Skip to content

Jurus Mengatasi Tantangan Bersepeda Motor Saat Puasa

27 Mei 2017

PARA pesepeda motor yang sedang berpuasa Ramadan mempunyai tantangan yang lebih dibandingkan hari-hari biasa. Menahan hawa nafsu menjadi seni tersendiri di luar menahan haus dan lapar.

Kalau kita kelompokan, ada dua jenis tantangan, yakni pertama dari dalam diri sendiri. Dan, kedua adalah tantangan dari luar diri kita.

Yakinlah bahwa tantangan terbesar ada di dalam diri sendiri ketimbang dari luar. Karena itu, kemampuan mengendalikan emosi mutlak membutuhkan nalar selain niat yang kuat. Inilah yang sejatinya mampu menepis dengan mudah segala godaan yang berseliweran di depan mata.

Sementara itu, tantangan dari luar terasa kian berat dibandingkan hari biasa. Cuaca terik, bisingnya mesin dan knalpot kendaraan, serta asap dan debu terasa kian menyesakan dada ketika tubuh kehabisan energi. Belum lagi menghadapi perilaku ugal-ugalan pengguna jalan yang lepas kendali.

Rasanya tujuh jurus di bawah ini dapat dijajal guna mengatasi tantangan yang ada.

1. Mendoakan Kebaikan
Mendoakan agar pengguna jalan mendapat keselamatan saat berlalu lintas jalan. Mendoakan agar perilaku ugal-ugalan bisa diubah menjadi lebih santun dan tidak membahayakan orang lain. Cara ini efektif untuk meredam emosi kita kala berkendara. Mendoakan orang lain tidak ada ruginya malah bisa membuat diri kita tenang saat berkendara.

2. Jaga kebugaran tubuh
Selain istirahat yang cukup juga makan secukupnya saat berbuka puasa dan sahur. Hindari makan gorengan dan junk food saat berbuka puasa serta makanan yang menyebabkan dehidrasi. Minum air putih yang cukup saat sahur.

3. Berpikir Positif
Nah, guna meredam emosi saat berkendara langkah awal yang amat penting adalah dengan berpikir logis. Dalam contoh kasus di atas, pikiran logis yang bisa didorong keluar adalah; “Apa manfaatnya saya mengejar sang pemotong jalur?”
Lalu, “Apakah dengan memarahi dan mengumpat sang pelaku bisa mengubah perilaku ugal-ugalan dia dalam sekejap?”
Atau, “Kalau saya mengejar dengan tergesa-gesa dan tidak berkonsentrasi bisa bikin celaka diri sendiri dan orang lain.”

4. Bertindak Tenang
Redakan sejenak pikiran, yakni sekitar lima detik seraya menarik nafas panjang. Di masyarakat kita kerap disebut dengan istighfar. Lewat istighfar bisa mengurangi sesaknya emosi dan selanjutnya bisa menjernihkan pikiran. Tentu selanjutnya disalurkan lewat tindakan yang positif. Bukan diluapkan dengan emosi yang meledak-ledak.

5. Prioritaskan Keselamatan
Camkan bahwa keselamatan saat berkendara tak semata untuk diri sang pengendara. Ada hak pengguna jalan yang lain untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan yang sama. Bahkan, ada keluarga tercinta yang membutuhkan keselamatan kita kembali ke rumah.

6. Pastikan kondisi kendaraan
Pastikan kendaraan kita dalam kondisi baik, mulai dari ban, rantai, mesin, rem, hingga bahan bakar minyak (BBM). Biasakan meluangkan waktu sejenak untuk memeriksa kondisi kendaraan sesaat sebelum bepergian.

7. Taati aturan
Aturan yang berlaku di jalan menjadi perisai bagi keselamatan berlalu lintas jalan. Pengendara yang mentaati aturan dapat lebih memperkuat diri untuk menghindar dari risiko lebih fatal, terutama terhindar sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas jalan. Pelaku kecelakaan bisa berurusan dengan pengadilan, bahkan meringkuk di balik jeruji penjara. (edo rusyanto)

Mimpi Memindahkan 44 Ribu Pemudik Bersepeda Motor

26 Mei 2017

PEMERINTAH tampaknya terus berupaya menjaga keselamatan para pemudik Lebaran. Khusus bagi para pesepeda motor, salah satu jurus yang dipakai adalah dengan memindahkan mereka ke moda angkutan umum lewat program mudik gratis.

“Tahun 2017, target kami sebanyak 44.700 sepeda motor pemudik pindah ke moda angkutan lain seperti bus, kereta api, dan kapal laut,” ujar Kapuskom Kementerian Perhubungan (Kemenhub) JA Barata, saat berbincang dengan saya di kantornya di Jakarta, baru-baru ini.

Kalau dibandingkan dengan torehan tahun 2016, target itu melonjak 155%. Salah satu yang membuat lonjakan terjadi karena angkutan dengan kapal laut dihidupkan kembali. “Tahun 2016 tidak ada yang diangkut dengan kapal laut, tahun ini ada 16 ribu yang kami harapkan untuk diangkut,” tutur dia.

Dua kota tujuan mudik yang menggunakan kapal laut adalah Bandar Lampung (Lampung) dan Semarang (Jawa Tengah). “Konsentrasi kami memang ke kota-kota di Pulau Jawa yang banyak mencatat perjalanan mudik memakai sepeda motor,” ujar pria berkacamata itu.

Bagi pemudik yang hendak memanfaatkan program mudik gratis dengan kapal laut dapat menghubungi kantor Kemenhub. Satu keluarga maksimal tiga orang. Berbeda dengan program mudik yang menggunakan kereta api, mereka yang naik kapal laut tidak diwajibkan membeli tiket.

Maklum, mereka yang memilih memakai kereta api harus menunjukan telah memiliki tiket, barulah sepeda motornya diangkut gratis dengan kereta api. Namun, kemenhub juga memfasilitasi pemesanan tiketnya sehingga tidak perlu antre panjang seperti jalur biasa. “Makanya untuk yang mudik pakai kereta api sudah hampir mencapai target yang sebanyak 18 ribu motor,” kata Barata.

Memindahkan 44.700 pemudik bersepeda motor ke angkutan umum tentu bukan pekerjaan mudah. Bisa jadi itu adalah mimpi indah yang harus diwujudkan. Sekalipun kalangan swasta ikut bergerak lewat program mudik gratis, tampaknya masih sulit. Di sisi lain, sulit memang bukan berarti tidak bisa.

Perhatian pada pemudik bersepeda motor bukan tanpa alasan. Perjalanan jarak jauh hingga ratusan kilometer menanggung risiko tinggi. Terbukti pada musim mudik Lebaran keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan lalu lintas jalan jumlahnya mendominasi.

Upaya mencegah terjadinya kecelakaan memang tak semata dengan memindahkan ke angkutan yang lain. Ketika jutaan sepeda motor pemudik tak tertampung angkutan umum, upaya kita adalah mengajak agar manajemen perjalanannya tetap aman dan selamat. Kami menyebutnya, mudik sehat=mudik selamat. (edo rusyanto)

foto:david

Menggugat Rasionalitas Berlalu Lintas

24 Mei 2017

ADA sebab, ada akibat.

Saat berlalu lintas jalan hukum sebab akibat demikian melekat. Misal, gara-gara menerobos lampu merah, akibatnya bisa ditilang, bahkan bukan tidak mungkin memicu kecelakaan.

Contoh lain, gara-gara tidak konsentrasi, menyenggol orang yang menyeberang jalan.

Akal sehat kita bekerja dan menyimpulkan bahwa konsentrasi yang terganggu menciptakan insiden dan kecelakaan. Kesadaran berintrospeksi pun menjadi tahapan selanjutnya sebelum akhirnya memutuskan, ada kekeliruan yang sudah dilakukan.

Sangat jelas bahwa kelakuan tadi melanggar aturan. Maklum, regulasi yang berlaku saat ini mewajibkan setiap pengendara untuk terus berkonsentrasi saat berlalu lintas jalan.

Itulah logika alias rasionalitas saat berlalu lintas. Meminjam contoh menyenggol penyeberang jalan di atas, amat picik saat persoalan digeser ke orang atau pihak lain, jika jelas-jelas masalahnya ada di diri pengendara yang tidak berkonsentrasi. Perilaku yang buru-buru menyalahkan pihak lain justeru mengerdilkan sang pelaku. Amat kentara kelakuan egois, mau menang sendiri.

Menggeser persoalan ke pihak lain tanpa mau introspeksi diri mencerminkan runtuhnya nurani dan akal sehat. Apalagi jika motivasinya sebatas tidak ingin disalahkan. Gertak sambalpun menjadi pilihan. Kelakuan yang menyedihkan.

Bekerjanya akal sehat tidak terlepas dari kemapanan cara berpikir yang diekspresikan lewat tindakan. Nalar yang logis tercermin lewat cara berlalu lintas jalan yang etis dan elegan. Bukan serampangan hingga ugal-ugalan yang justeru mempertontonkan naluri kebiadaban.

Runtuhnya akal sehat bukan mustahil menyeret nurani jatuh terjerembab. Kesantunan berubah menjadi keliaran. Rasa menghargai hak sesama pengguna jalan pun tercabik-cabik. Hukum rimba menjadi panglima, si kuat menindas yang lemah. Tak peduli orang susah yang penting diri sendiri terpuasi.

Jangan-jangan hal itu yang mendasari perampasan trotoar oleh kendaraan bermotor. Trotoar yang notabene hak pedestrian dengan entengnya dijarah.

Rasa malu menjadi barang mewah. Tak ada rasa sungkan melanggar aturan. Hak orang lain dirampas, ketika ditegur justeru bringas. Tak ada rasa menghormati sesama pengguna jalan, juga terhadap para penegak hukum. Kalau sudah begitu tinggal soal waktu meledaknya gesekan sosial, termasuk kecelakaan lalu lintas jalan.

Padahal, ibarat pepapatah, kalah jadi abu, menang jadi arang. (edo rusyanto)

Grafis: akun instagram kemenhub

Jangan Lupa, Bikers Dilindungi Dua Asuransi Ini

23 Mei 2017

BARANGKALI lupa, para pesepeda motor atau sering disebut bikers, sejatinya punya dua asuransi. Apa saja itu?

Sebelum sampai ke jawaban atas pertanyaan itu mari tengok sekeliling kita. Amat jarang perbincangan yang mengangkat topik soal asuransi alias proteksi. Entah itu di kedai, tempat kopdar bahkan di lingkungan kerja.

Dalam urusan berlalu lintas jalan, khususnya terkait kecelakaan, masalah asuransi ada diurutan paling belakang. Bahasa kerennya, penanganan pascakecelakaan. Dia berurusan dengan biaya pengobatan hingga soal ahli waris bagi korban yang meninggal dunia. Ketika menyinggung soal ini, rasanya amat langka yang mau celaka.

Kembali soal asuransi yang dimiliki para bikers. Coba periksa isi dompet kita, ternyata disitu tersimpan dua jenis asuransi.

Pertama, asuransi Jasa Raharja. Setiap bikers yang memiliki sepeda motor mutlak membayar yang namanya sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan (SWDKLLJ) sebesar Rp 35 ribu. Nah, SWDKLLJ yang dibayar setiap satu tahun sekali inilah sumber premi asuransi Jasa Raharja.

Saya merasa filosofi Jasa Raharja adalah melindungi orang lain atas tindakan kita. Karena itu, kecelakaan tunggal yang timbul karena diri kita dan menimpa kita tidak mendapat santunan.

Berbeda dengan sejumlah asuransi lain yang beredar di masyarakat saat ini, yaitu memikul semua risiko. Maksudnya, menanggung risiko mulai dari kecelakaan tunggal, karambol hingga beruntun.

Besaran santunan Jasa Raharja beragam. Mulai dari Rp 2 juta, Rp 10 juta hingga Rp 25 juta. Bahkan, memasuki Juli 2017, santunan digandakan 100% oleh pemerintah.

Kedua, asuransi Bhayangkara. Para pesepeda motor yang surat izin mengemudi (SIM) biasanya mengantongi asuransi yang satu ini. Asuransi diperoleh saat membuat atau memperpanjang SIM. Bikers membayar Rp 30 ribu untuk mendapatkannya. Santunan bagi korban kecelakaan yang meninggal dunia sebesar Rp 2 juta.

Bagi para bikers yang berstatus karyawan, mereka punya perlindungan lain, yakni BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja. Bahkan, bagi bikers yang kemudian membeli produk asuransi lainnya, berarti memiliki proteksi lebih dari dua.

Tentu, produk asuransi yang ada saat ini fiturnya berbeda-beda. Misal, ada yang proteksi digabungkan dengan tabungan alias tapro. Sedangkan dua asuransi yang ‘melekat langsung’ kepada bikers saat membeli sepeda motor atau membuat SIM, sifatnya berupa santunan atas kecelakaan yang menimpa dirinya. Apakah perlu proteksi lain? Pilihan ada di tangan sang bikers. Betul? (edo rusyanto)

Penampakan Motor Para Penjaga Makam

21 Mei 2017

KENDARAAN bermotor hilir mudik. Di beberapa titik tampak terjadi penumpukan. Deru mesin dan asap knalpot berebutan ke udara.

Begitulah suasana tempat pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Minggu, 21 Mei 2017 siang. TPU dipadati oleh para penjiarah. Apalagi, saat ini menjelang bulan Ramadan. Menjadi kebiasaan kaum muslim untuk berziarah ke makam orang tua, anak, atau sanak family untuk mendoakan mereka yang sudah berpulang lebih dahulu ke pangkuan Nya.

Kendaraan bermotor yang digunakan macam-macam. Mulai dari sepeda motor, mobil pribadi hingga angkutan umum yang disewakan. Di bagian lain, mereka yang bersepeda kayuh dan berjalan kaki pun tumpah ruah.

Di tengah hiruk pikuk kendaraan para penjiarah tampak sejumlah sepeda motor yang menggoda perhatian. Si roda dua diberi sedikit sentuhan modifikasi untuk mengangkut air. Tempat air dari semacam ember plastik ditaruh di kanan dan kiri bagian belakang sepeda motor dengan tumpuan berupa kerangka kayu.

“Ngambil airnya di sungai yang ada didekat pemakaman,” ujar seorang pria penjaga makam saat berbincang dengam saya, Minggu siang.

Air itu dimanfaatkan untuk merawat dan membersihkan makam. Rerumputan dibersihkan disiram agar tetap terawat dengan baik. Tak heran jika mayoritas makam yang ada membentuk pemandangan bak karpet hijau. Menyejukan mata yang memandang.

Motor para penjaga makam jumlahnya juga tak kalah banyak dengan para penjiarah. Hampir setiap saat tampak melintas.

Pengendaranya tak semata membawa tempat air. Terlihat ada yang membawa gunting pemotong rumput, cangkul, golok, bahkan alat semacam garpu penggali tanah. Hampir semua penunggang motor itu tidak memakai helm pelindung kepala.

“Cuma dekat ini kok, lagian nggak ada polisi,” seloroh seorang pengendara.

Ya. Pemakaian helm menjadi bukan prioritas. Alasan jarak dekat dan tidak ada petugas menjadi dua alasan yang paling atas. Mereka lebih memprioritaskan kepraktisan dan mengejar uang sumbangan dari keluarga yang makamnya diurus. Sumbangan sukarela dari warga menjadi lebih penting untuk menyambung hidup ketimbang pakai helm. (edo rusyanto)

Angkutan Umum Dituntut Punya Sistem Manajemen Keselamatan

19 Mei 2017

BABAK baru perusahaan angkutan umum di Indonesia bakal dimulai. Perusahaan angkutan umum diwajibkan memiliki sistem manajemen keselamatan jalan.

Hal itu mencuat dalam draf Peraturan Pemerintah (PP) tentang Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (KLLAJ) yang saya peroleh baru-baru ini. Bila draf itu sudah disahkan dan diberlakukan inilah babak penting untuk meningkatkan kualitas keselamatan perusahaan angkutan umum.

“Perusahaan Angkutan Umum wajib membuat, melaksanakan, dan menyempurnakan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum dengan berpedoman pada RUNK LLAJ,” tulis draf itu.

Oh ya, RUNK LLAJ adalah Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Rencana ini dirancang di tingkat pusat dan berlaku nasional.

Balik lagi soal perusahaan angkutan umum. Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum meliputi 10 aspek. Hal itu mencakup komitmen dan kebijakan, pengorganisasian, manajemen bahaya dan risiko, fasilitas pemeliharan dan perbaikan kendaraan, serta dokumentasi dan data. Lalu, peningkatan kompetensi dan pelatihan, tanggap darurat, dan pelaporan kecelakaan internal. Selain itu, monitoring dan evaluasi serta pengukuran kinerja.

Dari 10 aspek tadi, perhatian saya terfokus pada empat aspek yang tidak bisa dianggap sepele. Pertama, manajemen bahaya dan risiko yang merupakan standar prosedur operasi untuk: a). menetapkan prosedur analisis risiko; b). melakukan analisis risiko setiap kegiatan; c). mendokumentasikan semua hasil analisis risiko; dan d). melakukan pengendalian risiko.

Kedua, fasilitas pemeliharan dan perbaikan kendaraan. Perusahaan angkutan umum harus menyediakan fasilitas penyimpanan suku cadang serta pemeliharaan dan perbaikan kendaraan yang digunakan untuk mendukung kegiatan perusahaan.

Ketiga, tanggap darurat yakni berupa standar prosedur operasi untuk menghadapi setiap keadaan darurat yang meliputi: a). pengembangan dan penerapan manajemen tanggap darurat; b). identifikasi semua potensi keadaan darurat yang mungkin timbul dalam kegiatan operasi; dan c). sistem manajemen krisis dan tanggap darurat.

Keempat, pelaporan kecelakaan internal, yakni laporan setiap kecelakaan lalu lintas yang memuat: a). lokasi kejadian kecelakaan; b). kondisi lingkungan sekitar tempat kejadian kecelakaan; dan c). identifikasi faktor penyebab kecelakaan.

Bagi perusahaan angkutan umum yang tidak melaksanakan ketentuan-ketentuan tersebut bisa dikenai sanksi administratif berupa; peringatan tertulis, pembekuan izin, dan pencabutan izin.

Ngomong-ngomong, entah kapan draf RPP KLLAJ itu bakal disahkan oleh pemerintah. Kita lihat saja nanti. (edo rusyanto)

Perlawanan Warga Pada Penjarah Trotoar

18 Mei 2017

FAKTA di lapangan saat ini memang memprihatinkan. Para pengguna jalan saling merampas ruang.

Ada yang menjarah hak pedestrian. Kendaraan bermotor meluber hingga trotoar. Pedestrian pun kocar kacir. Deru mesin kendaraan bermotor meluluhlantakan pejalan kaki.

Di sudut lain, ada yang dengan gagah melibas busway yang notabene hak pengguna angkutan umum bus Trans Jakarta. Kendaraan pribadi merangsek dengan penuh kesadaran. Lagi-lagi dalihnya adalah memangkas waktu tempuh. 

Di bagian lain ada aksi melawan arah. Merampas hak pengguna jalan yang semestinya melintas. Melabrak rambu dan marka jalan. Kita pun lunglai menghadapi serbuan para perampas hak. 

Tidak demikian bagi warga di sekitar Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur. Perlawanan mereka terhadap para penjarah trotoar diekspresikan dengan membuat tanggul beton. Tujuannya mudah ditebak, menghambat tergerakan sepeda motor yang memakan jalur pejalan kaki. 

Bila melihat komposisi tanggul tadi praktis membuat para penjarah trotoar tak bisa melintas. Berbeda dengan dua tanggul serupa yang ada di dekatnya, seperti saya lihat Rabu, 17 Mei 2017 siang. 

Miris memang, sesama warga harus saling ‘berperang’. Kesadaran untuk saling menghargai runtuh oleh ego sektoral. Nuansa keputusasaan demikian kentara. Pihak yang satu putus asa atas kemacetan lalu lintas jalan yang menggila. Sedangkan pihak yang satu putus asa atas perilaku permisif yang dilakukan berulang-ulang. 

Kita pun dipaksa untuk bertanya, “kemana akal sehat dan nurani sehingga harus merampas hak sesama di jalan raya?”

Perjuangan mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis terasa masih panjang. Sulit memang, walau sesulit apa pun bukan berarti tidak bisa. Setuju?  (edo rusyanto)