Skip to content

Titip Pesan Untuk Insan Pers Indonesia

9 Februari 2016

tvone berita soal laka

PENULISAN berita dipengaruhi beragam kepentingan termasuk ekonomi dan politik. Sejarah membuktikan fakta harus diusung sebagai landasan utama sebuah berita.

Berbeda dengan opini. Dia lahir dari analisis dan pandangan atas sebuah permasalahan. Kata kuncinya ada pada kapabilitas dan obyektifitas pembuat opini.

Selaku pilar keempat demokrasi pers mengakomodasi berita dan opini tadi. Itulah fungsi kontrol sosial guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang nyaman dan tentram.

Membangun kepercayaan diantara anak bangsa juga menjadi agenda penting yang dipikul insan pers. Ketajaman kalimat, kejelian visual, hingga mendalamnya suara yang disiarkan mampu mengubah perilaku tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Pengubahan perilaku kehidupan yang kita harapkan adalah menuju tatanan yang adil sejahtera. Kemampuan mewujudkan hal itu tak semata butuh kejeniusan, melainkan juga berakar pada keadaban kita sebagai manusia. Toleransi, akal sehat, dan nurani mewarnai setiap perubahan yang ingin dicapai.

Ketika kita menjadikan nafsu angkara murka demi kepentingan diri sendiri dan kelompok, niscaya kehidupan yang tercipta lebih banyak menghadirkan kesemrawutan. Kondisi itu dapat dengan mudah terlihat di jalan raya.

Cara berlalulintas jalan yang sikat sana, sikut sini alias menerobos aturan menjadi potret kehidupan masyarakatnya. Getirnya buah perilaku berlalulintas jalan seperti itu sudah terasa. Sekitar 70-an jiwa menggelepar di jalan raya setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas.

Rasanya akan menjadi adil bila kekuatan pers dimanfaatkan mengurai pemicu-pemicu kecelakaan di jalan. Bukan semata memberitakan aroma sensasional yang mengatrol rating atau belanja iklan yang menggila. Sudah seharusnya karya jurnalistik mengajak para pengguna jalan menjadi lebih beradab. Pada gilirannya terwujud lalu lintas jalan yang humanis.

Selamat Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2016. (edo rusyanto)

Tak Cukup Hanya Rambu, Jalan Ini Ditutup Beton

8 Februari 2016

rambu batu1

PEMERINTAH wajib menyediakan rambu dan marka jalan. Kelengkapan infratruktur jalan itu diharapkan mampu membuat para pengguna jalan menjadi lebih selamat, serta aman dan nyaman. Tentu dengan catatan, rambu dan marka jalan tadi ditaati oleh para pengguna jalan. Bagaimana jika tidak ditaati?

Di salah satu sudut Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, persisnya sebelum Kedutaan Besar Belanda, banyak tersebar rambu jalan. Mulai dari rambu yang menyatakan ada halte bus, larangan berhenti, larangan berbelok kiri hingga larangan masuk.

Nah, di jalan yang persis di samping halte bus, bahkan dipasang dua rambu, yakni larangan berbelok kiri dan larangan masuk. Jalan itu tak lebih dari 100 meter setelah perempatan Jl HR Rasuna Said yang bertemu dengan Jl Gatot Subroto. Rambu tadi tampaknya dibuat agar tidak terjadi antrean kendaraan yang hendak berbelok ke kiri. Pasalnya, antrean tadi menciptakan kemacetan yang ekornya hingga menjelang jalan menuju kawasan bisnis terkemuka di Jakarta itu.

Oh ya, jalan yang diberi rambu larangan berbelok tersebut menghubungkan Jl HR Rasuna Said dengan Jl Denpasar, Jakarta Selatan.

Ternyata, sejak dipasang dua rambu tersebut ulah para pengguna jalan yang berbelok ke kiri tetap berlangsung. Melihat gelagat itu sang penanggung jawab jalan lalu memasang jejeran beton, tapi menyisakan celah untuk dilalui satu mobil yang hendak ke luar menuju Jl HR Rasuna Said.

Lagi-lagi, beton itu pun tak membuat jera para pengguna jalan yang hendak berbelok ke kiri. Mereka tetap nyelonong, baik itu mobil maupun sepeda motor. Lagi-lagi, melihat ulah para pelanggar rambu tadi, akhirnya dipasanglah jejeran batu besar dan pecahan beton besar. Praktis, sejak itu pengendara yang hendak berbelok ke kiri sudah tidak bisa lagi.

Inilah salah satu fakta bahwa untuk membangun disiplin mesti ada paksaan. Ketika para pengendara dipaksa oleh jejeran beton dan batu, akhirnya mereka berputar di tempat yang telah diizinkan. Jarak tempat berbelok ke kiri yang legal sebenarnya juga tidak terlalu jauh, yakni kurang dari 100 meter. Jadi? (edo rusyanto)

Kongkow ala IBC di Cibodas

7 Februari 2016

DINGINNYA udara pegunungan membuat kami bertambah lahap menyantap hidangan makan siang. Menu sederhana berupa ayam goreng plus sambal dan sayuran capcay menjadi terasa lebih nikmat. Sesekali suasana makan siang diselingi candaan yang mengundang senyum.

Begitulah penggalan suasana kongkow ala Independent Bikers Club (IBC) di kawasan Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Perjalanan Jakarta ke Cibodas sambil menunggang kuda besi ditemani kabut yang membalut kawasan Puncak, Bogor. Maklum, rute yang dipilih melewati Jakarta-Bogor-Puncak-Cibodas. Sejumlah kelokan, turunan, dan tanjakan menjadi santapan para anggota IBC.

Hujan yang sempat hadir tak menggoyahkan barisan anak-anak muda IBC untuk kongkow di Cibodas. "Kita kumpul-kumpul sambil membahas rencana toring dan baksos IBC 2016," papar bro Acoi, ketua IBC, Sabtu, 6 Februari 2016 siang.

Urusan baksos dan soal keselamatan jalan sudah menjadi tradisi IBC sejak didirikan pada 30 Desember 2006. IBC punya program Safety Riding Goes to School yang membidik kalangan siswa sekolah menengah atas (SMA). Lalu, ada program Save The Children yang menyasar anak-anak dan siswa sekolah dasar (SD).

Secara berkala IBC juga menggelar diskusi keselamatan jalan dengan mengusung topik aktual. Bahkan, untuk keselamatan pemudik digelar diskusi rutin dengan melibatkan pemudik dan para pemangku keselamatan jalan. "Untuk tahun 2015 kami menggabungkannya dengan aksi simpatik termasuk pembagian tajil kepada pengguna jalan," kata bro Acoi.

Klub pesepeda motor yang mengusung slogan ‘Bersahabat, Santun di Jalan’ ini juga getol menerapkan prinsip kelompok turing (klotur) saat berkendara kelompok. Tujuannya agar tidak membuat iring-iringan panjang yang berpotensi mengganggu pengguna jalan yang lain. Klotur diisi maksimal 10 sepeda motor. "Sistem klotur juga bikin nyaman perjalanan,"tutur bro Sontry, salah seorang anggota IBC.

Di sela kongkow kali ini di Cibodas, saya mengusulkan agar IBC syiar road safety ke kawasan Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Dua kegiatan bisa dilakukan sekaligus, yakni turing dan syiar road safety. Konsepnya, sharing road safety dan membagikan helm kepada tukang ojek yang beroperasi di kawasan wisata megalitikum itu.

"Kalau begitu kita mesti survey dahulu," papar bro Andi yang didaulat menjadi ketua panitia pelaksana kegiatan tersebut.

Kongkow di CIbodas juga memutuskan waktu kegiatan yang dipilih 5-7 Mei 2016. Kegiatan dirancang agar melibatkan para pemangku kepentingan keselamatan jalan dan warga sekitar.

Hujan kembali mengguyur kawasan Cibodas sebelum tim IBC menyudahi kogkow kali ini. Sabtu sore cuaca kembali cerah dan tim IBC pun bergerak pulang ke Jakarta. (edo rusyanto)

Solidaritas Anak Jalanan Jakarta

6 Februari 2016

dorong mobil1
KERASNYA kehidupan Jakarta setiap saat bisa dijajal. Sampai-sampai ada anekdot, “Nyari duit di Jakarta itu susah. Jangankan yang halal, yang haram saja susah.”

Jalan raya termasuk sudut yang mudah untuk melihat kerasnya kehidupan Jakarta. Ulah para kriminal mempertontonkan adegan perampasan hingga penghilangan nyawa orang. Lalu, hampir tiap tiga jam satu sepeda motor raib digondol si tangan panjang. Bahkan, eksploitasi anak-anak di bawah umur amat kasat mata di jalan raya Jakarta.

Wajah kekerasan lainnya adalah bertumbangannya anak Jakarta akibat sang jagal jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari ada 20-an kasus tabrakan yang berujung pada tewasnya dua hingga tiga orang setiap hari. Inilah salah satu wajah kelam jalan raya Jakarta.

Bila ditelisik lebih jauh, ujung-ujungnya si biang kerok kecelakaan ada pada urusan perilaku para pengguna jalan. Ada perilaku ugal-ugalan yang meluluhlantakan aturan yang ada. Serobot sana, serobot sini. Sikut sana, sikut sini. Mereka berlomba-lomba memenuhi hasrat egoisme masing-masing dengan berlindung di balik jargon ingin buru-buru.

Perilaku ugal-ugalan yang tidak lagi menghargai hak sesama pengguna jalan lahir bukan tiba-tiba. Dia lahir lewat proses hedonisme yang menggila. Ingin hidup senang tanpa lewat kerja keras. Buntutnya, senantiasa mencari jalan pintas. Jalan penuh berlumur arogansi.

Di tengah itu semua, anak-anak Jakarta masih menyimpan kepekaan sosial. Sisa-sia solidaritas masih bersemi walau kalah gaung dengan kelakuan arogan. Pernah suatu ketika saya menjumpai bagaimana anak-anak di jalanan dengan sukarela menolong sesama pengguna jalan yang sedang kesusahan.

Saat itu, arus lalu lintas jalan di pinggiran Jakarta tengah karut marut lantaran banjir menggenangi jalan raya. Antrean kendaraan simpang siur. Tampak sebuah angkutan kota (angkot) mengalami mogok. Mesinnya tidak berfungsi dan mobil pun terpaksa teronggok di pinggir jalan. Tiba-tiba sejumlah remaja yang tubuhnya sudah basah diguyur hujan hadir membantu sang sopir untuk mendorong agar mesin mobilnya bisa menyala kembali.

Ya. Solidaritas anak-anak Jakarta masih ada. Saya juga yakin mereka jumlahnya cukup banyak. Tinggal bagaimana figur orang tua, para tokoh masyarakat, hingga para penegak hukum mampu memberi contoh teladan kepada mereka. Merangsang solidaritas ke arah yang positif. Mengajak mereka mampu menjadi pilar terwujudnya lalu lintas jalan yang humanis. (edo rusyanto)

Zaman Edan di Jalan Raya

5 Februari 2016

berita kecelakaan koran

SEORANG eksekutif di perusahaan swasta bertutur soal edannya jalan raya. Ada pesepeda motor yang mengarahkan kaki ke pengendara mobil sambil melaju kencang. Entah apa yang diinginkan pesepeda motor tersebut, pastinya pengendara mobil memilih sedikit minggir.

Pada bagian lain, ada pengemudi angkutan umum yang seenaknya saja menurunkan dan menaikkan penumpang. “Pernah saya lihat, penumpangnnya ke tengah jalan, selain bisa menimbulkan celaka juga bikin macet arus kendaraan,” selorohnya suatu ketika di Jakarta.

Adegan lain pun terekam di benaknya. Pengendara mobil dalam kondisi mabuk memaksakan diri mengemudi. Buntutnya, terjadi kecelakaan lalu lintas jalan yang menimbulkan banyak korban jiwa.

Dia juga bercerita soal pengalamannya pada tahun 1980-an. Saat mengendarai mobil, dia pernah membunyikan klakson kepada pesepeda motor agar tidak menghalangi jalan. Kini, tahun 2016, justeru para pesepeda motor yang mengklakson dirinya untuk meminta jalan.

Ya. inilah zaman edan di jalan raya.

* * *

Kesemua itu tak bisa dilepaskan dari terus meningkatnya jumlah populasi penduduk di kota-kota. Selain itu, juga dipicu oleh kian tingginya populasi kendaraan bermotor.

Kepadatan kendaraan bermotor di jalan raya tahun 1980-an tentu amat berbeda dengan tahun 2016. Data yang beredar menyebutkan bahwa tak kurang dari 100 juta kendaraan di negara kita. Kehidupan sosial ekonomi pun terus berkembang pada saat ini.

Di kota-kota kehidupan masyarakat serba bergegas. Mau makan cari yang cepat saji. Mau naik karir cari jalan pintas. Biar cepat dapat proyek kasih uang pelicin.

Di jalan raya? Tak heran ada aksi saling serobot. Belum juga lampu hijau menyala sudah tancap gas. Atau, ketika kena razia pilih menempuh jalan damai asal urusan bisa lancar. Bahkan, tak sedikit yang berani mempertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya demi kepentingan pribadi. Jadilah jalan raya kita diwarnai dengan meninggalnya 70-an anak negeri akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Pertanyaannya, bisakah kita menjadi lebih manusiawi di jalan raya? Mampukah kita mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis?

Semestinya bisa. (edo rusyanto)

Menyingkap Fakta Sulitnya Mengemudi Sambil Berponsel

3 Februari 2016

ponsel mengemudi brussel_youtube

FAKTA data memperlihatkan bahwa setiap hari, rata-rata ada satu kasus kecelakaan lalulintas jalan yang dipicu aktifitas berponsel sambil mengemudi. Itulah salah satu sisi kelam jalan raya Indonesia.

Kondisi nyaris serupa terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, rerata terjadi dua kasus kecelakaan setiap harinya.

Fakta lain terungkap dari sebuah tempat latihan mengemudi di Brussel, Eropa. Sang pria pendamping memaparkan tentang risiko mengemudi sambil berponsel. Beragam reaksi pengemudi saat menjajal berponsel sambil mengemudi.

“Sangat tidak mungkin (mengemudi sambil berponsel),” ujar perempuan pengemudi.

Bahkan, ada pengemudi pria yang berujar, “Orang-orang bisa terbunuh di jalan raya.”

Selengkapnya bisa lihat di link ini.

Kecelakaan bisa saja terjadi lantaran sang pengemudi menelepon atau membaca dan mengirim SMS. Perhatian sang pengemudi amat mungkin teralihkan dari konsentrasinya dalam mengemudi. Kalau sudah begitu bukan mustahil sang pengemudi menjadi obyek atau subyek kecelakaan lalu lintas jalan.

Oh ya, ide menggulik link di atas terinspirasi Jules yang menautkan link itu di akun facebook saya. (edo rusyanto)

sumber foto: youtube

9% Korban Tabrak Lari Berujung Kematian

2 Februari 2016

laka motor_tmcpoldametro

TAHUN 2015, kasus tabrak lari di Jakarta dan sekitarnya melonjak 19% menjadi lima kasus per hari dibandingkan setahun sebelumnya. Sekitar 9% korban kasus tabrak lari di jalan raya berujung pada kematian.

“Data tabrak lari relatif cukup tinggi menjadi indikator bahwa kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan hukum relatif masih rendah,” ujar Kasubdit bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulisnya, di Jakarta, Senin (1/2) malam.

Wilayah Polda Metro Jaya mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Tahun 2015, setiap hari rata-rata terjadi lima kasus tabrak lari. Sedangkan setahun sebelumnya rerata empat kasus per hari.

“Tabrak lari adalah termasuk dalam tindak pidana kejahatan,” tegas Budiyanto.

Dia menambahkan, tabrak lari melanggar pasal 316 ayat ( 2 ) UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ)

Di sisi lain, data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan yang pelakunya melarikan diri tercatat menurun pada 2015. Pada 2014, sekitar 11% korban tabrak lari berujung pada kematian, sedangkan tahun 2015 tercatat 9% korban tabrak lari berujung pada kematian.

Ketentuan Pidana

Budiyanto menjelaskan, tindak pidana bisa berupa tindak pidana pelanggaran maupun tindak pidana kejahatan. Dalam pasal 316 UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ, ketentuan pidana dikelompokan dalam tindak pidana pelanggaran dan tindak pidana kejahatan.

“Yang termasuk dalam tindak pidana kejahatan antara lain Psl 273,275 ayat ( 2 ) psl 277, psl 310, psl 311, dan psl 312 yakni tabrak lari. Di luar pasal tindak pidana kejahatan tersebut berarti tindak pidana pelanggaran,” jelas dia.

Terkait kecelakaan lalu lintas jalan, tambahnya, dalam pasal 231 UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ ditegaskan bahwa pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas wajib menghentikan kendaraan. Lalu, memberikan pertolongan kepada korban dan melaporkan kecelakaan kepada Kepolisian Negara RI. “Selain itu, memberikan keterangan yang terkait dengan kecelakaan,” tutur Budiyanto.

Sementara itu, ketentuan pidana terkait tabrak lari diatur dalam pasal 312 UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ. Pasal itu menegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya. Lalu, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara RI terdekat tanpa alasan yang patut dapat dipidana penjara paling lama tiga tahun. Atau, denda paling banyak Rp 75 juta.

“Tabrak lari merupakan tindak pidana kejahatan. Dari data yang ada bahwa kasus tabrak lari masih menunjukan angka yang relatif cukup tinggi. Ini menjadi salah satu indikator bahwa kesadaran masyarakat untuk patuh terhadap hukum relatif masih rendah,” tegasnya. (edorusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.309 pengikut lainnya