Skip to content

Ojek Online Ditegur Saat Ikuti Kemauan Konsumen

9 Desember 2016

motor-helm1

REALITAS ojek sepesa motor tak terelakkan. Bahkan, saat hadir penggunaan aplikasi, ojek pun meruyak. 

Kisah dalam tulisan ini berangkat dari pengalaman seorang pengojek berbasis aplikasi. Kejadiannya begini. 

Suatu ketika, Damyiandy, kita sapa saja begitu, dapat orderan mengantar konsumen. Tentu saja dirinya sumringah. Orderan berarti rezeki. 

Jadilah dia mengantar ke tujuan sang konsumen. Di tengah jalan, kata dia, konsumennya meminta buru-buru karena mengejar waktu. Damyiandy pun menambah kecepatan. 

Akhirnya semua beres. Konsumen tiba di tujuan. Uang pun dikantongi Damyiandy. 

“Saya dapat komentar di aplikasi dari penumpang, kata dia, ojeknya bagus, ngebut,” sergah pria muda itu saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini. 

Buntut dari komentar itu, tutur Damyiandy, dirinya diharuskan mengikuti pelatihan bersepeda motor yang aman dan selamat (safety riding). Jadilah dia mengikuti pelatihan di kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten. “Hampir seharian pelatihannya, dari pagi sampai sore, kami dapat makan siang juga,” kata dia. 

Dia mengaku, hal serupa juga dialami rekannya sesama ojek berbasis aplikasi. “Malah ada yang sampai tiga kali,” selorohnya. 

Fakta opini itu membuat saya menjadi ngeh akan pernyataan seorang kolega. Dia adalah instruktur Rifat Drive Labs (RDL). “Sekarang kalau ada yang dapat komentar negatif dari penumpang, terutama terkait safety riding, akan disuruh ikut pelatihan,” kata dia, saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini. 

Dia menambahkan, pelatihan itu penting agar sang pengemudi berkendara lebih aman dan selamat. Jika itu terwujud konsumen pun menjadi lebih nyaman. “Apalagi latat belakang pengemudi berbeda-beda, begitu juga pengetahuannya soal safety riding,” ujarnya. (edo rusyanto) 

Mau Nanjak Flyover Malah Diserempet Truk

8 Desember 2016

antrean-kendaraan

INSIDEN di jalan raya datang dan pergi tanpa pernah diminta. Dia hadir tiba-tiba dan bisa menimpa siapa saja.

Apa yang dialami pria muda dalam tulusan ini membuktikan hal itu. Ceritanya begini.

Insanto, kita sapa saja demikian, melaju dengan kecepatan normal. Sepeda motor kesayangannya setia menemani untuk wira wiri mengais rezeki. Begitu pula dengan siang itu.

Pilihannya bersepeda motor karena kendaraan itu dinilai lebih praktis. Si kuda besi mengantarkannya dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih leluasa dibandingkan dengan menggunakan angkutan umum. Sebuah sudut pandang dari kebanyakan pengguna roda. Apalagi jika sudah menyinggung urusan biaya, kuda besi dinilai lebih murah.

“Kalau dibandingin biaya naik angkutan umum, biaya bawa motor jauh lebih murah,” ujar kolega saya, di Jakarta, baru-baru ini.

Bahkan, lanjutnya, sekalipun dibandingkan dengan saat membawa mobil pribadi. Biaya bensin dan biaya parkir mobil bisa 8-10 kali lipat dibandingkan memakai sepeda motor.

Kembali ke Irsanto. Siang itu, dia melaju di tengah ramainya lalu lintas jalan pinggiran Jakarta. Dia rutin melintas kawasan itu dari tempat tinggalnya menuju ke kantor tempatnya bekerja, begitu sebaliknya.

Menjelang memasuki flyover atau jalan layang di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dia melaju dengan kecepatan normal. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sebuah mobil truk. “Nggak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saya jatuh, kayaknya kesrempet,” ujar dia, saat berbincang dengan saya di Jakarta baru-baru ini.

Pengguna jalan yang iba melihat kejadian itu menolong Irsanto. Sedangkan pengemudi truk ukuran sedang yang diduga menyerempet pergi begitu saja. Entah apakah dia tidak tahu ada sepeda motor yang tersenggol mobilnya, atau memang tidak ingin bertanggung jawab. Entahlah.

“Syukur tidak ada luka serius,” ujar Irsanto.

Posisi kita pesepeda motor memang ringkih. Secara alamiah, roda dua mudah tergelincir dibandingkan roda empat atau lebih. Sang pengendara lebih ringkih celaka karena berbenturan langsung dengan obyek lain. Sedangkan pengemudi mobil masih terlindungi oleh kerangka mobil.

Saat berpapasan dengan truk, tentu saja kita pesepeda motor mutlak ekstra waspada. Postur truk yang lebih besar amat membahayakan pesepeda motor jika terjadi benturan. Kehati-hatian tak semata saat hendak mendahului truk, bahkan juga ketika jalan beriringan. Kasus Irsanto menambah satu fakta lagi bahwa menghadapi truk kita harus melipatgandakan kewaspadaan. Setidaknya, menjaga jarak jarak aman. (edo rusyanto)

Inilah Empat Kota dengan Keselamatan Jalan Terbaik 2016

7 Desember 2016

irsa-suasana-2016_edo

EMPAT kota dan kabupaten berikut ini dinilai menerapkan tata kelola keselamatan jalan (road safety) terbaik di Indonesia pada 2016. Label terbaik itu disematkan dalam ajang Indonesia Road Safety Award (IRSA) 2016 besutan Adira Insurance bersama Majalah Swa.

Bahasa awamnya, keempat kota ini paling aman dan selamat untuk urusan di jalan raya. Kok bisa?

“Mereka dinilai berdasarkan lima pilar Rancangan Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK),” kata Direktur Utama PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance), Indra Baruna, dalam Penganugerahan IRSA 2016, di Hotel JW Mariot, Jakarta, Selasa, 6 Desember 2016 siang.

Kelima pilar itu mencakup manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, dan kendaraan yang berkeselamatan. Selain itu, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan serta penanganan pra dan pasca keselamatan.

Nah, keempat kota itu adalah Kota Surabaya (Jawa Timur), Kota Balikpapan (Kalimantan Timur), serta Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pekalongan keduanya di Jawa Tengah.

Surabaya meraih IRSA 2016 untuk kategori kota berpopulasi di atas 1 juta jiwa, menyisihkan empat finalis lain di kategori tersebut, yaitu Kota Bogor, Kota Tangerang Selatan, Kota Administratif Jakarta Pusat dan Kota Semarang. “Selain juga menyapu bersih kemenangan di seluruh pilar RUNK,” tulis laman Antara.

Kemudian Balikpapan, berhasil meraih IRSA 2016 untuk kategori kota berpopulasi di bawah 1 juta jiwa, mengalahkan Kota Jambi dan Kota Padang, serta sama seperti Surabaya, menyapu bersih kemenangan di kelima pilar RUNK.

Selanjutnya, Jepara, meraih IRSA 2016 kategori kabupaten berpopulasi di atas 1 juta jiwa, menyisihkan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Cirebon, meski hanya memenangi empat pilar karena Cirebon berhasil memenangi pilar kelima yakni penanganan pra dan pasca keselamatan.

Sedangkan Pekalongan berhasil meraih IRSA 2016 kategori kabupaten berpopulasi di bawah 1 juta jiwa, dengan keberhasilan memenangi tiga pilar RUNK yakni manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan dan perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, menyisihkan pesaingnya dari Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Bangka.

irsa-finalis-2016-bogor_adira
Sementara Kabupaten Gunung Kidul, memenangi dua pilar lainnya di kategori kabupaten berpopulasi di bawah 1 juta jiwa, yakni kendaraan yang berkeselamatan serta penangan pra dan pasca kecelakaan.

Selain keempat kota itu, IRSA kali ini juga memberikan Kategori Khusus yaitu, Kota atau Kabupaten dengan Peningkatan Indeks Keselamatan Jalan Terbaik (Kota Tangerang Selatan). Lalu, Kota atau Kabupaten dengan Inovasi Program Keselamatan Jalan Terbaik (Kabupaten Jepara) dan Kota atau Kabupaten pada Upaya Meningkatkan Jumlah Pengguna Angkutan Umum (Kota Semarang). Sedangkan Kota atau Kabupaten pada Upaya Meningkatkan Kualitas Sarana Pejalan Kaki yang Berkeselamatan diraih Kota Jakarta Pusat.

IRSA 2016 adalah kali keempat ajang penghargaan bagi pemerintah daerah (pemda) yang berkomitmen mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat. Sepanjang empat tahun berturut-turut pula saya diminta menjadi panelis dalam ajang akbar itu. Dan, selama empat tahun itu saya melihat peningkatan antusiasme para pemda di Tanah Air.

“Tahun ini, pesertanya naik sekitar 45% menjadi 110 pemda,” kata Indra Baruna.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui para finalis, sebelum akhirnya meraih penghargaan. Tahap-tahap itu mencakup pendaftaran, daftar pendek (shortlisting), serta survei dan observasi lapangan. Terakhir, penjurian. Pada tahap ini, para pemda yang menjadi finalis diundang untuk melakukan presentasi mengenai berbagai permasalahan, program kerja, dan evaluasi kebijakan terkait dengan tata kelola keselamatan jalan.

Tahun 2016, dari 110 yang mendaftar diseleksi menjadi 17 pemda yang masuk nominasi. “Para pemda juga semestinya berkampanye agar anak usia di bawah umur tidak berkendara,” pinta Budi Karya, menteri perhubungan RI saat memberi sambutan.

Dia mengaku, angka kecelakaan yang melibatkan usia produktif dan anak di bawah umur masih cukup tinggi di Tanah Air. Menhub juga menilai apa yang dilakukan Adira Insurance hendaknya ditularkan ke korporasi lainnya. “Sekaligus berbagai pengalaman dengan mereka,” ujar dia.

Pada 2015, Indonesia mencatat korban yang meninggal dunia akibat kecelakana lalu lintas jalan mencapai 26 ribuan jiwa. Sedangkan jumlah kasus kecelakaan mencapai 98.970 kasus.(edo rusyanto)

Taman Pintar Yogyakarta Dilengkapi HRT

6 Desember 2016

yahm-yogyakarta-003

TAMAN Pintar, Yogyakarta kini dilengkapi fasilitas anyar. Tak semata fasilitas hiburan, kelengkapan anyar ini menekankan edukasi keselamatan lalu lintas jalan (road safety). Khususnya lagi, edukasi keselamatan bersepeda motor (safety riding).

Ya. Fasilitas itu bernama Zona Keselamatan Berkendara dan Teknologi. Zona besutan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) ini diharapkan dapat memperkuat upaya peningkatan kesadaran berkendara dengan baik dan benar di kalangan masyarakat. Terutama, di kalangan anak-anak dan generasi muda pengunjung wahana edukasi terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

“Kami memperbaharui media komunikasi pendidikan kami dengan menghadirkan sarana bermain sekaligus tempat belajar tentang teknologi dan cara berkendara yang baik dan benar bagi pengunjung Taman Pintar,” ujar Ketua YAHM I Putu Astawa, dalam publikasinya di Jakarta yang saya terima Senin, 5 Desember 2016.

Dia menjelaskan, Zona Keselamatan Berkendara dan Teknologi YAHM seluas 656 meter persegi itu terletak di areaplayground Taman Pintar Yogyakarta. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Plt Walikota Yogyakarta Sulistyo, Senin, 5 Desember 2016.

Menurut dia, Wahana edukasi ini terbagi dalam dua area utama, yaitu indoor dan outdoor. Pada area indoor, pengunjung dapat menyaksikan tiga bagian utama yaitu informasi seputar teori dan praktiksafety riding, serta sejarah dan perkembangan teknologi dan sepeda motor Honda. Selain itu, beragam contoh kegiatan yang menggambarkan tanggung jawab sosial perusahaan. Untuk di arena outdoor, pengunjung Taman Pintar dapat melihat sekaligus melakukan praktik belajar berkendara aman dan benar di jalan raya melalui beragam rambu lalu lintas yang ada di sana.

“Kami yakin kolaborasi erat dengan Taman Pintar ini dapat memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya pengunjung Taman Pintar yang berasal dari berbagai daerah ini,” tambah Putu.

Dia mengaku kerja sama dengan Taman Pintar sudah dirintis sejak 2009. Saat itu, kata dia, pihaknya membangun dan mengoperasikan Zona Teknologi Otomotif Roda Dua yang berada di Gedung Kotak lantai II Taman Pintar Yogyakarta. Melalui zona tersebut pengunjung Taman Pintar dapat mempelajari teknologi dan perkembangannya yang ada di industri roda dua.

Oh ya, Taman Pintar merupakan wahana edukasi yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Desember 2008. Pembangunannya dilatarbelakangi keinginan untuk menghadapi realitas perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, serta komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi masyarakat dan para pelajar.

Taman Pintar dikenal tidak hanya secara nasional namun juga internasional. Sebagai lembaga yang berada di bawah naungan Pemerintah Kota Yogyakarta, Taman Pintar memiliki tanggungjawab untuk selalu melayani masyarakat dalam menumbuhkembangkan minat anak dan generasi muda terhadap sains, melalui imajinasi, percobaan dan permainan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan jumlah pengunjung yang tidak kurang dari satu juta setiap tahun, Taman Pintar menjadi sebuah science center atau pusat pembelajaran sains/ilmu pengetahuan yang telah berperan dalam menanamkan dan mengembangkan literasi sains masyarakat. (edo rusyanto)

Waspada, Jalan Ini Bergelombang

5 Desember 2016

taman-mini-perbaikan-jalan-rambu2

KAWASAN Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  Jakarta Timur merupakan salah satu destinasi wisata. Beragam wahana dan wisata budaya dapat dinikmati oleh wisatawan di area yang satu ini.

Obyek wisata yang dibuka pada 20 April 1975 itu merangkum Indonesia dalam satu tempat. Seluruh budaya Nusantara tersaji di TMII. Bahkan, obyek wisata ini juga dilengkapi dengan beragam museum. Ada museum olahraga, transportasi hingga museum prajurit. Hal itu menjadikan TMII sebagai wahan wisata edukasi selain rekreasi keluarga.

TMII dikunjungi ratusan ribu orang setiap tahunnya. Karena itu, tak heran jika tingkat aksesibilitasnya harus bagus. Salah satunya adalah akses jalan darat yang menghubungkan TMII dengan sejumlah wilayah di DKI Jakarta maupun dengan kota lain.

Nah, kali ini, upaya merawat jalan sedang digulirkan, terutama di akses utama, yakni Jl Raya TMII. Ini adalah akses menuju pintu utama. TMII punya tiga akses masuk dan keluar. Dua akses laiinya adalah pintu melalui Asrama Haji Pondok Gede dan satunya lagi via Keong Emas. 

Jalan bergelombang itu merupakan bagian dari upaya pelapisan ulang. Sebelum dilapisi aspal, permukaan jalan digaruk dengan alat berat. Dampak dari penggarukan itulah yang menimbulkan jalan bergelombang. 

Bagi kendaraan roda empat tidak terlalu terasa gelombang jalan tersebut. Namun, bagi kendaraan roda dua justeru sebaliknya. Pesepeda motor mesti ekstra waspada. Terlebih dalam musim penghujan saat ini. 

Lengah sedikit saja bisa tergelincir. Hindari pengereman mendadak ketika melintas di jalan bergelombang. Salah-salah justeru bisa terjerembab. 

Saat saya melintas di area itu, Minggu, 4 Desember 2016 sore terlihat sebuah pesan peringatan berbunyi “Hati-hati Jalan Bergelombang”. 

Pesan agar pengguna jalan berhati-hati itu dibuat mencolok agar mudah dibaca. Harapannya tentu saja agar proses pelapisan aspal itu tidak merenggut korban akibat kecelakaan. 

Maklum, di Indonesia, faktor jalan merupakan salah satu penyumbang kecelakaan lalu lintas. Walau kontribusinya sekitar 5%, tetap saja kecelakaan berdampak luas. Siapa sih yang mau celaka?  Jangan sampai deh.  (edo rusyanto) 

Melanggar Bersama-sama Kian Berani

4 Desember 2016

garis-setop-dilibas-cawang-2016b

SAAT saya mengunggah foto pesepeda motor yang berhenti tertib di belakang garis setop di media sosial, ada yang terperangah. Dia bertanya, dimana lokasi pengambilan foto?

“Biasanya mereka (pesepeda motor) berhenti di zebra cross,” ujar Darmaningtyas, pemerhati transportasi mengomentari unggahan saya di lini masa twitter, beberapa waktu lalu.

Darmaningtyas adalah salah satu pemerhati transportasi yang gigih mendorong lalu lintas jalan yang humanis. Salah satunya, mendorong yerwujudnya angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, terintegrasi, dan ramah lingkungan.

Bisa jadi komentar sejenis ada di benak warga dunia maya maupun dunia nyata. Mereka bingung ada pesepeda motor yang tertib, mengingat setiap hari lebih banyak melihat pelanggaran ketimbang yang tertib. Herannya, pelanggaran yang dilakukan bersama-sama itu didiamkan sehingga dianggap lumrah. Aneh.

Oh ya, garis setop adalah marka jalan penanda batas terdepan kendaraan yang berhenti di perempatan atau pertigaan jalan. Artinya, jika melewati garis itu sang pelaku telah melanggar aturan.

UU No 22/2009 tentang LLAJ menegaskan, pelanggaran atas marka dan rambu jalan dapat didenda maksimal Rp 500 ribu. Atau, pidana penjara maksimal dua bulan.

Selain garis setop, di area perhentian juga biasanya terdapat marka jalan zebra cross, yakni tempat menyeberang jalan para pedestrian.

Pemandangan yang sering saya jumpai di Jakarta, marka jalan itu diinjak-injak. Pelanggaran dilakukan beramai-ramai. Barangkali di benak pelanggar tersirat bahwa jika dilakukan bersama-sama, tidak ditindak oleh petugas. Dan, ironisnya, mayoritas pelanggaran itu memang benar-benar tidak ditindak.

Padahal, jargon yang sering dilontarkan adalah kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Artinya, ketika melanggar aturan di jalan bukan mustahil memicu terjadinya kecelakaan. Faktanya juga demikian, sekitar 29% pemicu kecelakaa

Tapi, bukan mustahil diantara pelanggar itu memang ada yang benar-benar tidak tahu aturan soal marka dan rambu jalan. Mereka sekadar ikut-ikutan. Repotnya, mereka yang tahu aturan justeru pura-pura tidak tahu, bahkan tidak peduli merampas hak orang lain, yakni pedestrian.

Adegan demi adegan saling merampas hak sesama pengguna jalan seakan mempertontonkan watak keseharian kehidupan di masyarakat. Tak peduli nasib orang lain, memanipulasi hak orang lain, hingga menyuap penegak keadilan. Kalau sudah begitu mereka yang memiliki kekuatanlah yang berkuasa. (edo rusyanto)

Near Miss di Kawasan Taman Mini

3 Desember 2016

taman-mini-lalin-2016b

INSIDEN di jalan raya Jakarta seakan tak pernah surut. Seorang perwira menengah polisi lalu lintas, bahkan pernah berujar, insiden dan kecelakaan sulit dibendung.

Dia beralasan bahwa ketika penggunaan kendaraan bermotor terus bertambah, petaka jalan bisa terjadi setiap saat. Ironisnya, faktor perilaku pengendaralah yang banyak makan korban. Khususnya, perilaku ugal-ugalan alias melanggar aturan.

Coba tengok sekeliling kita, ada benarnya fakta opini itu. Walau, fakta data juga berbicara hal serupa. Kalau sudah begini, hal yang mesti maksimal adalah berupaya memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas. Sekali lagi, berupaya secara maksimal.

Kejadian yang saya saksikan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, baru-baru ini, seakan menguatkan hal itu. Perilaku ugal-ugakan dapat memicu insiden.

Bagaimana tidak, di tengah sesaknya kendaraan bermotor mengantre di lampu merah, tiba-tiba hadir sang penerobos. Ceritanya begini.

Laju kendaraan dari arah kami berhenti karena lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah. Di pertigaan itu jumlah kendaraan bermotor tumpah ruah. Mereka yang berhenti sabar menanti. Dari arah kanan kami, arus kendaraan melaju normal karena sedang kebagian lampu berwarna hijau. Di barisan depan lajur kami berjejal belasan sepeda motor. Boleh jadj ada yang memang sudah tidak sabar menanti pergantian warna lampu.

Tak lama kemudian lampu berganti menjadi hijau. Tiba-tiba, dari arah yang semestinya berhenti, menyelonong seorang pesepeda motor. Suara klakson pun menjadi riuh rendah, bersahut-sahutan. Saya memaknainya sebagai suara pengingat agar tidak terjadi kecelakaan di jalan.

Belum lagi usai, dalam hitungan detik tiba-tiba muncul mobil jenis hatchback. Dia melaju agak kencang dengan membunyikan klakson keras-keras. Entah apa maksudnya, barangkali minta diprioritaskan untuk lewat. Atau, mengingatkan agar yang lain minggir agar tidak terjadi benturan.

Apa pun itu, insiden sudah terjadi. Nyaris (near miss) terjadi kecelakaan. Pesepeda motor yang ada di barisan depan menumpahkan kekesalan tak semata lewat klakson nyaring, tapi juga sumpah serapah. Bahkan, sepintas saya lihat ada yang melemparkan sesuatu ke arah mobil sang penerobos lampu merah. Walai, sepintas juga terlihat bahwa yang dilempar adalah bukan benda berbahaya.

Fakta tadi, insiden yang terjadi, nyaris melebar. Tapi, tampaknya kesabaran masih menaungi para pengguna jalan. Kemampuan menahan amuk masih lebih unggul ketimbang emosi meledak-ledak.

Kian nyata bahwa musuh terbesar bukan ulah orang lain, melainkan bersemayam di dalam diri. Termasuk ketika kita di jalan raya. (edo rusyanto)