Skip to content

8 Lokasi Ranjau Paku di Jakarta

15 Februari 2016

paku temuan pmj feb 2016

PERNAH suatu malam beberapa tahun lalu, ban sepeda motor saya gembos. Ada paku berukuran cukup besar menancap di ban belakang tubeless saya. Malam itu terpaksa diisi dengan aksi mendorong motor mencari tempat tambal ban.

Kondisi ban yang bocor akibat tertancap paku membuat pengendara kerepotan. Dan, bukan mustahil mengusik rasa aman dan mengganggu keselamatan pengendara.

“Tebaran ranjau paku di jalan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas,” tegas Kasubdit Bin Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulisnya di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menuturkan, menebar ranjau paku di jalan merupakan tindak pidana kejahatan yang dapat menimbulkan bahaya bagi keamanan dan keselamatan lalu lintas. Karena itu, kata dia, sang pelaku bisa dikenai pidana penjara selama sembilan tahun.

Budiyanto menjelaskan, ada delapan lokasi yang rawan ranjau paku di Jakarta;

1.Jln Suryopranoto, Jakarta Pusat.
2.Jln Juanda, Jakarta Pusat.
3.Jln .Merdeka Utara, Jakarta Pusat
4.Jln.Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
5. Cengkareng, Jakarta Barat.
6.Tomang Slipi, Jakarta Barat.
7.Jln.Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
8.Jln.DI.Panjaitan, Jakarta Timur.

Mari kita terus waspada dan fokus ketika berkendara. (edo rusyanto)

Ini Lima Jurus Polisi Atasi Kemacetan dan Kecelakaan di Jakarta

14 Februari 2016

lalin jakarta

KEMACETAN dan kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta seakan enggan menyingkir. Keduanya selalu hadir mengiringi hari dan geliat kota yang tak pernah tertidur itu.
Khusus soal kecelakaan, pada 2015, kasus kecelakaan meningkat sekitar 8% menjadi sekitar 18 kasus per hari.

Kasubdit Bin Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulis yang saya terima, di Jakarta, Sabtu (13/2) siang, menyebutkan bahwa kemacetan merupakan situasi klasik, terutama di kota-kota besar termasuk Jakarta yang sampai sekarang belum terpecahkan secara maksimal.

Menurut dia, berbicara masalah lalu lintas dan angkutan jalan bukan sekadar perpindahan orang, barang, dan kendaraan pada ruang lalu lintas. Namun, mencakup dimensi yang lebih luas karena berhubungan dengan urat nadi kehidupan, cermin budaya, dan modernitas.
Jakarta dan sekitarnya, yakni Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), kini dihuni 18,7 juta kendaraan bermotor. Jangan bandingkan dengan tahun 1970-an yang tentu saja populasi penduduk dan pertumbuhan ekonominya tak sedahsyat saat ini. “Tahun 2015, jumlah kendaraan bermotor tumbuh 7%,” papar dia.

Budiyanto menuturkan, problematika yang terjadi di kota-kota besar termasuk Jakarta adalah masalah kemacetan yang dilatar belakangi berbagai faktor. Pertama, perkembangan kendaraan bermotor yang sulit dikendalikan, yakni berkisar 7-9% per tahun. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur hanya berkisar 0,01% per tahun. “Sehingga sering dihadapkan kepada volume kendaraan melebihi kapasitas jalan,” tegasnya.

Kedua, masih ada infrastruktur yang digunakan tidak pada peruntukannya. Contohnya, kata dia, trotoar yang seharusnya digunakan untuk pedestrian justeru digunakan untuk pedagang kaki lima dan pangkalan ojek.

Ketiga, kesadaran masyarakat pengguna jalan relatif masih rendah. Sebagai contoh, pada saat dihadapkan situasi macet, pengguna jalan saling serobot dan melawan arus. “Keempat, sinergitas pemangku kepentingan belum berjalan maksimal,” ujarnya.

Kelima, Forum Lalu Lintas sebagai wahana untuk membahas permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan belum berjalan maksimal. Dan, keenam, penegakan hukum belum maksimal.

Karena itu, ujar Budiyanto, pihaknya mengusulkan solusi mengatasi kemacetan yang mencakup;

Pertama, pengendalian pertumbuhan kendaraan bermotor, disesuaikan dengan perkembangan pembangunan infrastrutur.

Kedua, membangun kultur masyarakat untuk tertib hukum dengan melibatkan seluruh para pemangku kepentingan (stake holders) dengan melakukan edukasi pada kelompok masyarakat yang terorganisasi maupun tidak.

Ketiga, membangun sinergitas yang kuat pada seluruh stake holders dengan mengesampingkan ego sektoral.

Keempat, harus ada komitmen yang kuat dari semua pilar penegak hukum sehingga menghasilkan nilai tambah pada kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan,” tegas dia.

Kelima, Forum Lalu Lintas sebagai wahana untuk membahas permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan supaya dimaksimalkan. (edo rusyanto)

Polisi Akui Penegakan Hukum di Jalan Belum Maksimal

13 Februari 2016

trail polisi

JALAN raya di Jakarta dan sekitarnya masih diwarnai kecelakaan lalu lintas jalan. Bahkan, pada 2015, kasus kecelakaan meningkat sekitar 8% menjadi sekitar 18 kasus per hari.

Kecelakaan demi kecelakaan yang terjadi dinilai sebagai ekses dari pertumbuhan kota yang kian modern. Maksudnya, pertumbuhan ekonomi yang mendorong daya beli membuat jumlah kendaraan bermotor pun ikut menggeliat. Jakarta dan sekitarnya, yakni Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), kini dihuni 18,7 juta kendaraan bermotor. Jangan bandingkan dengan tahun 1970-an yang tentu saja populasi penduduk dan pertumbuhan ekonominya tak sedahsyat saat ini.

“Tahun 2015, jumlah kendaraan bermotor tumbuh 7%,” papar Kasubdit Bin Gakum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulis WA nya kepada saya, di Jakarta, Sabtu, 13 Desember 2016 siang.

Meruyaknya jumlah kendaraan bermotor di wilayah Polda Metro Jaya berdampak pada terus terjadinya kecelakaan di jalan. Selain, tentu saja berdampak pada kemacetan lalu lintas jalan. Khusus soal kecelakaan, kita tahu bahwa mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku para pengguna jalan, yakni berkendara tidak tertib dan lengah.

Dalam menekan perilaku tidak tertib fakta juga memperlihatkan bahwa setiap ada operasi razia jumlah pelanggaran menurun. Artinya, bila pelanggaran dapat ditekan bkan mustahil celah terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan juga bisa merosot. Namun, penegakan hukum di jalan raya masih jauh dari harapan masyarakat.

“Penegakan hukum belum maksimal,” tegas Budiyanto.

Tapi, kata dia, di bagian lain kesadaran masyarakat pengguna jalan relatif masih rendah. Dia mencontohkan, pada saat dihadapkan pada situasi macet, saling serobot, dan melawan arus. Akibatnya, jumlah pelanggaran.dan.kecelakaaan relatif tinggi.

“Tahun 2015, jumlah kendaraan yang terlibat pelanggaran naik 19%,” paparnya.
Budiyanto punya solusi. Dia menyebutkan bahwa perlu terus membangun kultur masyarakat untuk tertib hukum dengan melibatkan seluruh para pemangku kepentingan (stake holders) dengan melakukan edukasi pada kelompok masyarakat yang terorganisasi maupun tidak.

Lalu, membangun sinergitas yang kuat pada seluruh stake holders dengan mengesampingkan ego sektoral. “Dan, harus ada komitmen yang kuat dari semua pilar penegak hukum sehingga menghasilkan nilai tambah pada kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan,” tegas dia. (edo rusyanto)

Tujuh Pelat Nomor yang Bakal Ditindak Polantas

12 Februari 2016

polantas cawang

KENDARAAN bermotor yang memakai pelat nomor tak sesuai ketentuan bakal ditindak. Tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) alias pelat nomor telah diatur dalam UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

“Akan dilakukan penindakan terhadap kendaraan bermotor yang menggunakan TNKB tidak sesuai dengan SPEKTEK,” kata Kasubdit Bin Gakum Ditlantas PMJ, AKBP Budiyanto, dalam pesan tertulis WA yang saya terima Kamis, 11 Februari 2016 malam.

Menurut dia, berdasarkan pengamatan di lapangan masih banyak ditemukan kendaraan bermotor yang menggunakan TNKB tidak sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. “Sehingga memberikan kesan masyarakat kepada petugas Polantas kurang profesional karena membiarkan atau tidak mau/mampu menertibkan,” tuturnya.
Budiyanto menjelaskan, penggunaan TNKB yang tidak sesuai ketentuan mencakup;

1.TNKB yang hurufnya diatur, angka diubah supaya terbaca/angka diarahkan
kebelakang sehingga terbaca nama.

2.TNKB yang hurufnya diubah seperti huruf digital.

3.TNKB ditempel stiker / logo /lambang Kesatuan/Instansi yang terbuat dari plastik/logam/kuningan pada kendaraan pribadi, seolah-olah kendaraan pejabat.

4.TNKB yang menggunakan huruf miring dan huruf timbul.

5.TNKB yang dibuat diluar ukuran (terlalu besar/terlalu kecil).

6.TNKB diubah warna / doff dan ditutup mika sehingga warna berubah.

7.TNKB yang huruf angkanya sebagian ditebalkan dan sebagian dihapus dengan cat pilox sehingga nomor asli tersamar warna catnya atau sulit untuk dibaca.

Menurut dia, pada pertengahan tahun 2014 terjadi perubahan tampilan pelat nomor. Kini, pelat nomor sedikit diperpanjang ukurannya, yakni ditambah 5 centimeter dari pelat nomer sebelumnya. Perubahan pelat dilakukan karena ada penambahan menjadi tiga huruf di belakang nomor. Contoh B xxxx GFW, sementara sebelumnya hanya dua huruf, contoh B xxxx HK. “Dengan diperpanjang pelat tersebut, jarak antara nomor dan huruf pada pelat lebih luas sehingga mudah terbaca,” jelas Budiyanto.

Dia menjelaskan, pelat TNKB baru memiliki lis putih di sekeliling pelat. Lalu, antara nomor TNKB dengan masa berlaku TNKB, tidak diberi pembatas lis putih. Di pelat ada dua baris, yakni baris pertama yang menunjukan kode wilayah kendaraan. Nomor polisi dan kode seri akhir wilayah. Sedangkan baris kedua menunjukkan masa berlaku pelat nomor.

“Ukuran TNKB untuk kendaraan roda 2 dan 3 sekarang menjadi 275 mm dengan lebar 110 mm, sedangkan kendaraan roda 4 atau kebih adalah panjang 430 mm dengan lebar 135 mm,” katanya.

Lantas, apa sanksinya?

“Kendaraan bermotor di jalan yang tidak dipasangi TNKB yang ditetapkan oleh Kepolisian RI dipidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu,” tegas Budiyanto.

Gede juga yah dendanya? (edo rusyanto)

Ini Senggolan di Jalan yang Berdampak Fatal

11 Februari 2016

jenazah_shutterstock

JALAN raya punya sejuta misteri. Ada kisah relawan yang rela mendedikasikan waktu memunguti ranjau paku demi kenyamanan pengguna jalan. Bahkan, ada kisah runtuhnya tiang ekonomi karena kepala keluarga direnggut petaka jalan raya. Dari beragam kisah itu kita memetik satu pelajaran berharga, senantiasa waspada ketika berkendara.

Kisah Ramantyo, kita sapa saja demikian, menjadi salah satu misteri di jalan raya. Semua berawal ketika pria beristeri itu menunggang kuda besi di jalan raya. Siang itu lalu lintas jalan terpantau ramai lancar. Cuaca pun terlihat cerah dengan sedikit awan menghiasi langit. Dia pun melaju dengan kecepatan normal, yakni 50 kilometer per jam (kpj).

Di salah satu titik jalan yang dilintasinya, Ramantyo dikejutkan oleh kehadiran pedestrian. “Saya melihat, tapi karena sudah dekat sulit menghindar,” urainya.

Kejadian selanjutnya adalah sang pedestrian tersenggol oleh setang sepeda motor bagian kiri. Kuda besi terjatuh, terlebih sang pedestrian. Orang-orang pun sibuk menolong pedestrian yang terluka di kepala.

Pertolongan yang diberikan untuk mengobati luka pedestrian tak membuahkan hasil maksimal. Nasib berkata lain, sang pedestrian meninggal dunia. Ramantyo pun bertemu dengan pihak keluarga korban sebagai rasa empati, termasuk memberi sejumlah santunan. Selain itu, membuat perjanjian damai dengan keluarga korban. Bahkan, dalam salah satu surat perjanjian itu keluarga korban tak akan menuntut sang pelaku kecelakaan. Belakangan surat perjanjian itu meringankan Ramantyo atas vonis yang dibuat oleh majelis hakim.

Ya. Senggolan yang berakibat fatal tersebut membawa Ramantyo ke meja hijau. Setelah melewati sejumlah proses persidangan, keputusan akhir majelis hakim menetapkan bahwa pria muda itu dipidana penjara enam bulan dengan masa percobaan 10 bulan.

“Pidana yang dijatuhkan bukan untuk menurunkan derajat manusia, akan tetapi bersifat edukatif, motifatif agar terdakwa tidak melakukannya lagi, serta preventif bagi masyarakat lainnya serta sebagai pelajaran agar masyarakat untuk tidak melakukan tindak pidana tersebut,” tutur majelis hakim.

Oh ya, Ramantyo dijerat dengan pasal 310 ayat (4) Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Aturan itu dengan tegas membidik sang pelaku kecelakaan dengan sanksi hukuman pidana dan denda. (edo rusyanto)

Waspada, Pesepeda Motor Lebih Rawan Menjadi Korban

10 Februari 2016

transjakarta laka mampang 2015

FAKTA memperlihatkan bahwa pesepeda motor rawan menjadi korban kecelakaan. Paling gres adalah ketika pasangan suami isteri Zulkahfi diseruduk mobil Fortuner di Jakarta. Pasangan suami isteri itu meninggal dunia dan sopir mobil ditetapkan sebagai tersangka.

Banyak contoh lain bagaimana pesepeda motor menjadi korban kecelakaan lalu lintas jalan. Artinya, sang pesepeda motor ditabrak oleh kendaraan lain, misalnya mobil pribadi, angkutan umum, atau angkutan barang.

Masih di Jakarta, contoh yang cukup tragis juga adalah ketika satu keluarga diseruduk angkutan umum Kopaja di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Pasangan suami isteri tewas akibat diseruduk bus mini itu, sedangkan sang anak menderita luka-luka.

Begitu juga ketika mobil boks angkutan barang menyeruduk beberapa pesepeda motor di kalangan Ciledug. Mobil boks merenggut beberapa korban jiwa di pagi menjelang Idul Adha. Baik sopir Kopaja dan mobil boks akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Tiga petaka jalan raya itu memperlihatkan bahwa kita para pesepeda motor tak boleh lengah, apalagi ugal-ugalan. Melipatgandakan kewaspadaan menjadi mutlak di tengah demikian kejamnya sang jagal jalan raya. Kita semua tahu bahwa setiap hari rerata 70-an jiwa tewas akibat kecelakaan di jalan.
Fakta data yang dilansir Korlantas Polri memperlihatkan bahwa dari 250-an kasus kecelakaan per hari, sepeda motor yang terlibat mencapai sekitar 73% dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan. Sekali lagi, data itu menunjukan kendaraan yang terlibat kecelakaan. Bukan merujuk pada jumlah korban yang ditimbulkan oleh kecelakaan.

Secara alamiah, sepeda motor lebih ringkih untuk terjerembab. Maksudnya, mengingat sepeda motor yang beroda dua cenderung lebih mudah tergelincir atau terjatuh. Keseimbangan kendaraan amat berbeda dengan kendaraan roda empat atau lebih. Lalu, pesepeda motor berisiko lebih fatal karena pengendara akan berbenturan langsung dengan obyek lain ketika terjebak dalam kecelakaan. Berbeda dengan pengendara mobil yang dilindungi oleh besi.

Kira-kira begini, sepeda motor adalah besi dibungkus daging, sedangkan mobil adalah daging dibungkus besi. Jelas, pesepeda motor lebih ringkih. (edo rusyanto)

Titip Pesan Untuk Insan Pers Indonesia

9 Februari 2016

tvone berita soal laka

PENULISAN berita dipengaruhi beragam kepentingan termasuk ekonomi dan politik. Sejarah membuktikan fakta harus diusung sebagai landasan utama sebuah berita.

Berbeda dengan opini. Dia lahir dari analisis dan pandangan atas sebuah permasalahan. Kata kuncinya ada pada kapabilitas dan obyektifitas pembuat opini.

Selaku pilar keempat demokrasi pers mengakomodasi berita dan opini tadi. Itulah fungsi kontrol sosial guna mewujudkan kehidupan masyarakat yang nyaman dan tentram.

Membangun kepercayaan diantara anak bangsa juga menjadi agenda penting yang dipikul insan pers. Ketajaman kalimat, kejelian visual, hingga mendalamnya suara yang disiarkan mampu mengubah perilaku tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Pengubahan perilaku kehidupan yang kita harapkan adalah menuju tatanan yang adil sejahtera. Kemampuan mewujudkan hal itu tak semata butuh kejeniusan, melainkan juga berakar pada keadaban kita sebagai manusia. Toleransi, akal sehat, dan nurani mewarnai setiap perubahan yang ingin dicapai.

Ketika kita menjadikan nafsu angkara murka demi kepentingan diri sendiri dan kelompok, niscaya kehidupan yang tercipta lebih banyak menghadirkan kesemrawutan. Kondisi itu dapat dengan mudah terlihat di jalan raya.

Cara berlalulintas jalan yang sikat sana, sikut sini alias menerobos aturan menjadi potret kehidupan masyarakatnya. Getirnya buah perilaku berlalulintas jalan seperti itu sudah terasa. Sekitar 70-an jiwa menggelepar di jalan raya setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas.

Rasanya akan menjadi adil bila kekuatan pers dimanfaatkan mengurai pemicu-pemicu kecelakaan di jalan. Bukan semata memberitakan aroma sensasional yang mengatrol rating atau belanja iklan yang menggila. Sudah seharusnya karya jurnalistik mengajak para pengguna jalan menjadi lebih beradab. Pada gilirannya terwujud lalu lintas jalan yang humanis.

Selamat Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2016. (edo rusyanto)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.317 pengikut lainnya