Skip to content

Kiriman dari Penunggang Yamaha R25

2 Oktober 2014

yamaha r25 owner indonesia_yroi

LAGI asyik buka-buka laptop, tiba-tiba masuk surat elektronik (surel) dari kolega saya, bro Murray. Pria muda yang gemar berkuda besi ini mengirimkan kabar mengenai Deklarasi YROI Jakarta Chapter.

Penasaran, saya baca lebih lanjut surel yang saya terima pada Rabu, 1 Oktober 2014. Tampaknya, lahir satu lagi wadah berkumpul para penunggang kuda besi berlabel Yamaha. Kali ini, seperti ditulis bro Murray, Yamaha R25 Owners Indonesia (YROI) Jakarta Chapter. Deklarasi dilakukan di halaman Gedung Kemenpora, Jakarta, pada 28 September 2014.

“Kami bangga menjadi bagian keluarga ini (YROI) karena kami merasakan kekeluargaan yang sangat kental dari komunitas ini, sebuah kebersamaan tanpa batas, ” ujar bro Dhany, YROI 051, selaku Ketua Chapter YROI Jakarta dalam sambutan saat deklarasi, seperti dikutip surel bro Murray.

Sedangkan bro Murray mengaku, “Sungguh merupakan sebuah kebanggaan dapat membantu mengembangkan produksi hasil karya anak bangsa dan YROI dapat menjadi bagian dari dunia otomotif nasional.”

Bro Murray, YROI 001 sekaligus Deklarator YROI mengatakan, YROI tergabung ke dalam Yamaha Riders Federation Indonesia (YRFI). Federasi itu seperti tertera dalam akun facebook-nya merupakan federasi yang menaungi klub/komunitas motor Yamaha. Federasi yang berdiri pada 8 Desember 2012 ini merupakan federasi resmi di bawah PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Oh ya, terkait YROI, seingat saya, sebulan sebelumnya, yakni pada 17 Agustus 2014, bro Murray bersama sejumlah deklarator, mendeklarasikan YROI. Deklarasi dilakukan di kawasan Patung Panahan, Jakarta.

Sementara itu, masih mengutip surel bro Murray, perwakilan dari YIMM, yakni Robby Sidarta memberi ucapan selamat atas terbentuknya YROI Jakarta Chapter. Dia berharap, semoga YROI semakin solid dan terus berpegang teguh pada semboyan we R more than friends, we R family. Selamat bro. (edo rusyanto)

Begitu Ngebut, Sang Taksi Menjerit

1 Oktober 2014

taksi dari dalam malam_1

DINIHARI masih berbalut dingin. Maklum, jarum jam baru menunjukkan sekitar pukul 03.20 WIB. Sempat celingukan mencari taksi untuk minta diantar ke bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten. Jarak yang lumayan jauh dari kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Setelah mendapat taksi berwarna biru, perjalanan menuju bandara pun berlanjut. Tak ada yang spesial. Taksi melaju normal, saya pun sibuk memeriksa gadget. Hingga akhirnya taksi masuk ke jalan tol Jagorawi menuju tol dalam kota Jakarta.

Situasi jalan tol Jagorawi belum terlalu ramai bila dibandingkan ketika memasuki jam lima atau enam pagi. Tampak sejumlah mobil melesat menuju jantung Jakarta.

Tiba-tiba terdengar suara mirip alarm. “Tuittt..tuittt”. saya tengok jarum di speedometer sang taksi, benar saja, jarumnya menuju angka 120 kilometer per jam (kpj). Wow!

“Kenapa ada bunyi itu pak?” Tanya saya, di penghujung September 2014.

“Oh itu artinya kecepatannya di atas 110 kilometer per jam,” jawab sang sopir enteng.

“Wah, gak usah buru-buru pak, saya terbangnya jam enam kurang kok. Sekarang baru jam setengah empat,” sergah saya.

Sang sopir pun memperlambat kecepatan dan suarat tuitttt…tuittt tadi hilang dengan sendirinya. Saya pun tiba di bandara terbesar di Indonesia itu tanpa ketinggalan jadwal penerbangan.

Ya. Suara taksi yang menjerit menjadi pengingat bagi para pengemudi agar tidak memacu kendaraannya melebihi batas kecepatan. Apalagi, di jalan tol kecepatan maksimum adalah 100 kpj.

Seorang sopir taksi yang lain berujar, “Bunyi tanda itu mengingatkan kita agar tidak ngebut pak.”

Sopir yang saya temui pada kesempatan lain itu bercerita bahwa dia sempat terlena oleh kondisi jalan to yang sepi. “Apalagi kalau menuju bandara dan penumpangnya minta buru-buru karena ngejar waktu. Tapi, saya sih gak berani sampai suara itu bunyi,” selorohnya.

Berkendara melebih batas kecepatan maksimal termasuk salah satu pemicu kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Aspek ini menyumbang sekitar 13% terhadap total kasus kecelakaan tahun 2013.

Di Indonesia, menurut data Korlantas Polri, setiap hari terjadi sekitar 36 kasus kecelakaan yang dipicu oleh faktor ngebut. Tentu hal ini bukan persoalan main-main.

Tidak hanya di Indonesia, di dunia, menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), berkendara melebihi batas kecepatan maksimal merupakan salah satu momok bagi keselamatan pengguna jalan. WHO menyebutkan bahwa ngebut menjadi masalah keselamatan jalan utama di semua negara. Ngebut meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan dan parahnya dampak kecelakaan lalu lintas jalan.

Dalam laporan WHO yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’ juga disebutkan bahwa pejalan kaki dan pesepeda menjadi kelompok paling berisiko cedera akibat pola berkendara yang berkecepatan tinggi. Tiap hari, rata-rata 747 pejalan kaki tewas atau 31 orang per jam. Sedangkan pesepeda yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di dunia, tiap hari sebanyak 169 jiwa. WHO menyebutkan kecelakaan lalu lintas jalan merenggut sekitar 1,24 juta jiwa di dunia.

Nah, lebih detail soal batas kecepatan maksimal, silakan simak di tulisan saya yang ini. (edo rusyanto)

Menghapus Jejak Roda di Unika Semarang

30 September 2014

peserta dari atas_1

HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan sekitar pukul 07.20 WIB. Rerimbunan dedaunan nan menghijau tampak berkilat ditimpa sinar mentari pagi. Suasana kampus sudah berdenyut. Puluhan, bahkan lebih sepeda motor tampak terparkir rapi di ruang parkir kampus Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah. Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi tampak masih asyik bersenda gurai di pelataran kampus.

Saat menjejakan kaki di pelataran gedung Thomas Aquinas di salah satu sudut kompleks Unika Soegijapranata, suasana masih lengang. Termasuk saat singgah ke kantin yang belakangan kontras ketika hari merangkak siang. Kursi-kursi warna biru masih kosong di kantin itu. Bahkan, para pedagang di kedai belum bisa menyediakan segelas kopi hangat karena belum mempersiapkan diri. Jadilah minum air minum dalam kemasan (AMDK).

“Yo wes, beli dua air kemasan aja,” sergah kolega saya, Algooth yang juga dosen di kampus tersebut.

Baru ada beberapa gelintir mahasiswa yang hilir mudik di gedung yang bakal dipakai untuk road show buku “Menghapus Jejak Roda” dan seminar nasional “Kesiapan Pemerintah dalam Implementasi UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas” tersebut. Hari itu, Senin, 29 September 2014 pagi, saya dan Algooth menunggu para pembicara di bagian bawah gedung tempat seminar. Bagi saya, tentu saja sekaligus untuk beristirahat setelah menempuh penerbangan paling pagi dari Jakarta-Semarang. Tubuh masih terasa ngantuk dan lelah. Maklum, berangkat dari rumah sekitar pukul 03.00 WIB dinihari.

Tak berapa lama, berturut-turut datanganlah para pembicara yang ditunggu, yakni Hari Sasono, ketua Yayasan Astra Honda Motor. Lalu, Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) dan Bambang Susantono, wakil menteri perhubungan RI.

Sesuai jadwal, acara digelar mulai pukul 08.00 WIB. Saat pembukaan oleh Wakil Rektor Unika Soegijapranata Semarang, Marsela Simanjuntak, lebih dari separuh ruang berkapasitas sekitar 350 orang itu sudah terisi. Mayoritas peserta dari kalangan mahasiswa Unika, selebihnya dari kampus lain, Kepolisian Polda Jawa Tengah, Dinas Perhubungan Jawa Tengah, para apartatur pemda, dan undangan lainnya. “Ada dari kalangan pelajar juga yang kami undang,” urai Algooth yang juga ketua panitia seminar.

pembicara sesi dua_1

Menjelang sesi pertama seminar, seluruh kursi terisi, bahkan sebagian peserta ada yang berdiri dan duduk di anak tangga. Acara yang digelar Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata ini cukup mendapat respons antusias dari civitas akademika.

“Pendekatan masalah lalu lintas akan semakin pas jika melalui hukum dan komunikasi,” singgung Wamenhub Bambang Susantono, dalam salah satu paparannya sebagai pembicara kunci.

Acara di Unika Semarang menjadi rangkaian kedua dari road show buku “Menghapus Jejak Roda” yang saya tulis pada 2014. Buku yang merupakan refleksi masalah keselamatan jalan di Indonesia itu saya harapkan bisa menjadi salah satu rujukan literatur bagi peminat masalah kecelakaan lalu lintas jalan. Road show dimulai di kampus UPN Veteran Jakarta pada 11 September 2014. Usai di Unika Semarang, jadwal selanjutnya adalah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta dan terakhir di kampus Poltek Padjajaran, Bandung.


Fatalitas Turun 50%

Pemerintah menargetkan penurunan fatalitas kecelakaan hingga 50% sepanjang 2010-2020. Sejumlah upaya dilakukan termasuk menyinergikan para pemangku kepentingan (stakeholder).

“Sebagai tahun basis adalah fatalitas tahun 2010, yakni sebanyak 31.234 korban jiwan,” ujar Wamenhub Bambang Susantono.

Menurut Wamenhub, keselamatan di jalan adalah suatu keharusan, bukan pilihan. Karena itu, perlu ada penyebarluasan etika berlalu lintas mengingat saat ini ada tendensi kian tingginya pelanggaran aturan di jalan.

“Harus ubah etika kita agar lebih empati terhadap korban kecelakaan di jalan. Mahasiswa jadi ujung tombak untuk keselamatan di jalan. Jalan raya milik semua. Jalan raya adalah ruang sosial,” kata Bambang Susantono.

bambang paparan_1

Bagi saya, mahasiswa dapat menjadi generasi pendobrak dalam pengubahan mentalitas jalan pintas. Perilaku menerabas aturan di jalan merupakan ciri enggan antre. Hal inilah yang mendasari terjadinya perilaku ugal-ugalan di jalan yang ironisnya menjadi pemicu utama kecelakaan di jalan, yakni sekitar 42%.

Selain itu, tentu saja ada pemicu lain yangg mutlak diperhatikan pemerintah, yakni faktor jalan. Mulai dari jalan yang rusak, berlubang, licin, hingga yang tidak berpenerangan jalan.

Negara wajib melindungi warganya di jalan raya. Dalam 10 tahun terakhir, tambahnya, terjadi peningkatan korban yang tewas akibat kecelakaan. Jika pada 2004 rata-rata tiap hari sekitar 31 jiwa tewas, pada 2013 sekitar 72 jiwa tewas per hari.
“Kalau kita tertib bisa terhindar dari kecelakaan,” papar Hari Sasono, ketua Yayasan Astra Honda Motor, saat paparan di seminar.
Bagi Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), selain persoalan infrastruktur, juga ada persoalan lain yang memicu kecelakaan jalan.”Saat ini tidak ada sinergi stakeholder termasuk lemahnya disiplin pengguna jalan,” katanya.

Menurut Ketua Panitia Seminar Unika Semarang, Algooth Putranto perlu dipertanyakan kesadaran semua pihak terkait aturan yang ada, termasuk UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Lewat seminar kali ini, kata dia, pihaknya mencoba menggali lebih dalam perihal diseminasi UU, kesiapan pemerintah menjalankan UU. “Tentu juga terkait dalam upaya meningkatkan perlindungan keselamatan masyarakat di jalan raya,” ujarnya.

Data Korlantas Polri membeberkan sekitar 41% korban kecelakaan lalu lintas jalan adalah rentang usia 16-30 tahun. Sedangkan sekitar 27% pemicu kecelakaan adalah kelompok usia yang sama. “Ironisnya, sekitar 42% kasus kecelakaan dipicu oleh perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Selebihnya perpaduan dari aspek manusia lainnya, seperti lengah dan ngantuk, serta faktor jalan, kendaraan, dan alam,” ujar Edo Rusyanto.

Sementara di Jawa Tengah, data Korlantas Polri selama periode 2012 dan 2013 menunjukkan kasus kecelakaan lalu lintas di Jateng secara konstan menempati nomor dua nasional.

Pada 2012, Jateng mencatat 63 kasus kecelakaan per hari dengan korban tewas sekitar 11 jiwa per hari. Provinsi berpenduduk sekitar 32 juta jiwa ini mencatat penurunan kasus kecelakaan hingga hampir 16% pada 2013. Namun jumlah korban yang tewas akibat kecelakaan justru meningkat sekitar 7% menjadi 12 orang per hari. (edo rusyanto)

Pejuang Road Safety dari Kalangan Penunggang Kuda Besi

29 September 2014
tags:

sca 2014 foto bareng brifieng

SEMANGAT dan kegairahan terpancar dari sorot mata mereka. Sosok-sosok yang mewakili kelompok para penunggang kuda besi itu duduk rapih di atas kursi yang berjajar. Mereka menyimak, mereka berinteraksi untuk satu tujuan yang sama, esok lebih baik dari hari ini.

Suasana seperti itu yang tampak di lantai dua gedung Adira Insurance, Jakarta Selatan, Sabtu, 26 September 2014. Mereka yang berkumpul itu adalah perwakilan dari 15 kelompok pengguna sepeda motor yang lolos ke babak 15 besar Safety Campaign Award (SCA) 2014 yang digelar Adira Insurance.

Ke-15 kelompok tersebut terdiri atas;

1.Detic
2.HOC (Honda Owners Club)
3.Honda Revo Club DKI Jakarta
4.HSFCI Tangerang
5.IMPI Depok
6.Kulo Biker Sanes Gangster
7.KOSTER (Komunitas Suzuki Thunder)
8.Pulsarian Bekasi
9.Sahid Tourism Riders Community
10.Suzuki Satria F 150 Club Indonesia
11.Tiger Riders Club
12.YMCI Chapter Tangerang
13.YVCI Cikarang Chapter
14.YVCI Jakarta Chapter
15. Honda Vario Club (HVC) Jakarta

“Mereka adalah semifinalis program SCA 2014,” kata Lidiya Tiwow, dari manajemen Adira Insurance, Sabtu pagi itu.

Bagi saya, mereka adalah barisan pejuang road safety. Bagaimana tidak, mereka adalah calon penerima penghargaan SCA 2014 yang dasar utamanya adalah kegiatan mengkampanyekan pentingnya berkendara yang aman dan selamat saat di jalan raya. Setahu saya, ke-15 kelompok penunggang kuda besi memiliki gaya kampanye yang cukup bermutu. Secara substansi, sudah barang tentu mereka terus melakukan improvisasi.

sca brifieng 2014

“Kami akan mengkampanyekan soal keselamatan jalan ke sekolah-sekolah menengah atas,” ujar bro Faiz, dari Honda Owner Community (HOC) saat berbincang dengan saya.

Selain ke sekolah, kampanye keselamatan jalan yang bakal digulirkan ke-15 kelompok itu cukup beragam. Ada yang kepada pengguna jalan secara umum, ke kantor tempat bekerja, ke kampus, hingga ke kalangan komunitas pengguna jalan lainnya.

Ke-15 kelompok ini diberi waktu sekitar satu bulan setengah untuk mengimplementasikan usulan kegiatan kampanye road safety nya. Setelah itu, mereka akan disaring lagi menjadi 10 besar hingga akhirnya dipilih tiga penerima anugerah SCA 2014. “Sebelum dipilih tiga besar, ke-10 kelompok yang lolos itu akan diminta mempresentasikan apa yang sudah dilakukan dihadapan para juri,” sergah Tiwow.

Juri kali ini terdiri atas sang penyelenggara, yakni Adira Insurance, Road Safety Association (RSA), Bikersmagz, dan Sportku.com. Mereka yang mengikuti ajang SCA 2014 ini berasal dari wilayah Polda Metro Jaya, yakni Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sedangkan penghargaan akan diberikan pada akhir November 2014.

Oh ya, seperti saya pernah tulis. Ke-15 semifinalis ini akan mendapat dana bantuan masing-masing Rp 1 juta untuk mengimplementasikan proposal kampanye mereka. Lalu, untuk tiga terpilih masing-masing berurutan mendapat hadiah Rp 7 juta, Rp 5 juta, dan Rp 2,5 juta. “Plus, mereka mendapat uang subsidi bantuan kegiatan untuk selama tiga bulan sebesar Rp 3 juta,” ujar Tiwow. (edo rusyanto)

Bikers Rapatkan Barisan di Cibinong

28 September 2014

kopdarling pubmomm peserta

MEREKA datang dari berbagai kelompok pengguna sepeda motor. Tanpa membedakan latar belakang jenis tunggangannya, para anggota kelompok pengguna sepeda motor alias bikers, duduk bersimpuh. Mereka merapatkan barisan.

Kali ini musuh bersama yang menjadi perekat mereka adalah sang jagal jalan raya. Petaka berdarah dingin yang menjagal 70-an pengguna jalan setiap hari. Banyak dari mereka yang bergelimpangan di permukaan aspal adalah dari kalangan pesepeda motor. Maklum, mayoritas pengguna jalan juga berasal dari kelompok ini.

“Ironisnya, kecelakaan mayoritas dipicu oleh perilaku tidak tertib dan kelengahan saat berkendara,” sergah bro Nursal, kepala divisi litbang Road Safety Association (RSA) Indonesia, di kawasan Cibinong, Bogor, Sabtu, 27 September 2014 malam.

Ya. Malam minggu itu tim RSA Indonesia singgah ke basecamp Publishing Motor Community (Pubmomm) dan Supra Club Bogor (Spacbor), di kawasan Cibinong. Lokasi yang berada di Jl Baru Pemda Bogor itu menjadi tempat berkumpul banyak bikers, terlebih di malam akhir pekan. Kehadiran RSA Indonesia atas undangan Pubmomm dan Spacbor yang kemudian dirajut dalam kopi darat keliling (kopdarling) RSA Indonesia. Kopdarling adalah sebuah tradisi RSA Indonesia masuk ke akar rumput dalam menyebarluaskan kesadaran berkendara yang aman dan selamat.

Membangun perilaku berkendara yang aman dan selamat bisa dimulai dari hal-hal yang dianggap kecil. “Misalnya, saat hendak berbelok memberikan lampu sein dan sesudahnya lampu sein dimatikan,” seloroh bro Nursal.
“Lantas, bagaimana cara yang baik memberikan isyarat lampu sein saat hendak berbelok,” tanya bro Gondil dari Cibinong Vario Club (Civic).

Tentang hal ini, bro Nursal mengajak agar puluhan bikers yang hadir malam itu menyalakan lampu sein tiga detik sebelum berbelok. Isyarat lampu sein membantu para pengguna jalan yang ada di belakang orang yang mau berbelok menjadi lebih waspada. Isyarat lampu sein menjadi penting untuk menghindari terjadinya tabrak belakang atau tabrak samping.

Perbincangan pun terus mengalir. Salah satunya, soal penggunaan lampu hazard. “Apa gunanya menyalakan lampu hazard,” tanya ketua umum Spacbor.

kopdarling rsa pubmomm tim rsa_pubmomm

Lagi-lagi bro Nursal memaparkan bahwa menyalakan lampu hazard hanya pada saat kondisi darurat. Misalnya, ketika menghadapi masalah di kendaraan. Saat itulah lampu hazard dinyalakan sebagai tanda, namun kendaraan diberhentikan di pinggir jalan, tidak menghalangi kendaraan lain.

Masalah-masalah yang dianggap kecil ketika berkendara di jalan bukan mustahil memicu kecelakaan lalu lintas jalan. Mesti sering diingatkan bahwa masalah kecil tak jarang memicu persoalan besar.

Hampir seluruh aspek berkendara yang aman dan selamat sudah diatur dalam regulasi yang berlaku saat ini, yaitu Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU yang kini sudah dilengkapi sejumlah peraturan pemerintah itu menjadi salah satu fitur penting dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat. Aturan merupakan suatu perangkat yang dibuat pemerintah untuk melindungi keselamatan dan kenyamanan para pengguna jalan. “Masyarakat menaati aturan tersebut untuk satu tujuan, yakni keselamatan bersama,” sergah bro Nursal yang saat itu didampingi tim RSA Indonesia lainnya, yakni bro Dito dan bro Dest.

Malam terus bergulir. Perbincangan juga terus mengalir. Hampir seluruh peserta kopdarling terlarut dalam perbincangan seputar bagaimana upaya ikhtiar melindungi diri dari sang jagal jalan raya. “Salah satunya adalah SEE, yaitu see, evaluate, dan excecute sebagai tools untuk menghindari terjadinya kecelakaan,” kata bro Nursal.
SEE merupakan bagian dari upaya para pengguna jalan untuk senantiasa fokus dan waspada. Sebagaimana banyak orang tahu bahwa berkendara adalah pekerjaan penuh waktu, tak bisa disambi dengan aktifitas lain. Kecuali, mau menggoda sang petaka jalan raya hinggap dalam perjalanan kita.

“Maklum, lengah dan tidak konsentrasi merupakan aspek dominan dalam memicu kecekalaan, selain faktor jalan, kendaraan, dan alam,” kata bro Nursal.

Selain asyik berbincang dan saling berbagai mengenai keselamatan jalan. Tim RSA Indonesia juga membagikan sejumlah merchandise sebagai kenang-kenangan seperti stiker kopdarling RSA Indonesia dan kaos berisi pesan keselamatan jalan. Nah, soal kaos, salah satunya berasal dari gerakan I Wanna Get Home Safely.

Malam terus merangkak menjelang pagi. Kopdarling RSA Indonesia kali ini pun harus disudahi. Lagi, sebuah upaya untuk berbagi dan mengajak anak negeri terbebas dari petaka yang fatal di jalan raya. Ikhtiar, dan terus ikhtiar, hanya itu yang bisa kita lakukan selain berdoa ketika berkendara. Semangat. (edo rusyanto)

Asyiknya Kongkow Bareng FSRJ

27 September 2014

fsrj kopdar sept 2014

SUATU siang sebuah pesan masuk ke ponsel blackberry saya. Setelah dibaca, ternyata berisi pesan siaran (broadcast) BBM dari bro Wisnu. Pria muda penunggang motor Yamaha Vixion itu berujar soal ajakan kopi darat (kopdar) sambil ngulik masalah keselamatan jalan (road safety).

Begini isi broadcast tersebut:

Official Announcement and Invitation.

Kopdar FSRJ (Forum Silaturahmi Riders Jakarta/was: Forum Safety Riding Jakarta)

@Roti Bakar Edi Pasar Minggu
Start from 7:00PM ’till Done…

Topik: Bahasan lebih lanjut ttg pendirian usaha bersama FSRJ dalam hal Safety Riding/Driving School and First Aid+Basic Life Support Course
With:
1. Eyang Yogie Jenggot (Suzuki Safety Riding Instructor and Graha Energy Medical Support).
2. Eyang Edo Rusyanto (Ketum RSA Indonesia)

So…bwt yg mau nambah2 ilmu soal first aid dll…yg ngakunya concern soal safety on the road…Be There or Behind… :)

Cheers,
Wisnu Y. Pratama
YVCI-D 066
Suzuki 2Wheels – 666

Cc:
Eyang Edo
Mbah Jenggot
Om Saftari – Saft7.com

Saya sempat membalas BBM tersebut.

“Trims undangannya kawan. Ane baru kelar kerja jam 20-an. Gak apa2 yah.”

Bagi saya ajakan untuk berbagi soal keselamatan jalan menjadi sebuah kebutuhan. Apalagi yang mengundang adalah kolega-kolega saya di FSRJ. Jadilah meluncur ke TKP usai merampungkan pekerjaan malam itu.

Suasana kedai roti bakar cukup ramai. Meja-meja penuh diisi oleh para tamu yang mencari kudapan di penghujung pekan. Saya segera bergabung di meja kolega saya di FSRJ. Tampak sejumlah wajah yang saya kenal sedang asyik berbincang-bincang. Misalnya saja Wisnu, Sontul, Rizki, Yogie, Dito, dan Ridwan. Sesekali diselingi canda tawa.

Perbincangan pun nyerempet pada permasalahan keselamatan jalan. Mulai dari persoalan pentingnya perilaku yang tidak ugal-ugalan di jalan hingga pentingnya kemampuan memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan lalu lintas jalan.

Hingga akhirnya perbincangan masuk ke ranah pembentukan badan usaha dalam bidang keselamatan jalan. FSRJ merasa bahwa perlu adanya gerakan yang profesional dalam mengedukasi publik. “Soal konsep dan seperti apa bentuk badan usahanya masih dimatangkan,” ujar Ridwan.

Terasa mengasyikan kongkow bersama teman-teman yang peduli masalah keselamatan jalan. Sedangkan terkait niat membentuk badan usaha, saya melontarkan pemikiran tentang pentingnya melakukan standardisasi sistem dan standardisasi sumber daya manusia (SDM) sebagai langkah awal. “Untuk tahap-tahap awal bisa saja melakukan sosiliasasi ke sekolah-sekolah,” kata Wisnu.

Malam terus bergulir. Saya pun harus pamit, maklum Sabtu paginya mesti brifieng para semifinalis Safety Campaign Award (SCA) 2014 yang digelar Adira Insurance. Dari kongkow dengan FSRJ kali ini menunjukan satu realita lagi bahwa ada kegelisahan di masyarakat soal pentingnya keselamatan berlalu lintas jalan. Kegelisahan atas bertumbangannya 70-an anak negeri setiap hari akibat kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

Unika Semarang Soroti Aturan Lalin

26 September 2014

rambu uu lalin bandung

Lima tahun pasca diterbitkannya regulasi Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ternyata tidak mampu mengurangi tingginya angka kecelakaan lalu lintas jalan raya. Kecelakaan terus terjadi bertubi-tubi bagai enggan hengkang dari bumi Nusantara.

Untuk mengkaji hal tersebut, Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Unika Soegijapranata, Semarang menggelar seminar bertema “Kesiapan pemerintah dalam Implementasi UU no 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas”

Menurut Algooth Putranto dosen FHK Unika sekaligus ketua penyelenggara seminar, Undang-Undang no. 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Jalan berikut Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2013 secara jelas memaparkan kewajiban pemerintah sebagai penanggung jawab lalu lintas, yang artinya terdapat jerat hukum penyelenggaraan jalan sesuai dengan kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah.

“Tanggung jawab tersebut memiliki implikasi gugatan hukum masyarakat pengguna jalan raya terhadap pemerintah pusat dan daerah sebagai penyelenggara jalan raya. Masyarakat dapat menggugat pemerintah sebagai penyelenggara jalan raya,” ujarnya, di Semarang, Kamis, 25 September 2014.

Acara yang digelar Senin 29 September mulai pukul 08.00 hingga 13.00 di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas mnenghadirkan sejumlah pembicara a.l. Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Hari Sasono (Ketua Yayasan Astra Honda Motor), Edo Rusyanto, penulis buku ‘Menghapus Jejak Roda’ dan Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Indonesia, Kombes Istu Hari, Direktur Lalu Lintas Polda Jateng dan Val. Suroto, Ahli Hukum Keperdataan FHK Unika Soegijapranata.

“Pertanyaannya apakah seluruh pihak telah sadar dengan regulasi tersebut? Kami mencoba menggali lebih dalam perihal diseminasi UU, kesiapan pemerintah menjalankan UU, meningkatkan perlindungan masyarakat terhadap keselamatan di jalan raya,” ujarnya.

Sejak UU Lalu Lintas diteken, lanjutnya, lalu lintas jalan raya merupakan salah satu pembunuh terutama generasi muda. Kelompok usia muda menjadi figur yang memilukan. Kelompok ini menjadi korban, sekaligus pemicu kecelakaan yang dominan.

Data Korlantas Polri membeberkan sekitar 41% korban kecelakaan lalu lintas jalan adalah rentang usia 16-30 tahun. Sedangkan sekitar 27% pemicu kecelakaan adalah kelompok usia yang sama.

Generasi muda menempati posisi dominan. Setidaknya 42% kasus kecelakaan dipicu oleh perilaku berkendara yang ugal-ugalan. Selebihnya perpaduan dari aspek manusia lainnya, seperti lengah dan ngantuk, serta faktor jalan, kendaraan, dan alam.

Sementara di Jawa Tengah, data Korlantas Polri selama periode 2012 dan 2013 menunjukkan kasus kecelakaan lalu lintas di Jateng secara konstan menempati nomor dua nasional.

Pada 2012, Jateng mencatat 63 kasus kecelakaan per hari dengan korban tewas sekitar 11 jiwa per hari. Provinsi berpenduduk sekitar 32 juta jiwa ini mencatat penurunan kasus kecelakaan hingga hampir 16% pada 2013. Namun jumlah korban yang tewas akibat kecelakaan justru meningkat sekitar 7% menjadi 12 orang per hari. (ed)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.435 pengikut lainnya.