Skip to content

Vonis Buat Pelajar Penabrak Orang di Pinggir Jalan

28 April 2015

laka-lantas-sulsel-jazz

BARANGKALI Arief, bukan nama sebenarnya, tak pernah menduga siang itu merupakan nongkrong terakhirnya di pinggir jalan. Siapa yang menduga siang nan cerah pada 2009 itu ada ‘predator’ menyeruduknya. Brakkk!!!

Pelajar bersepeda motor, Aryad, kita sebut saja begitu, siang itu melenggang dengan percaya diri. Tak ada tanda-tanda istimewa bakal terjadi kisah kelam. Dia melaju dengan kecepatan sekitar 60 kilometer per jam (kpj).

Entah ada obyek memikat di kiri jalan yang mengalihkan perhatian Aryad mengendalikan si kuda besi. Pastinya, sejak dia menengok obyek di kiri jalan, sang kuda besi tak terkendali dan menabrak Arief yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Tak ada yang mendengar deritan rem atau klakson dari tunggangan Aryad.

Warga sekitar pun berdatangan. Mereka mencoba menolong Arief yang terkapar bersimbah darah akibat tabrakan sepeda motor. Nasib berkata lain, nyawa Arief tak bisa tertolong oleh dokter yang menanganinya di puskesmas. Dia dimakamkana pada hari yang sama ketika sang jagal jalan raya mendekat.

Lewat pengadilan yang berlangsung selama empat bulan, majelis hakim akhirnya memvonis Aryad dengan pidana selama empat bulan penjara dengan masa percobaan selama delapan bulan. Memang dia tidak mesti menghuni pengapnya di balik jeruji besi penjara, tapi tetap saja vonis itu bisa berdampak pada psikologi Aryad. Kecelakaan memang berdampak luas.

Oh ya, hakim menilai bahwa hal yang meringankan terdakwa adalah perilakunya yang sopan dalam menjalani sidang. Dan, telah terjadi perdamaian antara terdakwa dengan keluarga korban.

Meruyaknya Pelajar

Pada 2014, menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya jumlah anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan melonjak 11,11%. Tahun itu, setiap lima hari ada satu anak di bawah umur yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Mereka masih berstatus pelajar.

Barangkali masih ada yang ingat bagaimana anak seorang artis kondang yang memicu kecelakaan di jalan tol. Kejadian pada Minggu dinihari 8 September 2013 itu menimbulkan tujuh korban tewas dan beberapa korban luka berat. Sang pelaku yang masih anak di bawah umur ini mengemudi mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Buntut dari kecelakaan di Km 8+200 Tol Jagorawi, Jakarta Timur itu sang pelaku dituntut satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun plus denda Rp 50 juta atau subsider tiga bulan kerja sosial. Pelaku dituduh bersalah melanggar pasal 310 ayat 1, 3, dan 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun, akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur memvonis bebas pelaku karena dianggap masih di bawah umur. Vonis pada Selasa, 16 Juli 2014 itu mengembalikan pelaku kepada orang tuanya.

Kembali soal pelaku kecelakaan anak di bawah umur di wilayah Polda Metro Jaya. Pada 2014, kontribusinya meningkat dari 1,46% menjadi 1,72%. Saat itu, jumlah total pelaku kecelakaan tercatat sebanyak 4.644.

Melihat data tersebut bisa saja ditarik keseimpulan bahwa anak-anak di bawah umur yang berkendara di jalan raya rentan terlibat kecelakaan. Ironisnya, rentan menjadi pelaku kecelakaan seperti kasus anak artis kondang di atas.

Anak-anak di bawah umur memang masih menjadi tanggung jawab orang tua. Para orang tua mesti mati-matian memproteksi sang anak agar tidak menjadi pelaku kecelakaan di jalan. Barangkali salah satu caranya adalah dengan tidak mengizinkan mereka wira-wiri di jalan raya sambil mengemudi. (edo rusyanto)

Hal-hal Pantang Dilakukan Dalam Mendahului

27 April 2015

overtaking-methods-1

BANYAK kasus fatal lantaran mendahului. Sudah ribuan jiwa, bahkan lebih yang bertumbangan akibat kecelakaan lalu lintas jalan saat mendahului.
Tahukah kita ada area-area dan kondisi lalu lintas jalan yang pantang untuk mendahului?
Berikut ini adalah beberapa hal-hal yang pantang dilakukan saat hendak mendahului kendaraan yang ada di depan kita.

Mendahului pantang dilakukan dalam area-area sebagai berikut:

Pertama, dekat dengan tikungan. Risiko sangat tinggi jika mendahului di tikungan jalan, terutama risiko terjadinya tabrakan dengan kendaraan dari arah depan. Tikungan, terlebih tikungan tajam, merupakan salah satu lokasi kecelakaan yang sering terjadi di Indonesia. Pada 2013, tikungan tajam menjadi penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan yang dipicu oleh faktor jalan. Kontribusi tikungan tajam mencapai 17% dari sepuluh aspek yang ada di faktor jalan. Tahun itu, setiap hari rata-rata terjadi empat kasus kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Mendahului di tikungan tajam menjadi kian runyam saat situasi jalan juga ditambah dalam kondisi berlubang dan minim penerangan jalan.

Kedua, dekat dengan persimpangan. Hal itu untuk menghindari tabrak belakang yang terjadi lantaran kendaraan yang hendak didahului secara tiba-tiba berbelok ke simpangan tersebut.

Ketiga, di jembatan. Umumnya di jembatan ruang untuk mendahului amat tipis, karena itu oleh penanggung jawab kecelakaan di jembatan biasanya diberi marka jalan garis putih menyambung.

Keempat, di lereng curam. Kemiringan yang cuku curam tentu mempengaruhi pergerakan kendaraan yang sewaktu-waktu bisa lebih mudah tergelincir

Mendahului juga pantang dilakukan dalam kondisi arus lalu lintas sebagai berikut:

Pertama, tidak mendahului kendaraan di depan secara bersamaan atau lebih dari satu kendaraan. Cara mendahului seperti ini kian mempersempit ruang untuk mendahului dan memperlebar celah bertabrakan dengan kendaraan dari arah depan.

Kedua, jangan mendahului jika tiba-tiba kendaraan yang hendak didahului justeru menambah kecepatan.

Ketiga, jangan mendahului jika pandangan pengemudi yang hendak mendahului terhalang. Pandangan yang terhalang praktis mengurangi informasi yang dibutuhkan ketika hendak mendahului. (edo rusyanto)

Tulisan ini disadur dari materi ‘Ngantuk Berkendara = Maut’ besutan Komisaris Besar (Kombes) Polisi Chrysnanda Dwi Laksana,

Andai ‘Eyes On The Road’ Meruyak Disini

26 April 2015

eyes on the road samsung

Eyes on the Road membuka mata kita bahwa urusan di jalan raya bukan persoalan sepele.
Bila dikaitkan dengan kemampuan mengemudi di jalan raya, tidak semua orang berkeahlian mumpuni. Level tiap orang dalam mengemudikan kendaraan berbeda-beda. Mulai dari yang biasa-biasa saja hingga mereka yang super mahir.

Ketika ada yang mempertontonkan keahlian menyetir sambil berponsel, kita seperti disuguhi sebuah nyali yang luar biasa. Bayangkan, mengendarai mobil atau sepeda motor sambil berponsel membutuhkan ketrampilan khusus dan nyali besar. Bagaimana tidak, alih-alih ingin tetap menjalin komunikasi sambil mengemudi, bisa berujung pada petaka jalan raya. Atau, minimal bisa menimbulkan antrean di belakang sang pengemudi yang sambil berponsel. Antrean yang tidak sepatutnya amatt mengganggu pengguna jalan yang lain.

Di Indonesia, setidaknya setiap hari terjadi satu kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh aktifitas berponsel. Dalam catatan Korlantas Polri, pada 2013, aktifitas berponsel dimasukkan dalam kategori faktor teknologi. Kondisi nyaris serupa terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Data Ditlantas Polda Metro Jaya memperlihatkan, pada 2014, rerata terjadi dua kasus kecelakaan setiap harinya. Mengerikan.

Lantas, apa hubungannya dengan Eyes on the Road?

Saat pertamakali dipopulerkan pada akhir November 2013, Eyes on the Road cukup menyita perhatian. Saat itu, Singapura menjadi negara yang dipilih untuk mempopulerkan aplikasi yang satu ini.

Ya. Eyes on the Road merupakan aplikasi ponsel yang diperkenalkan oleh produsen ponsel Samsung. Aplikasi ini menjadi basis program “The Road Comes First”, yakni kampanye untuk menjadi pengemudi yang bertanggung jawab tanpa gangguan aktifitas berponsel. Singapura dipilih karena sekitar 83% pengemudi di negara itu mengaku menggunakan ponsel mereka saat mengemudi tanpa menggunakan kit hands-free. Sekitar 16% pengemudi mengalami kecelakaan atau nyaris kecelakaan akibat konsentrasi mengemudi yang terganggu oleh akitifitas berponsel.

Manajemen Samsung mengatakan, Eyes on the Road dirancang untuk membantu pengemudi menumbuhkan kebiasaan mengemudi tanpa gangguan dari ponsel mereka.

Para pengemudi cukup menghidupkan aplikasi Eyes on the Road ketika mengemudi dengan mengaktifkan modus Safe Drive. Setelah diaktifkan, aplikasi membungkam semua panggilan, pesan teks, dan pemberitahuan media sosial. Aplikasi ini juga menyediakan jawaban otomatis untuk panggilan suara maupun teks. Jawaban itu menegaskan bahwa orang yang dihubungi sedang mengemudi.Ketika tiba di tujuan, pengemudi dapat menonaktifkan aplikasi.

Andai Meruyak

Terbayang di pikiran saya andai aplikasi ini meruyak di kalangan para pengguna ponsel pintar (smartphone) di Indonesia. Mengutip laporan hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2015, saat ini terdapat sekitar 266 juta pengguna smartphone di Indonesia. Negara kita merupakan wilayah dengan pertumbuhan penjualan smartphone terbesar di Asia dengan pertumbuhan pasar sebesar 68% pada 2014.

Tak heran jika hampir setiap hari dengan mudah kita melihat para pengguna ponsel asyik mahsyuk dengan gadgetnya. Entah itu di tempat umum, di ruang kantor, hingga di ruang-ruang keluarga. Hidup seakan tak bisa terlepas dari ponsel. Sampai-sampai ada guyonan, “Ponsel mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Ironisnya jika gadget itu justeru tak bisa lepas ketika sang pemilik sedang berkendara. Pasti diantara kita pernah melihat para pengendara yang seperti itu. Tak hanya di kalangan pengemudi mobil, di kalangan pesepeda motor pun kita amat mudah menjumpai aksi berponsel sambil berkendara.

poster digital rsa_ponsel

Padahal, data Korlantas Polri menunjukkan pada 2013 aktifitas berponsel menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan di dalam faktor teknologi. Kepolisian tampaknya mulai mendata pemicu kecelakaan dari aspek teknologi, sekalipun kontribusinya masih di bawah 1% terhadap total kasus kecelakaan. Pada tahun-tahun sebelumnya faktor ini melebur di dalam faktor manusia.

Mengutip data tersebut, aktifitas berponsel ternyata memicu 97% kecelakaan yang disebabkan faktor teknologi. Aktifitas berponsel yang paling tinggi memicu kecelakaan adalah menerima panggilan telepon. Maksudnya, berkendara kendaraan bermotor sambil menerima panggilan telepon masuk, lalu berbincang sambil berkendara. Aspek ini menyumbang hampir 40% dari total faktor teknologi.

Aspek kedua terbesar, masih menurut data Korlantas, aktifitas menelepon sambil berkendara, yakni menyumbang sekitar 27%. Sedangkan mengirim dan menerima SMS masing-masing menyumbang sekitar 22% dan 8%. Sedangkan tiga aspek lainnya di faktor teknologi adalah menonton televisi (2,14%), menyetel tape/cd/radio (0,36%), dan melihat reklame LCD di pinggir jalan (0,36%).

Berponsel sambil berkendara tak semata soal ketrampilan. Substansi pesan yang diperbincangkan sangat mungkin mengganggu konsentrasi sang pengendara. Karena itu, negara mengatur soal konsentrasi secara detail di dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam pasal 106 UU tersebut ditegaskan bahwa para pengendara wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Aturan di pasal 106 itu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya. Hal-hal yang dianggap mengganggu perhatian itu adalah karena sakit, lelah, mengantuk,menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan. Bila itu terjadi bakal memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan.

Karena itu, mereka yang mengemudi sambil berponsel atau menonton televisi bisa kena semprit. Di pasal 283 UU itu ditegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi bisa dipenjara maksimal tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.
Tentu saja, jika lantaran tidak berkonsentrasi lalu menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan, sanksinya bisa bertambah. Apalagi, jika kecelakaan tersebut merenggut nyawa sang korban. Bisa-bisa dikenai pasal sengaja seperti tertuang di pasal 311. Pasal ini membidik sang pelaku kecelakaan dengan ancaman sanksi penjara maksimal 12 tahun dan denda maksimal Rp 24 juta. Ngeri kan?

Kembali soal Road on the Road. Andai para operator seluler dan para produsen ponsel sudi menggencarkan kampanye penggunaan aplikasi tersebut, rasanya bisa mengurangi potensi terjadinya kecelakaan. Tentu saja, semua tergantung kepada kesadaran sang pemilik ponsel. Karena itu, jika para operator gencar mengedukasi dengan menjelaskan risiko berponsel saat berkendara, semoga para pengemudi kesadarannya ikut terbangun. Kalau memakai pola Samsung dalam kampanyenya di Singapura, mudah-mudahan bisa merangsang para pengemudi menjadi lebih bertanggung jawab. Atau, barangkai perlu ada seruan dari pemerintah? (edo rusyanto)

Mencuat, Ajakan Tidak Berkendara Saat Mabuk

25 April 2015

IMG-20150424-WA0011

BANYAK kasus yang memperlihatkan bagaimana bahayanya berkendara sambil mabuk. Entah itu mereka yang mengendarai sepeda motor atau mengendarai mobil. Kisah pilu sering bermunculan di seantero jagat.
Pengendara yang mabuk setelah meminum-minuman beralkohol mengundang sang jagal jalan raya kian mendekat. Berangkat dari sana, komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) mengajak para pengendara agar menghindari mabuk saat berkendara. Ajakan itu tertuang dalam poster digital ke-35 ala Kopcau yang diluncurkan pada Jumat, 24 April 2015 malam.

Peluncuran yang dilakukan di sela-sela kopi darat (kopdar) Kopcau itu bergulir seperti biasanya. Para anggota Kopcau yang berasal dari berbagai kalangan hadir menyemarakkan kopdar di kedai roti bakar di kalangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
“Wah poster digital kita di-retwit oleh akun twitter Korlantas Polri,” ujar Iful, ketua Kopcau malam itu.

Ya. Poster digital yang dibuat Kopcau disebarkan di berbagai jejaring sosial. Seperti lini masa twitter, path, instagram, hingga blog. Tentu saja lini masa menjadi jejaring utama yang dimanfaatkan Kopcau dalam menyebarluaskan ajakan agar berkendara yang aman dan selamat.

Bahaya Mabuk

Banyak diantara kita yang tahu bahwa mengemudi dalam kondisi mabuk lantaran menenggak minuman beralkohol berisiko tinggi. Petaka jalan raya akan mudah terjadi. Mengingat pada umumnya tingkat konsentrasi pengendara akan buyar saat alkohol menjalar di dalam tubuh.
Di Indonesia, pada 2013, setidaknya ada tiga kasus kecelakaan setiap hari yang dipicu oleh pengemudi yang terpengaruh oleh minuman beralkohol. Dari sembilan aspek di faktor manusia yang memicu kecelakaan, aspek mabuk menyumbang sekitar 1,3%.

Seabrek contoh kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh pengendara dalam kondisi mabuk. Silakan berselancar di dunia maya. Kita akan mendapati banyak kasus, mulai yang kategori ringan hingga kecelakaan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, lihat saja kasus kecelakaan Tugu Tani di Jakarta pada 22 Januari 2012. Sang pengemudi yang divonis 15 tahun penjara itu mengonsumsi minuman beralkohol sebelum kecelakaan terjadi. Emosi publik tercabik-cabik lantaran tragedi jalan raya itu merenggut sembilan korban jiwa dan tiga lainnya menderita luka berat. Para korban adalah pedestrian yang sedang melenggang di trotoar jalan.

Contoh lain adalah kasus kecelakaan metro mini yang merenggut 30-an korban jiwa di Jakarta pada 6 Maret 1994. Sang pengemudi divonis 15 tahun penjara.

Kejadian serupa ada di berbagai negara. Kasus demi kasus bermunculan di berbagai belahan dunia. Rasanya memang berkendara dalam kondisi mabuk membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sebagian besar pengemudi dewasa berisiko lima kali lebih besar terlibat kecelakaan bila darahnya mengandung alkohol 0,1 g/dl. Menurut WHO, tingkat konsentrasi alcohol dalam darah (blood alcohol concentration/BAC) yang berisiko memicu kecelakaan berkisar 0,05-0,1 g/dl.

Bahkan, bagi pengemudi muda dan pemula, risikonya bisa lebih besar dibandingkan pengemudi yang berpengalaman. Perlu diwasapdai juga adalah bahwa efek dari gangguan alkohol kian membesar jika dikombinasikan dengan kelelahan saat mengemudi.

Sebanyak 89 negara yg mencakup 66% populasi dunia (4,55 miliar orang), sekarang memiliki aturan hukum mengemudi saat mabuk dengan batasan kandungan alcohol (BAC) 0,05 g/dl atau kurang. Di Indonesia, aturan terkait dengan minuman beralkohol masuk dalam pasal yang mewajibkan semua pengendara untuk berkonsentrasi saat mengemudi.

poster ke 35 mabuk
Lantas apakah tidak ada regulasi yang mengatur soal larangan mengemudi dalam keadaan mabuk di Indonesia?

Ternyata ada. Simak saja Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dalam pasal 106 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
Penjelasan mengenai penuh konsentrasi di pasal itu merinci bahwa yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.

Lazimnya sebuah aturan, seabrek sanksi sudah menanti. Coba saja lihat pasal 283, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu.

Tapi tunggu dulu. Bagaimana jika ternyata saat mabuk lantas menimbulkan kecelakaan? Ternyata sanksinya lebih berat lagi.
UU No 22 tahun 2009 tentang LLAJ mencantumkan ancaman sanksi pidana penjara dan denda bagi para pelaku kecelakaan. Sang pelaku kecelakaan bisa diganjar sanksi karena kelalaian (pasal 310) atau kesengajaan (pasal 311). Bagi mereka yang divonis melakukan kelalaian, sanksi pidana penjara maksimalnya selama enam tahun atau sanksi denda yang maksimalnya Rp 12 juta. Sedangkan bagi mereka yang divonis melakukan kesengajaan bisa dikenai penjara maksimal 12 tahun atau denda maksimal Rp 24 juta. Sanksi juga diberikan bagi mereka yang melakukan tabrak lari.

Kopdar Pengicau didirikan di Jakarta pada 23 Desember 2012. Komunitas ini beranggotakan para admin twitter dari komunitas atau klub sepeda motor. Selain itu, para pemilik akun twitter yang peduli pada keselamatan jalan. Dalam kopdar yang digelar dua minggu sekali pada Jumat malam, Kopdar Pengicau menelorkan satu poster digital yang berisi pesan kampanye keselamatan jalan. Poster digital itu disebar lewat @kopdarpengicau dan akun para anggotanya. Selain itu, disebar juga lewat media sosial lainnya seperti facebook atau path. (edo rusyanto)

Tabrak Lari Masih Merisaukan

24 April 2015

tabrak lari viva

MASA sih tabrak lari masih merisaukan di Jakarta dan sekitarnya?

Ya. Pertanyaan itu mengusik saya beberapa hari terakhir. Bahkan, sejumlah orang juga mempunyai pertanyaan yang sama.

Oh ya, tabrak lari adalah sebutan untuk kasus kecelakaan yang pelakunya melarikan diri. Misalnya, si A menabrak si B. Lalu, si A bukannya menolong malah melarikan diri dan tak diketahui rimbanya.

Bila mengintip data Ditlantas Polda Metro Jaya pertanyaan di atas amat mudah terjawab. Coba saja simak.

Tahun 2014, kontribusi tabrak lari membengkak dari 24,22% menjadi 24,69%. Artinya, dari rata-rata 16 kasus kecelakaan yang terjadi setiap hari di Jakarta dan sekitarnya, sekitar empat kasus adalah tabrak lari. Memang sih angka kasus itu lebih rendah sekitar 6% bila dibandingkan dengan 2014. Tapi, itu tadi, dari sisi kontribusinya justeru menggelembung.

Soal fatalitasnya pun amat merisaukan. Bagaimana tidak, 11% dari korban tabrak lari berujung pada kematian. Sedangkan secara umum, sekitar 9% korban kecelakaan berujung pada kematian. Artinya, tabrak lari lebih fatal dibandingkan dengan kecelakaan lalu lintas jalan pada umumnya.

Bisa jadi fatalitas itu lantaran korban kecelakaan terlambat ditolong. Misal, tabrak lari terjadi di daerah yang sepi sehingga tidak ada saksi atau warga yang bisa menolong dengan segera. Berbeda dengan kasus kecelakaan yang sang pelakunya bertanggung jawab atau di lokasi sekitar kejadian banyak warga yang bisa membantu. Terutama, membantu sang korban agar cepat mendapat pertolongan petugas medis.

Tak heran jika perundangan kita memberi sanksi berat bagi pelaku tabrak lari. Lihat saja pasal 312 Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Di pasal itu ditegaskan bahwa pelaku tabrak lari bisa dipidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

Pasal itu membidik pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat tanpa alasan. Sekali lagi, tanpa alasan. Berbeda dengan misalnya, menghindar dari amukan massa sehingga melarikan diri ke kantor polisi terdekat.
Bahkan, untuk pelaku kasus tabrak lari dan menimbulkan korban meninggal dunia, surat izin mengemudi (SIM) nya layak dicabut. Kolega saya di kepolisian menyebutkan bahwa untuk kasus tabrak lari semestinya SIM sang pelaku dicabut oleh Negara. SIM sebagai bukti kompetensi mengemudi diterbitkan oleh Negara melalui Kepolisian RI. Bila terbukti sang pemegang SIM membahayakan pengguna jalan yang lain, sudah selayak SIM tersebut dicabut. (edo rusyanto)

Ketika Pengangkut Gabah Lengah

23 April 2015

mendahului-aman

MALANG tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Tak ada kekuatan manusia yang bisa membantah ketika kuasa Nya bertindak.

Hal pasti yang bisa dilakukan kita hanyalah terus melangkah. Ketika di jalan raya, terlebih saat berkendara, tak ada toleransi untuk perilaku lengah. Apalagi sampai gegabah. Ujungnya bisa bikin gerah, bahkan bisa berdarah-darah.

Sarno, kita sapa saja begitu, termasuk yang merasakan getirnya buah dari lengah saat berkendara. Bagaimana tidak, lantaran hal itu dia mesti meringkuk di balik jeruji penjara. Tentu saja dia kehilangan waktu, tenaga, hingga biaya. Uang yang semestinya bisa dipakai untuk kepentingan keluarga justeru dikeluarkan untuk berdamai dengan keluarga dari korban yang ditabraknya.

Ceritanya begini. Suatu pagi, mobil pengangkut gabah yang dikemudikan Sarno melenggang seperti biasa. Lalu lintas jalan ramai lancar. Pada suatu ruas jalan dia mencoba mendahului sepeda motor yang ada di sisi kiri jalan. Ironisnya, mobil bak terbuka pengangkut gabah itu menyenggol setang motor yang ditumpangi Wandi, kita panggil begitu saja.

Wandi yang mengemudikan sepeda motor tidak sendirian. Dia membawa Winda, bukan nama sesungguhnya. Lantaran serempetan dari mobil pengangkut gabah tadi Wandi menjadi oleng. Ironisnya, Winda terpelanting dan jatuh. Saat bersamaan, mobil Sarno melintas. Ban mobil mengenai tubuh Winda sehingga menimbulkan luka berat hingga akhirnya perempuan itu menghembuskan nafas yang terakhir.

Cerita berlanjut ke ranah meja hijau. Jaksa sempat menuntut Sarno penjara lima bulan. Namun, hakim akhirnya memutuskan vonis penjara empat bulan potong masa tahanan. Selama menjalani proses persidangan Sarno harus mendekam di balik jeruji besi.

Pantang Mendahului

Dalam kasus Sarno, hal penting yang bisa menjadi pembelajaran adalah perlunya kewasdaan saat mendahului. Urusan mendahului bukan persoalan mudah. Lengah sedikit saja urusannya bisa panjang.

Sekalipun mayoritas pengguna jalan tahu mengenai teori mendahului yang aman dan selamat, pada praktiknya bisa saja keliru. Ada aspek-aspek penting yang mesti diperhatikan ketika memutuskan untuk mendahului ketika di jalan raya. Misalnya, soal kondisi jalan dan cuaca.

Survey Road Safety Association (RSA) Indonesia pada 2014 menyebutkan, sebanyak 54,52% pengguna jalan menjawab dengan benar pertanyaan soal aturan mendahului. Lalu, sebanyak 44,70% menjawab keliru dan dan 0,78% tidak menjawab. Artinya, bisa disimpulkan bahwa mayoritas tahu bagaimana cara mendahului.

Saat mendahului, penting diperhatikan area dan kondisi arus lalu lintas jalan. Ada hal-hal yang pantang dilakukan dan mesti mendapat perhatian besar dari pengemudi yang ingin mendahului.

Mendahului pantang dilakukan dalam area-area sebagai berikut:

Pertama, dekat dengan tikungan. Risiko sangat tinggi jika mendahului di tikungan jalan, terutama risiko terjadinya tabrakan dengan kendaraan dari arah depan. Tikungan, terlebih tikungan tajam, merupakan salah satu lokasi kecelakaan yang sering terjadi di Indonesia. Pada 2013, tikungan tajam menjadi penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan yang dipicu oleh faktor jalan. Kontribusi tikungan tajam mencapai 17% dari sepuluh aspek yang ada di faktor jalan. Tahun itu, setiap hari rata-rata terjadi empat kasus kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Mendahului di tikungan tajam menjadi kian runyam saat situasi jalan juga ditambah dalam kondisi berlubang dan minim penerangan jalan.

Kedua, dekat dengan persimpangan. Hal itu untuk menghindari tabrak belakang yang terjadi lantaran kendaraan yang hendak didahului secara tiba-tiba berbelok ke simpangan tersebut.

Ketiga, di jembatan. Umumnya di jembatan ruang untuk mendahului amat tipis, karena itu oleh penanggung jawab kecelakaan di jembatan biasanya diberi marka jalan garis putih menyambung.

Keempat, di lereng curam. Kemiringan yang cuku curam tentu mempengaruhi pergerakan kendaraan yang sewaktu-waktu bisa lebih mudah tergelincir. (edo rusyanto)

Belajar dari Kasus Kecelakaan Pemuda Australia

22 April 2015

jake drage australia kecelakaan

PEMUDA peselancar asal Australia, Jake Drage tak pernah menduga dirinya bakal terlibat kecelakaan. Kali ini kecelakaan yang menimpa dirinya justeru terjadi di jalan raya. Lantaran kasus itu dia pun sempat merasakan tinggal di balik jeruji penjara. Dia pun gigih memperjuangkan haknya.

Jake Drage yang kini berusia 24 tahun mengalami kecelakaan pada 2014. Saat itu dirinya hendak berselancar di Sukabumi, Jawa Barat. Dalam perjalanan menuju pantailah dia terlibat kecelakaan.

Saya termasuk orang yang yakin bahwa banyak diantara kita tak ingin terlibat kecelakaan. Apalagi, bila kecelakaan itu berujung ke pengadilan. Pengalaman Jake Drage bisa menjadi pembelajaran berharga bagi kita agar senantiasa ekstra waspada saat berkendara. Kewaspadaan dengan konsentrasi tinggi menjadi bagian dari ikhtiar yang amat berharga dalam meredam fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Pengalaman yang dilakoni Jake Drage tentu bukan persoalan ringan. Saya sulit membayangkan bagaimana berkecamuknya perasaan pemuda tersebut ketika hendak menikmati liburan justeru berhadapan dengan masalah hukum. Belum lagi perasaan keluarga tercinta. Tentu bukan persoalan ringan menjalani hidup di balik jeruji penjara yang jaraknya ribuan kilometer dari kampung halaman, Geraldton, Australia. Dalam kesendirian pria muda itu harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi. Walau, akhirnya menghirup udara bebas pada Senin, 13 April 2015. Sungguh suatu pengalaman hidup yang berat. Tak heran ketika kembali menghirup udara bebas dia mengeluarkan kalimat, “Alhamdulillah.”

Kecelakaan yang dialami pria berprofesi sebagai instruktur senam ini tergolong memilukan. Pagi, 30 Juni 2014 saat kejadian dia mengendarai sepeda motor skutik untuk menuju pantai di kawasan Bayah. Dia membawa serta papan seluncur di bagian kiri skutiknya.
Saat melintas di Jl Raya Cisolok, desa Cikahuripan, Sukabumi dia hendak mendahului sebuah truk. Si kuda besi melambung ke sisi kanan truk dan melibas marka jalan menyambung. Namun, pada dari arah berlawanan muncul skutik lain yang ditunggangi dua orang perempuan. Setang sepeda motor bagian kanan Jake Drage menyenggol setak skutik tersebut. Dampaknya bisa ditebak. Brakkk!!!

Skutik yang disenggol Jake Drage terjatuh dan penumpangnya terpental. Ironis satu dari dua penunggangnya meninggal dunia. Penegak hukum pun menjadikan Jake Drage sebagai tersangka.
Oh ya, dalam Peraturan Kapolri (Perkap) No 15 tahun 2013 tentang Tata Cara Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas diatur soal penyidikan kecelakaan yang melibatkan warga negara asing. Dalam pasal 41 Perkap itu disebutkan bahwa warga negara asing dibagi dua, yakni pertama warga negara asing yang memiliki kekebalan diplomatik. Dan, kedua, warga negara asing biasa.

Sementara itu, pada pasal 42 ayat (1) dijelaskan bahwa penyidikan kecelakaan lalu lintas terhadap warga negara asing yang memiliki kekebalan diplomatik urutannya adalah a. tindakan pertama di TKP: pertama, petugas melaksanakan tindakan pertama di TKP sesuai prosedur. Lalu, kedua, Petugas Polri mencatat identitas korban, saksi, tersangka, serta kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas. Dan, ketiga, segera diberitahukan ke kantor kedutaan atau perwakilan negara asing yang bersangkutan.

cara mendahului_motor
Sedangkan untuk b. tindakan lanjutan, pertama penyidik melakukan olah TKP dan melakukan tindakan pemeriksaan. Kedua, terhadap warga negara asing yang memiliki kekebalan diplomatik tanpa melakukan penahanan. Dan, ketiga, terhadap kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas digunakan oleh warga negara asing memiliki kekebalan diplomatik: a) tidak dilakukan penyitaan jika berstatus sebagai kendaraan dinas diplomatik; dan/atau b) dilakukan penyitaan, jika berstatus selain sebagai kendaraan dinas diplomatik.

Keempat, apabila hasil penyidikan menunjukkan cukup bukti unsur tindak pidana, penyidik mengirimkan surat pemberitahuan penjelasan hasil penyidikan kepada kedutaan yang bersangkutan melalui Kementerian Luar Negeri dan pemberitahuan ke Badan Intelijen Keamanan Polri.

Pasal 42 ayat (2) penyidikan kecelakaan lalu lintas terhadap warga negara asing biasa urutannya: a. tindakan pertama di TKP. b. Petugas Polri melaksanakan tindakan pertama di TKP sesuai prosedur. c. petugas Polri mencatat identitas korban, saksi, tersangka serta kendaraan yang terlibat Kecelakaan Lalu Lintas; dan d. segera diberitahukan ke kantor kedutaan atau perwakilan negara asing yang bersangkutan. Untuk tindakan lanjutan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Penjara 9 Bulan

Jake Drage dikenai pasal 310 ayat (4) UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pasal ini menyebutkan bahwa pengemudi yang lalai kemudian menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia bakal diganjar penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri (PN) Cibadak menuntut satu tahun dan enam bulan penjara serta denda Rp 5 juta. Tuntutan JPU tidak sepenuhnya dikabulkan oleh Majelis Hakim karena setelah melewati sejumlah persidangan, akhirnya pada 16 Oktober 2014 Majelis Hakim lewat keputusan Nomor : 267/Pid.Sus/2014/PN.Cbd., memvonis Jake dengan hukuman sembilan bulan penjara dan denda Rp 1 juta.
Tak puas dengan putusan PN, JPU mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Bandung, Bandung, Jawa Barat. Namun, Majelis Hakim PT Bandung pada Rabu,19 November 2014 mengeluarkan putusan menguatkan keputusan PN Cibadak.

Hingga akhirnya pada Senin, 13 April 2015 sekitar pukul 11.00 WIB Jake Drage dibebaskan dari Lapas Kelas III Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi. Laman inilah.com menyebutkan bahwa hal itu karena dua kali masa penahanan dalam upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung (MA) sudah habis. Narapidana perkara kecelakaan lalu lintas itu sudah menjalani 110 hari waktu tahanan dari MA. “Saya sekarang bebas. Saya ingin sekali pergi ke pantai dan berenang,” seperti dilansir inilah, Senin, 13 April 2015.

Sepekan kemudian, Jake Drage kembali ke kampung halamannya di Australia. “Aku kembali sekarang, saatnya untuk menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman dan melakukan semua hal yang baik dan aku rindu,” katanya, seperti dilansir laman www.abc.net.au, Selasa, 21 April 2015.

Dia mengaku akan datang lagi ke Indonesia setelah masa pelarangan dirinya habis. Jake Drage mengaku banyak pemandangan indah di Indonesia dan masih banyak orang baik di negeri ini. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.840 pengikut lainnya.