Skip to content

Rambu Hijau dan Biru di Mata Sopir

23 Februari 2017

rambu-tol-hijau-hijau2

HUJAN deras mengguyur bumi. Jadilah perjalanan kami sepanjang Tangerang ke Jakarta berteman dengan curahan air dari langit.

Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan standard di jalan tol sepanjang Tangerang ke Jakarta. Kondisi arus kendaraan ramai lancar dan kami pun tiba di kawasan Tebet, Jakarta Selatan dengan selamat. Sopir yang mengantar kami cukup piawai dan cekatan.

Saya sempat berbincang dengan pria berambut putih itu sebelum akhirnya kami berpisah. Ada sudut pandang yang menarik dari pengemudi kelahiran tahun 1961 itu. Begini kira-kira rangkumannya.

Saya: Menurut bapak, rambu berwarna hijau dan biru di jalan tol tadi apa artinya?

Sopir: Kalau yang hijau, artinya sudah dekat pak. Kalau yang biru, jaraknya masih jauh?

Saya: Betul begitu pak?

Sopir: Saya sih nggak yakin, cuma menebak-nebak aja.

Saya: Memangnya warna dasar rambu itu ada berapa jenis sih pak?

Sopir: Ada banyak, ada yang merah, kuning, hijau, dan biru.

Saya: Artinya apa warna-warna itu?

Sopir: Kuning artinya kita mesti hati-hati. Kalau merah artinya larangan. Tapi, kalau hijau dan biru saya nggak tahu?

Saya: Kok gitu?

Sopir: Iya, kita nggak ada yang ngajarin soal rambu-rambu.

rambu-hijau-biru-tol-jkt-merak-2017

Saya: Nah, ini saya baca di internet, ternyata arti warna merah itu betul larangan. Kuning, artinya hati-hati. Kalau hijau itu pentunjuk atau informasi. Sedangkan biru artinya perintah. Ada satu lagi, warna coklat. Kalau yang ini artinya petunjuk tapi untuk tempat-tempat tertentu seperti lokasi wisata.

Sopir: Oh gitu, baru tahu saya untuk yang hijau, biru, dan coklat. Waktu bikin SIM saya nggak tahu ada soal rambu.

Saya: Kenapa pak?

Sopir: Soalnya SIM saya nembak, bayar Rp 500 ribu. Kalau nggak nembak repot. Nggak lulus.

Saya: Kan bisa diulang pak?

Sopir: Itu repotnya pak, bolak-balik. Waktu kita jadi terbuang.

Lagi-lagi kita menemukan fakta bahwa belum semua pengemudi memahami jenis-jenis warna rambu. Entah siapa yang harus memberi tahu masyarakat akan makna dan pentingnya rambu lalu lintas jalan. Atau, masyarakat mesti aktif belajar sendiri soal rambu demi keselamatan saat berlalu lintas jalan. Begitu kah? (edo rusyanto)

Fakta Menarik Lampu Penunjuk Arah Motor di Jakarta

22 Februari 2017

moge-di-indraloka3

DALAM beberapa pekan terakhir saya menjumpai sejumlah sepeda motor di Jakarta dengan warna lampu penunjuk arah berbeda dari biasanya. Lampu penunjuk arah yang populer di masyarakat disebut lampu sein itu berbeda dari bawaan pabrik yang berwarna kuning tua. 

Ada yang mengganti warna lampu sein sepeda motornya dengan warna hijau. Atau, menggantinya dengan warna biru. Bahkan, ada yang memakai warna merah. 

Khusus untuk yang warna merah, dapat lebih membingungkan pengendara lain karena warnanya mirip lampu rem belakang. Rancu, apakah sedang mengerem, mau mengubah arah atau mau berbelok. 

Saat ini, lampu sein sepeda motor bawaan pabrik sebagai pemberi isyarat berbelok atau berubah arah berwarna kuning tua atau di masyarakat dikenal dengan sebutan oranye. Lampu penunjuk arah tadi sinarnya kelap-kelip.

Regulasi itu bisa dilihat dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 55 tahun 2012. PP itu merupakan turunan dari Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
 
Pilihan jatuh ke warna oranye tentu sudah melalui riset. Warna itu sudah universal. Sepengetahuan saya, warna oranye ditambah kedap-kedip membantu pandangan mata untuk mudah merespons cahaya itu. 

Artinya, kalau sudah terbiasa melihat oranye, lalu muncul warna lain jadi membingungkan. Saat siang hari, warna sein bawaan pabrik lebih mudah terlihat dibandingkan hijau dan biru. Bisa jadi karena itu pula regulasi yang berlaku saat ini menempatkan orange sebagai warna lampu sein. Bukan yang lain. 

Memodifikasi menjadi warna lain tentu ada tujuannya. Dan, yang tahu persis sudah barang tentu mereka yang mengganti warna tersebut. Kalau sekadar menebak-nebak, penggantian warna itu sekadar tampil beda saja. Atau, tidak tahu bahwa regulasi yang berlaku mewajibkan warna oranye. 

Entahlah. Pastinya, naluri untuk tampil beda selalu ada. 

Tapi, tunggu dulu, kalau melihat regulasi yang berlaku saat ini, yakni UUNo 22 tahun 2009 tentang LLAJ jangan-jangan bisa beda ceritanya. Maklum, UU itu menyatakan bahwa jika lampu penunjuk arahnya tidak sesuai ketentuan laik jalan bisa kena semprit. Pilihannya, denda maksimal Rp 250 ribu atau pidana penjara satu bulan.

Nah loh. (edo rusyanto)

Pesepeda Motor Kocar-kacir Gara-gara Banjir

21 Februari 2017

banjir-hek-2017-motor-jatuh1

KAWASAN pertigaan Pasar Hek, Jakarta Timur macet total, Selasa, 21 Februari 2017 siang. Air dari kali yang terletak lebih tinggi dari permukaan jalan membludak ke jalan raya. Lalu lintas jalan pun karut marut. 

Suara deru knalpot bersahutan dengan klakson. Pertigaan jalan itu pun bak tak berbentuk. Kendaraan bermotor saling bersilangan. 

“Malah udah puluhan motor yang berjatuhan,” ujar Ani, salah seorang Pekerja Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kampung Tengah yang ikut membantu mengurai kesemrawutan saat berbincang dengan saya, Selasa siang itu.

Hampir satu jam saya di lokasi itu melihat berkali-kali pesepeda motor yang kocar-kacir. Mereka jatuh di tengah aliran air yang cukup deras. Warga yang ada beserta KPPS bahu membahu pesepeda motor yang terjatuh. Selain membantu meminggirkan sepeda motornya, warga juga memapah pesepeda motor yang jatuh ke sisi jalan.

Sebagian lain yang terseok-seok sepeda motornya dibantu dorong atau dijaga keseimbanganya menerobos air oleh warga dan petugas. Tidak hanya itu. “Kami mengingatkan pesepeda motor untuk fokus berkendara agar tidak jatuh,” ujar Ani yang siang itu memegang kertas bertuliskan peringatan agar pesepeda motor tetap fokus.

Selain itu, dia bersama teman-temannya juga tak bosan-bosan berteriak. “Yang naik motor jangan nunduk ngelihat ke bawah, lihat ke depan. Jalan terus, jangan sampai jatuh,” teriak Ani dan teman-temannya.

Pertigaan pasar Hek adalah pertemuan antara Jl Raya Bogor dan Jl Raya Pondok Gede. Kawasan ini amat strategis dan padat karena jadi pintu masuk warga pinggiran ke tengah Jakarta. Bahkan, termasuk warga Bekasi dan Bogor yang hendak masuk ke kota Jakarta.

banjir-hek-2017-kpps-cewek1
Banjir kali ini mengingatkan saya akan banjir serupa pada 19 Februari 2012. Bulannya sama, tanggalnya beda dua hari dengan saat ini. Saat itu, situasinya tidak jauh berbeda. Lalu lintas jalan karut marut dan banyak pesepeda motor yang jatuh.

Lokasi banjir di kawasan Pasar Hek merupakan salah satu titik dari belasan lainnya di Jakarta yang terjadi kali ini. Kondisi para pesepeda motor pun banyak yang kocar-kacir. “Tadi malah saya naik motor lawan arah dari Garuda sampai Harmoni, Jakarta Pusat. Jangan dicontoh ya kawan-kawan,” ujar Paijo kepada saya melalui media sosial path.

Kondisi macet dan banjir membuat pesepeda motor ekstra waspada dan kocar-kacir. Bahkan, stasiun televisi swasta mengabarkan tentang diizinkannya pesepeda motor melintas di jalan tol guna menghindari banjir di kawasan Jakarta Utara. “Tadi pagi mask tol. Dari Ancol ke Pantai Indah Kapuk,” papar Erwin kepada saya dalam media sosial instagram, Selasa siang.

Ya. Banjir bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Bagi kita para pesepeda motor mutlak untuk ekstra waspada. Ketika memutuskan untuk melintas di genangan air harus benar-benar dapat dipastikan situasinya aman dan tidak membahayakan keselamatan jalan.

Bila menghadapi genangan air sebaiknya memperhatikan situasi sekitar. Bisa mengikuti alur ban mobil yang melintas atau sepeda motor yang lebih dahulu melintas. Bila tidak ada yang bisa diikuti, pastikan genangan tadi tidak melampaui block mesin atau knalpot. 

Tentu langkah terbaik adalah tidak melintasi genangan yang terlalu tinggi dan tidak dikenali areanya.

Di sisi lain, pastikan memakai sepatu sebagai pelindung kaki. Memakai sepatu saat bersepeda motor mengurangi risiko fatal saat terjadi benturan. Misal, mengurangi risiko tergores lebih dalam. 

banjir-hek-2017a
Nah, ketika hujan, ikut mengurangi rasa dingin yang menjalar dari telapak kaki ketimbang memakai sendal jepit, terlebih bila dibandingkan dengan tidak memakai alas kaki sama sekali.

Saat hujan dianjurkan memakai sepatu booth terbuat dari karet. Sepatu cadangan untuk kerja bisa disimpan di loker kantor. (edo rusyanto)

Tiga Faktor Utama Tingginya Keterlibatan Motor Dalam Kecelakaan

20 Februari 2017

zebra-cross-diterobos-cawang2
 
KETERLIBATAN sepeda motor ternyata masih tinggi dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Mari kita tengok data dua tahun terakhir, yakni 2015 dan 2016. Lantas apa yang membuat segitu tingginya keterlibatan sepeda motor?

Sebelum menelisik alasan di balik tingginya keterlibatan sepeda motor, mari kita lihat sejenak data Korlantas Mabes Polri.

Tahun 2016, keterlibatan sepeda motor ternyata mencapai sekitar 71%. Saat itu, setiap hari setidaknya 372 sepeda motor yang terlibat kecelakaan.
Bagaimana jika dibandingkan dengan 2015? Begini.

Dari sisi jumlah sepeda motor yang terlibat kecelakaan, jumlahnya meningkat sekitar sekitar 24%. Namun, dari sisi kontribusi terjadi penurunan, yakni dari 73% menjadi 71%. Kok bisa?

Ya. Pada 2016, ada jenis kendaraan lain yang melonjak keterlibatannya dalam kecelakaan sehingga peran sepeda motor terkerek turun. Contoh, jenis kendaraan tidak bermotor melonjak sekitar 405%.

Kita akan ulas keterlibatan jenis kendaraan tidak bermotor maupun bermotor lainnya pada tulisan yang berbeda. Mari kita kembali ke sepeda motor.
Keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan masih tinggi bisa jadi dipicu oleh faktor-faktor utama berikut ini.

 
Pertama, populasi tinggi. Jumlah sepeda motor yang beredar di Tanah Air lebih tinggi dibandingkan jenis kendaraan lain. Setidaknya 80% dari total kendaraan di Indonesia adalah sepeda motor.
Di sisi lain bakal berkembang pertanyaan kenapa sepeda motor terus bertambah dan masih diminati masyarakat. Untuk hal ini bisa lebih panjang lagi ulasannya.

Kedua, lebih ringkih. Secara alamiah sepeda motor lebih mudah terjerembab dalam kecelakaan dibandingkan si roda empat atau lebih. Sepeda motor yang beroda dua lebih mudah tergelincir dibandingkan mobil. Karena itu, prinsip dasar bersepeda motor adalah menjaga keseimbangan atau kestabilan si roda dua bergerak di jalan.

Ketiga, faktor pengendara. Boleh jadi faktor pengendara ikut mendongkrak keterlibatan sepeda motor. Faktor ini mencakup ketrampilan, perilaku berkendara, dan ketaatan pada aturan yang berlaku. Tahun 2016, keterlibatan kecelakaan para pemegang surat izin mengemudi (SIM) C, yakni SIM bagi pesepeda motor, melonjak sekitar 40%. Belum lagi jika pengendaranya masih di bawah umur, rentan kecelakaan. Tahun lalu, kelompok pelaku kecelakaan tanpa SIM tercatat melonjak sekitar 47%.
 
Setidaknya ketiga faktor utama tadi yang bisa menyebabkan masih tingginya keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan. Bukan mustahil ada faktor lain. (edo rusyanto)

Jualan Apartemen Rp 400 Juta di Mal

19 Februari 2017

brosur-apartemen-di-mal-2017c

PAKAIANNYA parlente. Penampilannya juga klimis dan sering mengumbar senyum menyapa pengunjung dengan ramah. Di tangannya setumpuk brosur siap dibagikan kepada orang yang dijumpai.

“Selamat sore pak, barangkali berminat membeli apartemen. Ini brosurnya, bisa dilihat-lihat dahulu,” sergah seorang pria berkacamata dengan setelan jas warna hitam, kepada saya di Cibubur Junction, Jakarta Timur, Sabtu, 18 Februari 2017 sore.

Brosur dengan tampilan memikat pun berpindah tangan. Saya perhatikan, tampilan brosur cukup manis. “Terimakasih, saya belum ada rencana beli apartemen,” jawab saya, seraya berlalu meninggalkan area pemasaran apartemen itu.

Saat menunggu isteri berbelanja, say abaca-baca isi brosur tadi. Ternyata, apartemen Trans Park Cibubur dipasarkan dengan harga mulai Rp 400 juta per unit. Artinya, bisa jadi harganya ada yang jauh di atas itu.
Menariknya, lagi-lagi pengembang properti proyek itu mengusung jualan akses transportasi. Dari empat point keunggulan yang ditawarkan dalam brosur, tiga di antaranya terkait akses transportasi.

Pertama, apartemen itu diklaim hanya 200 meter dari jalan tol anyar. Entah jalan tol apa yang dimaksud. Setahu saya, di kawasan berdirinya proyek itu ada tol Cijago. Entah jika ada tol lain.

Kedua, lokasi proyek diklaim hanya dua menit dari pintu keluar jalan tol. Dan, ketiga, disebutkan hanya lima menit dari stasiun kereta ringan (light rail train/LRT). Lagi-lagi, entah stasiun mana yang dimaksud.

Melihat brosur seperti itu saya jadi ingat hasil survey Rumah.com yang bekerja sama dengan Intuit Research, Singapura terkait perilaku para pencari properti hunian. Survey yang dirilis di Jakarta, baru-baru ini menyatakan bahwa masalah akses transportasi menjadi faktor ketiga dari sepuluh faktor yang menentukan dalam pencarian hunian.

Akses menuju transportasi publik menjadi faktor ketiga terpenting dengan indeks 81%. Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor lokasi (98%) dan keamanan lingkungan (87%).

“Bagi pencari properti masa kini, sekarang bukan saatnya lagi mempertimbangkan jarak menuju tempat kerja atau transportasi publik. Waktu tempuh adalah faktor utama, karena mempertimbangkan lalu lintas yang macet dan ketidakpastian di jalan raya,” kata Country Manager Rumah.com, Wasudewan, dalam publikasinya, di Jakarta, Selasa, 14 Februari 2017 seperti dilansir Investor Daily.

Para pengembang properti kini gencar menawarkan hunian vertikal apartemen di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Khusus di Jakarta, tak kurang dari 26 ribu unit apartemen mengguyur pasar pada 2016. Sedangkan tahun ini diprediksi mencapai sekitar 28 ribu unit. Banyak yah? (edo rusyanto)

Jatuh Saat Menjarah Trotoar

18 Februari 2017

trotoar-dilibas-anton-baruna1

TERDENGAR suara yang cukup keras, gubrak! Suara datang dari arah depan. Persisnya dari sebelah kiri posisi saya.

Sumber suara keras tadi berasal dari sepeda motor yang jatuh mencium permukaan trotoar jalan. Loh?

Pria dewasa penuggang sepeda motor skutik yang jatuh tadi langsung berdiri. Seorang warga yang ada di dekat situ membantu mendirikan motor dari posisinya yang miring. Sebagian yang menyaksikan hal itu menggelengkan kepala. Entah apa maksudnya.

Bisa jadi maksudnya adalah prihatin melihat kejadian memalukan itu. Maksudnya begini. Sudah merampas hak pejalan kaki, lalu terjatuh, dan tidak mengucapkan terimakasih kepada yang menolong. Justeru nyelonong kembali melintas di trotoar jalan. Sisi kelam lalu lintas jalan kota Jakarta.

Saat kejadian lalu lintas di Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur padat merayap. Persisnya, dari PGC, Cililitan menuju pertigaan Jambul, Jakarta Timur. Cuaca saat itu hujan. Mereka yang enggan antre berbondong-bondong menjarah trotoar jalan. Salah satu pelakunya terjatuh.

Keengganan untuk antre di tengah kemacetan lalu lintas jalan membuat sebagian pesepeda motor mencari jalan pintas. Salah satu pilihan yang memprihatinkan adalah melintas di trotoar jalan. Pelanggaran aturan jalan yang satu ini mencerminkan kedisiplinan yang buruk.

Di sisi lain, pesepeda motor melintas di trotoar jalan memperlihatkan keangkuhan. Bagaimana tidak, trotoar jelas-jelas merupakan hak pedestrian. Hak yang dilindungi oleh Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Saat sepeda motor meluber ke trotoar hak pejalan kaki tercabik-cabik.

Bila toleransi di jalan raya seperti itu sudah pupus, kita melihat benih intoleransi dalam kehidupan bermasyarakat lainnya.

Bila mengambil hak orang lain dianggap lumrah, hanya soal waktu kita terperosok dalam kubangan masalah. Misal, gesekan sosial antara pejalan kaki dengan sang perampas hal. Bahkan, bukan mustahil memicu terjadi insiden maupun kecelakaan lalu lintas jalan.

Bekal untuk memangkas perilaku merampas hak sesama pengguna jalan adalah akal sehat dan nurani. Menghargai sesama pengguna jalan dicerminkan dengan sudi berbagi ruas jalan. Dan, tentu saja menaati aturan lalu lintas jalan yang berlaku.

Keadaban kita sebagai manusia terlihat dari kesudian kita menjaga hak dan kewajiban sesuai porsinya. Sekali lagi, modal dasarnya adalah selalu menggunakan akal sehat dan nurani. Lewat itu barulah kita bisa mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas. (edo rusyanto)

foto:istimewa

Belajar Dari Perempuan Pengendara Fortuner

17 Februari 2017

macet-perempatan-kuningan-jaksel1

ARUS kendaraan bermotor padat merayap. Deru mesin dan knalpot bersahutan dilengkapi dengan asap yang mengepul ke udara. 

Suasana seperti itu menjadi pemandangan rutin. Itulah suasana di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Kawasan bisnis super ramai di Jakarta. Hampir sepanjang hari terjadi kemacetan lalu lintas jalan. Entah itu pagi, siang, maupun sore hari. Maklum, namanya juga kawasan bisnis. 

Pemandangan seperti itulah yang saya jumpai, Kamis, 16 Februari 2017 siang. Beragam kendaraan bermotor tumpah ruah. Arus kendaraan tersendat. Posisi saya di kiri jalan bersama sepeda motor lainnya, termasuk para pengojek sepeda motor berbasis aplikasi. 

Di tengah itu semua, tiba-tiba di depan saya tampak ojek berbasis aplikasi terjatuh. Kurang jelas apa penyebab dia jatuh. Pastinya, sang pengendara dan penumpangnya sama-sama terjatuh. 

Pengojek serupa yang persis di belakangnya langsung membantu mengangkat sepeda motor yang rebah di aspal. Sang pengendara bisa bangkit sendiri, demikian juga perempuan penumpang ojek berjaket hijau itu. Sang perempuan tampak meringis dan mengibas-ngibaskan jemari tangan. Amat mungkin dia merasa nyeri. 

Posisi saya sekitar tiga meter di belakang kejadian itu. Pertanyaan soal apa yang membuat sang pengojek jatuh masih menggelayut di kepala. 

“Jatuh nyenggol mobil pak,” sergah pengojek yang menolong, menjawab pertanyaan saya, siang itu. 

Tapi, kenapa nyenggol mobil? 

“Bapaj ngantuk, sampe nyenggol mobil saya,” tanya perempuan berkulit kuning langsat kepada pengojek yang menyenggol mobilnya. 

Tampak ada kecemasan di raut wajahnya. Entah kecemasan akan kondisi sang pengojek, atau kecemasan atas kondisi mobilnya. Tidak ada yang tahu.

Dialog itu persis di hadapan saya yang tertahan oleh antrean saat proses evakuasi sang pengojek dari aspal berlangsung. Saya lihat sang pengojek tidak menjawab dengan lugas, justeru dia dengan penumpangnya langsung melenggang meneruskan perjalanan. 

Sang perempuan pengemudi mobil Toyota Fortuner berwarna hitam pun tampaj maklum. Usai mengecek titik bentur di mobilnya, dia pun kembalik ke balik kemudi. Posisi mobil yang berhenti di kiri jalan seraya menyalakan lampu hazard menimbulkan antrean. Sejumlah pengendara yang mungkin tidak tahu sedang ada kejadian apa, menyalakan klakson sehingga situasi jadi riuh rendah. 

Bagi saya, sikap santun perempuan pengemudi Fortuner itu layak diapresiasi. Dia tidak perlu berteriak memaki mengumbar amarah. Justeru memperlihatkan sikap turut empati atas sang penyenggol mobilnya. Jakarta masih punya toleransi di jalan dari sosok perempuan pengemudi Fortuner tadi. (edo rusyanto)