Lanjut ke konten

Supaya Nggak Lupa, Ini Pemilik Hak Utama di Jalan

16 September 2018

KITA tahu bahwa di jalan raya ada yang memiliki hak utama untuk diprioritaskan. Merujuk pada Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal Pasal 134 setidaknya ada tujuh kelompok pengguna jalan memiliki hak utama.

Pasal tersebut menjelaskan bahwa pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan mencakup pertama, kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas. Kedua, ambulans yang mengangkut orang sakit dan ketiga, kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas.

Kemudian yang keempat adalah kendaraan pimpinan lembaga negara Republik Indonesia. Kelima, kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara. Dan, keenam, iring-iringan pengantar jenazah. Terakhir, ketujuh, konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dalam pemahaman saya, ketika merujuk aturan tersebut mengerucut pada dua alasan besar, yaitu genting dan penting. Mereka yang mendapat prioritas alias hak utama didasari kedua hal tadi.

Misal, kendaraan pemadam kebakaran dan ambulans yang sedang bertugas, berada dalam posisi genting. Maksudnya, pemadam hadir untuk mengatasi situasi genting obyek kebakaran yang bukan mustahil mengancam keselamatan jiwa penduduk. Begitu pula dengan ambulans.

Kita berharap penggunaan hak utama juga senantiasa memperhatikan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan seluruh pengguna jalan. Berlalu lintas jalan yang minim risiko menjadi upaya semua pihak untuk menekan fatalitas yang disebabkan kecelakaan.

Di sisi lain, di atas aturan hukum kita juga mengenal etika. Perilaku beradab yang mengedepankan nurani dan akal sehat tidak mencabik-cabik rasa keadilan publik.

Oh ya, sekadar menerka-nerka, boleh jadi, kendaraan pemadam kebakaran yang sedang bertugas ditempatkan di urutan teratas dalam para pemilik hak utama karena dilandasi situasi genting. Begitu juga dengan ambulans yang berada di urutan kedua sang pemilik hak utama.

Sekali lagi, itu sekadar menerka-nerka. (edo rusyanto)

info grafis: IG budaya disiplin

Roller Crash Barrier dan Sinergi Pemangku Kepentingan

13 September 2018

PENERAPAN sistem keselamatan tabung berputar (safety roller crash barrier) atau (rolling barrier system) diharapkan mampu mencegah fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

Sejumlah negara di dunia sudah menerapkan hal itu. Kemampuan alat itu untuk meredam kejut dinilai sangat efektif. Bahkan, di India disebutkan mampu menjaga kendaraan tetap di jalur dan mengindarkan terjadinya penyimpangan.
Upaya pemerintah untuk menciptakan fitur-fitur meningkatkan keselamatan bagi pengguna jalan mutlak untuk didukung. Ketika mencuat upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menerapkan safety roller crash barrier, tentu perlu didukung. Penerapan sistem ini menjadi logis ketika dikaitkan dengan kondisi jalan berkelok, menanjak, dan menurun yang banyak dijumpai di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Barat. Maklum, di kawasan pegunungan itu pula banyak destinasi wisata yang menyedot banyak kunjungan warga atau turis.

Di Jawa Barat, dalam rentang 2012-2018 terjadi sejumlah kecelakaan menonjol yang merenggut banyak korban jiwa. Misal, kecelakaan bus yang masuk ke jurang pada 1 Februari 2012. Kejadian di Jalan Raya Malangbong, Kabupaten Sumedang itu menyebabkan 12 tewas dan 19 luka-luka. Pada Pada 2013, terjadi kecelakaan bus pariwisata di Ciloto, Cianjur yang merenggut 17 korban jiwa dan puluhan lainnya mengalami luka. Bus itu kedapatan mengangkut 82 penumpang.

Lalu, ada dua kecelakaan paling memprihatinkan dan membuat kita semua tercengang adalah kasus bus pariwisata yang terguling di kawasan tanjakan Emen, Subang pada 10 Februari 2018 yang menewaskan 27 orang penumpang bus. Kemudian, kecelakaan bus pariwisata di kawasan Cikidang, Sukabumi yang merenggut 21 korban jiwa dan belasan lainnya terluka pada 8 September 2018.

Kecelakaan-kecelakaan fatal tadi tentu perlu diantisipasi oleh segenap pemangku kepentingan keselamatan jalan. Jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat hendak menerapkan rolling barrier system, itu merupakan satu dari banyak aspek yang perlu terus kita tingkatkan. Misal, penyediaan jalur penyelamat (emergency safety area) seperti di turunan Selarong, Jalan Raya Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di sisi lain, tak kalah penting adalah membangun manajemen keselamatan di perusahaan transportasi. Hal ini mencakup pengawasan kondisi kendaraan lewat uji KIR hingga manajemen keselamatan dalam menjaga ritme kerja sang pengemudi. Butuh keseriusan dan kesungguhan perusahaan transportasi dan instansi pemerintah terkait mewujudkan hal ini.

Terwujudnya manajemen keselamatan angkutan seperti itu diharapkan mampu menjaga kebugaran dan ketrampilan pengemudi sehingga memperkecil terjadinya kecelakaan yang dipicu faktor manusia.

Singkat kata, kita ingin para pemangku kepentingan keselamatan jalan, yakni pemerintah daerah, kepolisian hingga perusahaan transportasi dengan sungguh-sungguh terus mewujudkan budaya keselamatan berlalu lintas jalan. Tahun 2017, rata-rata 70-an jiwa melayang akibat kecelakaan di jalan.

Upaya memperkecil fatalitas adalah ikhtiar untuk mencegah jangan lagi Nusantara kehilangan warganya di jalan raya akibat kecelakaan. Semua harus bersinergi. (edo rusyanto)

foto: ksiglobal.com.au

Sepuluh Kecelakaan Bus Maut di Indonesia

10 September 2018

INDONESIA masih menghadapi masalah kecelakaan lalu lintas jalan. Dalam rentang 2012 hingga pertengahan 2018 tercatat ada sepuluh kecelakaan bus paling maut yang merenggut sebanyak 154 jiwa.

Tujuh dari sepuluh terjadi di wilayah Jawa Barat, sedangkan tiga di antaranya terjadi di Jawa Tengah. Ironisnya, mayoritas terjadi di kawasan pariwisata dengan jalan menurun, menanjak, dan berkelok.

Selain mengangkut penumpang rombongan wisata, bus yang terlibat kecelakaan tersebut juga ada yang membawa rombongan peziarah maupun peserta kegiatan rohani. Dari sepuluh tabrakan maut yang melibatkan bus, kawasan wisata Puncak, Jawa Barat menjadi lokasi kecelakaan paling sering sepanjang rentang tujuh tahun terakhir. Kawasan wisata di daerah pegunungan yang terletak tidak jauh dari Jakarta itu memiliki jalan berkelok serta menanjak dan menurun. Cuaca di kawasan tersebut kerap berkabut.

Berikut ini sepuluh kecelakaan bus maut yang dirangkum dari laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan pemberitaan media massa.

1). Kecelakaan Ciloto, 7 Juli 2007
Pagi baru saja merayap menuju siang. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 10.20 WIB, Sabtu, 7 Juli 2007. Bus pengangkut rombongan wisata sebanyak 54 orang dari SMP Islam Ar-Ridho melaju menuju Taman Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Rombongan itu terdiri atas siswa dan staf pengajar SMP Islam Ar-Ridho.

Saat tiba di jalan turunan Ciloto menjelang pertigaan Kota Bunga, Cimacan ± 100 meter sebelum jembatan Cikundul, bus tersebut oleng. Bus menabrak beberapa kendaraan yang meluncur dari arah berlawanan dan juga menabrak kendaraan di depannya . Kendaraan tersebut antara lain sepeda motor, Mitsubishi Colt 100 Pick Up dan Toyota Kijang.

Setelah menabrak beberapa kendaraan tersebut, bus kembali ke jalur sebelah kiri dan menabrak Daihatsu Ferosa serta Toyota Kijang yang berada di depannya. Kemudian bus kembali ke jalur sebelah kanan menabrak tembok dan pagar jembatan lalu jatuh ke dalam jurang dengan kedalaman ± 15 meter.
Tabrakan maut ini merenggut 16 korban jiwa. Sebanyak 14 orang meninggal dunia di lokasi kejadian, satu orang meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, 1 satu orang meninggal setelah mendapat perawatan. Kecelakaan ini juga mengakibatkan 28 (dua puluh delapan) orang mengalami luka berat dan 14 (empat belas) orang luka ringan.

Semua korban adalah penumpang, pengemudi dan kernet yang berada di bus Limas serta pengemudi motor juga penumpang Daihatsu Ferosa.

Seluruh korban kecelakaan dievakuasi ke Rumah Sakit Cimacan, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, PMI Bogor, dan RSUD Cianjur.

KNKT menyimpulkan faktor-faktor kemungkinan penyebab kecelakaan tersebut utamanya adalah akibat, pertama, pengemudi bus ngebut pada saat akan menyalip kendaraan di depannya dan tidak dapat mengendalikan busnya lagi.
Lalu, kedua, kendaraan yang tercatat masa ujinya berlaku dan dikatakan dirawat dengan baik, namun pada kenyataannya kendaraan tersebut tidak memenuhi persyaratan keselamatan. Ketiga, kondisi geometrik jalan yang menurun panjang dan menikung dengan ruang pandang yang tertutup dengan pohon dan bangunan, turut memberikan kontribusi yang besar terhadap kecelakaan.

2). Kecelakaan Cisarua, 10 Februari 2012
Peristiwa memilukan terjadi pada Jumat, 10 Februari 2012, sekitar pukul 18.00 WIB di kawasan Cisarua, Bogor. Kecelakaan maut itu menimpa bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA yang berangkat dari Garut, Jawa Barat menuju terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Saat melintas di rute Cianjur-Puncak-Ciawi mengalami kecelakaan di kawasan Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Kecelakaan terjadi sekitar 208 meter dari lokasi cheq point bus di depan RS. Paru dr M. Goenawan P, Cisarua. Bus menabrak sisi kanan papan reklame yang berada di tikungan menurun. Sesudah menabrak papan reklame pada jarak 392 meter berikutnya, bus berturut-turut menabrak mobil penumpang Mitsubishi Pajero dari arah berlawanan dan dua sepeda motor yang berada di belakang mobil penumpang Mitsubishi Pajero tersebut. Setelah itu, bus bergerak ke kiri dan menabrak dua mobil angkutan kota yang berada di depannya, mobil penumpang Nissan Grand Livina dan mobil barang pengangkut tanaman yang juga berada pada jalur yang sama.

Kemudian bus bergerak kembali ke kanan dan menabrak mobil bus PO. Doa Ibu dengan nomor kendaraan Z-7588-HB yang datang dari arah berlawanan. Tabrakan itu menyebabkan mobil bus PO. Doa Ibu Z-7588-HB terdorong mundur sejauh 18 meter dan tertahan oleh pagar taman yang berada di pertigaan jalan.

Belum usai, mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kembali bergerak ke kiri dan kemudian menabrak mobil barang pengangkut sayur. Lalu, bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA bergerak kembali ke kanan dan menabrak tiang telepon serta dua sepeda motor yang sedang parkir di halaman minimarket.
Bus bahkan lalu menabrak warung bakso, tembok dan akhirnya terperosok ke pekarangan Wisma Syailendra, dengan kedalaman sekitar 9 (sembilan) meter di bawah permukaan jalan. Kondisi akhir bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA setelah kecelakaan posisi bagian depan berada di bawah.

Akibat kecelakaan ini 13 orang meninggal dunia di lokasi kecelakaan dan satu orang meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit, 10 orang mengalami luka berat serta 44 orang mengalami luka ringan.
Seluruh korban meninggal dunia dan luka – luka dievakuasi ke RS Paru dr M. Goenawan P Cisarua, RS Ciawi Bogor, RS PMI Bogor, dan RS. Sentra Medika Cibinong.

KNKT menyimpulkan bahwa kemungkinan penyebab (Probability Cause) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah bersumber dari kegagalan berfungsinya rem utama dan rem parkir tangan. Selain itu, pengemudi yang tidak berhasil mengendalikan kendaraan pada saat menghadapi situasi kritis.


3). Kecelakaan Ciloto, 27 Februari 2013
Rombongan bus peziarah dari Bogor menuju Cianjur, Jawa Barat pada Rabu, 27 Februari 2013. Sekitar pukul 07.30 WIB, bus pariwisata PO. Mustika Mega Utama dengan nomor kendaraan F-7263-K berangkat dari Desa Sukajaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor dengan mengangkut 82 orang menuju Desa Cikundul, Kabupaten Cianjur untuk melakukan ziarah dengan rincian satu orang pengemudi dan 81 orang penumpang.

Bus tersebut sekitar pukul 09.00 WIB sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit untuk beristirahat di salah satu SPBU di Desa Leuwiliang, sebelum kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan ke Desa Cikundul.

Sekitar pukul 11.30 WIB, bus tersebut melintasi ruas Jalan Raya Puncak – Ciloto KM. 87 Kabupaten Cianjur dengan geometri jalan yang menurun ± 10º dan menikung. Sepanjang 500 m pada ruas jalan tersebut diatas terdapat banyak lubang baik di jalur kiri maupun jalur kanan dan pada saat itu kondisi cuaca dalam keadaan berkabut dan tidak hujan. Mobil bus kehilangan kendali setelah menghindari lubang dan akhirnya menabrak dinding tebing yang berada pada sebelah kiri jalan menikung searah laju mobil bus tersebut.

Kecelakaan ini mengakibatkan 17 orang meninggal dunia, yaitu 15 orang meninggal di tempat kejadian dan dua orang meninggal pada saat mendapat perawatan di rumah sakit, 26 orang luka berat dan 32 orang luka ringan. Untuk para korban yang meninggal dan korban luka-luka dibawa ke RS. Cimacan dan RSUD, Ciawi, Jawa Barat.

Kemungkinan rangkaian penyebab (Probable Causes) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah karena pengemudi tidak familiar dengan rute tersebut. Lalu, kondisi jalan yang rusak berat, penggunaan komponen rem yang tidak standar serta muatan yang melebihi kapasitas berakibat yang bersangkutan kurang mampu dalam mengatasi kondisi kritis yang datang secara tiba-tiba.

4). Kecelakaan Cisarua, 18 Agustus 2013
Minggu, 18 Agustus 2013 pukul 24.00 WIB rombongan jemaat GBI Kelapa Gading, Jakarta berangkat menuju Cipanas, Cianjur, Jawa Barat dengan menggunakan mobil bus PO.Giri Indah nomor kendaraan B-7185-XA. Bus tiba di Wisma Kapendrai daerah Cipanas pukul 03.00 WIB dan rombongan melakukan ibadah sampai dengan Rabu, 21 Agustus 2013.

Rabu, 21 Agustus 2013 pukul 08.00 WIB rombongan jemaat GBI berjumlah 50 orang dan tiga orang awak kendaraan kembali ke Jakarta dengan menggunakan bus PO. Giri Indah dengan nomor kendaraan B-7297-BI.

Bus melintasi ruas jalan daerah Gunung Mas yang geometri jalan menurun dan menikung. Informasi dari saksi bahwa setelah melintasi perkebunan teh Gunung Mas, bus melaju dengan kecepatan tinggi.

Bus pada pukul 08.30 WIB tiba di ruas Jalan Raya Puncak Bogor KM. 86, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat merupakan ruas jalan yang menurun dan menikung. Bus menabrak mobil pick up yang parkir di tepi jalan jalur berlawanan di depan toko material untuk menurunkan muatan tabung gas elpiji 3 kg. Kemudian bus menabrak seorang yang sedang berada di depan toko material, selanjutnya mobil bus menabrak toko material dan akhirnya beserta mobil pick up masuk ke dalam sungai yang mempunyai kedalaman delapan meter di sebelah kanan jalan.

Pada saat kejadian cuaca cerah dan kondisi lalu lintas lancar. Kecelakaan ini mengakibatkan 20 orang meninggal dengan rincian 14 orang meninggal dunia di tempat kecelakaan dan enam orang meninggal dunia di rumah sakit, yang terdiri dari 18 orang penumpang mobil bus, satu orang awak mobil bus, dan satu orang warga setempat.

Selain korban meninggal dunia, korban luka-luka berjumlah 34 orang. Korban yang meninggal dunia maupun luka-luka semua awalnya dievakuasi ke RS. Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, setelah dilakukan tindakan medis pertama selanjutnya sebagian di rujuk ke RS. Sentra Medika Cibinong dan sebagian lagi dirujuk ke RSUD Ciawi.

Tabrakan mengakibatkan mobil bus dan mobil pick up berada di dasar sungai dengan jarak dua meter satu sama lain dengan posisi mobil bus terbalik dan mobil pick up berbalik arah dengan menghadap arah kedatangan. Dari hasil investigasi disimpulkan faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan ini adalah kondisi geometri jalan yang merupakan bahwa turunan panjang dan tikungan yang cukup tajam. Untuk melewati ruas jalan ini memerlukan konsentrasi, kewaspadaan dan keterampilan dalam mengemudikan kendaraannya.

5). Kecelakaan Semarang, 20 Februari 2015
Inilah petaka paling maut memasuki tahun 2015. Sebuah bus pariwisata yang disewa rombongan pengajian terguling di tol Semarang, Jawa Tengah. Laman viva.co.id menulis, sebanyak 16 orang penumpang bus Sang Engon meninggal dunia setelah bus itu terguling di Tol Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah, Jumat siang.

Bus diduga melaju kencang saat masuk Tol Jatingaleh menuju arah timur menuju Tol Gayamsari. Bus tak terkendali, oleng ke kanan melompati pembatas jalan dan terguling.

Kepolisian setempat menetapkan sang pengemudi bus Sang Engon, M Husen sebagai tersangka. Sopir yang juga ikut terluka dalam kecelakaan itu diduga lalai sehingga menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan.


6). Kecelakaan Cimahi, 8 Juli 2016
Jumat, 8 Juli 2016 sekitar pukul 14.00 WIB bus PO.Parahyangan Express T-7035-DL berangkat dari arah Cisarua menuju Cimahi setelah berwisata dari Curug Cimahi, Jawa Barat. Saat melaju di depan SD Negeri Harapan Makmur, bus menyerempet satu unit angkutan kota dan dua sepeda motor. Selanjutnya setelah ± 600 meter yaitu di depan perumahan The Orchard bus menabrak pembatas saluran air/drainase. Kemudian bagian depan mobil bus terangkat dan melayang menabrak pagar dinding batu kali dan tiang lampu penerangan jalan umum (LPJU) sampai ke bagian depan bangunan semi permanen yaitu usaha tambal ban yang berada di samping bahu jalan ± 1 meter di atas permukaan jalan.

Bagian sebelah kiri naik dengan posisi miring kemudian meluncur ke bawah kembali ke badan jalan dan menabrak mobil Toyota Kijang B-7148-D yang menyebabkan mobil Kijang rusak berat dan keluar dari bahu jalan. Selanjutnya mobil bus tetap meluncur dan menabrak mobil Suzuki Katana E-1543-KY yang datang dari arah berlawanan dan mengakibatkan bodi mobil Katana mengalami rusak berat bagian depan sebelah kiri sampai belakang.

Bus terus meluncur yang menyebabkan posisi badan kiri mobil bus menggesek aspal dan setelah itu menabrak 2 (dua) sepeda motor Yamaha Mio D-4285-KC (terseret) dan Yamaha Jupiter BD-4658-CO (tertimpa) dari arah berlawanan (ke Cisarua). Bus terhenti setelah menabrak pohon yang berada pada arah yang berlawanan. Kecelakaan ini mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia, tujuh orang mengalami luka berat serta 23 orang mengalami luka ringan.

KNKT menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan adalah pertama, terjadinya kegagalan pengereman. Hal itu diakibatkan bocor/putusnya selang fleksibel rem yang diindikasikan mengalami panuaan (aging) pada roda kiri depan hal ini mengakibatkan tidak bekerjanya sistem rem pada sumbu depan sehingga menyebabkan minyak rem habis dan selanjutnya sistem pengeremen mengalami kegagalan. Kedua, prasarana jalan dengan kemiringan memanjang lebih dari 15% dan lebar jalan hanya 4,9 meter dan lebar bahu jalan 2 x 0,6 meter menyebabkan bus tidak dapat dikendalikan setelah mengalami kegagalan sistem pengereman sehingga bus melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Keadaan ini menyebabkan terjadinya kecelakaan fatal.

7). Kecelakaan Alas Roban, 16 Juli 2016
Kawasan Alas Roban, Batang, Jawa Tengah menjadi saksi bisu kecelakaan maut bus dan truk pada Sabtu, 16 Juli 2016 malam. Bus Kramat Jati tujuan Jakarta berangkat dari Purwodadi, Sabtu sore. Namun, bus nahas itu menabrak truk tanki W 9233 UN bermuatan amoniak yang saat kejadian hendak berbelok ke rumah makan.

Sontak, tabrakan pun menimbulkan kemacetan panjang. Buntut dari tabrakan maut itu enam orang meninggal dunia dan 40-an lainnya menderita luka-luka. Dari keseluruhan korban luka, sebanyak 15 orang dirawat.

8). Kecelakaan Pemalang, 17 Desember 2016
Sebuah bus, yakni PO Handoyo mengalami kecelakaan di Desa Beluk, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Sabtu, 17 Desember 2016. Sekitar pukul 22.30 WIB bus keluar jalur menabrak pagar pengaman jalan di jalur lawan. Lalu, bus masuk area persawahan dan terhenti menabrak pohon. Saat kejadian kondisi cuaca tidak hujan, tidak berkabut dan lalu lintas sepi.

Akibat kecelakaan tunggal itu delapan orang meninggal dunia dan belasan orang lainnya menderita luka-luka. Bus mengalami kerusakan berat bagian depan dan sebagian kanan.

Saat kejadian, bus AA 1409 EA rute Yogyakarta-Jakarta itu sedang melaju dari arah Purbalingga menuju Pemalang. Kepolisian menetapkan sang sopir bus, Agus Suyanto sebagai tersangka.

9). Kecelakaan di Subang, 10 Februari 2018
Kecelakaan bus paling buruk di Indonesia terjadi pada Sabtu, 10 Februari 2018 pagi. Tabrakan itu merenggut 27 korban jiwa dan 17 korban luka-luka termasuk anak balita.

Korban berasal dari bus pariwisata Premium Passion bernopol F-7959-AA yang membawa rombongan dari Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Bus mengalami kecelakaan di jalan raya Subang-Bandung, di Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Subang usai berwisata di Tangkuban Perahu menuju Subang.
Saat akan pulang melalui Subang, tepatnya di Tanjakan Emen, bus oleng dan menabrak sepeda motor hingga akhirnya menabrak tebing dan terguling. Pengendara sepeda motor yang ditabrak termasuk kedalam 27 korban jiwa.
Sontak peristiwa tragis ini mengundang perhatian banyak orang, tentu termasuk Korlantas Mabes Polri. Kepolisian menduga, seperti dilansir Antara (11/2) adanya mal fungsi di bagian rem bus sehingga memicu terjadinya kecelakaan. Berdasarkan analisis sementara, terlihat bahwa pengemudi bus berupaya menghentikan kendaraan sebelum akhirnya terguling.

Kawasan di lokasi kejadian adalah jalan menurun dan berkelok dengan permukaan aspal yang cukup bagus. Lokasi kecelakaan ini merupakan titik terakhir dari Tanjakan Emen, Subang. Dari titik awal tanjakan yang berada setelah tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu hingga titik kecelakaan, memiliki panjang 2,4 kilometer.

10). Kecelakaan di Sukabumi, 8 September 2018

Indonesia kembali digemparkan oleh kasus kecelakaan maut. Bus B-7025-SAG masuk jurang di Kampung Bantar Selang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu, 8 September 2018. Kantor berita Antara, melaporkan bahwa akibat kecelakaan tersebut sebanyak 21 orang meninggal dunia dan 18 orang terluka.

Korban luka dirawat di berbagai rumah sakit di antaranya 12 luka berat ditangani RSUD Palabuhanratu. Lalu, tiga korban berada di RS Sekarwangi Cibadak dan dua korban berada di Puskesmas Cikidang dan sudah dirujuk ke RS Palabuhanratu.
Korban meninggal dunia termasuk sang pengemudi. Saat kejadian, bus dikemudikan oleh kernet. Dalam kecelakaan tersebut sang kernet dilaporkan terluka.
Bus yang mengalami kecelakaan tersebut dikabarkan sempat dua kali rusak dalam perjalanan menuju objek wisata arung jeram sebelum masuk jurang. Bahkan, bus ini diberitakan tidak melakukan uji KIR selama empat periode atau dua tahun.

Bus naas tersebut bagian dari empat bus pariwisata yang mengangkut rombongan karyawan PT Catur Putra Raya dari Bogor menuju objek wisata arung jeram Kecamatan Cikidang. Kendaraan yang terlibat kecelakaan tunggal itu merupakan bus urutan paling belakang yang oleng sehingga masuk ke jurang sedalam 25 meter. Kondisi jalan di kawasan lokasi kejadian adalah berkelok, menanjak, dan menurun. Jalur ini merupakan jalan menuju kawasan wisata di wilayah Sukabumi. (edo rusyanto)

Tiga Jalan Dikeluarkan Dari Perpajangan Ganjil Genap

2 September 2018

PERBEDAAN pendapat tentang pemberlakuan pembatasan lalu lintas jalan ganjil genap masih bergulir. Ada yang menilai aturan itu cukup positif untuk mengurai kemacetan lalu lintas jalan yang mendera kota Jakarta selama ini. Tentu, ada yang menilai sebaliknya.

“Kemacetan terjadi di jalur-jalur alternatif. Sudah begitu, suami saya pernah terperangkap aturan itu sehingga tidak bisa kemana-mana,” ujar Esti, seorang warga Bogor yang sehari-hari bekerja di Jakarta, saat berbincang dengan saya baru-baru ini.

Faktanya, berdasarkan evaluasi yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, pemberlakuan ganjil genap selama perhelatan olah raga akbar Asian Games 2018, justeru mendokrak kecepatan perjalanan hingga 37%. Lalu, fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas jalan menurun 20%. Bahkan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan angkutan umum melonjak 40%.

“Kenaikan jumlah penumpang Transjakarta meningkat 40% dari 2,8 juta menjadi empat juta penumpang,” tulis Dishub DKI Jakarta.

Tak heran jika kemudian Pemprov DKI Jakarta sontak memperpanjang aturan pembatasan lalu lintas jalan ganjil genap. Pembatasan ini mengizinkan mobil bernomor polisi berakhiran angka genap mejaju pada tanggal genap. Demikian pula sebaliknya.

“Pembatasan lalu lintas diberlakukan mulai 3 September 2018 sampai 13 Oktober 2018,” tulis Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta No 92 tahun 2018 tentang Pembatasan Lalu Lintas dengan Sitem Ganjil-genap Menjelang dan Selama Penyelenggaraan Asian Para Games 2018.

Aturan yang diteken Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tersebut menegaskan bahwa aturan berlaku dalam rentang waktu pukul 06.00-21.00 WIB. Namun, aturan tidak berlaku pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional yang ditetapkan oleh keputusan presiden.

Terkait ruas jalan dan siapa saja yang dikecualikan dari aturan tersebut tidak berbeda dengan peraturan sebelumnya yang diatur dalam Pergub DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2018 tentang Pembatasan Lalu Lintas dengan Sitem Ganjil-genap Selama Penyelenggaraan Asian Games. Pergub ini berlaku selama Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta pada 18 Agustus – 2 September 2018.

Perbedaan Rute

Rute atau jalan yang dikenai aturan ganjil genap sebagian besar tidak berbeda antara versi Pergub No 77 dan Pergub No 92. Bedanya, di aturan yang baru hanya 10 ruas jalan, sedangkan semula ada 13 ruas jalan.
Tiga ruas jalan yang tidak dikenai ganjil genap adalah Jalan Metro Pondok Indah, Jalan RA Kartini, dan Jalan Sisingamangaraja.
Inilah 11 ruas jalan jalan yang dikenai pembatasan, yaitu;
1. Jalan Medan Merdeka Barat
2. Jalan MH. Thamrin
3. Jalan Jenderal Sudirman
4. Jalan Jenderal Gatot Subroto
5. Jalan Jenderal S Parman (sebagian mulai simpang Jalan Tomang Raya sampai dengan simpang jalan KS Tubun)
6. Jalan MT Haryono
7. Jalan HR Rasuna Said
8. Jalan Jenderal DI Panjaitan
9. Jalan Jenderal Ahmad Yani.
10. Jalan Benyamin Sueb (simpang Benyamin Sueb sampai dengan Kupingan Ancol) diberlakukan mulai 1 Oktober sampai dengan 13 Oktober 2018.

Oh ya, penegakan hukum Pergub No 77 itu digulirkan secara massif. Terbukti selama 13 hari saja, yakni 1-13 Agustus 2018, polisi lalu lintas Polda Metro Jaya menindak 13.952 pengemudi mobil pribadi. Selama aturan itu diterapkan juga bergulir berbagai cara untuk menghindari razia yang dilakukan polisi, salah satunya dengan menggunakan nomor pelat mobil palsu. Sekalipun demikian sebagian warga mengaku pasrah ketika ditindak.

“Kalau memang salah, ya harus konsekuen,” tutur Firda, salah seorang warga yang terkena razia, ketika berbincang dengan saya belum lama ini.

Sanksi pelanggaran aturan ini tidak tanggung-tanggung, yakni denda maksimal Rp 500 ribu. (edo rusyanto)

Membangun Budaya Malu Merampas Hak di Jalan Raya

7 Agustus 2018

TERIK matahari menyengat. Asap mengepul dari knalpot kendaraan dibalut dengan suara mesin yang menderu.
Siang itu lalu lintas jalan di salah satu sudut kota Jakarta sangat ramai. Beragam kendaraan bermotor itu tumpah ruah di perempatan jalan. Ada yang berhenti karena lampu pengatur berwarna merah, sedangkan sebagian lainnya melaju karena mendapat giliran warna hijau. Tak sedikit juga yang tidak sabar, mereka menerobos lampu merah. Runyam.

Saya termasuk yang sedang kebagian warna merah. Berhenti. Hitung-hitung istirahat setelah melaju hampir tiga puluh menit dari rumah menuju kantor.

Kami yang sedang menanti pergantian warna lampu pengatur lalu lintas jalan dikejutkan oleh teriakan.

“Turun luh!”

Pengemudi taksi berwarna biru yang mendapat terikan seperti itu tampak turun dari kendaraannya. Tanpa banyak cincong, pria bertopi yang berteriak tadi melayangkan bogem mentah. Sang sopir taksi sempat terhuyung.

Baku pukul saling pun terjadi. Tak lama kemudian dua pria berseragam safari warna gelap merangkul kedua pria yang sedang berkelahi tadi. Mereka memisahkan keduanya. Menenangkan situasi.

Sepatutnya malu untuk merampas hak orang lain. Malu bertindak tidak beradab.

Tak jelas apa pangkal persoalan. Sayup-sayup terdengar soal gerobak dan senggolan. Pria bertopi tadi terlihat mendorong gerobak. Posisi kejadian persis di belokan jalan. Bisa jadi gerobak tersenggol mobil. Mungkin.

Di bagian lain, seorang pesepeda motor emosi ketika diberitahu bahwa trotoar adalah tempat pejalan kaki melintas. “Jangan dibiasin, ini (trotoar) untuk jalan kaki, bukan untuk jalan motor,” ujar pedestrian itu.

Tak terima diberitahu, sang pesepeda motor memukul pejalan kaki. Sang pejalan kaki tidak membalas hanya terus merekam dan mengingatkan bahwa trotoar adalah tempat pejalan kaki melintas. Perempuan pesepeda motor tadi lantas pergi usai meluapkan emosinya.

Pemukulan pejalan kaki itu terlihat dalam rekaman video yang viral di media sosial, Selasa, 7 Agustus 2018. Situasi lalu lintas jalan saat kejadian terlihat sangat padat. Tak hanya perempuan tadi, sejumlah pesepeda motor lain pun tampak melintas di trotoar. Sebagian lalu turun dari trotoar ketika diingatkan oleh pejalan kaki tadi.

Meredam Emosi

Lalu lintas jalan di Jakarta sangat padat oleh kendaraan bermotor, terlebih saat jam sibuk, yakni pagi dan petang hari. Gesekan amat mudah terjadi, ironisnya ada yang dengan mudah meluapkan emosi dengan berkelahi.

Kita tahu bahwa semua pengguna jalan ingin aman, nyaman, dan selamat ketika berlalu lintas jalan. Sudah selayaknya menempatkan diri sesuai porsi masing-masing. Ada hak dan kewajiban di setiap pengguna jalan. Kesemua itu untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang beradab. Manusia punya akal sehat dan nurani. Sepatutnya kedua hal itu diterapkan termasuk saat berlalulintas jalan.

Saling menghargai, berbagi ruas jalan, dan menaati aturan menjadi simbol manusia yang beradab. Kita tak ingin merusak sisi kemanusiaan demi kepentingan pribadi. Apalagi merampas hak orang lain. Hak pejalan kaki berjalan di trotoar dan menyeberang di zebra cross. Begitu juga hak pesepeda motor dan pengendara mobil untuk melintas di jalan raya.

Sepatutnya malu untuk merampas hak orang lain. Malu bertindak tidak beradab.

Tampaknya memang butuh mempertebal rasa sabar. Mari meredam emosi agar tak menggelegak dengan cara berpikir posifif, memprioritaskan keselamatan, bertindak tenang, dan mendoakan hal-hal yang baik. Bukan apa-apa, emosi yang tak terbendung bisa menimbulkan ketidak kenyamanan. Bahkan, ketika emosi merusak konsentrasi berkendara bukan tak mungkin memicu terjadinya kecelakaan di jalan.

Kemacetan lalu lintas jalan adalah risiko berkendara di kota yang padat penduduk. Setiap pengendara punya kontribusi atas kemacetan yang terjadi. (edo rusyanto)

Suatu Malam di Sudut Amigos Jakarta

3 Agustus 2018

ORANG-ORANG memadati ruangan di salah satu sudut kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Mereka duduk rapih di kursi yang tersedia. Sebagian wajah yang hadir saya kenal. Mereka para jurnalis, baik dari media cetak, daring, maupun jurnalis foto. Sebagian lainnya tampak sejumlah penyanyi dan para musisi.

Malam terus bergulir. Alunan musik dan lantunan lagu menghipnotis mereka yang hadir. Tak sedikit tamu yang mengikuti lantunan lagu dari para penyanyi yang hadir. Tak cukup bernyanyi, sebagian dari mereka pun ikut menari. Suasana di cafe Amigos terasa hidup.

Sudah sejak lama kita mengenal pengaruh syair lagu dan musik dalam kehidupan manusia. Di era perjuangan, lagu dapat membakar semangat juang dan nasionalisme. Di era kekinian bahkan dapat mempengaruhi kepada gaya hidup.

Ya. Lagu dan musik dapat mempengaruhi perilaku. Baik secara langsung, maupun tidak langsung.

Melihat hal itu Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) mendorong musisi dan penyanyi ikut menyelipkan pesan keselamatan jalan dalam karya-karyanya. Lagu dan musik juga dinilai mampu menjadi medium penting dalam menyebarluaskan kesadaran berlalulintas jalan yang aman dan selamat.

Karena itu, saya bersama teman-teman di Jarak Aman mengapresiasi lagu ‘Kontemplasi’ karya Hariyanto Boejl sang penyanyi balada Tanah Air. Apresiasi diberikan di sela Konser Musik Kontemplasi di Jakarta, Selasa (24/7/2018) malam.

Apresiasi atau penghargaan diberikan juga terkait atas kiprah Hariyanto yang mendukung kampanye keselamatan jalan besutan Jarak Aman. Salah satunya lewat ajang Road Safety Festival 2018 yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu. Ajakan kebaikan yang mencuat dalam syair Kontemplasi senafas dengan kampanye keselamatan jalan yang intinya mengajak orang untuk hidup lebih baik lagi dan bertoleransi di jalan raya.

Fakta data memperlihatkan bahwa mayoritas pemicu kecelakaan lalu lintas jalan adalah faktor manusia. Ironisnya, aspek dominan di faktor manusia yang memicu kecelakaan itu adalah tidak tertib dan lengah. Aspek tidak tertib adalah perilaku melanggar aturan. Nah sisi kemanusiaan dan ajakan berbuat baik yang disuarakan Hariyanto terasa pas bagi pengguna jalan agar tidak tergoda melanggar aturan yang bisa memicu kecelakaan.

Sementara itu, Hariyanto mengatakan, tidak ada kata terlambat untuk selalu menebar kebaikan. Demi mewujudkan hal tersebut setiap orang harus memandang jauh ke depan demi mendapatkan arah dan kemungkinan tindakan yang lebih bermakna bagi setiap orang. Salah satu bentuknya adalah melakukan kontemplasi.

Arti kontemplasi lebih kepada merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, memikirkan dan merenungkan konsep kehidupan, mengevaluasi diri, menghayati perjalanan hidup selama ini. Semua itu ditempuh supaya tidak terlalu mengikuti kebiasaan yang terjadi selama ini.


“Saya menulis lirik lagu berjudul Kontemplasi dan membuat Konser Kontemplasi di Amigos, Jakarta, Selasa (24/7/2018) malam. Tujuannya saya tidak ingin salah melangkah dalam menjalani kehidupan. Sebab, usia terus bertambah dan ajal pun tidak tahu kapan tiba. Semoga lagu Kontemplasi bisa memberikan inspirasi bagi semua orang yang terjun dalam berbagai profesi,” tutur Hariyanto.

Dia menambahkan, dirinya berharap bisa memperbaiki diri sendiri dan mengajak orang lain untuk menebarkan virus kebaikan.

Dalam Konser Kontemplasi, Boejl, panggilan akrab Hariyanto, juga meluncurkan mini album yang terdiri atas tiga lagu, yaitu Kontemplasi, Introspeksi, dan Negeri Pelangi.

Sepak terjang Boejl, dalam blantika musik nasional memang tergolong baru. Namun, suami dari Etty Novitasari, 44 tahun, tetap memiliki tekad kuat untuk berkreasi dalam dimensi berbeda.

“Setelah puluhan tahun malang-melintang di dunia fotografi, saya pun merasa dunia tarik suara bisa menghibur banyak orang sekaligus menebarkan kebaikan,” tutur Boejl.

Selamat mas. Terus bergerak menebar kebaikan. (edo rusyanto)

Simak Isi Lengkap Pergub Pembatasan Ganjil Genap

1 Agustus 2018

TOPIK yang menjadi bahasan cukup menarik selain soal politik belakangan ini adalah isu pembatasan lalu lintas mobil yang bakal dikenai sanksi. Bukan mitos jika pelanggar aturan pembatasan ganjil genap bakal disemprit Rp 500 ribu.

Apa sih pembatasan ganjil genap? Mari kita tengok sejenak.

Pembatasan ini mengizinkan mobil bernomor polisi berakhiran angka genap mejaju pada tanggal genap. Demikian pula sebaliknya. Sontak mendulang reaksi beragam dari pengendara yang wira-wiri di jalan-jalan kota Jakarta.

Ada pengendara yang membuat dua pelat nomor (tanda nomor kendaraan bermotor/TNKB) untuk satu mobil. Satu TNKB bernomor ganjil dan satunya bernomor genap. Ada pengendara yang mencari jalur alternatif, yakni ruas-ruas jalan yang tidak terkena pembatasan. Dan, tentu saja beragam reaksi lainnya, salah satunya adalah beralih ke angkutan umum. “Wah, harus mutar nih jalur yang mesti dilewatin kalau ganjil genap diperluas,” ujar Rudy, kita sebut saja begitu, seorang warga Depok saat berbincang dengan saya di Jakarta, baru-baru ini.

Rudy memang tinggal di Depok, tapi mencari nafkah di Jakarta. Setiap hari, berangkat dan pulang kantor membawa mobil pribadi.

Kini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melahirkan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2018 tentang Pembatasan Lalu Lintas dengan Sitem Ganjil-genap Selama Penyelenggaraan Asian Games. Pergub itu ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Selasa, 31 Juli 2018. Lewat Pergub ini pula ruas jalan yang dikenai pembatasan diperluas.

Di sisi lain, untuk pelanggaran aturan akan merujuk pada Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Bagi para pelanggar aturan ini bakal dikenai Pasal 287 UU 22/2009 tentang LLAJ yang memuat ancaman sanksi penjara maksimal dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.

Pergub yang mulai berlaku Rabu, 1 Agustus 2018 itu mempertimbangkan sejumlah aspek, yaitu; Perda DKI Jakarta No 5 tahun 2014 tentang Transportasi yang memberi wewenang Pemprov DKI Jakarta menerapkan pembatasan ganjil-genap. Lalu, pembatasan ganjil-genap dilakukan untuk mensukseskan penyelenggaraan pesta olah raga Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Kemudian, ujicoba perluasan sudah dilakukan pada Senin, 2 Juli 2018 hingga Selasa, 31 Juli 2018. Evaluasi dari ujicoba itu memperlihatkan adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas penggunaan ruang jalan dan pengendalian lalu lintas jalan.

Rute dan Sanksi

Setelah Pergub ini keluar, bila semula hanya beberapa ruas jalan yang dikenai aturan ganjil-genap, kini terdapat 13 ruas jalan yang dikenai pembatasan, yaitu;
a. Jalan Medan Merdeka Barat
b. Jalan MH. Thamrin
c. Jalan Jenderal Sudirman
d. Jalan Sisingamangaraja
e. Jalan Jenderal Gatot Subroto
f. Jalan Jenderal S Parman (sebagian mulai Tomang sampai dengan simpang Slipi)
g. Jalan MT Haryono
h. Jalan HR Rasuna Said
i. Jalan Jenderal DI Panjaitan
j. Jalan Jenderal Ahmad Yani.
k. Jalan Benyamin Sueb (simpang Benyamin Sueb sampai dengan Kupingan Ancol)
l. Jalan Metro Pondok Indah (sebagian mulai dari Simpang Kartini sampai dengan Simpang Pondok Indah Mall)
m. Jalan RA Kartini (sebagian mulai dari simpang Ciputat Raya sampai dengan Simpang Kartini).

Selain rutenya yang diperluas, aturan ini juga menambah rentang waktu, kini aturan ganjil genap berlaku sepanjang Senin-Minggu dengan rentang waktu pukul 06.00 s/d 21.00 WIB atau setara dengan selama 15 jam terus menerus. Sedangkan masa berlakunya adalah saat Asian Games, yakni 18 Agustus 2018-2 September 2018.

Sementara itu, kendaraan bermotor yang dikecualikan dari aturan ini terdiri atas;
a. Kendaraan Pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia yakni :
1. Presiden RI/ Wakil Presiden RI;
2. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat/ Dewan Perwakilan Rakyat/ Dewan Perwakilan Daerah; dan
3. Ketua Mahkamah Agung/ Mahkamah Konstitusi/ Komisi Yudisial.

b. Kendaraan Pimpinan dan Pejabat Negara Asing serta Lembaga Internasional yang menjadi tamu negara;

c. Kendaraan dinas operasional berplat dinas, TNI, dan Polri.

d. Kendaraan dinas operasional berplat dinas, kendaraan atlet dan official yang bertanda khusus (stiker) Asian Games;

e. Kendaraan pemadam kebakaran dan ambulans;
f. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas;
g. Kendaraan angkutan umum (plat kuning);
h. Kendaraan angkutan barang Bahan Bakar Minyak dan Bahan Bakar Gas;
i. Sepeda motor;
j. Kendaraan yang membawa masyarakat difabel;
k. Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Polri, seperti kendaraan pengangkut uang (Bank Indonesia, antar bank, pengisian ATM) dengan pengawasan dari Polri.

Nah, untuk implementasi aturan ini setiap jalan yang dilakukan pembatasan wajib diberikan rambu lalu lintas mengenai hal itu. Sedangkan pengawasannya dilakukan oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Di sisi lain, untuk pelanggaran aturan akan merujuk pada Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Bagi para pelanggar aturan ini bakal dikenai Pasal 287 UU 22/2009 tentang LLAJ yang memuat ancaman sanksi penjara maksimal dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu. (edo rusyanto)

foto rambu: netralnews.com