Skip to content

Begal Brutal

26 Februari 2015

begal motor berita viva

BERITA kebrutalan begal kian meruyak. Mencekam.

Begal yang beroperasi di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) mengincar pesepeda motor. Dari berita yang beredar, kasus pembegalan terjadi memasuki tengah malam hingga dinihari. Korban yang melawan berujung dengan bersimbah darah, meregang nyawa.

Kepolisian tak tinggal diam. Razia digencarkan, tentu termasuk operasi pemberantasan. Tapi, ibarat jamur di musim penghujan, begal muncul di beragam titik. Teror pun menyebar. Rasa takut meruyak.

“Gue sekarang ganti jalur yang lebih rame kalau pulang malem,” ujar seorang pesepeda motor saat berbincang dengan saya, di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2015 petang.

Bak gayung bersambut, reaksi masyarakat pun mencuat. Ada yang berunjuk rasa mempertanyakan sejauhmana taring para penegak hukum. Bahkan, ada yang main hakim sendiri. Begal yang tertangkap diamuk massa hingga ada yang meluapkan kegeraman dengan aksi pembakaran.

“Saya jadi ngeri pulang malam,” tutur perempuan pekerja yang tinggal di kawasan Tangerang Selatan, Banten.

Ketika rasa aman menjadi mahal di jalan raya, kita bertanya-tanya kemana peran para penegak hukum seperti dilontarkan para mahasiswa yang berunjuk rasa di Polresta Depok, Rabu. Padahal, Negara semestinya wajib hadir menjamin keselamatan warganya, termasuk di jalan raya. Menjamin rasa aman, nyaman, dan selamat. Walau, di sisi lain, para pengguna jalan dituntut dapat bertahan hidup di tengah intaian serigala kota.

Sejarah bangsa kita mengenal kekerasan demi kekerasan. Kisah begal sudah ada sejak zaman penjajahan. Aksi rampas merampas menjadi bagian denyut kehidupan negeri yang berjuluk Zamrud di Khatulistiwa. Seiring perputaran waktu, kemasannya saja yang berganti-ganti. Esensinya hampir sama, perampasan hak orang lain.

Jurus Penangkal

Dalam kisah kekinian yang meruyak belakangan ini, kita para pesepeda motor mesti ekstra waspada. Selain menghindari diri menjadi korban petaka jalan raya bernama kecelakaan lalu lintas jalan, juga harus berjibaku menjaga diri dari terkaman serigala kota yang buas. Walau, keganasan petaka jalan raya lebih mengerikan dengan merenggut 70-an jiwa per hari. Inilah teror sejati di jalan raya. Siap menjagal siapa saja tanpa mengenal waktu, apalagi status sosial sang korban.

Sejumlah tips pun bergulir untuk mempertahankan hak hidup ketika berlalu lintas jalan. Jurus penangkal dari cabikan taring sang pemangsa merupakan wujud ikhtiar.

Senantiasa berdoa sejenak menjelang berkendara menjadi bagian upaya menangkal malapetaka. Berserah diri kepada Yang Maha Kuasa bisa membuat rasa nyaman. Walau, hal itu juga mesti diiringi dengan sejumlah ikhtiar.

Seorang teman berseloroh, cara paling efektif adalah menghindari titik-titik rawan. Berbekal pengetahuan yang maksimal atas rute yang dilintasi, bisa memanfaatkan jalur alternatif yang diindikasi kian rawan menjelang dinihari. Tentu saja yang lebih efektif lagi adalah tidak berkendara saat malam memeluk pagi. Namun, ketika kebutuhan memaksa berkendara menjelang pagi, jurus-jurus penangkal pun mesti disiapkan. Salah satunya tadi, hindari rute yang diindikasi rawan.

Langkah lain adalah tidak berkendara sendirian. Asumsinya, bila ada teman dalam perjalanan bisa saling berbagi beban bila mendapat ancaman. Di bagian lain, senantiasa waspada dengan melihat kaca spion dan menggunakan lampu utama sepeda motor yang cukup terang. Bahkan, memastikan suara klakson dalam kondisi berfungsi dengan baik. Maklum, saat ancaman mendekat, salah satu tips adalah membunyikan klakson sambil mengarah ke area yang banyak orang. Suara klakson tadi bisa mengundang perhatian orang sehingga bantuan yang diharapkan bisa datang tepat waktu.

Disinilah kian pentingnya memakai alat perlindungan diri yang mumpuni ketika bersepeda motor, seperti helm dan jaket yang menunjang.

Pada bagian lain, memiliki nomor kantor polisi terdekat di sepanjang rute perjalanan menjadi salah satu bagian jurus penangkal. Ketika terpaksa menghadapi ancaman kekerasan dan masih memiliki kesempatan meminta bantuan, nomor telepon tadi bisa sedikit membantu keluar dari kepiluan yang ada.

Proses meminta bantuan tentu juga dilakukan dengan cara menarik perhatian warga. Salah satunya dengan cara berteriak. Untuk melakukan hal ini juga pertimbangkan keselamatan diri mengingat keselamatan menjadi segalanya. Harta bisa dicari, tapi nyawa tak datang dua kali. (edo rusyanto)

Ssssttt… Tabrak Belakang Ternyata Paling Banyak

25 Februari 2015

poster_konsentrasi_kopcau7

BENERAN. Gara-gara ngelamun alias bengong, saya pernah nyium bemper belakang mobil orang. Sekalipun gak terlalu keras, insiden itu cukup mengganggu pikiran.

Insiden tidak menimbulkan korban cedera, hanya menimbulkan sedikit goresan di bember. Maklum, ciumannya pakai roda depan sepeda motor dalam kecepatan sekitar 40 kilometer per jam (kpj).

Setelah dipikir-pikir, memang benar bahwa konsentrasi saat berkendara adalah harga mati. Maksudnya, kita para pengemudi mutlak untuk berkonsentrasi. Sedangkan kata kunci untuk konsentrasi ada pada fokus dan waspada. Tanpa kedua aspek tadi konsentrasi bisa buyar.

Dalam Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), setiap pengemudi diwajibkan berkonsentrasi. Siapa saja yang melanggar bisa dikenai sanksi penjara maksimal tiga bulan. Atau, denda maksimal Rp 750 ribu.

Tabrak depan-belakang, seperti yang terjadi pada saya sekitar tujuh tahun lalu ternyata masuk kategori jenis kecelakaan paling banyak. Untuk di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), tabrak depan-belakang menempati nomor wahid. Contohnya pada 2014. Saat itu, sumbangan tabrak depan-belakang menyumbang 21,64%. Angka itu di posisi teratas dari berbagai jenis kecelakaan lainnya.

Setiap hari ada empat kasus kecelakaan tabrak depan-belakang di Jakarta dan sekitarnya pada 2014. Bila dibandingkan dengan setahun sebelumnya turun tipis, yakni sekitar 3%.

Jenis kecelakaan terbesar kedua adalah tabrak depan-samping. Untuk jenis yang ini kontribusinya sekitar 19%. Setiap hari, rata-rata ada tiga kasus kecelakaan depan-samping.

Apa pun jenisnya, kecelakaan bisa merugikan banyak kalangan. Pastinya, kecelakaan menyakitkan bagi korban maupun sang pelaku. Khusus jenis tabrak depan-belakang, mengisyaratkan kita para pengemudi untuk benar-benar ekstra waspada saat berkendara. Jangan pertaruhkan keselamatan jiwa hanya untuk melakukan aktifitas yang justeru bisa berujung sia-sia. (edo rusyanto)

Pembelajaran dari Rarka dan Pedestrian

24 Februari 2015

pedestrian nyeberang jalan

LAGI, pesepeda motor nabrak pedestrian berujung ke meja hijau. Rarka, kita sebut saja begitu, baru saja pulang dari acara ulang tahun temannya. Malam terus bergulir. Lalu lintas jalan cukup ramai, sesekali terdengar suara klakson dari kendaraan bermotor yang melintas.

Sepeda motor yang dikemudikan Rarka melaju tak lebih dari 50 kilometer per jam (kpj). Dari jarak sekitar 15 meter dia melihat pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Reflek, pelajar usia kelas dua sekolah menengah atas (SMA) itupun membunyikan klakson. Dia tak sempat menghindar. Sang pedestrian yang sempat melambaikan tangan tanda hendak menyeberang terlihat agak panik, begitu juga Rarka. Dan, brakkk!!!

Setang sepeda motor Rarka menyerempet pedestrian. Dia terjatuh, begitu juga sang penyeberang jalan. Keduanya terluka. Tapi, pedestrian tadi tak tertolong, meninggal dunia.

Lima bulan kemudian, perkara pun bergulir ke meja hijau. Sambil menanti persidangan dan selama menjalani persidangan, Rarka mesti menjalani tahanan kota. Hampir dua bulan dia dijadikan tahanan kota.

Sang Jaksa Penuntut Umum meminta hakim memvonis Rarka hukuman penjara satu tahun kurungan dipotong masa tahanan. Anak di bawah umur itu dituduh lalai dan melanggar pasal 310 Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Setelah melewati beberapakali sidang, Majelis Hakim punya pandangan lain. Tepat sekitar sembilan bulan setelah kejadian kecelakaan, Rarka divonis tahanan kota selama tiga minggu. Siswa yang belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) itu pun dikembalikan ke orang tuanya.

Prioritas dan Konsentrasi

Kita tahu bahwa pedestrian atau pejalan kaki termasuk yang harus didahulukan. Setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib mendahulukan pedestrian yang hendak menyeberang jalan. Hal itu diatur dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ. Walau, tentu saja menyeberang jalannya sesuai dengan tempat yang ditentukan dan mengikuti lampu pengatur lalu lintas jalan.

Bila tidak ada marka dan rambu jalan yang mengatur hal itu, pedestrian wajib memperhatikan situasi sekitar. Setelah memastikan cukup aman, ketika menyeberang pun mesti memberi isyarat kepada pengguna kendaraan bermotor, salah satunya dengan melambaikan tangan ke arah kendaraan yang datang dari arah kanan atau kiri jalan.

Pedestrian termasuk kelompok yang ringkih kecelakaan. Menurut data Ditlantas Polda Metro Jaya, pada 2014, setiap enam hari satu pejalan kaki tewas akibat petaka di jalan raya itu. Di seluruh Indonesia setiap hari belasan pedestrian tewas akibat kecelakaan, sedangkan di dunia mencapai 700-an tewas per hari.

Di sisi lain, kita para pengendara mutlak berkonsentrasi. Misal, pesepeda motor wajib melemparkan pandangan sejauh mungkin ke arah depan yang akan dilintasi. Pandangan yang ke arah depan tadi membantu untuk mengantisipasi munculnya obyek bergerak atau obyek tidak bergerak seperti lubang.

Konsentrasi diatur dengan tegas dalam UU No 22/2009 tentang LLAJ. Pengemudi yang tak berkonsentrasi bisa dijerat sanksi. Pilihannya merepotkan, bisa dikurung penjara maksimal tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu.

Lantas, bagaimana untuk tetap menjaga konsentrasi?

Ada dua hal penting untuk tetap mampu berkonsentrasi penuh. Pertama, kondisi pengemudi mesti dalam keadaan sehat. Tubuh yang sehat bisa membantu konsentrasi dan kemampuan mengantisipasi situasi. Tubuh yang bukat membuat seseorang bisa berpikir lebih nyaman.

Kedua, tetap fokus dan waspada. Mengemudi adalah pekerjaan serius. Lengah sedikit saja bisa berakibat fatal. Bagaimana tidak, kecelakaan lalu lintas jalan bisa terjadi dalam hitungan detik. Ketika mengemudi tak perlu tergoda oleh aktifitas lain, misal, menelepon, melihat obyek memikat di sisi jalan, bahkan bersenda gurau.

Sudah terlalu banyak korban kecelakaan lalu lintas jalan yang bergelimpangan di Indonesia. Setiap hari, rata-rata sebanyak 70-an jiwa melayang lantaran kecelakaan di jalan. Rasanya tak perlu kita masuk dalam statistik tadi.

Kecelakaan lalu lintas jalan merepotkan. Banyak pihak yang dirugikan. Apalagi, bila perkara masuk ke ranah pengadilan. Ada waktu yang terbuang, ada uang yang melayang, belum lagi persoalan gangguan kejiwaan. Kalau potensi kecelakaan dan fatalitas kecelakaan bisa dikurangi, kenapa tidak? (edo rusyanto)

Lima Tahun, Nyaris Empat Juta Motor Geruduk Jakarta

23 Februari 2015

bus kenpri dan motor di jakarta

BISNIS sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya masih cukup legit. Bayangkan, dalam empat tahun terakhir nyaris empat juta unit yang masuk ke Ibu Kota Republik Indonesia tercinta ini.

Dalam rentang 2011-2015, rata-rata per hari sepeda motor yang menggerojok Jakarta tak kurang dari 2.400 unit. Itu pun dengan catatan, untuk tahun 2015 baru memakai data Januari.

Tampaknya sepeda motor masih menjadi kendaraan favorit bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Sebuah survey menyebutkan bahwa mayoritas pergerakan warga kota untuk berangkat kerja mayoritas menggunakan sepeda motor. Hasil survey Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) tahun 2010 itu menegaskan bahwa 48,7% pergerakan warga memakai sepeda motor. Padahal, pada 2002, penggunaan sepeda motor baru sekitar 21,2%. Artinya, penggunaan sepeda motor melonjak lebih dari 100%.

Banyak yang menilai bahwa peningkatan pendapatan perkapita mendorong kepemilikan kendaraan bermotor termasuk sepeda motor. Artinya, bila penjualan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya terus meningkat dalam lima tahun terakhir juga mencerminkan peningkatan daya beli masyarakatnya.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) memperlihatkan adanya lonjakan penjualan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya. Bila pada 2011 total penjualan motor di wilayah itu sekitar 625 ribuan unit, tahun 2014 sudah menyentuh 1,1 juta unit. Data itu menyebutkan, terjadi lonjakan sekitar 78% dalam rentang waktu tersebut.

Oh ya, Jakarta menyumbang sekitar 14% terhadap total penjualan sepeda motor anggota Aisi tahun 2014. Tahun itu, total penjualan anggota Aisi mencapai sekitar 7,9 juta sepeda motor.

Meruyaknya sepeda motor tak bisa terlepas dari kebutuhan transportasi warga kota. Si roda dua ini dianggap mangkus dan sangkil bila dibandingkan dengan angkutan umum yang ada. Kuda besi dianggap bisa memenuhi kebutuhan untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain (pont to point). Di sisi lain, sistem pembiayaan atau mekanisme pembayaran ikut menopang keterjangkauan konsumen kepada sepeda motor. Peran lembaga multifinance amat menonjol hal itu bisa dilihat dari nyaris 90-an% pembelian sepeda motor memakai sistem kredit via multifinance.

Saking mangkus dan sangkilnya, pergeseran penggunaan angkutan umum ke sepeda motor amat drastis. Survey JUTPI menyebutkan bahwa pada 2002 penggunaan bus sebagai angkutan umum masih sekitar 38,3%. Namun, pada 2010 menyusut menjadi sekitar 12,9%.

motor melonjak di jakarta_Page_06

Ironisnya sepeda motor juga memiliki risiko cukup tinggi jika dikaitkan dengan masalah kecelakaan lalu lintas jalan. Baik itu sebagai pelaku (menabrak) atau sebagai korban (ditabrak). Pada 2014, di wilayah Polda Metro Jaya keterlibatan sepeda motor mencapai sekitar 56% dalam kecelakaan di jalan.

Untuk urusan yang ini mesti menjadi perhatian kita semua. Terlebih korban kecelakaan mayoritas adalah usia produktif. Jakarta setiap hari kehilangan dua orang akibat kecelakaan di jalan. Belum lagi yang menderita luka-luka, setiap hari 60-an orang cedera akibat petaka di jalan raya. (edo rusyanto)

Motor 250cc Kian Menggelembung

22 Februari 2015

r25-product-tumbnail_yamahacoid

TREN membeli sepeda motor bermesin 250cc menunjukkan gejala peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Entah karena daya beli konsumen yang terus membaik atau selera konsumen untuk memakai motor sport bermesin besar kian meningkat. Atau, gabungan dari keduanya yang mendorong peningkatan penjualan motor bermesin 250cc.

Sekadar ilustrasi. Pada Januari 2013, penjualan motor yang masuk kategori mesin 250cc baru tercatat sebanyak 857 unit. Angka itu menanjak ketika Januari 2014 tercatat sebanyak 1.089 unit. Dan, kiang menggelembung pada Januari 2015, yakni menjadi sebanyak 8.278 unit.

Artinya, khusus pada Januari 2015 dibandingkan Januari 2014 terjadi lonjakan drastis. Angka persisnya, melonjak sekitar 660%. Dahsyat kan?

Padahal, harga paling murah sepeda motor bermesin 250cc sebesar Rp 40-an juta per unit dan paling mahal sekitar Rp 90-an juta per unit.

Oh ya, itu semua data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Di luar kelompok ini ada pemain lain yang antara lain dari kalangan importir umum. Nah, data di luar Aisi saya belum punya angka persisnya.

Kembali lagi soal menggelembungnya penjualan motor bermesin 250cc. Siapa saja anggota Aisi yang bermain di segmen tersebut? Mari kita tengok.

Untuk Januari 2015, pemain yang paling banyak menggerojok varian 250cc adalah Kawasaki, yakni 11 varian. Sedangkan tiga pemain lainnya, yakni Yamaha, Honda, dan Suzuki yang mengandalkan satu varian. Data Aisi memperlihatkan, dalam rentang 10 tahun terakhir, Suzuki dan Kawasaki merupakan pemain utama di kelas 250cc. Hingga akhirnya suasana berubah ketika memasuki tahun ketika Honda ikut meramaikan pasar dan tahun 2014, Yamaha juga tak mau ketinggalan.

Tahun 2011, Honda memperkenalkan CBR 250 dan tahun 2014, Yamaha menggelontorkan R25. Jadilah pasar disodori dengan sekitar 17 varian motor 250cc yang dibesut para anggota Aisi.

Ngomong-ngomong, pada Januari 2015, Yamaha melejit dengan menyorongkan R25 sebanyak 5.762 unit. Sedangkan Kawasaki diposisi kedua dengan torehan 2.488 unit. Yamaha R25 menjadi raksasa baru di kelas 250cc.

Oh ya, dari total motor yang terjual pada Januari 2015, kelas 250cc memang baru sekadar icip-icip pasar. Faktanya, dari sekitar 513 ribuan unit yang digelontorkan anggota Aisi, kelas 250cc hanya berkontribusi sebanyak 1,61%. (edo rusyanto)

sumber foto dari sini

Lima Kecelakaan Bus Maut 2015

21 Februari 2015

bus laka semarang 2015_viva

foto:viva.vo.id

KITA tersentak. Kabar duka anak negeri kembali menyeruak. Belasan penumpang bus meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka akibat kecelakaan di jalan tol Gayamsari-Manyaran, Jawa Tengah.

Laman viva.co.id menulis, sebanyak 16 orang menumpang bus Sang Engon meninggal dunia setelah bus itu terguling di Tol Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah, Jumat 20 Febuari 2015. Bus diduga melaju kencang saat masuk Tol Jatingaleh menuju arah timur menuju Tol Gayamsari. Bus tak terkendali, oleng ke kanan melompati pembatas jalan dan terguling.

Petaka jalan raya yang terjadi pada Jumat, 20 Februari 2015 siang hari itu menambah deretan panjang kecelakaan maut di bumi Nusantara. Indonesia masih dirundung petaka jalan raya. Tahun lalu, 70-an jiwa anak negeri meregang nyawa setiap hari lantaran kecelakaan di jalan.

Dua bulan sudah tahun 2015 bergulir, namun sejumlah kecelakaan maut menimpa angkutan bus dan minibus di negara kita. Setidaknya tercatat lima kecelakaan maut yang merenggut 32 jiwa dan mencederai sedikitnya 99 orang. Kecelakaan maut tersebut dipicu oleh beragam faktor dan sejumlah pengemudi ditetapkan sebagai tersangka.

1). Minggu, 4 Januari 2015 – Bus nabrak minibus

Bus Setiawan bertabrakan dengan minibus di jalan berbelok ruas Jalan Raya Situbondo, Dusun Krajan, Desa Bengkak, Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Dinginnya dinihari menjadi saksi bisu bagaimana lima orang meregang nyawa dan 12 orang terluka.

Kecelakaan yang terjadi pada sekira pukul 02.30 WIB itu menyeret sang pengemudi saat itu menjadi tersangka. Mariyono, pria yang saat kejadian kedapatan mengemudi bus sejatinya adalah kondektur bus. Saat itu dia menggantikan sopir yang mengantuk. Sang sopir yang dia gantikan meninggal akibat kecelakaan tersebut.

Kepolisian Resor Banyuwangi, Jawa Timur, seperti dilansir laman tempo.co, menetapkan Mariyono sebagai tersangka. Dia dibidik dengan Pasal 310 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan.

Dugaan yang mencuat, sopir bus dan minibus memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi. Akibatnya, seperti dikutip laman tempo.co, saat berada di tikungan, kedua sopir sulit mengendalikan kendaraan sehingga terjadi kecelakaan.

2). Jumat, 9 Januari 2015 – Bus nabrak bus

Kecelakaan maut ini terjadi saat bus oleng ke kanan dan menyeberang badan jalan sehingga bertabrakan dengan bus dari arah berlawanan. Peristiwa yang terjadi pada pukul 0015 WIB itu merenggut lima korban jiwa dan melukai sekitar 18 orang lainnya.

Duka anak negeri ini terjadi di Jalan Raya Pantura Desa Tulungagung, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Laman merdeka.com menulis, Dia menjelaskan, kejadian berawal ketika Bus Kramat Jati yang dikemudikan sopir cadangan melaju kencang dari arah Cirebon menuju Jakarta. Bus oleng ke kanan dan menyeberang badan jalan dan bertabrakan dengan Bus Dedy Jaya yang datang dari arah berlawanan.

3). Senin, 26 Januari 2015 – Bus nabrak minibus

Petaka jalan raya ini diawali ketika minibus hendak mendahului truk. Namun, saat bersamaan muncul bus dari arah berlawanan sehin. Saat kejadian, minibus diduga melaju kencang dan dampak dari tabrakan minibus terbakar.

Inilah kecelakaan terburuk di kawasan Sumatera sepanjang awal 2015. Dalam tragedi di
Jalinsum Desa Firdaus Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara ini empat orang meninggal dunia. Sedangkan sebanyak 18 orang menderita luka-luka. Laman tribunnews.com menyebutkan, empat korban tewas adalah penumpang mini bus KBT.

4). Rabu, 28 Januari 2015 – Bus nabrak truk

Kawasan pantai utara (Pantura) Jawa sering mencatat terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Pada awal 2015 ini, sebuah bus menabrak truk di kawasan Pantura Lasem, Jawa Tengah.

Bus Madu Kismo K 1605 FW diduga melaju kencang mendahului kendaraan, namun dari arah depan muncul truk sehingga tabrakan tak terhindarkan. Laman radior2b menulis, petaka jalan raya ini merenggut tiga korban jiwa.

Belakangan Kepolisian menetapkan Gunawan Santoso, supir bus Madu Kismo yang berusia 42 tahun menjadi tersangka. Bus yang dikemudikannya berangkat dari Kudus untuk menuju Denpasar, Bali, belum sampai tujuan mengalami tabrakan sekitar pukul 17.30 WIB di kawasan Lasem.

5). Jumat, 20 Februari 2015 – Bus terguling

Inilah petaka paling maut memasuki tahun 2015. sebuah bus pariwisata yang disewa rombongan pengajian terguling di tol Semarang, Jawa Tengah. Laman viva.co.id menulis, sebanyak 16 orang penumpang bus Sang Engon meninggal dunia setelah bus itu terguling di Tol Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah, Jumat siang.

Bus diduga melaju kencang saat masuk Tol Jatingaleh menuju arah timur menuju Tol Gayamsari. Bus tak terkendali, oleng ke kanan melompati pembatas jalan dan terguling.

Kepolisian setempat menetapkan sang pengemudi bus Sang Engon, M Husen sebagai tersangka. Sopir yang juga ikut terluka dalam kecelakaan itu diduga lalai sehingga menimbulkan kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

Berteduh di Bawah Beringin Tua

20 Februari 2015

jalan dan pohon kota

MATAHARI tak pernah letih mengguyur energinya kepada bumi. Miliaran penduduk bumi merasakan kehangatan sumber pijar paling menyala diantara gugusan planet yang dikenal saat ini. Salah satu yang menikmati belaian sang mentari adalah sebuah pohon beringin di sudut alun-alun kota tempat Karwadian bermukim.

Masyarakat menyebut pohon beringin tua itu sebagai simbol aura kota. Bagi Karwadian, pohon itu punya kisah panjang. Sedari kecil saat diajak ayahnya ke alun-alun kota, tempat favorit yang selalu tak dilewatkan adalah bermain di bawah pohon beringin itu.

Pernah suatu ketika saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar dia bermain dengan teman sebayanya. Permainan anak-anak yang paling digemari kala itu adalah petak umpet. Anak yang kalah hompimpa akan bertugas menjaga pohon. Matanya terpejam dengan wajah ditempelkan ke batang pohon. Sedangkan yang lainnya berlarian mencari tempat bersembunyi di sekitar lapangan alun-alun yang saat sore hari ramai dijejali pedagang yang mengais rezeki. Biasanya, anak yang bertugas menjaga pohon bakal keliling hingga berkeringat untuk menemui mereka yang bersembunyi. Kadang berhasil, tak jarang gagal sehingga dia harus terus menjaga pohon hingga waktunya ada “tertangkap”.

Hampir setiap hari Karwadian melintas di depan pohon beringin itu. Sang pohon seperti menyapanya. Seperti mengajak untuk singgah dan menikmati keteduhan yang dimilikinya. Setiap mau berangkat sekolah atau sepulang sekolah dia pasti melintas di depan pohon itu. Sesekali dia berhenti untuk sekadar membeli minuman segar dari pedagang yang di dekat pohon.

Bertahun-tahun dia melihat pohon itu setia menemani warga yang ingin sekadar berteduh. Daunnya yang rindang memberi kesegaran tersendiri di tengah teriknya mentari di siang hari. Oksigen yang dikeluarkan daun-daun beringin memberi keteduhan bagi yang berada di bawahnya. Apalagi diselingi belaian angin, sempurnalah keteduhan yang disuguhkan sang pohon.

Kini, nyaris dua puluh tahun Kawardian mengembara ke seberang lautan dia kembali ke kampung halaman. Kota kecil tempat dia dibesarkan sudah amat berubah. Kenangan lama berseliweran saat menjejakan kaki di kota senja itu. Sanak keluarga maupun kerabat menyambut dengan kehangatan cinta mereka. Kian mengobati kerinduan pada kampung halaman yang selama ini ditinggalkan untuk menggapai mimpi.

“Memangnya di negeri seberang tidak ada taman kota yang nyaman yah?” Sergah Adit, kerabatnya yang menemani Kawardian menyambangi pohon beringin suatu senja.

Dia bercerita, alun-alun kota sudah berubah. Pohon beringin yang kian renta kian menyendiri di tengah derap pembangunan kota. Disana-sini tumbuh hutan beton. Di sekeliling pohon beringin tak lagi dihijaukan oleh rerumputan, tapi sudah diisi dengan paving block yang menyekat daya serap bumi terhadap tumpahan air dari langit.

“Kangen aja untuk main kesini,” jawab Karwadian sekenanya.

Senja itu keduanya bersenda gurau dan mengobati rindu sambil berdiri di dekat pohon beringin yang terus menua. Malam pun berlalu dengan nostalgia penuh cerita.

* * *

Hari kedua Karwadian mudik di kampung halaman mulai terasa membosankan. Di negeri tempatnya bermukim saat ini setiap denyut membawa gairah kehidupan kota. Disana-sini bertebaran tempat untuk mengubar adrenalin. Serigala kota tampil dengan beragam wajah termasuk di lantai bursa tempatnya menggais rezeki. Sebagai pialang muda dia tahu betul keserakahan kota dalam memangsa lawannya yang lemah. Setiap keberhasilan memetik gain dari transaksi saham harian bak auman serigala di tengah purnama. Sikuat memangsa silemah menjadi potret ekonomi liberal. Dalam bahasa teknis menjadi, salah perhitungan sedikit saja bisa membuat bisnis gulung tikar.

Siang itu Karwadian melangkahkan kaki ke alun-alun kota. Sepeda angin dia kayuh dengan irama perlahan. Di sekelilingnya berseliweran kuda besi maupun gerobak besi. Kepulan asap dan raungan suara mesin menjadi nafas baru bagi kota yang membesarkan Karwadian. Masih lekat diingatannya dua puluh tahun lalu wajah kota masih ramah dengan suara andong atau atau canda bocah di atas sepeda angin. Kini, bersepeda angin lebih menjadi gaya hidup, bukan semata kebutuhan sebagai alat transportasi. Jumlahnya terus menyusut. Sebagai gantinya, kuda besi dan gerobak besi alias kendaraan bermotor.

“Minggir mas! Jangan meleng kalau naek sepeda.”

Tiba-tiba terdengar cercaan dari seorang pengendara sepeda motor. Karwadian nyaris terserempet motor yang ditunggangi sang pemaki tadi. Rupanya sepeda kayuh Karwadian terlalu ke tengah jalan karena sisi jalan dipakai berdagang. Tak ada jalur khusus untuk pesepeda kayuh. Dia hanya bisa mengehela nafas panjang.

Karwadian memarkirkan sepedanya di bawah beringin tua setiba di alun-alun. Terik mentari membuat tenggorokannya terasa haus. Persis di sebelahnya seorang pedagang es cendol sedang melayani pembeli. Dia pun mendekati untuk memesan segelas minuman pelepas dahaga di siang bolong itu.

“Mas, es nya satu gelas yah,” seru Karwadian.

“Pakai susu gak?” Tanya sang pedagang.

Belum sempat Karwadian menjawab. Sang pedagang tadi kembali berujar.

“Loh! Kamu Wian yah? Apa kabar? Wah ada angin apa nih.”

Wian adalah panggilan akrab untuk Karwadian. Hanya teman-teman di SMA yang tahu sapaan akrab tadi.

“Eh…kamu Tikno? Bukannya kamu di Bandung?”

Tikno adalah teman satu SMA Karwadian. Sudah dua puluh tahun keduanya tak pernah bertemu. Kini waktu mempertemukan mereka di bawah pohon beringin tua.

Lazimnya dua sahabat mereka pun akhirnya mencurahkan rasa kangen dengan berbincang-bincang tentang kenangan masa lampau. Tikno adalah sahabat Kadarwian. Anaknya ramah dan selalu mampu membuat suasana menjadi hidup lewat kelakar dan pernyataannya yang membuat orang tersenyum. Selepas SMA, ketika Karwadian memilih ke negeri seberang untuk kuliah dan selanjutnya mengais rezeki, Tikno memilih kota Bandung untuk melanjutkan kuliah. Sejak itu komunikasi kian berkurang hingga akhirnya mereka sama sekali tak pernah bertemu.

“Selepas kuliah aku kerja di Bandung. Terus dapat isteri teman satu kampus. Kami menetap di kota kembang itu.”

“Kalau aku masih di negeri seberang, sekarang lagi pulang kampung, kangen. Sekarang kamu jualan es?”

“Ya. Ceritanya panjang,” sergah Tikno sambil menyodorkan gelas es cendol yang langsung diseruput Karwadian.

Tikno mulai bercerita.

Semuanya bermula dari suatu malam. Saat itu, dirinya sedang dalam perjalanan pulang seusai lembur di kantor tempatnya bekerja. Sepeda motor empat tak yang dikendarainya melaju tidak terlalu cepat. Maklum, tubuhnya terasa sedikit lelah setelah bekerja seharian. Lagi pula lalu lintas jalan masih ramai. Hingga akhirnya menjelang memasuki gang rumah kontrakan tempat dia tinggal, sebuah mobil menyeruduknya dari belakang. Brak!!!

Dua minggu dirawat di rumah sakit, proses penyembuhan luka-lukanya berjalan lancar. Tapi persoalan belum selesai. Kasus tabrakan itu pun bergulir ke meja hijau. Tikno vonis bersalah. Dalam persidangan dia terbukti tidak memberir lampu isyarat saat hendak berbelok sehingga menimbulkan kecelakaan dan menyebabkan kerusakan barang serta orang terluka. Sang pengendara mobil juga terluka walau tak separah Tikno.

“Hakim memvonis kurungan badan tiga bulan dengan masa percobaan delapan bulan,” ujar Tikno lirih.

Sejak itu, Tikno kian terpuruk. Pekerjaan yang ditekuninya selama lima tahun terakhir harus berantakan. Kehidupan ekonominya morat-marit.

“Sejak diamputasi kedua kaki ku ini, aku tak bisa lagi bekerja kantoran. Akhirnya pulang kampung dan berjualan es cendol karena hidup harus terus bergulir. Aku punya isteri dan dua anak yang kini sudah memasuki jenjang SMP,” sergah Tikno.

Suasana menjadi hening di tengah keramaian alun-alun kota. Karwadian tak bisa melanjutkan pertanyaannya. Pikirannya mengembara. Dia hanya berpikir satu hal, apa yang bisa dibantu untuk sahabatnya itu.

Pohon beringin tua masih setia menemani mereka. Sinar mentari kian menyengat. Daun-daun beringin menahan sengatan mentari merasuk ke kulit Tikno dan Karwadian.

Cipayung, Jakarta Timur, Februari 2015

(edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.739 pengikut lainnya.