Skip to content

Sudahkah Kita Merdeka di Jalan Raya?

16 Agustus 2017

ADA orang yang dengan lantang menantang petugas karena enggan ditindak saat melanggar aturan di jalan. Sementara itu, masih ada 70-an nyawa melayang setiap hari akibat kecelakaan di jalan. Sudah merdeka-kah kita di jalan raya?

Lantangnya orang yang melanggar aturan berkoar-koar mencerminkan begitu merdekanya mengekspresikan diri. Tidak saja galak terhadap sesama pengguna jalan, sang pelanggar tadi mengumbar emosi dengan leluasa kepada petugas yang mendak menindaknya. Derasnya informasi dan keterbukaan di era digital saat ini memperlebar ruang orang mengekspresikan watak dan perilaku.

Dalam episode jalan raya, perilaku melanggar aturan dengan mudah dipertontonkan pengguna jalan. Mereka melanggar marka dan rambu jalan secara individual, maupun berombongan. Banyak dalih untuk berlindung atas perilaku ugal-ugalan tersebut. Salah satu yang sering mencuat adalah karena ingin terbebas dari kemacetan lalu lintas jalan.

Di Indonesia, setiap tahun jumlah angka pelanggaran yang ditindak masih cukup tinggi. Pada 2016, jumlahnya mencapai sekitar 8,5 juta kasus atau setara dengan 2.300-an pelanggaran setiap hari. Angka pelanggaran tahun 2016 meningkat sekitar 7% dibandingkan tahun 2015.

Banyak yang menilai, jumlah kasus tadi ibarat gunung es. Artinya, angka yang ditindak jauh lebih kecil dibandingkan realitasnya. Bahkan, Korlantas Mabes Polri sempat menyatakan bahwa angka sebenarnya bisa mencapai 200 kali lipat dari yang ditindak. Masuk akal.

Ironisnya, pelanggaran demi pelanggaran yang terjadi itu tak sedikit yang berujung pada kecelakaan lalu lintas jalan. Tak pelak, angka kasus kecelakaan pun nyaris tak pernah bisa diturunkan. Tahun 2016, terjadi 105 ribuan kasus kecelakaan atau setara dengan sekitar 289 kasus per hari. Nah, jumlah itu meningkat sekitar 6,5% dibandingkan setahun sebelumnya.

Fakta kelam jalan raya kita juga terlihat dari jumlah korban yang ditimbulkan oleh kecelakaan-kecelakaan di atas. Bagaimana tidak, pada 2016, setiap hari rata-rata 70-an orang tewas akibat kecelakaan. Belum lagi jumlah korban luka-luka yang mencapai nyaris 400 orang per hari. Sekitar 16% diantaranya menderita luka berat dan 84% lainnya menderita luka ringan.

Kondisi tahun 2016 itu amat kontras bila dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya. Pada 2007, jumlah kasus kecelakaan baru sekitar 49 ribuan kasus. Angka itu setara dengan sekitar 136 kasus per hari.

Artinya, bila kecelakaan 2007 dibandingkan dengan kecelakaan tahun 2016 terjadi lonjakan sekitar 113%. Miris.

Begitu juga bila dilihat dari sisi korban yang ditimbulkan. Angka korban meninggal dunia tahun 2007 dibandingkan dengan 2016 melonjak sekitar 53%. Sedangkan jumlah korban luka-luka melonjak lebih drastis, yakni sekitar 115%.

Tampaknya, dari sisis kecelakaan lalu lintas jalan dan korban yang ditimbulkan, kita masih belum merdeka. Kita belum bisa lepas dari kelamnya tingkat fatalitas yang ditimbulkan oleh kecelakaan.

Perlu perjuangan keras dan sistematis dengan basis sinergi kuat untuk melepaskan diri dari kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Butuh upaya keras untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas. Merdeka! (edo rusyanto)

Foto: akun IG pjrtolpadaleunyi

Pelaku Kecelakaan Kalangan Sarjana Melonjak

9 Agustus 2017

SIAPA saja bisa menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan. Baik itu mereka yang berpendidikan bawah, menengah, maupun berpendidikan tinggi.

Pelaku adalah sosok yang memicu terjadinya kecelakaan. Dari sisi hukum, sang pelaku bisa duduk di kursi pesakitan. Dia bisa dijerat hukum pidana penjara, bahkan denda.

Penetapan seseorang sebagai pelaku atau bukan tentu berdasarkan pemeriksaan pihak kepolisian selaku penegak hukum. Payung hukum untuk itu adalah Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Setahu saya, seseorang bisa menjadi pelaku karena dinilai lalai. Maksudnya, orang itu tidak melakukan hal yang semestinya dia lakukan. Misal, pengendara memaksakan mengemudi sekalipun sedang mengantuk. Lalu, dia menabrak kendaraan lain.

Regulasi yang berlaku di negara kita melarang orang mengemudi dalam kondisi mengantuk. Maklum, kondisi itu potensial merusak konsentrasi. Pada gilirannya, dapat memicu terjadinya kecelakaan.

Jadi, dalam contoh di atas, hal yang mesti dilakukan sudah jelas. Tidak berkendara saat mengantuk. Hal inilah yang biaa dikategorikan lalai.

Nah, bila melihat pelaku kecelakaan berdasarkan latar belakang pendidikan, ada hal yang menggoda perhatian saya. Bagaimana tidak, di Indonesia, pelaku kecelakaan dari kalangan berpendidikan sarjana strata satu melonjak 37% pada 2016 dibandingkan setahun sebelumnya.

Data Korlantas Mabes Polri yang saya kutip memperlihatkan bahwa pada 2016 rerata setiap hari ada sekitar 17 sarja yang menjadi pelaku kecelakaan. Sedangkan dari sisi kontribusi, kalangan berpendidikan tinggi ini menyumbang sekitar 3,7% terhadap total pelaku kecelakaan.

Pertanyaannya, kenapa lonjakan sarjana sebagai pelaku kecelakaan melonjak demikian tinggi?

Jujur saja, saya belum punya jawabannya. Anda? (edo rusyanto)

Foto:
Akun instagram Jogja_ig

Sisi Lain Merokok di Angkutan Umum Jakarta

2 Agustus 2017

SESEKALI dia menghembuskan asap rokoknya ke udara. Angin dengan cepat membawa asap entah kemana, walau sebagian mampir ke bagian belakang mobil tempat para penumpang duduk. Tidak ada yang protes. Semua menerima saja, termasuk saya.
Peristiwa itu saya saksikan di dua angkutan umum yang berbeda di dalam satu hari, yakni angkutan kota (angkot) dan bus sedang Kopaja. Keduanya masih tergolong berusia muda.

Siang itu Senin, 31 Juli 2017 lalu lintas jalan demikian padat merayap. Saya berpikir bahwa pengemudi yang memilih merokok sambil berkendara itu untuk mengusir kejenuhan akibat kemacetan lalu lintas jalan yang menggila.
Bayangkan, untuk menempuh jarak sekitar 20 kilometer (km) dari pinggiran Jakarta Timur menuju pusat bisnis Kuningan, Jakarta Selatan, saya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam dan empat puluh lima menit. Luar biasa.
Pemandangan sopir angkutan umum yang merokok sambil mengemudi menjadi lumrah di Jakarta. Barangkali merokok menjadi katup sosial atas tekanan hidup yang dijalani. Sekalipun aktifitas itu bisa dibidik oleh dua peraturan daerah (perda) sekaligus.

Seingat saya, di era Gubernur Sutiyoso, DKI Jakarta menelorkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (Perda PPU) dengan sanksi yang cukup berat bagi para pelanggarnya. Perda No 2 tahun 2005 itu menegaskan bahwa pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50 juta. Sadis.

Oh ya, di Jakarta aturan itu terus dilengkapi. Pada 2005 juga keluar Perda No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Perda ini menegaskan, sasaran kawasan dilarang merokok adalah tempat umum, tempat kerja, tempat proses belajar mengajar, tempat pelayanan kesehatan, arena kegiatan anak-anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.

Lima tahun kemudian, pada era Gubernur Fauzi Bowo, DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) No 88/2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Tidak cukup dengan itu, keluar lagi Pergub No 50/2012 tengan Pedoman Pelaksanaan Pembinaan, Pengawasan dan Penegakan Hukum Kawasan Dilarang Merokok.

Tak hanya Jakarta, pemerintah daerah (pemda) di sekitarnya juga aktif menggelontorkan aturan serupa. Sebut saja misalnya Pemda Bogor. Pemda Kota Bogor mengatur soal larangan merokok di angkutan umum lewat Perda Kota Bogor No 12 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Para pelanggar aturan ini bakal diganjar penjara maksimal tiga hari atau denda maksimal Rp 1 juta.

Lalu, Pemerintah Kota Depok. Kota satelit Jakarta ini menelorkan Perda Kota Depok No 16 tahun 2012 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum. Sanksi bagi mereka yang merokok di angkutan umum lebih berat lagi, yakni diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 50 juta.

“Saya suka ngeri naik angkot yang sopirnya merokok, takut kecelakaan,” tutur Tuti, perempuan penumpang angkot saat berbincang dengan saya di Jakarta, belum lama ini.

Ya, selain soal kesehatan dan kenyamanan, akibat merokok sambil mengemudi bukan mustahil bisa memicu insiden atau kecelakaan lalu lintas jalan. Aktifitas merokok bisa saja mengganggu konsentrasi pengemudi ketika membawa kendaraannya di jalan raya. kalau sudah begitu yang rugi bukan saja sang pengemudi, penumpang, tapi juga orang lain di sekitar lokasi maupun keluarga sang pengemudi. (edo rusyanto)

Pesan Whimo dari Manggarai

1 Agustus 2017

PULUHAN sepeda motor skutik berjajar rapih di sisi jalan. Kuda besi yang mayoritas berwarna putih itu terparkir di depan sebuah kedai sederhana di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.

Malam itu lalu lintas jalan di kawasan Manggarai masih cukup ramai dengan sepeda motor sebagai kontributor utama. Jarum jam menunjukan sekitar pukul 21.00 WIB. Kawasan ini merupakan salah satu jalur melintas para warga Jakarta menuju ke tengah kota, terutama dari kawasan pinggiran Jakarta Timur. Dari Manggarai, para penglaju bisa menuju pusat bisnis di Kuningan, Jakarta Selatan maupun ke Sudirman dan Thamrin, Jakarta Pusat.

Tak heran jika di kawasan ini juga dibangun stasiun kereta api Manggarai yang menampung para komuter dari Bogor dan Depok, serta Bekasi. Selain itu, tersedia terminal bus yang siap mengangkut warga Jakarta, Bogor, dan Bekasi untuk melaju ke lokasi masing-masing.

“Kami memilih Manggarai sebagai lokasi kopi darat santai (kopsan) kali ini karena cukup nyaman dan dapat dengan mudah diakses banyak anggota White Max Owner (Whimo),” kata bro Friadi, saat berbincang dengan saya, Rabu, 26 Juli 2017 malam.

Saat itu, dia mengundang saya untuk bertukar pikiran dan berbagi seputar masalah keselamatan berlalu lintas jalan (road safety). Khususnya mengenai bagaimana berkendara secara berkelompok saat touring, termasuk bagaimana manajemen touring agar lebih aman, nyaman, dan selamat. “Soalnya, kemarin saat Whimo touring dari Jakarta ke Pangandaran, terjadi kecelakaan walau tidak parah,” sergahnya.

Sekitar dua puluhan anggota Whimo dari Jakarta dan Bogor duduk rapih. Saya membuka ajang tukar pikiran dengan paparan fakta data sekaligus sejumput tips berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Fakta data memperlihatkan bahwa 70-an jiwa tewas setiap hari akibat kecelakaan. Sedangkan mayoritas kendaraan yang terlibat masih didominasi sepeda motor. Kendaraan yang menjadi favorit warga termasuk komunitas Whimo.

“Berapa kecepatan ideal saat kita touring keluar kota?” tanya salah seorang anggota Whimo.

Urusan batas kecepatan sebenarnya sudah diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU tersebut diterjemahkan dalam peraturan pemerintah (PP) No 79 tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang diterbitkan pada 10 Desember 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Nah, saat era Presiden Joko Widodo, menteri perhubungan yang kala itu dijabat Ignatius Jonan menelorkan Permenhub No 11 tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan. “Regulasi yang berlaku saat ini membatasi kecepatan maksimal adalah 50 kilometer per jam (kpj) untuk di dalam kota, sedangkan antar kota sebesar 80 kpj,” tutur saya mengutip regulasi tersebut.

Masalah batas kecepatan maksimal menjadi penting diperhatikan, terlebih ketika touring yang umumnya berkelompok. Formasi berkendara juga perlu diperhatikan apakah zig-zag, formasi satu, atau formasi dua alias sejajar. Tapi, yang lebih penting adalah bagaimana mengatur jarak aman berkendara di jalan raya.

Khusus mengenai menjaga jarak aman berkendara saya paparkan seperti tabel yang satu ini. Tabel kecepatan ini dilansir oleh kementerian perhubungan.


Disebutkan bahwa jarak antar kendaraan menjadi salah satu hal yang mesti diwaspadai tiap pengemudi. Terutama saat kondisi jalan licin akibat hujan atau sewaktu kondisi lalu lintas sedang padat. Benturan mendadak antar kendaraan sangat mungkin terjadi karena jarak yang terlalu dekat. Demikian pula ketika menjumpai jalur menanjak. Menjaga jarak antara satu kendaraan dengan lainnya merupakan langkah bijak demi keselamatan perjalanan.

Ada dua macam jarak yang harus diperhatikan, yakni jarak minimal dan jarak aman. Jarak minimal adalah jarak paling dekat yang tidak boleh dilewati antara mobil belakang dengan depannya. Jenis jarak ini belum tentu aman, dan pengemudi harus berhati-hati apabila terjadi pengereman mendadak dari kendaraan di depannya.

Sedangkan jarak aman adalah jarak yang paling disarankan. Terutama, saat melaju di jalanan basah. Pengereman di jalan basah butuh waktu lebih lama dibandingkan pada jalan yang kering.

“Bagaimana menjaga jarak aman tiga detik saat di jalan?” tanya anggota Whimo yang lain.

Ya. Patokan memberi rentang tiga detik antar kendaraan sejatinya mirip dengan tabel versi Kemenhub di atas. Walau, tantangannya adalah ketika seorang pengendara menerapkan pola tiga detik, tiba-tiba diserobot oleh pengendara lain. “Hal ini menunjukan bahwa sang penyerobot tak memahami atau tidak mau tahu soal jarak aman ketika berkendara,” tegas saya.

Banyak aspek lain dalam ajang tukar pikiran di Kopsan Whimo malam itu. Termasuk misalnya soal bagaimana menikung yang aman dan selamat hingga pentingnya melakukan sinergi antar kelompok masyarakat maupun para pemangku kepentingan keselamatan jalan dalam memangkas fatalitas kecelakaan.

“Kami ingin agar saat berlalu lintas jalan selalu aman dan selamat. Whimo ingin berpartisipasi,” tutur bro Friadi.

Ok bro, saya dukung. (edo rusyanto)

Sebuah Harapan dari Bundaran HI

31 Juli 2017

 

 

RATUSAN orang berkerumun. Puluhan aparat keamanan bersenjata lengkap tanpa disana-sini. Ada yang berdiri di atas jembatan dengan senjata laras panjang.

Ya. Suasana di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu, 30 Juli 2017 pagi yang cerah itu agak sedikit berbeda. Setiap hari Minggu kawasan ini memang menggelar car free day (CFD) alias terbebas dari kendaraan bermotor dalam rentang jam 06.00-11.00 WIB. Saat itulah warga Jakarta dan sekitarnya tumpah ruah. Mereka berolah raga pagi, walau sebagian lainnya sibuk mencari nafkah dengan berjualan aneka barang, tentu saja termasuk makanan dan minuman.

Perbedaan kali ini dari CFD-CFD biasanya adalah selain penjagaan ketat adalah adanya tenda dengan dominan warna biru di salah satu sudut area Bundaran HI. Tenda berdiri megah di depan pos polisi yang menghadap persis patung dan bundaran air mancur. Ada alat pendeteksi metal atau logam di mulut tenda. Maklum, Minggu pagi itu hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dia didampingi menteri kesehatan, menteri perhubungan, kepala Bappenas, Wakil Kepala Polri, serta menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat. Ada apa?

Saya yang tiba sekitar pukul 06.30 WIB, padahal acara resmi dimulai pukul 07.30 WIB, merasakan aura berbeda. Hingar bingar urusan keselamatan jalan begitu kental pagi itu. Mulai dari dipajangnya beberapa sepeda motor yang menjadi korban kecelakaan, polisi cilik binaan kepolisian Polda Metro Jaya hingga pesan-pesan berbau keselamatan jalan alias road safety dari pembawa acara.

Pagi itu merupakan Pencanangan Tahun Keselamatan Untuk Kemanusian Tahun 2017-2018. Jargon yang dilontarkan adalah Stop Pelanggaran dan Stop Kecelakaan. Suatu upaya menggulirkan semangat untuk berlalu lintas jalan yang aman dan selamat untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang aman dan selamat, minim fatalitas kecelakaan lalu lintas.

“Pencanangan kali ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas keselamatan, menurunkan fatalitas, dan membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan. Mohon bantuan dan dukungan Wapres dan seluruh pemangku kepentingan agar kegiatan ini berjalan lancar,” kata Wakapolri Komjen Polisi Syafruddin M, dalam sambutannya, Minggu pagi.

Bak gayung bersambut. Empat menteri yang hadir beserta Syafruddin pun melontarkan ikrar bersama.

“Kami pemangku kepentingan keselamatan jalan mendukung sepenuhnya Tahun Keselamatan Untuk Kemanusian 2017-2018. Stop pelanggaran. Stop kecelakaan. Keselamatan untuk kemanusiaan.”

Sebuah ikrar mulia. Sebuah harapan yang mencerminkan kemauan bersama untuk memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan yang saat ini merenggut 70-an jiwa setiap hari di Tanah Air.

“Tugas berat untuk menurunkan fatalitas hingga 20% pada tahun 2020. Butuh kerja sama dan upaya bersama,” tegas Wapres Jusuf Kalla ketika memberikan sambutan pagi itu.

Dia mengaku, semua pemangku kepentingan bekerja dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Misal, ketika menerbitkan surat uji kendaraan seperti KIR jangan asal tanda tangan. Mesti diperiksa dengan seksama sehingga tidak memicu terjadinya kecelakaan gara-gara rem blong. “Semua harus ditata dengan baik, termasuk kereta api dan angkutan umum. Apalagi penjualan mobil semakin banyak. Untuk menurunkan kecelakaan butuh kekompakan,” sergah Wapres lagi.

Kekompakan atau sinergisitas antara para pemangku kepentingan tadi mutlak dibutuhkan. Belajar pada penanganan arus mudik dan balik Lebaran yang mampu menurunkan kecelakaan hingga 30%, seyogyanya sinergisitas seperti itu diterapkan sepanjang tahun. Bukan insidental. Ego sektoral mesti dibabat habis demi para pengguna jalan, demi kepentingan bangsa.

Harapan yang digulirkan Wapres di Bundaran HI menjadi harapan kita semua. Kita ingin fatalitas kecelakaan terus menurun. Target untuk memangkas fatalitas hingga 50% pada 2020 pun diharapkan tercapai. Jangan lupa sepanjang 20 tahun terakhir Indonesia kehilangan 370 ribuan jiwa akibat kecelakaan. Belum lagi sekitar 1,68 juta orang menderita luka-luka.

Oh ya, pada waktu yang hampir bersamaan dengan acara di Bundaran HI, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir di Setu Babakan, Jakarta Selatan dalam rangka Lebaran Betawi 2017. Di Setu Babakan, Jokowi melepas 50 kilogram ikan mas ke dalam danau atau setu tersebut. (edo rusyanto)

 

foto: istimewa/ditkamsel korlantas polri

Dokter Cantik Ini Naik Motor Sambangi Warga

28 Juli 2017

DOKTER muda berparas cantik ini ramai diperbincangkan netizen beberapa hari ini. Foto dirinya sedang naik sepeda motor mendapat banyak perhatian.

Ya. Dia adalah dokter Indah Kusumah yang tergabung dalam tim Layad Rawat, ambulans sepeda motor Kota Bandung, Jawa Barat. “Negara yang mendatangi warga, bukan warga yang selalu mendatangi negara,” ujar Walikota Bandung, Ridwan Kamil soal konsep Layad Rawat bersepeda motor, dalam akun Instagram pribadinya, Rabu, 26 Juli 2017.

Layad Rawat yang diluncurkan untuk masyarakat tidak mampu itu terdiri atas 11 ambulans motor dan satu ambulans mobil berfasilitas lengkap. Layanan yang digulirkan Pemerintah Kota Bandung itu memang bukan yang pertamakali di Indonesia. Sebelumnya sudah ada layanan serupa seperti yang digulirkan Polres Brebes, Jawa Tengah. Dalam peluncurannya pada Jumat, 9 Juni 2017 disebutkan bahwa tiga ambulans motor Brebes merupakan hasil kerja sama kepolisian setempat dengan Dinas Kesehatan Brebes.

Kembali soal ambulans motor di Bandung. Menurut Ridwan Kamil, program Layad Rawat mencakup 1.590 dokter, perawat, dan tenaga kesehatan. Mereka akan datang ke rumah-rumah warga tidak mampu.”Perawatan hanya untuk situasi pasien yang tidak kritis atau jika berat tetap dirujuk ke rumah sakit oleh tim Layad Rawat,” katanya.

Untuk layanan ini disediakan aplikasi layad rawat di playstore atau telepon 119.

Nah, di dalam program itu Indah Kusuma yang juga gemar menyanyi itu didapuk sebagai duta Layad Rawat. Tugas mulia melani warga tidak mampu tampaknya bukan hal baru bagi dokter lulusan Universitas Ahmad Yani (Unjani) itu. Dia kerap melakukan kegiatan sosial bersama teman-temannya. Pada Ramadan 2016, dia melakukan kegiatan peduli dan berbagi dengan anak-anak yatim piatu. “Which I really like. Semoga kedepan bisa bikin acara charity yang lebih berfaedah,” tuturnya dalam akun instagram yang diunggah 20 Juni 2017.

Foto dokter kelahiran 9 April 1994 ini sempat dipajang fotonya di dalam akun instagram Walikota. Ada foto dirinya sedang naik sepeda motor lengkap dengan helm. Selain itu, tentu saja foto ketika ia sedang melayani warga tidak mampu. Sebuah tugas yang mulia.

“11 ambulance motor untuk pungkal pengkol masuk gang sempit sudah disiapkan. Ambulance mobil khusus yang dilengkapi dengan EKG/USG dan lain-lain juga disiapkan, semua gratis, termasuk obat-obatannya,” tutur Ridwan Kamil.

Semoga tim Layad Rawat juga menjaga konsentrasi dengan terus fokus dan waspada saat bersepeda motor menyambangi para pasien. Berbekal konsentrasi yang tinggi, ketrampilan berkendara yang mumpuni, serta kepedulian pada aturan dan etika berkendara, kita harapkan tugas mulia tim itu berjalan mulus. Sekalipun ambulans mendapat hak utama di jalan raya, tetap saja para tenaga medis yang bersepeda motor itu harus terus waspada melihat situasi lalu lintas jalan dengan seksama. Jangan sampai dokter dan timnya terluka akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Apalagi pada 2016, di Kota Bandung setiap empat hari jatuh satu korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Maklum, setiap hari terjadi dua kecelakaan di Kota Kembang tersebut. (edo rusyanto)

foto:
akun ig indahkus_
akun ig ridwankamil

Mengintip Lokasi Kecelakaan Paling Mematikan di Jakarta

26 Juli 2017

DUA perempuan muda itu tentu tak pernah menyangka. Perjalanannya menggunakan sepeda motor berujung petaka.

Sepeda motor yang mereka tumpangi ketika melintas di Jalan Raya Cakung-Cilincing (Cacing), Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, terserempet sepeda motor lain. Irsep, ketika sebut saja begitu, tidak mampu mengedalikan tunggangannya. Irsep dan rekannya, Karnim, kita sapa saja begitu, terjatuh ke aspal. Ironisnya, dari arah belakang datang truk kontainer. Brak!

Kecelakaan pada Kamis, 28 April 2016 itu menjadi salah satu kecelakaan maut yang terjadi di Jakarta utara (Jakut), DKI Jakarta pada 2016. Tahun lalu, Jakut menjadi lokai kecelakaan paling mematikan di kota Jakarta.

Mari kita tengok data Korlantas Mabes Polri.

Pada 2016, Jakut menjadi kawasan kecelakaan paling mematikan di wilayah Polda Metro Jaya. Wilayah hukum kepolisian ini mencakup Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Dari beberapa wilayah itu, khusus di Jakarta, kawasan Jakut merupakan lokasi paling banyak merenggut korban jiwa. Di Jakut, setiap dua hari ada satu korban kecelakaan yang meninggal dunia akibat kecelakaan.

Dari sisi kontribusi korban meninggal, Jakut menempati posisi nomor wahid di wilayah Polda Metro Jaya. Menurut data tahun 2016, kontribusi Jakut sekitar 16,23%.

Lokasi kedua yang paling mematikan adalah kawasan Jakarta Timur (Jaktim). Di kota ini setiap tiga hari ada satu korban tewas akibat kecelakaan. Sedangkan dari sisi kontribusi mencapai sekitar 10,93%.

Selain itu, kota Jakarta Barat (Jakbar) menempati posisi ketiga paling mematikan di Jakarta pada 2016. Tahun lalu, setiap tiga hari ada satu korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Dari sisi kontribusi, kawasan ini menyumbang sekitar 9,05%.

Sementara itu, dari sisi kejadian, kawasan Jaktim justeru menempati posisi teratas di Provinsi DKI Jakarta. Pada 2016, di Jaktim terjadi dua kecelakaan per hari. Sedangkan posisi kedua ditempati Jakut, yakni satu kecelakaan per hari. (edo rusyanto)