Skip to content

Mereka Para Pengawal Trotoar

4 Mei 2016

jakarta post trotoar_kpk

JUMLAH pedestrian yang tumbang diterjang kecelakaan lalu lintas jalan terus bermunculan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukan para pejalan kaki sebagai satu dari tiga kelompok yang rentang sebagai korban kecelakaan. Dua lainnya adalah pesepeda kayuh dan pesepeda motor.

Dalam catatan WHO dari 1,25 juta korban tewas akibat kecelakaan di dunia, sekitar 49% nya berasal dari kelompok rentan tersebut. Kalangan pesepeda motor menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban kecelakaan, yakni sekitar 23%. Lalu, sekitar 22% dari kalangan pejalan kaki dan sekitar 4% dari kalangan pesepeda kayuh.

Ironisnya, di negeri kita tercinta, para pedestrian dan pesepeda kayuh serta pesepeda motor seperti saling sikut. Bagaimana tidak, fasilitas pedestrian, yakni trotoar dijarah oleh pesepeda motor. Saking banyaknya kuda besi yang berseliweran di kota-kota besar seperti Jakarta, akhirnya meluber ke trotoar jalan. Begitu juga dengan lajur sepeda kayuh yang terinjak-injak oleh si kuda besi dan jenis kendaraan bermotor lainnya.

Khusus trotoar, sejak lima tahun terakhir saya melihat banyak pedestrian berteriak ketika haknya dirampas. Inilah enam para penjaga trotoar yang lantang menyuarakan hak mereka.

1). Perempuan di Kolong Semanggi

Masih ingat bagaimana aksi Nisya Amalia, perempuan muda yang dengan gagah berani mengusir para pesepeda motor di trotoar kolong jembatang Semanggi, Jakarta Selatan?

Aksi pada 2009 itu menghentak Jakarta karena Nisya berani mengadang pesepeda motor yang melintas di trotoar. Para pesepeda motor yang diadang pun turun dari trotoar, tapi ada juga yang mengumpat dan marah atas aksi perempuan pekerja swasta itu.

Saat berjumpa dengan saya di stasiun televisi swasta, tiga tahun lalu, dia mengaku para pedestrian mesti ekstra waspada ketika di jalan raya. Upayanya mengingatkan hak pejalan kaki atas trotoar tak jarang mendapat sikap nyinyir dari pesepeda motor. Bahkan, ada pesepeda motor yang menyebutnya sebagai orang gila.

anthony tidur di trotoar

2). Aksi Tidur Koalisi Pejalan Kaki

Sosok Anthony Landjar dikenal gigih memperjuangkan hak pejalan kaki. Salah satu pendiri Koalisi Pejalan Kaki itu sempat menggegerkan jagat media sosial maupun media mainstream ketika dia melakukan aksi tidur di trotoar jalan. Saat itu, Juni 2011 dia menidurkan diri di trotoar yang ada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Praktis, cara mengadang pesepeda motor yang cukup ekstrim itu membuka mata masyarakat.

Masyarakat, khususnya para pejalan kaki kian gencar meneriakan haknya ketika dirampas oleh banyak elemen. Baik itu pesepeda motor hingga para pedagang kaki lima.

Koalisi Pejalan Kaki merupakan salah satu kelompok yang terus dengan gigih memperjuangkan hak pedestrian. Aksi demi aksi digulirkan termasuk mengusung 22 Januari sebagai Hari Pejalan Kaki. Tanggal itu dipilih merujuk saat sembilan pedestrian tewas akibat ditabrak pemobil pada 22 Januari 2012. Akibat kecelakaan itu empat pejalan kaki lainnya menderita luka serius.

3). Aksi Damai Elemen Masyarakat

Di luar aksi Nisya dan Anthony, setidaknya ada dua elemen masyarakat yang cukup gencar menyuarakan hak pedestrian. Keduanya adalah Road Safety Association dan Kopdar Pengicau yang masing-masing berbasis di Jakarta. Seruan kedua kelompok masyarakat itu berlandaskan pada prinsip berbagi ruas jalan guna menekan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan.

Pada Mei 2013, Road Safety Association menggelar aksi bertajuk ‘Selamatkan Pejalan Kaki.’ Aksi serupa digelar oleh beragam kalangan, termasuk Kopdar Pengicau yang mengusung tema ‘Trotoar hak Pedestrian’ pada Oktober 2015.

Kedua entitas itu terus menyuarakan hak pejalan kaki hingga saat ini. Baik melalui media sosial maupun aksi damai berupa pembentangan spanduk dan orasi di hadapan publik.
IMG-20151030-WA003

4). Aksi Bocah di Semarang

Memasuki tahun 2016 publik dikejutkan oleh hadirnya penjaga trotoar cilik di Semarang, Jawa Tengah. Bocah berusia sembilan tahun bernama Daffa Oktaviarto dengan lantang menentang penjarahan trotoar yang notabene hak pedestrian. Sepeda kayuhnya dipalang di atas trotoar pada Jumat, 15 April 2016, bahkan dia menghardik pesepeda motor yang melintas di atas trotoar.

Sontak aksi yang awalnya menyebar di media sosial itu kebanjiran simpatik dari publik. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah mengundangnya secara khusus ke kantor Gubernur.

Pastinya, kegigihan sang bocah itu seakan memecut kesadaran sosial publik atas perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Sang bocah mengaku bahwa apa yang dilakukannya terinspirasi kampanye trotoar sebagai hak pejalan kaki. Dia mengaku, trotoar adalah hak pejalan kaki sehingga sepeda motor tidak boleh melintas di atasnya.

5). Perempuan Adang Motor di Trotoar

Di Jakarta, pada Mei 2016 kita disuguhkan lagi lahirnya penjaga trotoar yang dengan gigih menyuarakan haknya. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, perempuan bernama Alfini mengadang pesepeda motor yang melintas di trotoar Jakarta. Foto perempuan muda itu menjadi headline di koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post edisi Selasa, 3 Mei 2016.

Aksi Alfini pun mendapat respons banyak kalangan masyarakat. Nada dukungan pun bermunculan. Sampai-sampai ada juga yang mempertanyakan dimana peran petugas dalam menegakkan aturan di jalan raya.

rsa-aksi-pedestrian_media-indonesia

Di Indonesia, setiap hari belasan pedestrian yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Bahkan, di dunia, menurut data WHO, setiap hari 700-an pejalan kaki tewas di jalan. Mereka menjadi kelompok yang amat rentan di jalan raya. Karena itu, selain menyuarakan hak di jalan raya, para pedestrian dan kita semua mesti kian meningkatkan kewaspadaan saat berjalan kaki. Tentu saja, termasuk menyeberang di tempatnya dan menyeberang secara aman dan selamat.

Bagi para pengendara, jangan lupa ketika menemui pedestrian menyeberang, berilah prioritas. Amanat UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mewajibkan para pengemudi kendaraan bermotor untuk memberi prioritas kepada pedestrian. Setuju? (edo rusyanto)

foto; istimewa dan koleksi pribadi

Pengakuan Ibu Pemakai Sarung Setang Motor

3 Mei 2016

sarung-stang-motor

SUATU petang saya berbincang dengan kolega saya di kantor. Awalnya, kami berbincang soal perilaku perempuan pengendara sepeda motor yang dituding suka semena-mena. Maksudnya, kadang berbelok tanpa memberi lampu isyarat. Atau, lampu isyarat yang dinyalakan berbeda dengan arah berbelok si empunya motor.

“Kadang bikin kita bingung di jalan raya,” papar kolega saya, di Jakarta, suatu petang pada penghujung April 2016.

Kami sedikit menyamakan pandangan bahwa perilaku berkendara yang semena-mena tidak monopoli gender tertentu. Hampir semua jenis pengendara melakukan hal itu. Belum ada riset yang membuktikan bahwa gender tertentu lebih ugal-ugalan. Kalau soal fakta yang ada, gender tertentu memonopoli sebagai pelaku maupun korban kecelakaan. Itu fakta data.

Nah, perbincangan kami topiknya bergeser ketika dia melontarkan soal pemakaian sarung tangan khas yang belakangan digandrungi pesepeda motor perempuan. “Bentuknya khas, penasaran aja apakah itu tidak mengganggu waktu mengendarai motor yah. Pingin rasanya caritahu,” kata pria muda itu.

Hal serupa sebenarnya saya rasakan, yakni ingin tahu bagaimana sih sarung tangan itu. Sepintas, bentuknya yang melebar dan melampaui pergelangan tangan seperti mengganggu sang pemakainya.

“Saya sih nggak merasa terganggu, justeru terbantu daripada memakai sarung tangan kulit atau yang biasa,” ujar seorang perempuan pesepeda motor saat berbincang dengan saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Kami sempat berbincang di sela menanti perubahan lampu pengatur lalu lintas dari merah menjadi hijau. Percakapan pun meluas. Mulai dari berapa harganya hingga belinya di mana. “Saya beli harganya Rp 20 ribu di dekat tempat tinggal saya,” tambah perempuan yang memakai jaket warna hijau ojek berbasis aplikasi.

Saat itu, dia sedang membawa penumpang. Keduanya memakai helm berwarna hijau. “Oh ya, ini tidak mengganggu karena ada bagian jempolnya. Dan, sarung tangan ini ada pengikatnya sehingga tidak jatuh,” tambah perempuan yang saya perkirakan berusia sekitar 30 puluh tahunan.

Dia memperagakan bagaimana dengan gampangnya mencopot sarung tangan itu, lalu kembali memasukan tangannya. Di bagian bawah sarung tangan ternyata menyentuh langsung bagian setang motor sehingga dianggap tidak mengganggu saat menggenggam setang motor.

Lampu pun berubah menjadi hijau. Percakapan kami terhenti. Perempuan itu melaju dengan lincah di keramaian lalu lintas jalan di pinggiran Jakarta Selatan.

Dari penelusuran di media online saya mendapati bahwa sarung tangan itu populer disebut sarung tangan motor alias satamo. Dalam laman sarungstangmotor.blogspot.com disebutkan bahwa ada empat tipe satamo.

Bahkan, di laman tokopedia ditulis bahwa sarung stang motor matic sangat populer di Hong Kong sejak tahun 2014. Saat ini sedang tren di kota-Kota Besar di sebagian Jawa, seluruh kota di Kalimantan, dan sebagian di Sumatera.
Pernah mencoba? (edo rusyanto)

sumber foto dari sini

Menepis Kecelakaan untuk Dongkrak Produktifitas

2 Mei 2016

darma henwa alat berat
KECELAKAAN dan produktifitas kerja menjadi dua sisi dalam satu keping mata uang. Produktifitas kerja akan terpengaruh bila seorang pekerja terlibat kecelakaan, termasuk kecelakaan lalu lintas jalan. Karena itu, mutlak untuk kita membangn budaya berkeselamatan yang nyata-nyata bisa meningkatkan produktifitas kerja.

Manajemen perusahaan yang jeli menempatkan standard operation procedure (SOP) berbasis keselamatan (safety) yang tepat di setiap lini perusahaan. Keselamatan kerja, termasuk di jalan raya, amat vital bagi perusahaan transportasi, jasa kurir, hingga perusahaan makanan cepat saji. Sedangkan para pemanufaktur ditambah lagi dengan keselamatan dan kesehatan kerja serta lindungan lingkungan atau yang populer dengan K3L. Bahkan, di perusahaan tertentu digenapi lagi dengan manajemen mutu (K3LM).

Intinya, semua pihak terbebas dari kecelakaan kerja, termasuk di jalan raya, pencemaran lingkungan, serta penyakit akibat kerja. Kesadaran untuk mencapai itu bukan semata lahir dari manajemen perusahaan yang disiplin, tapi juga menuntut peran aktif para pekerja.

“Kecelakaan bisa merusak produktifitas karyawan maupun perusahaan,” kata Direktur Sales dan Marketing Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Mira K Safri, di Jakarta, belum lama ini.

Di kasus kecelakaan lalu lintas jalan, kerugian yang ditimbulkan secara langsung maupun tidak langsung menyentuh Rp 200-an triliun per tahun. Tentu saja produktifitas perusahaan tempat korban kecelakaan bekerja dapat ikut terganggu.

Bagi perusahaan kontraktor tambang, urusan keselamatan kerja, termasuk keselamatan berkendara (safety driving) menjadi sebuah kata kunci. Para pekerja yang menambang sumber daya alam (SDA) hingga para pekerja di lingkungan kantor mutlak menerapkan K3L. Terlebih para pengendara yang membawa hasil tambang ke pusat pengolahan mutlak menerapkan kaidah safety driving. Lengah sedikit bisa runyam urusannya.

“Masalah safety menjadi mutlak. Safety harus menjadi satu bahasa yang difahami oleh seluruh anggota perusahaan,” ujar Wachjudi Martono, presiden direktur PT Darma Henwa, saat berbincang dengan saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menegaskan bahwa keselamatan kerja merupakan kunci penting dalam mewujudkan produktifitas kerja, termasuk produktifitas perusahaan. Bila perusahaan mampu menekan angka kecelakaan, kinerja perusahaan yang bersangkutan pun ikut terkerek naik. Efisiensi dapat tercapai jika ritme kerja minim kecelakaan.

tambang dan kecelakaan
Menurut dia, penerapan K3LM bukan hanya menjalankan kegiatan dan program untuk memenuhi apa yang dipersyaratkan maupun apa yang direncanakan. Jauh daripada itu penerapan dilakukan untuk membentuk karakter dan budaya K3LM pada pekrja. “Menjadikan safety sebagai bahasa universal dalam operasional kerja adalah strategi terbaik dalam menanamkan budaya K3LM pada pekerja,” kata dia.

Lewat budaya seperti itu pula, lanjut dia, pihaknya terus menekan angka kecelakaan kerja. Pada 2013, Darma Henwa masih mencatat 353 kasus kecelakaan kerja, namun setahun kemudian melorot menjadi 178 kasus. Bahkan, pada 2015, dapat diturunkan lagi menjadi 72 kasus kecelakaan.
Terkait produktifitas, jelas Wachjudi, jumlah produksi batubara perseroan meningkat menjadi 12,3 juta ton pada 2015 dari 11,5 juta ton pada 2014. Selain itu, Darma Henwa mampu mengatrol pendapatan dari USS 234,7 juta pada 2014 menjadi US$ 240,1 juta. Sedangkan EBITDA tahun 2015 tercatat US$ 29,1 juta, turun 0,6% dari setahun sebelumnya, yakni US$ 31,1 juta.

“Penerapan kaidah safety akan membuat kerja menjadi aman, lalu efisien dan produktifitas pun meningkat,” ujar dia. (edo rusyanto)

Ternyata Belajar Teknik Safety Riding Itu Tidak Gampang

1 Mei 2016

ibc papan keseimbangan

Bersepeda motor aman dan selamat (safety riding) butuh penguasaan teknik berkendara yang mumpuni. Tentu, dilandasi perilaku yang santun dan bersahabat di jalan. Maksudnya, mau mentaati aturan dan sudi berbagi ruas jalan.

“Umumnya orang belajar naik sepeda motor secara otodidak,” sergah Head of Safety Riding Promotoion Wahana, Agus Sani, di Tangerang, Banten, Sabtu, 30 April 2016 pagi.

Bagi belasan anggota Independent Bikers Club (IBC) melatih kemampuan teknik berkendara menjadi kebutuhan. Kali ini berkolaborasi dengan tim safety riding PT Wahana Makmur Sejati yang cukup mumpuni di kawasan Asia. Pelatihan berlangsung di kawah candradimuka safety riding Wahana di Track Safety Riding Center Jatake, Tangerang, Sabtu pagi. Lokasi ini berjarak sekitar 50 km dari Jakarta.

“Kami senang melatih komunitas atau kelompok peseda motor yang ada di kawasan Jakarta dan Tangerang. Peserta minimal 15 orang dan maksimal 30 orang,” kata Agus Sigit Wicaksono, Community Club Development Officer PT Wahana Makmur Sejati, Sabtu.

Agus Sani menambahkan, pihaknya tidak hanya berjualan sepeda motor, tapi juga menggelar pelatihan safety riding bagi masyarakat. Wahana adalah main dealer sepeda motor Honda untuk kawasan Jakarta dan Tangerang, Banten. “Kami ingin para pesepeda motor aman dan selamat,” kata dia.

IMG-20160430-WA0024

Para anggota IBC yang didampingi beberapa kolega pesepeda motor mendapat materi teori dan praktik. Materi teori mencakup perilaku dan pengetahuan dasar safety riding. Sedangkan praktik mencakup pengecekan motor, zig zag, pengereman, slalom, dan papan keseimbangan.

“Bagaimana mengantisipasi agar konsentrasi tidak terganggu di jalan karena misalnya ada SPG yang menawari brosur motor,” tanya bro Sontry.

Agus Sani memberi tips, para pesepeda motor tetap fokus memandang ke arah depan, jalur yang akan dilintasi. Tidak berkendara dan tidak melakukan gerakan yang mengganggu keseimbangan berkendara.

Dalam praktik, materi papan keseimbangan menjadi perhatian serius. Inilah materi yang dinilai paling sulit oleh anggota IBC. Bagaimana tidak, mereka harus melaju di atas hamparan papan terbuat dari logam berlebar 30 cm dan memiliki panjang 15 meter. Namun, harus melaju super lambat sehingga tiba diujung papan dalam 30 detik.

“Buat yang bisa 30 detik tanpa keluar lintasan dapat hadiah helm,” kata Agus Sani.

Peserta mendapat tiga kali kesempatan. Dua kali sebagai pembelajaran, sedangkan kali ketiga mulai dihitung untuk menguji kemampuan keseimbangan.
“Ternyata tidak gampang belajar safety riding,” ujar bro Andi, salah seorang peserta.

Dari 18 peserta, hanya tiga yang berhasil mencatat waktu cukup lumayan walau tidak mencapai 30 detik. Mereka mencatat waktu 20, 18, dan 12 detik. Mayoritas peserta pelatihan keluar dari lintasan atau melaju lebih cepat hingga ke ujung lintasan.

“Belajar keseimbangan itu penting dan amat bermanfaat waktu di jalan. Termasuk untuk menghadapi kemacetan lalu lintas maupun manuver lain seperti menikung atau mendahului,” jelas Agus Sani.

Sekalipun melelahkan dan diguyur hujan dengan permukaan aspal yang basah, para peserta pelatihan dari IBC mengaku senang. “Keseruannya dapat dan ilmunya bermanfaat,” kata bro Mamed.

bareng peserta dan pelatih

Bagi Waketum IBC, bro Alex, pelatihan safety riding kali ini bagian dari upaya IBC menambah pengetahuan dan ketrampilan berkendara. Pihaknya berterimakasih kepada Wahana yang sudi menerima IBC. “Sedikit banyak acara ini amat bermanfaat buat kami dan kami haturkan terimakasih,” katanya.

IBC adalah kelompok pesepeda motor yang didirikan pada 29 Desember 2006 di Jakarta, oleh para pekerja media massa. Klub yang bermotto ‘Bersahabat, Santun di Jalan’ ini anggotanya tersebar di berbagai media massa baik itu cetak, elekronik, online, hingga televisi. Kini, IBC bermarkas di kelompok media Berita Satu, Jakarta. (edo rusyanto)

Penyepelean Pemakaian Helm Masih Berlangsung

30 April 2016

helm perempuan meja

KESEHARIAN kita di jalan raya berhadapan dengan permisifme yang luar biasa. Bahkan, kesan menyepelekan keselamatan saat belalu lintas jalan demikian kentara. Salah satunya tentu saja terkait dengan pemakaian helm pelindung kepala ketika bersepeda motor.

Dalih tidak memakai helm, seperti sering kita dengar, masih berkutat soal jarak tempuh yang dianggap dekat. Misal, dari rumah ke pasar di dekat tempat tinggal. Atau, dari rumah ke depan kawasan kompleks perumahan.

Anggapan jarak dekat terkesan lebih kepada persoalan tilang menilang. Maksudnya, karena dianggap tidak akan ada yang menindak akibat pelanggaran tersebut jadilah sang pesepeda motor yang bersangkutan santai-santai saja. Ini baru sekadar kesan. Faktanya?

Kesan tadi mengingat pada faktanya tingkat kekerasan permukaan jalan raya di sekitar tempat tinggal dengan jalan nan jauh disana nyaris tidak ada beda. Aspal, beton, atau jalan tanah sekalipun akan amat berisiko ketika berbenturan langsung dengan kepala.

Jadilah kita berhenti pada kesimpulan soal penyepelean pemakaian helm. Sekali lagi, hal itu dengan asumsi bahwa tingkat kekerasan permukaan jalan di seantero negeri rasanya memiliki kekuatan yang sama.

Fakta lain di masyarakat kita tentu saja masih banyak yang tingkat kesadarannya cukup tinggi terkait pemakaian helm. Mereka tak pernah mengenal jarak berkendar. Helm pelindung kepala senantiasa dipakai manakala bersepeda motor. Bahkan, ada diantara mereka yang menempatkan helm sebagai salah satu bagian dari gaya hidup. Tak heran jika kelompok yang ini rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli helm yang diinginkan, selain untuk perlindungan juga sekaligus mempermanis penampilan.

Kecintaan pada helm tak semata soal corak dan harga maupun fungsi, tapi juga diperlihatkan dengan tingkat perawatan yang maksimal. Hal itu termasuk bagaimana secara berkala membersihkan atau mencuci helm secara detail. Di bagian lain, masih soal urusan merawat helm, dipilih tempat penyimpanan yang aman dan nyaman. Aman dari si tangan panjang dan nyaman karena ditempatkan di area yang tidak riskan oleh gesekan dengan benda lain, termasuk jatuh dari ketinggian.

Sampai-sampai ada yang menyimpan helm disamping meja kerja. Ada juga yang membungkus helm dengan rapi lalu ditempatkan di loker kerja. Mereka begitu peduli kepada helm yang diyakini ikut membantu melindungi kepala jika terjadi insiden atau kecelakaan di jalan raya.

Maklum, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, di negara-negara tertinggal dan berkembang, cedera kepala diperkirakan berkontribusi sekitar 88% terhadap kematian pesepeda motor. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Eropa yang diperkirakan sekitar 75%.

WHO juga bilang, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, helm juga bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

Tak heran jika lantas pemerintah Indonesia mengatur pemakaian helm secara serius di dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan itu bilang, pengendara maupun penumpang wajib memakai helm. Bahkan, helmnya pun diatur, yakni harus memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI).

Bagi para pelanggar aturan tersebut akan diancam sanksi denda maksimal Rp 250 ribu. Atau, sanksi penjara maksimal satu bulan.

Lantas, kenapa mesti menyepelekan pemakaian helm? Lupakah kita bahwa hal gede kerap diawali oleh soal yang dianggap sepele. (edo rusyanto)

Polisi Menilai Disiplin Pengguna Jalan Masih Rendah

29 April 2016

zebra cross mobil motor1

DISIPLIN para pengguna jalan di Jakarta dan sekitarnya dinilai relatif masih rendah. Hal itu salah satunya merujuk pada kedisiplinan untuk berhenti di belakang garis setop seperti dipersimpangan jalan.

“Disiplin pengguna jalan untuk berhenti di belakang garis setop (stop line) relatif masih rendah,” tegas AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulisnya, Kamis, 28 April 2016 siang.

Dia mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan terhadap simpang-simpang jalan yang memiliki arus padat, masih banyak didapatkan pengguna jalan yang tidak mematuhi garis setop. Pengguna jalan ada yang berhenti melewati atau persis ada di atas garis setop.

“Melihat kondisi seperti ini Ditlantas Polda Metro Jaya, telah memaksimalkan penegakan
hukum terhadap pelanggaran tersebut,” tukas dia.

Beberapa lokasi persimpangan jalan yang paling dominan penindakan pelanggaran itu antara lain adalah traffic light (TL) Daan Mogot, Jakarta Barat sebanyak 879 kasus. Lalu, Simpang Lima Senen, Jakarta Pusat sebanyak 804 kasus. Selain itu, Terminal Blok M, Jakarta Selatan sebanyak 585 kasus. “Penindakan itu untuk periode 19 hingga 27 April 2016,” jelas Budiyanto.

Tindakan itu, tambahnya, sebagai bentuk tanggung jawab untuk menekan pelanggaran dimaksud. Selain itu, sekaligus dalam rangka proses membangun budaya tertib berlalu lintas. Dan, selama periode itu Ditlantas Polda Metro Jaya mengaku telah menindak 4.477 pelanggar.

Budiyanto menjelaskan, tindakan berhenti melewati garis setop melanggar Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pelanggaran aturan itu bisa dikenakan pasal 287 yo psl 106 ayat (4) huruf a dan b. Hukumannya adalah pidana kurungan paling lama dua bulan. “Atau denda paling banyak Rp 500 ribu,” katanya.

Di sisi lain, zebra cross merupakan fasilitas bagi pedestrian menyeberang jalan. Artinya, ketika pengendara dengan sengaja berhenti di atas fasilitas publik itu sama saja dengan merampas hak pedestrian. Ironis.

Tapi, ngomong-ngomong yang tidak disiplin itu dari seluruh kalangan masyarakat yah pak polisi? Lalu, ada penindakan denda maksimal kah? (edo rusyanto)

Sembilan Hal Penting Soal Angkutan Berbasis Online

28 April 2016

busway gatsu dilibas kejepit

ANGKUTAN menggunakan teknologi informasi atau kondang disebut berbasis online belakangan ini terus bergemuruh. Apalagi kalau bukan lantaran angkutan itu dianggap lebih nyaman dibandingkan angkutan legal yang beroperasi saat ini. Puncak gemuruh angkutan itu terjadi ketika gelombang penolakan mencuat di jantung kota Jakarta.

Belakangan, pada 1 April 2016 Menteri Perhubungan Ignatius Jonan menelorkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 32 tahun 2016 tentang Penyelenggraaan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Aturan itu mencabut Keputusan Menteri Perhubungan No 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum. Permehub anyar itu dengan lugas mengatur penyelenggaraan angkutan umum dengan aplikasi berbasis teknologi informasi yang belum diatur oleh KM 35/2003.

Permenhub No 32/2016 mengatur angkutan orang tidak dalam trayek yang mencakup taksi, angkutan sewa, angkutan carter, angkutan kawasan tertentu, dan angkutan untuk keperluan pariwisata. Bisa jadi angkutan berbasis online yang beroperasi saat ini bakal memilih ranah angkutan sewa yang tarifnya disepakai antara perusahaan angkutan dengan konsumen.

Nah, dalam aturan baru ini ada sejumlah hal yang barangkali kita perlu ketahui terkait dengan angkutan berbasis online.

Pertama, angkutan orang orang dengan kendaraan umum tidak boleh lagi oleh perorangan Warga Negara Indonesia (WNI). Artinya, usaha angkutan wajib berbadan hukum bisa berupa badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), perseroan terbatas, atau koperasi.

Kedua, perusahaan/lembaga penyedia aplikasi berbasis teknologi informasi yang memfasitasi dalam pemberian pelayanan angkutan orang wajib bekerjasama dengan perusahaan angkutan umum yang telah memiliki izin penyelenggaraan angkutan.

Ketiga, perusahaan aplikasi yang tidak bekerjasama dengan perusahaan angkutan umum praktis tidak boleh merekrut pengemudi, besaran penghasilan pengemudi, menetapkan tarif, dan memungut bayaran.

permen 32 syarat angkutum

Keempat, memiliki minimal lima kendaraan dengan surat tanda nomor kendaraan (STNK) atas nama perusahaan.

Kelima, kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang wajib lolos uji kendaraan.

Keenam, memiliki tempat penyimpanan kendaraan (pool).

Ketujuh, menyediakan fasilitas pemeliharaan kendaraan (bengkel) yang dibuktikan dengan dokumen kepemilikan atau perjanjian kerjasama dengan pihak lain.

Kedelapan, perusahaan angkutan umum harus memberi layanan yang baik setidaknya memenuhi standar pelayanan minimal (SPM).

Kesembilan, bila perusahaan angkutan umum mengoperasikan kendaraan tidak memiliki izin dikenakan sanksi tidak diberikan pengembangan usaha selama dua tahun oleh pemberi izin.

Oh ya, ternyata Permen anyar itu baru berlaku enam bulan setelah diundangan loh. Artinya, jika diundangkan pada 1 April 2016, baru berlaku pada 1 Oktober 2016 yah? (edo rusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.442 pengikut lainnya