Skip to content

Menikmati Curug Cikaso Bisa via Darat dan Sungai

2 Agustus 2014

curug cikaso sukabumi

PENIKMAT wisata air terjun rasanya bisa menjajal Curug Cikaso, Sukabumi, Jawa Barat. Curug yang satu ini cukup memikat. Bukan lantaran ada tiga air terjun yang jatuh bersamaan dari ketinggian, tapi juga bagaimana proses mencapai curug tersebut. Tinggal pilih, mau naik perahu atau berjalan kaki.

Kawasan wisata yang satu ini terletak sekitar satu jam dari Pantai Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Saya biasanya menginap di Ujung Genteng barulah melancong ke curug. Maklum, penginapan lebih banyak di kawasan pantai yang terkenal dengan penangkaran penyu hijau, salah satu hewan langka di Indonesia. Di Ujung Genteng pula wisatawan bisa memilih beragam jenis penginapan. Mulai dari model rumahan, hotel, hingga resort. Tentu saja dengan tarif yang bervariasi, mulai dari yang Rp 200 ribuan per malam hingga yang mendekati Rp 1 juta per malam.

Jika wisatawan datang dari arah Sukabumi, bakal melintasi Jampang Kulon dan Surade, barulah tiba di Ujung Genteng. Nah, letak Curug Cikaso persis sebelum memasuki kawasan Surade. Posisinya di kiri jalan sehingga jika menginap di Ujung Genteng, posisinya ada di kanan jalan.

Wisatawan bakal dimanjakan oleh jalan yang mulus ketika menuju ke curug tersebut. Aspal hitam nan mulus juga dilengkapi dengan marka jalan yang cukup jelas ketika saya singgah ke obyek wisata ini pada Rabu, 30 Juli 2014. Jalan yang meliuk-liuk dengan pemandangan nan menghijau cukup memberikan kesegaran tersendiri. Memang, menjelang pintu masuk kawasan curug, jalan agak menurun dan berbatu, tapi tidak terlalu panjang. Hanya sekitar 100 meter karena sudah memasuki areal parkir kendaraan bermotor untuk selanjutnya wisatawan mencapai curug dengan naik perahu atau berjalan kaki.

Tunggu dulu. Bagi pengunjung yang membawa kendaraan bermotor mobil mesti merogoh kocek Rp 27 ribu per mobil plus uang parkir Rp 6 ribu. Lalu, bagi yang berjalan kaki dikenai pungutan Rp 2.000 per orang, sedangkan yang naik perahu dikenai Rp 60 ribu per perahu yang berkapasitas 10 penumpang. Oh ya, ketika menjejakkan kaki di areal air terjun, setiap pengunjung dikenai lagi pungutan Rp 2.000. “Kalau yang ini untuk uang kebersihan,” ujar seorang pemuda yang memengut uang dari pengunjung.

curug cikaso_tiket

Ironisnya, sang pemuda tadi tidak memberikan karcis berwarna putih sebagai bukti pungutan uang kebersihan. Baru ketika pengunjung meminta, dia menyerahkan karcis tersebut. Bahkan, ketika saya datang dalam jumlah rombongan 14 orang hanya diberi enam karcis, sontak saya minta delapan yang lainnya. “Gak apa-apa pak, segitu aja cukup,” tutur pria yang lainnya, ketika sang temannya hanya memberi enam karcis. Saya tetap minta sejumlah 14 karcis.

Naik perahu kayu tradisional bermesin, pengunjung hanya butuh waktu tak kurang dari tiga menit untuk mencapai pintu masuk ke areal air terjun. Sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan air sungai yang kehijauan, para penumpang perahu cukup dimanjakan.

Coba bandingkan dengan mereka yang memilih berjalan kaki. Sekalipun cukup segar udara yang ada di sekitar areal itu, pejalan kaki membutuhkan waktu berkisar 5-10 menit, tergantung ritme berjalan kakinya. Wisatawan yang berjalan kaki mesti berjalan di pematang sawah dan melintas di hutan kecil yang menawan. Jalan sedikit menanjak dan cukup untuk dua orang berpapasan jalan. Keletihan yang mendera cukup terobati dengan segarnya udara di sekitar air terjun yang dibawa oleh angin.

curug cikaso_perahu

Bagi yang ingin berenang atau sekadar berendam tersedia beberapa titik yang cukup nyaman. Walau, kewaspadaan mesti tetap harus dijaga karena untuk mencapai titik itu harus berjalan di atas bebatuan. Ada batu yang licin, sehingga mesti pandai memilih pijakan. Pelangi kecil menyambut mereka yang berhasil mencapai bibir air terjun yang airnya berwarna kehijauan.

Rasa segar begitu terasa saat kaki masuk ke air yang mengalir dari tumpahan curug. Kesegaran kian bertambah saat berendam atau berenang di dekat jatuhnya air. Sinar matahari yang menerobos pepohonan memberi kehangatan tersendiri di saat berendam di curug. “Sejak saya tinggal disini sejak tahun 1962, belum pernah mengalami air bandang. Kalau banjir pernah hingga sepinggang,” papar seorang pria paruh baya yang menjaga toilet disamping warung di depan air terjun.

curug cikaso_rute jalan kaki

Ya. Toilet menjadi tempat favorit seusai berendam atau berenang di air terjun. Toilet menjadi tempat membilas tubuh sekaligus berganti pakaian. Para pemakai jasa cukup membayar Rp 2.000 untuk sekali pakai toilet. “Antre ya mas, masih ada yang di dalam,” kata seorang ibu ketika saya antre di toilet yang jumlahnya hanya dua unit itu.
Untuk mengganjal perut setelah berenang, tersedia sejumlah warung yang siap melayani pengunjung. Tersedia minuman hangat seperti teh dan kopi maupun hindangan mie instan. Mau menjajal? (edo rusyanto)

Ketika Mobil Bak Terbuka Jadi Pilihan

1 Agustus 2014

bak terbuka uG1

KAKI mereka ada yang berjuntaian. Tak ada rasa gentar, malah mencuat senyum lebar.

Itu salah satu pemandangan yang terlihat saat berpapasan dengan kendaraan bak terbuka di kawasan wisata Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, baru-baru ini. Pemandangan seperti itu kian ramai sepanjang jalur Jl Raya Sukabumi dan Jl Pelabuhan Ratu. Jalur tersebut merupakan urat nadi menuju kawasan wisata Pelabuhan Ratu dan Ujung Genteng.

Pada musim libur Lebaran pemandangan mobil bak terbuka untuk mengangkut orang seakan menjadi lumrah. Kendaraan tersebut dilengkapi dengan atap pelindung yang dibuat dadakan. Atap dibuat dari terpal plastik dengan kerangka dari kayu atau bambu. Tentu saja terpaan angin masih bisa meliuk-liuk ke dalam kendaraan roda empat itu.

Masyarakat membutuhkan angkutan. Buktinya, selain mobil jenis pick up, truk juga menjadi alternatif. Kendaraan angkutan barang itu disulap menjadi angkutan orang. Para penumpang tak hannya berdiri di dalam truk, tapi juga ada yang nangkring di atap kepala truk. Atau,duduk di sisi kiri atau kanan truk. Setiba di lokasi wisata Ujung Genteng, truk juga berfungsi sebagai tempat istiirahat dan tidur.

“Kami dari daerah Pelabuhan Ratu,” kata seorang perempuan dewasa yang sedang menyapu lantai truk, saat berbincang dengan saya, Kamis (31/7/2014) pagi.

Truk di parkir di pinggir jalan yang melintas di tepi pantai. Ada terpal dari plastik warna hitam membentang di atas lantai truk yang terbuat dari kayu. Di sudut bak truk tampak ada pria yang sedang terlelap tidur dan seorang anak kecil yang juga sedang tidur.

Selain pick up, truk bak terbuka, tampak juga mobil boks yang dijadikan angkutan orang. Inilah fakta bahwa masyarakat membutuhkan angkutan umum yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau.

Saat masyarakat mencari alternatif angkutan dan pilihannya jatuh pada truk atau pick up, bukan mustahil karena keterpaksaan. Sekalipun, bahaya mengintai saat berlalu lintas jalan. Ancaman fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan menjadi lebih besar. Negara semestinya hadir membeli angkutan yang lebih baik. Jangan membuat warga negara harus mencari alternatif sendiri dengan risiko yang cukup besar. (edo rusyanto)

Asyiknya Berperahu di Ujung Genteng

31 Juli 2014

WAJAH-WAJAH ceria begitu terlihat. Tua muda, pria dan wanita senyumnya mengembang. Mereka baru saja berkeliling dengan perahu nelayan, menikmati riak ombak dan semilir angin laut pada pagi hari.

“Asyik, walau sedikit menegangkan,” ujar Budi, kita sebut saja begitu saat berbincang dengan saya, Kamis (31/7/2014) pagi.

Dia tak sendirian. Bersama Budi tampak ramaja perempuan dan satu anak laki-laki. Mereka baru saja usai keliling naik perahu nelayan yang disewakan kepada wisatawan.

“Lumayanlah, tapi kurang puas,” kata seorang remaja lainnya dari perahu yang berbeda.

Kamis itu merupakan hari kedua saya menikmati pemandangan pagi hari di Pantai Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Air laut yang kebiruan, riak ombak, pasir putih, hingga karang yang kokoh menjadi pemandangan menyegarkan. Apalagi ditambah sinar matahari pagi yang hangat, serasa melengkapi liburan yang menyenangkan.

Pantai dengan air yang jernih begitu menggoda. Sayang rasanya bila tak mencicipi sapuan ombaknya di kaki yang menjejak di pasir pantai. Bahkan, godaan untuk sekadar berendam atau berenang sulit dibendung.

Tak heran banyak wisatawan yang nyemplung bermandi ria. Ada yang juga menikmatinya sambil bermain bola sambil berendam. Sedangkan wisatawan yang lainnya memilih untuk sibuk bermain pasir atau mencari keong laut.

Nah, saat itu semua berlangsung, sejumlah nelayan menyewakan perahu bermotornya kepada wisatawan. Wisatawan ditawari berkeliling di sekitar area pantai dengan durasi berkisar 5-10 menit. “Satu orang bayarnya Rp 5 ribu,” tutur Ahmad, kepada saya.

Dia berbagi tugas dengan dua temannya. Satu sebagai pengemudi dan satunya lagi menjadi semacam kenek di angkutan umum. Ahmad bertugas menarik bayaran dari penumpang dan dia tidak ikutt keliling berperahu. Selain memungut iuran jasa, dia juga bertugas mencari penumppang. “Ayo naik perahu, hanya lima ribu,” teriak dia.

Ahmad yang mengaku bisa membawa pulang Rp 200 ribu saat hari ramai memang tak sendirian. Sepenglihatan saya ada belasan perahu lainnya yang melakukan hal serupa. Mereka berlomba memikat wisatawan. Persaingannya cuku sehat. Tidak ada saling serobot seperti ojek sepeda motor di Jakarta.

“Awalnya hanya tiga perahu. Belakangan jadi banyak yang ikut menyewakan setelah tahu hasilnya cukup bagus,” papar Dedi, begitu saja kita sapa pria yangg memakai topi kupluk seperti penjaga vila di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Dedi mengaku, saat wisatawan ramai berkunjung seperti pada libur Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp 1,5 juta dalam satu hari. Waktu yang ramai laiinya, kata dia, terjadi saat libur tahun baru dan Hari Nelayan. “Paling ramai saat libur Lebaran,” paparnya sebelum saya naik perahu untuk berkeliling pantai.

Ujung Genteng menjadi lokasi berlibur yang memikat. Tidak ada retribusi bagi setiap wisatawan. Pungutan hanya dikenai bagi pengguna kendaraan bermotor. Besaran pungutan yang dilakukan oleh pria pemakai seragam karyawan pemerintah daerah itu jumlahnya bervariasi. Misal, untuk kendaraan bus Rp 120 ribu, sedan Rp 18 ribu, minibus Rp 28 ribu, dan sepeda motor Rp 8 ribu.

Wisatawan dari Jakarta bisa mencapai Ujung Genteng dengan waktu tempuh normal berkisar 7-8 jam. Jarak tempuh dari Jakarta ke pantai ini sekitar 250 kilometer. Hal itu saya rasakan juga saat menempuh perjalanan Selasa (29/7/2014). Saya berangkat pukul 05.00 WIB, tiba sekitar pukul 13.00 WIB. Rute yang ditempuh dari Jakarta via tol Jagorawi keluar di Ciawi. Lalu, masuk Jl Raya Sukabumi dan belok kanan di Cibadak mengarah ke Pelabuhan Ratu. Jelang Pelabuhan Ratu, belok kiri dan melintasi Jembatan Cimandiri mengarah ke Simpenan, Jampang Kulon, Surade, dan Ujung Genteng.

Asyiknya berperahu hanya salah satu yang bisa dinikmati wisatawan di Ujung Genteng. Di kawasan ini juga ada obyek wisata memikat, yakni penangkaran penyu hijau di pantai Pangumbahan. Atau, bermain ombak di pasir putih di pantai Lestari. Jarak keduanya dari pantai Ujung Genteng sekitar dua kilometer dengan jalan berpasir dan berbatu. Obyek wisata lainnya yang bisa dinikmati adalah air terjun Curug Cikaso.

Masuk ke penangkaran penyu untuk melihat pelepasan anak penyu, tukik ke lautan, wisatawan mesti membayar Rp 10 ribu per orang, sedangkan ke curug Rp 4 ribu per orang, yakni untuk uang kebersihan Rp 2 ribu dan uang ‘tanda masuk’ berjalan kaki Rp 2 ribu. Khusus yang membawa kendaraan mobil dikenai Rp 27 ribu per mobil dan uang parkir Rp 6 ribu. Semua pungutan itu ada tanda buktinya berupa tiket, hanya uang kebersihan yang tiketnya tidak diberi jika pengunjung tidak memintanya.m
Oh ya, untuk ke Curug Cikaso ada fasilitas perahu mesin yang bertarif Rp 60 ribu untuk pulang pergi. Perahu kayu itu berkapasitas 10 orang diluar sang pengemudi. “Tapi, 14 orang juga bisa kok,” kata pria sang penjaga loket.

Nah loh? (edo rusyanto)

Jalan Rusak Bikin Celaka, Gugat!!!

29 Juli 2014

lubang di jalan jakarta 2014

SUATU ketika saya berbincang dengan akademisi yang cukup kuat penelitiannya tentang kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Perbincangan di Bandung, Jawa Barat itu mengerucut pada kondisi jalan di Indonesia yang memicu kecelakaan. Dia bilang, faktor jalan yang langsung dan tidak langsung memicu kecelakaan cukup besar di Indonesia. Apa itu faktor langsung dan tidak langsung?

Ya. Pertanyaan itu saya lontarkan kepada akademisi asal perguruan tinggi ternama di Indonesia tersebut. Dia menjelaskan. Faktor jalan yang langsung adalah kecelakaan yang terjadi karena dipicu oleh kondisi jalan seperti rusak, bergelombang, atau berlubang. Artinya, jalan yang rusak seperti itu membuat pengendara terperosok dan celaka. Bisa saja kecelakaan tunggal, tapi juga bisa memicu tabrakan depan-depan atau jenis lainnya.

Nah, kalau yang tidak langsung, kata dia, misalnya, pengemudi sedang melaju tiba-tiba ada jalan yang berlubang lalu pengendara menghindar dan tertabrak. “Jadi, kalau digabung yang langsung dan tidak langsung bisa lebih dari 10%,” ujar dia suatu pagi pada penghujung Oktober 2013 di Bandung, Jawa Barat.

Obrolan sekilas itu mengingatkan saya pada perbincangan dengan sejumlah pegiat keselamatan jalan soal faktor jalan yang memicu kecelakaan. Jika merujuk pada data Korlantas Mabes Polri, pada 2013, faktor jalan menyumbang sekitar 8% terhadap kecelakaan di Indonesia. Tahun itu, setiap harinya ada 22 kasus kecelakaan yang dipicu oleh faktor jalan. Nah, dari seluruh aspek di faktor jalan, jalan berlubang merupakan penyumbang yang terbesar, yakni rata-rata empat kecelakaan per hari.

Pemerintah mestinya lebih serius dalam membenahi infrastruktur jalan. Lewat perpanjangan tangannya, yakni kementerian pekerjaan umum atau dinas pekerjaan umum dan suku dinas pekerjaan umum, pemerintah bisa lebih memperkecil risiko kecelakaan di jalan. Ketersediaan infrastruktur jalan yang baik dan layak dilintasi, seyogyanya bisa mempersempit celah terjadinya kecelakaan.

“Kalau jalan memicu kecelakaan, mestinya kita berani melakukan class action kepada pemerintah,” ujar kolega saya seorang pengamat transportasi, suatu sore pada awal Juli 2014 ini.

Ya. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) memberi ruang untuk meminta pertanggung jawaban penyelenggara jalan bila infrastruktur jalan menyebabkan kecelakaan. Merujuk pada UU tersebut, sanksi yang diberikan kepada penyelenggara jalan berbeda-beda tergantung dari tingkat persoalan. Pasal 273 ayat satu hingga empat dalam UU tersebut secara berurutan mencantumkan sanksi sebagai berikut.

faktor pemicu kecelakaan 2013

Pertama, jalan rusak yang mengakibatkan kecelakaan, menimbulkan korban luka ringan, bisa menyeret penyelenggara jalan dipenjara maksimal enam bulan atau denda maks Rp 12 juta.

Tapi, kalau kecelakaannya bikin korban luka berat, penyelenggara jalan bisa dipidana maksimal satu tahun atau denda maksimal Rp 24 juta. Bikin korban tewas sanksinya maksimal lima tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta.

Nah, penyelenggara jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak dan belum diperbaiki bisa dipidana penjara maksimal 6 bulan atau denda maks Rp 1,5 juta.

Para penyelenggara jalan mesti responsif. Ketika jalan yang memang kondisinya rusak sesegera mungkin diperbaiki. Jalan yang rusak dan berlubang tak semata bisa menimbulkan kecelakaan. Kondisi seperti itu membuat lalu lintas jalan menjadi tidak nyaman. Kemacetan lalu lintas jalan bisa terjadi dimana-mana. Kerugian ekonomi dan sosial bisa meledak. Antrean panjang akibat kemacetan bisa membawa dampak yang cukup luas.

Oh ya, para penyelenggara jalan terdiri atas kementerian pekerjaan umum, dinas perhubungan, hingga para penyelenggara pemerintahan desa. Di luar itu, khusus untuk jalan tol, para operator jalan bebas hambatan tersebutlah yang menjadi penyelenggara jalan.

Rasanya memang perlu mengingatkan para penyelenggara jalan agar lebih serius. Langkah class action atau gugatan ke meja hijau bisa menjadi salah satu pilihan. Bagaimana? (edo rusyanto)

Idul Fitri dan Taklukan Nafsu di Jalan

28 Juli 2014

kartu ied bs

MUSLIM di Indonesia merayakan suka cita Idul Fitri 1435 hijriah pada 28 Juli 2014. Bagi anak-anak dan remaja, Idul Fitri menjadi hari yang ditunggu-tunggu setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Mulai hari itu mereka bisa kembali melaksanakan makan siang. Mereka kembali fitrah.

Sebelum merayakan Idul Fitri para pemeluk agama Islam menjalani ibadah shaum atau puasa. Tua muda, pria dan wanita menjalani puasa sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Esensi ibadah puasa mengajarkan muslimin dan muslimat menahan segala nafsu. Selain tentu saja memberi pelajaran berharga mengenai nasib sesama mereka yang harus menahan haus dan lapar karena tidak mampu membeli makanan dan minuman.

Menahan nafsu tak semata seputar urusan perut maupun amarah. Ibadah puasa juga mengajarkan para pemeluk agama Islam menjadi lebih bertakwa kepada Sang Maha Pencipta. Tuhan mengajarkan manusia untuk mampu mengendalikan diri.
Kini, setelah ibadah terlewati dengan baik, kemampuan mengendalikan diri serta saling menghargai menanti untuk diimplementasikan, termasuk saat di jalan raya. Ketika berlalu lintas jalan banyak godaan. Bagi mereka yang tinggal di kota, apalagi seperti di Jakarta, godaan menahan nafsu demikian besar. Sebut saja misalnya nafsu untuk marah karena menanggung beban stress akibat kemacetan yang menggila. Pengendalian diri juga diperlukan untuk tak tergoda melabrak aturan yang ada.

Kesemua itu bermuara pada satu titik, lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan. Keselamatan jalan menjadi panglima. Benar bahwa kecelakaan dapat terjadi kapan saja, namun ketika ikhtiar untuk meredam terjadinya petaka itu amat bermanfaat untuk memperkecil fatalitas ketika terpaksa mengalami kecelakaan.

Pengendalian nafsu melabrak aturan yang ada demikian penting mengingat selama ini mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku berkendara tidak tertib. Berkendara yang ugal-ugalan lantaran tak mampu mengendalikan diri memperpendek jarak terjadinya kecelakaan. Selamat Idul Fitri 1435 hijriah, mohon maaf lahir dan batin. (edo rusyanto)

Relawan RSA Ajak Mudik Selamat

27 Juli 2014

aksi mudik rsa 2014_relawan flyer

LANGIT mendung pekat. Gerimis menyapa bumi. Para relawan Road Safety Association (RSA) Indonesia tak gentar. Mereka terus menjalankan aksi simpatik mudik selamat.

Belakangan sang hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Puluhan relawan RSA Indonesia pun memilih berteduh. Ada yang masuk ke tenda posko mudik, sebagian memilih pos polisi kecil. Mereka berhimpitan sambil diterpa angin dan tampias air hujan.

Itulah sepenggal aksi ajakan berlalu lintas jalan yang digelar RSA Indonesia, Sabtu, 26 Juli 2014 sore. Aksi yang bertempat di perempatan Pangkalan Jati, Kalimalang, Jakarta Timur itu merupakan riak kecil dari gelombang besar yang digulirkan RSA Indonesia sepanjang tahun.

Lazimnya aksi simpatik, kali ini puluhan relawan RSA Indonesia juga membentangkan spanduk. Pilihan jatuh di tiga titik Pangkalan Jati yang merupakan kawasan paling ramai di pintu keluar Jakarta menuju pantai utara (Pantura) Jawa. Selain spanduk berisi pesan ajakan keselamatan jalan, relawan juga membagikan selebaran dengan isi yang serupa. Tak hanya itu, relawan juga membagikan peta jalur mudik terbaru edisi tahun 2014. Aksi kali ini ditutup dengan buka puasa bersama di sekretariat RSA Indonesia yang terletak di kawasan Pangkalan Jati, Jaktim.

“Bagi satu lagi mas petanya, untuk saudara saya,” ujar seorang pria bersepeda motor, seraya menjulurkan tangan.

aksi mudik rsa 2014_bentang spanduk

Dia pun akhirnya mendapat dua peta jalur mudik. Saat lampu pengatur lalu lintas berwarna hijau, dia pun melaju sambil tak lupa mengucapkan terimakasih.

Di bagian lain, ada pemudik yang asyik membaca selebaran yang dibagikan. Banyak yang merespons setiap ajakan dari relawan, namun ada yang dingin-dingin saja. Para relawan menebarkan senyum sambil mengucapkan terimakasih.

Relawan yang hadir memiliki latar belakang beragam. Ada yang mahasiswa, pekerja swasta, hingga wiraswastawan. Mereka hadir atas dorongan hati untuk berbagi, saling mengingatkan pentingnya berkendara yang aman dan selamat. Para relawan tidak mendapat bayaran. “Saya pasti ikut aksi simpatik setiap Lebaran,” ujar Ali yang juga pegiat di Kulo Bikers Sanes Gangster (KBSG), saat berbincang dengan saya sore itu.

aksi mudik rsa 2014_bagi flyer

Selain @forumkbsg , tampak juga hadir teman-teman dari @YJOCIndonesia , @Jabric_Jakarta , @YVCIndonesia , dan @KHCC_Official . Mereka bahu membahu saling memompa semangat dan tak bosan mengajak pemudik untuk menguttamakan keselamatan daripada kecepatan yang ugal-ugalan. “Mudik itu pulang kampung, bukan masuk rumah sakkit,” orasi Rio Octaviano, mantan ketua umum RSA Indonesia menggunakan pengeras suara di hadapan para pengguna jalan.

Sementara itu, para relawan yang tidak sempat hadir membantu menyebarkan ajakan mudik selamat dengan caranya sendiri. Mayoritas menggunakan jejaring media sosial berbasis jaringan internet. “Mengingat gak bisa hadir, saya bantu me-repath foto aksi simpatik,” papar Azdi dijejaring media sosial path.

Ya. Indahnya kebersamaan masyarakat dalam saling mengingatkan soal keselamatan jalan terus bergulir. Sekjen RSA Indonesia, Lucky menyebut bahwa sekalipun dianggap kecil apa yang dilakukan hari itu para relawan tetap gigih. Konsistensi dipegang teguh RSA Indonesia untuk terus menggulirkan kampanye keselamatan jalan selama darah mengalir di tubuh.

Persoalan kecelakaan lalu lintas jalan bukan masalah sepele. Saat musim mudik Lebaran 2013 setiap hari 50 pengguna jalan tewas akibat kecelakaan. Sedangkan sepanjang tahun 2013 korban yang tewas setiap harinya lebih besar, yakni 72 jiwa. Saya selalu mengatakan bahwa RSA Indonesia hadir untuk mengajak seluruh bangsa Indonesia terhindar dari petaka di jalan raya. Yuk, mudik selamat. (edo rusyanto)

Habis Nabrak, Terbitlah Sengsara

26 Juli 2014

tabrakan mobil di rcti

KECELAKAAN lalu lintas jalan berdampak luas. Bagi mereka yang terlibat petaka itu tak sekadar luka fisik yang menjadi beban, dampak trauma juga terus menghantui.

Dampak paling fatal adalah saat kecelakaan merenggut korban jiwa. Bahkan, cerita belum berhenti manakala keluarga korban pun terkena imbasnya. Terlebih bila yang bersangkutan adalah tiang ekonomi keluarga. Kegoncangan finansial kemungkinan besar terjadi pada keluarga yang ditinggalkan. Kalau sudah begini habis nabrak, terbitlah sengsara.
Survey Road Safety Association (RSA) Indonesia pada 2014 menunjukan, sekitar 96% responden mengaku tidak ingin terlibat kecelakaan. Mereka bahkan mempertegas bahwa agar tidak celaka mereka berikhtiar dengan mentaati aturan yang ada di jalan. Artinya, kebanyakan dari pengguna jalan tidak ingin celaka karena mereka tahu bahwa kecelakaan berdampak amat luas. Kecelakaan bisa bikin banyak orang sengsara.

Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan lebih dari 26 ribu keluarga yang ditinggalkan akibat kecelakaan. Mereka adalah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan pada 2013. Data Korlantas Polri menyebutkan, sekitar 30% korban kecelakaan pada tahun itu adalah rentang usia 31-50 tahun. Sangat masuk akal di dalam rentang usia tersebut adalah mereka yang menjadi tiang ekonomi keluarga. Kepedihan demi kepedihan bakal terus bergulir manakala keluarga yang ditinggal tidak lagi bisa hidup layak. Bagaimana nasib anak-anak dan isteri, jika yang menjadi korban adalah seorang suami, menjadi pertanyaan yang sulit dijawab.

Belum lagi jika sang korban menderita luka berat yang berdampak pada hilangnya produktifitas seseorang. Merujuk data Korlantas Polri, pada 2013, sekitar 17% dari total korban kecelakaan menderita luka berat. Memulihkan produktifitas bagi korban kecelakaan yang menderita luka berat merupakan sebuah perjuangan tersendiri. Entah, berapa persen yang mampu pulih sediakala dan berapa banyak yang produktifitasnya justeru anjlok signifikan.

Ya. Kecelakaan berdampak amat luas. Selagi bisa kita mencegahnya, lakukan. Ibarat pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati. Upaya mencegah kecelakaan yang paling mudah dimulai dari diri sang pengguna jalan. Seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor tak semata piawai mengendalikan kendaraannya. Dia juga mesti mampu mengendalikan dirinya sendiri, tak mudah terprovokasi menjadi ugal-ugalan. Tentu saja, sudi berbagi dan mentaati aturan yang ada.

Nah, ketika niat untuk mentaati aturan demikian kuat, langkah awal yang penting dilakukan adalah mengetahui soal aturan yang ada. Untuk bisa mengetahui aturan tersebut tentu saja seseorang harus mencaritahu. Carilah dari sumber yang terpercaya atau dari otoritas di bidang tersebut.

Mengutip hasil survey RSA Indonesia, mayoritas responden, yakni sekitar 97% merasa perlu adanya aturan di jalan. Namun, hanya sekitar 44% responden yang tahu soal aturan di jalan raya. Tampaknya masih besar pekerjaan rumah bagi penanggung jawab keselamatan jalan untuk mengedukasi masyarakat.

Di sisi lain, edukasi juga perlu ditekankan pada dampak yang ditimbulkan oleh kecelakaan lalu lintas jalan. Secara awam dampak itu berupa kerugian fisik, material, trauma, dan hukum. Hanya saja, sejauhmana sang korban kecelakaan mampu keluar dari tekanan dampak-dampak itu? (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.312 pengikut lainnya.