Skip to content

Berjumpa Lagi dengan Sumpah Serapah di Jalan Raya

18 April 2017

ORANG mengumpat dengan lantang. Sumpah serapah terlontar dari mulut seorang pria yang saya perkirakan berusia 30 tahunan. Dia membentak pengendara mobil. Entah apa pemicunya.

Posisi saya persis tiga motor di belakang pria pengendara sepeda motor skutik yang tampak emosional tersebut. Arus lalu lintas jalan sempat tersendat di malam yang dingin usai diguyur hujan.

“Turun lu! An**ng. Bangsat,” teriak pria tadi, di tengah keramaian lalu lintas jalan di bilangan Matraman, Jakarta Timur, pada suatu malam, baru-baru ini.

Entah apa yang memicu adu urat saraf itu. Sepintas terlihat pengemudi mobil juga tak mau kalah gertak. Dia membuka kaca jendelanya. Sahut menyahut pun terjadi. Isinya sumpah serapah.

Belasan, bahkan lebih para pengguna jalan yang lain acuh tak acuh. Bisa jadi karena pemandangan seperti itu adalah hal biasa. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas jalan kota Jakarta, para pengendara seakan bersumbu pendek. Disulut sedikit saja meledak.

Setiap hari Jakarta disesaki jutaan kendaraan bermotor. Jalan-jalan dipenuhi warga yang hilir mudik. Tentu saja termasuk penglaju dari kota di sekitar Jakarta, mulai dari Bekasi, Depok, Tangerang hingga Bogor. Tak pelak pada jam-jam sibuk, yakni pagi dan sore hari lalu lintas jalan padat merayap.

Rasa lelah saat berkendara, ditambah segudang problem yang mengguyur warga kota seakan menjadi bubuk mesiu yang mudah meledak. Upaya mengerem ledakan begitu sulit. Kesenggol dikit saat antre dalam kepadatan kendaraan bermotor bisa merembet kemana-mana. Sedikitnya seperti yang saya lihat malam itu, saling melontarkan sumpah serapah.

Berlalu lintas jalan memang tak lagi mengandalkan kewaspadaan semata. Dia juga menuntut kesabaran yang luar biasa. Tak jarang kita lihat mereka yang tidak sabar mencari celah walau merampas hak pengguna jalan yang lain. Misal, melibas trotoar jalan. Jelas-jelas itu adalah hak pedestrian, namun pengendara sepeda motor dengan tega merampasnya.

Belum lagi perilaku menerobos lampu merah, melawan arah, hingga merebut jalur bus Trans Jakarta. Rasa sabar benar-benar diuji. Kalau mau jujur, kemacetan yang terjadi disumbang oleh mereka para pengendara itu sendiri. Sepantasnya, nikmatilah kemacetan yang ada.

Ketika terjadi gesekan yang melahirkan adu urat syaraf, semua bisa merana. Ibarat pepatah, kalah jadi abu, menang jadi arang. Sama-sama dirugikan. (edo rusyanto)

Salah Satu Manfaat SEE, Menghindari Tabrak Samping

17 April 2017

BUKAN mustahil kecelakaan terjadi saat kita berputar arah atau berbelok. Tabrakan terjadi karena ada pengendara lain yang datang dari samping dengan kecepatan tinggi. Brak!

Contohnya seperti dalam tayangan video ini. Mobil yang hendak berputar arah diseruduk pesepeda motor yang melaju kencang di sisi kanan jalan.

Kalau kita perhatikan seksama, mobil memang sudah memberi lampu penunjuk arah atau sein untuk berbelok. Namun, bisa jadi pesepeda motor tidak menduga pergerakan itu. Jadilah tabrak samping.

Kita para pengguna jalan, khususnya pesepeda motor, tak boleh lengah sedikitpun ketika berkendara. Resep untuk mencegah tabrakan seperti video di atas yang utama adalah menerapkan SEE alias see, evaluate, dan execute secara maksimal.

SEE bermakna menghimpun informasi dengan melihat ke arah depan, belakang, dan sekeliling. Lalu, mengkalkulasi risiko. Misal, apakah ketika mendahului sudah cukup aman. Terakhir, mengambil keputusan apakah perlu untuk mendahului atau tetap melaju di belakang kendaraan yang ada di depan.

Langkah penting dalam SEE adalah menebar pandangan jauh ke depan untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Hal itu untuk mengantisipasi pergerakan yang muncul dari obyek bergerak. Di sisi lain, juga mengantisipasi obyek bergerak yang ada di depan seperti misalnya lubang dan gundukan di permukaan jalan.

Belok atau Berputar Arah

Oh ya, bagi kendaraan yang hendak berbelok atau berputar arah, mohon perhatikan hal-hal ini. Pertama, pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, disamping, dan di belakang kendaraan. Kedua, memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.

Nah, khusus untuk langkah kedua, bila tidak dilakukan bisa kena semprit pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Tuh kan. (edo rusyanto)

foto:dok ibc

Menjaga Semangat Berlalulintas Jalan yang Aman dan Selamat

16 April 2017

PARA pemasar dan produsen sepeda motor gencar merangsek pasar di Indonesia. Mereka mencoba meraih minat konsumen di pasar yang cukup gurih.
Indonesia adalah pasar ketiga terbesar di dunia setelah Tiongkok dan India. Tiongkok melego dua puluhan juta motor per tahun, sedangkan India menyentuh belasan juta unit. Di negara kita, setiap tahun, tak kurang dari enam juta sepeda motor yang mengguyur pasar. Gurih kan?

Penjualan sepeda motor menjadi moncer karena kendaraan itu dinilai lebih mangkus dan sangkil dibandingkan angkutan umum. Si roda dua dapat membawa penumpangnya dari titik ke titik (point to point). Sekaligus juga dinilai lebih ekonomis dari sisi biaya.

Belum lagi andil lembaga pembiayaan yang gencar memberi fasilitas kemudahan bagi kebanyakan kocek masyarakat kita. Lewat uang muka berkisar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, seorang konsumen sudah dapat membawa pulang sepeda motor yang diidamkannya. Selanjutnya, mencicil dengan tenor bisa mencapai 36 bulan. Tentu saja hal itu untuk sepeda motor entry level yang memang mendominasi pasar saat ini.

Di sisi lain, para pengguna sepeda motor berhadapan dengan hiruk pikuk jalan raya yang ikut disumbangnya. Mulai dari kemacetan hingga kecelakaan lalu lintas jalan.

Nah, khusus mengenai kecelakaan lalu lintas jalan, sepeda motor kini masih mendominasi kecelakaan di jalan. Kontribusinya mencapai sekitar 71% dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Dari sisi jumlah korban kecelakaan pun cukup tinggi.

Siapa yang membekali mereka kemampuan berlalu lintas jalan yang aman dan selamat (road safety)? Apakah semangat mereka untuk bersepeda motor yang aman dan selamat (safety riding) terus tetap terjaga? Tidak turun naik diterpa emosi yang menggila lantaran kehidupan yang melelahkan?

Berangkat dari sana, sejak sepuluh tahun lalu saya menyusup ke kantong-kantong kelompok pengguna sepeda motor untuk ikut menebarkan semangat safety riding maupun road safety. Respons mereka beragam. Mayoritas menerima dengan baik, antusias ingin lebih aman dan selamat ketika berlalu lintas jalan. Pekerjaan rumahnya adalah menjaga semangat mereka.


Para pemasar dan produsen sepeda motor pun ada yang menyadari hal itu. Keselamatan konsumen mereka mesti dijaga guna membeli kembali produk yang ditawarkan (repeat order). Produsen pun berkepentingan untuk tetap menjaga agar citra sepeda motor bukan alat pembunuh di jalan raya. sepeda motor adalah solusi bagi karut marutnya transportasi kota.

Kembali soal menjaga semangat anggota kelompok pengguna sepeda motor. Tak heran ketika bro Lubis mengajak saya bertukar pikiran soal keselamatan jalan di ajang ulang tahun dan deklarasi Jakarta Vixion Club (JVC), saya pun menerimanya dengan terbuka. “Nanti acara Eyang Edo dibikin sore hari, sebelum acara mereka yang berlangsung malam hari,” tutur bro Lubis yang sehari-hari aktif di Blackmotor Community (BMC), saat berbincang dengan saya di Jakarta, Selasa, 4 April 2017.

Acara berlangsung di Mal MGK, Kemayoran, Jakarta Pusat. Persisnya di pelataran mal yang banyak menjual aksesoris otomotif tersebut. Sabtu, 15 April 2017, ketika saya tiba sekitar pukul 15.30 WIB terlihat puluhan anggota kelompok pesepeda motor sudah meramaikan pelataran pintu masuk mal yang disulap menjadi arena acara.

“Eyang Edo mulai sekitar jam lima sore yah, kami persiapkan alat-alatnya dulu,” tutur bro Raka dari JVC.

Etika dan Emosi

Diskusi digelar persis di pintu masuk MGK Kemayoran. Para anggota kelompok pesepeda motor yang berdatangan dari berbagai kelompok dan kota itu duduk tertib di lantai. Mereka ada yang datang dari Jakarta dan sekitarnya. Lalu, dari Jogjakarta hingga Lampung. “Nanti juga ada yang datang dari Bandung,” papar bro Iwan.

Saya dibantu sist Risma yang menjadi master of ceremony (MC) sekaligus pemandu diskusi. Topik yang saya angkat kali ini adalah ‘Mencegah Kecelakaan dengan Berkendara yang Aman dan Selamat.’

Dalam memudahkan pendistribusian pesan, selain dibantu MC, saya memakai audio visual termasuk video kasus kecelakaan yang menimpa pesepeda motor. Cara itu cukup manjur menarik minat peserta.

“Apakah ada aturan yang melarang orang naik motor saat sakit dan mabuk?” tanya bro Aja, salah satu peserta diskusi.

Kami pun bertukar pikiran soal itu. Merujuk pada regulasi yang berlaku, yakni Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), setiap pengendara wajib berkonsentrasi. Kondisi mabuk, mengantuk, sakit hingga lelah dikategorikan sebagai aspek-aspek yang merusak konsentrasi. Karena itu, dengan tegas dilarang. Maklum, saat konsentrasi buyar bukan mustahil memicu terjadinya kecelakaan di jalan. Kalau itu terjadi merugikan banyak kalangan.

“Tapi, kalau naik motor pakai celana pendek atau sedengkul apakah dilarang?” tanya bro Bayu, peserta yang lain.

Pendekatan menjawab pertanyaan ini merujuk pada cara berkendara yang benar dan berkendara yang baik. Cara yang benar adalah merujuk UU atau aturan hukum, sedangkan berkendara yang baik merujuk pada etika. Tidak ada regulasi yang mengatur pemakaian celana panjang, tapi ada etika yang terkait hal itu. Walau, dari sisi keselamatan, celana panjang bisa sedikit mengurangi gesekan kaki bagian atas ketika pesepeda motor terjerembab di jalan.

“Kalau menghadapi orang yang memotong jalan kita bagaimana?” tanya bro Egi.

Emosi memegang peranan penting ketika berlalu lintas jalan. Mengendalikan emosi agar tak meledak-ledak dapat meredam potensi terjadinya gesekan sosial, bahkan kecelakaan. Maklum, emosi berlebihan bisa merusak konsentrasi. Karena itu, langkah meredam emosi salah satunya adalah dengan berpikir positif dan tentu saja tidak terpancing provokasi. Tidak ada salahnya juga mendoakan keselamatan bagi mereka yang barangkali lupa berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

Langit sudah semakin mendung ketika diskusi rampung. Sebelum pamit kembali ke rumah, para peserta pun berfoto bersama dengan saya.

Satu lagi langkah kecil untuk menjaga semangat berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Semoga berfaedah. (edo rusyanto)

Menerobos Lampu Merah Berujung Petaka

15 April 2017

BANYAK pengguna jalan yang faham bahwa saat lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah artinya berhenti. Tapi, ada juga yang nekat menerobosnya. Terus melenggang dengan segudang alasan.

Tahukah kita bahwa menerobos lampu merah bisa berujung petaka?
Kalau perlu bukti, lihat saja tayangan video ini. Bisa jadi peristiwa tabrakan sepeda motor dengan sepeda motor di kawasan kota Medan, Sumatera Utara itu menimpa para penerobos di kota lain di Indonesia.

Dalam tayangan video itu terlihat bagaimana pesepeda motor yang menerobos lampu merah berkecepatan tinggi menabrak pesepeda motor lainnya yang datang dari arah berlawanan. Korban yang ditabrak adalah pengguna jalan yang memang dalam posisi benar, lampu pengatur lalu lintas jalannya berwarna hijau.

“Sepeda motor yang dari arah Juada-Halat menerobos traffic light, sementara dari arah Pandu-Tirtanadi lampu berwarna hijau,” tulis akun Atcsmedan, dalam akun Instagram yang dilansir sekitar Februari 2017.

Penabrak maupun yang ditabrak keduanya terluka. Mereka ditolong oleh warga yang melintas di sekitar lokasi terjadinya tabrakan. Lalu lintas jalan pun sempat tersendat akibat peristiwa itu.

Rasa sabar memang harus dipertebal. Saat lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah, nikmati saja. Anggap itu sebagai instrumen untuk jeda istirahat setelah berkendara. Durasi berkisar 30-60 detik menanti pergantian warna digunakan untuk melepas sedikit rasa lelah berkendara.

Nekat menerobos lampu merah bukan semata menimbulkan kecelakaan yang berujung penderitaan. Bila kedapatan petugas dan kena tilang, sanksi denda juga sudah menanti.

Bila alasan menerobos lampu merah karena terburu-buru, justeru bisa banyak kehilangan waktu. Termasuk, tentu saja, ketika terjebak dalam kecelakaan. Waktu, tenaga, bahkan biaya yang terbuang bisa lebih banyak. Apalagi jika tingkat fatalitas kecelakaan super tinggi, semua bisa hilang dalam sekejap. (edo rusyanto)

foto: atcsmedan

Video Ini Membuktikan Risiko Ketika Tergoda di Persimpangan Jalan

14 April 2017

MALAM di perempatan jalan kadang menggoda sebagian orang. Bukan semata tergoda melihat pemandangan yang ada, tapi juga tergoda hal lain. Salah satunya, memacu kecepatan kendaraan alias ngebut.

Persimpangan jalan, entah itu pertigaan atau perempatan jalan, ketika malam memasuki dini hari umumnya lengang. Arus kendaraan bermotor sudah menyusut dibandingkan pagi, siang, atau sore hari. Saat itulah godaan hadir.

Bagi yang tidak kuat menahan godaan, punya beragam alasan untuk memacu laju kendaraannya. Entah itu karena tidak ingin terlambat tiba di tujuan. Lalu, menghindari risiko dari gangguan keamanan hingga ada hal darurat yang harus diselesaikan.

Apapun itu alasannya, video ini membuktikan bahwa memacu kecepatan tingi di perempatan jalan saat malam hari berisiko tinggi. Coba perhatikan, malam itu perempatan jalan sebenarnya masih disibukkan oleh kendaraan yang wira-wiri. Entah kenapa sebuah mobil ngebut dan tiba-tiba dari arah lain ada pesepeda motor melaju. Brak!

Pesepeda motor terpelanting. Tunggangannya melintir di permukaan aspal. Ajaib, sang pesepeda motor bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju sepeda motornya. Entah kelanjutannya apa.

Video dari rekaman dinas perhubungan kota Medan, Sumatera Utara itu memperlihatkan bahwa ada risiko terpendam di persimpangan jalan. Sekalipun posisi kita dalam kondisi berhak melaju karena lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna hijau, tak berarti menyurutkan kewaspadaan. Memperhatikan situasi sekitar menjadi mutlak. Khawatir ada pengguna jalan lain yang nekat. Menerobos lampu merah.

Saat kecelakaan lalu lintas jalan terjadi, semua pihak dalam posisi merugi. Tentu saja bagi sang pelaku, kerugian bisa lebih besar lagi karena terbuka peluang berujung ke persoalan hukum. Pidana penjara dan denda sudah menanti. Kecelakaan selalu berdampak luas.

Lantas, mesti bagaimana?

Sangat mudah menjawab pertanyaan itu. Melipat gandakan kewaspadaan saat melintas di persimpangan jalan. Melaju dengan normal dan tetap mengikuti aturan yang ada. Ketika alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) berwarna merah, berhenti. Saat hijau, perlahan melintas. Pastikan tidak ada pergerakan kendaraan yang berisiko memicu terjadinya kecelakaan. Jajal deh. (edo rusyanto)

foto: istimewa

Biasakan Mendahului dengan Cermat

13 April 2017

SEBUAH video pendek kecelakaan lalu lintas jalan masuk dalam pesan grup whats app. Awalnya, saya tidak begitu antusias. Belakangan, setelah melihat berulang-ulang, menggoda saya menulis artikel ini.

Bagaimana tidak, rekaman dalam video itu memperlihatkan peristiwa yang semestinya bisa dihindari. Dalam tayangan video berdurasi tak lebih dari satu menit itu tampak pesepeda motor yang berbenturan dengan sebuah bus. Kejadiannya di tikungan jalan.

Bus hendak berbelok ke kiri jalan dan sudah menyalakan lampu penunjuk arah alias lampu sein. Tiba-tiba sang pesepeda motor memaksakan diri ikut belok ke kiri. Jadilah benturan. Brak!

Sang pesepeda motor terjatuh. Begitu juga tunggangannya. Sepeda motor terlindaa roda belakang, sedangkan sang pesepesa motor tergulung roda depan bus.

Ajaib, sang pesepeda motor dapat bangkit. Bahkan, berlari menjauh dari lokasi dia terjatuh. Sementara itu, si kuda besi teronggok di atas aspal.

Cermat Mendahului

Ya. Kecelakaan di tikungan jalan masih menjadi momok di jalan raya. Di tikungan jalan yang tajam bahkan kian rawan akan kecelakaan.

Kecelakaan yang terjadi bisa disebabkan dua hal utama, yakni pertama, nekat mendahului di tikungan. Dan, kedua adalah area blind spot.

Mendahului di tikungan jalan amat riskan. Area pandang pengendara yang hendak mendahuli amat terbatas untuk mendeteksi pergerakan kendaraan dari arah berlawanan. Hal ini kian rawan ketika kondisi tikungan demikian tajam.

Karena itu, umumnya di area tikungan jalan dibuat garis putih lurus untuk membasi pergerakan kendaraan dari kedua arah. Kecelakaan terjadi ketika pengendara yang nekat mendahului di tikungan pergerakannya melebar melibas marka jalan tadi sehingga memakan ruang jalan dari arah berlawanan. Tak heran jika saran para pegiat keselamatan jalan adalah tidak mendahului di tikungan jalan, terlebih tikungan tajam.

Sementara itu, kecelakaan yang dipicu area blind spot atau area tidak terlihat, terjadi karena salah satu kendaraan memaksakan diri di tikungan. Kecelakaan jenis ini terjadi ketika sama-sama satu arah.

Misal, pesepeda motor yang ukurannya lebih kecil dibandingkan mobil, memaksakan diri masuk di kiri jalan untuk mendahului mobil yang juga sama-sama hendak berbelok. Amat mungkin pengendara mobil tidak dapat melihat ada pergerakan sepeda motor itu karena di kaca spion mobil tidak tampak ada pergerakan motor.

Selain itu, perhatikan juga bahwa mendahului lebih aman dan selamat dari sisi kanan. Hal itu mengingat Indonesia menerapkan pola berkendara di lajur kiri jalan. (edo rusyanto)

Masih Kikuk Ngisi BBM Sendiri

12 April 2017


MASIH kikuk. Kira-kira begitu saat saya mengisi bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pompa bensi umum (SPBU).

“Tinggal tekan aja pak, terus arahin ke tanki selangnya. Oh ya, bayarnya di sini,” ujar pegawai SPBU berseragam kemeja putih dan celana panjang hitam kepada saya, di Jakarta Selatan, Selasa, 11 April 2017 siang.

Rasa kikuk bukan milik saya sendiri. Sebelumnya, saya lihat juga dialami seorang pesepeda motor yang hendak mengisi BBM di SPBU yang sama. Bisa jadi karena tidak biasa, sama seperti saya.

Kekikukan tadi lantaran belum biasa, sudah pasti. Bisa jadi kikuk karena takut BBM yang disalurkan ke tanki takut tercecer. Selain itu, khawatir membahayakan diri dan orang lain. Walau, faktanya semua lancar-lancar saja. Hehehehehe….

Ya. Begitulah suasana saat mengisi BBM di SPBU yang memiliki fasilitas self service alias mengisi sendiri BBM yang akan dibeli konsumen. Kali ini, saya menemuinya di kawasan Jl Lenteng Agung dari arah Kampus Universitas Indonesia, Depok. Lokasinya persis di sisi kiri jalan yang menerapkan satu arah menuju ke Stasisun Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Siang itu saya lihat belasan pesepeda motor dengan tertib menunggu giliran. Sang petugas membantu mengarahkan mereka yang ingin mengisi. Konsumen membayar ke petugas tadi.

Di dekat sang petugas terdapat mesin penghitung uang dan sebuah spanduk informasi berukuran kccil dengan warna mencolok mata.

“Lakukan pembayaran di standing console dan menerima bukti transaksi (struk/nota),” bunyi tulisan di papan informasi itu.

Lalu, terdapat informasi untuk konsumen menempatkan kendaraan sesuai arahan operator dan matikan mesin saat mengisi BBM.

Selain itu, “angkat selang nozzle, tarik tuas nozzle secara perlahan dan hati-hati saat pengisian BBM/BBK.”

Oh ya, di SPBU ini hanya tersedia jenis BBM Pertalite dan Pertamax. Tidak ada jenis Premium.

Pembelian bahan bakar dengan sistem self service ternyata sudah dicanangkan sejak 2011. Saat itu, PT Pertamina (Persero) memulainya lewat SPBU di kawasan Gading Serpong, Tangerang, Banten. Konsumen bisa membeli dengan memakai pembayaran via kartu kredit atau tunai lewat kasir.

SPBU tersebut ternyata merupakan bagian dari Company Own Company Operated (COCO). Badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mencanangkan 12 SPBU COCO per tahun. Pernah disebut-sebut bahwa SPBU seperti itu membutuhkan investasi sekitar Rp 20 miliar untuk satu SPBU.

Saya pernah mencoba pertamakali pada 2013. Saat itu, lebih kikuk dari saat ini. Hehehehe….Norak yah? (edo rusyanto)