Skip to content

Setia Kampanye Road Safety

27 Mei 2018

JUDUL artikel ini mengutip judul ulasan di koran Warta Kota, edisi Minggu, 26 Mei 2018. Ulasan koran yang terbit di Jakarta itu cukup menarik. Ditegaskan bahwa gerakan publik untuk membangun kesadaran pengguna jalan lebih aman dan selamat masih dibutuhkan.

Boleh jadi. Kesadaran itu diperlukan Indonesia guna memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan yang merenggut 70-an jiwa setiap hari. Korban yang bergelimpangan itu merupakan buntut dari 200-an kecelakaan yang terjadi setiap hari di jalan raya kita. Sebuah fakta data yang mengenaskan.

Warta Kota dan belasan media massa yang berkantor di Jakarta menulis dengan lugas tentang pentingnya kampanye keselamatan jalan. Mereka hadir di ajang Mini Road Safety Festival (MRSF) 2018 yang saya gulirkan bersama Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman).

Pelaksanaan gerakan membangun kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat ini dibagi dalam dua hari. Pertama, Sabtu, 12 Mei 2018. Hari itu digulirkan lima bentuk kegiatan. Kelimanya mencakup diskusi, pelatihan ketrampilan berkendara sepeda motor, pameran foto keselamatan jalan, deklarasi keselamatan jalan, dan musik keselamatan jalan. Kedua, Sabtu, 19 Mei 2018 digulirkan Aksi Simpatik Kampanye Keselamatan Jalan dan Pembagian Tajil.

Pada hari pertama, tak kurang dari 180 peserta yang hadir. Mereka berasal dari sekitar 35 kelompok pengguna sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya. Lalu, kalangan dunia usaha, kementerian perhubungan, jurnalis, dan masyarakat umum. Tentu saja konsentrasi terbesar peserta kegiatan kala itu ada di acara diskusi yang kali ini bertajuk, ‘Sinergi Mudik Sehat, Mudik Selamat.’

Diskusi menghadirkan para pembicara dari beragam kalangan. Mereka adalah Ahmad Yani, direktur Pembinaan Keselamatan Ditjen Hubdat Kementerian Perhubungan RI. Lalu, Ahmad Muhibbuddin, wakil ketua Yayasan Astra Honda
Motor. Sedangkan dari kalangan industri hadir Widjang Djendrawan, head of Road Safety and Motorsport Committee Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Guna membantu kelancaran diskusi, saya diminta sebagai moderator.

Bagi Ahmad Muhibbuddin, wakil ketua Yayasan Astra Honda Motor, membangun kesadaran bersepeda motor yang aman dan selamat merupakan hal penting. “Karena itu, kami juga mendukung kiprah Jarak Aman,” papar dia.

Lewat diskusi tersebut diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan wawasan sehingga mendorong kesadaran akan pentingnya berlalu lintas yang minim fatalitas, termasuk saat perjalanan di musim mudik dan balik Lebaran. Maklum, musim mudik merupakan salah satu rentang waktu yang menurut fakta data menimbulkan kecelakaan cukup tinggi. Setidaknya, setiap hari ada 46 orang korban meninggal dunia akibat kecelakaan pada musim mudik 2017.
“Target kami ada penurunan angka kecelakaan selama mudik Lebaran tahun ini,” kata Yani dalam acara Diskusi Keselamatan Jalan Sinergi Mudik Sehat, Mudik Selamat di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Sabtu 12 Mei 2018, seperti dilansir viva.co.id.

Format Festival

Format ‘festival’ saya pilih untuk meramu kampanye agar lebih variatif dan mampu merangsek pemikiran para peserta atau target kampanye. Dalam menambah pengetahuan dan pemahaman sang target, diskusi merupakan medium yang cukup efektif. Tak semata berdiskusi, para peserta yang kian kuat pemahaman tentang keselamatan jalan, membulatkan tekad lewat ‘deklarasi’.

Kebulatan tekad itu diwujudkan dalam keseharian ketika berlalu lintas jalan. Tujuannya tentu saja untuk memperkecil risiko sekaligus mempersempit celah terjadinya kasus kecelakaan lalu lintas jalan.

Pameran dan lomba foto dalam MRSF 2018 menjadi jurus tersendiri dalam menggaungkan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Lewat ajang itu diharapkan mampu memotivasi, menginspirasi, sekaligus mengapresiasi gerakan kelompok pesepeda motor terkait keselamatan jalan. Pada gilirannya juga ekaligus mensinergikan gerakan publik untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis.

Lomba foto kampanye keselamatan jalan digelar sepanjang 21 April 2018 hingga 5 Mei 2018. Tema foto seputar kampanye keselamatan jalan yang dilakukan oleh kelompok pesepeda motor di Jadetabek, sedang peserta yang diizinkan mengikuti lomba adalah anggota kelompok pesepeda motor atau simpatisan kelompok pesepeda motor.

Sebanyak 18 peserta mengikuti kontes kali ini dengan memperlombakan 34 foto. Foto yang dilombakan selain dikirim ke panitia pelaksana MRSF 2018 juga dipublikasikan melalui media sosial instagram.

Tampil selaku ketua dewan juri adalah Harryanto, redaktur pelaksana foto harian Media Indonesia.

Lomba menghasilkan tiga pemenang utama, yakni; Juara I : Kampanye Motor Bukan Untuk 17 Tahun ke Bawah
Meike Haryani (Nmax Riders Bekasi). Lalu, Juara II : Kampanye Helm untuk Anak, Danu (Symci Indonesia)
Juara III : Kampanye Setop Lawan Arus Lalu Lintas, Davi P (Pulsarian Indonesia)

Empat pemenang foto favorit terdiri atas Pertama : Irwan Rimawan (HVC Tangerang), Kedua : Bonifacius Jaka (IBC Jakarta), Ketiga : Bonifacius Jaka (IBC Jakarta), dan Keempat : Reza Agis Surya Putra (Koster Indonesia).

Sementara itu, kampanye melalui pelatihan alias praktek berkendara digulirkan dalam MRSF 2018 dengan menggandeng instruktur-instruktur berpengalaman dari main dealer Honda, yakni Wahana.

Ramuan diskusi, praktek, lomba dan pameran foto direkat dengan sajian musik berbalut pesan keselamatan jalan. Ini menjadi format anyar dalam menggulirkan kampanye keselamatan jalan di Tanah Air. Tentu saja buahnya tak bisa dipetik dalam sekejap. Setidaknya, festival kali ini adalah ikhtiar sekaligus diharapkan menjadi row model dalam Jarak Aman menggulirkan ajakan berlalu lintas jalan yang humanis.

Saya tertolong oleh dukungan sejumlah kolega, termasuk korporasi yang sudi urun rembug biaya untuk menggelar festival pertamakali ini. Para kolega dengan antusias membuka jalan, sedangkan korporasi menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR) nya dengan suka hati. Lewat kepedulian mereka pula penyebaran pesan keselamatan jalan kian meluas. Tak semata lewat tatap wajah dan pemberitaan di media arus utama, namun juga bergelora di jejaring media sosial.

Semoga berfaedah untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Semangat. (edo rusyanto)

Menyemai Road Safety di Perusahaan Gas

13 Mei 2018

GEDUNG perkantoran itu berdiri megah. Situasi sekitar terlihat ramai. Saya menuju lantai dua setelah mendapat pengarahan dari petugas satpam soal lokasi acara Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) Award PT PGN Tbk, Mei 2018 siang.

“Kami berharap pak Edo dari Jarak Aman memberi materi pengarahan seputar keselamatan jalan bagi 150 orang peserta HSSE Award di grup perusahaan PGN,” ujar Ali, dari tim HSE PGN kepada saya, di Jakarta, Selasa, 8 Mei 2018.

Tiba di lantai dua, ruang auditorium PGN tampak sudah diisi dengan deretan kursi yang ditata rapi. Panitia pelaksana sedang mempersiapkan sessi paparan. Peserta baru saja menyelesaikan makan siang dan istirahat. Tak lama kemudian satu per satu memasuki ruangan. 

Niat membangun budaya keselamatan berlalulintas jalan butuh tindak lanjut yang konsisten. Kesungguhan yang dilengkapi konsistensi mampu mewujudkan niat tadi. Kesulitan di depan mata dapat berubah menjadi peluang untuk selanjutnya tampil sebagai kekuatan.

Bagi Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) selain konsistensi, untuk membangun budaya keselamatan juga mesti dibarengi sinergitas yang kuat di kalangan pemangku kepentingan dan tentu saja termasuk masyarakat. Kesulitan yang ada justeru menjadi tantangan. Sulit bukan berarti tidak bisa.

“Sulit rasanya membangun kebiasaan memakai helm saat naik motor dalam jarak dekat,” tutur seorang peserta HSSE Award, dalam tanya jawab siang itu.

Sebelumnya dia menanyakan bagaimana cara menanamkan kesadaran untuk selalu memakai helm saat naik motor, terutama untuk jarak dekat. Untuk hal ini saya sempat bertukar pikiran tentang pentingnya memprioritaskan keselamatan saat berlalulintas jalan. Keselamatan sebagai kebutuhan. Bila itu tertanam dengan baik, urusan keselamatan tidak dipandang sebagai kewajiban. 

Jarak Aman menilai, kebutuhan akan selalu diperjuangkan untuk terwujud. Ketika keselamatan menjadi kebutuhan dalam berlalu lintas jalan, pengguna jalan tentu berupaya keras memperkecil risiko. Dalam bersepeda motor, hal itu akan tercermin dengan mengimplementasikan cara berkendara rendah risiko (low risk riding). Salah satunya, selalu melindungi kepala dengan memakai helm.

Berkendara risiko rendah untuk memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas. Maklum, kecelakaan berdampak luas, termasuk ke persoalan ekonomi. Mari kita pinjam data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Badan itu menyatakan bahwa kerugian akibat kecelakaan lalu lintas jalan berkisar 2,9-3,1% dari produk domestik bruto (PDB) nasional. Pada 2011, Bappenas menghitung kerugian yang ditimbulkan secara langsung dan tidak langsung mencapai berkisar Rp 203-217 triliun. Angka itu muncul berdasarkan PDB Indonesia tahun 200 yang sebesar Rp 7.000 triliun. Luar biasa!

Masih merujuk data Bappenas. Jika PDB Indonesia pada 2016 sekitar Rp 12.406,8 triliun, artinya kerugian yang ditimbulkan akibat kecelakaan mencapai sekitar Rp 384,5 triliun. Mengerikan.

Dalam kesempatan diskusi bersama peserta HSSE Award PGN 2018 topik kecelakaan dapat memiskinkan keluarga korban menjadi bahasan utama. Kami pun mengulas hasil Penelitian Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Polri mengenai dampak kecelakaan pada ekonomi keluarga korban. Data yang saya peroleh melalui sumber di PT Jasa Raharja itu membeberkan bahwa 62,5% keluarga korban kecelakaan yang meninggal dunia terkena dampak finansial atau memiskinkan mereka. Sedangkan untuk keluarga korban yang menderita luka berat sekitar 13% nya mengalami kemiskinan. (edo rusyanto)

foto:
emral dan dokumen pribadi

Pantang Mendahului Saat Pandangan Terhalang

7 Mei 2018

BANYAK risiko saat berlalulintas di jalan raya. Risiko kian membesar manakala pandangan pengendara terganggu.

Salah satu indikator berkendara rendah risiko adalah senantiasa menebar pandangan jauh kedepan. Langkah ini menjadi upaya pengendara untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Informasi yang cukup mengenai jalan yang akan dilintasi menjadi pijakan penting untuk keputusan yang akan diambil.

Entah keputusan untuk menambah atau mengurangi kecepatan, maupun untuk mendahului. Khusus saat akan mendahului, pantang dilakukan saat pandangan kita terhalang.

Pandangan pengendara bisa terhalang oleh banyak sebab. Misal, oleh kendaraan lain yang ada di depan. Atau, oleh kabut pekat maupun gelapnya jalan raya akibat minimnya lampu penerangan jalan. Bahkan, pada suatu kondisi bukan mustahil pandangan terhalang atau terganggu oleh cayaha terang dari pancaran cahaya lampu mobil maupun penerangan jalan.

Pandangan yang terhalang dapat memperlebar celah terjadinya insiden maupun kecelakaan. Terlebih saat hendak mendahului. Sebuah spekulasi bila nekat mendahului dengan kondisi pandangan yang terhalang.

Minimnya informasi soal pergerakan kendaraan dari arah depan, berisiko menimbulkan tabrakan. Bahkan, bukan mustahil bertabrakan dengan obyek bergerak dari samping. Entah itu orang atau hewan yang menyeberang, maupun pengendara sepeda motor yang hendak menyeberang jalan.

Di sisi lain, minimnya informasi soal lintasan yang akan dilalui juga bisa merusak kenyamanan ketika tiba-tiba permukaan jalan bergelombang atau berlubang. Jalan bergelombang dan berlubang dapat merusak kemampuan pesepeda motor dalam menjaga keseimbangan tunggangannya.

Kendaraan yang oleng hingga melebar ke arah berlawanan tentu ringkih berujung pada terjadinya tabrakan. Kalau sudah begitu bisa runyam semuanya. Maklum, kecelakaan dapat berdampak luas. Semua yang terlibat bakal memikul kerugian.

Eloknya kita mendahului saat kondisi amat memungkinkan. Bekal informasi cukup soal adanya pergerakan dari depan maupun samping. Termasuk tentu saja bekal informasi mengenai kondisi lintasan yang akan dilalui.

Bila informasi tidak cukup, sabar sejenak menjadi pilihan bijak. Tak ada ruginya menunda untuk mendahului, ketimbang memaksakan diri, namun dapat menimbulkan kecelakaan. Itu pendapat saya. (edo rusyanto)

Operasi Patuh di Jakarta dari Tahun ke Tahun

26 April 2018

MULAI hari ini, Kamis, 26 April 2018 hingga 9 Mei 2018 digelar Operasi Patuh di Jakarta dan sekitarnya. Operasi ini juga digelar secara serentak di Tanah Air. Khusus di Jakarta dan sekitarnya, untuk menggulirkan Operasi Patuh dikerahkan lebih dari 2.300 personel gabungan dari kepolisian, TNI, dan dinas perhubungan (dishub).

Pihak kepolisian, seperti dilansir dari viva.co.id menegaskan bahwa lewat Operasi Patuh diharapkan dapat menekan jumlah korban kecelakaan. Lalu, meminimalisasi kemacetan lalu lintas. Selain itu, mewujudkan keamanan, keselamatan, dan kelancaran serta ketertiban dalam berlalu lintas yang mantap.

Sementara itu, fokus operasi selama 14 hari itu mencakup penggunaan telepon genggam saat berkendara, perilaku melawan arus, dan pesepeda motor yang berboncengan lebih dari satu orang. Lalu, pengemudi di bawah umur dan penggunaan helm saat bersepeda motor. Selain itu, pengendara dalam pengaruh narkoba atau minuman keras, kendaraan yang membawa barang lebih, dan kendaraan yang ugal-ugalan.

Bila merujuk fakta data Operasi Patuh di Jakarta dan sekitarnya sepanjang 2016 dan 2017, terlihat bahwa pelanggaran yang terkena tindakan jumlahnya menurun. Bila pada 2016, jumlah tindakan rata-rata per hari 7.705 kasus, pada 2017 tercatat 6.847 kasus per hari. Artinya, terjadi penurunan 11,12%.

Dari sisi jenis kendaraan, pesepeda motor menjadi kontributor utama. Untuk tahun 2016, kontribusinya sekitar 72% terhadap total pelanggaran. Namun, membaik pada 2017 menjadi sekitar 65%. Dapat disimpulkan, terjadi penurunan dan perbaikan.
Secara rata-rata per hari, kasus pesepeda motor yang ditindak menurun dari 5.562 kasus per hari menjadi 4.434 per hari. Sekali lagi, dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan pelanggaran. Tentu saja, ini baru fakta data yang tercatat atau ditindak. Jumlah pelanggaran yang ada boleh jadi lebih besar.

Dua Hal Penting

Kepolisian menegaskan bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan di jalan. Tak heran bila salah satu tujuan dari operasi yang digulirkan adalah untuk menekan kasus kecelakaan. Bisa disimpulkan bahwa bila pelanggaran memicu kecelakaan, maka ketika pelanggaran ditekan, angka kecelakaan pun ikut menurun.
Bagi saya, ada dua hal penting terkait pelanggaran dan keselamatan berlalu lintas jalan.

Pertama, penempatan keselamatan sebagai prioritas saat berlalu lintas. Ini menjadi hal fundamental untuk senantiasa berkendara yang aman dan selamat. Menerapkan perilaku berkendara yang antisipatif. Pada prakteknya, sang pengendara selalu menjaga untuk selalu berkonsentrasi. Mencegah untuk lengah.

Keselamatan bukan semata untuk diri sendiri, tapi melainkan untuk orang lain, dan tentunya keluarga tercinta yang menanti di rumah. Sekali lagi, ketika keselamatan menjadi prioritas alias sebagai kebutuhan, cara berlalulintas jalannya pun akan lebih tidak gegabah.

Kedua, ada aturan di jalan. Aturan yang berlaku saat ini adalah Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) beserta turunannya. Jangankan di jalan, di kantor, di lingkungan pendidikan, bahkan tentu saja di rumah, ada aturan. Hal itu dibuat agar situasi yang ada dapat lebih aman, nyaman, dan situasi menjadi kondusif.

Di jalan raya, aturan yang ada tentu saja punya tujuan mulia, yakni mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas. Tentu, termasuk juga lalu lintas yang aman dan nyaman.
Terkait soal aturan, kita dituntut untuk mengetahui apa saja aturan itu, untuk selanjutnya menerapkan aturan yang ada.
Bila kedua hal tersebut menjadi keseharian, boleh jadi pelanggaran dan kecelakaan dapat terus ditekan jumlahnya. Jangan lupa, setiap hari tak kurang dari 200-an kasus kecelakaan di Tanah Air yang merenggut setiap hari sekitar 70-an jiwa anak bangsa. (edo rusyanto)

Hal Tak Pantas di Jalan Kawasan Pemukiman Warga

25 April 2018

TAK elok rasanya melaju di jalan pemukiman warga dengan kecepatan tinggi. Kita tahu bahwa regulasi yang berlaku saat ini menegaskan bahwa batas kecepatan maksimal di kawasan pemukiman adalah 30 kilometer per jam (kpj).

Melaju dengan kecepatan tinggi sudah tentu mengundang risiko lebih tinggi. Peluang terjadinya kecelakaan menjadi kian lebar. Bila kecelakaan terjadi semua pihak bakal merugi.

Tak semata kerugian dari sisi waktu, tapi juga bisa melebar ke aspek finansial, korban luka, bahkan korban jiwa. Di sisi lain, tak mustahil melebar ke persoalan hukum dan dampak sosial. Kecelakaan lalu lintas jalan berdampak menyakitkan.

Mencegah menjadi langkah paling baik. Inilah upaya untuk menghindari terjadinya kondisi yang buruk bagi semua pihak, entah itu korban, maupun pelaku kecelakaan. Cara mencegah paling mudah adalah dengan mengurangi kecepatan kendaraaan saat melaju di kawasan pemukiman. Hal ini dapat memperkecil risiko terjadinya tabrakan atau kecelakaan. Maklum, di kawasan pemukiman umumnya banyak anak-anak yang wira-wiri sambil bermain.

Sejumlah kasus kecelakaan yang melibatkan anak-anak di kawasan pemukiman terjadi di sekitar kita. Bisa jadi bukan semata karena kecepatan tinggi. Pengendara yang lengah atau konsentrasinya terganggu juga ikut menyumbang terjadinya kecelakaan tersebut.

Melaju dengan kecepatan tinggi menjadi salah satu perilaku tak pantas saat melintas di kawasan pemukiman. Tingkah polah lainnya yang tak pantas adalah menimbulkan suara bising. Knalpot yang menghasilkan suara bising yang memekakkan telinga tentu saja merusak ketentraman warga. Terlebih di malam hari ketika mayoritas warga sedang beristirahat.

Jika kita berselancar di dunia maya, dapat dengan mudah menjumpai ekses negatif suara knalpot bising di lingkungan pemukiman. Ada yang berdampak gesekan sosial. Sudah barang tentu hal ini tidak diinginkan oleh pengguna jalan maupun warga sekitar. Sekali lagi, hal yang bisa kita lakukan sebenarnya adalah berupaya mencegah kesemua itu tak terjadi.


Salah satu upaya mencegah terjadinya kecelakaan di kawasan pemukiman, para warga berinisiatif membuat rambu peringatan. Ada yang memasang rambu peringatan agar pengguna jalan tidak ngebut. Tapi, ada juga yang memasang rambu peringatan agar tidak menggunakan knalpot bersuara bising memekakkan telinga. Bahkan, sampai ada spanduk peringatan agar warga tidak parkir sembarangan yang mengganggu arus pergerakan kendaraan.

Rambu, papan informasi atau spanduk yang dibuat warga tentu punya alasan. Dan, terpenting punya tujuan yang sama, yakni mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat. Rasanya menjadi sangat elok manakala para pengguna jalan pun ikut berupaya mewujudkan hal itu. (edo rusyanto)

Gara-gara Macet, Aksi Pukul pun Muncul

21 April 2018

SEMAKIN hari jumlah kendaraan bermotor terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Di Jakarta dan sekitarnya, pada 2017, terdapat lebih dari 16 juta kendaraan. Tak heran saat jam-jam sibuk lalu lintas jalan tersendat oleh antrean kendaraan yang mengular.

Jalan yang ada tak mampu Menggung beban di saat jam-jam tersebut, khususnya pagi dan sore hari. Kemacetan lalu lintas jalan hampir setiap hari terlihat di berbagai sudut kota. Semua jenis kendaraan menyatu di dalam kemacetan, berbaur dengan deru suara mesin dan kepulan asap dari knalpot.

Warga kota menjadi terbiasa. Kemacetan menjadi denyut kehidupan kota. Sekalipun demikian beban kemacetan kadang meluap dari dalam diri. Rasa sabar dan energi yang terkuras karena kemacetan sesekali meletup.

Pemandangan itulah yang sempat saya jumpai pertengahan April 2018 di salah satu sudut kota Jakarta. Beratnya beban kemacetan melahirkan ketidaksabaran yang menambah panjang antrean. Bahkan, gesekan sesama pengguna jalan.

Cerita berawal dari sesaknya jalan oleh ratusan, bahkan ribuan sepeda motor. Mereka seakan berlomba mencapai tujuan. Apa daya kondisi tak sesuai harapan. Jalan yang hanya cukup untuk dua bus besar berpapasan tampak karut marut. 

Jalan yang semestinya dua arah dipadati oleh sepeda motor sehingga menjadi satu arah. Kendaraan dari arah lainnya harus mengalah. Kemacetan tak terhindarkan dari persimpangan jalan hingga seratusan meter di belakangnya. 

Di tengah itu semua, tampak seorang pesepeda motor yang tergesa-gesa merangsek jalan. Upayanya melaju memakan badan jalan dari arah berlawanan. Kekisruhan terjadi manakala saat yang sama ada pesepeda motor lain yang justeru melaju di jalur semestinya. Nyaris terjadi tabrakan.

Tak terima oleh aksi serobot tadi, pesepeda motor yang nyaris tertabrak terlihat berang. Entah kata-kata apa yang terlontar. Dari kejauhan terlihat dia melayangkan pukulan. Insiden itu tak berlangsung lama. Pesepeda motor yang dipukul tak menimpali. Semua pun berlalu di tengah kemacetan yang menggila pagi itu.
Rasa sabar pengendara memang diuji. Kemacetan yang ada dapat dengan mudah memicu stress. Lalu, stress yang ada bisa meluap tak menentu jika tak dikelola dengan baik. Benteng kesabaran mutlak diperkuat. Tak perlu mengutuk kemacetan yang ada karena pada dasarnya para pengguna kendaraan pribadi ikut berkontribusi. Ikut menciptakan kemacetan yang ada. Apalagi bila dibumbui dengan aksi main serobot. Bukan mengurai kemacetan, justeru bisa memantik kekisruhan.

Sabar ya bro. (edo rusyanto)

Ketilang Dua Kali Lantaran Tak Punya SIM

19 April 2018

SUATU pagi telepon seluler saya berdering. Di ujung sana terdengar suara.

“Pak, mau nanya, kalau kena tilang karena nggak punya SIM (surat izin mengemudi) dendanya berapa yah?”
Belum sempat saya menjawab, kolega saya yang tinggal di Tangerang, Banten itu menyambung, “Kena tilangnya di dekat rumah.”

Saya pun menjawab sepengetahuan saya. Lalu, kami pun berbincang lebih jauh, terutama soal kenapa belum punya SIM dan siapa yang ditilang.

“Yang ditilang asisten saya. Dia memang belum punya SIM. Tadinya dipikir kalau berkendara di dekat rumah nggak kena tilang,” sergah pria paruh baya tersebut.

Kami sependapat bahwa langkah terbaik adalah mengikuti sidang. “Tadinya mau dikasih uang lima puluh ribu, tapi polisinya menolak,” tutur dia.

Profil pengendara yang tidak memiliki SIM patut diduga cukup besar jumlahnya. Tanpa memasukkan pengendara umur dalam kategori itu, jumlah yang tanpa SIM melaju di jalan raya dapat disimpulkan cukup tinggi.

Maklum, data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, pada 2016, kontribusi pelaku kecelakaan tanpa SIM menyentuh 46,71%. Angka itu setara dengan 182 pelaku kecelakaan per hari. Itu baru yang terdata, bagaimana dengan yang tak terdata.
Tentu saja banyak alasan kenapa pengendara belum memiliki SIM. Mulai dari mereka yang memang belum cukup umur, yakni minimal 17 tahun. Lalu, sudah ikut tes tapi tidak lulus hingga mereka yang memang belum punya uang untuk membuat SIM.

Tilang Dua Kali

Sekitar dua pekan kemudian, kolega saya kembali berujar, “Ternyata dendanya saat di sidang, Rp 130 ribu pak.”
Dia menambahkan, ada kejadian ‘lucu’ setelah ditilang tempo hari. Saat mau mengikuti persidangan, sang asisten kembali kena tilang. Masih kasus yang sama, yakni tidak punya SIM.

“Asisten saya bilang ke polisi yang menilang bahwa dirinya justeru baru saja mau ikut sidang untuk masalah yang sama,” tutur kolega saya seraya tersenyum.

Akhirnya, sambung dia, sang polisi pun melepaskan. Dan, asisten kolega saya ikut sidang untuk kasus penilangan karena berkendara tidak punya SIM.

Ngomong-ngomong, menurut UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ada sanksi bagi orang yang mengemudikan kendaraan bermotor tapi tidak memiliki SIM. Dalam pasal 281 UU tersebut ditegaskan bahwa pengemudi yang seperti itu bisa dipidana dengan kurungan paling lama empat bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta. (edo rusyanto)

foto:istimewa