Skip to content

Tiga Faktor Utama Tingginya Keterlibatan Motor Dalam Kecelakaan

20 Februari 2017

zebra-cross-diterobos-cawang2
 
KETERLIBATAN sepeda motor ternyata masih tinggi dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Mari kita tengok data dua tahun terakhir, yakni 2015 dan 2016. Lantas apa yang membuat segitu tingginya keterlibatan sepeda motor?

Sebelum menelisik alasan di balik tingginya keterlibatan sepeda motor, mari kita lihat sejenak data Korlantas Mabes Polri.

Tahun 2016, keterlibatan sepeda motor ternyata mencapai sekitar 71%. Saat itu, setiap hari setidaknya 372 sepeda motor yang terlibat kecelakaan.
Bagaimana jika dibandingkan dengan 2015? Begini.

Dari sisi jumlah sepeda motor yang terlibat kecelakaan, jumlahnya meningkat sekitar sekitar 24%. Namun, dari sisi kontribusi terjadi penurunan, yakni dari 73% menjadi 71%. Kok bisa?

Ya. Pada 2016, ada jenis kendaraan lain yang melonjak keterlibatannya dalam kecelakaan sehingga peran sepeda motor terkerek turun. Contoh, jenis kendaraan tidak bermotor melonjak sekitar 405%.

Kita akan ulas keterlibatan jenis kendaraan tidak bermotor maupun bermotor lainnya pada tulisan yang berbeda. Mari kita kembali ke sepeda motor.
Keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan masih tinggi bisa jadi dipicu oleh faktor-faktor utama berikut ini.

 
Pertama, populasi tinggi. Jumlah sepeda motor yang beredar di Tanah Air lebih tinggi dibandingkan jenis kendaraan lain. Setidaknya 80% dari total kendaraan di Indonesia adalah sepeda motor.
Di sisi lain bakal berkembang pertanyaan kenapa sepeda motor terus bertambah dan masih diminati masyarakat. Untuk hal ini bisa lebih panjang lagi ulasannya.

Kedua, lebih ringkih. Secara alamiah sepeda motor lebih mudah terjerembab dalam kecelakaan dibandingkan si roda empat atau lebih. Sepeda motor yang beroda dua lebih mudah tergelincir dibandingkan mobil. Karena itu, prinsip dasar bersepeda motor adalah menjaga keseimbangan atau kestabilan si roda dua bergerak di jalan.

Ketiga, faktor pengendara. Boleh jadi faktor pengendara ikut mendongkrak keterlibatan sepeda motor. Faktor ini mencakup ketrampilan, perilaku berkendara, dan ketaatan pada aturan yang berlaku. Tahun 2016, keterlibatan kecelakaan para pemegang surat izin mengemudi (SIM) C, yakni SIM bagi pesepeda motor, melonjak sekitar 40%. Belum lagi jika pengendaranya masih di bawah umur, rentan kecelakaan. Tahun lalu, kelompok pelaku kecelakaan tanpa SIM tercatat melonjak sekitar 47%.
 
Setidaknya ketiga faktor utama tadi yang bisa menyebabkan masih tingginya keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan. Bukan mustahil ada faktor lain. (edo rusyanto)

Jualan Apartemen Rp 400 Juta di Mal

19 Februari 2017

brosur-apartemen-di-mal-2017c

PAKAIANNYA parlente. Penampilannya juga klimis dan sering mengumbar senyum menyapa pengunjung dengan ramah. Di tangannya setumpuk brosur siap dibagikan kepada orang yang dijumpai.

“Selamat sore pak, barangkali berminat membeli apartemen. Ini brosurnya, bisa dilihat-lihat dahulu,” sergah seorang pria berkacamata dengan setelan jas warna hitam, kepada saya di Cibubur Junction, Jakarta Timur, Sabtu, 18 Februari 2017 sore.

Brosur dengan tampilan memikat pun berpindah tangan. Saya perhatikan, tampilan brosur cukup manis. “Terimakasih, saya belum ada rencana beli apartemen,” jawab saya, seraya berlalu meninggalkan area pemasaran apartemen itu.

Saat menunggu isteri berbelanja, say abaca-baca isi brosur tadi. Ternyata, apartemen Trans Park Cibubur dipasarkan dengan harga mulai Rp 400 juta per unit. Artinya, bisa jadi harganya ada yang jauh di atas itu.
Menariknya, lagi-lagi pengembang properti proyek itu mengusung jualan akses transportasi. Dari empat point keunggulan yang ditawarkan dalam brosur, tiga di antaranya terkait akses transportasi.

Pertama, apartemen itu diklaim hanya 200 meter dari jalan tol anyar. Entah jalan tol apa yang dimaksud. Setahu saya, di kawasan berdirinya proyek itu ada tol Cijago. Entah jika ada tol lain.

Kedua, lokasi proyek diklaim hanya dua menit dari pintu keluar jalan tol. Dan, ketiga, disebutkan hanya lima menit dari stasiun kereta ringan (light rail train/LRT). Lagi-lagi, entah stasiun mana yang dimaksud.

Melihat brosur seperti itu saya jadi ingat hasil survey Rumah.com yang bekerja sama dengan Intuit Research, Singapura terkait perilaku para pencari properti hunian. Survey yang dirilis di Jakarta, baru-baru ini menyatakan bahwa masalah akses transportasi menjadi faktor ketiga dari sepuluh faktor yang menentukan dalam pencarian hunian.

Akses menuju transportasi publik menjadi faktor ketiga terpenting dengan indeks 81%. Posisi ini hanya dikalahkan oleh faktor lokasi (98%) dan keamanan lingkungan (87%).

“Bagi pencari properti masa kini, sekarang bukan saatnya lagi mempertimbangkan jarak menuju tempat kerja atau transportasi publik. Waktu tempuh adalah faktor utama, karena mempertimbangkan lalu lintas yang macet dan ketidakpastian di jalan raya,” kata Country Manager Rumah.com, Wasudewan, dalam publikasinya, di Jakarta, Selasa, 14 Februari 2017 seperti dilansir Investor Daily.

Para pengembang properti kini gencar menawarkan hunian vertikal apartemen di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Khusus di Jakarta, tak kurang dari 26 ribu unit apartemen mengguyur pasar pada 2016. Sedangkan tahun ini diprediksi mencapai sekitar 28 ribu unit. Banyak yah? (edo rusyanto)

Jatuh Saat Menjarah Trotoar

18 Februari 2017

trotoar-dilibas-anton-baruna1

TERDENGAR suara yang cukup keras, gubrak! Suara datang dari arah depan. Persisnya dari sebelah kiri posisi saya.

Sumber suara keras tadi berasal dari sepeda motor yang jatuh mencium permukaan trotoar jalan. Loh?

Pria dewasa penuggang sepeda motor skutik yang jatuh tadi langsung berdiri. Seorang warga yang ada di dekat situ membantu mendirikan motor dari posisinya yang miring. Sebagian yang menyaksikan hal itu menggelengkan kepala. Entah apa maksudnya.

Bisa jadi maksudnya adalah prihatin melihat kejadian memalukan itu. Maksudnya begini. Sudah merampas hak pejalan kaki, lalu terjatuh, dan tidak mengucapkan terimakasih kepada yang menolong. Justeru nyelonong kembali melintas di trotoar jalan. Sisi kelam lalu lintas jalan kota Jakarta.

Saat kejadian lalu lintas di Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur padat merayap. Persisnya, dari PGC, Cililitan menuju pertigaan Jambul, Jakarta Timur. Cuaca saat itu hujan. Mereka yang enggan antre berbondong-bondong menjarah trotoar jalan. Salah satu pelakunya terjatuh.

Keengganan untuk antre di tengah kemacetan lalu lintas jalan membuat sebagian pesepeda motor mencari jalan pintas. Salah satu pilihan yang memprihatinkan adalah melintas di trotoar jalan. Pelanggaran aturan jalan yang satu ini mencerminkan kedisiplinan yang buruk.

Di sisi lain, pesepeda motor melintas di trotoar jalan memperlihatkan keangkuhan. Bagaimana tidak, trotoar jelas-jelas merupakan hak pedestrian. Hak yang dilindungi oleh Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Saat sepeda motor meluber ke trotoar hak pejalan kaki tercabik-cabik.

Bila toleransi di jalan raya seperti itu sudah pupus, kita melihat benih intoleransi dalam kehidupan bermasyarakat lainnya.

Bila mengambil hak orang lain dianggap lumrah, hanya soal waktu kita terperosok dalam kubangan masalah. Misal, gesekan sosial antara pejalan kaki dengan sang perampas hal. Bahkan, bukan mustahil memicu terjadi insiden maupun kecelakaan lalu lintas jalan.

Bekal untuk memangkas perilaku merampas hak sesama pengguna jalan adalah akal sehat dan nurani. Menghargai sesama pengguna jalan dicerminkan dengan sudi berbagi ruas jalan. Dan, tentu saja menaati aturan lalu lintas jalan yang berlaku.

Keadaban kita sebagai manusia terlihat dari kesudian kita menjaga hak dan kewajiban sesuai porsinya. Sekali lagi, modal dasarnya adalah selalu menggunakan akal sehat dan nurani. Lewat itu barulah kita bisa mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas. (edo rusyanto)

foto:istimewa

Belajar Dari Perempuan Pengendara Fortuner

17 Februari 2017

macet-perempatan-kuningan-jaksel1

ARUS kendaraan bermotor padat merayap. Deru mesin dan knalpot bersahutan dilengkapi dengan asap yang mengepul ke udara. 

Suasana seperti itu menjadi pemandangan rutin. Itulah suasana di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Kawasan bisnis super ramai di Jakarta. Hampir sepanjang hari terjadi kemacetan lalu lintas jalan. Entah itu pagi, siang, maupun sore hari. Maklum, namanya juga kawasan bisnis. 

Pemandangan seperti itulah yang saya jumpai, Kamis, 16 Februari 2017 siang. Beragam kendaraan bermotor tumpah ruah. Arus kendaraan tersendat. Posisi saya di kiri jalan bersama sepeda motor lainnya, termasuk para pengojek sepeda motor berbasis aplikasi. 

Di tengah itu semua, tiba-tiba di depan saya tampak ojek berbasis aplikasi terjatuh. Kurang jelas apa penyebab dia jatuh. Pastinya, sang pengendara dan penumpangnya sama-sama terjatuh. 

Pengojek serupa yang persis di belakangnya langsung membantu mengangkat sepeda motor yang rebah di aspal. Sang pengendara bisa bangkit sendiri, demikian juga perempuan penumpang ojek berjaket hijau itu. Sang perempuan tampak meringis dan mengibas-ngibaskan jemari tangan. Amat mungkin dia merasa nyeri. 

Posisi saya sekitar tiga meter di belakang kejadian itu. Pertanyaan soal apa yang membuat sang pengojek jatuh masih menggelayut di kepala. 

“Jatuh nyenggol mobil pak,” sergah pengojek yang menolong, menjawab pertanyaan saya, siang itu. 

Tapi, kenapa nyenggol mobil? 

“Bapaj ngantuk, sampe nyenggol mobil saya,” tanya perempuan berkulit kuning langsat kepada pengojek yang menyenggol mobilnya. 

Tampak ada kecemasan di raut wajahnya. Entah kecemasan akan kondisi sang pengojek, atau kecemasan atas kondisi mobilnya. Tidak ada yang tahu.

Dialog itu persis di hadapan saya yang tertahan oleh antrean saat proses evakuasi sang pengojek dari aspal berlangsung. Saya lihat sang pengojek tidak menjawab dengan lugas, justeru dia dengan penumpangnya langsung melenggang meneruskan perjalanan. 

Sang perempuan pengemudi mobil Toyota Fortuner berwarna hitam pun tampaj maklum. Usai mengecek titik bentur di mobilnya, dia pun kembalik ke balik kemudi. Posisi mobil yang berhenti di kiri jalan seraya menyalakan lampu hazard menimbulkan antrean. Sejumlah pengendara yang mungkin tidak tahu sedang ada kejadian apa, menyalakan klakson sehingga situasi jadi riuh rendah. 

Bagi saya, sikap santun perempuan pengemudi Fortuner itu layak diapresiasi. Dia tidak perlu berteriak memaki mengumbar amarah. Justeru memperlihatkan sikap turut empati atas sang penyenggol mobilnya. Jakarta masih punya toleransi di jalan dari sosok perempuan pengemudi Fortuner tadi. (edo rusyanto)

Menikmati TPS di Bawah Pohon Rambutan

16 Februari 2017

tps-jaktim-pohon-rambutan2

CUACA kota Jakarta pagi itu cerah. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang diguyur hujan.

Sejak awal Februari 2017 Jakarta seakan tak henti diguyur hujan. Maklum, kata orang jika dekat dengan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 28 Januari 2017, hujan sebagai penanda rezeki biasanya selalu hadir. Dan, ternyata betul. Hujan terus berdatangan.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Rabu, 15 Februari 2017 pagi, cuaca cerah. Di kampung tempat saya tinggal di Jakarta pinggiran, orang-orang berduyun-duyun mendatangi tempat pemungutan suara (TPS). Dari rumah saya, lokasi TPS sekitar 200 meter. Ada apa?

Ya. 15 Februari 2017 menjadi hari bersejarah bagi warga Jakarta karena hari itu merupakan hari pemilihan kepala daerah (pilkada). Warga datang ke TPS untuk memilih pasangan calon (paslon) gubernur. Kali ini ada tiga paslon, yakni Agus Harimurti Yudhoyono dan Silvy Murni (AHY-Silvy), Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), serta Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi).

Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB saya pun bergegas ke TPS yang letaknya di halaman rumah ketua RT. Saat saya tiba, puluhan bahkan mungkin seratusan warga sudah antre untuk mencoblos. Mereka berdiri di bawah rindangnya pohon rambutan. Sebagian lagi duduk di kursi plastik warna hijau. Sedangkan mereka yang namanya sudah dipanggil panitia dipersilakan duduk di kursi yang ada di bawah tenda, persis di depan bilik suara.

Di bagian lain, jajaran sepeda motor tampak terparkir. Saya menduga kuda besi itu milik warga yang hendak mencoblos. Sepenglihatan saya, mereka yang datang mengendarai sepeda motor mayoritas tidak memakai helm pelindung kepala. “Cuma dekat saja kok jaraknya,” seloroh sang warga saat berbincang dengan saya, Rabu, 15 Februari 2017 pagi.
tps-papan-pilkada-2017a
Ya, kalimat itu sering saya dengar, ‘hanya jarak dekat jadi tidak perlu pakai helm.’ Entah itu alasan sesungguhnya atau sekadar pembenaran. Pernah pada suatu ketika saya berbincang soal kalimat itu ternyata ada lanjutannya. Misal, tidak ada yang menilang karena tidak ada polisi. Hemmm…

Sekitar 45 menit mengantre giliran, akhirnya tiba giliran saya mencoblos. Sang petugas TPS meminta ponsel tidak dibawa ke bilik suara seraya menyerahkan kertas suara dengan memperlihatkan bahwa kertas itu masih bersih. Tak perlu waktu lama, coblos, lipat, lalu masukan ke kotak suara. Tak lupa setelah mengambil ponsel yang tadi dititipkan, saya mencelupkan jari tangan ke tinta yang sudah disediakan sebagai tanda telah memberikan hak suara. Beres.

Saat hendak pulang ke rumah, jajaran sepeda motor yang terparkir masih tampak. Namun, jumlahnya sudah berkurang. Lagi-lagi, mayoritas yang datang dan pergi tidak memakai helm. (edo rusyanto)

Sosok Perempuan di Balik Kenaikan Santunan Kecelakaan

15 Februari 2017

sri-mulyani-indrawati_ist

DALAM sebuah seminar ekonomi di Jakarta, belum lama ini, seorang pria parlente berbisik kepada saya, “Seminar ini bintangnya adalah ibu menteri keuangan.”

Pernyataan dia tidak keliru. Ruangan seminar penuh sesak oleh peserta yang datang dari beragam kalangan. Ada bankir, praktisi bisnis, pemain pasar modal, pengembang properti hingga para jurnalis. Namun, setelah sang menteri usai memberi sambutan dan paparan, jumlah peserta menyusut.

“Ibu Sri Mulyani itu cerdas dan menarik,” sergah pria muda itu lagi yang saya timpali dengan tersenyum.

Ya, perempuan bernama lengkap Sri Mulyani Indrawati adalah menteri keuangan di era Presiden Joko Widodo yang saat ini sedang berkuasa. Perempuan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu dipilih karena dianggap mampu menggairahkan perekonomian dan menstabilkan neraca keuangan pemerintah.

Ibu tiga anak kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962 itu selalu tampil sederhana. Setidaknya itu yang saya lihat dalam beberapa kesempatan, termasuk terakhir dalam sebuah seminar di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Saat itu, bahkan dia sempat berseloroh bahwa Indonesia adalah penghasil mutiara bagus-bagus, tapi gelang Menteri Keuangan hanya kecil.

Perempuan yang pernah menjadi Direktur Eksekutif IMF lahir dari keluarga berpendidikan. Kedua orang tuanya adalah professor dan guru besar di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah.

Kecerdasan Sri Mulyani memukau dua presiden Indonesia. Ketika Susilo Bambang Yudyono berkuasa, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara itu pun didaulat sebagai menteri keuangan. Begitu juga ketika Joko Widodo berkuasa saat ini, perempuan pemilik gelar doktor dari University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat itu diminta sebagai menteri keuangan.

Nah, lewat tangan Sri Mulyani Indrawati negara kita punya catatan sejarah penting terkait keselamatan berlalu lintas jalan. Persisnya, terkait besaran santunan bagi korban kecelakaan.

Pada 2008, saat menjadi menteri keuangan bagi kabinet SBY, Sri Mulyani menaikkan santunan bagi korban meninggal dari Rp 10 juta menjadi Rp 25 juta. Kini, dalam kabinet Jokowi, yakni pada 2017, dia menaikkan lagi dari Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta. Santunan bagi korban kecelakaan dibayarkan oleh PT Jasa Raharja selaku perpanjangan tangan pemerintah.

Kementerian Keuangan dalam siaran persnya, Senin, 13 Februari 2017 menyatakan, peningkatan santunan dimaksud termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15/PMK.010/2017 tentang Besar Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Penumpang Umum di Darat, Sungai/Danau, Feri/Penyeberangan, Laut, dan Udara (PMK Nomor 15/2017). Selain itu, termuat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.010/2017 tentang Besar Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (PMK Nomor 16/2017).

img_20170214_005031
Kedua PMK tersebut di atas merupakan penyesuaian dari Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37/PMK.010/2008 tentang Besar Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Penumpang Umum di Darat, Sungai/Danau, Feri/Penyeberangan, Laut dan Udara. Selain itu, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 36/PMK.010/2008 tentang Besar Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.

Kebijakan menaikkan 100% santunan bagi korban meninggal dunia itu berlaku 1 Juli 2017. Sedangkan besaran Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) besarannya tetap alias tidak naik.

Selain santunan kepada ahli waris korban kecelakaan yang meninggal dunia, PMK tahun 2017 itu menyebutkan bahwa penggantian biaya perawatan dokter naik 100%. Lalu; penggantian biaya penguburan (jika tidak ada ahli waris) naik 100%. Selain itu; manfaat baru berupa penggantian biaya ambulans dan penggantian biaya pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). (edo rusyanto)

foto:istimewa

Pria Ini Berani Menghadapi Arogansi Patwal

14 Februari 2017

catur-fb-patwal-arogan

AROGANSI kekuasaan di jalan raya dapat dengan mudah dijumpai saat ini. Inti dari keangkuhan itu bermuara pada minta diprioritaskan. Sedikit yang berani melakukan perlawanan.

Salah satu dari yang sedikit itu adalah pemilik akun media sosial facebook Prasetyo Dewanto. Dua hari lalu dimencantumkan nama saya dalam daftar nama yang ingin dia bagikan kronologisnya. Saya pun membaca hingga tuntas, tentu sekakigus mengomentarinya.

“Emosi jadi awal segalanya. Tahu aturan aja ternyata belum cukup. Terimakasih infonya. Btw, kadang ada petugas yg lupa, pengawalan belum tentu dapat prioirtas. Lagi2, juga ada yg lupa, prioritaskan yg genting, bukan yg penting.,” tulis saya di akun facebook dia.

Dia menimpali, “Kalimat yang selalu saya ingat prioritaskan yang genting bukan yang penting (wawancara trans tv-waktu tu).”

Hal serupa saya lontarkan saat wawancara di stasiun televisi TV One.

Pengalaman Dewanto menarik publik bahkan media massa. Pria itu terpaksa mengahadapi perilaku petugas pengawalan pejabat tinggi yang dia nilai arogan. Bagaimana tidak, tulisnya, saat dia sudah tidak bisa meminggirkan kendaraannya lagi untuk memberi ruang bagi rombongan pejabat itu mobilnya diseruduk sang patwal. Tak berhenti disitu ada kalimat verbal yang arogan, bahkan sampai keluar pertanyaan dari mulut sang petugas, “Anda siapa? ”

Sebuah pertanyaan konyol. “Bukan cuma itu, muka saya ditunjuk-tunjuk,” papar Dewanto.

Tak terima perlakuan kasar itu kasus pun berlanjut. Ada permintaan untuk menyelesaikan sengketa tadi di kantor sang pejabat tinggi tadi. Dewanto menghadapinya. Selengkapnya kronologis tersebut bisa dibaca di bagian bawah tulisan ini.

Ngomong-ngomong sosok Dewanto tak asing bagi saya. Pria jebolan Universitas Indonesia itu saya kenal sekitar 27 tahun lalu.

Saya pernah nebeng di kost pria bertubuh gempal tersebut. Lewat dia pula saya belajar soal ketegasan dan menulis. Termasuk tentu saja belajar kenakalan anak muda saat itu.

Maklum, selain aktivis mahasiswa pecinta alam, Dewanto yang akrab disapa Catur itu merupakan aktivis pers mahasiswa. Seingat saya dia pun pernah bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah terbitan Jakarta.

Praktis, tak perlu mengajari dia soal membangun kredibilitas dan obyektifitas.

Soal arogansi di jalan raya umumnya dilakukan oleh mereka yang merasa memiliki kekuasaan atau kekuatan hukum, politik, sosial hingga ekonomi. Siapa pun dia bisa arogan. Lihat saja bagaimana arogannya pengguna jalan yang merampas hak penumpang bus di jalur bus Trans Jakarta. Atau, sopir angkot yang memindahkan penumpangnya ke mobil lain karena enggan masuk ke terminal.

busway-dijarah

Arogansi Patwal

Dua (2) kali saya berurusan dengan Pasukan Pengawal (Patwal) pejabat. Kebetulan pejabat yang sama yaitu B 63 RI. Kejadian pertama pada awal tahun 2016 di kemacetan tol Kebun Jeruk. Patwal itu meminta agar saya meminggirkan kendaraan dengan sirene meraung-raung. Posisi saya ada paling kanan sebelah sparator yang tidak memungkinkan minggir ke kanan. Minggir ke sebelah kiri juga tidak mungkin, karena banyak kendaraan. Karena tidak mungkin minggir, saya buka jendela dan berkata “enggak mungkin,”. Patwal itu dengan keras menjawab “anda siapa!” (cerita itu sudah saya share di sosial media).

kejadian kedua pagi ini jam 09.00 (130217) turunan setelah fly over Tomang menuju cideng sebelum lampu merah jalan Biak. Saya mengendarai perlahan karena memang macet dan mengambil lajur paling kanan. Didepan ada truk ukuran sedang. Mendadak dibelakang ada bunyi sirene dilajur yang sama. Posisi saya ada di depan dua kendaraan pribadi lainnya. Saya tidak mungkin minggir kekiri karena ada kendaraan, ke kanan mentok sparator. Kalau mau minggir saya menunggu atau mengikuti truk didepan. Baru saja terpikir seperti itu terdengar benturan keras dari belakang, bukan sekali tapi dua kali. Saya menghentikan kendaraan.

polisi itu dengan pongahnya mengatakan saya tidak mau minggir. Saya minta dia bertanggung jawab, namun dia bersikeras tanya “saya siapa”. Emosi hampir tak terkendali, termasuk istri saya. Saling tunjuk muka dengan tepisan tangan. Alhasil tangan saya sedikit terluka. Saya minta agar diselesaikan. Polisi itu menunjuk ke belakang mobil B 63 RI. Jendela dibuka, pejabat itu bilang selesaikan di kantor Mahkamah Konstitusi. Rupanya dia adalah Wakil Mahkamah Konstitusi Dr. Anwar Usman. Saya minta agar istri saya memotret semua pihak.

Akhirnya saya mengikuti ke Mahkamah Konstitusi. Saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan di parkir basement. Disana sudah ada patwal tadi yang ternyata namanya Punky (tidak menyebut pangkatnya) dan tiga orang yang memakai baju safari. Orang pertama memperkenalkan diri sebagai atasannya yaitu Iptu Dani (terakhir mengatakan dia juga ajudan) dan Amir (ajudan wakil ketua MK) dan seorang lagi entah siapa.

mereka meminta saya menceritakan kronologinya. Saya ceritakan kembali dengan menggambarkannya diatas kertas. Patwal itu pun menceritakan alasannya, saya dituduh tidak mau minggir. Saya bersikeras bukannya tidak mau minggir tapi situasinya tidak memungkinkan. Saya meminta kalau mau diselesaikan ke pengadilan ayo silahkan. Terakhir Iptu Dani menyarankan berdamai. Saya bilang oke damai, tapi jelaskan pasal berapa saya melanggar dan pasal berapa seorang patwal berhak menabrakkan kendaraannya ke mobil pribadi yang situasinya tidak memungkinkan untuk minggir.

Iptu itu mengatakan, memang tidak ada peraturannya seorang patwal menabrakkan kendaraannya. Iptu itu kembali menawarkan damai sembari meminta maaf atas kejadian tersebut di sertai biaya ganti rugi. Namun ganti rugi itu saya tolak karena bukan tujuan saya. Saya hanya ingin mengetahui apakah dibenarkan dan ternyata jawabannya adalah tidak dibenarkan seorang patwal menabrak mobil pribadi, apalagi ada niat untuk meminggirkan kendaraan.

alih-alih Patwal itu meminta maaf, dia mengatakan dia harus cepat karena permintaan pejabat yanh mau ada rapat (pengadilan). Rekan patwal juga mengatakan kalau rumah patwal itu di Depok dan harus memberi pengawalan pejabat tadi dari Serpong-Mahkamah Konstitusi. Saya menyimak, oke lupakan semua perkataan, karena saya dan patwal sama-sama lelah (saya lelah karena kemacetatan, dan patwal lelah karena jauh) sehingga tersulut emosi. Saya minta penegasan sekali lagi, apakah saya salah dan melanggar pasal berapa? kemudian apakah dibenarkan patwal menabrak kendaraan didepannya. Jawabnya sekali lagi, saya tidak salah dan tidak dibenarkan seorang patwal untuk menabrakkan kendaraannya.

akhirnya saya menerima permintaan maaf dan mengatakan akan menceritakan ini di sosial media agar publik mengetahui. Mereka awalnya tidak memberi ijin. Namun saya bersikeras agar tidak ada lagi arogansi patwal di jalan raya. Akhirnya mereka mengatakan, silahkan pak. (edo rusyanto)