Lompat ke isi

Medina Kamil, Belum Pernah Ditilang

28 Januari 2012


Medina Kamil. (foto:zetimage.com)

SOSOKNYA menggoda banyak pria. Maklum, Medina Kamil, punya wajah yang tergolong cantik. Aktris muda penuh bakat ini, termasuk sosok yang ramah. Bahkan, kepada saya yang baru pertamakali bertemu.
Kami pun berbincang seputar perilaku para pengguna jalan. Salah satunya tentang pentingnya memiliki surat izin mengemudi (SIM). Kami sepakat setiap pengemudi harus memiliki SIM. “Saya mendapatkan SIM dengan ikut ujian langsung, tidak pakai biro jasa,” tutur Medina ‘Risa’ Kamil, seusai pemutaran perdana film ‘Kita versus Korupsi’ di XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2012) siang. Di film itu pula, Medina mendapat peran sebagai Risa, anak seorang administratur gudang yang rela menderita ketimbang menerima segepok uang sogok. Risa banyak belajar dari sang ayah yang diperankan oleh Tora Sudiro.
Dalam kisah film itu, Risa menjumpai sisi kehidupan yang korup, termasuk melihat ulah petugas yang menerima sogok saat menilang di jalan. Dia merasa nyinyir atas ulah sang petugas tadi.
Di kehidupan nyata, Medina yang akrab disapa Dina itu, mengaku ada kesan polisi suka menerima suap saat menilang. “Tapi saya tidak pernah menyuap. Bagaimana mungkin menyuap karena saya tidak pernah ditilang,” kata wanita kelahiran tahun 1981 itu seraya tersenyum menawan.
Medina bertutur, sekalipun suatu ketika ditilang, dirinya tak mau memberi uang suap. “Ikuti aturan yang ada saja,” kata wanita yang mengaku tidak memperpanjang SIM C-nya ini.
Iya neng Risa, eh Dina, aturan lalu lintas jalan dibuat untuk kepentingan kita semua. (edo rusyanto)

Fino Masuk, Ubah Peta Skutik Yamaha

27 Januari 2012


Yamaha Fino. (dok yamaha)

TARGET penjualan sepeda motor skutik Yamaha Fino sebanyak 20 ribu unit per bulan cukup realistis. Kehadiran motor yang dijajal wartawan dan blogger pada 25 Januari 2012 itu, bakal mengubah kekuatan motor skutik Yamaha di Indonesia.
Saya tidak sempat menjajal Fino di Bandung mengingat pada hari yang sama ada aktifitas lain yang cukup menguras energi di Jakarta. Namun, dari keterangan tertulis yang saya terima, sepintas produk yang digadang-gadang sebagai skutik fashion itu, rasanya bisa menambah daya gedor Yamaha di pasar domestik.
Sebagai ilustrasi, pada 2011, kekuatan utama motor skutik Yamaha ada di Mio cast wheel (CW). Motor yang satu ini berkontribusi sekitar 61,92% terhadap total penjualan motor skutik Yamaha yang mencapai sekitar 1,64 juta unit.
Kontributor kedua terbesar adalah Mio Soul, yakni sekitar 20,57%. Lalu, Xeon sekitar 10,27% dan Mio sekitar 7,23%.
Rata-rata penjualan Mio Soul sekitar 33 ribuan unit per bulan. Pasti bukan tandingan Fino. Apalagi jika dibandingkan dengan Mio CW yang mencapai sekitar 101 ribu unit per bulan. Sudah barang tentu bukan tandingan sang Fino.
Di kubu Yamaha Indonesia, jika target Fino terwujud, bakal menempati posisi ketiga terbesar dari lima varian yang disodorkan Yamaha kepada konsumen. Pada 2011, Xeon menjadi kontributor ketiga terbesar dengan rata-rata penjualan sekitar 16 ribuan unit per bulan.

Kehadiran Fino yang memiliki tagline, “Mio Fino, Fashionable Matic” tersebut, tentu menambah otot Yamaha di segmen motor skutik. Saat ini, singasana motor skutik digenggam Honda yang merangsek pasar dengan tujuh varian. Dari seluruh varian, Yamaha memang belum memiliki varian yang mirip dengan tampilan Honda Scoopy.

Manajemen Yamaha di Indonesia mengaku, Mio Fino Fashion, Mio Fino Classic, dan Mio Fino Sporty, merepresentasikan karakter anak-anak muda dan wanita yang ingin tampil bergaya. Mio Fino Sporty dan Mio Fino Fashion dibanderol Rp 13,5 juta per unit, sedangkan Mio Fino Classic Rp 13,65 juta. Target 20 ribu unit per bulan rasanya cukup masuk akal. Akankah target 20 ribu tercapai? (edo rusyanto)

Sang Penabrak Minta Maaf

27 Januari 2012

KECELAKAAN lalu lintas jalan pasti menyakitkan. Lahir dan bathin. Tragedi Tugu Tani, Minggu (22/1/2012) pagi, saat mobil Daihatsu Xenia menabrak 12 pejalan kaki yang merenggut 9 korban jiwa, menimbulkan duka paling dalam.
Sang penabrak yang kini jadi tersangka,
Afriyani Susanti, akhirnya menyampaikan permohonan minta maaf. Ini bunyi permohonan itu, seperti saya kutip dari republika.co.id, Rabu (25/1/2012).

Assallammualaikum Wrh Wbr

Dengan ini saya Afriyani Susanti, melampirkan surat permohonan maaf atas kecelakaan yang terjadi pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2012, lewat keluarga saya dan kuasa hukum saya.

Sesungguhnya saya telah merasakan penyesalan yang sangat terdalam kepada semua korban dari saat kejadian tersebut hingga akhir dari perjalanan hidup saya nanti. Terkhusus untuk seluruh keluarga korban. Saya tak lagi bisa berkata-kata untuk mengungkapkan rasa penyesalan yang teramat dalam. Maafkan saya atas kehilangan cinta Anda, maafkan saya atas kehilangan pengharapan Anda, maafkan saya..

Demi Allah saya memohon maaf atas semuanya… Saya mungkin tak patut mendapatkan maaf dari Anda semua… Tapi izinkan saya untuk mengatakan “maaf…maaf…maaf!”

Di kesempatan ini, saya juga ingin meminta maaf kepada kakak saya, adik-adik saya, om, tante, saudara-saudara saya, sahabat dan seluruh teman-teman saya… Maafkan saya…dan terima kasih untuk semua doa dan dukungan.

Untuk ibu saya…maafkan saya bu. Anak ibu yang tak sedikitpun sempat membahagiakan ibu… Doa ibu cukup untuk membuat saya merasa lebih berarti dari apapun. Maaf bu…maaf.

Akhir kata… Saya Afriyani Susanti memohon ampun dari Allah SWT, atas kekhilafan yang saya perbuat. Ya Allah, semoga Kau terima tobatan ?? hamba. Dan hamba memohon bukakan pintu kebaikan dan kemudahan untuk para korban. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kemudahan.

Sekali lagi saya mohon maaf… Maafkan saya atas semuanya… Maafkan… Maafkan saya… Maafkan saya…

Wassalammualaikum Wrh Wbr

Jakarta, 25 Januari 2012

Bagaimana reaksi keluarga korban?
“Sulit menerimanya, tapi datanglah ke rumah kami. Minta maaf gampang saja, tapi jangan hanya lewat surat dan televisi,” kata Suhaimi, salah seorang perwakilan keluarga dalam Apa Kabar Indonesia (AKI) Pagi, Tvone, Kamis (26/1/2012), sekitar pukul 08.12 WIB.
Nyaris senada, Gianti, keluarga korban dari Jepara, mengatakan, dirinya tidak bisa menerima begitu saja. “Saya terpukul, empat orang keluarga saya jadi korban. Anak, cucu, adik, dan ponakan,” tutur dia dengan suara terbata-bata, dalam acara yang sama.
Dia bercerita, keluarganya masih ada yang dirawat di rumah sakit. “Mantu dan cucu adik saya,” katanya.
Gianti berharap sang penabrak meminta maaf langsung datang ke rumah mereka.
Ya. Permintaan maaf adalah salah satu budaya kita masyarakat Timur. Dalam kasus di atas, bisa jadi butuh waktu lama bagi keluarga korban untuk membuka pintu maaf. Walau, ketika maaf terucap, proses hukum tentu saja terus berjalan.
Sekali lagi, kecelakaan lalu lintas jalan memang menyakitkan. Karena itu, menjadi kewajiban kita semua pengguna jalan senantiasa waspada. Berkendara tertib untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Siapa pun tak ingin menjadi subyek, apalagi obyek kecelakaan. (edo rusyanto)

Tora Sudiro, Mutlak Pakai Helm

27 Januari 2012

BANYAK penikmat film dan sinetron maklum soal Tora Sudiro. Bahkan, para penggemar wanita tak jarang meminta foto bersama saat bertemu pria bertato di leher itu.
Hal itu saya rasakan, di Jakarta, Kamis (26/1/2012) siang. Saat berjalan bersama menuju parkiran sepeda motor, sedikitnya tiga kali Tora didaulat foto bersama oleh penggemarnya. Ada wanita remaja, dewasa, hingga para pria. Termasuk saya.
Kami pun berbincang banyak hal seputar keselamatan jalan bersepeda motor. “Sepupu saya ada yang meninggal akibat kecelakaan,” kata Tora, seusai penayangan perdana film ‘Kita versus KPK’, di XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis.
Bagi dia, pemakaian helm mutlak saat bersepeda motor. Selain untuk melindungi kepala dari risiko lebih fatal ketika terjebak insiden kecelakaan, juga bisa untuk penampilan. Seperti yang saya lihat hari itu. Tora memakai helm open face berwarna kuning cerah. “Yang gak kalah penting, pakai kacamata,” kata dia. Pasalnya, siang itu dia memakai helm open face yang tak berkaca. Wow!

Dalam beberapa kesempatan di film dan sinetron, Tora kedapatan tidak memakai helm. Boleh jadi karena tuntutan sang produser. “Ada juga yang karena settingan ceritanya tahun 70-an, seperti di film Kita versus Korupsi,” tutur Tora yang pernah membentuk band itu.
Dalam film yang bernafas penyebaran semangat antikorupsi tersebut, Tora yang berperan sebagai ayah dari dua anak, memakai skuter untuk pergi dan pulang bekerja. Tidak memakai helm. “Saat itu kan belum ada kewajiban memakai helm SNI,” tutur pemeran Kakek Tora, dalam tayangan televisi, ‘Kakek-kakek Narsis’ itu.
Kewajiban memakai helm diatur dalam Undang Undang (UU) No 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Kemudian dilengkapi lagi dalam UU 22/2009 tentang LLAJ, yakni kewajiban memakai helm berstandar nasional Indonesia (SNI). Buat yang melanggar aturan itu, sanksinya ada dua pilihan, yaitu denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.
Menurut Tora, dirinya ingin membuat program terkait keselamatan jalan untuk ditayangkan di televisi. Bagi saya, jika itu terwujud merupakan suatu langkah penting. Penyebarluasan keselamatan jalan bakal lebih massif lagi jika banyak acara televisi berkonten keselamatan jalan. “Untuk keselamatan, saya bahkan menjaga helm saya jangan sampai pernah jatuh,” tutur Tora yang menunggang Vespa Grand Tourismo 200cc.
Dia mengaku, memilih bersepeda motor untuk mensiasati kemacetan lalu lintas jalan Jakarta. “Supaya tidak terjebak kemacetan,” pungkasnya siang itu. Kami berpisah setelah berpose untuk di artikel ini. (edo rusyanto)

Kita Versus Korupsi, Awas! Korupsi Bisa Bikin Kecelakaan Jalan

26 Januari 2012

NUANSA gedung XXI Djakarta Theater jadi berbeda. Buat saya ini luar biasa. Bicara soal memerangi korupsi di gedung bioskop. Rupanya, Kamis (26/1/2012) pagi ini, sedang ada perhelatan peluncuran perdana film ‘Kita Versus Korupsi (KVK)’.
Saya mendapat undangan dari bro Ilham, kolega saya di Transparency International (TI) Indonesia. Selain saya, ada blogger lain, juga kolega saya, bro Adhi Nugroho. Ruangan sudah ramai oleh jurnalis dan para bintang pendukung film, pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), MSI, dan produser film. Seru juga nih, blogger otomotif nonton film soal korupsi.
Ada empat film pendek yang dirangkai menjadi kesatuan utuh. Nafas memerangi mentalitas jalan pintas amat kental. Mentalitas itu menjadi akar korupsi. Penyalahgunaan wewenang untuk keuntungan pribadi. Brengsek!
“Pendekatan melalui budaya seperti film ini, diharapkan bisa menyentuh nurani para koruptor,” kata Busro Muqodas, anggota KPK, saat memberi sambutan sesaat sebelum pemutaran film, Kamis pagi.

Film KVK membidik ruang-ruang keluarga. Membangun mentalitas sehat anti korupsi. Memangkas kebiasaan mencari keuntungan pribadi dengan menyalahgunakan wewenang. Tengok saja pesan yang termuat di ‘Psstttt…Jangan Bilang Siapa-siapa’. Dalam film ini dikisahkan seorang siswa puteri setingkat SLTA yang gemar melebih-lebihkan uang pembelian buku pelajaran. Ternyata, sang ibu juga menggelembungkan biaya pembelian buku. Sang ayah dengan entengnya membayarkan biaya itu tanpa mengecek kebenarannya.
Di bagian lain, sosok guru Markun digambarkan teguh dengan sikap jujurnya untuk tidak menyogok untuk kenaikan pangkat. Hingga akhirnya meninggal di tengah kemiskinannya. Sang guru tetap ‘mengajar’ anak-anak muridnya. “Sekarang sekolah pak guru lebih luas, atapnya langit,” ujar Markun yang diperankan Agus Ringgo.

Kisah yang tak kalah menyentuh adalah potret seorang pedagang yang gemar menimbun barang demi keuntungan pribadi. Menjual beras ketika harga melambung. Namun, saat mencari gudang tambahan untuk menimbun beras, dia berhadapan dengan Woko, seorang administratur gudang. “Bagi saya uang tidak masalah, tapi jika saya tidak dapat gudang, saya bisa rugi besar. Tolonglah pak Woko, saya sudah bicara dengan pak Kris (atasannya), ini ada uang untuk bapak,” ujar Abeng, sang pengusaha kepada Woko yang diperankan Tora Sudiro.

Woko gigih. Tetap menolak karena langkah Abeng di luar prosedur. Sekalipun, cerita yang mengambil latar belakang tahun 1970-an itu, Woko kehabisan beras dan kesulitan keuangan untuk membesarkan dua anaknya. Kelak, kekerasan dan keteguhan sikap Woko menitis pada sang anak.
Ruang keluarga menjadi penting untuk menanamkan budi pekerti luhur. Tak aneh, jika banyak pihak yang tidak suka Indonesia maju menghajar ruang-ruang keluarga. Bisa lewat hiburan budaya pop seperti musik, film, dan televisi. Memecah keutuhan keluarga dengan mengikis rasa hormat anak pada orang tua. Atau memecah kesetiaan suami isteri dengan menganggap enteng perselingkuhan, bahkan menganggap sepele soal perceraian. Ruang keluarga dibikin karut marut.
“Keluarga basis moral utama, lewat film ini kami ingin membangun semangat memerangi korupsi. Berawal dari keluarga,” sergah Busro.

Kecelakaan

Korupsi ada dimana-mana. Mulai dari mengurus administrasi ringan hingga tender bernilai ratusan miliar rupiah. Mulai dari jalan raya hingga gedung mentereng. Nafasnya sama, menilep duit orang lain. Jubahnya saja berbeda-beda. Ada pungli, korupsi, uang sogok, atau fee proyek.
Salah satu penggalan film KVK menyodorkan adegan polisi lalu lintas yang sedang asyik menerima uang tilang di jalan raya. Saat itu, anak pak Woko, yakni Risa, sedang berjalan kaki. Betapa nyinyir dia melihat hal itu.
Bagi saya, hal menarik lainnya adalah ketika korupsi merasuki ranah keselamatan jalan. Ketika proyek infrastruktur jalan dan bidang terkait dikangkangi oleh praktik korupsi, bukan tidak mungkin menyebabkan kualitas jalan menjadi buruk. Buntutnya, kondisi jalan yang buruk bisa memicu kecelakaan lalu lintas jalan.


Bro Ilham, bro Adhi, bro Mitra, dan saya sesudah menyaksikan film KVK. (dok edo)

“Sangat mungkin jika ada korupsi di infrastruktur jalan bisa bikin kecelakaan lalu lintas jalan,” tegas Bambang Wijayanto, saat berbincang dengan saya.
Kita semua tahu, faktor jalan merupakan salah satu pemicu kecelakaan, selain faktor manusia dan faktor kendaraan. Tahun 2011, jumlah korban tewas mencapai sekitar 31.185 jiwa. Artinya, tak kurang dari 86 orang tewas setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 787 pengikut lainnya.