Skip to content

Lima Kecelakaan Bus Maut di Jalur Puncak

23 April 2017

JALUR kawasan Puncak, Jawa Barat menyimpan ‘amarah’ yang sewaktu-waktu dapat meledak. Kawasan wisata yang membentang dari Bogor hingga Cianjur, Jawa Barat itu sempat mencatat kelamnya petaka jalan raya yang melibatkan bus.

Sedikitnya lima kecelakaan bus maut yang terjadi di jalur Puncak dalam rentang 2007-2017. Kecelakaan tersebut merenggut puluhan jiwa dan melukai ratusan orang. Belum lagi menimbulkan kerusakan kendaraan dan bangunan yang diseruduk kendaraan.

Berikut ini tujuh kasus kecelakaan bus maut yang saya rangkum dari dokumen resmi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecuali kecelakaan termutakhir, Sabtu, 22 April 2017. Khusus untuk kecelakaan yang terakhir saya rangkum dari laporan yang beredar di kalangan jurnalis.

1). Kecelakaan 7 Juli 2007

Pagi baru saja merayap menuju siang. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 10.20 WIB, Sabtu, 7 Juli 2007. Bus pengangkut rombongan wisata sebanyak 54 orang dari SMP Islam Ar-Ridho melaju menuju Taman Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Rombongan itu terdiri atas siswa dan staf pengajar SMP Islam Ar-Ridho.

Saat tiba di jalan turunan Ciloto menjelang pertigaan Kota Bunga, Cimacan ± 100 meter sebelum jembatan Cikundul, bus tersebut oleng. Bus menabrak beberapa kendaraan yang meluncur dari arah berlawanan dan juga menabrak kendaraan di depannya . Kendaraan tersebut antara lain sepeda motor, Mitsubishi Colt 100 Pick Up dan Toyota Kijang.

Setelah menabrak beberapa kendaraan tersebut, bus kembali ke jalur sebelah kiri dan menabrak Daihatsu Ferosa serta Toyota Kijang yang berada di depannya. Kemudian bus kembali ke jalur sebelah kanan menabrak tembok dan pagar jembatan lalu jatuh ke dalam jurang dengan kedalaman ± 15 meter.

Dalam kecelakaan ini 14 orang meninggal dunia di lokasi kejadian, 1 (satu) orang meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, 1 (satu) orang meninggal setelah mendapat perawatan. Kecelakaan ini juga mengakibatkan 28 (dua puluh delapan) orang mengalami luka berat dan 14 (empat belas) orang luka ringan.

Semua korban adalah penumpang, pengemudi dan kernet yang berada di bus Limas serta pengemudi motor juga penumpang Daihatsu Ferosa.

Seluruh korban kecelakaan dievakuasi ke Rumah Sakit Cimacan, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, PMI Bogor, dan RSUD Cianjur.

KNKT menyimpulkan faktor-faktor kemungkinan penyebab kecelakaan tersebut utamanya adalah akibat, pertama, pengemudi bus ngebut pada saat akan menyalip kendaraan di depannya dan tidak dapat mengendalikan busnya lagi.

Lalu, kedua, kendaraan yang tercatat masa ujinya berlaku dan dikatakan dirawat dengan baik, namun pada kenyataannya kendaraan tersebut tidak memenuhi persyaratan keselamatan. Ketiga, kondisi geometrik jalan yang menurun panjang dan menikung dengan ruang pandang yang tertutup dengan pohon dan bangunan, turut memberikan kontribusi yang besar terhadap kecelakaan.

2). Kecelakaan 10 Februari 2012

Peristiwa memilukan terjadi pada Jumat, 10 Februari 2012, sekitar pukul 18.00 WIB di kawasan Cisarua, Bogor. Mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA dari Garut menuju terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur melalui Cianjur-Puncak-Ciawi mengalami kecelakaan di kawasan Cisarua.

Kecelakaan terjadi sekitar 208 meter dari lokasi cheq point bus di depan RS. Paru dr M. Goenawan P, Cisarua. Bus menabrak sisi kanan papan reklame yang berada di tikungan menurun. Sesudah menabrak papan reklame pada jarak 392 meter berikutnya, bus berturut-turut menabrak mobil penumpang Mitsubishi Pajero dari arah berlawanan dan dua sepeda motor yang berada di belakang mobil penumpang Mitsubishi Pajero tersebut. Setelah itu bus bergerak ke kiri dan menabrak dua mobil angkutan kota yang berada di depannya, mobil penumpang Nissan Grand Livina dan mobil barang pengangkut tanaman yang juga berada pada jalur yang sama.

Kemudian bus bergerak kembali ke kanan dan menabrak mobil bus PO. Doa Ibu dengan nomor kendaraan Z-7588-HB yang datang dari arah berlawanan menyebabkan mobil bus PO. Doa Ibu Z-7588-HB terdorong mundur sejauh 18 meter dan tertahan oleh pagar taman yang berada di pertigaan jalan. Setelah itu mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kembali bergerak ke kiri dan kemudian menabrak mobil barang pengangkut sayur, mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA kemudian bergerak kembali ke kanan dan menabrak tiang telepon serta dua sepeda motor yang sedang parkir di halaman minimarket.

Selanjutnya menabrak warung bakso, tembok dan akhirnya terperosok ke pekarangan Wisma Syailendra, dengan kedalaman sekitar 9 (sembilan) meter di bawah permukaan jalan. Kondisi akhir mobil bus PO. Karunia Bakti Z-7519-DA setelah kecelakaan posisi bagian depan berada di bawah.

Akibat kecelakaan ini 13 orang meninggal dunia di lokasi kecelakaan dan 1 (satu) orang meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit, 10 orang mengalami luka berat serta 44 orang mengalami luka ringan.

Seluruh korban meninggal dunia dan luka – luka dievakuasi ke RS Paru dr M. Goenawan P Cisarua, RS Ciawi Bogor, RS PMI Bogor, dan RS. Sentra Medika Cibinong.

KNKT menyimpulkan bahwa kemungkinan penyebab (Probability Cause) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah bersumber dari kegagalan berfungsinya rem utama dan rem parkir tangan. Selain itu, pengemudi yang tidak berhasil mengendalikan kendaraan pada saat menghadapi situasi kritis.

3). Kecelakaan 27 Februari 2013

Rombongan bus peziarah dari Bogor menuju Cianjur, Jawa Barat pada Rabu, 27 Februari 2013. Sekitar pukul 07.30 WIB, bus pariwisata PO. Mustika Mega Utama dengan nomor kendaraan F-7263-K berangkat dari Desa Sukajaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor dengan mengangkut 82 orang menuju Desa Cikundul, Kabupaten Cianjur untuk melakukan ziarah dengan rincian 1 (satu) orang pengemudi dan 81 orang penumpang.

Mobil bus tersebut sekitar pukul 09.00 WIB sempat berhenti selama kurang lebih 30 menit untuk beristirahat di salah satu SPBU di Desa Leuwiliang, sebelum kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan ke Desa Cikundul.

Sekitar pukul 11.30 WIB, mobil bus tersebut melintasi ruas Jalan Raya Puncak – Ciloto KM. 87 Kabupaten Cianjur dengan geometri jalan yang menurun ± 10º dan menikung. Sepanjang 500 m pada ruas jalan tersebut diatas terdapat banyak lubang baik di jalur kiri maupun jalur kanan dan pada saat itu kondisi cuaca dalam keadaan berkabut dan tidak hujan. Mobil bus kehilangan kendali setelah menghindari lubang dan akhirnya menabrak dinding tebing yang berada pada sebelah kiri jalan menikung searah laju mobil bus tersebut.

Kecelakaan ini mengakibatkan 17 orang meninggal dunia, yaitu 15 orang meninggal di tempat kejadian dan 2 (dua) orang meninggal pada saat mendapat perawatan di rumah sakit, 26 orang luka berat dan 32 orang luka ringan. Untuk para korban yang meninggal dan korban luka-luka dibawa ke RS. Cimacan dan RSUD. Ciawi, Jawa Barat.

Kemungkinan rangkaian penyebab (Probable Causes) terjadinya peristiwa kecelakaan ini adalah karena pengemudi tidak familiar dengan rute tersebut. Lalu, kondisi jalan yang rusak berat, penggunaan komponen rem yang tidak standar serta muatan yang melebihi kapasitas berakibat yang bersangkutan kurang mampu dalam mengatasi kondisi kritis yang datang secara tiba-tiba.

4). Kecelakaan 18 Agustus 2013

Minggu, 18 Agustus 2013 pukul 24.00 WIB rombongan jemaat GBI Kelapa Gading, Jakarta berangkat menuju Cipanas Bogor dengan menggunakan mobil bus PO.Giri Indah nomor kendaraan B-7185-XA dan sampai di Wisma Kapendrai daerah Cipanas pukul 03.00 WIB untuk melakukan ibadah sampai dengan hari Rabu 21 Agustus 2013.


Pada hari Rabu 21 Agustus 2013 pukul 08.00 WIB rombongan jemaat GBI berjumlah 50 orang dan 3 (tiga) orang awak kendaraan kembali ke Jakarta dengan menggunakan mobil bus PO. Giri Indah dengan nomor kendaraan B-7297-BI.
Mobil bus melintasi ruas jalan daerah Gunung Mas yang geometri jalan menurun dan menikung. Informasi dari saksi bahwa setelah melintasi perkebunan teh Gunung Mas mobil bus melaju dengan kecepatan tinggi.

Mobil bus pada pukul 08.30 WIB tiba di ruas Jalan Raya Puncak Bogor KM. 86, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat merupakan ruas jalan yang menurun dan menikung, mobil bus menabrak mobil pick up yang parkir di tepi jalan jalur berlawanan di depan toko material untuk menurunkan muatan tabung gas elpiji 3 kg. Kemudian mobil bus menabrak seorang yang sedang berada di depan toko material, selanjutnya mobil bus menabrak toko material dan akhirnya beserta mobil pick up masuk ke dalam sungai yang mempunyai kedalaman 8 (delapan) meter di sebelah kanan jalan.

Pada saat kejadian cuaca cerah dan kondisi lalu lintas lancar (ilustrasi kecelakaan dapat dilihat pada gambar 6). Kecelakaan ini mengakibatkan 20 orang meninggal dengan rincian 14 orang meninggal dunia di tempat kecelakaan dan 6 (enam) orang meninggal dunia di rumah sakit, yang terdiri dari 18 orang penumpang mobil bus, 1 (satu) orang awak mobil bus dan 1 (satu) orang warga setempat.

Selain korban meninggal dunia, korban luka-luka berjumlah 34 orang. Korban yang meninggal dunia maupun luka-luka semua awalnya dievakuasi ke RS. Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor, setelah dilakukan tindakan medis pertama selanjutnya sebagian di rujuk ke RS. Sentra Medika Cibinong dan sebagian lagi dirujuk ke RSUD Ciawi.

Tabrakan mengakibatkan mobil bus dan mobil pick up berada di dasar sungai dengan jarak 2 (dua) meter satu sama lain dengan posisi mobil bus terbalik dan mobil pick up berbalik arah dengan menghadap arah kedatangan. Dari hasil investigasi disimpulkan faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan ini adalah kondisi geometri jalan yang merupakan bahwa turunan panjang dan tikungan yang cukup tajam. Untuk melewati ruas jalan ini memerlukan konsentrasi, kewaspadaan dan keterampilan dalam mengemudikan kendaraannya.

5). Kecelakaan 22 April 2017

Sabtu, 22 April 2017 menjadi sore kelabu bagi kawasan Puncak, Bogor. Kecelakaan bus yang menabrak belasan kendaraan bermotor lainnya merenggut empat korban jiwa. Lokasi kejadian di Jalan Raya Puncak, tepatnya di Tanjakan Selarong, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Berdasarkan data dari Unit Lakalantas Polres Bogor Kabupaten, seperti dilansir kantor berita Antara, Sabtu malam, menyebutkan bahwa korban keempat yang meninggal dunia adalah Diana Simatupang usai 24 tahun, beralamat Griya Cisaup Serpong RT-01/RW-08 Blok AB, Nomor 01 Tanggerang.

Sementara itu, tiga korban meninggal dunia lainnya yang sudah dilaporkan yakni Dadang usia 45 tahun merupakan Kepala Desa Citeko, bertempat tinggal di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua.

Korban kedua bernama Jainudin beralamat Babakan Lebak RT-02/RW-06 Kecamatan Sinar Galih, Kabupaten Bogor, dan Oktariyansyah Purnama Putra (26) warga Jalan Rawa 8 Nomor 634 RT-10/RW-02 Kelurahan Lebak Gajah, Kecamatan Sematang Borong, Kota Palembang.

Peristiwa kecelakaan tersebut juga mengakibatkan tiga orang luka berat dan tiga lainnya luka ringan, para korban telah dilarikan ke rumah sakit terdekat, yakni RSUD Ciawi dan RS Paru Cisarua.

Kecelakaan bermula dari bus Hino Pariwisata PO HS Transport dengan Nomor Polisi AG 7057 UR yang dikemudikan Bambang Hernowo (51) melaju dari arah Puncak menuju Jakarta.

Setibanya di lokasi kejadian Tanjakan Selarong, bus kehilangan kendali, diduga karena remnya blong.

Bus kemudian mengalami hilang kendali dan menabrak sejumlah kendaraan secara beruntun, yakni Grand Livina B 7401 NDY yang dikemudikan oleh Wanda Komara (37) warga kampung Citeko, Kecamatan Cisarua.

Lalu menabrak sepeda motor Viaro B 4446 SBC yang dikemudikan oleh Jaenudin (40) yang tewas saat kejadian.

Bus naas itu juga menabrak mobil Daihatsu Ayla F 1423 NH yang dikemudikan Tommy Gunawan (36) yang mengalami luka ringan, lalu dengan sepeda motor Yamaha Vixion warna hitam yang dikendari oleh Oktariansyah Purnama Putra (26) tewas dalam kecelakaan.

Selanjutnya bus menabrak kendaraan mini bus Avanza warna putih B 1818 EFB yang belum diketahi identitas pengemudinya, selanjutnya menabrak Toyota Rus B 2826 DFL, lalu menabrak lagi angkot F 1976 MP yang dikemudikan M Darus Jaelani (40) yang mengalami luka ringan.

Setelah menabrak angkot, bus kembali menghantam sejumlah kendaraan yang melintas di jalur Puncak.

Kendaraan berikutnya Toyata Avanza B 1347 WOC, lalu Avanza warna hitam F 1851 CD yang dikemudikan oleh Dani Hermansyah (25) warga Perum Griya Raharja, Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea. Selanjutnya menabrak sepeda motor Yamaha Vixion warna biru B 3167 CAT yang dikemudikan oleh Hasanudin (22) yang mengalami luka ringan.

Kendaraan berikutnya turut jadi korban hantaman bus yakni Honda Vario yang belum diketahui identitas pengendaranya, lalu sepeda motor Beat F 2711 DG yang dikemudikan Muhammad Silfa Arif (23), warga Jalan Wanajaya, Pasirjaya, Kota Bogor.

Kerugian material akibat kecelakaan tersebut ditaksi sebesar Rp500 juta.

Menurut informasi dari Kanit Laka Polres Bogor Kabupaten IPDA Asep, pengendara bus pariwisata HS tidak mengantongi STNK dan tidak memilik SIM. Bus juga tidak memiliki kartu KIR kendaraan. (edo rusyanto)

foto-foto:istimewa

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: