Skip to content

Sulitnya Membangun Budaya Keselamatan Jalan

14 Februari 2018

SEORANG pria muda tampak sedang menghidupkan mesin sepeda motornya ketika bersua dengan saya di area parkir sebuah gedung perkantoran di Jakarta, baru-baru ini. Tak berapa lama, dia melaju tanpa mengenakan helm pelindung kepala.

“Hanya dekat saja. Saya memindahkan sepeda motor ke tempat parkir lain,” alasan sang pria muda berkacamata itu.

“Itu belum seberapa,” sergah seorang teman, di Jakarta, baru-baru ini.

Dia mengaku, dirinya terpaksa memberi tumpangan kepada teman di kantor yang ingin pulang bersama. Padahal, dia sudah menolak karena tidak memiliki dua helm. Namun, rengekan sang teman meluluhlantakan sikap bahwa bersepeda motor wajib memakai helm pelindung kepala. “Dari kantor ke rumah, akhirnya teman saya itu tidak memakai helm,” tutur, seraya menghembuskan asap rokok di areal kantin.

Perjalanan yang ditempuh pira paruh baya malam itu lebih dari 10 kilometer. Berbeda dengan pria muda yang memindahkan sepeda motor tanpa memakai helm yang saya taksir jaraknya sekitar 100 meter.

Budaya Keselamatan

Membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan terasa sulit. Butuh waktu lama untuk menjadikan sebuah kebutuhan dalam keseharian. Entah sampai kapan.

Permisifme begitu kental. Siapa saja, dari kelas ekonomi mana saja, bahkan dari latar pendidikan apapun, masih dengan mudah mengumbar permisif untuk urusan keselamatan berlalulintas jalan. Masih banyak yang bertengger di level pengetahuan. Tahu ada risiko, tapi lantaran permisif tadi, tetap melanggar aturan berlalu lintas jalan.

Tampaknya butuh mencicipi getirnya petaka jalan raya untuk disiplin kemudian. Pahitnya melanggar aturan tak semata risiko mengalami kecelakaan, tapi juga memikul kerugian ekonomi maupun finansial. Bahkan, terkait kecelakaan bisa merembet ke urusan pengadilan.

Disiplin untuk memangkas risiko yang mengancam saat berlalulintas jalan butuh kemauan. Mau untuk tidak menjerumuskan pihak lain dalam kesulitan. Persoalannya, butuh meningkatkan level pengetahuannya tadi pada pemahaman. Faham bahwa saat risiko terjadi, kecelakaan berdampak luas.

Cara meningkatkan pemahaman yang dipadukan dengan kemauan keras membangun budaya keselamatan butuh dua aspek penting. Keduanya ada di dalam diri, yakni nurani dan akal sehat. Saat keduanya tertutup, tak heran bila ugal-ugalan di jalan menjadi pemandangan keseharian.

Hati nurani dan akal sehat bisa lumpuh karena kerusakan cara kerja berpikir. Mesin otak untuk menerima nilai-nilai kebaikan tidak bekerja. Kerusakan dapat tercipta oleh banyak aspek, mulai dari zat kimia hingga kerusakan fisik mesin tadi. Wujudnya manusia, perilakunya berbeda.

“Sulit memang membangun budaya keselamatan berlalulintas jalan,” kata kolega saya yang lain.

Boleh jadi sulit. Tapi, sulit bukan berarti tidak bisa. (edo rusyanto)

Sembilan Kecelakaan Bus Maut di Indonesia

11 Februari 2018

SEPANJANG 2012 hingga awal 2018 tercatat ada sembilan kecelakaan bus paling maut di Indonesia. Kecelakaan yang merenggut korban jiwa lebih dari lima orang tersebut terjadi di berbagai kota di Tanah Air. Ironisnya, mayoritas terjadi di kawasan pariwisata dengan jalan menurun, menanjak, dan berkelok.

Selain mengangkut penumpang rombongan wisata, bus yang terlibat kecelakaan tersebut juga ada yang membawa rombongan peziarah maupun peserta kegiatan rohani. Dari sembilan tabrakan maut yang melibatkan bus, kawasan wisata Puncak, Jawa Barat menjadi lokasi kecelakaan paling sering sepanjang rentang tujuh tahun terakhir.

Kawasan wisata di daerah pegunungan yang terletak tidak jauh dari Jakarta itu memiliki jalan berkelok serta menanjak dan menurun. Cuaca di kawasan tersebut kerap berkabut. Belakangan ini, pada 5 Februari 2018, kawasan tersebut baru saja mengalami longsor di empat titik. Kepolisian menutup jalur tersebut selama 10 hari guna memperbaiki kerusakan yang terjadi. Hanya sepeda motor yang boleh melintas sepanjang penutupan jalan tersebut.

1). Kecelakaan Cisarua, 10 Februari 2012

Peristiwa memilukan terjadi pada Jumat, 10 Februari 2012, sekitar pukul 18.00 WIB di kawasan Cisarua, Bogor. Mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA dari Garut menuju terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur melalui Cianjur-Puncak-Ciawi mengalami kecelakaan di kawasan Cisarua.

Kecelakaan terjadi sekitar 208 meter dari lokasi cheq point bus di depan RS. Paru dr M. Goenawan P, Cisarua. Bus menabrak sisi kanan papan reklame yang berada di tikungan menurun. Sesudah menabrak papan reklame pada jarak 392 meter berikutnya, bus berturut-turut menabrak mobil penumpang Mitsubishi Pajero dari arah berlawanan dan dua sepeda motor yang berada di belakang mobil penumpang Mitsubishi Pajero tersebut. Setelah itu bus bergerak ke kiri dan menabrak dua mobil angkutan kota yang berada di depannya, mobil penumpang Nissan Grand Livina dan mobil barang pengangkut tanaman yang juga berada pada jalur yang sama.

Kemudian bus bergerak kembali ke kanan dan menabrak mobil bus PO. Doa Ibu dengan nomor kendaraan Z-7588-HB yang datang dari arah berlawanan menyebabkan mobil bus PO. Doa Ibu Z-7588-HB terdorong mundur sejauh 18 meter dan tertahan oleh pagar taman yang berada di pertigaan jalan. Setelah itu mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kembali bergerak ke kiri dan kemudian menabrak mobil barang pengangkut sayur, mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kemudian bergerak kembali ke kanan dan menabrak tiang telepon serta dua sepeda motor yang sedang parkir di halaman minimarket.

Selanjutnya menabrak warung bakso, tembok dan akhirnya terperosok ke pekarangan Wisma Syailendra, dengan kedalaman sekitar 9 (sembilan) meter di bawah permukaan jalan. Kondisi akhir mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA setelah kecelakaan posisi bagian depan berada di bawah.

Akibat kecelakaan ini 13 orang meninggal dunia di lokasi kecelakaan dan 1 (satu) orang meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit, 10 orang mengalami luka berat serta 44 orang mengalami luka ringan.

Seluruh korban meninggal dunia dan luka – luka dievakuasi ke RS Paru dr M. Goenawan P Cisarua, RS Ciawi Bogor, RS PMI Bogor, dan RS. Sentra Medika Cibinong.

KNKT menyimpulkan bahwa kemungkinan penyebab (Probability Cause) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah bersumber dari kegagalan berfungsinya rem utama dan rem parkir tangan. Selain itu, pengemudi yang tidak berhasil mengendalikan kendaraan pada saat menghadapi situasi kritis.

2). Kecelakaan Ciloto, 27 Februari 2013

Rombongan bus peziarah dari Bogor menuju Cianjur, Jawa Barat pada Rabu, 27 Februari 2013. Sekitar pukul 07.30 WIB, bus pariwisata PO. Mustika Mega Utama dengan nomor kendaraan F-7263-K berangkat dari Desa Sukajaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor dengan mengangkut 82 orang menuju Desa Cikundul, Kabupaten Cianjur untuk melakukan ziarah dengan rincian 1 (satu) orang pengemudi dan 81 orang penumpang.

Mobil bus tersebut sekitar pukul 09.00 WIB sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit untuk beristirahat di salah satu SPBU di Desa Leuwiliang, sebelum kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan ke Desa Cikundul.

Sekitar pukul 11.30 WIB, mobil bus tersebut melintasi ruas Jalan Raya Puncak – Ciloto KM. 87 Kabupaten Cianjur dengan geometri jalan yang menurun ± 10º dan menikung. Sepanjang 500 m pada ruas jalan tersebut diatas terdapat banyak lubang baik di jalur kiri maupun jalur kanan dan pada saat itu kondisi cuaca dalam keadaan berkabut dan tidak hujan. Mobil bus kehilangan kendali setelah menghindari lubang dan akhirnya menabrak dinding tebing yang berada pada sebelah kiri jalan menikung searah laju mobil bus tersebut.

Kecelakaan ini mengakibatkan 17 orang meninggal dunia, yaitu 15 orang meninggal di tempat kejadian dan 2 (dua) orang meninggal pada saat mendapat perawatan di rumah sakit, 26 orang luka berat dan 32 orang luka ringan. Untuk para korban yang meninggal dan korban luka-luka dibawa ke RS. Cimacan dan RSUD, Ciawi, Jawa Barat.

Kemungkinan rangkaian penyebab (Probable Causes) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah karena pengemudi tidak familiar dengan rute tersebut. Lalu, kondisi jalan yang rusak berat, penggunaan komponen rem yang tidak standar serta muatan yang melebihi kapasitas berakibat yang bersangkutan kurang mampu dalam mengatasi kondisi kritis yang datang secara tiba-tiba.

3). Kecelakaan Cisarua, 18 Agustus 2013

Minggu, 18 Agustus 2013 pukul 24.00 WIB rombongan jemaat GBI Kelapa Gading, Jakarta berangkat menuju Cipanas Bogor dengan menggunakan mobil bus PO.Giri Indah nomor kendaraan B-7185-XA dan sampai di Wisma Kapendrai daerah Cipanas pukul 03.00 WIB untuk melakukan ibadah sampai dengan hari Rabu 21 Agustus 2013.

Rabu, 21 Agustus 2013 pukul 08.00 WIB rombongan jemaat GBI berjumlah 50 orang dan 3 (tiga) orang awak kendaraan kembali ke Jakarta dengan menggunakan mobil bus PO. Giri Indah dengan nomor kendaraan B-7297-BI.

Mobil bus melintasi ruas jalan daerah Gunung Mas yang geometri jalan menurun dan menikung. Informasi dari saksi bahwa setelah melintasi perkebunan teh Gunung Mas mobil bus melaju dengan kecepatan tinggi.

Mobil bus pada pukul 08.30 WIB tiba di ruas Jalan Raya Puncak Bogor KM. 86, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat merupakan ruas jalan yang menurun dan menikung, mobil bus menabrak mobil pick up yang parkir di tepi jalan jalur berlawanan di depan toko material untuk menurunkan muatan tabung gas elpiji 3 kg. Kemudian mobil bus menabrak seorang yang sedang berada di depan toko material, selanjutnya mobil bus menabrak toko material dan akhirnya beserta mobil pick up masuk ke dalam sungai yang mempunyai kedalaman 8 (delapan) meter di sebelah kanan jalan.

Pada saat kejadian cuaca cerah dan kondisi lalu lintas lancar. Kecelakaan ini mengakibatkan 20 orang meninggal dengan rincian 14 orang meninggal dunia di tempat kecelakaan dan 6 (enam) orang meninggal dunia di rumah sakit, yang terdiri dari 18 orang penumpang mobil bus, 1 (satu) orang awak mobil bus dan 1 (satu) orang warga setempat.
Selain korban meninggal dunia, korban luka-luka berjumlah 34 orang. Korban yang meninggal dunia maupun luka-luka semua awalnya dievakuasi ke RS. Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, setelah dilakukan tindakan medis pertama selanjutnya sebagian di rujuk ke RS. Sentra Medika Cibinong dan sebagian lagi dirujuk ke RSUD Ciawi.

Tabrakan mengakibatkan mobil bus dan mobil pick up berada di dasar sungai dengan jarak 2 (dua) meter satu sama lain dengan posisi mobil bus terbalik dan mobil pick up berbalik arah dengan menghadap arah kedatangan. Dari hasil investigasi disimpulkan faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan ini adalah kondisi geometri jalan yang merupakan bahwa turunan panjang dan tikungan yang cukup tajam. Untuk melewati ruas jalan ini memerlukan konsentrasi, kewaspadaan dan keterampilan dalam mengemudikan kendaraannya.

4). Kecelakaan Semarang, 20 Februari 2015

Inilah petaka paling maut memasuki tahun 2015. sebuah bus pariwisata yang disewa rombongan pengajian terguling di tol Semarang, Jawa Tengah. Laman viva.co.id menulis, sebanyak 16 orang penumpang bus Sang Engon meninggal dunia setelah bus itu terguling di Tol Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah, Jumat siang.

Bus diduga melaju kencang saat masuk Tol Jatingaleh menuju arah timur menuju Tol Gayamsari. Bus tak terkendali, oleng ke kanan melompati pembatas jalan dan terguling.

Kepolisian setempat menetapkan sang pengemudi bus Sang Engon, M Husen sebagai tersangka. Sopir yang juga ikut terluka dalam kecelakaan itu diduga lalai sehingga menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan.

5). Kecelakaan Cimahi, 8 Juli 2016

Bus yang mengangkut wisatawan menabrak dua mobil dan dua sepeda motor di Jalan Kolonel Masturi, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat, 8 Juli 2016 sekitar pukul 15.30 WIB. Kantor berita milik pemerintah, Antara menyebutkan bahwa kecelakaan itu menyebabkan sembilan orang meninggal dunia. Tujuh orang meninggal dunia di lokasi kejadian dan dua orang di Rumah Sakit Cibabat. “Sopir bus juga meninggal dunia,” tulis Antara.

Kecelakaan maut ini diduga lantaran kondisi rem bus yang blong. Sedangkan penumpang bus adalah 50 orang yang hendak pulang ke Karawang, Jawa Barat setelah menikmati liburan di tempat wisata Curug Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Jalan di lokasi kejadian kondisinya menurun.

6). Kecelakaan Alas Roban, 16 Juli 2016

Kawasan Alas Roban, Batang, Jawa Tengah menjadi saksi bisu kecelakaan maut bus dan truk pada Sabtu, 16 Juli 2016 malam. Bus Kramat Jati tujuan Jakarta berangkat dari Purwodadi, Sabtu sore. Namun, bus nahas itu menabrak truk tanki W 9233 UN bermuatan amoniak yang saat kejadian hendak berbelok ke rumah makan.

Sontak, tabrakan pun menimbulkan kemacetan panjang. Buntut dari tabrakan maut itu enam orang meninggal dunia dan 40-an lainnya menderita luka-luka. Dari keseluruhan korban luka, sebanyak 15 orang dirawat.

7). Kecelakaan Pemalang, 17 Desember 2016

Sebuah bus, yakni PO Handoyo mengalami kecelakaan di Desa Beluk, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Sabtu, 17 Desember 2016, pukul 23.15 WIB. Bus lepas kendali di jalan yang menikung dan turunan. Bus menabrak pembatas jalan, lalu terguling dan masuk ke sawah.

Akibat kecelakaan tunggal itu delapan orang meninggal dunia dan belasan orang lainnya menderita luka-luka.
Saat kejadian, bus AA 1409 EA rute Yogyakarta-Jakarta itu sedang melaju dari arah Purbalingga menuju Pemalang. Kepolisian menetapkan sang sopir bus, Agus Suyanto sebagai tersangka.

8). Kecelakaan Ciloto, 7 Juli 2007

Pagi baru saja merayap menuju siang. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 10.20 WIB, Sabtu, 7 Juli 2007. Bus pengangkut rombongan wisata sebanyak 54 orang dari SMP Islam Ar-Ridho melaju menuju Taman Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Rombongan itu terdiri atas siswa dan staf pengajar SMP Islam Ar-Ridho.

Saat tiba di jalan turunan Ciloto menjelang pertigaan Kota Bunga, Cimacan ± 100 meter sebelum jembatan Cikundul, bus tersebut oleng. Bus menabrak beberapa kendaraan yang meluncur dari arah berlawanan dan juga menabrak kendaraan di depannya . Kendaraan tersebut antara lain sepeda motor, Mitsubishi Colt 100 Pick Up dan Toyota Kijang.

Setelah menabrak beberapa kendaraan tersebut, bus kembali ke jalur sebelah kiri dan menabrak Daihatsu Ferosa serta Toyota Kijang yang berada di depannya. Kemudian bus kembali ke jalur sebelah kanan menabrak tembok dan pagar jembatan lalu jatuh ke dalam jurang dengan kedalaman ± 15 meter.

Dalam kecelakaan ini 14 orang meninggal dunia di lokasi kejadian, 1 (satu) orang meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, 1 (satu) orang meninggal setelah mendapat perawatan. Kecelakaan ini juga mengakibatkan 28 (dua puluh delapan) orang mengalami luka berat dan 14 (empat belas) orang luka ringan.

Semua korban adalah penumpang, pengemudi dan kernet yang berada di bus Limas serta pengemudi motor juga penumpang Daihatsu Ferosa.

Seluruh korban kecelakaan dievakuasi ke Rumah Sakit Cimacan, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, PMI Bogor, dan RSUD Cianjur.

KNKT menyimpulkan faktor-faktor kemungkinan penyebab kecelakaan tersebut utamanya adalah akibat, pertama, pengemudi bus ngebut pada saat akan menyalip kendaraan di depannya dan tidak dapat mengendalikan busnya lagi.
Lalu, kedua, kendaraan yang tercatat masa ujinya berlaku dan dikatakan dirawat dengan baik, namun pada kenyataannya kendaraan tersebut tidak memenuhi persyaratan keselamatan. Ketiga, kondisi geometrik jalan yang menurun panjang dan menikung dengan ruang pandang yang tertutup dengan pohon dan bangunan, turut memberikan kontribusi yang besar terhadap kecelakaan.

9). Kecelakaan di Subang, 10 Februari 2018

Kecelakaan bus paling buruk di Indonesia terjadi pada Sabtu, 10 Februari 2018 pagi. Tabrakan itu merenggut 27 korban jiwa dan 17 korban luka-luka termasuk anak balita.
Korban berasal dari bus pariwisata Premium Passion bernopol F-7959-AA yang membawa rombongan dari Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Bus mengalami kecelakaan di jalan raya Subang-Bandung, di Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Subang usai berwisata di Tangkuban Perahu menuju Subang.

Saat akan pulang melalui Subang, tepatnya di Tanjakan Emen, bus oleng dan menabrak sepeda motor hingga akhirnya menabrak tebing dan terguling. Pengendara sepeda motor yang ditabrak termasuk kedalam 27 korban jiwa.
Sontak peristiwa tragis ini mengundang perhatian banyak orang, tentu termasuk Korlantas Mabes Polri. Kepolisian menduga, seperti dilansir Antara (11/2) adanya mal fungsi di bagian rem bus sehingga memicu terjadinya kecelakaan. Berdasarkan analisis sementara, terlihat bahwa pengemudi bus berupaya menghentikan kendaraan sebelum akhirnya terguling.

Kawasan di lokasi kejadian adalah jalan menurun dan berkelok dengan permukaan aspal yang cukup bagus. Lokasi kecelakaan ini merupakan titik terakhir dari Tanjakan Emen, Subang. Dari titik awal tanjakan yang berada setelah tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu hingga titik kecelakaan, memiliki panjang 2,4 kilometer. (edo rusyanto)

foto-foto:
liputan6com
vivacoid
antara

Fatalnya Kasus Tabrak Lari di Indonesia

10 Februari 2018

RANAH media sosial (medsos) diwarnai kabar kasus tabrak lari yang menimpa pesepeda kayuh di Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2018. Tak lama kemudian, media arus utama khususnya media online pun memberitakan hal itu bahkan melakukan pengembangan ke pihak terkait, seperti kepolisian setempat.

Berita yang menyebar menyebutkan bahwa rombongan pesepeda kayuh asal Bekasi, Jawa Barat yang sedang melintas di Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan ditabrak sebuah mobil. Selain pesepeda kayuh, ada juga satu pesepeda motor yang terseruduk. Kecelakaan itu merenggut satu korban jiwa, yakni seorang jurnalis televisi dari RTV, Raden Sandy Syafiek.

Tabrak lari menjadi salah satu momok dalam kehidupan berlalu lintas jalan di Indonesia. Bahkan, Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengkategorikan tabrak lari sebagai tindak kejahatan.

Sanksi bagi pelaku tabrak lari pun cukup berat. Selain ancaman pidana penjara maksimal tiga tahun, juga ada ancaman denda maksimal Rp 75 juta. Bahkan, surat izin mengemudi (SIM) sang pelau terancam untuk dicabut.
Lantas, kenapa orang usai menabrak terus melarikan diri?

Sebelum menebak-nebak alasan untuk lari, mari kita tengok ketentuan yang ada jika pengemudi terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. UU No 22/2009 khususnya pasal 231 menyatakan bahwa pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan wajib menghentikan kendaraan yang dikemudikannya. Lalu, memberikan pertolongan kepada korban dan melaporkan kecelakaan kepada kepolisian. Selain itu, memberikan keterangan yang terkait dengan kejadian kecelakaan.
Namun, karena keadaan memaksa sehingga pengemudi tidak dapat melaksanakan ketentuan itu, segeralah melaporkan diri kepada kepolisian terdekat.

Nah, dalam pasal 312, UU tersebut terlihat bahwa pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan kepada kepolisian terdekat tanpa alasan, dapat dipidana maksimal tiga tahun. Sedangkan dendanya paling banyak adalah Rp 75 juta.

Pada 2016, sekitar 20% korban tabrak lari berujung pada kematian. Padahal, secara keseluruhan, korban kecelakaan yang berujung kematian sebesar 15%.

Fatalitas Tabrak Lari

Ternyata, pasal 312 atau tabrak lari itu dikategorikan sebagai kejahatan sesuai dengan bunyi pasal 316. Kejahatan yang masuk dalam kategori ini selain tabrak lari di antaranya adalah penyelenggara jalan yang tidak dengan segera dan patut memperbaiki jalan rusak yang mengakibatkan kecelakaan. Lalu, orang yang merusak rambu, marka, alat pemberi isyarat lalu lintas, fasilitas pejalan kaki, dan alat pengaman pengguna jalan sehingga tidak berfungsi. Serta pengemudi yang ugal-ugalan maupun pengemudi yang terbukti menjadi pelaku kecelakaan.

Oh ya, selain pidana penjara, kurungan, atau denda, pelaku tindak pidana lalu lintas juga dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan surat izin mengemudi (SIM) atau ganti kerugian yang diakibatkan oleh tindak pidana lalu lintas. Pencabutan SIM dilakukan berdasarkan putusan pengadilan.

Getirnya kasus tabrak lari di Indonesia dapat dilihat dari tingkat fatalitas yang ditimbulkan. Sebagai gambaran, dalam rentang sembilan bulan 2016, sekitar 20% korban tabrak lari berujung pada kematian. Padahal, secara keseluruhan, korban kecelakaan yang berujung kematian sebesar 15%.

Pada 2016, kasus tabrak lari tercatat 36 kasus per hari, naik sekitar 1% dibandingkan periode sama 2015. Tercatat rata-rata dalam satu hari terdapat sekitar 9 orang meninggal dunia akibat tabrak lari.
Lantas, kenapa orang melarikan diri saat terlibat kecelakaan?

Pasti ada sejumlah alasan. Bisa jadi karena takut dihakimi massa atau memang tidak ingin bertanggung jawab. (edo rusyanto)

foto:istimewa

Tiga Longsor Bersamaan Melumpuhkan Transportasi

5 Februari 2018

DALAM rentang waktu satu hari terjadi tiga peristiwa longsor yang sempat mengganggu perjalanan kereta dan lalu lintas jalan. Kejadian di tiga lokasi berbeda itu menimpa jalur kereta api, jalur kereta bandara, dan lalu lintas jalan di kawasan wisata Puncak, Jawa Barat.

Longsor pertama terjadi di kawasan wisata Puncak, Jawa Barat, Senin, 5 Februari 2018 pagi. Akun instagram @tmcpolresbogor menyebutkan, bencana longsor tersebut terjadi di empat titik yaitu di sekitaran Panimbangan Kecil, Desa Tugu Selatan. Lalu, di sekitaran Masjid Atta Awun Desa Tugu Selatan dan, di Villa Pengayoman/Kehakiman Desa Cibereum. Selain itu, di Kp. Babakan, Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

“Kami hanya membuka jalur Puncak dari Gadog sampai TSI (Taman Safari Indonesia), untuk jalur selanjutnya dari Riung Gunung sampai Puncak Pas ditutup hingga besok pagi (Selasa, 6 Februari 2018),” kata Kasat Lantas Polres Bogor, AKP Hasby Ristama di lokasi longsor, Senin, 5 Februari 2018.

Sementara itu, perjalanan sejumlah kereta api baik kereta penumpang maupun barang yang melewati lintas Bogor-Sukabumi, Jawa Barat mengalami gangguan pada hari yang sama. Penyebabnya, longsor di sekitar jalur KA sehingga mengancam keselamatan dan perjalanan KA.

Senior Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta Edy Kuswoyo dalam keterangan tertulis di Jakarta, menyebutkan, tercatat ada dua titik longsor di jalur lintas Bogor-Sukabumi yang mengganggu perjalanan KA.


Dua titik tersebut yakni di petak jalan Cigombong-Cicurug pada kilometer 20+7/8 dan di petak jalan Batu Tulis-Maseng pada kilometer 13+8/9. “Longsornya tanah ditengarai diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi di kawasan Bogor dan sekitarnya,” katanya.

Lintas Bogor-Sukabumi tiap hari dilalui 10 perjalanan KA, terdiri atas enam KA penumpang, dan empat KA angkutan barang. Pembatalan dan pemotongan relasi KA dilakukan PT KAI Daop 1 Jakarta sampai jalur tersebut dinyatakan aman dan dapat dilalui oleh KA.

Masih pada hari yang sama, Senin, peristiwa longsor terjadi di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Perjalanan Kereta Bandara untuk sementara dihentikan akibat terjadi tanah longsor di terowongan parimeter kilometer 8+6/7 jalur Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Batu Ceper pada pukul 18.10 WIB.

“Untuk itu, kami menindaklanjuti dengan menutup jalur hulu dan hilir di tutup untuk pengecekan dan perbaikan,” kata Senior Manajer Humas DAOP I Edy Kuswoyo dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Dia menambahkan, akibat kejadian tersebut, untuk sementara waktu, perjalanan kereta Raillink, tujuan Bandara Soekarno-Hatta dan sebaliknya tertahan.


Hal senada disampaikan Vice President of Corporate Communication Yado Yarismano yanv mengatakan terjadi longsor di Jalan Perimeter Selatan Bandara dekat terowongan Kereta Bandara Soekarno-Hatta akibat hujan deras yang terjadi Senin sore. “Informasi ada mobil yang tertimbun dan sekarang masih dalam proses evakuasi,” katanya.

Yado mengatakan kondisi Kereta Bandara saat ini berhenti operasi sampai menunggu hasil evaluasi yang dilakukan oleh tim.

Seingat saya, inilah peristiwa longsor yang terjadi bersamaan dalam satu hari dan mengganggu arus transportasi. Semoga semua dapat diatasi segera dan lalu lintas kembali normal. (edo rusyanto)


sumber:

antara

foto-foto;
twitter tmcpoldametro
twitter tmcpolresbogor
pikiranrakyat

Near Miss dan Pengemudi Merokok

5 Februari 2018

LANGIT masih mendung. Sisa hujan terlihat jelas di permukaan jalan yang basah. Jakarta pada Februari 2018 nyaris setiap hari diguyur hujan.

Lalu lintas jalan padat oleh kendaraan bermotor. Perempatan jalan di sudut kota Jakarta Timur siang itu disesaki beragam kendaraan. Mulai dari sepeda motor, mobil pribadi hingga angkutan umum.

Arus kendaraan tempat saya melintas baru saja mendapat giliran bergerak. Lampu pengatur lalu lintas berwarna hijau.

Kendaraan merangkak. Tiba-tiba sepeda motor di dekat mobil mengerem dan nyaris terjatuh. Dari arah belakang saya lihat pengendara sepeda motor itu mencoba mengerem sebisa mungkin guna menghindari mobil yang tiba-tiba bergerak oleng ke kanan. Nearmiss.

Pesepeda motor tampak terkejut. Dia melanjutkan perjalanan seusai mendengar pengendara mobil pribadi tadi melontarkan permintaan maaf. Suaranya terdengar jelas karena kaca mobil terbuka, sedangkan tangan kanannya menjuntai keluar jendela. Di jemarinya tampak sebatang rokok dengan asap mengepul diterpa angin.

Aturan Merokok

Mengemudi seraya disambi merokok tentu dapat merongrong konsentrasi. Pada titik yang paling buruk bukan mustahil memicu insiden maupun kecelakaan lalu lintas jalan. Karena itu, tak heran jika sejumlah pemerintah daerah (Pemda) di Indonesia menelorkan aturan pelarangan merokok di kendaraan.

Aturan yang dikeluarkan sejumlah Pemda itu memang baru sebatas di ruang lingkup angkutan umum. Lihat saja misalnya aturan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Sejak tahun 2005 warga Jakarta dikenalkan dengan aturan yang melarang orang merokok di dalam angkutan umum. Regulasi yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (Perda PPU) itu juga dilengkapi sanksi yang cukup berat.

Gubernur DKI Jakarta kala itu, Sutiyoso, tampaknya cukup peduli pada nasib pengguna angkutan umum, khususnya dari segi kualitas udara.

Mau tahu sanksinya?

Perda No 2 tahun 2005 itu menegaskan bahwa pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50 juta. Cukup berat kan?

Oh ya, di Jakarta aturan itu terus dilengkapi. Pada 2005 juga keluar Perda No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Perda ini menegaskan, sasaran kawasan dilarang merokok adalah tempat umum, tempat kerja, tempat proses belajar mengajar, tempat pelayanan kesehatan, arena kegiatan anak-anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.
Dalam aturan itu juga dengan tegas dinyatakan bahwa pengemudi dan/atau kondektur wajib memelihara dan meningkatkan kualitas udara yang sehat dan bersih. bebas dari asap atau bau rokok di dalam kendaraannya.

Lima tahun kemudian, pada era Gubernur Fauzi Bowo, keluarlah Peraturan Gubernur (Pergub) No 88/2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur No 75/2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Tidak cukup dengan itu, keluar lagi Pergub No 50/2012 tengan Pedoman Pelaksanaan Pembinaan, Pengawasan dan Penegakan Hukum Kawasan Dilarang Merokok.
Perhatian pemerintah daerah tampaknya cukup serius soal larangan merokok di angkutan umum. Aturan ini juga bisa ditafsirkan bahwa sang pengemudi dilarang merokok, terlebih saat mengendarai kendaraannya.

Tak hanya Jakarta, pemda di sekitarnya juga aktif menggelontorkan aturan serupa. Sebut saja misalnya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Larangan merokok di angkutan umum diatur lewat Perda Kota Bogor No 12 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Para pelanggar aturan ini bakal diganjar penjara maksimal tiga hari atau denda maksimal Rp 1 juta.

Lalu, Pemkot Depok. Kota satelit Jakarta ini menelorkan Perda Kota Depok No 16 tahun 2012 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum. Sanksi bagi mereka yang merokok di angkutan umum lebih berat lagi, yakni diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Rp 50 juta.

Lantas, kenapa aturan larangan merokok bagi angkutan umum demikian gencar, sedangkan untuk di kendaraan pribadi seakan tak terdengar?

Padahal, perda-perda yang digelontorkan oleh ketiga pemda tersebut merujuk pada undang undang terkait lalu lintas jalan. Untuk perda yang dikeluarkan pada 2005, disebutkan bahwa salah satu pertimbangannya adalah UU No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Sedangkan perda yang dikeluarkan setelah 2009, mengaitkannya dengan UU No 22/2009 tentang LLAJ.

Nah, di tingkat pusat, kementerian perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan Surat Edaran Nomor: SE 29 Tahun 2014 tentang Larangan Merokok di Dalam Sarana Angkutan Umum yang ditujukan bagi seluruh operator angkutan penumpang kendaraan umum bermotor. Operator angkutan umum itu meliputi operator kereta api, angkutan laut, penyeberangan, dan angkutan udara.

Kemenhub menyatakan bahwa larangan merokok di sarana angkutan umum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2012 tentang Kesehatan. Selain itu, selaras dengan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan yang menyebutkan bahwa angkutan umum ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok.

Oh ya, sekali lagi, aktifitas merokok saat mengemudi rasanya bisa mengganggu konsentrasi sang pengemudi. Maksudnya, saat asap, apalagi percikan api mengenai tubuh bisa mengganggu konsentrasi, bahkan bukan mustahil memicu insiden atau kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

foto:tempo.co

Empat Hal Yang Mungkin Memicu Pelanggaran di Jalan

3 Februari 2018

PELANGGARAN aturan lalu lintas jalan yang terjadi berulang-ulang melahirkan kesimpulan bahwa perilaku tadi adalah suatu kebenaran. Apalagi, bila pelanggaran tadi dilakukan secara kolosal, dapat dengan mudah menjalar.

Lihat saja soal pelanggaran marka jalan di persimpangan. Saking seringnya orang melibas marka jalan garis setop atau marka zebra cross, tindakan itu lantas dianggap benar. Padahal, jelas-jelas hal itu merampas hak pengguna jalan yang lain, yakni para pedestrian.

Pelanggaran berulang tersebut ibarat kebohongan yang dihembuskan secara terus menerus, lantas kebohongan tadi dianggap suatu kebenaran. Pertanyaannya, apa yang melatarbelakangi hal itu semua?

Mari kita coba mereka-reka.

Pertama, tidak memprioritaskan keselamatan jalan. Bisa jadi inilah akar permasalahannya. Ketika tidak lagi menempatkan keselamatan sebagai prioritas ketika berlalu lintas jalan, bakal dengan mudah mengabaikan aturan, bahkan etika yang ada. Keselamatan bermakna untuk diri sendiri dan pengguna jalan yang lain. Tak heran jika lahir sinisme, keselamatan diri sendiri saja tidak dipikirkan, bagaimana dengan keselamatan orang lain.
Keselamatan berlalu lintas jalan dapat terwujud setidaknya bila pengguna jalan memiliki kompetensi dan taat pada regulasi. Lalu, senantiasa berempati atas sesama pengguna jalan sesuai dengan porsinya. Terakhir, menerapkan konsep sinergi. Khusus yang terakhir, terkait sinergisitas diantara para pemangku kepentingan keselamatan berlalulintas jalan, serta tentu saja melibatkan pengguna jalan itu sendiri.
Oh ya, di level ini, pengetahuan pengguna jalan menjadi tidak bermakna, ketika pura-pura tidak tahu alias masa bodoh atas hak sesama pengguna jalan.

Kedua, pembiaran. Peran penegak hukum menjadi mutlak. Saat aturan sebagus apapun bila tidak ditegakkan secara konsisten bakal merongrong kewibawaan hukum yang berujung pada pelanggaran. Peran publik juga ada manakala sesama warga saling mengingatkan akan pentingnya menerapkan taat regulasi demi kepentingan banyak orang, bukan sekadar memenuhi hasrat individu.

Ketiga, ketidaktahuan. Aspek ini bisa jadi memicu terjadinya pelanggaran. Tidak tahu disini bermakna tidak faham akan aturan yang berlaku, atau tidak tahu risiko yang ditimbulkan atas tindakan melanggar aturan.

Keempat, merasa kuat. Saat menggenggam kekuatan, baik itu finansial, sosial, hukum, bahkan politik, menggoda seseorang untuk abai pada aturan yang ada. Seakan kekuatan tadi dapat menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan atas pelanggaran tersebut.

Amat mungkin ada latarbelakang lain yang memicu terjadinya pelanggaran aturan di jalan. Apapun itu kita tampaknya harus kembali introspeksi bahwa di jalan raya semua ada porsinya. Jangan lupa bahwa pelanggaran kerap kali mengawali terjadinya kecelakaan. (edo rusyanto)

foto: akun IG gbd

Mengintip Batas Usia Anak dari Tiga Undang Undang

1 Februari 2018

KERAP kita berpapasan dengan anak-anak di bawah umur yang berkendara di jalan raya. Kesimpulan bahwa itu anak di bawah umur salah satunya dari seragam sekolah yang dipakai. Misalnya, siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Bahkan, dari seragam sekolah dasar (SD).

Pemandangan yang mudah dilihat di sekitar kita adalah mereka yang mengendarai sepeda motor. Sesekali, ada juga menjumpai anak yang mengemudikan mobil.

Pertanyaannya, rentang usia berapakah yang disebut dengan anak? Usia sebelum 17 tahun? Atau, sebelum 18 tahun?

Kalau merujuk Undang Undang (UU) No 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, terlihat bahwa yang dimaksud dengan anak adalah orang yang belum berusia 18 tahun. Pasal 1 dalam UU No 35 tahun 2014 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Saya menyimpulkannya bahwa mereka yang masih 17 tahun adalah anak. Sama nggak dengan kesimpulan Anda?

Di sisi lain, UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya dalam pasal 81 ayat 2 menyatakan bahwa batas usia minimal memperoleh surat izin mengemudi (SIM) adalah 17 tahun. Batas usia itu khusus untuk memperoleh SIM C, yakni untuk mengendarai sepeda motor.

Nah, kalau merujuk UU No 35 tahun 2014, usia 17 tahun masuk dalam kategori anak. Artinya?

Tunggu dulu, tahukah kita bahwa UU kita yang lain, yakni UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan justeru memiliki batas usia yang lain. Lihat sajaPasal 7 ayat (1) yang menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Berarti?

Oh ya, khusus terkait batas umur orang yang boleh menikah, sejumlah warga mengajukan uji materiil aturan tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MA). Warga mengajukan agar batas umur wanita sama dengan pria, yakni 19 tahun.
Ngomong-ngomong UU No 34/2014 di dalam pasal 20 menyatakan bahwa negara, pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, keluarga, dan orang tua atau wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Artinya, jika terkait perlindungan anak dari kemungkinan risiko kecelakaan lalu lintas jalan, tidak semata kewajiban orang tua. Di dalamnya ada kewajiban masyarakat.

Itu berarti, saya, Anda, dan kita semua, punya andil untuk saling mengingatkan agar anak-anak tidak menjadi korban kecelakaan. Apalagi, menjadi pelaku kecelakaan yang dapat menimbulkan dampak jauh lebih buruk.
Sekadar menyegarkan ingatan kita, Di Indonesia, dari sisi penerima santunan korban kecelakaan PT Jasa Raharja untuk kelompok pelajar, tentu termasuk anak-anak, tercatat naik 4,1% pada 2017. Bila pada 2016 tercatat 32.960 orang, tahun 2017 naik menjadi 34.328 orang.

Artinya, setiap hari ada 94 anak dan remaja yang menerima santunan korban kecelakaan. Sebuah angka yang memilukan.
Hanya saja, pasti ada yang bingung, termasuk saya, soal berapa sih batas pastinya usia yang dapat dikategorikan sebagai anak? Butuh pencerahan nih. (edo rusyanto)