Skip to content

Indonesia Belum Masuk Level Keselamatan Jalan Negara Maju

7 Desember 2017
tags:

SUASANA ballroom gedung Plaza Bapindo, Jakarta Selatan dipenuhi banyak orang. Saya taksir jumlahnya lebih dari seratus orang. Maklum, ruangan di lantai 9 gedung jangkung di pusat bisnis Jakarta itu ketempatan ajang nasional, Indonesia Road Safety Award (IRSA) 2017.

Bagi saya, IRSA menjadi ajang tahunan yang cukup konsisten menebar semangat berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Tahun 2017 adalah kali kelima sejak digulirkan pada 2013. Penyelenggaranya, PT Asuransi Adira Dinamika atau yang kondang disebut Adira Insurance dan bermitra dengan majalah Swa.

“Kami berharap pesan dan semangat IRSA terus menular hingga seluruh wilayah di Indonesia,” kata Julian Noor, Direktur Utama Adira Insurance, dalam sambutan Penghargaan IRSA 2017, di Jakarta, Kamis, 7 Desember 2017 siang.
Dia bicara di hadapan perwakilan lima pilar keselamatan lalu lintas jalan di Indonesia yang mencakup Kementerian perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Korlantas Mabes Polri. Kali ini, hanya Bappenas yang hadir tidak diwakili.

Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro selaku menteri langsung hadir sendiri. “Saya menyampaikan permohonan maaf Bapak Menteri Perhubungan yang sedang ada tugas lain,” ujar Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiadi, saat membacakan sambutan Menteri Perhubungan.

Selain petinggi lima pilar itu tentu saja hadir perwakilan 23 pemerintah daerah (pemda) selaku finalis IRSA 2017. Di luar itu tampak sejumlah akademisi, aktivis keselamatan jalan, dan para jurnalis dari berbagai media massa.
Ke-23 pemda itu merupakan yang lolos dari 12o kota dan kabupaten yang dijaring panitia IRSA 2017. Jumlah peserta kali ini lebih besar dibandingkan ajang serupa 2016 yang sebanyak 110 kota dan kabupaten.

Finalis dijaring berdasarkan data-data keselamatan jalan seperti jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah kecelakaan, jumlah fatalitas kecelakaan, dan data pendukung lainnya melalui tahap shortlisting. Nah, saya hampir setiap tahun ajang IRSA kebagian di tahap shortlisting, alias memilih daftar kecil calon finalis.

Setelah itu dilakukan penjurian. Sebelum itu ada tahap obeservasi lapangan dan survei.

Belum Level
Kecelakaan lalu lintas jalan masih terus bermunculan di Tanah Air. Indonesia bahkan mencatat 280-an kasus per hari yang merenggut 70-an jiwa per hari pada 2016. Belum lagi, setiap hari, ratusan orang yang menderita luka ringan dan berat.
“Karena itu, masalah keselamatan jalan merupakan program utama kami,” ujar Bambang.

Dia menilai, Indonesia belum masuk level tingkat keselamatan jalan negara-negara maju. Di sejumlah negara maju yang dia lihat seperti di Jerman, Jepang, dan Korea Selatan, kehadiran polisi lalu lintas (polantas) tidak mencolok di jalan-jalan kota. “Di Jerman dan Jepang tidak terlihat polantas di jalan. Disana diterapkan CCTV dan tilang elektronik. Bahkan, di Seoul juga diterapkan hal yang sama. Ini mungkin tingkat keselamatan negara maju. Kita belum sampai pada level negara maju,” ujar Menteri Bappenas.

Di negara maju tingkat fatalitas kecelakaan jauh lebih kecil dibandingkan negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut Bambang, kualitas jalan penting untuk memangkas fatalitas kecelakaan, selain perilaku pengguna jalan dan kendaraan yang aman dan selamat. “Tantangan besar kita adalah menurunkan fatalitas, terutama bagi pengguna sepeda motor dan pejalan kaki. Tahun 2016, sebanyak 72% kecelakaan melibatkan sepeda motor. Dan, sebanyak 80% korban kecelakaan adalah usia produktif sehingga fatalitas tinggi bisa membawa kemiskinan para keluarga korban kecelakaan,” papar dia.


Karena itu, kehadiran IRSA menjadi ajang penting dalam menyebarkan sinergisitas keselamatan jalan di Indonesia. “IRSA menjadi inspirasi berperilaku keselamatan lalu lintas setara negara maju. Selain, tentu saja menjadi ajang kompetisi sehat, forum koordinasi sekaligus untuk saling belajar,” ujar Bambang.

Sementara itu, kata Julian, pemenang IRSA dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah kota dan kabupaten di seluruh Indonesia untuk dapat mengembangkan program-program dan tata kelola keselamatan jalan dengan lebih baik lagi.
Para pemda yang menjadi finalis IRSA 2017 memang terus meningkatkan tata kelola tersebut. Bogor misalnya.
Kota tersebut terpilih sebagai finalis salah satu kota terbaik kategori Kota dengan Kepadatan Penduduk Tinggi. Kota ini terpilih sebagai pemenang penghargaan per pilar “Road Safety”, yakni kategori Pilar dua jalan yang berkeselamatan (Safer Road) dan Pilar tiga kendaraan yang berkeselamatan (Safer Vehicle). Selain itu, meraih penghargaan khusus terbaik kota pada upaya meningkatkan kualitas sarana pejalan kaki yang berkeselamatan.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto yang menerima langsung penganugerahan tersebut dari Menteri Bappenas mengatakan, Pemkot Bogor terus memperbaiki sarana publik. Salah satunya, dengan membangun akses bagi pejalan kaki yakni fasilitas pedestrian secara bertahap.

“Tahap pertama sudah dibangun di seputaran Kebun Raya Bogor. Kota Bogor mendapatkan penghargaan dalam penilaian penambahan fasilitas bagi para pejalan kaki,” kata Bima, seperti dilansir Antara, Kamis, 7 Desember 2017.

Tahun depan, lanjut Bima, Pemkot Bogor sudah menganggarkan untuk melanjutkan pembangunan fasilitas pejalan kaki ke beberapa wilayah, seperti Jl Suryakencana dan Jl Jendral Sudirman. (edo rusyanto)

Daftar Nama Kota dan Kabupaten Indonesia Road Safety Award 2017 :

1.  Kategori Kota dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Tinggi :
– Pemenang Utama :  Kota Tangerang.
– Pemenang Pilar 1 Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management) : Kota Tangerang.
– Pemenang Pilar 2 Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road) : Kota Tangerang.
– Pemenang Pilar 3 Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vehicle) : Kota Bogor.
– Pemenang Pilar 4 Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User) : Kota Bogor.
– Pemenang Pilar 5: Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Pre and Post-Crash Response) : Kota Tangerang.

2. Kategori Kota dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Rendah :
– Pemenang Utama : Kota Semarang.

– Pemenang Pilar 1 Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management) : Kota Semarang.
– Pemenang Pilar 2 Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road) : Kota Semarang.
– Pemenang Pilar 3 Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vehicle) : Kota Semarang.
– Pemenang Pilar 4 Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User) : Kota Samarinda.
– Pemenang Pilar 5: Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Pre and Post-Crash Response)
Kota Semarang.

3. Kategori Kabupaten dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Tinggi :
– Pemenang Utama : Kabupaten Pekalongan.

– Pemenang Pilar 1 Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management) : Kabupaten Pacitan.
– Pemenang Pilar 2 Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road) : Kabupaten Pekalongan.
– Pemenang Pilar 3 Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vehicle) : Kabupaten Pekalongan.
– Pemenang Pilar 4 Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User) : Kabupaten Pekalongan.
– Pemenang Pilar 5: Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Pre and Post-Crash Response)
Kabupaten Pekalongan.

4. Kategori Kabupaten dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Rendah :
– Pemenang Utama : Kabupaten Bangka.

– Pemenang Pilar 1 Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management) : Kabupaten Sintang.
– Pemenang Pilar 2 Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road) : Kabupaten Bangka.
– Pemenang Pilar 3 Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vehicle) : Kabupaten Banyuasin.
– Pemenang Pilar 4 Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User) : Kabupaten Bangka.
– Pemenang Pilar 5: Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Pre and Post-Crash Response) : Kabupaten Bangka.

5. Kategori Kota/Kabupaten “Excellent City 2017” :
– Pemenang Utama : Kota Surabaya.

– Pemenang Pilar 1 Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management) : Kota Balikpapan
– Pemenang Pilar 2 Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road) : Kota Surabaya.
– Pemenang Pilar 3 Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vehicle) : Kota Balikpapan.
– Pemenang Pilar 4 Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User) : Kabupaten Surabaya.
– Pemenang Pilar 5: Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Pre and Post-Crash Response) : Kabupaten Jepara.

6. Penghargaan Khusus :
– Kota atau Kabupaten Terbaik pada Upaya Meningkatkan Jumlah Pengguna Angkutan Umum : Kota Semarang.
– Kota atau Kabupaten Terbaik pada Upaya Meningkatkan Kualitas Sarana Pejalan Kaki yang Berkeselamatan : Kota Bogor.
– Kota atau Kabupaten dengan Program Inovasi Terbaik dalam Upaya Meningkatkan Tata Kelola Keselamatan Jalan : Kota Semarang.
– Kota atau Kabupaten Terbaik Pada Upaya Menurunkan Rata-Rata Angka Kecepatan Kendaraan : Kota Surabaya.

Mencuat Gagasan Pembatasan Motor Anak Sekolah di Bandung

30 September 2017

WAJAH Aine Kusumawati tampak serius. Di belakangnya terpapang grafik kecelakaan lalu lintas jalan di Kota Bandung. Sedangkan di hadapannya puluhan pegiat keselamatan jalan dan pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan Kota Bandung.

Perempuan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu tengah memaparkan Bandung Road Safety Annual Report 2015-2016. Rangkuman data dan analisis kecelakaan yang ia paparkan menyedot perhatian peserta Sarasehan dan Diskusi Mengurai Masalah Keselamatan di Jalan Bagi Kelompok Anak dan Remaja, yang digelar Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save The Children di Bandung, Rabu, 26 September 2017.

“Pengendara kendaraan roda dua (sepeda motor) berumur 15-24 tahun merupakan kelompok cedera tertinggi di Kota Bandung,” kata Aine Kusumawati.

Saya yang hadir selaku koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) termasuk yang ikut serius menyimak paparan sang dosen. Bagaimana tidak, hal ini membuka mata para peserta bahwa perlu langkah serius dalam melindungi keselamatan anak-anak saat berangkat dan kembali dari sekolah. “Sebanyak 51% penyebab kecelakaan berdasarkan faktor pengemudi di Bandung pada 2016 adalah pengemudi tidak tertib,” tegas dia.

Kita tahu bahwa tidak tertib adalah perilaku melanggar aturan yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Salah satu contoh adalah melawan arus dan berpindah lajur tanpa memberi tanda berupa lampu isyarat penunjuk arah.

Menurut Aine, masih seputar faktor pengemudi, sekitar 23% kecelakaan terjadi akibat melebihi batas kecepatan. Lalu, 18% karena pengemudi lengah, 5% pengemudi mengantuk, dan 3% akibat pengaruh alkohol.

Kecelakaan lalu lintas jalan menempati posisi ke-10 sebagai penyebab kematian warga Kota Bandung, Jawa Barat. Kontribusi kecelakaan menyentuh angka 2,5% dari total penyebab kematian di kota berjuluk Paris van Java itu. Pada 2015-2016, sebanyak 184 orang tewas akibat kecelakaan di kota tersebut. sementara itu, korban luka berat mencapai 29 orang dan luka ringan 1.580 orang.

Kota berpenduduk 2,49 juta jiwa ini memiliki pertumbuhan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Pada 2010, jumlah kendaraan bermotor rata-rata meningkat 11% per tahun. Kondisi itu tak sebanding dengan pertumbuhan jalan yang 1,29% per tahun. Praktis, sejumlah problem lalu lintas jalan pun mencuat, mulai dari kemacetan hingga kecelakaan lalu lintas jalan.

Kini, jumlah kendaraan bermotor yang tercatat mencapai lebih dari satu juta unit. Dari jumlah itu sekitar 69% nya adalah sepeda motor. Ledakan jumlah kendaraan bermotor dituding sebagai salah satu faktor penyebab terhadap kecelakaan lalu lintas jalan.

Larangan Anak

Kecelakaan yang menimpa anak-anak di bawah umur menjadi perhatian serius para pegiat keselamatan jalan yang hadir dalam sarasehan kali ini. Maklum, penyelenggara sarasehan adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memang gencar mengkampanyekan keselamatan jalan bagi anak-anak, khususnya bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

“Keselamatan berlalulintas untuk anak-anak perlu menjadi perhatian seluruh stakeholder karena dampak dari kecelakaan merupakan halangan bagi pemenuhan hak anak untuk hidup,” ujar Central Area Senior Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik (STC) Brian Sriprahastuti.

Masalah kecelakaan yang menimpa anak-anak di bawah umur sebenarnya bukan persoalan Bandung semata. Data Korlantas Mabes Polri terlihat bahwa persentase angka kecelakaan lalulintas terbesar terjadi pada pengguna sepeda motor. Sedangkan persentase angka korban jiwa tertinggi terjadi pada rentang usia 15-25 tahun yang mencapai 60% dari total korban jiwa pada triwulan I-2017. Anak-anak yang mengendarai sepeda motor ataupun menjadi penumpang sepeda motor masuk dalam kelompok rentang usia dengan jumlah korban jiwa tertinggi tersebut.

“Karena itu, dinas pendidikan Kota Bandung diharapkan peran aktifnya untuk membuat aturan pelarangan anak di bawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah,” tegas dia.
Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Bandung Didi Ruswandi mendukung larangan pelajar menggunakan kendaraan bermotor ke sekolah. Sebab, hal ini dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas sekaligus mengurangi kemacetan di Bandung.

“Tapi, sebelum ini diterapkan, Pak Walikota meminta ada solusi transportasi dulu. Jadi, ini yang harus dipertimbangkan juga,” ujar dia.

Senada dengan Didi, Humas Bike to Work Bandung Hatning Natalia Maindra juga mendukung terbitnya regulasi larangan bermotor ke sekolah. Dia menyarankan aturan ini dibarengi dengan sinergi dengan Pemda sekitar.

Saya melihat peran pemerintah menjadi penting dalam membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan. Aturan pelarangan anak di bawah umur menjadi salah satu instrumen dari dunia pendidikan selain proses edukasi. Bandung bisa saja mencontoh Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mengeluarkan edaran larangan bagi anak didikmembawa kendaraan roda dua maupun roda empat ke sekolah.

Surat Edaran Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 25 Agustus 2015 itu bahkan mencantumkan isyarat pemberian sanksi bagi pelanggar aturan.

Hal itu bagian dari upaya mengurangi potensi anak di bawah umur sebagai pelaku maupun korban kecelakaan lalu lintas jalan. Hal itu mengingat sekitar 139 ribu anak di bawah umur telah menjadi korban kecelakaan sepanjang 2012-2016 di Indonesia. “Belum lagi mereka yang menjadi pelaku kecelakaan, yakni sekitar 21 ribuan anak,” papar dia.

Edukasi Anak

Sementara itu, Brian Sriprahastuti mengatakan, untuk meningkatkan kepedulian orangtua dalam keselamatan berlalulintas, khususnya di Kota Bandung, pihaknya menggulirkan program SELAMAT (Sosialisasi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas). Program yang didukung oleh Sompo Insurance Japan itu memprakarsai Kampanye Orang Tua Peduli Keselamatan Berlalu Lintas Jalan.

“Kampanye ini selaras dengan tema peringatan Hari Anak Nasional yaitu Pengasuhan Anak Dimulai dari Keluarga,” kata dia.

Kampanye ini dilaksanakan satu bulan penuh pada September 2017 sebagai partisipasi aktif Yayasan STC dalam meramaikan Hari Perhubungan Nasional dan Hari Ulang Tahun Kota Bandung ke-207 . Acara puncak dari kegiatan kampanye ini akan dilaksanakan pada 28 September 2017 dengan mengundang 100-150 orangtua dan didukung oleh Dharma Wanita Kota Bandung.

Sepanjangtahun 2016, Save the Children di Indonesia telah bekerja di 12 provinsi, 93 kabupaten, 757 kecamatan, dan 1006 desa, dan telah memberikan dampak langsung pada 304.477 anak dan273.070 orang dewasa. Secara tidak langsung telah menjangkau lebih dari 1.285.012 anak-anak di seluruh Indonesia. Wilayah kerja kami meliputi Aceh (untuk respons bencana), Sumatera Utara,Sumatera Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. (edo rusyanto)

Baru Tahu Ada Kampung Ramah Anak dan Tertib Lalu Lintas

24 September 2017

PERHATIAN publik kepada nasib anak-anak, khususnya terkait keselamatan berlalu lintas jalan, kian tinggi. Boleh jadi karena kelompok usia anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan jumlahnya cukup tinggi.

Dalam rentang 2012-2016, mengutip data Korlantas Mabes Polri, setidaknya 21 ribuan anak di bawah usia 15 tahun menjadi korban kecelakaan di jalan. Sebuah angka yang tidak main-main. Mereka adalah generasi penerus bangsa.

Menjaga keselamatan anak sama dengan menjaga keberlangsungan bangsa. Tentu saja kita ingin anak-anak bertumbuh secara baik, sehat dan cerdas. Kecelakaan lalu lintas jalan menjadi salah satu hal yang harus disingkirkan dari kehidupan anak-anak kita.

Karena itu, ketika saya mendapat surat elektronik (surel) dari kolega saya, Mulawarman, Minggu, 24 September 2017 siang tentang Kampung Ramah Anak – Tertib Lalu Lintas, muncul rasa penasaran. Seperti apa kampung yang disebut terletak di Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara itu.

Kolega saya yang mengirim surel bekerja di PT Astra International Tbk. Program kampung itu digulirkan oleh perusahaan tempatnya bekerja yang pada semester I-2017 mengantongi pendapatan sekitar Rp 98 triliun. Seremonial peluncuran program itu digulirkan Minggu, 24 September 2017 di Medan, Sumatera Utara dalam Inspirasi 60 Tahun Astra. Ajang itu menghadirkan sejumlah pejabat, salah satunya adalah Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.

“Semoga pembinaan keselamatan berlalu lintas di Binjai oleh Astra ini dapat menjadi contoh di Indonesia dan harus terus kita gemakan,” ujar Budi Karya Sumadi saat membuka kegiatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Kampung Berseri Astra (KBA) Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara, Minggu, 24 September 2017.

Pernyataan Menhub yang saya kutip dari laman resmi Astra International itu juga menyebutkan bahwa melalui pembinaan keselamatan, anak muda diingatkan agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas jalan. Dia mengutip data Global Status Report on Road Safety yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa lebih dari satu juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di seluruh dunia. Tiga hingga empat orang korban tersebut berusia 15 tahun hingga 29 tahun.

Seingat saya, program Kampung peduli keselamatan jalan pernah juga digulirkan Astra International. Perusahaan yang pada semester I-2017 mengantongi laba bersih sekitar Rp 9,36 triliun itu menggulirkan Kampung Safety Honda (KSH) di Kelurahan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, Semarang, Jawa Tengah, Minggu, 25 Januari 2015. Kampung ini digulirkan oleh PT Astra International Tbk-Honda Sales Operation (Astra Motor).

Tentu saja gagasan kedua kampung itu bisa saling melengkapi. Maksudnya, apa yang ada di Semarang dan Binjai bisa saling mengisi terkait konsep keselamatan jalan. Di Semarang misalnya. Jika ada warga kampung, pengendara sepada motor yang tidak mengindahkan imbauan keselamatan jalan maka akan dicatat. Laman kompas.com menyebutkan, warga yang kerap melakukan pelanggaran akan mendapat ganjaran sanksi moral yang sudah ditetapkan pimpinan warga.

Nah, di Semarang untuk mengedukasi warga didirikan beberapa rambu lalu lintas yang berisi imbauan keselamatan jalan seperti soal penggunaan helm dan motor hanya dikendarai maksimal dua orang. Selain itu, dibaangun posko safety riding.

Entah konsep kampung yang di Binjai, Sumatera Utara. Saya belum mendapat detailnya. Jika merujuk surel yang saya terima, salah satu jurus mengedukasi anak-anak adalah lewat lomba mewarnai yang bertema keselamatan jalan lalu lintas jalan.

Saya optimistis ini merupakan langkah untuk edukasi bagi masyarakat. Tentu saja dengan catatan dilakukan secara tepat dan konsisten. Tidak sekadar sambil lalu.

Edukasi yang berulang-ulang kepada warga, khususnya anak-anak, diharapkan mampu menanamkan kesadaran pentingnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Hal ini menjadi penting mengingat masih tingginya kasus kecelakaan di Tanah Air. Setiap hari, setidaknya 289 kecelakaan terjadi di seantero negeri. Kecelakaan itu merenggut 70-an jiwa per hari. (edo rusyanto)

foto: astra international

Barisan Mentor SCA Siap Bergerak

17 September 2017

BELASAN orang duduk rapih di ruangan berpendingin di salah satu gedung jangkung di sudut Jakarta Selatan. Mereka berasal dari beragam latar kelompok, namun dengan roh yang nyaris sama, yakni para anggota kelompok pengguna sepeda motor.

Kehadiran 15 orang yang didapuk sebagai mentor Safety Campaign Award (SCA) 2017 itu dalam rangka pembekalan. Ada tiga materi utama yang digulirkan sepanjang pagi hingga sore hari.

“Ada materi seputar kecelakaan dan data. Lalu, pemanfaatan media sosial sebagai perluasan kampanye keselamatan serta terakhir adalah materi ketrampilan bersepeda motor guna mencegah fatalitas kecelakaan,” tutur Faridha, coordinator SCA 2017, Sabtu, 16 September 2017 saat berbincang dengan saya.

Saya kebagian membahas tentang data dan fakta seputar kecelakaan lalu lintas jalan. Untuk urusan yang satu ini menekankan pada kampanye yang berbasis fakta data sehingga pesan yang disampaikan dapat tepat sasaran. Data sebagai kebijakan kegiatan dapat mengarahkan bentuk kampanye dan target kampanye. Tentu, termasuk mampu mengukur efektifitas kampanye.

“Tapi, tidak gampang mendapatkan data kecelakaan,” kata Willy, salah satu mentor berasal dari Tric.

Dalam konteks ini yang terutama adalah bagaimana aktifitas kampanye keselamatan jalan bukan berbasis persepsi. Aktifitas harus punya alasan kuat merujuk pada fakta data yang ada. Di bagian lain, lewat pemahaman fakta data yang ada termasuk regulasi yang berlaku, dapat membuat kampanye lebih tajam dan terukur. Pentingnya data tadi juga berkaitan dengan membangun evaluasi yang kritis dan inovasi pada masa mendatang.

Fakta yang ada saat ini memperlihatkan bahwa dalam rentang 2012-2016 kasus kecelakaan turun 11% menjadi 289 kejadian per hari. Begitu juga dengan fatalitasnya, yakni turun 12% menjadi 71 orang per hari.

Di sudut lain, fakta juga memperlihatkan bahwa kecelakaan dominan dipicu oleh faktor manusia. Di faktor ini berkaitan dengan ketrampilan berkendara, perilaku berlalu lintas jalan hingga pemahaman akan aturan yang berlaku serta kemauan untuk menerapkannya sebagai kebutuhan.

Indonesia mencatat ada 23 ribuan pelanggaran aturan di jalan setiap hari. Ini menjadi bekal utama terjadinya kecelakaan. Karena itu, langkah awal adalah bagaimana membenahi mindset pengguna jalan agar tidak sudi melanggar aturan. Muaranya, menempatkan keselamatan sebagai prioritas ketika berlalu lintas.

Medsos dan Ketrampilan

Sementara itu, Ray Rahendra dari Think Web mengajak para mentor SCA 2017 agar lebih tajam lagi dalam memanfaatkan media sosial (medsos) dalam menyebarluaskan kampanye keselamatan jalan. Ketika para mentor mendampingi kelompok pesepeda motor peserta SCA 2017 dapat lebih memotivasi dan memperluas jangkauan kampanye.


“Salah satunya dengan memaksimalkan pemakaian hastag di medsos seperti twitter dan instagram,” ujar Ray kepada peserta workshop.

Sejak SCA digulirkan pada 2014, banyak peserta yang memanfaatkan medsos dalam memperluas kampanye mereka. Namun, kini diajak lebih tajam dan lebih fokus lagi sehingga tepat sasaran.
“Bagaimana caranya agar unggahan kita di facebook dapat dibaca oleh pengikut kita?” tanya Beno, salah satu mentor.

Terkait hal ini Ray mengajak agar mentor memanfaatkan fanpage dan FB group. Lewat kedua jenis dari tiga varian facebook itu pesan dapat lebih tepat sasaran kepada para pengikut peserta SCA.
Di sisi lain, Aan Gandhi dari Global Devensife Driving Consulting (GDDC) membekali para mentor SCA 2017 terkait teknik bersepeda motor yang aman dan selamat. Teknik berkendara konvensional yang tidak mengusung kaidah keselamatan dapat membuka celah terjadinya kecelakaan di jalan raya.

“Kami ajak teman-teman untuk lebih antisipatif terhadap kondisi lalu lintas jalan. Inilah pesan utama defensive riding. Salah satunya, lewat posisi duduk dan cara meng-handle sepeda motor dengan benar,” tutur Aan.


Banyak hal yang dipaparkan. Tujuannya agar para mentor lebih terbuka matanya untuk urusan ketrampilan yang notabene salah satu aspek penting dalam pencegahan kecelakaan. “Misal, cara menikung dan pengereman harus dapat lebih dimaksimalkan. Termasuk menjaga jarak aman berkendara yang tiga detik,” sergah Aan lagi.

Selama hampir enam jam workshop bagi para mentor SCA 2017 akhirnya ditutup pada pukul 16.15 WIB. Hal yang menarik adalah efektifitas transfer of knowledge dalam ajang workshop kali ini memperlihatkan tren membaik. Merujuk pada hasil pre and post test yang disebar kepada para mentor terlihat adanya peningkatan pemahaman sekitar 9%.

Hasil pre test memperlihatkan bahwa nilai rata-rata pemahaman para mentor adalah tujuh. Sedangkan saat usai mengikuti workshop naik 9% menjadi delapan. “Ajang ini menarik dan bermanfaat buat para mentor,” ujar Reza, salah satu mentor.

Kali ini, para mentor berasal dari Tric, Koster, Pulsarian, Adira, Jarak Aman, dan RSA. Jumlah mereka totalnya ada 20 orang, namun yang ikut pembekalan alias workshop kali ini sebanyak 15 orang. “Lima yang lainnya izin tidak ikut karena ada kegiatan lain, termasuk dua mentor dari RSA tidak ikut,” tukas Faridha.

Para mentor segera bergerak mendampingi 10 kelompok pengguna sepeda motor yang lolos seleksi tim juri SCA 2017. Rencananya, awal Oktober 2017 para peserta SCA 2017 sudah mengimplementasikan apa yang diusulkan dalam proposal mereka.

Setiap kelompok peserta SCA 2017 akan didampingi dua mentor. Tugas mentor terutama adalah menjembatani komunikasi antara 10 finalis SCA 2017 dengan panitia. Tentu yang tidak kalah penting adalah mentor memberi motivasi dan inovasi kepada kelompok yang didampinginya. “Nanti ada dua pertemuan lagi bagi para mentor, termasuk dengan kelompok yang didampinginya,” kata Faridha.
Selamat bekerja, terus bergerak. (edo rusyanto)

Santunan Kecelakaan Tembus Rp 6 Triliun

12 September 2017

DALAM lima tahun terakhir, 2012-2016, jumlah santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan tembus Rp 6 triliun. Kecelakaan demi kecelakaan masih mewarnai jalan raya di Indonesia.

Santunan tersebut mencakup bagi seluruh korban, mulai luka ringan hingga meninggal dunia. Jumlah ini baru berasal dari PT Jasa Raharja. Entah dari sumber lain.

Pastinya, kecelakaan berdampak panjang. Salah satunya adalah soal ekonomi. Kecelakaan bisa merepotkan ekonomi keluarga. Apalagi jika korban yang meninggal dunia adalah tiang ekonomi keluarga. Semua bisa menjadi berantakan.

Setidaknya, secara ekonomi dapat membuat korban kecelakaan dan keluarganya repot mengeluarkan biaya untuk perawatan rumah sakit. Atau, setelah sembuh tidak seproduktif seperti sebelum terlibat dalam kecelakaan lalu litas jalan.

Dalam rentang waktu 2012-2016, jumlah santunan biaya perawatan korban kecelakaan mencapai sekitar Rp 2,5 triliun. Sebuah angka yang tidak kecil mengingat angka itu setara dengan untuk mengobati sekitar 364 ribu orang.

Sekadar menyegarkan ingatan kita. Menurut data PT Jasa Raharja, sepanjang 2012-2016, jumlah total korban kecelakaan tercatat setengah juta orang lebih. Sekitar 71%-nya menderita luka-luka, baik menderita luka ringan dan luka berat. (edo rusyanto)

Isi Lengkap Hasil Rapat Penundaan Perluasan Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor

7 September 2017

PERLUASAN pembatasan lalu lintas sepeda motor urung dilakukan. Begitu salah satu kesimpulan catatan dari jalannya sebuah rapat yang saya terima melalui pesan whats app dari rekan wartawan, di Jakarta, Kamis, 7 September 2017 siang.

Bersamaan dengan itu, laman viva.co.id menulis pernyataan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Menurut Gubernur, kajian perluasan pelarangan sepeda motor dari Jalan MH Thamrin hingga Bundaran Senayan, Jalan Sudirman, belum matang. Lantaran itu, rencana uji coba ditunda.
“Jangan sampai kebijakan ini kemudian kita tergesa-gesa, kajiannya tidak matang kemudian di tengah jalan diubah. Dikaji betul, dihitung betul, saya minta itu,” kata Djarot di Balai Kota, Jakarta, Kamis, 7 September 2017.

Kembali ke catatan rapat. Salah satu rekomendasi dari rapat tersebut menyebutkan bahwa penerapan pembatasan lalu-lintas sepeda motor sebaiknya menunggu selesainya pembangunan infrastruktur (MRT). Selain itu, menunggu pedestrianisasi pada koridor pembatasan lalu-lintas sepeda motor.

Isi lengkap rapat tersebut dapat dibaca di bawah ini.

Kesimpulan dan Rekomendasi Perpanjangan Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor

A. KESIMPULAN

a. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan pembatasan lalu lintas sepeda motor sejak tahun 2014 dimana pembatasan lalu lintas sepeda motor ini pada dasarnya merupakan amanat dari Undang-undang 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas, Peraturan Daerah Prov. DKI Jakarta No. 5 tahun 2014 tentang Transportasi.

b. Pembatasan lalu lintas sepeda motor ini merupakan perpanjangan dari 2,54 km menjadi 7,49 km dimana panjang tersebut hanya sebesar 0.104% dari total panjang jalan di DKI Jakarta.

c. Berdasarkan beberapa kajian yang telah dilakukan baik oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta terhadap aspek-aspek transportasi dapat disimpulkan antara lain:

– Peningkatan kinerja jalan sebesar 16% (V/C dari 0.75 menjadi 0.63)
– Peningkatan kecepatan 17,11 %
– Penghematan biaya
– Peningkatan kualitas lingkungan
– Penurunan potensi kecelakaan
– Aksesibillitas yang hanya berpengaruh terhadap 5 gedung (dari total 52 gedung) dan hanya menambah jarak maksimum berjalan kaki 200 meter maka pembatasan lalu lintas sepeda motor pada koridor Jl. MH. Thamrin (Bundaran HI) – Jl. Jend. Sudirman (Bundaran Senayan) dianggap perlu dan layak untuk dilakukan.

d. Perlu dilakukan sosialisasi tidak hanya terkait pembatasan lalu-lintas sepeda motor namun juga terkait pengenalan rute-rute layanan shuttle dan feeder Transjakarta berikut lokasi haltenya kepada masyarakat.

e. Penerapan pembatasan lalu lintas sepeda motor masih terkendala dengan belum selesainya pembangunan infrastruktur pada koridor pembatasan lalu lintas sepeda motor (PSM).

B. REKOMENDASI

1. Penerapan pembatasan lalu-lintas sepeda motor sebaiknya menunggu selesainya pembangunan infrastruktur (MRT) dan pedestrianisasi pada koridor pembatasan lalu-lintas sepeda motor, dengan pertimbangan sebagai berikut :

a. Dengan selesainya pembangunan infrastruktur, penerapan pembatasan lalu-lintas sepeda motor akan dapat berjalan optimal karena kinerja jalan (konsistensi jumlah dan lebar lajur) akan lebih baik. Dengan demikian akan meningkatkan kinerja lalu lintas dan layanan bus Transjakarta.

b. Sosialisasi dengan pengenalan dini layanan feeder bus Transjakarta dan peningkatan layanan Transjakarta Koridor 1, akan dapat merangsang beralihnya penggunaan kendaraan pribadi (mobil dan motor) ke angkutan umum.

c. Pembangunan / penataan trotoar pada koridor pembatasan lalu-lintas sepeda motor akan dapat meningkatkan aksesibilitas pejalan kaki menuju gedung gedung di sepanjang koridor pembatasan lalu-lintas sepeda motor.

2. Percepatan penerapan jalan berbayar (ERP) dapat mendukung penerapan pembatasan lalu-lintas sepeda motor.

(edo rusyanto)

foto: istimewa

Pengalaman Bikers Mengurus Jaminan Santunan Kecelakaan

7 September 2017

WAJAH kelelahan dan menanggung rasa sakit mencuat dari bro Djossy. Malam itu ia harus meringkuk di atas ranjang Rumah Sakit Hermina Mekarsari, Cileungsi, Bogor lantaran kecelakaan lalu lintas jalan.

“Maaf bang merepotkan. Saya kecelakaan,” ujar pria muda penyuka touring itu saat kami bersua, Jumat, 1 September 2017 malam.

Saya datang bersama sejumlah teman Independent Bikers Club (IBC), Jakarta. Bro Djossy bagian dari IBC yang didirikan pada 2006 di Jakarta. Pengurus dan anggota IBC yang datang ke rumah sakit malam itu cukup lengkap. Mulai dari ketua hingga bendahara. Kami bergantian masuk ke ruang penanganan.

Ruang Instalasi Gawat Darurat menjadi saksi bagaimana jurnalis media online di Jakarta itu melewati kecutnya kecelakaan. “Kejadiannya di tengah kemacetan, ada mobil menyerempet saya dari arah berlawanan,” papar pria lajang itu lagi.

Obrolan bergulir soal kejadian yang dialami bro Djossy dalam perjalanan dari kawasan Purwakarta menuju kawasan Jakarta Selatan. Saat perjalanan menuju tempat kost, pria asal Nusa Tenggara Timur itu memilih jalur Cileungsi, lalu Cibubur dan seterusnya ke Jakarta Selatan. Sekitar 30-an kilometer menuju tempat kost itulah kecelakaan terjadi. Kecelakaan membuat kakinya terluka dan jemari tangan terluka. Sedangkan sepeda motornya mengalami kerusakan tidak serius.

“Kecelakaan terjadi di dekat Taman Buah Mekarsari, mobil yang nyerempet entah kemana,” katanya.

Setelah dibantu warga, pihak rumah sakit melakukan sejumlah tindakan. Mulai dari mengobati luka luar hingga melakukan foto rongent.

“Ruas jari tangannya akan kami rapihkan lewat operasi, sedangkan retakan di telapak kaki akan kami gips,” ujar dokter jaga saat berbincang dengan saya.

Operasi dilakukan Sabtu, 2 September 2017 pagi. Pihak rumah sakit mensyaratkan ada uang jaminan 75% dari estimasi biaya total sekitar Rp 15 juta. “Sudah saya talangi termasuk tambahan dari uang kas IBC, uang jaminan Rp 8 juta,” tutur bro Andi, sekretaris IBC, Sabtu pagi sebelum operasi.

Operasi berjalan mulus. Pasien bisa keluar dari rumah sakit keesokan harinya dan selanjutnya beberapa hari kemudian datang lagi untuk buka jahitan di jari tangan.

Di tengah itu semua saya meminta bro Andi ditemani bro Eko untuk membuat laporan kecelakaan ke pihak kepolisian mengingat saat kejadian tidak ada polisi. Lokasi kantor polisi tak jauh dari rumah sakit. Laporan pun dilakukan Sabtu siang.

Berbekal keterangan saksi yang menolong bro Djossy pada saat kejadian, polisi membuat surat laporan. Materi laporan juga dilengkapi dengan olah tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan. Tentu juga dilengkapi foto korban dan kendaraan korban.

“Setelah itu polisi mengirim email ke Jasa Raharja dan pihak Jasa Raharja mengirim email untuk menanggung biaya korban, maksimal Rp 20 juta,” tutur bro Andi.

Lalu lintas surat elektronik itu bergulir dalam hitungan jam. Prosesnya tidak rumit. Karena itu, saat keluar dari rumah sakit, bro Djossy hanya membayar biaya kelebihan sekitar Rp 1,2 juta. Uang talangan bro Andi dikembalikan utuh dalam bentuk tunai. “Proses administrasi aman dan lancar,” tutur bro Djossy.

Mekanisme penjaminan biaya perawatan dari Jasa Raharja meringankan beban korban kecelakaan. Memikul beban luka saja sudah berat, apalagi ditambah beban biaya. Belajar dari pengalaman bro Djossy, kata kunci ada di polisi. Maksudnya, saat laporan kecelakaan sudah ada dan dikirim ke Jasa Raharja, saat itulah penjaminan bisa keluar.

“Laporan polisi atau kejadian yang sudah diinputkan oleh kepolisian ke Data Laka IRSMS Polri / polda /polres yang terkoneksi dengan kantor JR setempat menjadi dasar pembuatan Jaminan perawatan korban di rumah sakit,” kata Kepala Seksi Penyuluhan PT Jasa Raharja, Den Ramadhan, dalam pesan what’s app kepada saya Rabu, 6 September 2017.

Ngomong-ngomong, Jasa Raharja telah mengeluarkan santunan biaya perawatan sekitar Rp 652 miliar pada 2016. Angka itu setara dengan sekitar 90 ribu orang. (edo rusyanto)