Lanjut ke konten

Dua Kasus Mengantuk yang Bisa Jadi Pembelajaran

29 Desember 2018

DALAM rentang waktu yang nyaris berdekatan, dua kecelakaan yang sangat diduga dipicu rasa mengantuk menimpa kolega saya. Lagi-lagi, fakta membuktikan bahwa mengantuk saat berkendara berisiko tinggi.

Kasus pertama terjadi di Jakarta. Atria, kita sapa saja demikian, harus menderita luka-luka lantaran kecelakaan sepeda motor. Posisi dia menjadi penumpang, sedangkan pengendara adalah sang suami yang menjemputnya seusai bekerja. Walau mengaku tidak mengalami cedera serius, Atria terpaksa tidak masuk kantor akibat luka yang dideritanya.

Kejadian malam itu membuat Atria kian menyadari bahwa mengantuk saat bersepeda motor berisiko tinggi, termasuk bisa memicu kecelakaan.

Di bagian lain, yakni kasus kedua, terjadi di kawasan Jawa Barat. Persisnya di jalan tol dari Jakarta menuju Cikampek, Jawa Barat. Kolega saya sedang dalam perjalanan bersama keluarga. Mobil yang dikendarainya melaju normal. Tiba-tiba di tengah antrean terdengar suara benturan dari arah belakang dan mobil yang dia kendarai sedikit tergoncang.

“Rupanya mobil saya ditabrak dari belakang oleh mobil angkutan barang, sopirnya mengaku ngantuk,” tutur Imam.

Tidak ada korban yang terluka, hanya kerusakan di bagian bemper belakang mobil Imam. Sempat dongkol melihat kelakuan sang penabrak. Namun, melihat permintaan maaf sang penabrak, suasana emosi mereda. “Dia minta maaf dan mengaku tidak punya uang untuk mengganti. Selanjutnya, dia saya suruh istirahat untuk menghilangkan rasa ngantuknya,” ujar dia.

Hilangnya Konsentrasi
Banyak kasus kecelakaan lalu lintas jalan yang dipicu oleh pengemudi yang mengantuk. Mulai dari kecelakaan ringan hingga kecelakaan fatal yang merenggut banyak korban jiwa. Aspek ini menjadi salah satu pemicu kecelakaan di faktor manusia, selain lelah, lengah, dan sakit.

Rasa kantuk saat mengemudi dapat merusak konsentrasi. Padahal, konsentrasi dibutuhkan untuk menjaga laju kendaraan tetap aman dan selamat. Lewat konsentrasi yang maksimal, pengendara mampu melakukan antisipasi secara benar sehingga memperkecil risiko saat berlalulintas jalan.

Setidaknya ada tiga langkah untuk mencegah serangan rasa kantuk ketika. Pertama, sebelum bepergian, sang pengemudi memiliki istirahat tidur yang cukup berkisar 6-8 jam.

Kedua, memiliki sopir pengganti. Bergantian mengemudi memberi kesempatan salah satunya memiliki cukup energi dan tetap bugar.

Ketiga, mengatur ritme istirahat dengan baik. Setidaknya beristirahat setiap dua jam sekali bagi pesepeda motor dan setiap empat jam sekali bagi pengemudi mobil. Saat istirahat dapat dimanfaatkan untuk tidur berkualitas sekitar 15 menit untuk menjaga kebugaran.

Oh ya, soal ngantuk pun diatur dalam regulasi lalu lintas kita. Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara untuk terus berkonsentrasi saat berkendara. Maklum, bila tidak konsentrasi bakal memicu terjadinya kecelakaan.

Salah satu perusak konsentrasi adalah mengantuk. Karena itu, dapat ditafsirkan bahwa pengendara dilarang mengemudi ketika mengantuk. Bagi yang nekat melakukan hal itu bisa dicokok dengan sanksi pidana penjara tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu. (edo rusyanto)

Menguji Konsistensi Road Safety Pemda Lewat IRSA

24 Desember 2018

PERAN pemerintah daerah (pemda) cukup strategis dan sangat diharapkan muncul untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat (road safety). Entah itu di tingkat kabupaten, pemerintah kabupaten (pemkab), maupun pemerintah kota (pemkot). Lewat instrumen anggaran, regulasi, hingga sumber daya manusia (SDM), para pemda mampu mempengaruhi kehidupan warga.

Fokus program yang digulirkan pemda diharapkan mampu menekan fatalitas korban kecelakaan lalu lintas jalan. Di hilir, program itu mendorong perilaku berlalulintas jalan yang aman dan selamat menjadi budaya. Road safety menjadi kebutuhan.

Pertanyaannya, seperti apa program itu dan bagaimana implementasinya di lapangan?

Pada 2018, radar Indonesia Road Safety Award (IRSA) menangkap sinyal gerakan road safety di 137 kota di Tanah Air pada 2018. Mereka adalah pemda yang mengikuti proses untuk memperoleh penghargaan atas upaya yang dilakukan untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat versi IRSA.

Ajang besutan PT Asuransi Adina Dinamika (Adira Insurance) kali ini merupakan tahun keenam. Selain melibatkan pakar, pegiat, dan pemerhati keselamatan jalan, IRSA 2018 juga menggandeng para pemangku kepentingan (stakeholders) keselamatan jalan yaitu kementerian perhubungan (kemenhub), Kepolisian RI, dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Mereka bahu membahu guna memupus catatan kelam di jalan raya. Setiap hari, di Indonesia rata-rata terjadi 280-an kasus kecelakaan lalu lintas jalan. Ironisnya, kecelakaan tersebut merenggut 70-an jiwa setiap hari. Sinergisitas menjadi kata kunci untuk mencapai tujuan mulia tersebut.

Menurut Julian Noor, direktur utama Adira Insurance penilaian IRSA mengacu pada lima pilar keselamatan jalan seperti yang tertuang pad Rancangan Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK). Kelimanya mencakup manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, dan penanganan pra dan pasca kecelakaan.
“Tahun ini kami menambahkan salah satu atribut penilaian IRSA, yakni penerapan konsep smart city pada sistem keselamatan jalan (Smart City for Road Safety),” kata dia, di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menambahkan, di era digital saat ini, penting bagi kota dan kabupaten dalam menangani masalah lalu lintas termasuk kecelakaan dengan mengacu pada konsep smart city. Konsep ini menerapkan pelayanan serba prima yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses.

Ciri seperti itu salah satunya melekat dengan manajemen lalu lintas jalan yang memanfaatkan teknologi informasi seperti tilang elektronik, pengaturan lampu lalu lintas, dan pengelolaan manajemen transportasi kota. Ketiga sistem tersebut terkait erat dengan pencegahan maupun penanganan kecelakaan lalu lintas jalan.

Peraih IRSA 2018

Kembali soal IRSA 2018. Ke-137 calon penerima anugerah diseleksi oleh dewan juri untuk memilih finalis. Oh ya, jumlah peserta tahun 2018 meningkat 14,1% bila dibandingkan dengan tahun 2017 yang sebanyak 120 pemda.

Tahun ini, dewan juri memilih 23 finalis. Mereka lolos tahap shortlisting yang mengacu pada data-data yang dimiliki kota masing-masing. Data-data yang menjadi basis penyaringan itu mencakup jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah kecelakaan, jumlah fatalitas kecelakaan, dan data pendukung lainnya.

Lalu, panitia IRSA 2018 melakukan observasi lapangan dan survei kepuasan pengguna jalan terhadap 23 finalis. Tahap ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengukur kualitas penerapan tata kelola keselamatan jalan mereka.

Setelah melalui tahapan tersebut terpilihlah para pemenang IRSA 2018 yang diumumkan di Jakarta, Kamis, 13 Desember 2018, yaitu ;

1. Kategori Kota dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Tinggi. Pemenang Utama: Kota Bandung.
2. Kategori Kota dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Rendah. Pemenang Utama: Kota Samarinda.
3. Kategori Kabupaten dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Tinggi. Pemenang Utama: Kabupaten Pacitan.
4. Kategori Kabupaten dengan Tingkat Kepadatan Penduduk Rendah. Pemenang Utama: Kabupaten Bangka.
5. Kategori Kota/Kabupaten “Excellent City 2018”. Pemenang Utama: Kota Semarang.

Sementara itu, penerima Penghargaan Khusus terdiri atas ;
1. Kota/kabupaten dengan program inovasi terbaik dalam upaya meningkatkan tata kelola keselamatan jalan: Kota Bandung.
2. Kota/kabupaten terbaik pada program edukasi keselamatan jalan: Kota Bandung.
3. Kota/kabupaten terbaik pada upaya meningkatkan jumlah pengguna angkutan umum: Kota Semarang.
4. Kota/kabupaten dalam penerapan konsep smart city pada program keselamatan jalan: Kota Semarang.
5. The Most Inspiring City in Road Safety: Kota Surabaya.

Terkait kategorisasi kota, sejak 2016, menggunakan dasar tingkat kepadatan penduduk di suatu kabupaten atau kota. Semula, sejak IRSA digulirkan sejak 2013, menggunakan kategori berdasarkan jumlah penduduk.

Di sisi lain, peran pemda sejatinya tak terlepas dari Instruksi Presiden (Inpres) No 4 tahun 2013 tentang Program Keselamatan Jalan Presiden Republik Indonesia tertanggal 11 April 2013. Inpres tersebut menginstruksikan kepada 12 menteri, Kapolri, 33 gubernur, dan ratusan para bupati dan walikota. Mereka diminta lebih terkoordinasi dalam menjalankan program keselamatan jalan. Seluruh kegiatan yang dilakukan mereka mesti dilaporkan ke Presiden paling sedikit satu kali dalam satu tahun. Pelaporan dilakukan melalui Menteri PPN/Kepala Bappenas.

Sementara itu, IRSA adalah sebuah program yang digagas oleh Adira Insurance bekerja sama dengan Majalah SWA untuk meningkatkan kesadaran dan penerapan sistem keselamatan di jalan raya. Program ini khususnya ditujukan untuk para pemda setingkat kabupaten dan kotamadya. (edo rusyanto)

foto:
istimewa
IG dudisugandi

Tiap 24 Detik Satu Orang Meninggal Karena Kecelakaan

8 Desember 2018

KASUS kecelakaan lalu lintas jalan masih mencemaskan warga dunia. Bagaimana tidak, tiap 24 detik, satu orang meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan.
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dalam laporan bertajuk Global Status Report on Road Safety 2018 menyebutkan, jumlah orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan mencapai sekitar 1,35 juta jiwa. Sekalipun angka kematian akibat kecelakaan belakangan ini relatif stabil di negara ekonomi menengah dan tinggi, kondisi sebaliknya terjadi di negara-negara berpendapatan rendah.

Laporan ini menyebutkan, cedera lalu lintas jalan menjadi penyebab utama kematian bagi anak-anak dan dewasa muda yang berusia 5–29 tahun. Hal ini menandakan perlunya perubahan dalam agenda kesehatan anak saat ini, yang sebagian besar mengabaikan keselamatan di jalan.

Di sisi lain, kecelakaan di jalan menjadi penyebab kematian ke delapan untuk semua kelompok umur yang melebihi penyakit HIV / AIDS, tuberkulosis dan diare.

Melihat kondisi seperti itu tentu saja kita tidak boleh tinggal diam. Sekecil apapun tindakan kita untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat, sangatlah penting. Misal, mengajak pesepeda motor agar senantiasa memakai helm saat berkendara.

“Tidak ada alasan untuk tidak bertindak. Laporan ini (Global Status Report on Road Safety 2018) adalah seruan bagi pemerintah dan mitra untuk mengambil tindakan yang jauh lebih besar untuk menerapkan langkah-langkah ini,” tutur Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam siaran persnya di Jenewa, Swiss, Jumat (7/12/2018) waktu setempat.


Di tengah masyarakat kita, seruan atau ajakan untuk berlalulintas jalan yang aman dan selamat terasa cukup gencar belakangan ini. Tak semata di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Seruan itu juga mencuat di sejumlah kota menengah dan kecil lainnya.

Gerakan itu bermunculan dari hampir semua elemen bangsa. Sebut saja misalnya dari kalangan anggota kelompok pesepeda motor, kelompok masyarakat peduli keselamatan jalan, korporasi hingga tentu saja instansi pemerintah dan kepolisian.

Buahnya cukup bagus. Setidaknya jika membandingkan jumlah korban yang meninggal tahun 2011 dengan 2017. Tahun 2011, setiap hari jumlah orang yang meninggal akibat kecelakaan di Indonesia rata-rata 80-an jiwa. Kini, pada 2017, angka itu melorot ke 70-an orang per hari. (edo rusyanto)

Luar Biasa, Melonjak Drastis Keinginan Berkampanye

2 Desember 2018

SAAT musim politik seperti pemilihan legislatif, kepala daerah, apalagi pemilihan presiden (pilpres), amat lumrah terjadi lonjakan hasrat berkampanye. Aura ingin memenangi kontestasi politik begitu bergelora. Muaranya mudah ditebak, ingin berkuasa.

Kalau ada lonjakan hasrat berkampanye di luar musim politik, barangkali ajang Safety Campaign Award (SCA) merupakan salah satunya. Hanya saja, kampanye yang satu ini bukan bermuara pada kekuasaan, melainkan kehidupan lalu lintas jalan yang humanis.

Apa maksudnya?

SCA merupakan ajang penghargaan bagi kelompok pesepeda motor yang getol berkampanye pentingnya berlalulintas jalan yang aman dan selamat (road safety). Program besutan PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) ini bukan tanpa alasan. Selain dipicu oleh masih tingginya jumlah kecelakaan lalu lintas jalan, juga lantaran para penunggang kuda besi dianggap lebih toleran. Riset yang diinisiasi Adira pada lima tahun lalu menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh pesepeda motor berkenan meneruskan pesan keselamatan jalan yang diterimanya.

Fakta pun berbicara. Saat pertamakali digulirkan pada 2014, SCA disambangi 35 kelompok pesepeda motor di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek). Mereka mendaftar untuk ikut program berkampanye keselamatan jalan secara lebih terorganisasi, taktis, strategis, dan massif. Pola kampanye dan targetnya beragam. Tentu, selaras dengan tema yang sudah digariskan oleh panitia pelaksana.

Latar belakang peserta SCA kala itu pun beragam. Mulai dari kelompok pesepeda motor mahasiswa, pekerja, profesional hingga wiraswasta. Guna menggaet anugerah SCA mereka menggali ide, gagasan, dan kreatifitas yang selaras dengan tujuh indikator yang dipatok panitia pelaksana SCA.

Indikator yang menjadi pijakan memilih penerima anugerah itu mencakup pengetahuan keselamatan jalan (road safety knowledge), dan konsep keselamatan jalan (road safety concept). Lalu, dampak (impact), publikasi (public exposure), dan ketrampilan presentasi (skill presentation). Selain itu, pada 2017 ditambah dengan strategi memanfaatkan komunikasi digital (digital communication). Indikator lain adalah penyusunan proposal sebagai medium menuangkan gagasan sebelum tahap implementasi.

Pastinya, kesemua indikator itu bermuara pada tiga pokok tujuan SCA yang mencakup perubahan pemahaman, perubahan perilaku, dan membangun budaya atau sistem keselamatan jalan. Tiga pokok ini kian diwujudkan dalam SCA kelima pada 2018.

Kembali soal hasrat berkampanye keselamatan jalan. Bila pada SCA pertama tahun 2014, baru diminati 35 kelompok pesepeda motor, pada 2018 jumlahnya melonjak drastis yakni menjadi 120 kelompok. Artinya, angka itu setara dengan melonjak sekitar 242%. Secara rata-rata, tiap tahun bertumbuh sekitar 49%. Luar biasa.

Pemicu Lonjakan

Boleh jadi sejumlah alasan ini yang mendongkrak kepesertaan SCA.

Pertama, insentif bagi penerima anugerah. Adira menyediakan jutaan rupiah untuk tiga penerima anugerah. Setiap tahun, insentif itu jumlahnya bertambah. Insentif tadi berupa uang tunai yang langsung diberikan kepada penerima anugerah. Insentif lain adalah dana bantuan untuk mengimplementasikan program yang dirancang. Jumlahnya pun jutaan rupiah.

Kedua, SCA kian dikenal. Perlahan namun pasti, SCA menjadi buah bibir di kalangan anggota kelompok pesepeda motor yang peduli road safety. Kian dikenalnya SCA juga ditopang oleh pemberitaan di media arus utama dan meruyaknya info via media sosial.

Ketiga, bertumbuhnya kesadaran kelompok. Kesadaran kelompok pengguna sepeda motor akan pentingnya berlalulintas jalan yang aman dan selamat patut diduga terus bertambah.

Keempat, sistem mentor. Pola memberikan mentor kepada 10 finalis SCA ikut memompa motivasi peserta dan bukan tidak mungkin merasuk kepada calon penerima anugerah. Maklum, para mentor diambil dari perwakilan penerima anugerah tahun sebelumnya serta individu yang ditunjuk panitia pelaksana.

Kelima, perluasan wilayah dari Jadetabek menjadi Jabodetabek. Di masukkannya Bogor sebagai area peserta SCA tentu memperbesar peluang menambah calon peserta SCA. Perluasan wilayah dilakukan sejak 2018.

Wajah 2018

Tahun 2018 menjadi dimulainya penajaman indikator penilaian bagi calon penerima anugerah SCA. Indikator itu adalah digital communication dan mempertegas tujuan SCA di dalam indikator impact.

Penilaian impact dipertegas dengan pembobotan perubahan pemahaman, perubahan perilaku, dan membangun budaya/sistem berlalulintas jalan yang aman dan selamat.

Dan, pada 2018 pula jumlah peserta menyentuh angka tertinggi, yakni 121 kelompok pesepeda motor. Tahapan yang mesti dilalui calon penerima anugerah juga dimodifikasi pada 2018.

Tahapan itu mencakup fase pendaftaran, pengajuan proposal, 50 besar, 10 besar, dan implementasi. Lalu ditutup dengan presentasi atau penjurian.

Perbedaan tahun 2018 dengan empat tahun sebelumnya adalah adanya fase 50 besar, yakni tahap seleksi administrasi atas ide awal peserta. Pada fase ini ke-50 kelompok tadi diberi pendamping. Dan, pada tahap ini satu mentor mendampingi lima kelompok.


Tahap selanjutnya nyaris sama dengan SCA tahun-tahun sebelumnya, yakni 10 besar dan implementasi serta tahap penjurian.

Khusus saat tahap implementasi, panitia mengirim pengamat (observer) sebagai masukan bagi dewan juri dalam tahap penjurian.

Hasil lengkap penerima anugerah SCA 2018 mencakup;

1. Juara 1 : CBR Tangerang Club (CBR TAC)
2. Juara 2 : Independent Bikers Club (IBC) Jakarta
3. Juara 3 : Verza Rider Community Indonesia (VRCI) Region Bekasi

Serta penghargaan kategori khusus yang diberikan kepada:

1. Kutu Community sebagai Digital Guerilla Strategy
2. CBR Club Indonesia Region Bekasi sebagai Best Community Influence

Selain itu, diberikan juga penghargaan untuk Mentor Terbaik SCA 2018 yaitu Rully Wisaksono dari Koster Indonesia.

Terus bergerak! (edo rusyanto)

foto-foto:
alanbikers.com
zonabikers.com
shimo IG
wahyudewii IG

Begini Kecelakaan yang Ditanggung BPJS Ketenagakerjaan

14 November 2018

KECELAKAAN lalu lintas jalan berdampak luas. Selain menimbulkan kerusakan barang, serta korban luka dan meninggal dunia, juga dapat berujung pada persoalan ekonomi, sosial, bahkan hukum.

Korban atau keluarga korban bakal merogoh kocek cukup dalam. Bukan mustahil, keluarga korban kecelakaan yang meninggal dunia dapat goyah perekonomiannya. Terlebih bila sang korban adalah tiang ekonomi keluarga. Berbagai rencana bisa berubah dalam sekejap, termasuk urusan pendidikan anak.

Terkait hal itu, tahukah bahwa korban kecelakaan lalu lintas jalan berhak menerima santunan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan?

Lantas, apa saja manfaat dan bagaimana mekanisme mengurus santunan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) tersebut?
Mari kita simak.

Jaminan Kecelakaan Kerja

Sejak 2011, kita mengenal BPJS Ketenagakerjaan yang sebelumnya bernama Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Ketentuan mengenai hal ini tertuang dalam Undang Undang (UU) No 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Para pekerja formal dapat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan dengan empat manfaat, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKm), dan Jaminan Pensiun. Sementara itu, untuk pekerja informal, berhak dan wajib mengikuti JKK dan JKM, sedangkan untuk JHT bersifat opsional.

Dalam tulisan ini saya fokus melihat JKK, khususnya dari sisi kecelakaan lalu lintas jalan, yakni saat pekerja pergi maupun pulang dari tempat kerja. Maklum, defenisi kecelakaan kerja berdasarkan aturan yang berlaku saat ini adalah kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya serta perjalanan dinas. Selain itu, penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.

Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) RI No 26 tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematin, dan Jaminan Hari Tua bagi Peserta Penerima Upah.
Selain itu, dapat juga dilihat dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 44 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. PP tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.


Bagi korban yang meninggal dunia manfaat JKK diberikan kepada ahli waris berupa;
1. Santunan kematian sebesar = 60% x 80 x upah sebulan, paling sedikit sebesar Jaminan Kematian.
2. Biaya pemakaman Rp 3 juta
3. Santunan berkala dibayar sekaligus= 24 x Rp 200 ribu = Rp 4,8 juta
4. Jika pekerja tersebut memiliki anak, maka diberikan bantuan beasiswa kepada anaknya yang masih sekolah sebesar Rp 12 juta untuk setiap pekerja.

Sementara itu, ahli waris yang dimaksud adalah; a. janda, duda, atau anak;
b. Namun, dalam hal janda, duda, atau anak tidak ada, maka manfaat JKK diberikan sesuai urutan sebagai berikut:
1. keturunan sedarah pekerja menurut garis lurus ke atas dan ke bawah sampai derajat kedua;
2. saudara kandung;
3. mertua;
4. pihak yang ditunjuk dalam wasiatnya oleh pekerja; dan
5. bila tidak ada wasiat, biaya pemakaman dibayarkan kepada pihak lain yang mengurus pemakaman, sedangkan santunan kematian diserahkan ke Dana Jaminan Sosial.

Soal ahli waris di BPJS Ketenagakerjaan sedikit berbeda dengan santunan bagi korban kecelakaan yang diberikan oleh Jasa Raharja. Santunan dari badan usaha milik negara (BUMN) itu hanya kepada suami, isteri, anak, dan orang tua dengan besar santunan korban meninggal sebesar Rp 50 juta.

Cara Mengurus

Secara umum cara mengurus klaim JKK mencakup, Pertama, apabila peserta mengalami kecelakaan pada saaat bekerja, perusahaan/perusahaan wajib mengisi form BPJS Ketenagakerjaan 3 (laporan kecelakaan tahap 1). Lalu, dikirimkan ke kantor BPJS Ketenagakerajaan paling lambat 2×24 jam sejak kecelakaan itu terjadi.


Kedua, setelah pekerja/tenaga kerja dinyatakan telah sembuh atau meninggal dunia oleh dokter yang merawat. Perusahaan atau pengusaha wajib mengisi form 3a (laporan kecelakaan tahap 2) dan dikirimkan ke BPJS Ketenagakerjaaan paling lambat 2×24 jam sejak tenaga kerja dinyatakan sembuh atau meninggal. BPJS Ketenagakerjaan akan menghitung dan membayar santunan dan ganti rugi kecelakaan kerja yang terjadi menjadi hak tenaga kerja/ahli waris sesuai ketentuan.

Ketiga, form BPJS Ketenagakerjaan 3a yang telah diisi tadi memiliki fungsi sebagai pengajuan permintaan pembayaran jaminan disertai bukti sebagai berikut : Fotocopy kartu peserta (KPJ), surat keterangan dokter yang merawat dalam bentuk 3a atau 3c, kuitansi biaya pengobatan dan perawatan serta kuitansi pengangkutan.

Nah, jika kecelakaan kerja itu saat hendak ke tempat kerja atau sebaliknya, yakni kecelakaan lalu lintas jalan, perlu dilengkapi surat dari kepolisian atau keterangan dari dua orang saksi jika terjadi kecelakaan lalu lintas. Kemudian, korban atau keluarga harus melapor langsung ke BPJS Ketenagakerjaan dengan mengisi formulir kecelakaan kerja (KK) untuk satu laporan awal.

“Setelah selesai semua perawatan dan pengobatan, dilanjutkan pelaporan KK 2 sampai dengan KK 4,” ungkap Utoh.

Nyaris tak ada pengguna jalan yang ingin kecelakaan. Langkah mengurus hak korban atau ahli waris terkait santunan Jasa Raharja maupun JKK dari BPJS Ketenagakerjaan menjadi upaya mereduksi dampak dari kecelakaan yang bisa meluas. Khususnya, terkait dengan dampak finansial yang kemungkinan melanda keluarga korban kecelakaan, terlebih bila korban yang meninggal adalah tiang ekonomi keluarga. (edo rusyanto)

Sumber:
Cara mengajukan klaim JKK BPJS Ketenagakerjaan (Panduanbpjs.com)
Saat Kecelakaan, Tagih Jasa Raharja dan BPJS! (cnnindonesia.com)
Hukumonline.com

Wajah SCA Dulu dan Kini

14 Oktober 2018

SAFETY Campaign Award (SCA) memasuki tahun kelima pada 2018. Program kampanye keselamatan jalan yang bergulir secara konsisten dan terukur tersebut konsepnya terus dipertajam dari tahun ke tahun.

Pertamakali bersentuhan dengan program besutan Adira Insurance tersebut saya sempat ragu apakah kegiatan ini dapat konsisten bergulir. Keraguan saya kian pupus saat program yang melibatkan anggota kelompok pesepeda motor tersebut memasuki tahun kelima. Sinyal untuk terus mempertahankan program kian kuat. Bahkan, setiap tahunnya mendapat suntikan darah segar.

Antusiasme penyelenggara, khususnya dari kalangan karyawan Adira yang ditunjuk menangani program itu nyaris tak kalah dengan kelompok pesepeda motor yang terlibat. Bongkar pasang manajemen tak menggoyahkan perjalanan program, setidaknya sampai 2018. Aspek ini pula yang turut memupus keraguan saya yang muncul saat masa-masa awal SCA digulirkan.

Gagasan Awal

Sebelum bernama SCA, sempat mencuat gagasan agar kegiatan itu diberi nama Safety Campaign Competition (SCC). Saat itu, yakni tahun 2014, perdebatan nama akhirnya menyepakati SCA ketimbang SCC. Maklum, bila penekanan pada ‘competition’ substansi kegiatan cenderung menjadi sekadar ajang adu konsep untuk meraih yang terbaik. Padahal, program itu sejatinya merupakan apresiasi yang diberikan Adira Insurance kepada kelompok pesepeda motor yang telah menggulirkan kampanye keselamatan jalan secara konsisten dan terukur. Sekaligus menjadi ajang menyemai kepedulian kepada keselamatan lalu lintas jalan di kalangan kelompok pesepeda motor.

Tahun pertama SCA digulirkan, yakni pada 2014, ada tiga tahapan yang harus dilalui para peserta sebelum akhirnya memperoleh anugerah (award). Tahap pertama, setelah melakukan registrasi daring, komunitas/klub pesepeda motor diwajibkan membuat proposal usulan satu kegiatan kampanye keselamatan jalan (road safety). Proposal tadi dikirim ke panitia pelaksana, lalu diseleksi untuk memilih 15 besar.

Untuk tahap pertama, kriteria penilaian mencakup; public exposure (20%), manfaat dan keterlibatan pihak lain/ multiplier effect (25%), konsep kegiatan (25%), dan kegiatan kampanye keselamatan di jalan yang pernah dilakukan sebelumnya (15%). Selain itu, inovasi & keunikan (10%) serta lolos verifikasi kelengkapan administrasi (5%).

Tahap kedua, yakni implementasi. Pada tahap ini 15 komunitas/klub dengan proposal terbaik yang telah terpilih pada tahap sebelumnya diharuskan mengimplementasikan kegiatan tersebut sesuai dengan proposal yang telah diberikan. Pada tahap ini komunitas/klub diberikan subsidi dana kegiatan sebesar Rp 1 juta untuk implementasi kegiatan.

Selanjutnya akan dipilih 10 komunitas/klub terbaik berdasarkan kriteria penjurian. Oh ya, kriteria di tahap ini adalah kesesuaian waktu berdasarkan proposal (5%), public exposure (25%), manfaat & keterlibatan pihak lain (multiplier effect) (30%), konsep kegiatan (25%), dan keterlibatan anggota (15%).

Setelah melewati dua tahap, selanjutnya masuk ke tahap yang menentukan, yakni tahap ketiga atau tahap presentasi.Di tahap ini, ke-10 kelompok pesepeda motor yang lolos diharuskan mempresentasikan kegiatan yang telah dilakukan. Bobot penilaian di tahap ini terdiri atas public exposure (25%), manfaat & keterlibatan pihak lain/multiplier effect (30%), dan konsep kegiatan (25%). Selain itu, inovasi & keunikan (5%), pengetahuan terkait konsep road safety (10%), dan kemampuan presentasi (5%).

Dari tahap tersebut bakal dipilih tiga terbaik yang bakal mendapat penghargaan SCA 2014. Mereka memperoleh uang penghargaan hadiah pertama Rp 7 juta, kedua Rp 5 juta, dan ketiga Rp 2 juta. Selain itu, ada dana subsidi kegiatan untuk tiga bulan masing-masing sebesar Rp 3 juta.

Perubahan Wajah

Lima tahun kemudian, yakni pada 2018, wajah SCA berubah bentuk. Jika semula hanya tiga tahap, kini terdapat empat tahap. Sejatinya penambahan itu lebih berupa pengembangan pada tahap pendaftaran. Setelah registrasi daring atau registrasi fisik dengan mengisi formulir, calon peserta SCA barulah membuat proposal. Bedanya, dalam pembuatan proposal, kelompok pesepeda motor akan didampingi oleh mentor yang ditunjuk oleh panitia pelaksana (panpel).

Konkretnya, dari 121 pendaftar, panpel menyaring 50 besar calon peserta SCA. Lalu, ke-50 kelompok tadi mendapat mentor. Khusus tahun 2018, satu mentor menangani lima kelompok.

Proposal yang masuk tercatat 35 kelompok karena 15 lainnya mengundurkan diri dengan beragam alasan. Ke-35 proposal tadi diseleksi oleh panpel untuk memilih 10 besar. Peserta yang lolos 10 besar tadi didampingi satu mentor untuk mempertajam rencana sekaligus memuluskan implementasinya.
Para mentor sebelum bertugas dibekali sejumlah materi dalam workshop yang digelar di Jakarta. Mulai dari materi seputar keselamatan jalan, pembuatan proposal hingga strategi komunikasi digital. Begitu juga dengan para kelompok yang lolos 10 besar. Bersama para mentor, mereka dibekali materi terkait tema SCA 2018 yang mencakup pengetahuan seputar helm, strategi komunikasi digital, dan pengalihan risiko lewat BPJS Tenaga Kerja.

Sementara itu, kriteria atau pembobotan dalam penyaringan tiap tahap nyaris sama dengan tahun 2014. Untuk menyeleksi peserta masuk dalam 50 besar kriterianya mencakup; road safety concept (25%), road safety knowledge (25%), dan communication tools (25%). Selain itu, road safety experience (20%) dan lolos verifikasi kelengkapan administrasi (5%).

Pembobotan untuk lolos 10 besar mencakup multiplier effect (25%), road safety concept (20%), dan communication strategy (20%). Selain itu, public exposure (15%), penulisan proposal (15%), dan inovasi/keunikan (5%).

Peserta 10 besar atau finalis akan mengikuti presentasi setelah melalui tahap implementasi. Di tahap untuk menentukan tiga besar penerima anugerah itu kriteri penilaiannya mencakup; impact (30%), public exposure (20%), serta road safety concept dan road safety knowledge (20%). Selain itu, digital communication (15%), pengukuran kampanye (10%), dan presentation skill (5%).

Terkait uang penghargaan, untuk SCA 2018 terdiri atas hadiah pertama sebesar Rp 10 juta dengan dana subsidi kegiatan untuk tiga bulan Rp 6 juta atau setiap satu kegiatan per bulan Rp 2 juta. Lalu, hadiah kedua Rp 7 juta plus Rp 6 juta dan hadiah ketiga Rp 5 juta plus Rp 6 juta. Sedangkan dua hadiah khusus masing-masing Rp 2,5 juta per kelompok.

Perbedaan lain SCA 2018 dengan SCA 2014 adalah wilayah cakupan peserta. Semula wilayah peserta kegiatan adalah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek). Kini, ditambah dengan Bogor sehingga mencakup Jabodetabek.

Secara umum, SCA menjadi satu-satunya gerakan keselamatan jalan yang konsisten dan terukur dengan melibatkan anggota kelompok pesepeda motor. Duet masyarakat dengan dunia usaha ini menempati posisi strategis di tengah masih kelamnya jalan raya kita. Membangun budaya berlalulintas jalan yang aman dan selamat mutlak terus digulirkan mengingat masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas jalan. Kita tahu, Indonesia masih menghadapi 280-an kasus kecelakaan per hari yang merenggut 70-an jiwa per hari. Terus bergerak. (edo rusyanto)

foto:
elangjalanan, koster, dan stircom

Terjerembab Usai Hindari Tabrakan

10 Oktober 2018

SUARA nyaring benda jatuh terdengar. Brak!!!

Sepeda motor bersama pengendaranya jatuh bersamaan di atas permukaan jalan aspal. Kami yang ada di belakangnya saling mengerem. Berhenti.

Sang pengendara sepeda motor tergeletak di atas aspal. Beberapa orang di dekat situ sontak membantu memindahkan ke tepi jalan. Sebagian lagi memindahkan sepeda motor perempuan tadi.

“Ada kecelakaan. Silakan lanjut,” kata pria bersepeda motor yang membantu arus lalu lintas agar mengalir, Kamis (15/8/2018) sore.

Arus kendaraan pun akhirnya mengalir. Orang-orang yang ingin menonton kejadian itu jadi sungkan. Maklum, rasa ingin tahu yang berlebihan justeru bisa menambah kemacetan.

Sebelum melanjutkan perjalanan sore itu, saya lihat perempuan yang tadi jatuh dari sepeda motornya tampak sadar. Tak ada luka serius di tubuhnya. Dugaan saya, dia mengalami shock.

Jarak Aman

Saya menduga kecelakaan ringan tadi lantaran sang pesepeda motor panik, lalu mengerem dan akhirnya terjungkal.

Mengapa panik?

Sepintas saya lihat pesepeda motor yang terjerembab itu awalnya mencoba menghindari tabrakan dengan sepeda motor yang ada di depannya. Namun, justeru terjerembab. Saat kejadian, laju kendaraan sangat lambat karena ramainya kendaraan bermotor selepas lampu merah.

Perkiraan saya konsentrasi sang pengendara tidak maksimal. Bila konsentrasi penuh, daya antisipasi dapat lebih baik lagi. Selain itu, tentu saja butuh menjaga jarak aman agar tidak terjadi tabrak belakang. (edo rusyanto)