Skip to content

Tabrak Lari Lebih Mematikan

19 September 2014

pesan laka tabrak lari

BERITA anak baru gede (ABG) yang ditabrak mobil hingga kritis menambah panjang daftar kasus tabrak lari. Dalam kasus yang terjadi di Ciputat, Jakarta Selatan, belum lama ini sang ABG mengendarai sepeda motor ditabrak dari belakang oleh minibus. Sang ABG terpental, lalu tertabrak sepeda motor.

Tabrak lari ternyata lebih mematikan dibandingkan kecelakaan lalu lintas jalan secara umum. Menurut data Korlantas Polri, sepanjang Januari-Juni 2014, sekitar 23% korban tabrak lari berujung pada kematian. Sedangkan kecelakaan secara umum merenggut sekitar 15% dari total korban yang ditimbulkannya.

Pada enam bulan 2014, ada 29 kasus tabrak lari yang terjadi setiap hari. Sekalipun angka itu menurun dibandingkan periode sama 2013, tetap saja amat mematikan bagi para korbannya. Oh ya, per akhir Juni 2014, kasus tabrak lari turun 12%, sedangkan korban meninggalnya anjlok sekitar 15%.
Mematikannya tabrak lari bisa dilihat dari jumlah korban yang direnggut. Pada enam bulan pertama 2014, setiap hari ada delapan jiwa yang tewas sia-sia akibat tabrak lari. Sedangkan total korban tabrak lari secara keseluruhan mencapai 36 orang per hari. Mereka ada yang meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan.

Bagaimana dengan di Jakarta?

Data Ditlantas Polda Metro Jaya meneybutkan menyebutkan, pada 2013, sekitar 11% korban kecelakaan tabrak lari berujung pada kematian. Fatalitas tersebut lebih buruk dibandingkan dengan korban kecelakaan secara keseluruhan pada 2013. Tahun itu, sekitar 8% korban kecelakaan berujung pada kematian.

Lantas, kenapa mereka yang terlibat kecelakaan melarikan diri?

Bila alasan kabur untuk menghindar dari tindakan anarkis masyarakat, seseorang yang diduga menjadi pelaku tabrakan semestinya meminta perlindungan kepolisian setempat. Setelah berhasil menghindar dari aksi anarkis yang bersangkutan bisa melapor ke kepolisian. Selain meminta perlindungan diri, sekaligus juga secara ksatria mempertanggungjawabkan tindakannya. Tokh, pembuktian bersalah atau tidak mesti melalui mekanisme pengadilan.

Seorang pelaku kecelakaan lalu lintas jalan yang melarikan diri meninggalkan korbannya bisa diganjar sanksi cukup berat.

Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) di pasal 312 menegaskan bahwa sanksinya bisa berupa pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta.

Pasal itu membidik pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat tanpa alasan.

Di bagian lain, kolega saya di kepolisian menyebutkan bahwa untuk kasus tabrak lari semestinya surat izin mengemudi (SIM) sang pelaku dicabut oleh Negara. SIM sebagai bukti kompetensi mengemudi diterbitkan oleh Negara melalui Kepolisian RI. Bila terbukti sang pemegang SIM membahayakan pengguna jalan yang lain, sudah layak SIM-nya dicabut. Terlebih, bila kasus tabrak lari yang melibatkan sang pemegang SIM menimbulkan korban jiwa.

Oh ya, jika dibandingkan dengan kecelakaan tunggal, ternyata kasus tabrak lari kalah mematikannya. Dalam kecelakaan tunggal, sekitar 24% korbannya berujung pada kematian. Tragis! (edo rusyanto)

Polisi Indonesia Siapkan Mata Elektronik, E Cross

18 September 2014

e cross rakor 2014

PERNAH suatu ketika seorang teman berseloroh.

“Gue terobos aja lampu merah, soalnya buru-buru. Lagi pula waktu itu gak ada petugas yang jaga,” katanya seraya tersenyum simpul.

Ya. Pernyataan sang teman itu mengingatkan kita pada sebuah tayangan iklan di televisi. Dalam iklan itu digambarkan seorang perempuan muda mengemudi mobil, lalu dia melanggar aturan. Tak lama berselang, munculah petugas hendak menindak. Dalam penggalan dialog iklan itu keluarlah kata-kata.

“Kan gak ada yang jaga…”

Ketiadaan petugas di lapangan sehingga tidak mampu mengawasi seluruh pengguna jalan menjadi salah satu ciri penegakan hukum secara konvensional. Artinya, butuh amat banyak petugas sehingga bisa menjangkau seluruh pengguna jalan dalam durasi 24 jam. Selain itu, ciri lainnya adalah lemahnya bukti sehingga bisa menimbulkan perdepan. Bahkan, bukan tidak mungkin menimbulkan KKN di jalan raya.

“Karena itu, perlu peningkatan efektifitas dan kapasitas penegak hukum. Di sisi lain, perilaku atau disiplin pengguna jalan masih rendah,” tegas Kabag Kamsel Korlantas Polri Kombes Pol Unggul Sedyantoro, di Jakarta, Rab, 17 September 2014.

Pernyataan Kombes Unggul itu dilontarkan di dalam ‘Rapat Koordinasi Pembahasan Hasil Kajian Umum Penerapan E-Camera for Road Safety System (E Cross)’. Rakor tersebut, kata dia, selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan uji coba pemakain kamera dalam penegakan hukum di jalan raya.

“Uji coba akan dimulai pada 22 September 2014 di tiga titik di Jakarta,” sergah mantan Dirlantas Polda Kalbar itu.

Lantas, apa sih E Cross?

Ini penjelasan Kombes Unggul. E Cross adalah upaya penegakan hukum dengan menggunakan peralatan elektronik. Untuk tahap awal, Kepolisian RI bakal memakai kamera untuk merekam pelanggaran lalu lintas. Foto yang direkam tersebut bakal dicetak dan dapat menjadi bukti di pengadilan.

e cros alur penegakan hukum

Dalam tahap awal, katanya, E Cross banyak dimanfaatkan untuk menindak para pelanggar aturan lalu lintas di jalan. “Langkah ini bertujuan untuk memudahkan penindakan terhadap pelanggar, kecepatan pendataan, dan keakuratan pembuktian. Selain itu, untuk meningkatkan disiplin pengguna jalan dan mengefektifkan petugas,” tukasnya.

Dia menggambarkan secara ringkas seperti ini. Kamera akan merekam pelanggaran yang terjadi. Lalu, foto tadi dicetak bersamaan dengan surat tilang yang akan dikirim via pos ke alamat pelanggar. Nah, sang pelanggar akan membayar denda tilang saat memperpanjang surat-surat kendaraan. “Kalau gak dibayar akan ada upaya paksa dengan menyita kendaraannya,” sergah Kombes Unggul.

Terkait mekanisme tilang elektronik itu saya jadi ingat tulisan saya tiga tahun lalu yang saya beri judul “Ini Loh Mekanisme Tilang Elektronik”. Dalam tulisan tahun 2011 itu saya juga lengkapi dengan bagan mekanismenya. Selain itu, ada juga tulisan lain setahun kemudian, silakan klik disini.

Kita sambung lagi soal E Cross yah.

Penegakan hukum dengan menggunakan elektronik memang dilindungi oleh undang undang. Sebut saja misalnya UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dan UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Karena itu, semestinya sudah bisa diterapkan guna meningkatkan transparansi dan kapabilitas para penegak hukum. Tinggal persoalannya adalah bagaimana mensosialisasikan kebijakan yang ada secara tepat sasaran dan jitu. Maksudnya, apa yang dikomunikasikan dapat diterima dengan baik lewat kemasan sosialisasi yang nyaman bagi penerima pesan.

Tanpa sosialisasi yang baik, kebijakan sebagus apa pun mustahil bisa berjalan mulus. “Masyarakatnya sudah siap, tinggal sistemnya juga harus siap,” sergah Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas dalam kesempatan rakor tersebut.

Kehadiran E Cross tentu saja bukan semata demi mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan nyaman. Penggunaan alat elektronik juga semestinya bisa mengurangi potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan. Maklum, pada 2013, setidaknya setiap hari ada 72 jiwa yang melayang sia-sia akibat kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

Mayoritas Pelaku Kecelakaan Tidak Punya SIM

17 September 2014

laka bus sumedang 2012

PELAKU kecelakaan lalu lintas jalan ternyata mayoritas tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). Walau, bukan berarti lantas pemilik SIM bisa tenang-tenang saja tidak memicu kecelakaan di jalan. Lengah sedikit saja, sang jagal jalan raya sudah siap menerkam.

Data Korlantas Polri menyebutkan bahwa pada semester pertama 2014, sebanyak 56,12% pelaku kecelakaan tidak memiliki SIM. Pada enam bulan pertama 2014 itu ada sekitar 44 ribu lebih pelaku kecelakaan. Bila dibandingkan periode sama 2013, jumlah mereka yang menjadi pelaku kecelakaan turun sekitar 10%.

Kecelakaan tampaknya masih belum mau beranjak dari bumi Nusantara. Pada enam bulan pertama 2014, rata-rata setiap harinya ada 246 kasus kecelakaan di jalan. Angka itu memang turun sekitar 10% bila dibandingkan dengan periode sama 2013. Namun, kasus kecelakaan semester pertama 2014 menyebabkan lebih dari 73 ribu orang menderita. Ironisnya, sekitar 15% dari korban tersebut harus menemui ajal.

Kembali soal SIM. Pada rentang Januari-Juni 2014, pengendara yang tidak memiliki SIM memicu 138 kasus kecelakaan per hari. Tentu bukan persoalan sepele.

Lantas, kenapa pengendara belum memiliki SIM?

Jawabannya pasti beragam. Sekadar menduga-duga saja. Pertama, mereka adalah pengendara di bawah umur. Fakta memperlihatkan bahwa sekitar 2% pelaku kecelakaan adalah mereka yang berusia di bawah 15 tahun. Kedua, belum sempat mengurus SIM ke kantor polisi, atau belum punya biaya dan kelengkapan administrasi untuk mengurusnya. Dan, ketiga, sudah mengurus namun belum lulus sehingga harus mengulang.

Ketiga hal itu baru sekadar dugaan. Boleh jadi ada alasan lain kenapa orang tidak memiliki SIM.

Lalu, kenapa seseorang yang tidak memiliki SIM bisa wira-wiri di jalan raya?

Lagi-lagi, sekadar dugaan. Pertama, karena perilaku permisif. Kelompok yang ini misalnya, para orang tua membiarkan anak di bawah umurnya berkendara dengan dalih hanya jarak dekat. Atau, berdalih sang anak sudah mampu berkendara. Perilaku permisif juga berlaku tidak hanya pada kelompok usia di bawah umur. Bisa jadi mereka yang sudah dewasa dibiarkan berkendara walau tidak punya SIM karena dianggap sudah mampu mengendarai kendaraan bermotor.

Kedua, memaksakan diri. Maksudnya, nekat berkendara karena menganggap dirinya sudah mampu dan tidak ditindak oleh petugas. Atau, sekalipun ditindak bakal bisa diselesaikan dengan cara damai. Memilukan.
Ketiga, terpaksa. Nah yang ini barangkali lebih tepatnya memaksakan diri. Tahu bahwa dirinya belum punya SIM, namun memaksakan diri mengemudi karena beragam alasan.

Apa pun alasannya, berkendara tidak memiliki SIM sungguh berisiko. Setidaknya dari sisi regulasi. Maksudnya, aturan yang berlaku saat ini menegaskan bahwa pengemudi yang tidak memiliki SIM bisa dikenai sanksi pidana atau sanksi denda. Di dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) disebutkan bahwa sanksi denda maksimalnya Rp 1 juta. Sedangkan sanksi pidana penjara maksimalnya empat bulan.

Oh ya, pelaku kedua terbesar dari jenis SIM, ternyata adalah kelompok para pemilik SIM C alias para pengendara sepeda motor. Bila mereka yang tidak memiliki SIM menyumbang 56,12%, kelompok pemegang SIM C menyumbang sebanyak 23,69%. (edo rusyanto)

Rp 519 Miliar Santunan bagi Korban Kecelakaan yang Meninggal

16 September 2014

jasa raharja mobil_1

KORBAN kecelakaan masih terus berjatuhan di Indonesia. Hampir di semua moda transportasi terjadi kecelakaan. Dari beragam transportasi, kecelakaan di lalu lintas jalan merupakan yang terbesar.

Nah, sepanjang Januari-Agustus 2014, PT Jasa Raharja telah mengeluarkan santunan bagi korban kecelakaan sekitar Rp 782 miliar. Dari jumlah tersebut sekitar 66% atau setara dengan sekitar Rp 519 miliar adalah santunan bagi korban yang meninggal dunia.

Angka tersebut berasal dari santunan kecelakaan yang menimpa seluruh moda transportasi. Bila sekitar 66% adalah untuk santunan korban meninggal, pada delapan bulan 2014, sekitar 32% atau sekitar Rp 249 miliar untuk santunan korban luka-luka. Selebihnya, yakni Rp 13 miliar untuk korban yang menderita cacat dan Rp 869 juta untuk bantuan penguburan korban yang meninggal tanpa ahli waris.

Menurut catatan Jasa Raharja, jumlah santunan bagi korban kecelakaan jumlahnya terus menurun dalam tiga tahun terakhir, yakni 2011-2013. Pada 2011, total santunan sekitar Rp 1,4 triliun. Setahun kemudian menurun menjadi sekitar Rp 1,38 trilin dan turun lagi pada 2013, yakni menjadi sekitar Rp 1,28 triliun.

Santunan terbesar masih untuk mereka yang meninggal dunia. Dalam periode itu jumlah santunan bagi korban yang meninggal juga terus menurun. Jika pada 2011 santunan bagi korban meninggal sekitar Rp 912 miliar, setahun kemudian turun menjadi sekitar Rp 884 miliar. Dan, pada 2013 turun lagi menjadi sekitar Rp 828 miliar.

Data yang saya dapat dari Jasa Raharja tidak spesifik santunan untuk kelompok korban kecelakaan yang mana. Namun, bila melihat data Korlantas Polri, angka-angka santunan itu pararel dengan penurunan korban kecelakaan lalu lintas jalan sepanjang 2011-2013.

Data Korlantas menyebutkan, tahun 2011, korban kecelakaan di jalan yang meninggal dunia sekitar 32 ribu jiwa. Sedangkan pada 2012 dan 2013 masing-masing turun menjadi sekitar 29 ribu jiwa dan 26 ribu jiwa.
Semoga kasus kecelakaan terus menurun di Indonesia dan tentunya di dunia. Amin. (edo rusyanto)

Sopir Taksi Ini Melindas Motor

15 September 2014

IMG-20140914-03611

LAJU taksi berwarna putih ini menyeruak diantara keramaian kendaraan bermotor di pinggiran Jakarta. Sang sopir tampak serius melihat ke depan dan sesekali melihat kaca spion. Saya duduk di kursi bagian belakang.

Tibalah saatnya muncul iring-iringan sepeda motor yang meminta jalan ke taksi yang kami tumpangi. Para pesepeda motor yang memakai atribut kelompok pesepeda motor melaju satu per satu mendahului taksi. Sesekali terdengar klakson dari pesepeda motor yang mendahului. Ada yang memberi acungan jempol atau isyarat tangan yang bisa diterjemahkan “terimakasih sudah memberi jalan” atau “maaf, beri jalan, kami hendak mendahului.”

Ini komentar sang sopir taksi, “Kalau yang ini mendingan. Mereka sopan dan tidak membahayakan orang lain dan dirinya sendiri.”

Tapi, kata dia, ad airing-iringan kelompok pesepeda motor yang mengacungkan kaki. Biasanya, kata dia, kelompok itu datang dari arah berlawanan. “Kaki diangkat. Gak sopan. Kalau kita serempet kan bisa patah kakinya dia,” seloroh sang sopir, Minggu, 14 September 2014 sore.

Saya hanya mendengarkan. Sesekali menimpali. Walau dalam hati bergumam bahwa sang sopir taksi rupanya memperhatikan perilaku pesepeda motor, khususnya mereka yang berkendara secara kelompok.

Dia melanjutkan lagi, mestinya kalau mau dihargai oleh orang lain, seseorang juga harusnya menghagai orang lain. Menghargai diri sendiri penting, namun menghargai orang lain amat penting saat berlalu lintas jalan.

Mobil terus melaju. Sesekali terhenti karena ada angkutan kota yang menurunkan dan menaikkan penumpang. Taksi juga sempat tersendat saat menemui pertigaan jalan. Maklum, di pinggiran Jakarta kemacetan sering terjadi saat di akhir pekan seperti ini.

“Yang saya gak suka, kadang-kadang ada balapan di jalan umum. Herannya, polisi gak menindak. Polisi mestinya tegas, kalau takut gabung aja ama TNI untuk menertibkan,” ujar sang sopir yang mengaku anak sulungnya kuliah kedokteran di Bandung, Jawa Barat.

Kami sempat berbincang soal sosok anak-anak di bawah umur yang wira-wiri bersepeda motor. ada yang berdua dan ada yang bertiga, plus tidak memakai helm. “Itu pak, ada orang tua yang bangga anaknya yang baru kelas 5-6 SD udah dibeliin motor. Itu mah bukan sayang anak. Malah nyuruh anaknya cepat mati,” sergah sang sopir.

Dia bercerita soal anaknya yang nomor dua. Sang anak sudah di tingkat sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Dia geram pada sang anak yang memodifikasi sepeda motornya dengan ban berukuran tidak standard. Ukuran ban yang dipakai lebih kecil. Setelah diberitahu tidak mengerti juga, kata dia, langkah ekstrim pun diambil. “Waktu anak saya gak ada, motor saya rebahkan dan saya lindas dengan mobil hingga velg-nya bengkok,” kata sang sopir itu.
Kaget juga saya mendengar ucapan sopir yang saya taksir usianya berkisar 50-60 tahun.

Dia melanjutkan ceritanya. “Waktu anak saya tanya, kenapa motornya jadi berantakan, saya bilang nggak tahu. Mungkin tadi ada mobil yang nabrak,” kata dia dengan entengnya.

Saya cuma bisa menerawang. Inilah sisi lain kota Jakarta. Di luar taksi langit tampak mulai gelap menjelang malam. (edo rusyanto)

Hello Paradise

14 September 2014

trans7_helloparadise

PANTAI memang menggoda. Pasir, ombak, hingga pemandangan matahari terbenam selalu menawarkan keindahan tersendiri. Siapapun penyuka pantai pasti sudah hafal soal itu.

Tapi, apa semua penyuka pantai tahu ada pantai-pantai molek di luar Legian atau Sanur?

Jawabannya, belum semua tahu. Ya, Bali ternyata punya pantai-pantai indah nan menawan di luar pantai yang sudah kondang seperti pantai Kuta.

Nah, Jennifer Arnelita dan Budi Doremi mencoba mengajak kita menelusuri pantai-pantai tadi lewat “Hello Paradise”. Tayangan yang dibesut Trans 7 itu sempat saya lihat pada Minggu, 14 September 2014 sekitar pukul 10 pagi. Pada episode itu ada dua pantai yang saya lihat.

Pernah dengar pantai di Amed dan Pantai Bingin? Keduanya ada di kawasan Bali timur. Dalam tayangan pagi itu terlihat keindahan keduanya yang menggoda.

Tapi, untuk mencapai pantai-pantai itu tidak semudah Anda mencapai pantai Kuta. Lokasi Amed misalnya, terletak di balik tebing dan mesti melewati celah sempit dan undakan tangga barulah mencapai pantai. Rasa letih terobati dengan keindahan pantai. Bahkan, disalah satu pantai kita bisa berenang melihat peemandangan bawah laut.

“Ada mail box di dalam laut loh,” kata Budi Doremi saat membawakan acara Hello Paradise.

Tampaknya acara itu menyuguhkan lokasi pantai-pantai yang jarang atau belum pernah disentuh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Untuk mencapai pantai-pantai yang jarang dijamah biasanya memang butuh upaya tambahan. Misal, akses transportasinya belum dilalui angkutan umum atau hanya bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor roda dua.

Budhi dan Arnelita pada salah satu adegan “Hello Paradise” edisi Minggu itu memperlihatkan bagaimana mereka harus bersepeda motor. Malah ada acara mogok segala yang membuat Budhi harus mendorong. “Mogoknya pas di tikungan yang menanjak,” kata dia.

Kebayangkan repotnya? Mendorong motor ditanjakan.

Nah, pada saat menunggang kuda besi itu Budi dan Arnelita tampak menikmati betul. Arnelita malah sempat berfoto selfie. Sayangnya, kedua pembawa acara itu tidak memakai helm pelindung kepala.

Banyak adegan serupa yang saya jumpai di acara-acara televisi. Banyak yang berdalih demi tayangan maka wajah sang pembawa acara harus terus nongol di televisi. Padahal, di sisi lain hal itu melanggar aturan lalu lintas jalan. Aturan di dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara motor dan penumpangnya memakai helm. Bahkan, jenis helmnya pun diwajibkan yang sesuai dengan Standard Nasional Indonesia (SNI). Aturan itu menegaskan bahwa bagi sang pelanggar bakal dikenai sanksi denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Oh ya, hal penting dari aturan ini adalah guna melindungi pesepeda motor dari potensi cedera di kepala bila terjebak insiden kecelakaan di jalan. Maklum, badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan bahwa cedera di kepala dan leher merupakan pemicu utama kematian pesepeda motor yang terjebak dalam kecelakaan.

Tanpa disadari tayangan-tayangan seperti ini bisa menyebarluaskan semangat tidak memakai helm saat bersepeda motor. Barangkali tidak ada niat untuk itu.

Semoga ke depan para penyelenggara siaran lebih peduli persoalan yang satu ini. Kita semua tentu ingin tayangan televisi tak semata sebagai tontonan, tapi juga tuntunan. (edo rusyanto)

Menggodok Gerakan Anak Negeri

13 September 2014

raker rsa 2014_1

KETIKA ada segudang persoalan semestinya juga ada segudang jalan keluar. Bukankah setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya?

Pergerakan anak-anak muda yang ingin terbebas dari petaka jalan raya terus bergulir. Mereka dengan perlahan namun pasti terus menyuarakan pentingnya berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Tanpa lelah mereka mencoba mengajak semua pengguna dan penikmat jalan membuka mata bahwa ada sisi kelam di jalan raya.

Salah satu yang melakukan itu adalah kelompok Asosiasi Keselamatan Jalan atau Road Safety Association (RSA) Indonesia. Kelompok yang merintis gerakan sejak 2007 ini sadar betul bahwa persoalan jalan raya kita masih segudang. Persoalan yang paling menonjol tentu saja seputar nasib anak negeri yang masih didera sang petaka jalan raya.

Ya. Saat ini, setiap hari rata-rata 72 anak negeri bergelimpangan di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Rasanya, di luar faktor penyakit, kecelakaan di jalan merupakan salah satu pemicu kematian yang dominan. Saat itulah pergerakan mengajak publik mewaspadai bahaya laten yang satu ini menjadi sebuah upaya penting.

RSA Indonesia yang berbasis pada kegiatan sosialisasi, edukasi, dan advokasi terus mencoba berbagai formula untuk membuka mata dunia. Setiap langkah yang ditempuh melalui proses penggodokan yang tak jarang menyedot waktu, tenaga, biaya, hingga pemikiran. Apa yang dilakukan lewat sebuah pertimbangan yang sebisa mungkin cukup komprehensif, termasuk memastikan goal apa yang hendak dicapai.

Medium penting yang menjadi proses penggodokan gagasan serta sekaligus mengevaluasi setiap pergerakan adalah rapat kerja alias raker. RSA Indonesia sebagai sebuah organisasi menggelar raker guna introspeksi sekaligus merancang segudang program untuk mengajak publik terhindar dari petaka di jalan raya.

Kali ini, RSA Indonesia menggelar raker di Jakarta, Sabtu, 13 September 2014 sebagai kota basis kegiatan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus pada gerakan keselamatan jalan (road safety) ini. Bertempat di gedung Graha Adira, Jakarta Selatan, sejumlah pengurus dan badan pengawas RSA Indonesia sudah memulai raker sejak sekitar pukul 10.00 WIB.

Beragam program coba digodok dengan apik. Mulai dari bagaimana membuat pemetaan permasalahan keselamatan di jalan, segmen kelompok yang disasar, hingga bagaimana menguatkan daya tahan finansial organisasi. Pembahasan lewat penuangan berbagai argumentasi pun bergulir dengan sesekali diselingi canda guna mencairkan suasana. Maklum, sejumlah materi yang digodok terkadang membutuhkan pemikiran yang kuat dan inginnya komprehensif.

raker rsa 2014 di jakarta

Misalnya saja, bagaimana merajut dan mempertahankan hubungan dengan kelompok akar rumput (grass root) yang selama ini menjadi basis pergerakan RSA Indonesia. Pembahasan mencakup bagaimana strateginya hingga substansi dalam setiap pergerakan seperti yang diterjemahkan lewat kopi darat keliling (kopdarling).

Di sisi lain, pembahasan juga bergulir seputar bagaimana merajut komunikasi dan hubungan dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan. Strategi yang dipakai selama ini adalah bagaimana fungsi advokasi RSA Indonesia tetap berjalan, namun jalinan komunikasi bisa berjalan mulus tanpa mencederai silaturahhim. Maklum, niat baik dengan cara yang baik diyakini bisa menghasilkan hal yang baik.

Setelah melalui proses penggodokan sepanjang hampir tujuh jam, raker penggodokan untuk nasib anak negeri pun dituntaskan. Perjalanan masih panjang. Perjuangan masih membutuhkan energi. Pastinya, tujuan agar anak negeri tak lagi bergelimpangan di permukaan aspal masih menjadi pekerjaan yang tidak mudah. (edo rusyanto)

foto-foto dok RSA Indonesia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.402 pengikut lainnya.