Skip to content

Begini Kecelakaan Mudik Tiga Tahun Terakhir

29 Juli 2015

mudik laka 2014_viva

PEMERINTAH di bawah Presiden Joko Widodo mengaku mampu menurunkan kasus kecelakaan musim mudik Lebaran 2015 sebesar 21,5%. Angka itu mencuat bila dibandingkan dengan kasus serupa pada musim mudik 2014. Di sisi lain, fatalitas atau korban kasus kecelakaan yang meninggal dunia juga disebutkan menurun, yakni sekitar 8%.

Pemerintah melalui kementerian perhubungan (kemenhub) menyebutkan data kecelakaan lalu lintas jalan itu untuk periode H-7 hingga H+7, artinya untuk rentang waktu 7-25 Juli 2015. Tahun ini, hari raya Idul Fitri jatuh pada Sabtu dan Minggu, yakni 17 dan 18 Juli.

Bila merujuk data musim mudik tiga tahun terakhir, torehan pada musim mudik 2015 sebenarnya relatif biasa-biasa saja. Maksudnya, pada 2013 dan 2014 pun begitu juga, terjadi penurunan.

Hal yang pasti dan mesti menjadi perhatian serius adalah masih bergelimpangannya nyawa anak bangsa di jalan raya. Bila merujuk data yang dilansir pemerintah, musim mudik Lebaran tahun ini setiap hari rata-rata 41 orang meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan. Mengingat pada H-7 hingga H+7 tahun ini korban meninggal dunia disebut mencapai 657 jiwa. Sedangkan setahun sebelumnya rata-rata 45 nyawa atau total korban meninggal sebanyak 714 jiwa. Satu saja, urusan nyawa adalah persoalan serius.

Oh ya, sebagai gambaran, pada musim mudik Lebaran 2014, seperti dilansir Korlantas Polri, kasus kecelakaan turun sekitar 17%, sedangkan fatalitas kecelakaan anjlok hingga sekitar 18%. Demikian pula pada musim mudik tahun 2013. Bahkan, tahun 2013, kasus kecelakaan anjlok hingga 30%, sedangkan fatalitas kecelakaan turun 12%.

Artinya, dalam rentang 2013 hingga 2015, prestasi negara dalam meredam jagal jalan raya layak diacungi jempol. Khusus untuk korban tewas tercatat terus menurun, yakni dari rata-rata 50 jiwa per hari (2013) menjadi 45 per hari (2014), dan menjadi 41 jiwa per hari (2015).

Rezim sebelum Joko Widodo, yakni di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rupanya mewariskan tradisi menurunkan kasus kecelakaan musim mudik Lebaran. Walau, di kedua rezim itu nyaris kita tak mendengar pemerintah dengan terbuka menyatakan bela sungkawa dan duka mendalam kepada para korban kecelakaan lalu lintas jalan. Perilaku berbeda dipertontonkan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara. Para penguasa dengan lantang dan terbuka menyatakan duka cita, termasuk dengan sigap menuntaskannya, termasuk urusan santunan duka cita.

Pertahankan Sinergi

Pertanyaannya, bagaimana kesemua itu bisa terjadi? Atau, kenapa saat musim mudik Lebaran kecelakaan dan fatalitas dapat ditekan?

Sebagai orang awam saya melihatnya seperti ini. Para pemangku kepentingan keselamatan jalan seperti Kepolisian RI, kemenhub, kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), kementerian kesehatan (kemenkes) hingga pemerintah daerah dari tahun ke tahun menempatkan musim mudik sebagai perhatian utama. Mereka menggulirkan beragam program untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan para pengguna moda transportasi, terutama bagi para pengguna angkutan jalan.

Saat musim mudik Lebaran para pemangku kepentingan keselamatan jalan menggelontorkan anggaran masing-masing. Anggaran untuk mempermulus program masing-masing itu demikian menopang setiap langkah yang telah dibuat. Anggaran menjadi pelumas mesin keterpaduan dan keseriusan mereka.
Dan, pada musim mudik pula sinergi antara pemangku kepentingan demikian kentara alias mudah terlihat. Mereka bahu membahu.

Eloknya, kesemua itu bisa diterapkan dalam keseharian. Perhatian yang besar serta sinergi yang kuat bisa menjadi modal utama untuk menggapai target pemerintah dalam urusan kecelakaan lalu lintas jalan. Kita masih ingat bahwa negara punya target menurunkan fatalitas kecelakaan sebesar 50% pada 2020 terhitung mulai 2011. Bahkan, pada 2035, pemerintah punya target ambisius menurunkan fatalitas hingga 80%. Dapatkah semua itu diwujudkan? (edo rusyanto)

Rasanya, Indonesia Perlu Beribu-ribu Mawar 86

28 Juli 2015

mawar 86 film polisi tilang_youtube

MAWAR 86 menjadi oase di tengah minimnya figur teladan di jalan raya. Film pendek yang mengangkat kisah nyata seorang polisi lalu lintas (polantas) di Gresik, Jawa Timur ini semestinya memberi inspirasi. Terutama agar menginspirasi para petugas di garda depan benar-benar tampil dengan wajah yang humanis tapi sekaligus tegas.

Sejenak kita menggali ingatan tentang Mawar 86 yang diproduksi Forum Film Jambi dan dilansir di youtube pada 2014. Inti kisah itu adalah bagaimana sang petugas mencoba meminta maaf kepada sang isteri yang sudah ditilangnya. Malam ketika kembali ke rumah, sang petugas memberi setangkai mawar merah sekaligus kartu ucapan permintaan maaf sekaligus ungkapan cinta kasih yang tulus.

Bila Mawar 86 mengandalkan karakter sang pemeran dan sudut pengambilan gambar, berbeda dengan Lain Cerita milik TVOne. Pada episode cuplikan tayangan Minggu, 19 Juli 2015, digambarkan bagaimana sang petugas, yakni Aiptu Jailani menceritakan ihwal penilangan dan alasan dia menilang yang ramai dibicarakan pada 2013. Digambarkan bahwa sang petugas tak ingin dituding pilih kasih sehingga harus menilang siapapun yang melanggar aturan di jalan.

Tayangan Lain Cerita pada episode sebelumnya bahkan mengulik lebih detail tentang petugas yang tegas itu. Dalam wawancara antara pembawa acara dengan Jailani terungkap bagaimana kronologis penilangan. “Saya takut dikatain tebang pilih,” ungkap sang petugas.

Dia mengaku, sang isteri sempat marah saat ditilang. Dia dituduh kejam dan jahat. Bahkan, sang isteri sempat dongkol dan marah dua hari.“Sampean kejam, sampean jahat. Saya malu dilihat orang banyak, orang senam dan di car free day matanya tertuju ke kita. Nanti soal tilang saya yang bayar, walau uangnya minta dari sampean,” paparnya.

Rahmawati, isteri dalam tayangan yang sama bilang, saat kejadian tilang dia baru saja pulang dari pasar dan berboncengan dengan sang anak. “Maaf saya tidak tahu kalau ini masih waktunya car free day. Soalnya, teman-temannya suami saya bilang, car free day sudah selesai silakan saja lewat. Saya sempat ngambek dua hari,” selorohnya.

Indonesia butuh figur teladan, termasuk di jalan raya. Selain menanti kesadaran para pengguna jalan, figur teladan butuh ditumbuh kembangkan. Teladan mulia agar para pengguna jalan lebih humanis, sudi mentaati aturan dan menjaga etika. Muaranya, agar kenyamanan dan keselamatan para pengguna jalan dapat benar-benar diwujudkan.

Ketaatan pada aturan di jalan menjadi kata kunci. Maklum, kita tahu bahwa pemicu utama kecelakaan adalah perilaku berkendara yang tidak tertib alias melanggar aturan. Data Korlantas Polri menunjukan bahwa sekitar 42% kecelakaan dipicu oleh perilaku tidak tertib. Andai aturan bisa ditegakkan seyogyanya potensi kecelakaan lalu lintas jalan dapat dipangkas secara signifikan. Kita juga tahu bahwa kecelakaan masih menimbulkan duka lara bagi anak negeri. Setiap hari, rata-rata 78 tewas akibat kecelakaan di jalan.

Figur teladan, sikap toleran, dan taat aturan bisa menjadi ramuan jitu memangkas kasus kecelakaan di jalan. Apalagi, bila penegakkan hukumnya berjalan dengan tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Setuju? (edo rusyanto)

Bumi Ciloto Berdarah Lagi

27 Juli 2015

bus laka ciloto 2015_viva

BAK disambar petir di siang bolong ketika membaca berita kecelakaan bus di Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 26 Juli 2015 itu lagi-lagi diduga lantaran rem blong.

Berbagai media online memberitakan, peristiwa bermula ketika bus bus pariwisata Eagle High bernomor polisi B 7331 BAA melaju di jalan menurun dan berkelok. Bus yang melaju dari arah Jakarta menuju Cianjur itu diduga mengalami rem blong sehingga menghantam sejumlah kendaraan di atas jembatan. “Evakuasi kendaraan yang rusak di atas jembatan menyebabkan arus lalu lintas mengalami kemacetan hingga 3 kilometer dari kedua arah,” tulis laman viva.co.id, Minggu.

Buntut kecelakaan menimbulkan sejumlah korban luka-luka dan tentu saja menimbulkan kerusakan pada kendaraan yang terlibat. Dan, sang pengemudi bus, Masimin ditetapkan sebagai tersangka.

Inilah untuk kesekiankali kecelakaan di kawasan Cianjur yang menetapkan sang pengemudi menjadi tersangka. Kejadian serupa, di lokasi yang tidak berjauhan, bahkan pernah ada yang lebih buruk pada tahun 2013. Kecelakaan maut menimpa rombongan yang hendak berziarah Rabu, 27 Februari 2013. Ketika itu bus melaju dan sang pengemudi tidak mampu mengendalikan sehingga menabrak tebing. Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 11.30 WIB itu pun merenggut 17 korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka.

Pandi (45 tahun) sang pengemudi, setelah sembuh dari cedera akibat kecelakaan itu ditetapkan sebagai tersangka. Sekitar empat bulan setelah kecelakaan Pengadilan Negeri (PN) Cianjur memvonis dia hukuman penjara 3,5 tahun. Pandi dijerat oleh pasal 310 Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Keputusan majelis hakim lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang membidik Pandi dengan tuntutan lima tahun penjara.

Oh ya, pasal 310 ayat (3) UU tersebut menegaskan bahwa orang yang lalai dan menyebabkan kecelakaan hingga korban luka berat diancam pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10 juta. (edo rusyanto)

Tiga Kecelakaan Paling Maut Musim Mudik 2015

26 Juli 2015

mudik laka rukun sayur 2015_viva

MUSIM mudik Lebaran tahun 2015 menyisakan duka di jalan raya. Bila merujuk data Operasi Ketupat Korlantas Polri, hingga H+5 Lebaran, rata-rata menelan 45 korban jiwa per hari. Duka anak negeri.

Sedikitnya 200-an kecelakaan lalu lintas jalan terjadi per hari selama musim mudik. Dari kasus-kasus tersebut tercatat tiga kasus kecelakaan amat menonjol atau paling maut. Kriteria itu bila melihat jumlah korban jiwa yang ditimbulkan dalam satu kasus kecelakaan. Ironisnya, ketiga kecelakaan tersebut terjadi di jalan bebas hambatan (tol) serta melibatkan minibus dan bus.

Tiga kasus kecelakaan paling menonjol sepanjang bulan puasa dan musim mudik tersebut tercatat menelan 26 jiwa dan 49 orang menderita luka-luka. Dari jumlah korban luka, terdapat lima di antaranya dalam kondisi kritis.

Pertama, kecelakaan minibus menabrak truk. Kecelakaan pada 6 Juli 2015 ini diawali oleh minibus Daihatsu Grand Max yang melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan kepolisian menyebut angka 110 kilometer per jam (kpj), hendak mendahului dari bahu jalan. Ironisnya, di bahu jalan ada truk B 9427 UFU yang sedang berhenti untuk memperbaiki sistem pengereman truk. Tabrakan pun tak bisa dihindarkan sehingga minibus bernomor polisi E1720 NF itu terbakar.

Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 15.50 WIB itu pun akhirnya merenggut tujuh korban jiwa dan empat korban luka kritis. Peristiwa terjadi di tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 178.

Kanit Laka Lantas Polres Majalengka Iptu Suhendi saat diwawancarai tvOne, Selasa, 7 Juni 2015, seperti dikutip laman viva.co.id, menyebutkan, minibus menabrak sebelah kanan truk. “Kemudian oleng ke kanan, berputar dan masuk ke parit jalan, terbakar,” ujarnya.

Oh ya, laman itu juga menyebutkan, minibus Grand Max memiliki kapasitas maksimal delapan orang termasuk sopir. Namun, saat kejadian diisi 11 orang termasuk pengemudi.

Guna mengungkap lebih akurat pemicu kecelakaan, Korlantas Polri bahkan menurunkan Tim Technical Analysis Accident (TAA). Tim diharapkan bisa meneliti lebih rinci pemicu kecelakaan sehingga bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi publik.

Kedua, bus menabrak pembatas jalan tol Palimanan-Kanci KM 202, Cirebon, Jawa Barat pada 14 Juli 2015 sekitar pukul 14.00 WIB. Akibat kecelakaan tunggal bus PO Rukun Sayur AD 1543 CF itu sebanyak 12 orang tewas dan 35 menderita luka-luka.

Saat kejadian, kendaraan dikemudikan oleh Sularno yang sesungguhnya adalah kernet bus. Sang pengemudi, Sutarjo digantikan karena sedang mengantuk. Sesaat setelah kejadian, Sularno melarikan diri karena takut diamuk massa. Pria yang mengalami patah tangan itu melarikan diri dari tempat kejadian perkara (TKP) melalui gorong-gorong hingga memasuki perkampungan lalu ke terminal dan pulang ke kampungnya. Belakangan, dia menyerahkan diri kepada polisi.

Kasus ini bahkan merembet ke soal izin trayek PO Rukun Sayur. Terkait hal ini, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan sampai menyurati Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bus tersebut mengantongi izin Bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) bukan Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Izin AKDP ada di Gubernur, sedangkan AKAP ada di kementerian perhubungan.

Ketiga, kecelakaan minibus menabrak truk. Kasus yang terjadi pada Jumat, 24 Juli 2015 ini
menimpa Toyota Kijang Innova bernomor polisi B 1805 EKX yang lepas kendali lalu menabrak pembatas jalan sehingga masuk ke jalur berlawanan dan tertabrak bus. Peristiwa yang terjadi di jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 166.600 jalur A ini merenggut tujuh korban jiwa dan satu orang kritis.

Korban tewas dan luka adalah para penumpang Innova. Mereka hendak menuju Jakarta. Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 23.15 WIB ini diduga dipicu oleh pengemudi, Tri Wahyono (34 tahun) yang mengantuk sehingga mobil oleng dan menabrak pembatas jalan (guardriel). Mobil yang meluncur dari arah Cirebon menuju ke Jakarta itu masuk ke arah berlawanan dan saat itu bus PO Setia Negara berpelat nomor E 7607 YC yang dikemudikan Enco (58)sedang melintas sehingga tabrakan pun terjadi. (edo rusyanto)

Menikmati Pemandangan Menakjubkan di Kawah Putih Ciwidey

25 Juli 2015

kawah putih dari atas

“BAGI para pengunjung terutama yang berada di pusat kawah, harap segera naik bila merasa pusing atau telah melebih 15 menit di kawasan kawah.”

BEGITU kira-kira inti pesan suara perempuan yang keluar dari pengeras suara, Sabtu, 18 Juli 2015 sore. Pengumuman itu diputar secara berkala oleh pengelola Kawah Putih, Ciwidey, Bandung Selatan, Jawa Barat untuk mengingatkan para wisatawan. Maklum, lazimnya sebuah kawah, dia mengeluarkan uap belerang yang bisa menyesakkan dada jika menghirupnya terlalu banyak.

“Sebaiknya pakai masker pak. Ini kami jual, satunya Rp 5.000,” ujar pria muda di mulut masuk ke arah kawah saat saya melintas.

Jadilah saya merogoh kocek membeli masker yang kalau di Jakarta dilego berkisar Rp 1.500-2.000 per unit. Maskernya berwarna hijau toska.

Menuju kawasan wisata Kawah Putih dari Jakarta tidak terlalu sulit. Aksesnya cukup bagus. Dari Jakarta bisa melintas lewat jalan tol Jakarta-Cikampek, lalu masuk ke tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) dan keluar di gerbang tol (GT) Kopo. Selanjutnya, perjalanan menyusuri jalan ke arah Soreang hingga akhirnya ke Ciwidey. Jarak tempuh sekitar 169 kilometer (km). Dalam kondisi normal semestinya membutuhkan waktu berkisar 4-5 jam dengan menggunakan mobil roda empat. Namun, saat saya berkunjung saat itu membutuhkan waktu sekitar sembilan jam. Dahsyat!

Maklum, kedatangan saya saat itu bertepatan dengan hari kedua Lebaran Idul Fitri 1436 H atau Sabtu, 18 Juli 2015. Lalu lintas jalan sudah tersendat sejak di tol JORR arah Jatiasih hingga ke Cikarang (tol Jakarta-Cikampek). Drama kemacetan mencuat lagi ketika memasuki kawasan Soreang hingga ke Ciwidey.

kawah putih lumpur

Arus kendaraan memasuki kawasan Ciwidey kian tersendat mengingat lebar jalan hanya mampu menampung dua mobil berpapasan. Permukaan aspal relatif mulus, walau sesekali ada aspal yang mengelupas dan di bahu jalan terdapat sejumlah lubang. Padatnya arus kendaraan dan jalan yang tidak lebar membuat kemacetan mengular. Butuh kesabaran ekstra mengingat jelang ke lokasi Kawah Putih jalan menanjak dan tak sedikit lubang di bahu jalan. Belum lagi lalu lintas jalan dipadati oleh pengendara sepeda motor yang muncul di sisi kanan dan kiri. Fokus dan waspada menjadi bekal berkendara agar senantiasa tetap berkonsentrasi.

Kawah dan Strawberry

Para wisatawan domestik yang berkunjung ke Kawah Putih mesti merogoh kocek Rp 18 ribu per orang. Sedangkan bagi wisatawan mancanegera (wisman) dikenai Rp 50 ribu per orang. Bagi pengunjung yang ingin memanfaatkan keindahan Kawah Putih sebagai latar pemotretan pra pernikahan (pre wedding) dikenai tarif Rp 500 ribu per sekali kedatangan.

kawah putih tiket 2015

Bagi pengunjung yang membawa mobil pribadi, setelah membayar tiket akan diberi kartu akses untuk membuka palang pintu di mulut jalan menuju kawah. Selain tarif pengunjung, wisatawan yang membawa mobil pribadi dikenai tarif jasa lingkungan (jasling) sebesar Rp 150 ribu per mobil.

Perjalanan dari pintu masuk Kawah Putih menju lokasi kawah menelusuri jalan yang relatif mulus. Jalannya menanjak dan berkelok serta hanya bisa dilalui dua mobil berpapasan. Di kiri kanan jalan rimbunnya pepohonan kawasan Gunung Patuha menyapa para wisatawan. Rambu-rambu jalan yang dipasang pengelola, yakni Perhutani cukup membantu para pengunjung.

Bagi wisatawan yang menggunakan sepeda motor tidak diperkenankan berkendara hingga ke area kawah. Para pesepeda motor diminta memarkirkan kendaraannya di area parkir yang telah disediakan di dekat gerbang masuk. Dari gerbang, para pesepeda motor dipersilakan menumpang angkutan setempat yang disebut Ontang-anting dengan tarif Rp 13 ribu per orang.

Oh ya, jangan lupa jam operasi yang ada di rentang pukul 07.00-17.00 WIB sehingga Anda bisa merancang jadwal kunjungan. “Tapi, kalau musim liburan seperti Lebaran banyak pengunjung yang datang malam hari sehingga kami buka 24 jam,” ujar seorang ibu pemilik kedai kopi di area parkir Kawah Putih.

kawah putih jalan mobil menuju kawah

Para pengunjung yang datang malam hari itu, tambahnya, merancang untuk bisa masuk ketika suasana masih pagi hari. Udara di kawasan ini cukup sejuk bahkan ketika memasuki sore dan malam hari cukup dingin bagi warga Jakarta seperti saya. Alat pengukur suhu di telepon pintar memperlihatkan kondisi suhu di posisi 22 derajat celcius saat kami berada di kawasan kawah pada sore dan malam itu.

Pemandangan di sekitar kawah demikian menakjubkan. Setelah berjalan kaki yang menurun sejak dari pintu masuk area kawah, para pengunjung sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa. Warna air kawah yang kehijauan dan aroma belerang cukup menyengat. Kawah dikelilingi tebing berbatu dan pepohonan nan menghijau. Udara dingin kian terasa apalagi ketika memasuki sore hari saat kabut mulai turun.

Banyak wisatawan yang berpose di area kawah. Mereka membuat foto kenang-kenangan sudah berkunjung ke kawah yang diketemukan oleh orang Belanda keturunan Jerman, Franz Wilhelm pada 1837. Lalu, 150 tahun kemudian pemerintah Indonesia mulai mengelolanya sebagai obyek wisata dan sejak 1991, Perum Perhutani menjadi pengelola.

Oh ya, terkait foto, kini banyak warga yang menyediakan jasa foto langsung jadi. Para wisatawan tinggal berpose dan merogoh kocek sudah dapat foto yang langsung dicetak saat itu juga.

rambu bahu jalan ciwidey 2015

Setelah puas menikmati pemandangan alam, para wisatawan bisa mencicipi segarnya buah strawberry yang dijajakan para pedagang di area parkir bawah. Di dekat pintu gerbang bawah banyak para pedagang yang menawarkan buah strawberry dalam kemasan plastik seperti di supermarket. Harga buah berwarna merah itu bervariasi, ada yang Rp 5.000 satu kemasan, tapi ada juga yang Rp 10 ribu per kemasan. “Bonusnya dua kemasan kecil kalau bapak beli tiga kemasan besar, harganya Rp 30 ribu,” ujar seorang ibu pedagang strawberry saat saya memesan tiga kemasan besar.

Wisatawan yang ingin bermalam tak perlu khawatir. Di sekitar kawasan wisata ini berteberan anek penginapan. Mulai dari hotel, villa, hingga semacam losmen. Tarif menginapnya pun beragam mulai Rp 300 ribuan per malam per orang hingga mendekati Rp 1 juta per malam. Jarak penginapan juga beragam, ada yang terletak di dekat gerbang Kawah Putih hingga yang sekitar lima kilometer menjelang Kawah Putih. Silakan pilih sesuai selera dan kocek masing-masing.

Minat mencoba? (edo rusyanto)

Begini Profil Pelanggaran pada Musim Mudik

24 Juli 2015

ridwan kamil hukum lawan arus

WALIKOTA Bandung, Ridwan Kamil pernah bertutur bahwa ternyata kepintaran tidak berbanding lurus dengan kedisiplinan sederhana. Pernyataan itu dia lontarkan manakala mendapati salah satu pengguna jalan di Bandung melanggar aturan, yakni melawan arus.

Ketika mendapati aksi melawan arus itu sang Walikota sontak memberi sanksi berupa hukuman push up kepada sang pesepeda motor. “Pas dicek, ternyata sarjana ekonomi dari universitas ternama di Bandung,” kata sang Walikota di akun facebook-nya, Rabu, 22 Juli 2015.

Kejadian yang masih dalam suasana Lebaran itu semoga dapat menjadi pembelajaran kita semua. Sanksi moral seperti push up pernah juga dipakai oleh para polisi lalu lintas (polantas) terhadap para pelanggar aturan di Jakarta. Sanksi dibuat untuk mengingatkan para pengguna jalan agar tidak menggadaikan keselamatan dirinya dan orang lain hanya demi kepentingan sesaat.

Tindakan Walikota Bandung yang terjadi di rentang waktu musim Operasi Ketupat yang digelar Korlantas Polri, yakni H-7, H1, H2, dan H+7 mengingatkan saya pada tindakan aparat Kepolisian Lalu Lintas. Pada rentang musim mudik dan arus balik Lebaran mayoritas pelanggar aturan adalah kalangan terdidik. Setidaknya kalau melihat latar belakang mereka yang mayoritas, yakni sekitar 59% adalah para pekerja swasta alias karyawan. Para pelanggar kedua dan ketiga terbanyak adalah dari kalangan pelajar/mahasiswa (20%) dan pengemudi (10%).

Data Korlantas Polri pada musim mudik tahun 2013 juga memperlihatkan bahwa kelompok terbesar pelaku pelanggaran adalah kalangan usia muda. Dua kelompok terbesar adalah rentang usia 26-30 tahun (19%) dan 31-35 tahun (17%).

Kalau dari jenis kendaraan, mayoritas pelaku pelanggaran adalah para pengguna sepeda motor. Saat itu, para pesepeda motor menyumbang sekitar 76% pelanggaran aturan di jalan. Sedangkan para pemobil menyumbang sekitar 14%.

Oh ya, pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh pesepeda motor pada musim mudik adalah terkait dengan penggunaan helm. Pelanggaran itu mencapai sekitar 27% dari total pelanggaran. Sedangkan pelanggaran melawan arus menyumbang sekitar 8%. (edo rusyanto)

Selamatkan Anak-anak Kita dari Jagal Jalan Raya

23 Juli 2015

poster ke-12 kopcau_anak

BANYAK cara untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta kepada si buah hati. Memberi mereka hadiah kendaraan bermotor sekaligus mengizinkannya berkendara merupakan satu contoh yang terjadi di tengah masyarakat kita saat ini. Ironisnya, jika hadiah dan izin itu ditujukan buat sang anak yang masih di bawah umur alias belum genap 17 tahun.

“Masih banyak orang tua yang bangga anak di bawah umurnya sudah bisa naik motor,” sergah seorang bapak ketika berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Bapak ini mengaku dia pun pernah melakukan hal serupa, namun belakangan menjadi jera setelah melihat anak-anak yang menjadi pelaku tabrakan. Penderitaan yang dipikul sang anak di bawah umur itu berlarut-larut.

Cerita bapak yang lain menyodorkan fakta berbeda. Dia bercerita, mengizinkan sang anak mengendarai sepeda motor untuk memudahkan transportasi ke sekolah. Menggunakan sepeda motor dinilai lebih mangkus dan sangkil ketimbang naik angkutan kota (angkot). Jadilah sang anak yang masih kelas satu SMA itu setiap hari wira wiri menunggang si kuda besi.
“Hingga suatu hari saya kehilangan sepeda motor karena anak saya ditipu orang. Anak saya seperti dihipnotis oleh pelaku penipuan,” tuturnya.

Sang bapak lantas mencoba mengurus asuransi sepeda motor yang kreditannya belum lunas itu. Setelah melapor ke kantor polisi, dia menuju kantor persahaan multifinance tempatnya mengambil kredit motor. Namun, apa daya perusahaan multifinance menolak mengganti sepeda motor yang hilang. “Alasannya, anak saya masih di bawah umur dan melanggar hukum karena berkendara tanpa memiliki surat izin mengemudi. Hilang deh duit cicilan motor saya,” sergahnya.

Kehilangan sepeda motor atau uang cicilan kredit motor masih belum seberapa. Indonesia punya persoalan serius soal keselamatan anak di bawah umur. Data memperlihatkan bahwa sepanjang 2010-2013 sedikitnya 142 ribu anak di bawah umur yang menjadi korban kecelakaan di jalan. Selain itu, sedikitnya 24 ribu anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan lalu lintas jalan.

Bebasnya anak-anak di bawah umur wira-wiri di jalan tak bisa dilepaskan dari permisifnya orang tua memberi izin kepada sang anak. Apa pun dalihnya, memberi izin anak di bawah umur untuk berkendara di jalan raya adalah tindakan spekulatif dan melanggar aturan yang berlaku saat ini, yaitu Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Ketika fakta memperlihatkan bahwa sekitar 42% pemicu kecelakaan adalah perilaku tidak tertib, kita semua mesti introspeksi. Jangan-jangan perilaku seperti itu tertanam sejak dini, tak hanya di sekitar keluarga, tapi juga dirintis mulai di bangku sekolah.

Anak-anak menjadi korban dari sistem masyarakat kita. Bagaimana orang tua mengaku terpaksa membawa anak-anaknya di dalam satu kendaraan dengan dalih efisiensi. Begitu juga ketika orang tua mengizinkan anak-anak di bawah umurnya untuk menunggang kuda besi. Permisifnya masyarakat menelorkan fakta bergelimpangannya anak-anak di bawah umur di jalan raya.

Ketika kita merenung pada Hari Anak, Kamis, 23 Juli 2015 ini tak ada salahnya kita para orang tua sudi introspeksi diri. Mengubah permisifme dengan langkah konkret memproteksi anak-anak kita dari sang jagal di jalan raya. (edo rusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.986 pengikut lainnya.