Skip to content

Dua Hotel Ini Menyediakan Sepeda Bagi Tamu

1 Juli 2015

sepeda artotel sby

WANITA berhijab itu asyik mengayuh sepeda angin di pelataran hotel. Senyum mengembang di sudut bibirnya yang mungil.

“Aku ingin mencoba sepedanya. Asyik nih naik sepeda,” papar wanita muda berparas ayu itu suatu pagi di penghujung Juni 2015.

Itulah salah satu penggalan pemandangan di Artotel Surabaya, Surabaya, Jawa Timur yang menyediakan dua sepeda kayuh bagi para tamunya. Sepeda dapat dipinjamkan kepada para tamu hotel yang sudah beroperasi sejak tahun 2012 itu. “Kami menyediakan fasilitas ini bagi tamu yang ingin berkeliling di sekitar hotel,” papar seorang karyawan hotel, saat berbincang dengan saya di Surabaya, baru-baru ini.

Untuk memanfaatkan alat transportasi ramah lingkungan tersebut, para tamu harus menunjukkan identitasnya. Setelah itu, tinggal membayar Rp 20 ribu per jam. “Tapi, kalau ingin memakai selama tiga jam, cukup membayar Rp 50 ribu,” kata pria muda karyawan hotel itu.

Lokasi Artotel Surabaya cukup strategis, yakni di Jalan Dr Sutomo yang dikenal sebagai titik nol Kota Surabaya.
Sang empunya hotel, Erastus Radjimin pernah mengatakan bahwa pada zaman dahulu, pusat Surabaya berada di kawasan Tunjungan, Embong Malang, Basuki Rahmat, Darmo, Dr sutomo, Imam Bonjol, WR Supratman, dan Jalan Diponegoro. “Itu semua titik nol. Setelah itu berkembang ke daerah timur, seperti Kenjeran, dan Manyar. Kemudian, sepuluh tahun belakangan berkembang ke daerah barat,” katanya, seperti dilansir koran ekonomi Investor Daily, beberapa waktu lalu.
Hotel berkapasitas 106 kamar itu membidik tamu dari kalangan pebisnis traveler dan korporasi . Tamu asal Surabaya banyak berdatangan dari daerah sekitar Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu seperti dari Malang. Tak sedikit tamu yang datang dari Jakarta. “Saya menginap di Artotel karena sedang menggarap proyek properti di Surabaya,” ujar seorang wanita eksekutif muda kepada saya saat bertemu di Surabaya.

Jika di Surabaya ada Artotel Surabaya, di Tangerang, Banten ada Hotel Mercure Serpong yang juga menyediakan sepeda bagi para tamunya. Hotel yang menjadi bagian jaringan Accor Hotels ini terletak di kawasan Alam Sutera, Serpong, Tangerang. Sepeda yang menjadi fasilitas hotel bintang tiga itu diletakkan di depan pintu masuk lobby hotel. Persisnya di sisi kanan lobby hotel.

sepeda mercure serpong

“Kami menyediakan fasilitas sepeda cuma-cuma kepada para tamu,” jelas seorang karyawan hotel itu saat berbincang dengan saya baru-baru ini di Serpong, Tangerang.

Dia menambahkan, para tamu yang hendak memakai sepeda itu cukup menunjukkan identitas dan menyebutkan menginap di kamar nomor berapa. Setelah itu, lanjutnya, para tamu sudah bisa memakai sepeda kayuh itu untuk berkeliling hotel. “Tapi, kami membatasi maksimal hanya tiga jam untuk sekali pinjam,” kata dia lagi.

Nah, siapa lagi hotel yang mau menyediakan fasilitas sepeda? (edo rusyanto)

Begini Aturan Soal Motor di Jalan Tol

30 Juni 2015

suramadu dan motor 2015

SOAL diskriminasi terhadap sepeda motor bukan persoalan anyar. Bahkan, sesama sepeda motor pun ada perbedaan perlakuan. Pernah lihat parkir sepeda motor di depan mal? Hanya sepeda motor gede alias moge, yakni 250cc ke atas yang boleh parkir disitu. Motor kecil, minggir.

Tak perlu khawatir, itu semua pasti ada dalihnya. Dan, para pemakai sepeda motor kecil pun tak perlu berunjuk rasa meminta lokasi parkir yang sama. Iya kan?

Ada contoh lain. Sepeda motor tidak boleh masuk ke jalan bebas hambatan alias jalan tol. Lagi-lagi, para pengguna sepeda motor juga tidak melayangkan protes, apalagi sampai membakar ban bekas.

Oh ya, ada sih sepeda motor gede yang boleh melintas, yakni para petugas. Misalnya, petugas kepolisian maupun petugas militer.

Saat ini, di Indonesia ada jalan tol yang membolehkan sepeda motor melintas. Pertama, di jembatan tol Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Jalan tol sepanjang 5,4 kilometer (km) itu diresmikan pada 10 Juni 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jembatan tol senilai Rp 4,5 triliun itu mempersilakan sepeda motor melintas, mau itu motor kecil maupun moge.

Dan, kedua tol Bali Mandara yang menghubungkan Nusa Dua, Ngurah Rai, dan Benoa. Jalan tol sepanjang 12,7 km itu pun diresmikan oleh SBY, yakni pada 23 September 2013. Biaya untuk membangun jalan tol ini ditaksir menyentuh sekitar Rp 2,4 triliun.

Nah, di kedua tol tersebut sepeda motor bisa wira-wiri karena memiliki jalur tersendiri.

Lantas bagaimana aturan yang membolehkan sepeda motor melintas di jalan tol? Ini dia.

Pertama, keberadaan jalan tol dan sepeda motor diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 44 tahun 2009 tentang perubahan atas PP No 15 tahun 2005 tentang jalan tol.

Kedua, aturan itu bilang bahwa jalan tol diperuntukkan bagi pengguna yang menggunakan kendaraan bermotor roda empat atau lebih.

Ketiga, pada jalan tol dapat dilengkapi dengan jalur jalan tol khusus bagi kendaraan bermotor roda dua yang secara fisik terpisah dari jalur jalan tol yang diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda empat atau lebih.

Keempat, aturan dibuat dengan pertimbangan bahwa pada beberapa daerah di Indonesia, sepeda motor
merupakan moda transportasi dengan populasi yang cukup besar sehingga perlu diberi kemudahan dalam penggunaan infrastruktur jalan tol dengan memperhitungkan faktor keselamatan dan keamanan.

Kalau begitu, bisa disimpulkan bahwa di sejumlah jalan tol sepeda motor dapat diperbolehkan melintas asal mempertimbangkan aspek keamanan dan keselamatan. Dan, tentu saja mesti dibuatkan jalur khusus untuk menjawab kedua aspek tersebut. (edo rusyanto)

SOTR, Safety On The Road

29 Juni 2015

Poster 40 Resize_sotr

ENTAH siapa mengawali mencuatnya akronim SOTR yang kependekan dari sahur on the road (SOTR). Pastinya, aktivitas itu begitu mencuat beberapa tahun terakhir. Sesuai namanya, aktifitas ini bergulir di jalan raya.

Belakangan banyak SOTR yang bergeser tidak membagikan makanan dan minuman sahur untuk masyarakat yang dianggap tidak mampu. Aktifitas SOTR dikemas menjadi sebuah aktifitas rohani di titik-titik tertentu, misalnya, di panti asuhan. Rombongan peserta SOTR berangkat dari satu titik menuju titik yang dituju. Atau, berangkat dari beragam titik menuju satu titik yang telah disepakati.

Aktifitas sahur bersama dilengkapi dengan ceramah-ceramah agama. Bahkan, pada kegiatan tertentu diisi dengan materi ceramah bersubstansi pesan keselamatan jalan (road safety). Tak lupa diselingi dengan hiburan bagi anak-anak yatim tempat SOTR digelar. Hiburan diharapkan memberi oase bagi para peserta yang hadir.

Bagi komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) makna SOTR dipertajam menjadai ‘Safety On The Road’. Perjalanan menuju lokasi aktifitas, misalnya ke panti asuhan, berjalan dengan aman, nyaman, dan selamat untuk seluruh pengguna jalan. Begitu juga ketika kembali ke rumah dengan kondisi selamat. Keselamatan di jalan bermakna saling menghormati dan mentaati aturan demi kepentingan bersama, bukan kepentingan sepihak.

Ajakan Kopcau dituangkan di dalam poster digital seri ke-40 yang diberi tajuk ‘SOTR, Safety On The Road.’ Poster digital itu diluncurkan dalam kopi darat (kopdar) yang digelar, Jumat, 26 Juni 2015 di kedai roti bakar di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Seruan atau ajakan itu tentu bukan tanpa alasan. Aktifitas mulia yang tidak dipersiapkan dengan matang dan saling menghargai sesama pengguna jalan bukan niscaya menuai hasil kebalikannya. Kekhawatiran pergeseran makna dan mencuatkan cibiran publik menjadi masuk akal manakala aktivitas yang digelar mengabaikan toleransi.

Kopcau didirikan di Jakarta pada 23 Desember 2012. Semula, komunitas ini beranggotakan para admin twitter dari komunitas atau klub sepeda motor. Kini, siapa pun yang para pemilik akun twitter yang peduli pada keselamatan jalan bisa bergabung di Kopcau.

Dalam kopdar yang digelar dua minggu sekali pada Jumat malam, Kopcau menelorkan satu poster digital yang berisi pesan kampanye keselamatan jalan. Ide dan gagasan dibahas dalam kopdar sebelum akhirnya dituangkan dalam poster digital pada pertemuan selanjutnya. Poster digital itu disebar lewat akunt twitter @kopdarpengicau dan akun para anggotanya. Selain itu, poster digital disebar juga melalui media sosial lainnya seperti blog, facebook, path, dan instagram. (edo rusyanto)

Menghapus Getir Musim Mudik

28 Juni 2015

mudik laka 2014_viva

Musim mudik Lebaran menjadi salah satu momentum pergerakan orang yang cukup besar di Indonesia. Lalu lintas pergerakan orang dari kota ke desa atau dari kota ke kota begitu mencolok. Mayoritas perjalanan menggunakan transportasi darat, tak pelak kemacetan kendaraan bermotor tampak disana-sini.

Pada 2014, sekitar 36 juta orang bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan dalam rentang musim mudik, yakni H-7, H+7 serta H1 dan H2 Lebaran. Masa puncak terjadi antara H-4 dan H-3 Lebaran. Tahun itu, tak kurang dari empat juta sepeda motor wira wiri. Belum lagi mobil pribadi yang sedikitnya mencapai sekitar 1,5 juta kendaraan. Penumpukan kendaraan dan antrean panjang menjadi pemandangan rutin pada masa puncak arus mudik.

Kesabaran para pengguna jalan demikian diuji mengingat kemacetan lalu lintas jalan terjadi dimana-mana. Keletihan saat berkendara, terutama ketika terjebak dalam kemacetan hingga berjam-jam, dapat mempengaruhi konsentrasi mengemudi. Hanya dengan rasa sabar dan istirahat yang memadai kemampuan berkonsentrasi masih bisa tetap terjaga.

Kesemua itu bisa terlunasi saat bertemu sanak keluarga di kampung halaman. Inilah obat spiritual yang mujarab sekaligus menumbuhkan keceriaan yang mampu menghilangkan segala kepenatan.

Ironisnya, fakta di sekitar kita memperlihatkan adanya kegetiran pada musim mudik Lebaran. Ajang silaturrahim yang semestinya diisi dengan keceriaan dan kehangatan cinta kasih keluarga terusik oleh kehadiran petaka di jalan raya. Kecelakaan lalu lintas jalan pada musim mudik pun memporakporandakan rajutan silaturrahim.

Pada musim mudik Lebaran 2014, yakni rentang H-7, H+7, serta H1 dan H2 Lebaran, menurut data Korps Lalu Lintas Mabes Polri (Korlantas Polri), rata-rata setiap hari terjadi 191 kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Kecelakaan tersebut rata-rata merenggut 41 korban jiwa. Sedangkan mereka yang menderita luka berat sebanyak 65 orang per hari dan 252 orang menderita luka ringan per hari. Inilah duka anak negeri di jalan raya.

Selama rentang 16 hari musim mudik tahun 2014 angka kecelakaan bisa ditekan sekitar 17%, sedangkan fatalitas menyusut 18%. Tentu ini tidak hadir dengan sekonyong-konyong. Ada upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan (stake holder) keselamatan jalan.

Lebih Serius

Sekalipun bila dibandingkan periode sama setahun sebelumnya terjadi penurunan, angka fatalitas kecelakaan selama periode mudik bikin kita bergidik. Bayangkan, tiap hari, 41 jiwa meregang nyawa. Mayoritas dari korban kecelakaan adalah dari kalangan usia produktif. Karena itu, penting bagi para pemangku kepentingan keselamatan jalan untuk lebih serius dalam melindungi warga negara di jalan raya.

mudik_kecepatan kendaraan
Apalagi tahun ini jumlah pemudik ditaksir bakal meningkat sekitar 2% dibandingkan tahun 2014. Khusus yang menggunakan angkutan jalan, pada 2015, menurut data kementerian perhubungan (kemenhub) mencapai sebanyak 4.918.964 orang. Sedangkan jumlah mobil pribadi yang dipakai mudik Lebaran ditaksir sebanyak 1.686.369 unit dan sepeda motor 2.022.343 unit.

Para pemangku kepentingan keselamatan jalan seperti Kepolisian RI, kemenhub, kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), kementerian kesehatan (kemenkes) hingga pemerintah daerah dari tahun ke tahun menempatkan musim mudik sebagai perhatian utama. Mereka menggulirkan beragam program untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan para pengguna moda transportasi, terutama bagi para pengguna angkutan jalan.

Saat musim mudik Lebaran para pemangku kepentingan keselamatan jalan menggelontorkan anggaran masing-masing. Anggaran untuk mempermulus program masing-masing itu demikian menopang setiap langkah yang telah dibuat. Anggaran menjadi pelumas mesin keterpaduan dan keseriusan mereka.

Terkait dengan keselamatan pengguna jalan, hasilnya tergolong manis. Selama rentang 16 hari musim mudik tahun 2014 angka kecelakaan bisa ditekan sekitar 17%, sedangkan fatalitas menyusut 18%. Korban kecelakaan yang menderita luka ringan bisa diperkecil 16%, bahkan korban luka berat mampu dipangkas hingga 20%.

Hal yang tak bisa diabaikan begitu saja adalah hadirnya para kalangan swasta dalam meramaikan musim mudik. Sejumlah perusahaan besar dan menengah ramai-ramai membuat program mudik bersama, bahkan ada juga yang membuat program balik bersama. Para pemudik diangkut dengan bus, sedangkan sepeda motornya diangkut dengan truk. Program ini ikut menekan jumlah pengguna jalan yang memakai kendaraan sepeda motor. Hasilnya, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor merosot 15%.

Tentu saja di sisi lain, kesadaran para pengendara terkait keselamatan jalan perlahan-lahan mulai meningkat. Hal ini tak bisa dilepaskan dari peran gerakan publik untuk menyebarluaskan pentingnya berkendara yang aman dan selamat di jalan raya. Gerakan moral yang digulirkan komunitas, lembaga swada masyarakat maupun kalangan swasta ikut mewarnai torehan demi torehan yang dicapai pemerintah di jalan raya.

Keberhasilan menekan fatalitas kecelakaan lalu lintas pada musim mudik Lebaran semestinya bisa menjadi pembelajaran bagi pemerintah. Sebagai ilustrasi. Sepanjang rentang 2014, setiap harinya jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan mencapai 70-an orang. Namun, pada rentang area musim mudik anjlok menjadi 41 orang per hari. Artinya, pada rentang 16 hari musim mudik Lebaran pemerintah bisa memangkas hingga 40-an%. Kenapa?

Jawabannya adalah pada musim mudik Lebaran para pemangku kepentingan keselamatan jalan demikian bersatu padu. Mereka serius melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya masing-masing. Ketika semua tupoksi bersatupadu jadilah harmoni yang indah. Fatalitas bisa dipangkas.

Keterpaduan dengan membuang ego sektoral menjadi kata kunci dalam mencapai target penurunan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Bila skema dan praktik selama musim mudik Lebaran bisa diimplementasikan dalam keseharian, bukan mustahil target pemerintah menurunkan fatalitas kecelakaan sebesar 50% sepanjang 2011-2020 bisa dapat dipercepat perwujudannya. (edo rusyanto)

*artikel ini dimuat di koran Sinar Harapan, Jakarta, edisi Kamis, 25 Juni 2015

Koalisi Lima Komunitas Buat Mudik

27 Juni 2015

POSTER DIGITAL1

FAKTA tingginya kasus kecelakaan selama arus mudik Lebaran membuat masyarakat gerah. Bagaimana tidak, setiap hari dalam musim mudik bergelimpangan 41 jiwa akibat kecelakaan di jalan. Belum lagi mereka yang menderita luka-luka, jumlahnya mencapai ratusan orang per hari.

Diantara kelompok masyarakat yang gerah itu adalah koalisi lima komunitas, yakni Kopdar Pengicau (Kopcau), Mailing List Yamaha Scorpio (Milys), Honda Vario Club (HVC) Jakarta, Independent Bikers Club (IBC), dan Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman). Koalisi ini mengajak para pemudik untuk lebih aman dan selamat. “Salah satu caranya dengan merancang manajemen mudik yang baik,” kata Acoi, ketua IBC saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Koalisi ini memilih sejumlah kegiatan sebagai upaya ajakan kepada publik. Dua di antaranya adalah berupa diskusi ‘Manajemen Mudik yang Aman dan Selamat’ dan ‘Aksi Simpatik bagi Pemudik.’ Sedangkan satu aksi lainnya digulirkan sepanjang bulan puasa lewat jejaring media sosial seperti yang sedang Anda baca saat ini. “Kami bikin poster digital mudik aman yang disebarkan lewat twitter,” ujar Iful, ketua Kopcau.

Menurut Rahboy, ketua Milys, ajakan kepada masyarakat untuk mudik aman dan selamat merupakan kepedulian kepada sesama pengguna jalan. Selain itu, ditambahkan, Fahmi, ketua HVC Jakarta, bila perjalanan mudik dan balik berjalan aman, nyaman, dan selamat, silaturrahmi menjadi kian indah. “Keluarga tercinta menanti kita di rumah,” paparnya.

Oh ya, kegiatan koalisi lima komunitas ini digelar pada Sabtu, 4 Juli 2015 dan Sabtu, 11 Juli 2015. Selengkapnya bisa dilihat di info grafis yang ada di artikel ini. (edo rusyanto)

Belajar Solidaritas dari Pemuda Ini

26 Juni 2015

alex bantu motor

MALAM terus merangkak menuju pelukan pagi. Lalu lintas jalan Jakarta masih tampak ramai. Kota yang semakin renta memasuki 488 tahun ini seperti tak pernah lelah.

Kawasan pusat bisnis di Segitiga Emas Jakarta masih berdenyut. Satu, dua orang sisa dari mereka yang bergulat dengan pekerjaan sepanjang hari mulai meninggalkan gedung-gedung pencakar langit. Salah satu diantara mereka adalah saya.

Malam itu saya ada janji dengan sejumlah teman untuk membahas aksi simpatik kampanye keselamatan jalan bagi para pemudik. Pertemuan dengan sejumlah pegiat ditetapkan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Lokasi parkir sepeda motor tempat saya menyimpan si kuda besi mulai lengang. Maklum, jarum jam sedang berjalan perlahan menuju tengah malam, pertanda pagi akan segera hadir. Kolega saya, Arie menemani sisa malam. Pria muda yang tinggal di kawasan Tangerang Selatan, Banten ini sama-sama ingin memindahkan sepeda motor dari halaman parkir kantor menuju tempat parkir di rumah masing-masing.

Peristiwa yang tak diduga pun muncul. Sang kuda besi tak mau beringsut. Tak ada tanda-tanda kelistrikan yang berfungsi. Motor keluaran tahun 2005 itu tampaknya ngambek. Akhirnya, diputuskan untuk mendorong menuju lokasi terdekat yang bisa membantu.

Saya mencoba menghubungi seorang teman yang memang memiliki keahlian soal mesin sepeda motor. Beruntung dia belum pulang dari kantor. Pria yang sehari-hari berwiraswasta membuka bengkel di rumahnya itu pun berjanji akan membantu. Walau, masih membutuhkan waktu sekitar satu jam setelah menyelesaikan pekerjaan kantornya.

Syukurlah, tak berapa lama hadir kolega saya yang lain, Alex. Pria muda yang sehari-hari menunggang Suzuki Satria FU ini pun dengan senang hati membantu setelah kami menjelaskan persoalan yang dihadapi Arie. Dengan sigap dia mengeluarkan sejumlah peralatan kunci-kunci sepeda motor. Langkah awal dia periksa kelistrikan sepeda motor Suzuki Thunder milik Arie. Tak berapa lama, dia memastikan pengapian sepeda motor dalam kondisi tidak berfungsi.

“Dapat dipastikan ini masalah akinya. Lebih baik dicari penjual aki kita pasang sekarang,” ujar Alex.

Ada secercah harapan. Mengingat diagnosa Alex kemudian juga diamini teman pemilik bengkel yang kebetulan tak berapa lama tiba di lokasi tempat kami memeriksa kondisi Thunder.

Arie memutuskan membeli aki baru. Sepeda motor dititipkan lokasi parkir yang dekat dari tempat kami memeriksa kondisi motor itu. Kami pun berpisah.

Pertolongan Alex di tengah malam memberi fakta masih ada solidaritas sosial di kalangan masyarakat Jakarta. Kota yang disebut-sebut memiliki individualisme tinggi menyisakan orang-orang bernurani. Orang yang tak segan membantu orang di tengah malam menjelang pagi, ketika jutaan orang merebahkan diri di atas kasur untuk beristirahat. Alex mengajarkan kepada kita bahwa solidaritas itu masih ada. Dia tak segan tangannya kotor untuk membantu sesama pengguna sepeda motor. Tak banyak cingcong slogan lantang soal ‘brotherhood’. Tak perlu mempertontonkan ‘brotherood’ lewat stiker atau jargon di jaket, Alex menunjukan masih ada kepedulian di dalam diri kita dan tentu termasuk di dalam diri Anda. (edo rusyanto)

Kenali 25 Titik Kemacetan Serius di Jalur Mudik

25 Juni 2015

mudik1_david

MUSIM mudik Lebaran menjadi salah satu arena menguji kesabaran saat berkendara di jalan raya. Bagaimana tidak, jalur yang biasanya ditempuh berkisar 2-3 jam, tiba-tiba berubah menjadi dua kali lipat, bahkan bisa tiga kali lipatnya. Kalau tidak sabar, bisa repot deh.

Sebagai ilustrasi mari kita lihat data milik kementerian perhubungan (kemenhub). Pada musim mudik Lebaran 2014, kecepatan rata-rata bus antar kota antar provinsi (AKAP) untuk jurusan Jakarta-Merak turun 10,52% menjadi 56,72 kilometer per jam (kpj). Bahkan, untuk rute Cikampek-Cirebon anjlok hingga 20,28% yakni menjadi 32,35%.

Usut punya usut, pada musim mudik Lebaran 2014 memang terjadi penambahan beban arus kendaraan. Maklum, pada rentang waktu yang hampir bersamaan, jutaan kendaraan bermotor tumpah ruah di jalan-jalan terutama di jalur utama mudik.

Pada musim mudik Lebaran 2014, sekitar 36 juta orang bergerak dalam waktu yang hampir bersamaan dalam rentang musim mudik, yakni H-7, H+7 serta H1 dan H2 Lebaran. Masa puncak terjadi antara H-4 dan H-3 Lebaran. Tahun itu, tak kurang dari empat juta sepeda motor wira wiri. Belum lagi mobil pribadi yang sedikitnya mencapai sekitar 1,5 juta kendaraan. Penumpukan kendaraan dan antrean panjang menjadi pemandangan rutin pada masa puncak arus mudik.

Nah karena itu marilah kita kenali titik-titik kemacetan dan pasar tumpah yang ada di sepanjang jalur mudik. Pasar tumpah adalah sebutan dimana para pedagang di pasar meluber hingga ke sisi jalan. Kondisi seperti itu praktis membuat arus kendaraan menjadi melambat.

Data kemenhub memperlihatkan setidaknya ada 25 titik rawan macet/pasar tumpah sepanjang ruas pantura Jawa. Titik-titik itu tersebar dari Karawang, Jawa Barat hingga Losari, Jawa Tengah.

Titik-titik itu antara lain Pasar Johar, Karawang (km jkt 75.000), Pasar Cikampek (km jkt 95.000), Pasar Sukamandi (km jkt 121.000), dan Pasar Ciasem (km jkt 125.000). Lalu, Pasar Patrol (km cn 94.500), Pasar Kandanghaur (km cn 93.000), dan Simpang Tiga Jangga (km cn 65.000).

Selengkapnya titik-titik tersebut bisa dilihat di peta yang ada di bawah ini.

mudik titik macet jawa 2015

Pastinya, perjalanan mudik melintasi jalur Pantura Jawa mesti mempersiapkan stamina yang memadai. Kondisi tubuh yang bugar dan manajemen istirahat yang tepat, bisa tetap menjaga konsentrasi sang pengemudi.

Kewaspadaan menjadi mutlak mengingat pada musim mudik tiga tahun terakhir, 2012-2014, kontribusi jalur Pantura Jawa sebagai lokasi kecelakaan melonjak drastis. Bila pada musim mudik 2012 kontribusinya 15,04%, pada 2014 langsung melejit menjadi 30,33%. Tahun 2012, jalur tersebut menempati posisi ketiga terbesar, namun tahun 2014 langsung menempati posisi teratas. Gawat! (edo rusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.954 pengikut lainnya.