Skip to content

Setelah Di-Bully, Pria Muda Ini Akhirnya Bikin SIM

4 Agustus 2015

sim keliling_resize
WAJAH pria muda ini tampak gundah gulana. Bukan lantaran target pemasaran yang belum tercapai, tapi guyonan para koleganyalah yang bikin gerah.

Bagaimana tidak, pria lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta ini terus ditembak dengan kelakar yang memerahkan telinga.

“Bonho ini tahu aturan, tapi tetap aja tiap hari melanggar,” sergah pria muda koleganya Bonho, di Jakarta, suatu petang.

Kelakar yang menjurus ke bullying itu melebar kemana-mana. Termasuk stempel pria muda bertitel sarjana tapi doyan naik sepeda motor tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) C, yakni SIM untuk pesepeda motor. “Kalau sudah salah tapi tetap melanggar juga namanya apa coba?” tembak koleganya yang lain.

Bonho adalah eksekutif muda di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Secara ekonomi tergolong mapan. Selain sepeda motor, dia juga memiliki rumah dan sebuah mobil multi purpose vehicle (MPV) keluaran merek Jepang.
“Saya naik motor untuk memangkas waktu aja. Tapi, memang tidak punya SIM,” aku pria berkumis ini.
Apakah ini potret para pengguna jalan kita? Mari kita tengok data Korlantas Polri.

Ternyata, para pesepeda motor paling doyan melanggar aturan terkait dengan surat-surat. Sekadar ilustrasi, selama Operasi Ketupat 2014, pelanggaran nomor wahid adalah terkait surat-surat, termasuk di dalamnya soal SIM. Dari total pelanggaran di kalangan pesepeda motor, pelanggaran jenis ini menyumbang sekitar 25,24%.

Nah, di sisi lain, yakni potret pelaku kecelakaan lalu lintas jalan, mayoritas, yakni sekitar 56% justeru tidak punya SIM. Itu sebagai pelaku.

Dua potret itu menjadi sisi kelam di jalan raya kita. Mau tidak mau, suka tidak suka, aturan dibuat bukan untuk dilanggar. Di jalan raya, aturan yang ada semestinya disikapi sebagai salah satu instrumen untuk melindu pengguna jalan dari potensi kecelakaan.

pelanggaran motor mudik_5 atas_2014

Faktanya, mayoritas kecelakaan dipicu oleh perilaku berkendara tidak tertib alias melanggar aturan, yakni sekitar 42%.
Kalau sudah tahu aturan melarang berkendara tidak memiliki SIM tapi masih dilanggar juga, entah namanya apa. Pastinya, setelah hampir sekitar satu bulan di bully, Bonho pun memutuskan untuk membuat SIM.

“Tapi saya nggak lulus. Apakah ini disusahin yah oleh polisi? Saya harus datang dua minggu lagi untuk ikut tes kedua. Katanya, setelah tes ketiga baru lulus,” gerutu Bonho.
Oh ya, Bonho bukan nama sebenarnya. (edo rusyanto)

Pengadilan Militer Memvonis Tentara Pelaku Kecelakaan

3 Agustus 2015

laka lantas jagorawi1

PERSOALAN kecelakaan lalu lintas jalan menjadi hal serius di Indonesia. Setiap hari, Indonesia kehilangan 70-an anak bangsa akibat kecelakaan di jalan raya. Karena itu, perhatian para penegak hukum tampaknya cukup tergolong serius termasuk kalangan Pengadilan Militer.

Pengalaman seorang tentara, kita sebut saja, Budhiansah ini bisa memberi pelajaran bagi kita semua bahwa kecelakaan adalah persoalan serius. Kecelakaan bisa merembet ke masalah hukum. Kecelakaan berdampak luas. Dan, tidak ada pengendara yang secara sukarela ingin terlibat kecelakaan apalagi sampai masuk penjara.

Di Pengadilan Militer disebutkan bahwa kecelakaan yang melibatkan Budhiansah terjadi ketika yang bersangkutan sedang bersepeda motor. Dalam satu kesempatan, pria muda itu mendahului kendaraan yang ada di depannya, namun terlalu ke kanan sehingga melibas as jalan. Pada saat bersamaan muncul sepeda motor lain yang ditumpangi dua orang. Satu pengendara, satu penumpang.

Kecelakaan pun tak bisa dihindari. Budhiansah menabrak pengendara yang datang dari arah berlawanan. Perempuan pengendara yang ia tabrak menderita luka-luka hingga akhirnya meninggal dunia. Sedangkan Budhiansah juga menderita luka.

Selang setahun setelah kejadian, pria muda itu dituntut oleh Oditur Militer dengan pidana penjara setahun dua bulan. Budhiansah dibidik dengan Pasal 310 ayat 4 Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Namun, Pengadilan Militer Tinggi akhirnya menguatkan putusan Pengadilan Militer bahwa terdakwa divonis enam bulan penjara.

Oh ya, pasal 310 ayat 4 menyebutkan bahwa pengemudi yang lalai kemudian menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia bakal diganjar penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Tidak ada pengguna jalan yang ingin terlibat kecelakaan apalagi sampai menjadi pelaku dan berujung di balik penjara. Pembelajaran yang amat berharga dari kasus ini adalah bagaimana setiap pengguna jalan, terlebih pesepeda motor, jangan ceroboh ketika hendak mendahului. Untuk mendahului butuh kepastian. Amati situasi arus kendaraan dari arah depan dengan seksama, lalu memberi isyarat bunyi atau cahaya sebagai pertanda. Jangan lupa, mendahului jangan sampai melibas marka jalan berupa garis putih memanjang tidak putus-putus.

jenis laka_smt 1 2014

Buat kita para pengendara, ini hal-hal yang pantang dilakukan saat mendahului.

Dapat ditebak bahwa kecelakaan pada saat mendahuli akan menimbulkan tabrak depan dengan depan. Maksudnya, bagian depan kendaraan dengan bagian depan kendaraan lainnya. Pada 2014, khususnya sepanjang semester pertama, kasus tabrak depan dengan depan merupakan kasus kecelakaan tertinggi. Kontribusi kasus ini, seperti dikutip dari data Korlantas Polri, mencapai sekitar 24% dari sembilan jenis kecelakaan di jalan.

Oh ya, dalam kasus tentara di atas, kedua sepeda motor yang terlibat kecelakaan tidak menyalakan lampu utama. Kecelakaan terjadi pada pagi hari yang cerah. (edo rusyanto)

Pengalaman Gowes di Gouverneurs Kantoor

2 Agustus 2015

img1437848496277_resized

SEPEDA kayuh di Kota Tua, Jakarta Barat begitu menggoda. Coba saja lihat tongkrongannya. Penuh warna-warni dan dilengkapi aksesoris topi dengan berbagai corak. Mau mencoba?

“Cukup bayar Rp 20 ribu untuk setiap 30 menit pak. Silakan dicoba,” ajak seorang pemuda yang menjaga jajaran sepeda kayuh di Kota Tua, saat saya bertanya-tanya, di Kota Tua, belum lama ini.

Saya tidak sendiri. Tampak banyak orang asyik menggowes sepeda kayuh di pelataran yang ratusan tahun menjadi kantor gubernur Hindia Belanda itu. Ada orang tua, remaja, hingga anak-anak. Pria maupun perempuan asyik menggowes.

Tunggu dulu. Gowes yang satu ini bukan sembarang gowes. Hampir semua memanfaatkan si sepeda angin sebagai kendaraan untuk berpose. Latar belakang yang memukau berupa gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda menjadi sensasi tersendiri. Tak cukup berpose, adegan selfie alias memotret sendiri dengan menggunakan tongkat yang kondang disebut tongsis pun meruyak.

Sepeda sewaan tadi bisa dipakai berkeliling area Kota Tua. Sambil mengayuh bisa menyambangi sejumlah tempat yang memikat. Sebut saja misalnya Museum Kesejarahan Jakarta, Museum Wayang, hingga Museum Keramik.

Tak perlu khawatir dehidrasi lantaran tersengat teriknya matahari. Di sekitar area juga terdapat sejumlah para pedagang minuman ringan yang menyegarkan. Bahkan, di salah satu sudut tersedia minimarket yang menjajakan aneka minuman dingin maupun hangat.

Ya. Mengunjungi Kota Tua memang tak pernah membosankan. Sepeda kayuh hanya salah satu fitur yang disediakan di kawasan wisata ini. Sejumlah atraksi dan museum seperti disebut ditas melengkapi minat wisatawan mempelajari sejarah Ibu Kota Republik Indonesia yang sebelumnya oleh kolonial Belanda dinamai Batavia.

Nah, lazimnya destinasi wisata, Kota Tua tak melulu disambangi para wisatawan domestik dari Jakarta atau kota-kota sekitarnya. Banyak juga wisatawan mancanegara yang asyik menikmati wisata sejarah disini. “Saya datang dari Belanda. Mau melihat sejarah Kota Tua,” ujar seorang wisatawan asing saat berbincang dengan saya.

Di tangan sang wisatawan tampak sebuah kamera profesional. Sesekali dia mengambil gambar dengan kameranya. Selebihnya dia asyik menyambangi area-area di Kota Tua dan tentu saja museum sejarah Jakarta yang menjadi menu utama wisata sejarah disini. Mau mencoba? (edo rusyanto)

Disini Gojek Juga Tidak Boleh Beroperasi

1 Agustus 2015

gojek dilarang masuk kebagusan

FENOMENA ojek sepeda motor Gojek dan sejenisnya terus meruyak di Jakarta. Ada yang melihat angkutan ini ilegal mengingat perundangan yang berlaku tidak menempatkan ojek ini sebagai angkutan orang. Ada juga yang melihatnya dari sudut lain, menganggu pendapatan tukang ojek konvensional.

Khusus untuk Gojek, sejak tahun 2011 saya sudah melihat angkutan orang ini bisa meluas. Apalagi, layanan antar jemput ini kemudian dilengkapi aplikasi untuk telepon seluler (ponsel). Jadilah angkutan ojek menjadi naik kelas.

Di tengah itu semua, kelompok yang melihat dari sudut pandang mengganggu pendapatan ojek konvensional punya reaksi berbeda-beda. Kalangan para tukang ojek konvensional di sejumlah tempat di Jakarta melontarkan penolakan. Bahkan, sampai tersiar kabar adanya aksi pemukulan terhadap tukang ojek dari kelompok Gojek. Untuk aksi yang ini tentu saja kita semua menyesalkan tindakan main hakim sendiri.

“Kami menolak Gojek mengambil penumpang di kawasan kami. Kalau mengantar sih boleh saja,” kata Jilong, seorang tukang ojek di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan, saat berbincang dengan saya, Jumat, 31 Juli 2015 siang.

Siang itu saya tertarik dengan spanduk yang dibentangkan di kawasan yang terletak di Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan persis di dekat Hotel Aston. Spanduk berwarna putih itu dilengkapi dengan tulisan “ Perhatian!!! Gojek Dilarang Mengambil Penumpang di Kawasan Ini.” Selain spanduk, terdapat juga sejenis poster dan kertas dengan tulisan serupa.

“Gara-gara Gojek penghasilan saya berkurang. Kalau biasanya sehari bisa dapat Rp 50-75 ribu, sekarang tinggal Rp 30 ribuan,” ujar dia lagi.

Pria berusia 50 tahunan itu mengaku, dengan alasan itulah dia bersama teman-temannya menolak Gojek mengambil penumpang di kawasan tempat mereka mangkal. “Pokoknya, Gojek mengganggu pendapatan kami, tarif dia mengalahkan kami,” tambahnya. (edo rusyanto)

Masih Anggap Enteng Fakta Ini?

31 Juli 2015

bus laka semarang 2015_viva

KUALITAS kecelakaan lalu lintas jalan kian membuat bergidik. Mari kita buka ingatan kita. Baru-baru ini, sepanjang Juli 2015, publik disodori fakta meninggalnya satu keluarga akibat kecelakaan minibus yang bertabrakan dengan bus di jalan tol. Masih di jalan tol, kita juga disodori fakta belasan korban tewas akibat bus lepas kendali, kecelakaan tunggal.

Apa iya kualitas kecelakaan lalu lintas demikian buruk? Coba kita lihat data dua tahun terakhir.
Pada 2014, seperti dikutip dari data Korlantas Polri, dari total korban kecelakaan di jalan sebanyak 17,16% berujung pada kematian. Padahal, setahun sebelumnya, korban yang berujung kematian sebesar 15,98%.

Bagaimana dengan tahun 2015?

Marilah kita sejenak melihat data kecelakaan selama musim mudik Lebaran yang berlangsung selama 16 hari. Data Korlantas Polri memperlihatkan, pada musim mudik tahun ini sebanyak 11,63% dari korban kecelakaan berujung pada kematian. Sedangkan pada periode sama setahun sebelumnya baru sebanyak 9,93%.

Kedua data itu sama-sama memperlihatkan bahwa dampak dari kecelakaan begitu mematikan. Komposisi korban yang meninggal dunia kian menggelembung dari total korban. Dengan begitu, sebagai orang awam saya menyimpulkan bahwa kualitas kecelakaan lalu lintas jalan demikian menyeramkan. Silakan jika ada yang punya kesimpulan lain.

Di luar itu semua, kita patut belajar dari rekam jejak yang ada. Angka demi angka dari setiap periode kecelakaan itu punya akhiran yang sama, yakni memperlihatkan wajah yang memilukan. Pertanyaannya, apa yang bisa dipelajari dan bagaimana menyikapinya?

Korlantas Polri menunjukkan fakta bahwa mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku berkendara yang tidak tertib. Beberapa aspek yang menjadi pemicu kecelakaan teratas masuk dalam faktor manusia. Sebut saja misalnya, mengantuk dan lengah.

Seorang pengemudi yang mengantuk sambil berkendara bisa berujung fatal. Begitu juga pengemudi yang kelelahan. Dua aspek tadi demikian mudah merusak konsentrasi pengemudi. Kita semua tahu, konsentrasi yang rusak bisa mengacaukan kemampuan pengemudi dalam mengendalikan kendaraan. Ujungnya mudah ditebak. Insiden.

Tapi, bagaimana mengantisipasinya? Mudah. Tidak berkendara saat mengantuk dan dalam keadaan lelah. Karena itu, mempersiapkan diri agar senantiasa dalam keadaan bugar ketika mengemudi menjadi mutlak. Maklum, berkendara adalah pekerjaan penuh waktu yang tidak bisa disambi oleh aktifitas lain apalagi diganggu oleh kondisi seperti mengantuk dan lelah.

Aspek lain yang amat menonjol adalah berkendara tidak tertib. Urusan yang satu ini adalah bagaimana pengemudi tahu adanya aturan, tapi masih melabraknya. Sekadar contoh, tahu bahwa aturan batas kecepatan maksimal di jalan tol adalah 100 kilometer per jam (kpj), tapi pengemudi masih memacu di atas angka itu. Contoh lain, sudah tahu bahu jalan sebagai lokasi berhenti dalam keadaan darurat, masih saja ada pengemudi yang melahap bahu jalan, bahkan termasuk untuk mendahului. Ironis.

korban laka 2014 RI komposisi

Urusan keselamatan jalan alias road safety memang bukan semata urusan sang pengemudi. Ada tanggung jawab para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan seperti kementerian pekerjaan umum untuk infrastruktur jalan. Lalu, kementerian perhubungan untuk marka, rambu, dan manajemen transportasi jalan. Serta, kepolisian RI untuk urusan keamanan dan penegakan hukum di jalan. Ada lagi pemangku kepentingan yang lain, seperti kementerian perindustrian dan kementerian kesehatan. Tapi, tiga contoh instansi yang diurutan pertama menjadi pihak paling terkait.

Lantas, apakah kita masih menganggap remeh urusan berkendara di jalan? Barangkali mesti disegarkan kembali ingatan kita bahwa hingga kini setidaknya lebih dari 320 ribu nyawa anak bangsa melayang sia-sia di jalan raya. Dan, lebih dari setengah juta yang menderita cedera. Mulai luka ringan hingga luka berat yang membuat cacat tetap. (edo rusyanto)

Bertemu Hantu di Kota Tua

30 Juli 2015

img1437964465758_resized_1

GEDUNG-gedung tua berumur ratusan tahun berdiri kokoh. Beberapa tembok tampak kumuh tak terawat. Bahkan, sebagian ada yang ditumbuhi akar pepohonan sehingga menimbulkan kesan angker.

Di sudut lain, suasana magis dari bekas penjara wanita menebarkan aroma tak sedap. Siapa pun yang mencoba masuk dan bertahan bermenit-menit di penjara yang dibangun pada abad ke-18 itu akan merasa sesak nafas bila masuk secara bersama-sama, yakni lebih dari dua orang. Maklum, ruang berukuran 6×9 meter itu hanya berketinggian 1 meter. Bayangkan jika ruang itu diisi oleh belasan orang.

Itulah sebagian suasana dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Kawasan yang menjadi cikal bakal kota Jakarta saat ini. Kota pelabuhan yang dulu bernama Batavia kini menjadi destinasi wisata. Salah satu yang menonjol adalah bekas gedung Gouverneurs Kantoor alias Kantor Gubernur Hindia Belanda. Gedung itu sejak 30 Maret 1974 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin disulap menjadi Museum Sejarah Jakarta. Inilah salah satu museum yang selalu kebanjiran pengunjung. “Kalau saat musim liburan Lebaran bisa mencapai 6.000 orang yang berkunjung. Tapi, kalau hari libur biasa atau akhir pekan berkisar 2.000 hingga 3.000 pengunjung per hari,” ujar seorang petugas Museum saat berbincang dengan saya di Kota Tua, belum lama ini.

Lazimnya sosok kawasan bangunan tua, suasana mencekam terbangun dengan sendirinya. Di luar DNA nya itu suasana mencekam coba ditata dengan kehadiran ‘hantu’ menyeramkan. Kali ini, saat saya mengunjungi Kota Tua, baru-baru ini, sejumlah sosok ‘hantu’ tadi dapat dengan mudah saya jumpai. Ada hantu tanpa kepala hingga hantu pocong.

“Fotoin aku dong, aku ingin foto bareng hantu itu,” ujar seorang pengunjung Kota Tua kepada rekannya sambil berpose di depan ‘hantu.’

Usai berpose, para pengunjung menaruh sejumlah uang di tempat yang telah disediakan di depan para ‘hantu’ tadi. Jumlah uang yang ditaruh tidak dipatok, sukarela.

Ya. Inilah hantu yang justeru menjadi karib para pengunjung. Berbeda dengan hantu sungguhan, hantu ini membuat kawasan wisata Kota Tua menjadi berwarna. Di sudut lain Kota Tua terdapat para aktris lain dengan dandanan yang memikat. Sebut saja misalnya yang berpakaian ala tentara, noni Belanda, hingga kostum tokoh kartun terkenal.

Ketika berkeliling Kota Tua saya sempat melihat ‘hantu’ yang sedang merias diri. Seorang remaja pria sedang merias koleganya, remaja puteri. Di wajah sang ‘hantu’ perempuan tampak make up berwarna putih tebal dan sedang dibuat hiasan lain yang menimbulkan aura seram. Hantu berbaju merah itu selajutnya siap menghibur para pengunjung Kota Tua.

Ada yang mau mampir? (edo rusyanto)

Begini Kecelakaan Mudik Tiga Tahun Terakhir

29 Juli 2015

mudik laka 2014_viva

PEMERINTAH di bawah Presiden Joko Widodo mengaku mampu menurunkan kasus kecelakaan musim mudik Lebaran 2015 sebesar 21,5%. Angka itu mencuat bila dibandingkan dengan kasus serupa pada musim mudik 2014. Di sisi lain, fatalitas atau korban kasus kecelakaan yang meninggal dunia juga disebutkan menurun, yakni sekitar 8%.

Pemerintah melalui kementerian perhubungan (kemenhub) menyebutkan data kecelakaan lalu lintas jalan itu untuk periode H-7 hingga H+7, artinya untuk rentang waktu 7-25 Juli 2015. Tahun ini, hari raya Idul Fitri jatuh pada Sabtu dan Minggu, yakni 17 dan 18 Juli.

Bila merujuk data musim mudik tiga tahun terakhir, torehan pada musim mudik 2015 sebenarnya relatif biasa-biasa saja. Maksudnya, pada 2013 dan 2014 pun begitu juga, terjadi penurunan.

Hal yang pasti dan mesti menjadi perhatian serius adalah masih bergelimpangannya nyawa anak bangsa di jalan raya. Bila merujuk data yang dilansir pemerintah, musim mudik Lebaran tahun ini setiap hari rata-rata 41 orang meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan. Mengingat pada H-7 hingga H+7 tahun ini korban meninggal dunia disebut mencapai 657 jiwa. Sedangkan setahun sebelumnya rata-rata 45 nyawa atau total korban meninggal sebanyak 714 jiwa. Satu saja, urusan nyawa adalah persoalan serius.

Oh ya, sebagai gambaran, pada musim mudik Lebaran 2014, seperti dilansir Korlantas Polri, kasus kecelakaan turun sekitar 17%, sedangkan fatalitas kecelakaan anjlok hingga sekitar 18%. Demikian pula pada musim mudik tahun 2013. Bahkan, tahun 2013, kasus kecelakaan anjlok hingga 30%, sedangkan fatalitas kecelakaan turun 12%.

Artinya, dalam rentang 2013 hingga 2015, prestasi negara dalam meredam jagal jalan raya layak diacungi jempol. Khusus untuk korban tewas tercatat terus menurun, yakni dari rata-rata 50 jiwa per hari (2013) menjadi 45 per hari (2014), dan menjadi 41 jiwa per hari (2015).

Rezim sebelum Joko Widodo, yakni di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rupanya mewariskan tradisi menurunkan kasus kecelakaan musim mudik Lebaran. Walau, di kedua rezim itu nyaris kita tak mendengar pemerintah dengan terbuka menyatakan bela sungkawa dan duka mendalam kepada para korban kecelakaan lalu lintas jalan. Perilaku berbeda dipertontonkan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara. Para penguasa dengan lantang dan terbuka menyatakan duka cita, termasuk dengan sigap menuntaskannya, termasuk urusan santunan duka cita.

Pertahankan Sinergi

Pertanyaannya, bagaimana kesemua itu bisa terjadi? Atau, kenapa saat musim mudik Lebaran kecelakaan dan fatalitas dapat ditekan?

Sebagai orang awam saya melihatnya seperti ini. Para pemangku kepentingan keselamatan jalan seperti Kepolisian RI, kemenhub, kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR), kementerian kesehatan (kemenkes) hingga pemerintah daerah dari tahun ke tahun menempatkan musim mudik sebagai perhatian utama. Mereka menggulirkan beragam program untuk menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan para pengguna moda transportasi, terutama bagi para pengguna angkutan jalan.

Saat musim mudik Lebaran para pemangku kepentingan keselamatan jalan menggelontorkan anggaran masing-masing. Anggaran untuk mempermulus program masing-masing itu demikian menopang setiap langkah yang telah dibuat. Anggaran menjadi pelumas mesin keterpaduan dan keseriusan mereka.
Dan, pada musim mudik pula sinergi antara pemangku kepentingan demikian kentara alias mudah terlihat. Mereka bahu membahu.

Eloknya, kesemua itu bisa diterapkan dalam keseharian. Perhatian yang besar serta sinergi yang kuat bisa menjadi modal utama untuk menggapai target pemerintah dalam urusan kecelakaan lalu lintas jalan. Kita masih ingat bahwa negara punya target menurunkan fatalitas kecelakaan sebesar 50% pada 2020 terhitung mulai 2011. Bahkan, pada 2035, pemerintah punya target ambisius menurunkan fatalitas hingga 80%. Dapatkah semua itu diwujudkan? (edo rusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.986 pengikut lainnya.