Skip to content

Mahasiswa di Garda Depan Road Safety

25 Oktober 2014

poljan aksi di jalan 23 okt 14

PESONA Bandung sulit lepas dari ingatan para wisatawan yang pernah singgah ke kota yang dijuluki Paris van Java itu. Para pelancong punya seabrek pilihan buat memanjakan mata, bergoyang lidah, hingga memborong fesyen.

Di sudut lain, Bandung punya segudang perguruan tinggi untuk mendulang ilmu. Beragam jurusan ilmu pengetahuan tersedia bagi mereka yang haus pengetahuan. Di Pulau Jawa, Bandung cukup terkenal sebagai salah satu kota tujuan mengasah intelektual. Aktifitas para mahasisnya pun cukup bersuara di kancah nasional.

Di antara keriuhan perguruan tinggi tersebut, barisan intelektual muda di Politeknik Pajajaran yang kondang disapa Poljan, Bandung, menghadirkan karakter khas. Mereka tampil di garda depan untuk urusan keselamatan jalan. “Kampus ini memang kecil kang Edo, tapi mereka punya kemauan dan kepedulian yang besar,” ujar Teddy Suryadi kolega saya beberapa waktu lalu saat bertemu di Jakarta.

Pernyataan pria muda yang tinggal di kota Bandung itu terbukti. Memasuki penghujung Oktober 2014, belasan mahasiswa dan mahasiswi Poljan Bandung turun ke jalan menggelar aksi simpatik. Mereka bergandengan dengan RSA Bandung dan komunitas sepeda motor mengusung pesan keselamatan jalan (road safety). Kepada para pengguna jalan mereka melontarkan pesan mulai dari ajakan tidak ugal-ugalan di jalan hingga seruan bahwa jalan raya bukan untuk mengakhiri hidup.

“Ada yang menerima dengan baik, tapi ada juga yang bilang gak usah ngajarin dirinya soal keselamatan,” ujar Egi, salah satu mahasiswa Poljan Bandung saat berbincang dengan saya, Jumat, 24 Oktober 2014.

Aksi simpatik di jalan raya pada Kamis, 23 Oktober 2014 menjadi titik awal. Sehari setelahnya, mereka mengisi batere lewat seminar nasional “Save Your Ride, Avoid The Accident”. Seminar itu rangkaian dari Road Show Road Safety buku “Menghapus Jejak Roda” yang saya terbitkan Juli 2014.

Poljan Edo
Dalam seminar tampil pembicara-pembicara yang kompeten dii bidangnya, seperti Kasubdit Penegakan Hukum Ditlantas Polda Jawa Barat AKBP M Agung Suyono dan Ketua Yayasan AHM, Hari Sasono.

Di ajang itu Poljan Bandung juga menunjukan komitmennya untuk membangun budaya keselamatan berlalu lintas di kalangan civitas akademika.

Garda Depan

Ya, kelompok usia muda, khususnya dari kalangan mahasiswa mutlak tampil di garda depan dalam menekan fatalitas kecelakaan jalan. Mereka bisa tampil sebagai generasi pendobrak mentalitas jalan pintas yang menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Mereka bisa memangkas mentalitas jalan pintas dan egoisme yang menjadi akar perilaku tidak tertib saat berlalu lintas jalan.

Perilaku tidak tertib di jalan terbukti menjadi pemicu mayoritas terjadinya kecelakaan di jalan. Pada 2013, seperti dilansir Korlantas Polri, dari 270-an kasus kecelakaan setiap hari, sebanyak 42% dipicu perilaku tidak tertib.

Ironisnya, pada 2013, sekitar 25% korban kecelakaan lalu lintas jalan adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Sedangkan sekitar 19% pemicu kecelakaan adalah kelompok usia muda tersebut. Tahun itu pula, setiap hari sekitar 72 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan.

poljanBareng

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Penegakan Hukum Ditlantas Polda Jawa Barat AKBP M Agung Suyono, mengatakan, masalah keselamatan di jalan adalah tanggung jawab semua pihak termasuk kalangan perguruan tinggi. Pihak kepolisian, kata dia, tentunya juga berperan aktif dalam menindak pelanggaran aturan di jalan. “Alasannya untuk keselamatan pengguna jalan dan kelancaran arus lalu lintas jalan,” katanya.

Hal itu dilontarkan dia menanggapi pernyataan saya yang berharap petugas bertindak tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Lewat sikap petugas yang seperti itu diharapkan mampu mengurangi pelanggaran aturan di jalan. “Polisi juga harus ikut mendukung terciptanya peerilaku yang aman dan selamat,” sergah Ida, mahasiswi Politeknik Pajajaran.

poljanacara

Sedangkan Direktur Politeknik Pajajaran Sigit, berharap pihaknya dapat menjadi inkubator untuk mengkampanyekan keselamatan jalan. Seluruh civitas akademika yang dipimpinnya siap menjadi agen perubahan keselamatan jalan. Para mahasiswa dan dosen diharapkan membawa pulang ke rumah semangat berlalu lintas jalan yang aman dan selamat, mengedukasi keluarga dan masyarakat. “Mahasiswa dan dosen diharapkan tak sekadar berpengetahuan keselamatan jalan, tapi juga mengiimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya,

Menurut Ketua Yayasan AHM, Hari Sasono, perubahan mindset soal keselamatan jalan amat diperlukan pada saat ini. Kesadaran pengguna jalan untuk berlalu lintas jalan perlu ditanamkan sejak dini. “Kalangan perguruan tinggi punya peran berarti dalam hal ini,” sergahnya.

Sementara itu, bagi Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata, peran kalangan industri amat penting dalam mensosialisasikan masalah keselamatan jalan kepada para konsumennya. Sosialisasi itu, kata dia, melengkapi langkah industri selain memproduksi sepeda motor yang memenuhi kaidah kenyamanan dan keselamatan. (edo rusyanto)

Inilah Jam-jam Rawan Terjadinya Kecelakaan

24 Oktober 2014

laka ngantuk tvone1

KADANG saya mendapat pertanyaan, kapan jam paling rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia? Untuk mencaritahu, saya coba bongkar-bongkar arsip data yang ada di personal computer maupun laptop. Akhirnya ketemu juga data dari Korlantas Mabes Polri.

Area waktu terjadinya kecelakaan dibagi dalam empat kelompok. Kelompok jam-jam paling rawan ternyata ada pada rentang pukul 12.00 hingga 18.00. Rentang waktu tengah hari hingga petang memasuki mala mini menempati posisi teratas dengan kontribusi sebanyak 31,74% pada 2013. Pada jam-jam ini rata-rata terjadi 87 kasus kecelakaan pada tahun lalu.

Lantas, kenapa pada jam-jam tersebut amat rawan terjadinya kecelakaan? Mari kita tengok sekitar kita. Di kota-kota besar, khususnya di Jakarta, pada rentang waktu ini banyak orang wira-wiri berlalu lintas jalan. Repotnya, menjelang pukul 18.00 jalan raya tumpah ruah oleh kendaraan bermotor yang membawa penumpangnya kembali ke tempat tinggal setelah beraktifitas seharian. Boleh jadi, ada ketergesa-gesaan, rasa lelah, atau berkurangnya konsentrasi.

Area waktu kedua terbesar yang sering terjadi kecelakaan adalah pada rentang 06.00 hingga 12.00. area waktu ini kebalikan dari rentang waktu pertama tadi. Khusus pada pukul 06.00 pagi merupakan area keberangkatan masyarakat menuju tempat aktifitasnya. Praktis, di area waktu ini juga amat banyak kendaraan yang berseliweran di jalan. Lagi-lagi, ketergesaan bisa menjadi salah satu perusak konsentrasi saat berkendara yang bisa membuka pintu terjadinya kecelakaan. Rentang waktu ini menyumbang 30,78% kecelakaan di Indonesia. Setiap hari, rata-rata ada 84 kasus kecelakaan pada rentang waktu pagi menjelang siang itu.

Di posisi ketiga terbesar adalah rentang waktu pukul 18.00 hingga 24.00. Inilah situasi dimana banyak orang berkendara untuk menuju ke tempat tinggal setelah seharian penuh beraktifitas. Berkendara pada malam hari dalam kondisi tubuh letih dan ingin cepat sampai tujuan, bisa menganggu konsentrasi. Oh ya, pada petang hingga tengah malam setiap hari terjadi 66 kasus kecelakaan.

Terakhir, rentang waktu 00.00 hingga 06.00. Tengah malam hingga ke dinihari praktis volume kendaraan yang berseliweran turun drastis. Tak heran jika kasus kecelakaan yang terjadi pada rentang waktu ini merupakan yang terendah, yakni 37 kasus kecelakaan per hari. Rentang waktu ini menyumbang sebanyak 13,41%.

Namun, di rentang waktu manapun, ketika kita berkendara tak boleh lengah sedikitpun. Berkendara adalah pekerjaan penuh waktu yang berisiko tinggi jika disambi dengan aktifitas lain, misalnya, menelepon. Konsentrasi mutlak. Kewaspadaan menjadi pijakan untuk tetap berkonsentrasi. Maklum, kecelakaan terjadi dalam hitungan waktu amat singkat, yakni terjadi dalam hitungan dua hingga tiga detik. Brakkkk!!! (edo rusyanto)

Lima Fakta Kecelakaan yang Mungkin Belum Anda Ketahui

23 Oktober 2014

laka gresik truk motor

KECELAKAAN lalu lintas jalan membawa dampak sangat luas. Kita disodori fakta bahwa persoalan ini tak semata masalah korban luka dan meninggal dunia, tapi juga berdimensi sosial, ekonomi, bahkan masalah hukum. Tahukah Anda bahwa vonis kecelakaan tertinggi di Indonesia mencapai belasan tahun?
Nah, berikut ini lima fakta seputar kecelakaan yang mungkin belum Anda ketahui.

1. Jumlah Korban meninggal dunia

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, yakni sepanjang 2004 hingga 2013, jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia mencapai sekitar 220 ribu jiwa. Artinya, tiap hari kita kehilangan rata-rata 60 jiwa anak bangsa.

Dalam rentang waktu tersebut, korban meninggal dunia terbesar terjadi pada tahun 2011, yakni sekitar 32 ribu jiwa. Sedangkan korban tewas terkecil terjadi pada 2004, yakni sekitar 11 ribu jiwa.

Korban tewas tersebut dampak dari sekitar 805 ribu kasus kecelakaan di jalan raya. Angka kasus kecelakaan melonjak drastis bila dibandingkan antara tahun 2004 dengan 2013. Tengok saja data Korlantas Polri yang menyebutkan bahwa pada 2004 baru terjadi 17 ribuan kasus kecelakaan, namun 2013 melonjak menjadi sekitar 100 ribuan kasus kecelakaan.

2. Provinsi Terbanyak yang Meninggal Dunia

Provinsi Jawa Timur menjadi kawasan yang paling banyak mencatat korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari,pada 2013, di provinsi ini terjadi sekitar 58 kasus kecelakaan yang menewaskan 15 orang. Sedangkan secara nasional, setiap hari Indonesia kehilangan 72 jiwa akibat kecelakaan. Artinya, sekitar 21 % korban tewas ada di Jawa Timur.

Setahun sebelumnya, yakni pada 2012, Jawa Timur juga masih mencatat kawasan yang paling tinggi korban meninggal dunianya. Pada 2012, seperti dilansir Korlantas Polri, rata-rata setiap hari sebanyak 16 korban jiwa.

Di Jawa Timur, pada 2013, sebanyak 16,08% korban kecelakaan berujung pada kematian. Angka fatalitas itu lebih tinggi dibandingkan dengan persoalan serupa di tingkat nasional. Di seluruh Indonesia, pada tahun itu sebanyak 15,98% korban kecelakaan berujung pada kematian.

3. Berdasarkan SIM Pelaku

Tahukah Anda bahwa dalam rentang empat tahun terakhir, yakni 2010-2013, pelaku kecelakaan terbanyak ternyata tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). Sepanjang waktu itu jumlah pelaku kecelakaan sekitar 430 ribuan. Dari jumlah tersebut, sekitar 52% nya mereka yang tidak memiliki SIM.

Sementara itu, pelaku terbanyak kedua adalah para pemegang SIM C atau SIM bagi kalangan pengendara sepeda motor. Dari kalangan pemegang SIM menyumbang sekitar 25% kasus kecelakaan yang terjadi di Indonesia.

4. Berdasarkan Profesi Pelaku

Dalam rentang waktu empat tahun terakhir, yakni 2010-2013, lebih dari 245 ribu pelaku kecelakaan lalu lintas jalan ternyata berprofesi karyawan. Kelompok ini berkontribusi sekitar 56% dari total pelaku kecelakaan yang terjadi di Indonesia.

Mereka yang berprofesi karyawan setiap harinya menyumbang sekitar 155 kasus kecelakaan pada 2013. Sebuah kasus kecelakaan tertinggi dibandingkan dengan profesi lain. Tahun itu, seperti dilansir Korlantas Polri, pelaku kedua terbanyak adalah dari kalangan pelajar, yakni 41 kasus per hari. Kelompok pelajar menyumbang sekitar 15% dari total kasus yang terjadi tahun 2013.

5. Vonis kasus Kecelakaan Tertinggi

Kecelakaan lalu lintas jalan dapat berujung di balik jeruji besi. Vonis tertinggi terhadap pelaku kecelakaan tercatat ada dua orang, yakni perempuan pengemudi minibus berusia 29 tahun yang divonis 15 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, 29 Agustus 2012. Dia divonis bersalah atas kasus kecelakaan lalu lintas jalan pada 22 Januari 2012, di dekat Tugu Tani, Jakarta. Kasus itu menyebabkan 9 pejalan kaki tewas dan 3 lainnya luka.

Kasus serupa yang mendapat vonis berat adalah saat angkutan bus sedang, Metro Mini, tercebur di kali Sunter, Jakarta pada 6 Maret 1994. Sang sopir divonis 15 tahun penjara. Akibat kecelakaan itu, 32 penumpang tewas di dalam sungai dan 13 lainnya terluka parah. Bedanya dengan kasus di Tugu Tani, dalam kasus di Sunter pelaku dijerat Pasal 338 KUHP. Penggunaan pasal ini dikabulkan Majelis Hakim PN Jakarta Utara hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Sedangkan kasus di Tugu Tani dijerat dengan UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, untuk kasus kecelakaannya. (edo rusyanto)

General Manager Ini Menyetujui Pelanggaran Aturan

22 Oktober 2014

anak bertiga tanpa helm1

MIMIK wajahnya seperti mengiba. Nada bicaranya merendah kadang cenderung bergetar. Dia bercerita tentang keterpaksaannya menyetujui pelanggaran aturan.

Tak main-main, aturan yang dilibas itu bisa berbuntut mendekam satu tahun di balik jeruji penjara bagi sang pelanggar. “Saya malu kalau ngomong ke pak Edo, saya terpaksa mengizinkan anak saya yang kelas tiga SMP untuk bersepeda motor,” urai sang general manager di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, saat berbincang dengan saya baru-baru ini.

Dia menjelaskan bahwa situasi terpaksa itu adalah kebutuhan alat transportasi untuk di lingkungan tempat tinggal. Mobilitas sang anak tak bisa mengandalkan angkutan umum yang ada. Karena itu, kata dia, sepeda motor menjadi alternatif sekalipun sang anak belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). Maklum, sang anak masih berusia 14 tahun.
“Di sisi lain, saya perlu mengajarkan sang anak mampu menghadapi risiko dalam kehidupan. Selama ini saya terlalu memanjakan anak,” tukasnya.

Namun, sambungnya, izin mengendarai sepeda motor hanya diberikan untuk aktifitas di sekitar lingkungan tempat tinggal. Lebih dari itu, katanya, dia tak mengizinkan sang anak. Dia juga selalu wanti-wanti kepada sang anak agar ketika mengendarai sepeda motor selalu memakai helm pelindung kepala. “Dampaknya, anak saya yang paling safety dibandingkan teman-temannya. Anak saya selalu pakai helm,” sergah pria berusia 40 tahunan itu.

Dia mengaku bukan tak tahu risiko atas pelanggaran tersebut. Baik itu risiko ditindak petugas, terlebih risiko terjadinya kecelakaan mengingat sang anak masih di bawah umur yang mentalnya belum stabil. Anak-anak di bawah umur memiliki perilaku tidak memahami dan tidak mampu mempertanggung jawabkan apa yang diperbuatnya. Secara teknis, kemampuan mengendalikan si kuda besi juga masih terlalu ringkih. Namun, hal yang lebih berat adalah soal kestabilan emosi.

Data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, di Indonesia, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan mencapai 20 setiap harinya. Sedangkan mereka yang menjadi korban kecelakaan, tiap hari mencapai 23 anak.

Untuk di Jakarta dan sekitarnya, tiap lima hari sekali satu anak di bawah umur menjadi pelaku kecelakaan. Dari sisi korban, tiap hari satu anak di bawah umur menjadi korban sang jagal jalan raya.

Tentu kita berharap daftar tersebut tidak terus bertambah. Para orang tua memiliki kewajiban melindungi para anak-anaknya agar terhindar dari potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Termasuk untuk melindungi jangan sampai sang anak menjadi pelaku kecelakaan.

Nah, terkait ancaman sanksi bagi pengendara yang tidak memiliki SIM diatur dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU ini menegaskan bahwa pengendara yang tidak memiliki SIM bisa dikenai sanksi denda maksimal Rp 1 juta. Atau, dikenai sanksi penjara maksimal satu tahun.
Tuh kan, repot. (edo rusyanto)

Ini Harapan Kepada Presiden Soal Keselamatan Jalan

21 Oktober 2014

adira korban laka edit

SELAMAT datang Presiden baru. Selamat datang pemerintahan baru di tangan duet Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Segera setelah Presiden dilantik pada Senin, 20 Oktober 2014, publik akan disodori jajaran kabinet yang segera siap bekerja. Segudang harapan pun dilontarkan pada pemerintahan baru termasuk perlindungan keselamatan bagi para pengguna jalan.

Indonesia punya seabrek drama di jalan raya. Pada 2013, tak kurang dari 270-an kasus kecelakaan di jalan terjadi setiap hari. Ironisnya, ratusan orang terluka akibat petaka itu. Bahkan, tiap hari, sebanyak 70-an anak bangsa melayang sia-sia lantaran jagal jalan raya.

Angka itu akan menjadi miris jika kita tengok fakta tahun 2004. Saat itu, setiap hari terjadi 49 kasus kecelakaan yang merenggut 31 jiwa. Artinya, sepanjang 10 tahun terakhir demikian besar tantangan yang dihadapi Negara untuk melindungi warganya di jalan raya.

Boleh jadi banyak variabel yang membuat angka-angka itu demikian fantastis sepanjang 10 tahun terakhir. Mulai dari jumlah penduduk yang terus meningkat hingga jumlah kendaraan bermotor yang terus membubung. Namun, di luar itu semua, jika melongok data Korlantas Mabes Polri tiga tahun terakhir, mayoritas pemicu kecelakaan di jalan adalah perilaku berkendara yang tidak tertib. Bahkan, pada 2013, aspek berkendara tidak tertib menyumbang sekitar 42% terhadap total kasus kecelakaan. Artinya, secara teori, jika perilaku bisa ditertibkan peluang terjadinya kecelakaan juga bisa ikut ditekan.

Perilaku tidak tertib di jalan raya bukan mustahil dipicu oleh mentalitas jalan pintas. Maksudnya, perilaku enggan bekerja keras untuk mencapai tujuan. Di jalan raya hal itu mudah dilihat dalam perilaku enggan antre, lalu menerobos lampu merah atau melawan arus. Bahkan, masuk ke jalur yang bukan hak dari pengendara sepeda motor seperti trotoar atau jalur Trans Jakarta, yakni busway.

Pemerintahan yang baru kerap menggaungkan slogan revolusi mental. Bila dikaitkan dengan perilaku di jalan raya, semestinya bisa mengubah mentalitas jalan pintas menjadi mental yang sudi toleran dan mengahargai regulasi yang ada. Menghargai aturan yang dibuat oleh intelektual-intelektual sama dengan menghargai pemberi karunia kecerdasan, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Perilaku demikian tercermin lewat berkendara yang aman dan selamat.

Bisa jadi bukan hal yang mudah dalam mengubah mentalitas dalam sekejap. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa. Negara punya instrumen dan perpanjangan tangan yang cukup lengkap untuk mencapai itu semua. Mulai dari institusi pendidikan, penyedia infrastruktur jalan, moda transportasi, hingga petugas penegak hukum di jalan raya.

Di sisi lain, Negara mesti menciptakan figur-figur teladan. Figur yang bisa digugu dan ditiru. Perilaku berlalulintas jalan yang arogan bisa lahir karena sang pelaku merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, entah kekuatan ekonomi, sosial, hingga politik. Figur teladan menjadi idaman masyarakat yang kadung karut marut saat ini.

Hal yang tak bisa dilupakan adalah pentingnya para petugas penegak hukum melaksanakan fungsinya secara baik dan benar. Masyarakat rindu petugas yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Lewat penegak hukum yang demikian, diharapkan kedisiplinan para pengguna jalan juga kian meningkat. Rasa menghargai aturan dan petugas juga bisa ikut tercipta. Pada muaranya, menghargai esensi kehidupan pun kian terlihat. Berlalu lintas akarnya adalah selamat sampai tujuan, bukan selamat sampai duluan.

Berharap pada pemerintahan baru adalah hal yang lumrah. Kita berharap pemerintah mampu menjamin dan mewujudkan rasa aman, nyaman, dan selamat. Ketika Negara mencanangkan penurunan fatalitas kecelakaan hingga 50% sepanjang 2010-2020, kita berharap semua dilakukan secara sungguh-sungguh. Salah satunya, pemimpin tertinggi, yakni Presiden mampu menggerakkan seluruh para pembantunya, mulai dari kabinet hingga pemerintah daerah.

Di tengah itu semua, peran para pengguna jalan juga amat penting dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang aman dan selamat. Para pengguna jalan lebih tertib dan menghargai aturan dan yang lebih penting, menghargai esensi kehidupan, yakni selamat sampai tujuan. (edo rusyanto)

Sinergi Dong, Jangan Jalan Sendiri-sendiri

20 Oktober 2014

upaya pemerintah turunkan kecelakaan

NEGARA harus hadir untuk melindungi warganya di jalan raya. Kewajiban negara atau pemerintah tak semata menyediakan perangkat regulasi untuk menjamin keselamatan para pengguna jalan. Langkah nyata melalui organ-organ pemerintah justru menjadi lebih vital selain segudang regulasi yang ada.

Lewat segala instrumennya, pemerintah mutlak berkewajiban menjamin keselamatan para pengguna jalan sebagai amanat Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Instrument atau perpanjangan tangan pemerintah cukup lengkap. Di lini infrastruktur ada kementerian pekerjaan umum dan dinas pekerjaan umum. Di lini transportasi publik ada kementerian perhubungan dan dinas perhubungan. Hingga di lini penegakan hukum ada jajaran kepolisian. Tinggal bagaimana pemimpin pemerintahan tertinggi memadukan instrumen yang ada menjadi sebuah gerakan yang tepat sasaran. Bukan asal-asalan, misalnya, sekadar menghabiskan anggaran.

Indonesia punya target menurunkan fatalitas kecelakaan hingga 50% sepanjang 2010-2020. Artinya, pada 2020 korban tewas akibat kecelakaan di jalan bakal menjadi sekitar 43 jiwa per hari. Beragam jurus untuk menurunkan fatalitas kecelakaan tersebut sudah sering kita dengar. Tiap instansi pemangku kepentingan (stakeholder) punya aneka kegiatan yang bertujuan mulia, yakni menekan angka kecelakaan di jalan.

Hanya saja, seperti sering dilontarkan, sinergi masih menjadi barang mewah di negeri ini. Antara satu instansi dengan instansi yang lain seperti jalan masing-masing. Sinergi belum benar-benar terwujud, kecuali sebatas seremonial belaka.

Padahal, sinergi inilah yang paling dibutuhkan saat ini. Kekompakan antara para pemangku kepentingan menjadi kunci utama dapat terwujudnya target yang sudah digulirkan oleh pemerintah. Masa sih tidak belajar dari pengalaman 10 tahun terakhir. Sebagai ilustrasi, pada 2004, jumlah korban tewas setiap hari sekitar 31 jiwa. Namun, pada 2013, setiap hari tak kurang dari 72 jiwa tewas bergelimpangan di jalan raya. Kenapa justru melonjak?

Mari lihat data yang dilansir Korlantas Polri. Pada 2004, setiap hari terjadi sekitar 48 kasus kecelakaan di jalan raya. Namun, pada 2013, melonjak menjadi sekitar 274 kasus kecelakaan di negara kita. Boleh jadi segudang alasan yang membuat itu semua terjadi. Misalnya, jumlah populasi penduduk yang terus meningkat dan jumlah populasi kendaraan yang terus bermunculan.

Pertanyaannya, apakah kita berdiam diri saja melihat itu semua?

Sekali lagi, negara harus hadir dalam melindungi warganya di jalan raya. Kunci dari keberhasilan negara adalah bersinerginya seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian pekerjaan umum, kementerian perhubungan, kementerian perindustrian, pemerintah daerah, hingga jajaran kepolisian. Presiden harus tampil sebagai komando yang mampu menggerakan seluruh program yang sudah disusun.

Di sisi lain, kita para pengguna jalan tentu saja memiliki andil cukup besar. Selain terus meningkatkan kesadaran berkendara yang aman dan selamat, para pengguna jalan juga mesti mampu lebih toleran. Mentalitas jalan pintas yang enggan antre di tengah kemacetan dan egoisme mesti dipangkas habis. Coba saja lihat data Korlantas Polri yang menyebutkan bahwa sekitar 42% kecelakaan dipicu oleh perilaku tidak tertib di jalan raya. Tidak cukupkah itu untuk menggambarkan bahwa perilaku ugal-ugalan sebagai biang kerok terjadinya kecelakaan? Lantas, kapan kita mulai berhenti mementingkan diri sendiri ketika berlalu lintas jalan? (edo rusyanto)

Sopir Adu Nyali di Bahu Jalan

19 Oktober 2014

bahu jalan diembat1

JALAN tol Jagorawi dari arah Cibubur menuju Kampung Rambutan, Jakarta Timur disesaki kendaraan bermotor. Jarum jam baru menunjukan pukul 05.40 WIB. Matahari terlihat malu-malu mengguyur cahayanya ke Jakarta.

Jalur ini menjadi pintu masuk sekaligus keluarnya para urban menuju Ibukota Republik Indonesia, Jakarta. Para urban dan penduduk Jakarta pinggiran memanfaatkan jalur ini menuju pusat-pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Tak heran kepadatan kendaraan menjadi pemandangan rutin setiap pagi dan sore hari. Aneka ragam mobil mengekor di jalaan tol tertua di Indonesia itu.

Saking padatnya arus kendaraan bermotor membuat sejumlah pengendara mengambil jalan pintas. Mereka berebutan melibas bahu jalan. Area yang seharusnya dipergunakan untuk situasi darurat, seperti mobil mogok, justru ramai-ramai dijarah hanya lantaran enggan antre.

“Tapi, kalau pagi yang ramai begini, biasanya Patroli Jalan Raya seakan tutup mata,” ujar sang sopir taksi yang mengantar saya menuju bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Jumat, 17 Oktober 2014 pagi.

Entah apa yang ada di benaknya, dia menggeser posisi mobil yang semula di bahu jalan ke jalur yang semestinya. Saya hanya tersenyum kecil. Mungkin dia merasa malu.

Perbincangan pun kembali mengalir.

“Kalau pagi-pagi, di tol dalam kota dari Cililitan sampai Semanggi biasanya pelanggaran bahu jalan seperti dibiarin aja,” kata sang sopir lagi.

Namun, lanjutnya, kadang-kadang pelanggaran bahu jalan ditindak oleh petugas.

Nah, kata dia, kalau ada gelagat seperti itu dirinya nekat saja melahap bahu jalan. Dia berharap ada yang mengikuti aksi itu sehingga petugas kebingungan karena banyaknya pengendara yang melanggar. Atau sebaliknya, begitu ada satu yang menerabas bahu jalan, dia ikut menerabas. “Pokoknya adu nyali aja. Kalau ketangkep saya ngaku salah dan bilang penumpangnya buru-buru mau ke bandara ngejar pesawat. Paling saya ngasih uang rokok Rp 20 ribu atau Rp 30 ribu,” sergahnya.

Ya. Kita semua tahu bahwa bahu jalan yang ada sisi kiri jalan tol bukan untuk mendahului. Apalalagi menjadi alternatif di tengah kemacetan antrean kendaraan. Bahu jalan adalah jalur untuk kondisi darurat, seperti untuk ambulans mencapai lokasi memberi pertolongan ketika terjadi kecelakaan di jalan.

Entah apa yang ada di benak para penjarah bahu jalan. Padahal, sanksi bagi mereka yang melanggar aturan ini cukup serius. Lihat saja di dalam UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam aturan itu ditegaskan bagi mereka yang melanggar rambu dan marka jalan bakal disemprit dengan penjara maksimal dua bulan. Atau, denda maksimal Rp 500 ribu.

Tampaknya perlu edukasi terus menerus tentang makna bahu jalan bagi kenyamanan dan keselamatan berlalu lintas jalan. “Kalau saya, memberi contoh kepada anak-anak saat melintas di jalan tol. Kepada mereka kita contohkan untuk tidak lewat di bahu jalan sambil menjelaskan bahwa lajur itu adalah untuk kondisi darurat,” ujar Hari, kolega saya. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.509 pengikut lainnya.