Skip to content

Mengintip Batas Usia Anak dari Tiga Undang Undang

1 Februari 2018

KERAP kita berpapasan dengan anak-anak di bawah umur yang berkendara di jalan raya. Kesimpulan bahwa itu anak di bawah umur salah satunya dari seragam sekolah yang dipakai. Misalnya, siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Bahkan, dari seragam sekolah dasar (SD).

Pemandangan yang mudah dilihat di sekitar kita adalah mereka yang mengendarai sepeda motor. Sesekali, ada juga menjumpai anak yang mengemudikan mobil.

Pertanyaannya, rentang usia berapakah yang disebut dengan anak? Usia sebelum 17 tahun? Atau, sebelum 18 tahun?

Kalau merujuk Undang Undang (UU) No 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, terlihat bahwa yang dimaksud dengan anak adalah orang yang belum berusia 18 tahun. Pasal 1 dalam UU No 35 tahun 2014 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Saya menyimpulkannya bahwa mereka yang masih 17 tahun adalah anak. Sama nggak dengan kesimpulan Anda?

Di sisi lain, UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya dalam pasal 81 ayat 2 menyatakan bahwa batas usia minimal memperoleh surat izin mengemudi (SIM) adalah 17 tahun. Batas usia itu khusus untuk memperoleh SIM C, yakni untuk mengendarai sepeda motor.

Nah, kalau merujuk UU No 35 tahun 2014, usia 17 tahun masuk dalam kategori anak. Artinya?

Tunggu dulu, tahukah kita bahwa UU kita yang lain, yakni UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan justeru memiliki batas usia yang lain. Lihat sajaPasal 7 ayat (1) yang menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Berarti?

Oh ya, khusus terkait batas umur orang yang boleh menikah, sejumlah warga mengajukan uji materiil aturan tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MA). Warga mengajukan agar batas umur wanita sama dengan pria, yakni 19 tahun.
Ngomong-ngomong UU No 34/2014 di dalam pasal 20 menyatakan bahwa negara, pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, keluarga, dan orang tua atau wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak. Artinya, jika terkait perlindungan anak dari kemungkinan risiko kecelakaan lalu lintas jalan, tidak semata kewajiban orang tua. Di dalamnya ada kewajiban masyarakat.

Itu berarti, saya, Anda, dan kita semua, punya andil untuk saling mengingatkan agar anak-anak tidak menjadi korban kecelakaan. Apalagi, menjadi pelaku kecelakaan yang dapat menimbulkan dampak jauh lebih buruk.
Sekadar menyegarkan ingatan kita, Di Indonesia, dari sisi penerima santunan korban kecelakaan PT Jasa Raharja untuk kelompok pelajar, tentu termasuk anak-anak, tercatat naik 4,1% pada 2017. Bila pada 2016 tercatat 32.960 orang, tahun 2017 naik menjadi 34.328 orang.

Artinya, setiap hari ada 94 anak dan remaja yang menerima santunan korban kecelakaan. Sebuah angka yang memilukan.
Hanya saja, pasti ada yang bingung, termasuk saya, soal berapa sih batas pastinya usia yang dapat dikategorikan sebagai anak? Butuh pencerahan nih. (edo rusyanto)

Jalanin Aja Dulu, Terlihat dan Melihat

30 Januari 2018

MENCEGAH lebih baik ketimbang mengobati. Jargon itu demikian kondang di masyarakat kita.

Nah, di jalan raya, terutama saat berlalu lintas jalan, jargon tadi juga dapat diimplementasikan. Dua cara berikut ini boleh jadi dapat dijajal untuk memperkecil risiko terlibat dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Tentu saja, sekaligus menjadi sebuah upaya mereduksi fatalitas yang mungkin menimpa saat terlibat kecelakaan.

Kedua cara yang saya maksud adalah senantiasa terlihat dan melihat ketika berkendara di jalan.

Terlihat maksudnya adalah kendaraan kita dapat dengan mudah terlihat oleh pengguna jalan lainnya. Hal ini penting mengingat kecelakaan kerap akibat sesama pengendara tidak saling mengetahui ada kendaraan lain. Kejadian ini misalnya kecelakaan yang terjadi saat mendahului.

Cara untuk terlihat bisa beragam. Pertama, khususnya bagi pesepeda motor, senantiasa memakai jaket atau helm yang mudah dilihat pada siang maupun malam hari. Pilihan memakai warna cerah tergolong masuk akal. Begitu juga dengan fitur yang mudah berpendar ketika terkena cahaya saat berkendara malam hari.

Kedua, masih terkait pesepeda motor, senantiasa menyalakan lampu utama dapat ikut memperkuat teori terlihat. Secara umum, seluruh kendaraan yang berlalu lintas jalan sepatutnya dipastikan memiliki lampu-lampu yang dalam kondisi baik. Serta, tentu saja menghidupkan lampu sesuai kebutuhan. Misal, menyalakan lampu isyarat petunjuk arah ketika hendak berbelok atau berpindah lajur. Contoh lain, menggunakan lampu kabut ketika melintas di kawasan yang berkabut.

Lalu, ketiga, ini bisa diterapkan oleh pesepeda motor maupun pengendara mobil, yakni senantiasa menghindari berada di area tak terlihat (blind spot area). Maklum, area ini memperlebar celah terjadinya kecelakaan ketika berlalu lintas jalan.

Cara kedua adalah senantiasa melihat. Hal ini mengharuskan kita pengendara senantiasa fokus dan waspada. Beberapa cara melihat berikut ini dapat dijajal. Pertama, memandang jauh kedepan. Langkah ini lebih memperkecil risiko atas terjadinya insiden maupun kecelakaan. Masih terkait memandang ke depan, senantiasa melihat ke arah titik hendak berbelok ketika berada di tikungan jalan.

Kedua, senantiasa melihat kaca spion. Hal ini bermanfaat ketika hendak mendahului maupun berbelok atau pindah lajur. Tentu, ini untuk memastikan ada atau tidaknya pergerakan kendaraan dari arah belakang kita.

Ketiga, terutama bagi pesepeda motor, menoleh (head check) dapat membantu kenyamanan dan keselamatan ketika hendak berbelok atau pindah lajur.

Yuk, terus berkonsentrasi ketika berlalu lintas jalan guna memangkas fatalitas. Cara penting untuk mempertahankan konsentrasi adalah dengan senantiasa fokus dan waspada. Jajal deh. (edo rusyanto)

Begini Titik Benturan dan Faktor Kecelakaan Pedestrian

27 Januari 2018

Motorola
RAZRV3x
85.98.90R
2009:02:11 17:37:48

TAHUKAH kita dimana saja titik benturan saat pedestrian terlibat kecelakaan? Apa saja faktor-faktor utama risiko pejalan kaki?

Mari kita simak buku Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bertajuk ‘Keselamatan Pejalan Kaki, manual keselamatan jalan untuk pengambil keputusan dan praktisi’.

Sebagian besar kecelakaan antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor terjadi dari arah depan. Pada saat terjadi kontak antara mobil dan pejalan kaki, seluruh badan pejalan kaki melingkupi bagian depan mobil. Pejalan kaki dewasa biasanya ‘dihempaskan’ bukan ‘dilindas’ oleh mobil penabrak.

Proses kejadian seorang pejalan kaki dewasa yang sedang berdiri ditabrak oleh bagian depan mobil mencakup;

• Kontak pertama terjadi antara bemper dan daerah betis atau sendi lutut, diikuti oleh kontak antara paha dan pinggir kap mesin.
• Bagian bawah badan terhempas ke depan, dan bagian atas badan terputar dan terhempas ke arah mobil.
• Akibatnya, tulang panggul terbentur pinggir kap mesin dan torax (badan) terbentur bagian atas kap.
• Kepala akan membentur kap mesin atau kaca depan dengan kecepatan yang mendekati atau sama dengan kecepatan mobil penabrak.
• Korban jatuh ke tanah.

Titik Tabrakan

Nah, titik tabrakan akan berbeda menurut tinggi mobil dan tinggi badan pejalan kaki. Misalnya, sebuah kendaraan yang ditinggikan mungkin akan menabrak bagian kepala pejalan kaki anak karena dia pendek .

Luka paling parah biasanya disebabkan oleh tumbukan langsung dengan mobil penabrak, bukan ketika pejalan kaki terhempas ke jalan.

Tingkat keparahan luka pada kepala, otak, torax, panggul, dan tubuh bagian bawah dipengaruhi oleh; kecepatan tumbukan mobil, tipe kendaraan, kekuatan bahan dan bentuk kendaraan, dan bentuk bagian depan (misalnya tinggi bemper, tinggi dan panjang kap mesin, rangka kaca depan.

Lalu, usia dan tinggi badan pejalan kaki dan posisi berdiri pejalan kaki terhadap bagian depan kendaraan.

Faktor-faktor Risiko

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi resiko kecelakaan lalu lintas bagi pejalan kaki mencakup kecepatan, alkohol, kurangnya fasilitas pejalan kaki, buruknya visibility pejalan kaki dan lemahnya penegakan peraturan-peraturan lalu lintas.

Mari kita lihat lebih jauh faktor-faktor tersebut.

1). Kecepatan dan risiko kecelakaan pejalan kaki

Kecepatan mobil mempengaruhi risiko dan akibat kecelakaan. Efek pada risiko kecelakaan muncul utamanya dari hubungan antara kecepatan dan jarak berhenti. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin pendek waktu yang dimiliki pengendara untuk berhenti dan menghindari kecelakaan, termasuk tabrakan dengan pejalan kaki.

Dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh pengendara untuk bereaksi terhadap situasi darurat dan menginjak rem, sebuah mobil yang berjalan 50 km/j biasanya membutuhkan jarak 36 meter untuk sepenuhnya berhenti, sementara sebuah mobil yang berjalan 40 km/j membutuhkan 27 meter.

Rata-rata pengendara membutuhkan 1,5 detik untuk menyadari adanya risiko tabrakan dengan pejalan kaki dan menginjak rem. Mobil kemudian berhenti setelah direm dengan daya perlambatan sebesar 0,7g setelah periode laten awal 0,2 detik yang dibutuhkan agar rem bisa sepenuhnya bekerja.

Di beberapa situasi, pengendara mungkin bereaksi lebih cepat sehingga mobil juga berhenti lebih cepat, tetapi di situasi yang lain, jika pengendara tidak berkonsentrasi penuh pada jalan di depannya atau kondisi jalan basah, kejadian sebaliknya akan terjadi.

Jika mobil berjalan luar biasa cepat, pengguna jalan lain seperti pejalan kaki yang sedang menunggu untuk menyeberang jalan mungkin salah memperkirakan kecepatan kendaraan yang mendekat. Pejalan kaki mungkin mengira keadaan sudah aman untuk menyeberang, kemudian berjalan kaki menyeberang dan akhirnya tertabrak oleh kendaraan.
Probabilitas pejalan kaki akan terluka fatal jika ditabrak oleh kendaraan bermotor naik secara drastis dengan kecepatan tumbukan. Penelitian tahun 1990-an menunjukkan bahwa pejalan kaki memiliki 90% peluang selamat dari tabrakan mobil yang berjalan 30 km/j atau lebih lambat, tetapi kurang dari 50% peluang selamat dari tabrakan mobil dengan kecepatan 45 km/jam.

Setelah menyesuaikan bias sampling dan analisis statistik di penelitian tersebut, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pejalan kaki dewasa memiliki sekitar 20% resiko meninggal jika ditabrak oleh mobil berkecepatan 60 km/jam.

Penting untuk dicatat bahwa analisis risiko ini masih dalam tahap pengembangan dan belum ditegaskan oleh peneliti-peneliti lain tetapi masalah yang tak terbantahkan adalah bahwa kecepatan merupakan sebuah faktor risiko penting kecelakaan pejalan kaki dan bahwa tumbukan dengan kecepatan di atas 30 km/jam meningkatkan kemungkinan luka parah atau kematian.

Kecepatan tumbukan dipengaruhi oleh kecepatan berjalan dan pengereman. Sebagian besar kecepatan teredam di beberapa meter terakhir pengereman, sehingga ketika sebuah mobil berjalan dengan kecepatan 40 km/j telah berhenti, mobil dengan kecepatan 50 km/j masih akan berjalan dengan kecepatan 41 km/j. Dengan demikian, perbedaan kecepatan awal sebesar 10 km/j dapat menghasilkan perbedaan sebesar 41 km/j pada kecepatan tumbukan.

2). Alkohol

Pengaruh alkohol merupakan sebuah faktor penting yang mempengaruhi resiko kecelakaan lalu lintas jalan dan seberapa parah dan akibat cedera yang disebabkan kecelakaan tersebut. Konsumsi alkohol mengakibatkan gangguan kesadaran, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan karena pengendara tidak dapat mengambil keputusan dengan baik, memperpanjang waktu reaksi, menurunkan kewaspadaan dan menurunkan ketajaman visual. Konsumsi alkohol juga dikaitkan dengan kecepatan berlebihan.


Perlu dicatat bahwa pengaruh alkohol sebagai sebuah faktor resiko tidak hanya terbatas pada pengendara kendaraan tetapi juga penting untuk pejalan kaki. Seperti halnya pengemudi kendaraan bermotor, resiko kecelakaan pejalan kaki semakin meningkat seiring meningkatnya kandungan alkohol dalam darah.

3). Kurangnya fasilitas pejalan kaki dalam perancangan jalan dan perencanaan tata guna lahan

Risiko pejalan kaki menjadi semakin tinggi ketika rancangan jalan dan perencanaan tata guna lahan tidak merencanakan dan menyediakan fasilitas seperti trotoar, atau perhatian yang memadai terhadap akses pejalan kaki di persimpangan.

Fasilitas infrastruktur dan mekanisme kontrol lalu lintas yang memisahkan pejalan kaki dari kendaraan bermotor dan membantu pejalan kaki menyeberang jalan dengan aman merupakan mekanisme penting untuk menjamin keselamatan pejalan kaki, yang melengkapi kecepatan kendaraan dan manajemen sistem jalan.

4). Buruknya visibility pejalan kaki

Isu tentang buruknya visibility pejalan kaki sering disebut sebagai sebuah resiko cedera pejalan kaki.
Buruknya visibility diakibatktkan oleh:

• Buruknya, atau kurangnya, penerangan jalan;
• Kendaraan dan sepeda tidak dilengkapi lampu;
• Pejalan kaki tidak memakai aksesoris yang memantulkan cahaya atau pakaian berwarna terang, khususnya saat malam dan fajar atau senja; dan
• Pejalan kaki memakai ruang jalan yang sama dengan kendaraan berkecepatan tinggi.

5). Faktor-faktor risiko lain

Beberapa faktor lain yang menyebabkan kecelakaan pejalan kaki meliputi:

• Lemahnya penegakan peraturan lalu lintas;
• Praktik-praktik mengemudi tidak aman;
• Pengalih perhatian pengemudi, termasuk penggunaan handphone; • Kelelahan pengemudi;
• Konflik pejalan kaki dan kendaraan di titik penyeberangan pejalan kaki;
• Berkurangnya waktu reaksi dan kecepatan berjalan kaki orang berusia lanjut;
• Ketidakmampuan anak-anak untuk memperhitungkan kecepatan kendaraan dan informasi relevan lainnya agar dapat menyeberang jalan dengan aman saat sedirian;
• Kurangnya pengawasan terhadap anak-anak yang masih terlalu kecil untuk dapat mengambil keputusan yang tepat;
• Pengalih perhatian pengemudi, termasuk penggunaan handphone; • Sikap pengemudi dan pejalan kaki;
• Ketidakmauan pengemudi untuk menghormati hak jalan pejalan kaki termasuk ketidakmauan untuk mengalah di penyeberangan pejalan kaki;
• Kondisi dan kerusakaan kendaraan (misalnya, rem, lampu, kaca depan); dan
• Senyapnya suara kendaraan (listrik), yang kehadirannya tidak dapat dideteksi oleh indra pendengaran normal. (edo rusyanto)

Menangkis Caci Maki di Jalan Raya

25 Januari 2018

JALAN raya bak panggung pertunjukan film aksi. Orang dengan mudahnya berkata-kata, bahkan bertindak kasar. Caci maki meluncur dengan  mudahnya. Sudah pendekkah sumbu emosi kita?

Salah satu peristiwa yang saya saksikan terjadi pada suatu siang pertengahan Januari 2018.

Saat itu lalu lintas padat merayap. Maklum, area pasar di bilangan Jakarta Timur itu memang tergolong padat aktifitas. Hilir mudiknya pedagang maupun pembeli menjadi pemandangan sehari-hari. Kehadiran pengendara yang melintas praktis menambah karut marut yang ada. 

Di tengah itu semua muncul pesepeda motor dari arah berlawanan dari arus lalu lintas semestinya. Entah demi tujuan apa praktik melawan arus itu berjalan seakan tanpa beban. Pesepeda motor yang berada di jalur semestinya tampak gerah. Mereka berpapasan. Tak tahu persis apa yang terjadi.

Tiba-tiba sang pelawan arus berteriak dengan nada keras. Umpatan kata-kata tak pantas meluncur dari mulutnya. Dia seakan tak terima aksi melawan arusnya mendapat sorotan.

Di bagian lain, masih di bilangan Jakarta Timur ada kejadian mirip. Bedanya, peristiwa itu di persimpangan jalan. 

Kondisi arus lalu lintas cukup padat. Seorang penyeberangan jalan melontarkan ucapan bersubtansi kritik terhadap pemobil yang menerobos lampu merah.

Bukannya, terima kasih, hardikan yang didapat oleh pejalan kaki tadi. Kata-kata kasar dengan sorotan mata berapi-api lahir dari pemobil yang diingatkan agar tak menerobos lampu merah. Sambil mengucapkan kata-kata kasar dia menurunkan kaca jendela mobilnya. Sang pejalan kaki pun melenggang tak menimpali.

Menangkis Caci Maki

Saat emosi meledak bukan mustahil konsentrasi berkendara terusik. Bagaimana tidak, energi dan perhatian teralih pada obyek lain. Praktis membuat suasana hati gundah gulana yang tidak tertutup kemungkinan mengacaukan konsentrasi.

Jika itu terjadi celah terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan kian lebar. Tak heran jika regulasi kita yang berlaku saat ini, yaitu Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara untuk berkonsentrasi. Ada sanksi bagi pelanggar ketentuan tersebut.

Disinilah pentingnya kita menangkis niat untuk mencaci maki. Berikut ini langkah yang mungkin bisa dicoba untuk meredam emosi agar tidak meledak-ledak saat berkendara di jalan raya.

1. Berpikir Positif
Nah, guna meredam emosi saat berkendara langkah awal yang amat penting adalah dengan berpikir logis. Dalam contoh kasus di atas, pikiran logis yang bisa didorong keluar adalah; “Apa manfaatnya saya mengejar sang pemotong jalur?”
Lalu, “Apakah dengan memarahi dan mengumpat sang pelaku bisa mengubah perilaku ugal-ugalan dia dalam sekejap?”
Atau, “Kalau saya mengejar dengan tergesa-gesa dan tidak berkonsentrasi bisa bikin celaka diri sendiri dan orang lain.”

2. Bertindak Tenang
Redakan sejenak pikiran, yakni sekitar lima detik seraya menarik nafas panjang. Di masyarakat kita kerap disebut dengan istighfar. Lewat istighfar bisa mengurangi sesaknya emosi dan selanjutnya bisa menjernihkan pikiran. Tentu selanjutnya disalurkan lewat tindakan yang positif. Bukan diluapkan dengan emosi yang meledak-ledak.

3. Prioritaskan Keselamatan
Camkan bahwa keselamatan saat berkendara tak semata untuk diri sang pengendara. Ada hak pengguna jalan yang lain untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan yang sama. Bahkan, ada keluarga tercinta yang membutuhkan keselamatan kita kembali ke rumah.

4. Mendoakan Kebaikan
Mendoakan agar pengguna jalan mendapat keselamatan saat berlalu lintas jalan. Mendoakan agar perilaku ugal-ugalan bisa diubah menjadi lebih santun dan tidak membahayakan orang lain. Cara ini efektif untuk meredam emosi kita kala berkendara. Mendoakan orang lain tidak ada ruginya malah bisa membuat diri kita tenang saat berkendara. (edo rusyanto)

Pentingnya Mengurangi Risiko Anak-anak di Jalan Raya

24 Januari 2018

SEBUAH pesan tertulis what’s app (WA) masuk ke ponsel saya, baru-baru ini. Isi pesan menceritakan seorang siswi sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang mengalami kecelakaan lalu lintas jalan.

Sang siswi tadi dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motornya terjerembab. Sang pengendara harus dirawat dan mengikuti tindakan operasi serius di bagian kepala.

Dalam pesan juga disebutkan perlunya urun rembug dana sukarela untuk meringankan beban keuangan.

Selang satu hari saya membaca berita di media daring tentang siswi SLTP yang terlibat kecelakaan. Sepeda motor yang dikendarainya tertabrak bus.

Kecelakaan diduga karena siswi tersebut ragu-ragu saat hendak menyeberangi jalan. Saat bersamaan datang bus yang lalu menabraknya. Bus lalu banting stir dan menabrak truk yang sedang terparkir di sisi jalan. Akibat kecelakaan tersebut siswi SLTP meninggal dunia.

Kecelakaan dapat menimpa siapa saja dan dimana saja. Kelompok usia anak-anak dan remaja termasuk bagian yang terimbas. Ada yang menjadi pelaku dan tentu saja ada yang menjadi korban kecelakaan. Jumlahnya tidak sedikit.

Di Indonesia, dari sisi penerima santunan korban kecelakaan PT Jasa Raharja untuk kelompok pelajar, yakni anak dan remaja, tercatat naik 4,1% pada 2017. Bila pada 2016 tercatat 32.960 orang, tahun 2017 naik menjadi 34.328 orang.

Artinya, setiap hari ada 94 anak dan remaja yang menerima santunan korban kecelakaan. Sebuah angka yang memilukan.

Tambah Risiko

Anak tak pernah minta dilahirkan orang tua. Ketika tumbuh dan berkembang sepenuhnya tanggung jawab orang tua. Terlebih di rentang bawah umur, yakni sebelum melewati usia 18 tahun.

Orang tua wajib menanggung risiko si buah hati. Risiko itu mulai dari moral, sosial hingga finansial. Menjadi tak adil ketika risiko digeser ke anak, apalagi menambah beban risiko anak, termasuk ketika di jalan raya. Di sisi lain, anak kita memikul risiko dari ancaman banyak bahaya, mulai dari kejahatan seksual, narkoba hingga kecanduan games yang bisa memengaruhi otak mereka.

Mengizinkan anak di bawah umur berkendara di jalan, apapun dalihnya, menjadi salah satu penambahan risiko. Baik itu risiko tindakan kriminal, maupun risiko terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Faedah yang dipetik tak sebanding dengan potensi ancaman yang ada.

Kita tahu bahwa anak di bawah umur masih labil. Manakala berkendara di jalan raya yang penuh dengan watak manusia, dapat memprovokasi perilaku anak. Belum lagi rentan dari sisi fisik dan regulasi yang ada.

Khusus soal regulasi, Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara memiliki surat izin mengemudi (SIM). Usia minimal pemilik SIM adalah 17 tahun.

Manakala terlibat kecelakaan maupun terkena sanksi penegakkan hukum razia lalu lintas jalan, siapapun dia akan terpengaruh jiwanya. Apalagi bila memikul beban derita luka fisik maupun traumatis. Kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan anak. Padahal, dia punya cita-cita yang ingin dicapai. Kesemua itu bisa berubah drastis manakala terlibat kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

Peringatan Hari Pejalan Kaki Diwarnai Tuntutan Publik

22 Januari 2018

LANGIT berawan. Angin menyapu lembut wajah. Di bagian lain, lautan kendaraan bermotor lalu lalang.

Sudut Kota Jakarta sore ini terasa sejuk. Tak ada terik matahari yang menyengat. Bilangan Tugu Tani, Jakarta Pusat memang tak pernah sepi, terutama pada hari kerja seperti Senin, 22 Januari 2018 sore itu.

Maklum, inilah kawasan pusat bisnis dan pemerintahan yang menjadi jantung Kota Jakarta. Di dekat kawasan itu ada Kantor Gubernur DKI Jakarta dan tak jauh dari situ juga berdiri megah Istana Presiden, tempat Presiden Republik Indonesia melaksanakan tugas kenegaraan. Dan, diantara dua kantor pemerintahan itu berdiri kokoh menjulang ke angkasa, Monumen Nasional (Monas).

Untuk kesekian kali, sejak 2013, saya hadir menjumpai pegiat keselamatan pejalan kaki, Alfred Sitorus dari Koalisi Pejalan Kaki di Halte Tugu Tani. Kami memperingati Hari Pejalan Kaki yang diinisiasi Koalisi tersebut. Peringatan ini sebagai tanda keprihatinan sekaligus untuk mengingatkan kepada seluruh pengguna jalan, khususnya pejalan kaki, akan pentingnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat.

“Kondisinya sudah darurat pejalan kaki,” kata Alfred, saat berbincang dengan saya di Halte Tugu Tani, Senin, 22 Januari 2018 sore.

Dia merujuk pada tingginya angka korban kecelakaan yang menimpa pejalan kaki. Data PT Jasa Raharja menunjukkan bahwa setiap hari setidaknya ada 53 pejalan kaki yang mendapat santunan korban kecelakaan tahun 2017. Mereka ada yang meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan.

Bagi saya, masih tingginya pejalan kaki yang menjadi korban kecelakaan tidak bisa dilepaskan dari kondisi lalu lintas jalan yang ada. Para pengendara kendaraan bermotor belum sepenuhnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Termasuk, masih belum memprioritaskan pejalan kaki yang notabene merupakan kelompok pengguna jalan yang mendapat prioritas. Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) menegaskan bahwa setiap pengendara wajib memprioriaskan pejalan kaki. Misalnya, saat para pedestrian menyeberang jalan di area yang ada fasilitas menyeberang seperti zebra cross, terlebih di area yang tidak memiliki fasilitas tersebut.

Di sisi lain, tentu saja kesadaran pejalan kaki untuk berjalan yang aman dan selamat juga mutlak diterapkan. Misalnya, ketika menyeberang jalan di area yang tidak memiliki fasilitas penyeberangan, seyogyanya sungguh-sungguh memperhatikan situasi sekitar. Lalu, memberi isyarat tangan sebagai tanda akan menyeberang jalan.


Begitu juga ketika pedestrian berjalan di trotoar. Hendaknya memprioritaskan keselamatan. Berjalan penuh konsentrasi. Tidak disambi misalnya dengan berponsel ria.

“Di bagian lain, pemerintah juga mesti menyediakan transportasi publik yang beradab. Angkutan yang dapat diakses oleh seluruh pengguna angkutan, termasuk kalangan difabel,” tutur Dedi Herlambang, pegiat transportasi di sela Peringatan Hari Pejalan Kaki di kawasan Tugu Tani.

Bagi Alfred, pemerintah daerah (pemda), tentu saja termasuk gubernur, perlu menyediakan fasilitas publik seperti trotoar dan jembatan penyeberangan yang mudah diakses oleh seluruh pengguna jalan. Trotoar dan jembatan itu harus juga bisa diakses dengan baik oleh kalangan disabilitas.

Suara-suara publik tadi mewarnai peringatan hari pejalan kaki kali ini. Tentu bukan sekadar harapan, pemerintah mutlak mendengarkan sekaligus memberi pelayanan terbaik bagi seluruh pengguna jalan. Demi keselamatan seluruh pengguna jalan, selain kenyamanan dan keamanan bertransportasi.

“Kami dari Kemenhub punya sejumlah program untuk mendukung keselamatan berlalu lintas jalan. Tentu saja juga perlu dukungan dari kalangan masyarakat,” kata Ahamad Yani, direktur Pembinaan Keselamatan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, saat memberi sambutan dalam kegiatan kali ini.

Dalam catatan saya, baru kali ini ada pejabat tinggi dari Kementerian Perhubungan, bahkan dari kalangan pemerintah yang hadir dalam peringatan hari pejalan kaki ala rakyat. Kehadiran pemangku kepentingan (stake holder) keselamatan jalan diharapkan mampu mempercepat perwujudan harapan publik. Setidaknya pejabat bisa mendengar langsung suara rakyat.


Muaranya tentu saja agar lalu lintas jalan dijauhkan dari fakta memilukan bernama kecelakaan. Seperti fakta kelam 13 pedestrian diterjang mobil yang dikemudikan pengendara mobil lepas kendali. Sembilan orang meregang nyawa dan empat menderita uka berat, pada suatu pagi di kawasan Halte Tugu Tani, Jakarta Pusat,  22 Januari 2012. Tragedi Tugu Tani itu pula yang mendorong Koalisi Pejalan Kaki menggulirkan Hari Pejalan Kaki setiap 22 Januari.

Dalam peringatan kali ini, selain diisi dengan pernyataan dari berbagai komunitas/kelompok publik, dilakukan tabur bunga dan peniupan peluit sebagai tanda daruratnya nasib pejalan kaki di Indonesia.

Soal kelamnya nasib pejalan kaki, di dunia, menurut data WHO, 22% korban kecelakaan adalah pejalan kaki. Angka itu setara dengan 747 pedestrian tewas per hari. (edo rusyanto)

Ini Biaya Penerbitan SIM D

20 Januari 2018


INDONESIA mengenal surat izin mengemudi (SIM) untuk sepeda motor dan mobil. Khusus untuk sepeda motor, kita mengenal SIM C yang terdiri atas C, CI, dan CII.

Klasifikasi SIM bagi pesepeda motor mencakup SIM C, untuk pengendara motor hingga 250 cc. Lalu, SIM CI untuk rentang 251-500 cc dan SIM CII untuk pengendara motor di atas 500cc.

Nah, terkait sepeda motor, ternyata kita juga mengenail SIM D setara SIM C. Bedanya, SIM D berlaku untuk mengemudi kendarana bermotor khusus bagi penyandang disabilitas/berkebutuhan khusus. Kendaraan dimaksud yang sering kita lihat adalah di bagian belakangnya memiliki dua roda dan satu roda di bagian depan sehingga total ada tiga roda.
Lantas, bagaimana mengajukan permohonan SIM D dan berapa biayanya?

Persyaratan untuk memperoleh SIM D setara SIM C, pengajuan SIM baru, ternyata sama dengan pengajuan SIM A dan SIM C itu sendiri. Oh ya, SIM A untuk pengemudi mobil. Misal, batas usia minimal pemohon SIM D adalah berusia 17 tahun.
Lalu, mengisi formulir pengajuan SIM. Selain itu, melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli setempat yang masih berlaku bagi Warga Negara Indonesia (WNI) atau dokumen keimigrasian bagi Warga Negara Asing (WNA).

Sementara itu, bila ingin memperpanjang SIM D, selain persyaratan seperti di atas, juga harus dilampiri dengan SIM lama.
Tentu setelah melengkapi persyaratan administrasi tersebut pemohon harus mengikuti ujian SIM yang terdiri atas ujian teori, keterampilan mengemudi melalui simulator, dan praktik.

Dalam ujian teori materi yang diujikan meliputi pengetahuan peraturan perundang-undangan di bidang lalu lintas dan angkutan jalan yang mencakup hak utama pengguna jalan. Lalu pengetahuan tentang rambu lalu lintas, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, dan gerakan lalu lintas, Selain itu, kedudukan hukum lalu lintas dan peringatan sinar dan bunyi.

Sementara itu, untuk ujian praktik bagi SIM D terdiri atas uji pengereman/keseimbangan dan uji slalom (zig zag). Lalu, uji reaksi rem menghindar.

“Saya waktu bikin SIM D bawa kendaraan (motor) sendiri. Tapi, sekarang sudah disediakan di Polrestabes Kota Bandung,” ujar Aden, seorang pemegang SIM D di Bandung, saat berbincang dengan saya via pesan tertulis baru-baru ini.
Nah, biaya untuk penerbitan SIM D baru sejak tahun 2016 adalah sebesar Rp 50 ribu, sedangkan untuk perpanjangan sebesar Rp 30 ribu. Jumlah itu lebih kecil dibandingkan biaya penerbitan SIM C baru yang Rp 100 ribu atau perpanjangan SIM C yang sebesar Rp 75 ribu.

Memang belum semua pesepeda motor dari kelompok penyandang disabilitas memiliki SIM D. Ada sejumlah alasan, selain belum sempat mengurus ada juga yang belum tahu cara mengurusnya. “Saya belum punya SIM D. Belum tahu ngurusnya kemana,” tutur Budi, kita sapa saja demikian, seorang penyandang disabilitas saat berbincang dengan saya di Jakarta, belum lama ini. (edo rusyanto)

Sumber literatur:
Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Peraturan Kapolri No 9 tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi.
Peraturan Pemerintah No 60 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Pendapatan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.

foto:
bisamandiri.com