Skip to content

Petaka di Balik Kabut

1 Maret 2015

jalan berkabutpuncak

LANGIT berwarna gelap, matahari bersembunyi. Sesekali terdengar lengkingan dibarengi cahaya di langit. Jemari-jemari langit mulai menjamah bumi siang itu.

Satu per satu kerumunan orang berpakaian serba hitam meninggalkan hijaunya rerumputan. Mereka menuju mobil yang siap membawa keluar dari tempat pemakaman umum. Tinggal Erviant berdua dengan Ryanda.

Keduanya masih memandang jejeran batu nisan yang ada dihadapannya. Sesekali tampiasan air hujan menerpa wajah, lolos dari lingkaran payung hitam yang menaungi kedua sahabat itu.

“Mari kita pulang. Hujan semakin deras,” ujar Erviant lirih kepada sahabatnya.

Ryanda masih belum mau beranjak. Kakinya masih terasa berat. Dia masih sulit menerima kenyataan. Di benaknya masih melintas bayangan canda si buah hati dan senyum isteri tercinta, hingga akhirnya tiba malam petaka.

* * *

“Mas, kayaknya kita gak usah pulang sekarang. Cuaca buruk datang malam ini,” sergah Ratih kepada Ryanda ketika jarum jam menunjukan jam sembilan malam.

Mereka hari itu menghadiri syukuran pertunangan adik Ratih. Acara digelar di rumah mertua Ryanda di dekat Cipanas, Cianjur. Hawa pegunungan nan sejuk di sekitar rumah orang tua Ratih selalu membawa kerinduan bagi Ryanda untuk datang lagi dan datang lagi. Setidaknya satu kali dalam sebulan dia bersama keluarga menyempatkan diri untuk berkunjung. Hitung-hitung keluar dari rutinitas kota Jakarta yang panas. Dalam kondisi normal hanya butuh waktu tidak lebih dari tiga jam ke pinggiran Jakarta.

Acara syukuran sudah rampung seusai Isya. Sebagian kerabat Ratih juga sudah berpamitan. Ryanda memutuskan hal serupa.

“Gak apa-apa, kita pulang sekarang saja. Hanya hujan biasa kok,” jawab dia sekenanya. Cuaca seperti itu bukan kali pertama dilewati, ucapnya dalam hati.

Mobil Ryanda meluncur menelusuri aspal yang mulai basah diguyur hujan. Lalu lintas jalan masih cukup ramai. Tak jarang dia berpapasan dengan mobil-mobil turun dari arah puncak. Hujan kian lebat dengan kabut pekat. Satu dua mobil yang berpapasan tampak memakai lampu kabut berwarna kuning.

Kelokan demi kelokan dilalui dengan lancar. Tanjakan dan turunan dilahap sempurna dengan kecepatan sedang.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok sepeda motor yang mendahuluinya dari sisi kiri di sebuah kelokan. Kuda besi itu muncul tiba-tiba, keluar dari area blind spot. Tak ada lampu isyarat atau bunyi-bunyian sebagai isyarat hendak mendahului.

“Apa susahnya memberi isyarat untuk berpindah lajur. Tidak lebih dari dua detik jari menggeser tombol untuk menyalakan lampu sign,” gumam Ryanda dalam hati.

Petaka tiba ketika sekonyong-konyong sebuah mobil multi purpose vehicle muncul dari arah depan. Mobil berwarna putih itu mendahului truk yang ada di depannya. Sang pengemudi kaget karena saat bersamaan muncul kuda besi dari arah depan. Mobil putih itu membanting setir ke kanan jalan, masuk ke jalur berlawanan. Saat itulah mobil Ryanda muncul. Brakkk!!!

* * *

Perjuangan memulihkan luka tak berlangsung lama. Upaya yang dilakukan para dokter sudah cukup maksimal. Ratih dan si buah hati yang baru saja duduk dibangku kelas satu sekolah dasar kembali kepada Sang Maha Pencipta.

Petaka jalan raya selalu membawa duka. Ryanda kehilangan dua orang terkasih dalam seketika. Tak ada luka yang lebih perih dibanding kehilangan dua orang tercinta yang terjadi di depan mata. Kepedihan serupa menimpa tujuh puluhan keluarga di Indonesia yang dicerabut setiap hari oleh sang jagal jalan raya. Entah sampai kapan taring sang maut di jalan raya bisa ditumpulkan.

Duka Ryanda bagian dari tujuh puluhan korban kecelakaan yang meregang nyawa setiap hari di jalan raya. Boleh jadi diantara mereka yang tumbang di atas aspal adalah pilar ekonomi keluarga. Tempat bergantung hidup seluruh keluarga. Bukan tak mungkin ekonomi keluarga luluh lantak akibat petaka jalan raya. Masa depan anak-anak bangsa pun kian dikelilingi kabut. Harapan untuk mendapat secercah cahaya menyinari masa depan butuh perjuangan nan keras.

Siang itu jemari langit kian ramai menjamah bumi. Ryanda dan Erviant akhirnya melangkahkan kaki keluar dari tempat pemakaman umum, walau terasa berat. Bumi seperti berduka, langit tampak murung seirama hati Ryanda yang tersayat-sayat sembilu.

“Kau harus tabah sahabatku,” seru Erviant seraya menutup pintu mobil.

Titik-titik air berebutan menerpa kaca mobil. Erviant memacu perlahan mobil keluaran tahun dua ribu dua belas. Aspal hitam yang dilintasi tak sedikit yang tergenang oleh air yang turun dari langit.

Ryanda yang duduk disampingnya hanya menghela nafas. Dia masih menerawang. Sepanjang perjalanan tak banyak perbincangan yang keluar dari mulut dua sahabat itu. Erviant mencoba menghibur.

Cipayung, awal Maret 2015

(edo rusyanto)

Tiap Hari, Satu Kasus Kecelakaan Berponsel

28 Februari 2015

32_ponsel2

AKTIFITAS berponsel sambil mengemudi berisiko tinggi. Alih-alih mau berkomunikasi justeru bisa berujung pilu.

Bagi komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) aktifitas berponsel yang dilakukan saat mengemudi bisa merusak konsentrasi. Dampak paling kecil dari berponsel sambil nyetir adalah laju kendaraan menjadi super lambat dan bukan mustahil menimbulkan antrean yang tidak perlu. Padahal, arus lalu lintas sedang dalam kondisi normal. “Bukan mustahil bisa memicu kecelakaan,” ujar Iful, ketua Kopcau saat kopi darat, di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2015 malam.

Faktanya demikian. Setiap hari, rata-rata ada satu kasus kecelakaan yang dipicu aktifitas berponsel sambil mengemudi. Itu data dari Korlantas Polri yang menaungi keselamatan berlalu lintas jalan di Indonesia. Kondisi nyaris serupa terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, rerata terjadi dua kasus kecelakaan setiap harinya.

Kecelakaan bisa saja terjadi lantaran sang pengemudi menelepon atau membaca dan mengirim SMS. Perhatian sang pengendara amat mungkin teralihkan dari konsentrasinya dalam mengemudi. Kalau sudah begitu bukan mustahil sang pengemudi menjadi obyek atau subyek kecelakaan lalu lintas jalan. Apa pun posisinya, kecelakaan lalu lintas jalan pasti menyakitkan.

“Makanya kita mengajak masyarakat agar tidak berponsel sambil mengemudi. Ajakan itu kami lakukan lewat poster digital yang disebar lewat media sosial,” papar Eko, humas Kopcau.

Poster digital kali ini menggambarkan risiko berponsel sambil mengemudi. Lewat tangan kreatif Bayu, salah seorang anggota Kopcau, poster menampilkan gambar ponsel yang retak dan terkena cipratan darah. Ponsel tadi digambarkan dengan latar belakang aspal jalan raya yang dibalut kalimat ‘Setiap hari, 1 kasus kecelakaan dipicu aktifitas berponsel.’

“Yang diluncurin kali ini adalah poster digital yang ke-32,” kata dia.

Poster digital disebarkan lewat akun twitter @kopdarpengicau dan jejaring media sosial lainnya, seperti path dan facebook. Setelah diluncurkan via akun twitter tadi, para anggota komunitas Kopcau maupun followers akun tersebut bahu membahu menyebarluaskannya. “Dengan begitu semoga masyarakat kian peduli untuk tidak berponsel sambil mengemudi,” ujar Iful.

Ya. Mencegah lebih baik. Mengenali potensi-potensi pemicu kecelakaan lalu kemudian menghindarinya adalah bagian dari upaya mereduksi fatalitas yang lebih buruk jika terjebak dalam insiden kecelakaan. Ajakan untuk tidak berponsel saat mengemudi dari Kopcau sebenarnya juga bukan hal main-main. Bagaimana tidak, kalau polisi mau, pengemudi yang berponsel bisa dibidik oleh UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan ini mempunyai sanksi cukup berat. Para pelanggar aturan bisa dikenai sanksi pidana penjara maksimal tiga bulan. Atau, denda maksimal sebesar Rp 750 ribu. (edo rusyanto)

Cerita di Balik Jalan Layang Rp 2,5 Triliun

27 Februari 2015

tendean jalan layang

RASANYA kota Jakarta memang mesti terus berbenah. Infrastruktur transportasinya mutlak terus dipermak, salah satunya adalah penambahan ruas jalan. Selain, tentu saja moda transportasi umumnya juga mesti terus dibikin lebih humanis.

Saat ini, perbandingan panjang jalan dengan kendaraan komposisinya jomplang. Jumlah kendaraan bermotor mencapai sekitar 16 juta unit dengan pertumbuhan sekitar 10% per tahun. Sedangkan panjang jalan tak mampu mengakomodasi secara maksimal, maklum panjang jalan hanya bertumbuh 0,01% per tahun. Buntutnya, kemacetan lalu lintas jalan terjadi disana-sini, terutama pada jam-jam sibuk seperti pagi dan petang hari.

Saking makin rumitnya kondisi infrastruktur jalan, pemerintah daerah DKI Jakarta sejak 2010 gemar membangun jalan layang non-tol (JLNT). Hasilnya, saat ini ada dua JLNT, yaitu yang menghubungkan Kampung Melayu dengan Tanah Abang dan Antasari-Blok M.

Mau tahu nilai kedua JLNT itu?

Pemda DKI Jakarta mengatakan, ruas Antasari-Blok M menghabiskan dana sekitar Rp 1,28 triliun dan Kampung Melayu-Tanah Abang sebesar Rp 737 miliar. Dengan begitu, total nilai kedua JLNT itu sekitar Rp 2,02 triliun.

Oh ya, JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang yang mulai dioperasikan pada Senin, 30 Desember 2013, memiliki panjang 2,7 kilometer (km). Sedangkan JLNT Antasari-Blok M yang mulai dioperasikan pada Selasa, 15 Januari 2013 itu memiliki panjang 4,8 km. Hutama Karya sebagai pemimpin konsorsium JLNT Antasari-Blok M mengaku telah merampungkan JLNT ini pada akhir Desember 2012.

Di kedua JLNT tersebut sepeda motor tidak boleh melintas. Salah satu alasan penting adalah demi keselamatan para pesepeda motor karena terpaan anginnya cukup kencang. Maklum, ketinggian kedua JLNT itu berkisar 10-20 m dari permukaan jalan eksisting.

Nah, pada 2015 ini, Pemda DKI Jakarta mencanangkan satu lagi jalan layang, yakni ruas Ciledug-Tendean. Bedanya, jalan layang sepanjang 9,3 km ini dipersiapkan untuk melintasnya bus Trans Jakarta. Pembangunan jalan yang ditaksir menghabiskan dana sekitar Rp 2,5 triliun ini dimulai tahun 2015 dan ditargetkan rampung pada akhir 2016.

Jalan layang yang memiliki lebar 9 m dan terdiri atas dua arah ini memiliki ketinggian berkisar 18-23 m. Peruntukkannya untuk melintas bus Trans Jakarta koridor XIII, yaitu rute Ciledug-Kapten Tendean.

Sama dengan dua JLNT sebelumnya, jalan layang ini juga bisa dipastikan tidak untuk perlintasan sepeda motor. Ya iyalah, wong jalur ini untuk lintasan bus Trans Jakarta.

Pemda DKI Jakarta bilang, jalan layang serupa bakal dibangun untuk dua koridor bus Trans Jakarta lainnya. Kalau melihat rancangan yang pernah beredar koridor itu adalah Kalimalang-Blok M dan Depok-Manggarai. Pilihan membuat jalan layang karena jalan eksisting bakal kian karut marut bila sebagian lajurnya dipakai untuk busway.

kondisi transportasi jakarta

Oh ya, pada 2015 ini, PT Transportasi Jakarta mengaku jumlah bus Trans Jakarta yang beropreasi sebanyak 460 unit. Jumlah itu tentu saja keberatan bila memikul beban 350 ribu penumpang per hari. Semula, dalam sebelas tahun terakhir, terdapat 794 bus Trans Jakarta. Seiring waktu, jumlah itu ada yang rusak sehingga tidak bisa beroperasi.

Jakarta yang setiap hari terdapat dua puluh jutaan perjalanan membutuhkan moda transportasi yang memungkinkan orang bergerak secara massal. Jenis angkutan umum seperti itu salah satunya adalah bus, selain tentu saja mass rapid transit (MRT) yang kini masih dalam pengerjaan awal. Bila orientasinya untuk menyokong pergerakan orang, pilihan membangun angkutan umum adalah langkah logis. Tapi, bila orientasinya memudahkan pergerakan kendaraan pribadi, ya bikin jalan terus seperti dua JLNT yang sudah ada sebelumnya. Wong yang melintas adalah mobil pribadi. (edo rusyanto)

Begal Brutal

26 Februari 2015

begal motor berita viva

BERITA kebrutalan begal kian meruyak. Mencekam.

Begal yang beroperasi di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) mengincar pesepeda motor. Dari berita yang beredar, kasus pembegalan terjadi memasuki tengah malam hingga dinihari. Korban yang melawan berujung dengan bersimbah darah, meregang nyawa.

Kepolisian tak tinggal diam. Razia digencarkan, tentu termasuk operasi pemberantasan. Tapi, ibarat jamur di musim penghujan, begal muncul di beragam titik. Teror pun menyebar. Rasa takut meruyak.

“Gue sekarang ganti jalur yang lebih rame kalau pulang malem,” ujar seorang pesepeda motor saat berbincang dengan saya, di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2015 petang.

Bak gayung bersambut, reaksi masyarakat pun mencuat. Ada yang berunjuk rasa mempertanyakan sejauhmana taring para penegak hukum. Bahkan, ada yang main hakim sendiri. Begal yang tertangkap diamuk massa hingga ada yang meluapkan kegeraman dengan aksi pembakaran.

“Saya jadi ngeri pulang malam,” tutur perempuan pekerja yang tinggal di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

Ketika rasa aman menjadi mahal di jalan raya, kita bertanya-tanya kemana peran para penegak hukum seperti dilontarkan para mahasiswa yang berunjuk rasa di Polresta Depok, Rabu. Padahal, Negara semestinya wajib hadir menjamin keselamatan warganya, termasuk di jalan raya. Menjamin rasa aman, nyaman, dan selamat. Walau, di sisi lain, para pengguna jalan dituntut dapat bertahan hidup di tengah intaian serigala kota.

Sejarah bangsa kita mengenal kekerasan demi kekerasan. Kisah begal sudah ada sejak zaman penjajahan. Aksi rampas merampas menjadi bagian denyut kehidupan negeri yang berjuluk Zamrud di Khatulistiwa. Seiring perputaran waktu, kemasannya saja yang berganti-ganti. Esensinya hampir sama, perampasan hak orang lain.

Jurus Penangkal

Dalam kisah kekinian yang meruyak belakangan ini, kita para pesepeda motor mesti ekstra waspada. Selain menghindari diri menjadi korban petaka jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan, juga harus berjibaku menjaga diri dari terkaman serigala kota yang buas. Walau, keganasan petaka jalan raya lebih mengerikan dengan merenggut 70-an jiwa per hari. Inilah teror sejati di jalan raya. Siap menjagal siapa saja tanpa mengenal waktu, apalagi status sosial sang korban.

Sejumlah tips pun bergulir untuk mempertahankan hak hidup ketika berlalu lintas jalan. Jurus penangkal dari cabikan taring sang pemangsa merupakan wujud ikhtiar.

Senantiasa berdoa sejenak menjelang berkendara menjadi bagian upaya menangkal malapetaka. Berserah diri kepada Yang Maha Kuasa bisa membuat rasa nyaman. Walau, hal itu juga mesti diiringi dengan sejumlah ikhtiar.

Seorang teman berseloroh, cara paling efektif adalah menghindari titik-titik rawan. Berbekal pengetahuan yang maksimal atas rute yang dilintasi, bisa memanfaatkan jalur alternatif yang diindikasi kian rawan menjelang dinihari. Tentu saja yang lebih efektif lagi adalah tidak berkendara saat malam memeluk pagi. Namun, ketika kebutuhan memaksa berkendara menjelang pagi, jurus-jurus penangkal pun mesti disiapkan. Salah satunya tadi, hindari rute yang diindikasi rawan.

Langkah lain adalah tidak berkendara sendirian. Asumsinya, bila ada teman dalam perjalanan bisa saling berbagi beban bila mendapat ancaman. Di bagian lain, senantiasa waspada dengan melihat kaca spion dan menggunakan lampu utama sepeda motor yang cukup terang. Bahkan, memastikan suara klakson dalam kondisi berfungsi dengan baik. Maklum, saat ancaman mendekat, salah satu tips adalah membunyikan klakson sambil mengarah ke area yang banyak orang. Suara klakson tadi bisa mengundang perhatian orang sehingga bantuan yang diharapkan bisa datang tepat waktu.

Disinilah kian pentingnya memakai alat perlindungan diri yang mumpuni ketika bersepeda motor, seperti helm dan jaket yang menunjang.

Pada bagian lain, memiliki nomor kantor polisi terdekat di sepanjang rute perjalanan menjadi salah satu bagian jurus penangkal. Ketika terpaksa menghadapi ancaman kekerasan dan masih memiliki kesempatan meminta bantuan, nomor telepon tadi bisa sedikit membantu keluar dari kepiluan yang ada.

Proses meminta bantuan tentu juga dilakukan dengan cara menarik perhatian warga. Salah satunya dengan cara berteriak. Untuk melakukan hal ini juga pertimbangkan keselamatan diri mengingat keselamatan menjadi segalanya. Harta bisa dicari, tapi nyawa tak datang dua kali. (edo rusyanto)

Ssssttt… Tabrak Belakang Ternyata Paling Banyak

25 Februari 2015

poster_konsentrasi_kopcau7

BENERAN. Gara-gara ngelamun alias bengong, saya pernah nyium bemper belakang mobil orang. Sekalipun gak terlalu keras, insiden itu cukup mengganggu pikiran.

Insiden tidak menimbulkan korban cedera, hanya menimbulkan sedikit goresan di bember. Maklum, ciumannya pakai roda depan sepeda motor dalam kecepatan sekitar 40 kilometer per jam (kpj).

Setelah dipikir-pikir, memang benar bahwa konsentrasi saat berkendara adalah harga mati. Maksudnya, kita para pengemudi mutlak untuk berkonsentrasi. Sedangkan kata kunci untuk konsentrasi ada pada fokus dan waspada. Tanpa kedua aspek tadi konsentrasi bisa buyar.

Dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), setiap pengemudi diwajibkan berkonsentrasi. Siapa saja yang melanggar bisa dikenai sanksi penjara maksimal tiga bulan. Atau, denda maksimal Rp 750 ribu.

Tabrak depan-belakang, seperti yang terjadi pada saya sekitar tujuh tahun lalu ternyata masuk kategori jenis kecelakaan paling banyak. Untuk di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), tabrak depan-belakang menempati nomor wahid. Contohnya pada 2014. Saat itu, sumbangan tabrak depan-belakang menyumbang 21,64%. Angka itu di posisi teratas dari berbagai jenis kecelakaan lainnya.

Setiap hari ada empat kasus kecelakaan tabrak depan-belakang di Jakarta dan sekitarnya pada 2014. Bila dibandingkan dengan setahun sebelumnya turun tipis, yakni sekitar 3%.

Jenis kecelakaan terbesar kedua adalah tabrak depan-samping. Untuk jenis yang ini kontribusinya sekitar 19%. Setiap hari, rata-rata ada tiga kasus kecelakaan depan-samping.

Apa pun jenisnya, kecelakaan bisa merugikan banyak kalangan. Pastinya, kecelakaan menyakitkan bagi korban maupun sang pelaku. Khusus jenis tabrak depan-belakang, mengisyaratkan kita para pengemudi untuk benar-benar ekstra waspada saat berkendara. Jangan pertaruhkan keselamatan jiwa hanya untuk melakukan aktifitas yang justeru bisa berujung sia-sia. (edo rusyanto)

Pembelajaran dari Rarka dan Pedestrian

24 Februari 2015

pedestrian nyeberang jalan

LAGI, pesepeda motor nabrak pedestrian berujung ke meja hijau. Rarka, kita sebut saja begitu, baru saja pulang dari acara ulang tahun temannya. Malam terus bergulir. Lalu lintas jalan cukup ramai, sesekali terdengar suara klakson dari kendaraan bermotor yang melintas.

Sepeda motor yang dikemudikan Rarka melaju tak lebih dari 50 kilometer per jam (kpj). Dari jarak sekitar 15 meter dia melihat pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Reflek, pelajar usia kelas dua sekolah menengah atas (SMA) itupun membunyikan klakson. Dia tak sempat menghindar. Sang pedestrian yang sempat melambaikan tangan tanda hendak menyeberang terlihat agak panik, begitu juga Rarka. Dan, brakkk!!!

Setang sepeda motor Rarka menyerempet pedestrian. Dia terjatuh, begitu juga sang penyeberang jalan. Keduanya terluka. Tapi, pedestrian tadi tak tertolong, meninggal dunia.

Lima bulan kemudian, perkara pun bergulir ke meja hijau. Sambil menanti persidangan dan selama menjalani persidangan, Rarka mesti menjalani tahanan kota. Hampir dua bulan dia dijadikan tahanan kota.

Sang Jaksa Penuntut Umum meminta hakim memvonis Rarka hukuman penjara satu tahun kurungan dipotong masa tahanan. Anak di bawah umur itu dituduh lalai dan melanggar pasal 310 Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Setelah melewati beberapakali sidang, Majelis Hakim punya pandangan lain. Tepat sekitar sembilan bulan setelah kejadian kecelakaan, Rarka divonis tahanan kota selama tiga minggu. Siswa yang belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) itu pun dikembalikan ke orang tuanya.

Prioritas dan Konsentrasi

Kita tahu bahwa pedestrian atau pejalan kaki termasuk yang harus didahulukan. Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib mendahulukan pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Hal itu diatur dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ. Walau, tentu saja menyeberang jalannya sesuai dengan tempat yang ditentukan dan mengikuti lampu pengatur lalu lintas jalan.

Bila tidak ada marka dan rambu jalan yang mengatur hal itu, pedestrian wajib memperhatikan situasi sekitar. Setelah memastikan cukup aman, ketika menyeberang pun mesti memberi isyarat kepada pengguna kendaraan bermotor, salah satunya dengan melambaikan tangan ke arah kendaraan yang datang dari arah kanan atau kiri jalan.

Pedestrian termasuk kelompok yang ringkih kecelakaan. Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, pada 2014, setiap enam hari satu pejalan kaki tewas akibat petaka di jalan raya itu. Di seluruh Indonesia setiap hari belasan pedestrian tewas akibat kecelakaan, sedangkan di dunia mencapai 700-an tewas per hari.

Di sisi lain, kita para pengendara mutlak berkonsentrasi. Misal, pesepeda motor wajib melemparkan pandangan sejauh mungkin ke arah depan yang akan dilintasi. Pandangan yang ke arah depan tadi membantu untuk mengantisipasi munculnya obyek bergerak atau obyek tidak bergerak seperti lubang.

Konsentrasi diatur dengan tegas dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ. Pengemudi yang tak berkonsentrasi bisa dijerat sanksi. Pilihannya merepotkan, bisa dikurung penjara maksimal tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu.

Lantas, bagaimana untuk tetap menjaga konsentrasi?

Ada dua hal penting untuk tetap mampu berkonsentrasi penuh. Pertama, kondisi pengemudi mesti dalam keadaan sehat. Tubuh yang sehat bisa membantu konsentrasi dan kemampuan mengantisipasi situasi. Tubuh yang bukat membuat seseorang bisa berpikir lebih nyaman.

Kedua, tetap fokus dan waspada. Mengemudi adalah pekerjaan serius. Lengah sedikit saja bisa berakibat fatal. Bagaimana tidak, kecelakaan lalu lintas jalan bisa terjadi dalam hitungan detik. Ketika mengemudi tak perlu tergoda oleh aktifitas lain, misal, menelepon, melihat obyek memikat di sisi jalan, bahkan bersenda gurau.

Sudah terlalu banyak korban kecelakaan lalu lintas jalan yang bergelimpangan di Indonesia. Setiap hari, rata-rata sebanyak 70-an jiwa melayang lantaran kecelakaan di jalan. Rasanya tak perlu kita masuk dalam statistik tadi.

Kecelakaan lalu lintas jalan merepotkan. Banyak pihak yang dirugikan. Apalagi, bila perkara masuk ke ranah pengadilan. Ada waktu yang terbuang, ada uang yang melayang, belum lagi persoalan gangguan kejiwaan. Kalau potensi kecelakaan dan fatalitas kecelakaan bisa dikurangi, kenapa tidak? (edo rusyanto)

Lima Tahun, Nyaris Empat Juta Motor Geruduk Jakarta

23 Februari 2015

bus kenpri dan motor di jakarta

BISNIS sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya masih cukup legit. Bayangkan, dalam empat tahun terakhir nyaris empat juta unit yang masuk ke Ibu Kota Republik Indonesia tercinta ini.

Dalam rentang 2011-2015, rata-rata per hari sepeda motor yang menggerojok Jakarta tak kurang dari 2.400 unit. Itu pun dengan catatan, untuk tahun 2015 baru memakai data Januari.

Tampaknya sepeda motor masih menjadi kendaraan favorit bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Sebuah survey menyebutkan bahwa mayoritas pergerakan warga kota untuk berangkat kerja mayoritas menggunakan sepeda motor. Hasil survey Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) tahun 2010 itu menegaskan bahwa 48,7% pergerakan warga memakai sepeda motor. Padahal, pada 2002, penggunaan sepeda motor baru sekitar 21,2%. Artinya, penggunaan sepeda motor melonjak lebih dari 100%.

Banyak yang menilai bahwa peningkatan pendapatan perkapita mendorong kepemilikan kendaraan bermotor termasuk sepeda motor. Artinya, bila penjualan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya terus meningkat dalam lima tahun terakhir juga mencerminkan peningkatan daya beli masyarakatnya.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) memperlihatkan adanya lonjakan penjualan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya. Bila pada 2011 total penjualan motor di wilayah itu sekitar 625 ribuan unit, tahun 2014 sudah menyentuh 1,1 juta unit. Data itu menyebutkan, terjadi lonjakan sekitar 78% dalam rentang waktu tersebut.

Oh ya, Jakarta menyumbang sekitar 14% terhadap total penjualan sepeda motor anggota Aisi tahun 2014. Tahun itu, total penjualan anggota Aisi mencapai sekitar 7,9 juta sepeda motor.

Meruyaknya sepeda motor tak bisa terlepas dari kebutuhan transportasi warga kota. Si roda dua ini dianggap mangkus dan sangkil bila dibandingkan dengan angkutan umum yang ada. Kuda besi dianggap bisa memenuhi kebutuhan untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain (pont to point). Di sisi lain, sistem pembiayaan atau mekanisme pembayaran ikut menopang keterjangkauan konsumen kepada sepeda motor. Peran lembaga multifinance amat menonjol hal itu bisa dilihat dari nyaris 90-an% pembelian sepeda motor memakai sistem kredit via multifinance.

Saking mangkus dan sangkilnya, pergeseran penggunaan angkutan umum ke sepeda motor amat drastis. Survey JUTPI menyebutkan bahwa pada 2002 penggunaan bus sebagai angkutan umum masih sekitar 38,3%. Namun, pada 2010 menyusut menjadi sekitar 12,9%.

motor melonjak di jakarta_Page_06

Ironisnya sepeda motor juga memiliki risiko cukup tinggi jika dikaitkan dengan masalah kecelakaan lalu lintas jalan. Baik itu sebagai pelaku (menabrak) atau sebagai korban (ditabrak). Pada 2014, di wilayah Polda Metro Jaya keterlibatan sepeda motor mencapai sekitar 56% dalam kecelakaan di jalan.

Untuk urusan yang ini mesti menjadi perhatian kita semua. Terlebih korban kecelakaan mayoritas adalah usia produktif. Jakarta setiap hari kehilangan dua orang akibat kecelakaan di jalan. Belum lagi yang menderita luka-luka, setiap hari 60-an orang cedera akibat petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.742 pengikut lainnya.