Skip to content

Merenung Sejenak di Hari Anak

24 Juli 2014

anak diri di motor

INDONESIA disebut-sebut mendapat bonus demografi pada 2035. Negara kita kebanjiran usia produktif. Usia yang menentukan maju mundurnya kehidupan suatu bangsa, yakni rentang 15-65 tahun. Pada tahun itu komposisi usia produktif mencapai 47,5% dari total jumlah penduduk yang ditaksir menyentuh 305,6 juta jiwa.

Limpahan kelompok usia ini kuncinya ada pada kualitas sang sumber daya manusia (SDM). Namun, adakah ancaman serius terhadap generasi penerus tersebut?

Di tengah Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2014 yang mengambil tema ‘Aku Anak Indonesia’, kita disodori fakta tragisnya nasib anak-anak kita di jalan raya. Tulisan ini tak mengulas tentang nasib anak jalanan yang juga memprihatinkan. Saya ingin lebih masuk pada sisi kelam lain di jalan raya kita.

Sebagai bahan perenungan, data-data berikut ini barangkali bisa menjadi aspek pencerahan untuk memproteksi anak-anak kita. Menjaga tunas-tunas muda agar terus bertumbuh, tidak layu sebelum berkembang dihajar kecelakaan lalu lintas jalan.

Di Jakarta dan sekitarnya, catatan keterlibatan anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku maupun korban kecelakaan memperlihatkan peningkatan. Pada 2012, kontribusi anak di bawah 10 tahun sebesar 3,70% sebagai korban kecelakaan. Setahun kemudian, justru meningkat komposisinya menjadi 4,04%.

Sementara itu, anak-anak usia di bawah 15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan kontribusinya juga meningkat. Bila pada 2012 kontribusinya sebesar 1,59%, tahun 2013 justru naik menjadi 1,71%.

Itu baru di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta dan sekitarnya. Di tingkat nasional, seperti dikutip dari data Korlantas Polri, anak-anak usia di bawah 15 tahun yang menjadi korban kecelakaan kontribusinya sebesar 15,45% pada 2013. Masih tergolong tinggi, sekalipun jika dibandingkan 2012 angka itu melemah, mengingat setahun sebelumnya sebesar 29,09%. Setiap harinya ada sekitar 70 anak di bawah umur, yakni di bawah usia 17 tahun yang menjadi korban kecelakaan.

Sementara itu, anak-anak di bawah 15 tahun yang menjadi pelaku kecelakaan kontribusinya justru meningkat. Lihat saja, pada 2012, kontribusi rentang usia tersebut sebesar 5,12%. Tapi, pada 2013,kontribusinya menjadi sekitar 7,15%. Setiap hari ada 20 anak-anak yang menjadi pelaku kecelakaan.

Sudah menjadi rahasia umum, anak-anak di bawah umur tersebut kini menjadi korban sistem masyarakat yang ada. Sistem yang ada tidak memungkinkan angkutan umum memobilisasi mereka secara masif, nyaman, aman, dan selamat saat menuju lokasi tujuan. Contohnya, dari rumah menuju sekolah, bisa jadi seorang anak harus berganti dua hingga tiga kali moda angkutan umum. Di bagian lain, jumlah waktu yang dibutuhkan dan biaya yang dikeluarkan angkanya lebih besar jika dibandingkan menggunakan angkutan pribadi, sepeda motor.

Didorong oleh para orang tua yang permisif, anak-anak banyak yang memanfaatkan sepeda motor untuk angkutan ke sekolah. Ironisnya, sepeda motor tersebut dikendarai sendiri, bukan dengan memanfaatkan tukang ojek. Jadilah anak-anak menanggung risiko menjadi korban atau pelaku kecelakaan di jalan.

Pada bagian lain, anak-anak juga berjibaku, berhimpitan di atas sepeda motor bersama orang dewasa. Satu sepeda motor diisi tiga, empat, lima, bahkan enam orang. Anak-anak ikut memikul risiko berlebihan. Lihat saja data-data di bagian atas tulisan ini.

Sisi kelam jalan raya yang satu ini membutuhkan atensi ekstra dari kalangan orang tua. Orang tua dituntut menjaga keselamatan sang anak, termasuk ketika di jalan raya. Orang tua juga dituntut memberi pemahaman tentang keselamatan di jalan, keselamatan saat berlalu lintas jalan. Peran keluarga menjadi garda terdepa ndalam menanamkan perilaku berkendara yang aman dan selamat di jalan raya. Jangan sampai bonus demografi yang diharapkan memberi nilai plus bagi kehidupan bangsa kita, justru terancam. (edo rusyanto)

Asyiknya Mengintip Jalur Mudik Alternatif Motor

23 Juli 2014

Karawang Timur-20140722-03260

ANTREAN kendaraan menyemut seusai keluar dari pintu tol Karawang Barat, Jawa Barat. Iring-iringan kendaraan kami pun harus berjejal dengan kendaraan lain. Di kanan kiri jalan tampak menjulang berbagai proyek properti yang sedang dibangun, termasuk beberapa proyek komersial. Kebayangkan kemacetan yang bakal bertambah jika bangunan itu sudah jadi?

Senja itu, bus yang membawa rombongan sejumlah jurnalis media cetak, televisi, hingga media online merayap diantara ratusan kendaraan yang tidak tertampung badan jalan. Di dalam bus, selain para jurnalis, duduk juga Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono dan sejumlah jajarannya.

Ya. Selasa, 22 Juli 2014 sore itu bersamaan dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sedang bersiap-siap mengumumkan siapa pemenang pemilihan presiden 2014. Di belahan lain, rombongan Wamenhub sibuk menelusuri jalur pemudik yang akan melintas ke Pantai Utara (Pantura) Jawa. Tidak tanggung-tanggung, jalur yang ditinjau adalah jalur alternatif bagi pemudik bersepeda motor. “Nanti kita naik sepeda motor yah saat menelusuri jalur alternatif itu,” ujar Bambang Susantono saat berbincang dengan saya, sambil menikmati hidangan buka puasa ala kadarnya di dalam bus.

Ironi pemudik Lebaran bersepeda motor selalu muncul setiap tahun. Maklum, jutaan sepeda motor wira wiri dipakai untuk alat transportasi mudik. Selama musim mudik Lebaran Tahun 2013, tiap hari rata-rata 21 pesepeda motor meregang nyawa akibat petaka di jalan raya. Petaka bernama kecelakaan lalu lintas jalan menjadi momok tersendiri bagi pemudik yang berjibaku menuju kampung halaman maupun ke kota asal tempat mengadu nasib.

Di antara jutaan penunggang kuda besi yang berjibaku menempuh perjalanan ratusan kilometer dalam waktu belasan jam tersebut bisa jadi mereka adalah tetangga kita. Bisa jadi, mereka adalah anak buah atau teman di kantor. Bahkan, bisa jadi adalah tetangga atau sanak family kita. Rasanya tak elok bila penanggung jawab keselamatan jalan diam berpangku tangan saat melihat ironi yang mendera anak negeri.

wamen skutik 2014

“Kami mencoba sekuat tenaga untuk mengurangi risiko fatal yang dihadapi para pemudik bersepeda motor. Salah satunya, menyediakan jalur atlternatif bagi pesepeda motor,” papar Wamenhub di sela peninjauan jalur alternatif Ciasem-Cikalong, Cikampek, Jawa Barat.

Berbekal helm open face berstandard nasional Indonesia (SNI) dan menunggang sendiri sepeda motor model scooter automatic atau skutik, Wamenhub menelusuri jalur alternative yang memiliki total panjang 43 kilometer tersebut. “Ternyata berat yah mudik dengan mengendarai sepeda motor. Ada risiko ngantuk dan lelah. Ini baru sekitar satu jam, bagaimana mereka yang naik motor berjam-jam,” sergahnya.

Tapi, ketika perjalanan mencapai separuh dari total jalur alternatif, Wamenhub sempat diboncengi oleh Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat. Bahkan, di sisi perjalanan saya sempat diminta memboncenginya. Dia duduk di atas sepeda motor sport yang saya kendarai.

Di temani sejumlah bawahan dan para jurnalis, dia meninjau segala kelengkapan jalur yang mulai dipopulerkan pada 2013 oleh lulusan Berkeley University, Amerika Serikat itu. Sesekali dia berhenti untuk memastikan infrastruktur dan suprastruktur yang ada. Tak lepas dari pengamatannya adalah soal kondisi jalan, penerangan, hingga stasiun pompa bensin umum (SPBU).

“Tampak sejumlah lubang baru saja ditambal. Terlihat warnanya berbeda dengan bagian jalan yang tidak berlubang,” ujar pria yang pernah bekerja di kementerian pekerjaan umum itu.

Sesekali dia berhenti untuk memastikan fasilitas penunjang. Dia menepi dan bertemu dengan pegawai puskesmas. Dia juga singgah ke posko polisi, bahkan dia berhenti untuk berbincang dengan pengelola SPBU. “Bagaimana kesiapan tenaga medis disini?” Tanya Bambang Susantono kepada pegawai Puskesmas di jalur tersebut yang langsung dijawab dengan pernyataan kesiapan sudah cukup. Terutama untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan yang kemungkinan dialami pemudik bersepeda motor.

Ketika berhenti di setiap titik, Wamenhub tetap berkenan menjawab sejumlah pertanyaan dari kalangan wartawan. Wawancara dilakukan di sela peninjauan, kadang di puskesmas, posko, hingga SPBU.

Ya. Kementerian perhubungan merupakan salah satu pemangku kepentingan keselamatan jalan yang notabene ikut bertanggung jawab atas nasib pengguna jalan. Penyediaan jalur alternatif bagi pesepeda motor, terutama di jalur pantai utara (Pantura) Jawa yang biasanya menumpuk di Jomin, Cikampek, menjadi salah satu jurus menekan fatalitas kecelakaan di jalan. “Selain itu, kehadiran jalur alternatif ini juga bisa mengurai sekitar 20% volume sepeda motor yang bergerak saat melintas di jalur mudik Pantura,” ujar Bambang Susantono.

edo wamen cikalong 2014

Tahun ini, kata dia, diperkirakan ada sekitar 2,5 juta sepeda motor yang bakal bergerak dipakai untuk alat transportasi mudik. Bila satu sepeda motor diasumsikan dikendarai dua orang, ada sekitar 5 juta pemudik yang bertumpu pada sepeda motor. Mereka termasuk yang tidak mendapat angkutan umum maupun yang menganggap sepeda motor lebih mangkus dan sangkil.

“Kami mencoba menyediakan angkutan kereta api, truk, bahkan kapal laut untuk mengangkut pemudik bersepeda motor,” tambah Wamenhub.

Kehadiran jalur alternatif untuk mengurangi sedikit beban jalan, sekaligus mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas jalan. Pemecahan arus sepeda motor dilakukan setelah melewati Terminal Tanjung Pura, Karawang. Setiba pemudik di daerah Cikampek, persisnya di bawah flyover, para pesepeda motor diarahkan belok ke kiri menuju jalur Cilamaya. Selanjutnya, para pesepeda motor keluar di Cikalong, Karawang atau Ciasem, Subang, Jawa Barat untuk selanjutnya masuk ke jalur Pantura Jawa menuju Cirebon, Tegal, Semarang atau Jogjakarta.

“Jalurnya enak dan aman. Tahun lalu saya juga lewat jalur ini,” ujar Marno, kita sebut saja, seorang pria yang malam itu mengaku hendak mudik ke Wonosobo, Jawa Tengah.

Dia tidak sendiri, ada anak dan isterinya ikut dalam satu sepeda motor. Di bagian lain terlihat sejumlah barang bawaan yang lumayan memadati sepeda motor skutik warna merah yang dikendarainya.

Data Korlantas Mabes Polri memperlihatkan, pada musim mudik Lebaran 2013, sepeda motor merupakan kendaraan yang paling banyak terlibat kecelakaan, yakni mencapai sekitar 71%. Sedangkan dari total jumlah korban yang tewas selama 16 hari periode mudik, sebanyak 48%-nya atau setara dengan rata-rata 21 jiwa per hari adalah penunggang kuda besi. Angka itu jauh lebih baik dibandingkan periode sama 2012, dimana setiap hari sebanyak 47 jiwa.

wamen wawancara cikalong 2014

Kehadiran negara dalam mengatasi masalah kemacetan dan fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan amat dibutuhkan. Jurus memberi jalur alternatif dan merangsang korporasi menggelar mudik bareng yang menyediakan bus dan truk untuk mengangkut motor tampaknya member sedikit nafas lega. Ketika warga terpaksa memakai sepeda motor untuk alat transportasi mudik, sang penunggang mesti ekstra waspada. “Bagi para pemudiknya juga harus mempersiapkan diri dan kendaraannya, selain itu mematuhi aturan yang ada. Beristirahatlah setiap dua atau tiga jam sekali,” saran Bambang Susantono, menjelang peninjauan usai yang sudah memasuki pukul 22.00 WIB.

Tentu peran negara tak sekadar menyediakan jalur alternatif. Khusus Kemenhub dan mitranya, seperti dinas perhubungan (Dishub) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota adalah menyedian transportasi umum. Alat angkut umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau. Walau Bambang berharap pemudik tidak memaksakan diri memakai sepeda motor, ketika pilihan angkutan umum tidak memadai, kondisi seperti itu tak bisa dicegah. Sepeda motor masih menjadid alternatif. (edo rusyanto)

Bergerak!!! Satukan Langkah, Wujudkan Kepedulian

22 Juli 2014

flyer aksi mudik selamat

ADA yang bersuara lantang, walau tak sedikit yang diam. Mereka permisif atas situasi sekitar, padahal tiap hari bertumbangan 70-an jiwa lantaran kecelakaan di jalan. Mereka yang permisif berlindung di balik jargon, “urusan masing-masing.” Ngeri.

Eloknya, sudi bersuara lantang, menulis tajam, namun juga sigap mewujudkan kepedulian lewat aksi nyata. Masyarakat butuh kita berbuat. Masyarakat butuh untuk saling mengingatkan. Saling mengingatkan bahwa kecelakaan lalu lintas jalan bukan persoalan main-main dan berdampak luas. Harus dihentikan sekuat tenaga.

Kecelakaan saat arus mudik dan balik Lebaran menjadi salah satu periode yang mencekam. Bagaimana tidak, tiap hari selama periode itu bergelimpangan 50 nyawa anak bangsa. Ironisnya, sekitar 48% korban tewas itu adalah dari kalangan peseped motor.

Mari bergerak!!! Satukan langkah, wujudkan kepedulian. Saling mengingatkan agar para pemudik selamat sampai tujuan. Mudik adalah pulang kampung, bukan masuk rumah sakit.

Road Safety Association (RSA) Indonesia mengajak mereka yang peduli untuk berbagi pada:

Hari/Tanggal: Sabtu/ 26 Juli 2014

Waktu: Pkl 15.00-17.00 WIB

Tempat: Pangkalan Jati, Kali Malang, Jakarta Timur

Kegiatan: Bagi flyer dan bentang spanduk keselamatan jalan.

Saat inim kita tak bisa 100% bergantung pada negara dalam urusan keselamatan berlalu lintas jalan. Bangkit saudaraku, satukan langkah, kita bergandengan untuk lalu lintas jalan yang humanis. Ditunggu kehadirannya. (edo rusyanto)

Namanya Juga SOTR

21 Juli 2014

sotroc-riding-malam-bayu

AKRONIM yang satu ini cukup populer belakangan ini. Lihat saja di lini masanya twitter atau jejaring media sosial lainnya. Kita dapat dengan mudah menemui akronim SOTR yang merupakan kependekan dari sahur on the road.

Secara harfiah, SOTR bermakna sahur di jalan raya. Kalau merunut ke belakangan ternyata aktifitas itu bermula dari niat baik berbagi dengan sesama yang kurang mampu di jalan raya. Dalam hal ini berbagi makanan sahur dengan mereka yang kurang beruntung dan ditemui di jalan raya.

Beberapa tahun terakhir, mulai terjadi aktifitas yang lebih bervariasi. Para penyelenggara SOTR tak semata berkeliling kota dan membagikan makanan kepada warga yang dijumpai di jalan raya. Kegiatan dilakukan di tempat tertentu, seperti di panti asuhan atau tempat lain yang dianggap tepat. Pola seperti ini memecah iring-iringan kendaraan bermotor yang ikut kegiatan sehingga tidak menciptakan barisan super panjang.

Sekalipun begitu, tetap saja kita masih menjumpai iring-iringan kendaraan bermotor yang ingin melakukan SOTR. Di kota tempat saya tinggal, di Jakarta, iring-iringan seperti itu mudah dijumpai pada waktu memasuki tengah malam menjelang dinihari. Iring-iringan kendaraan tersebut mayoritas dari kalangan sepeda motor.

Cerita menjadi berbeda ketika iring-iringan kendaraan bermotor itu dianggap mengusik pengguna jalan yang lainnya. Misalnya, supaya tidak terputus, peserta iring-iringan menutup jalan dari arah lain. Praktis pengguna jalan lainnya merasa terganggu. Atau, antrean kendaraan yang mengular dan parkir di sembarang tempat. Ada juga keluhan soal nyaringnya bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh iring-iringan tersebut.

Saya termasuk yang percaya bahwa niat baik, jika dilakukan dengan tidak baik, hasilnya bisa tidak baik. Karena itu, bila arogansi begitu kental saat berkendara beramai-ramai, esensi SOTR bisa melemah. Lazimnya niat baik, ia akan memberi pesan kedamaian bagi pihak yang lain, bukan kebalikannya, menciptakan kecemasan dan kesan mencekam.

Persoalan lain bisa jadi sudah siap mengintai, yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Memang bisa ditekan peluangnya, karena itu jurus andalan soal ini ada pada manajemen lalu lintas berkelompok. Artinya, kelompok yang menggelar SOTR bisa serapih mungkin mengatur agar iring-iringan kendaraannya tidak mengusik pengguna jalan yang lain. Memecah jumlah kendaraan sehingga tidak mengular merupakan jurus jitu. Tentu saja diikuti oleh aspek pendukung, seperti mengerem perilaku arogan dengan menutup jalan. Semua ada porsinya, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Disinilah peran pemimpin atau ketua rombongan menegaskan kepada anggota rombongannya bahwa keselamatan dan kenyamanan bagi semua merupakan prioritas. Perlu kita cermati menebar kedamaian dengan melabrak aturan bak menanam palawija dengan pupuk kedengkian. (edo rusyanto)

Pasar Motor Indonesia Paling Moncer di Asean

20 Juli 2014

motor di asean 2013

MASYARAKAT Ekonomi Asean bakal dibuka gemboknya mulai 2015. Artinya, saat itu arus perdagangan barang dan jasa bakal mengalir cukup deras diantara negara-negara di Asia Tenggara itu. Setidaknya ada sepuluh negara yang terhimpun dalam Asean. Tentu saja, dari segi populasi dan pasar terbesar adalah Indonesia.

Negara dengan populasi sedikitnya 240 juta jiwa, Indonesia menjadi incaran para produsen di seluruh jagat. Tak ketinggalan bagi para negara-negara tetangga seperti dari Asean. Mereka kian bebas wira-wiri setelah keran pasar bebas dibuka lebar-lebar pada 2015. Salah satu ceruk pasar yang menggiurkan adalah produk sepeda motor.

“Pasar negara kita paling besar di Asean, pada 2013, volume penjualan sekitar 7,7 juta unit,” ujar Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) saat berbincang dengan saya di sela diskusi ‘Mudik Selamat, Meredam Petaka Jalan Raya’, di Jakarta, Sabtu, 19 Juli 2014.

Dalam diskusi yang digelar Independent Bikers Club (IBC) itu Gunadi tampil sebagai pembicara. Materi yang dipaparkan seputar tanggung jawab industri sepeda motor terhadap masalah keselamatan jalan, khususnya terkait arus mudik Lebaran. Maklum, saat itu, pergerakan sepeda motor amat tinggi untuk dipakai sebagai alat transportasi mudik. Ironisnya, sekitar 71% kendaraan yang terlibat kecelakaan selama arus mudik Lebaran pada 2013 adalah sepeda motor.

“Mudik menggunakan sepeda motor tidak usah dibatasi. Justru yang harus dilakukan adalah mencari solusi, memberi transportasi alternatif bagi pesepeda motor,” tegas Gunadi yang mantan Presiden Direktur PT Indomobil Sukses International Tbk, sang produsen sepeda motor Suzuki.

motor per wilayah pada 2013
Kembali lagi soal pasar Indonesia yang menggiurkan bagi pemain sepeda motor. Menurut Gunadi, pada 2013, pasar sepeda motor di Asean sekitar 11,28 juta unit. Nah, Indonesia menguasai sekitar 69% nya. Dahsyatkan?
Oh ya, coba bandingkan dengan Thailand yang sekitar 2,2 juta unit (19,5%) atau Filipina 729 ribu unit (6,5%) dan Malaysia 549 ribu unit (4,9%).

Sayang Gunadi belum memasukan Vietnam. Negara yang satu ini juga memiliki angka penjualan sepeda motor yang cukup tinggi.

Pastinya, pasar sepeda motor kita masih cukup gurih. Nah, dari total sekitar 7,7 juta unit pada 2013, ternyata distribusi terbesar ada di tiga wilayah. Pertama di Jawa Timur yang mencapai sekitar 1,35 juta unit, lalu Jawa Barat sekitar 1,31 juta unit, dan DKI Jakarta sekitar 1,13 juta unit. Jadi, siapa yang mendominasi di Jawa Timur dan Jawa Barat, dia bakalan memenangi penjualan sepeda motor di Indonesia. Mirip seperti pemilihan capres yah? (edo rusyanto)

Independent Bikers Club dan Pemudik Bersepeda Motor

19 Juli 2014

edo diskusi ibc 2014

KASUS kecelakaan dan fatalitaskecelakaan lalu lintas jalan yang menimpa pesepeda motor masih cukup tinggi selama mudik Lebaran tahun lalu. Untuk itu, pemerintah dan pebisnis sepeda motor mengajak para pemudik tetap waspada.

Data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, saat arus mudik 2014, yakni H-7, H1, H2, dan H+7 atau 16 hari, keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan mencapai 71%. Angka itu setara dengan 163 kasus per hari, sedangkan korban tewas dari pesepeda motor mencapai sekitar 21 jiwa per hari.

“Kami mengajak pemudik lebih waspada. Ada lima aspek utama dalam mengatasi permasalahan mudik,” ujar Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, di sela diskusi Mudik Selamat, Meredam Petaka Jalan Raya yang digelar Independent Bikers Club (IBC) di Jakarta, Sabtu (19/7).

Kelima aspek itu, lanjutnya, mencakup keamanan, keselamatan, keterjangkauan, dan kultural. Dua aspek di antaranya, yakni keamanan dan keselamatan merupakan faktor vital yang wajib diwaspadai ketika mudik.
“Secara umum, upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menekan kecelakaan antara lain penerapan sepeda motor di jalur lambat, pembuatan jalur khusus sepeda motor, ruang henti khusus sepeda motor,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata mengatakan, sepeda motor menjadi transportasi mudik yang mudah dan murah. Selain itu, kendaraan roda dua dapat digunakan sebagai sarana transportasi saat di kampung.

“Sebagian masyarakat juga menjadikan motor sebagai hadiah bagi keluarga di kampung,” ujar Gunadi dalam diskusi Mudik Selamat, Meredam Petaka Jalan Raya yang digelar Independent Bikers Club (IBC) di Jakarta, Sabtu (19/7).

Turut tampil sebagai pembicara Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Republik Indonesia Bambang Susantono, Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Indonesia Edo Rusyanto.

Dia melanjutkan, mudik dengan motor tidak perlu dihambat. Namun, diperlukan sarana angkutan nonmotor yang cukup. Jika hal itu terpenuhi, masyarakat akan lebih memilih transportasi massal yang murah dan nyaman.

Saat ini, dia mengatakan, pemudik terpaksa menggunakan motor lantaran sarana transportasi massal tidak mencukupi. Dia mengakui, angka kecelakaan yang melibatkan motor masih tinggi.

Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti tidak memiliki SIM, mengemudi tanpa helm, modifikasi lampu, dan cara berkendara yang ugal-ugalan. Kondisi infrastruktur yang tidak memadai juga menjadi salah satu pemicunya.

Dia mencatat, panjang jalan hanya 447 ribu km, maih jauh di bawah negara tetangga. Pertumbuhan jalan dan kendaraan bermotor sangat timpang, yang 11% dan 0,1%. Selama ini, APBN dikuras untuk membiayai subsidi bensin yang nilainya mencapai Rp 300 triliun per tahun.

Saat ini, populasi sepeda motor di Indonesia mencapai 83,6 juta unit, mobil 11,2 juta unit, truk 5,6 juta unit, dan bus 2,2 juta unit. Jumlah ini bakal terus bertambah seiring masih besarnya ruang pertumbuhan pasar otomotif Indonesia.

diskusi ibc 2014

Beberapa langkah yang dilakukan Aisi, kata dia, antara lain kerja sama internasional untuk peningkatan keselamatan jalan dengan beberapa institusi global seperti FAMI. Ada juga program HHRT yakni helmet, head light, road surface, dan training.

Aisi, kata dia, juga melakukan uji teknis ketat sepeda motor yang jendak dijual, meliputi laboratorium emisi gas buang, pengujian kebisingan, akselerasi, dan idle test.

Khusus untuk mudik, beberapa angota Aisi juga menggelar mudik dan balik bareng. Pemilik sepeda motor diangkut bus, sedangkan motornya diangkut truk.
Deputy Head of Corporate Communication PT Astra Honda Motor Ahmad Muhibbuddin mengatakan, selaku pelaku industri sepeda motor, AHM secara konsisten berusaha memberikan fasilitas mudik yang aman dan nyaman dengan menyelenggarakan mudik bareng bagi pengendara sepeda motor.

“Kami mengangkut sepeda motornya dengan truk ekspedisi dan pemilikinya kami berangkatkan dengan bus eksekutif. Tahun ini, kami memberangkatkan 1.200 sepeda motor Honda dan 2.400 pemudik dengan kota tujuan mudik yaitu Semarang dan Yogyakarta. Untuk arus balik kami juga fasilitasi dengan cara yang sama melalui rute Yogyakarta-Jakarta,” ujar Ahmad.

Sementara itu, bagi Edo Rusyanto, saat Lebaran yang perlu dicermati tidak hanya arus mudik, tapi arus balik, yakni ketika perjalanan kembali ke kota asal. “Maklum, sekitar 44% kecelakaan Lebaran terjadi pada periode arus balik, itu yang terbesar. Selama arus mudik menyumbang 42%,” ujarnya.
Sedangkan untuk menekan fatalitas kecelakaan, sinergi antara para pemangku kepentingan keselamatan jalan selama mudik Lebaran, mesti terus dipertahankan sepanjang tahun. Dia mengingatkan bahwa saat periode mudik fatalitas turun 31% jika dibandingkan periode sepanjang tahun. “Selama mudik, tiap hari rata-rata 50 jiwa tewas, sedangkan sepanjang tahun, yakni dari Januari-Desember 2013, tiap hari rata-rata 70-an jiwa tewas akibat kecelakaan,” kata Edo Rusyanto. (*)

Secuil dari “Revolusi Transportasi” ala Bambang Susantono

18 Juli 2014

buku bambang di bangku 2014

NGABUBURIT saya kali ini sedikit “berat”. Bagaimana tidak, sambil menunggu buka puasa Ramadan, kami membahas masalah transportasi di dalam acara peluncuran buku Dr Ir Bambang Susantono, MSCE, MCP. Pakar transportasi yang sehari-hari wakil menteri perhubungan Republik Indonesia ini menelorkan buku “Revolusi Transportasi”, Kamis, 17 Juli 2014.

“Buku ini adalah upaya advokasi saya selaku warga negara terkait problematika transportasi di Indonesia,” sergah pria yang menyelesaikan pascasarjana di University of California, Barkeley, saat membahas bukunya di Toko Gramedia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 17 Juli 2014 sore.

Bedah buku keenam karya Presiden Intelligent Transport System Indonesia (ITS Indonesia) ini dilengkapi dengan kajian Profesor Agus Taufik Mulyono, guru besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. “Penulis mengajak kita untuk berpikir kritis dalam mengubah transportasi menjadi lebih baik dari saat ini,” sergah Profesor Agus.

Selain dihadiri pakar dan pengamat transportasi, bedah buku kali ini juga dihadiri sejumlah anggota komunitas, seperti dari Nebengers.com. Selain itu, tentu saja dari kalangan mahasiswa dan jurnalis. “Kami ingin ada perubahan yang drastis dalam soal kenyamanan di angkutan umum seperti di kereta api, khususnya terkait penumpang berkebutuhan khusus,” ujar seorang perempuan saat menanggapi paparan Bambang Susantono.

Ya. Transportasi adalah masalah kebutuhan manusia sejak lahir, beranjak remaja, dewasa, hingga meninggal dunia. Seluruh perjalanan kehidupan manusia membutuhkan moda transportasi. Bambang Susantono mengaku dirinya ingin memprovokasi publik untuk berpikir ke depan dalam mewujudkan transportasi yang humanis. “Masalah transportasi tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah atau dunia usaha, tapi seluruh masyarakat pengguna jalan,” tegas dia.

Bambang menyebut sejumlah contoh transportasi yang harus diubah secara signifikan, terutama terkait dengan kenyamanan dan keselamatan. Mulai dari transportasi darat, kereta api, hingga angkutan laut.

“Dalam hal ini, penulis juga berani memperbaiki karakter pengguna dan pemanfaat transportasi, kesemuanya dituangkan di dalam buku ini. Itulah salah satu makna dari Revolusi Transportasi,” ujar Agus Taufik.

Nah, terkait keselamatan jalan, bagi Profesor Agus, penulis juga berani mengungkapkan akar masalah terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Penulis dinilai tidak semata mengulas data statistik kecelakaan, tapi justeru melontarkan dasar persoalan untuk selanjutnya menyodorkan solusi mengurangi kecelakaan.

Di halaman 48 bukunya, Bambang Susantono sedikit menyoroti masalah keselamatan lalu lintas jalan, khususnya saat periode mudik Lebaran. Dia mengatakan, frekuensi kecelakaan saat arus mudik Lebaran selalu tinggi. Penegakan hukum yang konsisten atas peraturan lalu lintas seharusnya menjadi langkah utama. “Karena jika peraturan terus dibiarkan longgar dan terkesan tidak tegas, tentu bakal berakibat fatal dan memberi contoh tidak benar bagi pengguna jalan lainnya,” tulis Bambang Susantono.

Soal yang satu ini kita semua mahfum bahwa penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu menjadi salah satu obat mujarab menekan frekuensi terjadinya kecelakaan. Sekalipun, pararel dengan itu kesadaran publik para pengguna jalan untuk berlalu lintas jalan yang aman dan selamat juga perlu diperbesar porsinya. Yuk mari. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.289 pengikut lainnya.