Skip to content

Simak Risiko di Balik Ngantuk Berkendara Saat Mudik

23 Juni 2017

SEBUAH mobil tampak menimpa sepeda motor dan mobil lainnya. Mobil yang tersungkur itu tampak mengangkut barang bawaan di bagian atasnya.

Kecelakaan di kawasan Kuningan, Jawa Barat, Kamis (22/6) itu menyebabkan sejumlah orang menderita luka. "Diduga pengendara mengantuk," tulis akun instagram Kuninganrepost, Kamis.

Di belahan lain di Gilumanuk, Bali, kecelakaan lebih memilukan juga menimpa pemudik. Mobil yang mengangkut belasan pemudik menabrak truk. Buntutnya, delapan orang meninggal dunia dan lima lainnya menderita luka berat.

Peristiwa demi peristiwa bermunculan sepanjang musim mudik Lebaran 2017. Kecelakaan lalunlintas jalan itu menimpa hampir semua jenis kendaraan. Pemicunya pun beragam namun mayoritas bertumpu pada faktor manusia, salah satunya adalah mengantuk saat mengemudi atau berkensara.

Sekalipun fatalitas kecelakaan dapat terus ditekan sepanjang tiga tahun terakhir, bukan berarti kita lengah dan berdiam diri. Ajakan berlalulintas jalan yang aman dan selamat mutlak terus digaungkan. Tujuannya agar pemudik tetap sehat dan selamat dalam menempuh perjalanan.

Sekadar menyegarkan ingatan kita, pada 2014, setiap hari rerata 50-an jiwa melayang akibat kecelakaan sepanjang musim mudik. Setahun kemudian merosot menjadi 40-an dan kembali menurun pada 2016 menjadi 30-an.

Kembali soal ngantuk saat berkendara. Faktor ini perlu diwaspadai dan dicari solusinya. Bagaimana tidak, mengantuk saat berkendara membuat pengemudi gagal fokus. Konsentrasi buyar. Kecelakaan pun dapat dengan mudah terjadi.

Solusi mencegah serangan rasa kantuk ketika berkendara dapat dilakukan dengan tigal hal. Pertama, sebel bepergian sang pengemudi hendaknya tidur setidaknya berkisar 6-8 jam.

Kedua, memiliki sopir pengganti. Bergantian mengemudi memberi kesempatan salah satunya memiliki cukup energi dan tetap bugar.

Ketiga, mengatur ritme istirahat dengan baik. Setidaknya beristirahat setiap dua jam sekali bagi pesepeda motor dan setiap empat jam sekali bagi pengemudi mobil. Saat istirahat dapat dimanfaatkan untuk tidur berkualitas sekitar 15 menit untuk menjaga kebugaran.

Semoga berfaedah. Selamat mudik. (edo risyanto)

Foto: akun instagram kuningan repost

Menebar Semangat Road Safety Dalam Momentum Mudik

19 Juni 2017

MUSIM mudik Lebaran menjadi tonggak penting penyebaran kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat (road safety). Penyebaran informasi bisa bergulir massif mengingat media massa arus utama dan media sosial pun diramaikan isu pentingnya berkendara yang aman dan selamat.

Bagi kelompok pengguna sepeda motor Indenpent Bikers Club (IBC) mometum itu ikut dimanfaatkan untuk meningkatkan kampanye road safety. Ritual yang sudah digulirkan sejak 2013 itu kian solid saat bersinergi dengan Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman). Momentum kali ini digulirkan lewat Diskusi dan Aksi Simpatik Mudik Sehat=Mudik Selamat yang digelar di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Sabtu, 17 Juni 2017.

Momentum tadi merupakan bagian dari upaya menekan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan pada musim mudik dan arus balik Lebaran. Para pemangku kepentingan keselamatan jalan bahu membahu. Sinergisitas tidak diberi ruang untuk mengendur.

Gerakan publik juga tak henti. Mereka mengajak para pengguna jalan agar lebih antisipatif atas segala kemungkinan saat berlalu lintas jalan. “Itulah kenapa kami membuat Aksi Simpatik dan Diskusi Mudik Sehat, Mudik Selamat. Kami ingin menyebarluaskan berkendara yang minim risiko,” ujar Harso Acoy Kurniawan, ketua Independent Bikers Club (IBC) di sela Diskusi dan Aksi Simpatik Mudik Sehat=Mudik Selamat, di Jakarta, Sabtu sore.

Selaku koordinator Jarak Aman, saya menilai, kegiatan ini merupakan bagian dari menyelamatkan bangsa dari risiko kematian. Sebab, jumlah korban meninggal kecelakaan jalan di Indonesia masih sangat tinggi, sekitar 70 orang per hari. 

Melalui diskusi ini, Jarak Aman dan IBC ingin mengajak para peserta sekaligus masyarakat luas untuk berkendara secara aman. Pesan ini harus disampaikan ke lingkungan terdekat, seperti keluarga. Jika tidak saling mengingatkan, akan sangat   berbahaya, karena kecelakaan bisa memangkas generasi ke depan.

Kita tahu bahwa korban kecelakaan selama mudik Lebaran terus menurun. Ini berkat andil pemerintah dan juga elemen masyarakat yang kerap menggelar kampanye keselamatan jalan.

Penasihat Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata yang hadir sebagai pembicara diskusi, menilai, sekitar 90% penyebab kecelakaan adalah faktor manusia. Itu sebabnya, dia mengimbau para bikers untuk selalu berhati-hati.

Selain itu, dia menuturkan, bikers jangan sembarangan memodifikasi motor. Sebab, hal itu bakal mengurangi fungsi keselamatan motor. “Prinsipnya, pabrikan motor selalu memberikan produk yang aman. Buktinya, setiap motor yang dijual telah mengantongi SRUT,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Keselamatan Transportasi Ditjen Hubdat Kementerian Perhubungan Eddie mengimbau masyarakat jangan mudik menggunakan sepeda motor. Sebab, risikonya sangat tinggi. “Lebih baik motor diangkut truk,” ujar dia, di tempat yang sama.

Menurut Yuli Kurniawan, kasubdit Dikmas Kamsel Korlantas Polri, penyebab kecelakaan adalah kelalaian pengemudi. Dalam menekan angka kecelakaan, Polri menerapkan tilang dan teguran. Hal ini diharapkan mampu membangun kesadaran pemudik.

Usai diskusi, seratusan peserta turun ke Jl MT Haryono yang terletak di depan area diskusi, yakni Hotel Ibis Cawang menggelar aksi simpatik. Selain membentangkan spanduk yang berisi pesan keselamatan jalan, mereka membagikan paket tajil untuk berbuka puasa kepada para pengguna jalan.

Kegiatan yang diikuti oleh 24 perwakilan komunitas dan klub otomotif itu ditutup dengan berpuasa bersama. “Sebelum buka puasa, kami bagikan dorprize berupa helm dan barang lain,” kata Arinda sang pemandu acara. Ok, semangat. (edo rusyanto)

Perhatikan Hal-hal Ini Ketika Mudik Bersepeda Motor

15 Juni 2017

PESEPEDA motor diperkirakan masih meramaikan lalu lintas jalan selama musim mudik dan balik Lebaran 2017. Pro dan kontra pemakaian sepeda motor sebagai alat transportasi jarak jauh pun kembali mencuat. Alasannya, sepeda motor rentan terlibat kecelakaan.
Keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan selama musim mudik memang paling tinggi dibandingkan jenis kendaraan lainnya. Dalam rentang lima tahun terakhir, yakni 2013-2016, keterlibatan sepeda motor selalu di atas 60%, sekalipun trennya terus menurun. Pada 2013, kontribusinya sekitar 70,86%, sedangkan pada 2016 sebesar 67%.
Sementara itu, dari sisi volume kendaraan yang terlibat kecelakaan, juga terlihat adanya penurunan. Bila pada 2013 setiap hari tercatat rata-rata 285 kendaraan, tahun 2016 menyusut menjadi 235 sepeda motor.
Upaya menekan kecelakaan sepeda motor terus dilakukan para pemangku kepentingan keselamatan jalan. Bahkan, berbagai elemen masyarakat pun ikut menggulirkan kesadaran mudik yang aman, nyaman, dan selamat. Di antara elemen masyarakat itu salah satunya adalah kalangan media massa yang gencar mengabarkan jurus memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas.
Nah, bila terpaksa menggunakan sepeda motor saat musim mudik, rasanya beberapa langkah berikut ini perlu kita perhatikan. Tentu saja tujuan utamanya adalah agar mudik menyadi lebih aman, nyaman, dan selamat.

Faktor Manusia:
1. Kesehatan fisik. Butuh kondisi fisik prima ketika menempuh perjalanan jauh dengan bersepeda motor. Jarak ratusan kilometer, bahkan hingga seribuan kilometer menuntut kekuatan fisik. Tanpa hal itu dapat dipastikan risiko yang dipikul semakin besar.
2. Stabilitas emosi. Keletihan, dehidrasi, debu, asap, cuaca panas, kemacetan, hingga kebisingan suara kendaraan, bisa memicu stress. Kondisi tersebut bisa memicu emosi tidak stabil. Redam emosi berlebihan dengan tetap menjaga kebugaran dengan beristirahat yang cukup dan fokus dalam berkendara. Abaikan jika ada provokasi dari pengguna jalan yang lain. Pertebal rasa sabar. Kita mencari selamat sampai tujuan. Bukan selamat sampai duluan.
3. Kuasai teknik berkendara yang aman dan selamat. Mulai dari menjaga jarak, saat mendahului secara aman, hingga mengerem yang aman dan selamat.

Faktor Kendaraan:
1. Servis kendaraan. Sepeda motor diservis sebelum dipakai untuk menempuh jarak ratusan kilometer. Pemeriksaan kondisi mesin lebih terjamin. Datangi bengkel dan minta diperbaiki kerusakan sekecil apapun. Servis dilakukan setidaknya tiga hari sebelum bepergian.
2. Periksa ulang jelang keberangkatan dan setiap beristirahat. Kondisi yang harus dicek mulai bahan bakar minyak (BBM), kondisi tekanan angin pada ban, kualitas kanvas rem, rantai, lampu-lampu, standar motor, kondisi oli, kaca spion, hingga busi.
3. Kelengkapan surat kendaraan. Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) pastikan dibawa dan sebaiknya dalam kondisi tidak telat pembayaran pajaknya.

Faktor Lain:
Pastikan senantiasa berdoa sebelum menempuh perjalanan memohon keselamatan kepada Sang Pencipta. Selain itu, perhatikan hal-hal sebagai berikut;
1. Surat Izin Mengemudi (SIM). Pastikan SIM masih berlaku. SIM mati bisa kena tilang. Tentu amat merepotkan untuk mengikuti sidang di kota yang jauh dari tempat tinggal kita.
2. Perlengkapan keselamatan. Pastikan helm yang dipakai memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan menutupi seluruh wajah (full face). Gunakan sepatu menutupi mata kaki, lebih direkomendasikan yang tidak memakai tali. Selain itu, gunakan jaket cukup tebal yang melindungi terpaan angin serta yang berwarna mencolok agar mudah dilihat. Serta, gunakan sarung tangan dan membekali diri dengan jas hujan.
3. Obat-obatan. Untuk berjaga-jaga, bisa membekali diri dengan obat luka luar atau obat gosok menghilangkan rasa pegal.

Demi keselamatan di jalan, jumlah penumpang dan pengendara sebaiknya tak lebih dari dua orang.

4. Peta dan rute. Fahami rute yang bakal dilintasi, termasuk mungkin juga jalur alternatifnya.
5. Ponsel. Nomor-nomor penting terkait panggilan darurat, mulai kerabat, kantor polisi, hingga rumah sakit di rute yang dilintasi.
6. Uang receh. Pecahan Rp 1.000 hingga Rp 5.000 bisa bermanfaat untuk membayar uang parkir hingga jasa toilet di SPBU.
7. Barang bawaan. Beban berat membuat keseimbangan pemotor bisa terganggu. Daya reflek dan manuver pun bakal kurang nyaman, terlebih jika harus berhenti mendadak atau menghindari benturan. Jika memungkinkan, ada baiknya sebagian barang bawaan dipaketkan via perusahaan kurir guna mengurangi beban.
8. Penumpang. Demi keselamatan di jalan, jumlah penumpang dan pengendara sebaiknya tak lebih dari dua orang.
9. Jadwal istirahat. Tentukan waktu istirahat secara berkala setidaknya dua jam sekali.
10. Pilih tempat istirahat. Istirahat bisa dimanfaatkan untuk mengisi BBM, buang air kecil, ibadah sholat, atau tidur sesaat 15-30 menit. Bisa memanfaatkan SPBU, rumah makan, atau posko-posko yang biasanya bertebaran selama arus mudik dan balik.
11. Teman perjalanan. Agar perjalanan lebih aman, bisa berkelompok dua atau tiga motor. Manfaat teman perjalanan juga bisa mengurangi rasa jenuh selama berkendara.
12. Waktu bepergian. Pilih waktu yang tepat, misalnya, seusai sholat subuh. Perjalanan di pagi hari lebih baik ketimbang di malam hari yang biasanya diserang rasa kantuk.
13. Tidur yang cukup. Pastikan sebelum berkendara, terlebih rute jarak jauh, sang pengemudi sudah cukup tidur, yaitu berkisar 6-8 jam.
14. Fahami aturan yang ada. Aturan lalu lintas jalan penting difahami agar perjalanan, aman, nyaman, dan selamat. Tentu, selain difahami juga harus dipraktikkan.

Semoga ikhtiar yang dijalankan bisa membuat perjalanan mudik dan balik Lebaran lebih nyaman dan selamat. Tak ada yang lebih indah kecuali melihat senyum keluarga tercinta di rumah. Mudik sehat dan mudik selamat.

Oh ya, jumlah waktu musim mudik adalah sebanyak 16 hari yang mencakup H-7 dan H+7 serta H1 dan H2 Lebaran. Keselamatan untuk semua pengguna jalan. Selamat mudik. (edo rusyanto)

Begini Keterlibatan Bus Dalam Kecelakaan di Indonesia

15 Juni 2017

KETIKA baru-baru ini muncul berita kecelakaan bus yang jatuh ke kolong jembatan di Tol Jakarta-Merak, Banten, kita terhenyak. Lalu lintas jalan kita masih mempunyai catatan hitam.

Angkutan umum yang mengalami kecelakaan di jalan tol itu merenggut tiga korban jiwa. Belasan orang lainnya menderita luka-luka.

Kecelakaan bus itu bukan yang pertama pada 2017. Sebelumnya, di belahan lain, kita juga disodori fakta bergelimpangannya anak bangsa di jalan raya lantaran kecelakaan yang melibatkan bus di kawasan Puncak, Jawa Barat. Tahukah bahwa keterlibatan bus dalam kecelakaan ternyata naik tipis pada 2016?

Data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, pada 2016, setiap hari ada sekitar tujuh bus yang terlibat kecelakaan. Angka itu naik tipis, yakni sekitar 1% dibandingkan setahun sebelumnya.

Sementara itu, dari total jenis kendaraan yang terlibat kecelakaan, bus berkontribusi 1,3%. Tahun itu, setiap hari ada sekitar 475 kendaraan yang terlibat kecelakaan.

Sekalipun jumlah keterlibatannya tak lebih dari 1,3% tapi tak boleh dianggap remeh. Maklum, jumlah korban yang ditimbulkan bisa cukup banyak. Hal itu karena jumlah yang diangkut tentu saja lebih besar dibandingkan jenis kendaraan lain.

Terlepas dari hal itu perlu menjadi perhatian semua pihak khususnya perusahaan angkutan bus dan otoritas terkait angkutan umum. Kerap kita mendengar bahwa pemicu kecelakaan yang melibatkan bus berkutat di aspek kendaraan, khususnya kegagalan sistem rem.

Sekalipun jumlah kasus kecelakaan yang dipicu aspek rem turun 8%, tetap saja perlu menjadi perhatian serius semua kalangan. Tahun 2016, setiap hari rerata ada tujuh kasus yang dipicu masalah rem.

Apalagi, dalam pengecekan angkutan umum jelang mudik Lebaran 2017, terdapat 40% angkutan yang tidak laik jalan. Salah satu unsur tidak laik jalan bukan mustahil adalah sistem pengereman kendaraan.

Data Kementerian Perhubungan menyebutkan bahwa dari 11.600-an angkutan yang diuji, hampir 4.500 kendaraan tidak laik jalan sama sekali. Kita berharap jumlah itu terus menyusut. Harapannya tentu saja agar perjalanan mudik menjadi aman, nyaman, dan selamat.

Oh ya, data tahun 2016 di atas adalah untuk periode Januari-Oktober 2016. (edo rusyanto).

Bahaya Tersembunyi Ceroboh Saat Menyalip

13 Juni 2017

PERNAH berpapasan dengan pengendara yang menyalip seenak hatinya? Bikin repot?

Kerepotan dapat bertambah saat ulah sang penyalip tadi berbuntut insiden. Apalagi, kalau sampai berujung kecelakaan. Urusan menjadi panjang. Tak semata kehilangan waktu, namun bisa lebih dari itu.

Pernah saya baca berita soal kecelakaan sepeda motor yang diawali oleh kecerobohan saat menyalip atau mendahului. Tabrakan adu kambing pun tak terhindarkan. Tidak tanggung-tanggung, melibatkan tiga sepeda motor. Remuk sudah.

Ironisnya, kecelakaan itu merenggut korban jiwa seorang pelajar. Bisa dibayangkan remuk redamnya hati orang tua dari pelajar itu. Anak yang diharapkan memiliki masa depan cerah harus meninggal di jalan raya lantaran kecelakaan lalu lintas jalan.

Sering orang lupa bahwa teledor mendahului di jalan raya merupakan pembunuh tersembunyi. Pada 2016, perilaku ceroboh saat nyalip menyumbang sekitar 12% terhadap total kecelakaan di Tanah Air. Saat itu, setiap hari terjadi sekitar 30 kecelakaan karena perilaku ini. Miris.

Supaya tidak ceroboh saat menyalip perlu membekali diri dengan beberapa jurus. Pertama, pastikan sebelum mendahului sudah punya informasi cukup mengenai pergerakan lalu lintas dari belakang, samping, dan depan. Informasi tadi memperlihatkan situasi cukup aman.

Kedua, pastikan tidak ada marka garis putih menyambung. Kalau ada marka jalan ini lebih baik niatnya ditunda.

Ketiga, pastikan saat mendahului kondisi jalan dan lingkungannya cukup memungkinkan. Misal, tidak menanjak, menikung, menurun, apalagi jalan bergelombang atau berlubang. Kondisi lain yang perlu mendapat perhatian adalah area jembatan dan sekolah yang banyak anak menyebrang.

Tiga jurus itu menjadi kata kunci agar tidak ceroboh saat menyalip. Sekali lagi, mendahului membutuhkan perhitungan matang. Kecermatan analisis atas situasi yang ada membutuhkan konsentrasi prima. Kalau sebatas mengandalkan keberanian, nekat. (edo rusyanto)

Foto: instagram tmcpoldametro

Ancaman Nyata Ada Dari Arah Depan Kita

11 Juni 2017

ANCAMAN datang dari segala penjuru ketika kita berkendara di jalan raya. Tahukah kita bahwa dari arah depan lebih nyata dan berbahaya?

Betul bahwa ada ancaman dari arah belakang, yakni pengendara yang gagal menjaga jarak aman saat berkendara. Begitu juga pergerakan daru samping entah dari kiri atau kanan jalan. Tapi, sekali lagi, pergerakan lalu lintas jalan menjadi ancaman super serius.

Di masyarakat kita tabrakan depan dengan depan punya sejumlah sebutan. Ada yang menyebutnya adu banteng. Lalu, adu domba. Bahkan, saya pernah mendengar istilah adu jangkrik.

Begitu banyaknya sebutan tadi mengindikasikan bahwa jenis kecelakaan ini kerap terjadi. Pertanyaannya, kenapa tabrakan jenis itu demikian banyak terjadi?

Mari kita sedikit telaah. Saat tabrakan terjadi diawali oleh masing-masing yang terlibat kecelakaan saling tidak melihat ada pergerakan dari arah berlawanan. Atau, salah satunya tidak melihat. Mereja baru menyadari ketika jarak sudah demikian dekat. Terlambat.

Data Korlantas Mabes Polri memperlihatkan bahwa pada 2016, perilaku tidak mewaspadai pergerakan lalu lintas dari depan adalah pemicu kecelakaan paling tinggi. Kontribusi aspek yang satu ini sekitar 23% terhadap seluruh jenis perilaku pengendara yang memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Tahun itu, terjadi 59 kecelakaan setiap hari lantaran perilaku tersebut. Angka itu naik 1% dibandingkan setahun sebelumnya.

Ironisnya, tabrakan depan dengan depan bisa lebih fatal bila kondisi kecepatan kendaraan sedang tinggi. Misalnya, kecelakaan diawali oleh kecerobohan saat nyalip atau mendahului. Kita tahu, kecepatan kendaraan yang sedang mendahului umumnya lebih tinggi dibandingkan yang didahului.

Pada 2016, perilaku ceroboh saat nyalip menyumbang sekitar 12% terhadap total kecelakaan di Tanah Air. Saat itu, setiap hari terjadi sekitar 30 kecelakaan karena perilaku ini. Miris.

Kembali soal tidak mewaspadai pergerakan lalu lintas dari arah depan. Rasanya, kita dapat mereduksi potensi kecelakaan lewat cara yang amat sederhana, yakni melihat dan terlihat. Melihat sejauh mata memandang ke arah depan. Tujuannya untuk mengantisipasi sekaligus menentukan tindakan apa yang patut diambil.

Prinsip dasar keselamatan jalan (road safety) itu bisa menyelamatkan diri kita saat berkendara. Teruslah fokus dan waspada saat berkendara.

Oh ya, data kecelakaan di atas untuk rentang waktu Januari-Oktober 2016. (edo rusyanto)

Foto: akun instagram jambi_update

Dampak Ketika Gagal Menjaga Jarak Aman Berkendara

10 Juni 2017

SELALU saja ada yang mencari pembenaran ketika berlalu lintas jalan. Maksudnya, mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya sekalipun jelas-jelas salah.

Contoh, melawan arus lalu lintas jalan. Sang pelaku berdalih hal itu dilakukan karena terpaksa. Situasi yang memaksa antara lain karena terburu-buru mengejar waktu.

Perlindungan yang jamak dicari adalah kata ‘terpaksa’. Seolah-olah kondisi yang ada memang tidak bisa dilawan. Walau, jika ditelaah lebih jauh kondisi yang disebut ‘terpaksa’ tadi itu lebih tepat sebagai kondisi ‘memaksakan diri.’

Ironisnya, dampak dari memaksakan diri itu bisa berbuah getir. Lalu lintas jalan menjadi lebih karut marut. Lalu, gesekan sosial seperti adu urat saraf dan adu jotos. Paling buruk adalah berbuntut pada kecelakaan lalu lintas jalan.

Agar tidak terjebak dalam getirnya kecelakaan lalu lintas jalan dan mencari-cari alasan dengan menyalahkan di luar diri sendiri, perlu disebarluaskan berkendara yang aman dan selamat (road safety). Salah satunya adalah soal menjaga jarak aman ketika berkendara. Pasalnya, dampak gagal menjaga jarak aman tidak mengenakan.

Lihat saja data Korlantas Mabes Polri tahun 2016. Lantaran gagal menjaga jarak aman saat berkendara, setiap hari terjadi sekitar 45 kecelakaan lalu lintas jalan. Angka itu naik 6% bila dibandingkan dengan tahun 2015.

Kecelakaan yang dipicu oleh kegagalan menjaga jarak aman menyumbang sekitar 17,31% terhadap total kecelakaan tahun 2016. Kontribusi itu meningkat bila dibandingkan setahun sebelumnya yang sebanyak 16,61%.

Lantas, apa yang dimaksud dengan jarak aman berkendara?

Saya termasuk yang menganut faham agar jarak cukup aman diberi rentang waktu tiga detik antar kendaraan. Misal, kendaraaan saya dengan satu kendaraan di depan saya, rentang waktu tiga detik dapat mengurangi potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Yakinlah.

Tiga detik tadi bermanfaat untuk, satu detik pertama menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Lalu, detik kedua mengambil keputusan atas pengolahan informasi yang diserap. Terakhir, detik ketiga mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang meminimalisasi potensi kecelakaan dan tentu saja langkah terbaik guna memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Oh ya, data kecelakaan yang saya kutip di atas adalah untuk rentang waktu sepuluh bulan 2016 dibandingkan periode sama setahun sebelumnya. Mari cegah kecelakaan di jalan. Terus bergerak. (edo rusyanto)