua, ikuti arahan petugas ketika diminta menepi di tempat yang aman dan selamat. Sebisa mungkin ketika berhenti tidak ikut menambah kemacetan lalu lintas jalan.

Ketiga, jawab salam petugas dan ikuti arahan permintaan menunjukan surat-surat yang diminta.

Keempat, pastikan razia yang dihadapi adalah benar adanya/legal. Salah satunya dengan melihat papan informasi adanya kegiatan razia.

Kelima, jika dianggap bersalah karena suatu pelanggaran, mintalah kejelasan kesalahan yang dimaksud dan regulasi yang dilanggar. Tentu, lihat juga identitas sang petugas.

Sebagai warga negara, kita para pengguna jalan tentu saja wajib mematuhi aturan yang berlaku di jalan raya. Salah satunya, mengikuti tata karma operasi yang berlaku.
(edo rusyanto)

Berjumpa Lagi dengan Sumpah Serapah di Jalan Raya

18 April 2017

ORANG mengumpat dengan lantang. Sumpah serapah terlontar dari mulut seorang pria yang saya perkirakan berusia 30 tahunan. Dia membentak pengendara mobil. Entah apa pemicunya.

Posisi saya persis tiga motor di belakang pria pengendara sepeda motor skutik yang tampak emosional tersebut. Arus lalu lintas jalan sempat tersendat di malam yang dingin usai diguyur hujan.

“Turun lu! An**ng. Bangsat,” teriak pria tadi, di tengah keramaian lalu lintas jalan di bilangan Matraman, Jakarta Timur, pada suatu malam, baru-baru ini.

Entah apa yang memicu adu urat saraf itu. Sepintas terlihat pengemudi mobil juga tak mau kalah gertak. Dia membuka kaca jendelanya. Sahut menyahut pun terjadi. Isinya sumpah serapah.

Belasan, bahkan lebih para pengguna jalan yang lain acuh tak acuh. Bisa jadi karena pemandangan seperti itu adalah hal biasa. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas jalan kota Jakarta, para pengendara seakan bersumbu pendek. Disulut sedikit saja meledak.

Setiap hari Jakarta disesaki jutaan kendaraan bermotor. Jalan-jalan dipenuhi warga yang hilir mudik. Tentu saja termasuk penglaju dari kota di sekitar Jakarta, mulai dari Bekasi, Depok, Tangerang hingga Bogor. Tak pelak pada jam-jam sibuk, yakni pagi dan sore hari lalu lintas jalan padat merayap.

Rasa lelah saat berkendara, ditambah segudang problem yang mengguyur warga kota seakan menjadi bubuk mesiu yang mudah meledak. Upaya mengerem ledakan begitu sulit. Kesenggol dikit saat antre dalam kepadatan kendaraan bermotor bisa merembet kemana-mana. Sedikitnya seperti yang saya lihat malam itu, saling melontarkan sumpah serapah.

Berlalu lintas jalan memang tak lagi mengandalkan kewaspadaan semata. Dia juga menuntut kesabaran yang luar biasa. Tak jarang kita lihat mereka yang tidak sabar mencari celah walau merampas hak pengguna jalan yang lain. Misal, melibas trotoar jalan. Jelas-jelas itu adalah hak pedestrian, namun pengendara sepeda motor dengan tega merampasnya.

Belum lagi perilaku menerobos lampu merah, melawan arah, hingga merebut jalur bus Trans Jakarta. Rasa sabar benar-benar diuji. Kalau mau jujur, kemacetan yang terjadi disumbang oleh mereka para pengendara itu sendiri. Sepantasnya, nikmatilah kemacetan yang ada.

Ketika terjadi gesekan yang melahirkan adu urat syaraf, semua bisa merana. Ibarat pepatah, kalah jadi abu, menang jadi arang. Sama-sama dirugikan. (edo rusyanto)

Salah Satu Manfaat SEE, Menghindari Tabrak Samping

17 April 2017

BUKAN mustahil kecelakaan terjadi saat kita berputar arah atau berbelok. Tabrakan terjadi karena ada pengendara lain yang datang dari samping dengan kecepatan tinggi. Brak!

Contohnya seperti dalam tayangan video ini. Mobil yang hendak berputar arah diseruduk pesepeda motor yang melaju kencang di sisi kanan jalan.

Kalau kita perhatikan seksama, mobil memang sudah memberi lampu penunjuk arah atau sein untuk berbelok. Namun, bisa jadi pesepeda motor tidak menduga pergerakan itu. Jadilah tabrak samping.

Kita para pengguna jalan, khususnya pesepeda motor, tak boleh lengah sedikitpun ketika berkendara. Resep untuk mencegah tabrakan seperti video di atas yang utama adalah menerapkan SEE alias see, evaluate, dan execute secara maksimal.

SEE bermakna menghimpun informasi dengan melihat ke arah depan, belakang, dan sekeliling. Lalu, mengkalkulasi risiko. Misal, apakah ketika mendahului sudah cukup aman. Terakhir, mengambil keputusan apakah perlu untuk mendahului atau tetap melaju di belakang kendaraan yang ada di depan.

Langkah penting dalam SEE adalah menebar pandangan jauh ke depan untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Hal itu untuk mengantisipasi pergerakan yang muncul dari obyek bergerak. Di sisi lain, juga mengantisipasi obyek bergerak yang ada di depan seperti misalnya lubang dan gundukan di permukaan jalan.

Belok atau Berputar Arah

Oh ya, bagi kendaraan yang hendak berbelok atau berputar arah, mohon perhatikan hal-hal ini. Pertama, pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, disamping, dan di belakang kendaraan. Kedua, memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.

Nah, khusus untuk langkah kedua, bila tidak dilakukan bisa kena semprit pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tuh kan. (edo rusyanto)

foto:dok ibc