Skip to content

Mari Belajar dari Kesalahan

21 Agustus 2014

pesan laka keadaban kita

BANYAK diantara kita pernah melakukan kesalahan. Entah kesalahan yang disegaja maupun yang tidak disengaja. Hal yang membedakan tinggal masalah volume, bobot, dan jenis kesalahannya. Wajar, manusia tempatnya salah. Kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa.

Saya termasuk yang pernah melakukan kesalahan, tentu termasuk saat berlalu lintas jalan. Misalnya, pada suatu ketika di perempatan yang jarang dilewati lampu pengaturnya berwarna hijau, langsung saja ancang-ancang belok kanan. Tapi….ternyata ada lampu penunjuk ke arah kanan yang ternyata berwarna merah. Opppsss…berhenti sejadi-jadinya. Sayangnya, posisi sudah melewati garis setop.

Apa pun alasannya, kejadian itu adalah kesalahan. Saya mencoba tobat. Tak akan mengulangi kesalahan seperti itu. Kata pepatah, hanya keledai yang melakukan kesalahan dua kali pada kasus yang sama.

Ya. Semua manusia pernah melakukan kesalahan. Tinggal persoalannya adalah maukah mengubah kekeliruan yang terjadi? Akankah justru melestarikan kesalahan tersebut?

Eloknya, kita mau belajar dari kesalahan yang ada. Kesalahan memberikan pelajaran amat berharga bagi kita semua untuk ke depannya menjadi lebih baik. Misal, ketika pernah melakukan kesalahan menerobos lampu merah, eloknya tidak mengulang kesalahan serupa pada kemudian hari. Maklum, kesalahan seperti itu bukan mustahil mengajarkan kita untuk berubah dengan caranya yang bengis. Contohnya, ketika menerobos lampu merah justru mengalami tabrakan. Apakah baru berubah setelah mengalami tabrakan?

Betul, tak ada kata terlambat untuk mengubah kesalahan. Hanya mereka yang berjiwa besarlah yang sudi meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukannya, sekaligus sudi untuk berjanji tidak mengulangi.

Dalam kasus di jalan raya, pengubahan kesalahan juga bermakna untuk memperkecil terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Mengubah kelakuan salah menjadi kelakuan yang benar juga bertujuan untuk meningkatkan keselamatan di jalan. Mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Kita sudah disodori fakta bahwa setiap hari 70-an jiwa tewas akibat kecelakaan.

Rasanya, sudah tiba saatnya untuk kita berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan sebelum semuanya terlambat. (edo rusyanto)

Oh Begini Tokh Jarak Aman Berkendara

20 Agustus 2014

jarak aman pesanlaka

SUATU siang saya dikejutkan oleh benturan kecil di bagian belakang sepeda motor saya. Rupanya seorang pesepeda motor ‘nyelonong’ mencium bemper kuda besi yang saya tunggangi. Tak ada cedera serius. Sang pesepeda motor melemparkan senyum seraya meminta maaf. Saya mengangguk dan melanjutkan perjalanan.
Saat kejadian itu, saya melaju tak lebih dari 40 kilometer per jam (kpj) karena padatnya antrean kendaraan di jalan Jakarta. Karena itu pula, benturan yang terjadi tak terlalu menimbulkan kerusakan berarti. Namun, bisa dibayangkan bila kendaraan yang mencium bemper tadi dalam kecepatan tinggi, misalnya, 70 kpj. Bisa berantakan deh.

Tabrak belakang seperti itu ternyata menjadi jenis kecelakaan ketiga terbesar di Indonesia. Pada 2013, menurut data Korlantas Polri, tabrak belakang menyumbang sekitar 17,26% terhadap total kecelakaan. Saat itu, setiap hari rata-rata ada 47 kasus kecelakaan tabrak depan belakang. Tuh kan.
Setelah mengais-ngais informasi kesana-sini, akhirnya saya memutuskan menulis artikel ini. Tulisan seputar menjaga jarak yang aman saat berkendara ini semoga bisa menjadi salah satu pengingat kita semua soal pentingnya keselamatan jalan. Maksudnya, keselamatan saat berlalu lintas jalan menjadi sebuah kebutuhan, bukan semata slogan kosong lantaran ketidaktahuan.

Lantas, seperti apa jarak yang aman? Yuk kita coba kulik sejenak. Dengan asumsi kita melaju 50 kpj maka kecepatan itu setara dengan 0,83 km/menit. Angka itu setara dengan 0,013 km/detik atau sama dengan 14 meter/detik. Bila asumsi rentang waktu yang aman adalah tiga detik, artinya jarak aman yang dibutuhkan sekitar 42 meter.

Bila pengendara sepeda motor melakukan pengereman normal, jarak 42 meter tersebut tergolong cukup untuk menghindari tabrakan dengan kendaraan di depan yang tiba-tiba berhenti.
Sementara itu, pemanfaatan tiga detik tersebut untuk dua hal penting, yakni bisa untuk menyerap informasi sebanyak mungkin atas situasi di depan dan sekitarnya. Karena itu, ruang kosong sebagai jarak aman juga bisa dimanfaatkan untuk melihat kondisi di depan apakah ada lubang atau tidak. Sedangkan detik kedua dimanfaatkan untuk mengolah informasi yang sudah diserap untuk mengambil keputusan apa yang akan dipilih. Dan, di detik ketiga dimanfaatkan untuk aksi apa yang sudah dipilih. Tindakan tepat apa yang perlukan atau bermanuver seperti apa atas situasi yang ada. Misal, untuk melakukan pengereman yang tepat atau penghindaran diri atas potensi benturan yang fatal.

Soal penghindaran diri juga tidak bisa gegabah. Butuh kepastian dengan risiko sekecil mungkin terjadinya benturan dengan kendaraan lain, entah dari arah belakang maupun dari arah berlawanan. Salah satu upaya memastikannya adalah dengan melihat ke kaca spion dan menebar pandangan seluas mungkin ke arah depan.
Manfaat jarak aman untuk menghindari terjadinya tabrak belakang atau tabrakan beruntun. Sekalipun tabrak beruntun hanya berkontribusi sekitar 3% terhadap total kasus kecelakaan di jalan, tetap saja harus diwaspadai oleh setiap para pengendara kendaraan bermotor. Karena itu, penting menjadi perhatian adalah untuk menghindari berkendara gaya menguntit (tail gating). Jarak yang terlalu rapat menciptakan kondisi berkebalikan dari perilaku menjaga jarak aman.

Oh ya, selain menjaga jarak aman, formasi antara sepeda motor yang di depan dengan yang di belakang, jika ruang memungkinkan, bisa memakai formasi zigzag. Tujuannya untuk menghindari tabrak belakang ketika kendaraan yang di depan melakukan pengereman mendadak. Formasi zigzag memberi ruang kosong bagi kendaraan yang di belakang jika pengeremannya ternyata tidak maksimal.
Dan, hal yang tidak kalah penting untuk menghindari tabrak belakang, seluruh pengendara mutlak untuk berkonsentrasi. Fokus dan kewaspadaan digandakan untuk meredam peluang terjadinya benturan. Selain itu, hindari berkendara saat rasa mengantuk mendera kita. Salah satu yang bisa merusak konsentrasi tadi adalah rasa kantuk. (edo rusyanto)

Jangan Tiru yang Keliru

19 Agustus 2014

polisi mengatur lalin bandung

PAGI baru saja merangkak. Lalu lintas jalan Jakarta sudah ramai oleh ratusan, bahkan ribuan kendaraan bermotor. Banyak orang-orang bergegas. Ada yang menuju tempat menuntut ilmu, tapi tak sedikit yang mengais rezeki.

Di salah satu sudut jalan di Jakarta Timur, Selasa, 19 Agustus 2014, tampak sosok petugas berrompi biru dengan tulisan “traffic warden dishub”. Dia menunggang sepeda motor. Namun, adegan berikutnya yang cukup mengagetkan, dia nyelonong menerobos garis setop dan zebra cross. Dia asyik bersama gerombolan penunggang kuda besi lainnya yang tampak tak sabaran menanti lampu berganti warna dari merah menjadi hijau.

Pemandangan serupa pasti tak sulit dijumpai. Ada petugas yang tak menjadi panutan di jalan. Ada yang bersepeda motor tanpa memakai helm. Ada yang melibas zebra cross dan berhenti di atasnya. Bahkan, ada yang melawan arus dan meminta prioritas padahal tidak dalam kondisi bertugas. Mereka seperti lupa bahwa peran penjaga keadilan ada di pundak mereka. Tentu, sekaligus menjadi panutan bagi pengguna jalan yang lainnya. Mereka mesti mampu menjadi sosok yang ditiru. Tapi, bila keadaan yang dipertontonkan justru sebaliknya, kita pantas untuk berkata, “jangan tiru yang keliru.”

Indonesia butuh panutan. Hal itu juga tentu di jalan raya. Ketika lalu lintas jalan mempertontonkan kelakuan mentalitas jalan pintas yang menerobos segala aturan, timbul pertanyaan, sudah demikian barbarkah kita? Kalau demikian tak heran bila perilaku ugal-ugalan menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Pada 2013, setidaknya 42% pemicu kecelakaan adalah perilaku ugal-ugalan seperti menerobos lampu merah dan melawan arus. Sudah semestinya kita belajar bahwa perilaku berkendara yang humanis demi keselamatan di jalan.

Para petugas, entah itu yang bertanggung jawab atas transportasi maupun penegakan hukum di jalan, semestinya tampil sebagai sosok panutan. Lewat perilaku mereka yang menghargai aturan di jalan, kita bisa belajar bahwa lalu lintas jalan yang humanis lahir dari para pengguna yang sudi toleran. Pengguna jalan yang menghargai aturan menjadi kata kunci dalam mewujudkan kenyamanan dan keselamatan berlalu lintas jalan.

Sekali lagi, ketika petugas justru memperlihatkan perilaku melanggar aturan di jalan, kita tak perlu menjadikannya sebuah pembenaran untuk mengekor. Justru, kita pantas untuk berkata, “jangan tiru yang keliru.” (edo rusyanto)

Jawa Diguyur 582 Motor per Jam

18 Agustus 2014

mudik motor_david

PENJUALAN sepeda motor paling legit di Indonesia ada di Jawa. Pulau berpenduduk terbesar di Indonesia ini menyerap sekitar 62% dari total penjualan para produsen sepeda motor sepanjang Januari-Juli 2014. Pada rentang waktu itu Jawa diguyur 2,95 juta unit atau setara dengan 582 sepeda motor per jam. Wow!

Bila dibandingkan dengan periode sama 2013, serbuan sepeda motor ke Jawa melemah tipis, yakni 0,72%. Tampaknya pemberlakuan loan to value (LTV) atau pengetatan kredit melalui peningkatan uang muka mulai menimbulkan riak-riaknya. Peningkatan LTV yang diberlakukan pada September 2013 membuat uang muka atau down payment (DP) cicilan sepeda motor menjadi 20%. Itu cicilan melalui lembaga pembiayaan, sedangkan bila melalui perbankan uang mukanya mesti 25%.

Barangkali bukan itu semata yang membuat pelemahan tipis. Hingga kini para produsen sepeda motor yang tergabung di dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) masih cukup optimistis bahwa tahun 2014 bakal lebih baik. Bila pada 2013 total penjualan sepanjang tahun sekitar 7,7 juta unit, tahun ini ditaksir bisa melampaui angka tersebut.

Lebih dari separuh penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa bermukim di Jawa. Mereka inilah pasar potensial bagi para penjual sepeda motor. Faktor penunjang lainnya bisa jadi karena daya beli penduduk Jawa yang relatif cukup baik. Selain itu, mengingat Jawa dekat dengan pusat produksi dan layanan purna jual para produsen.
Dari segi keuangan perbankan, Jawa masih yang terbesar. Per akhir 2012, Jawa menyerap Rp 2.003 triliun (73,97%) dari total kredit perbankan yang mencapai Rp 2.707 triliun. Dari total dana pihak ketiga sebesar Rp 3.225 triliun, Jawa menguasai Rp 2.450 triliun atau 75,98%.

Selain soal daya beli, faktor pemicu orang membeli sepeda motor di Jawa amat mungkin karena kebutuhan untuk alat transportasi. Bagi penduduk di perkotaan, sepeda motor dianggap sebagai alat angkut alternatif ketika angkutan umum belum dirasakan mampu maksimal memenuhi kebutuhan mereka.

Honda atau PT Astra Honda Motor (AHM) masih menjadi pemain terkuat di Jawa. Ketangguhan anggota Aisi ini malah kian menjadi pada Januari-Juli 2014. Bagaimana tidak, pada periode sama tahun 2010, AHM baru menguasai 48,67%. Namun, kini si Sayap Tunggal ini sudah mengantongi 64,94%. Dahsyat kan?

jawa penjualan jan jul 14

Sementara itu, sang pesaing utama, yakni Yamaha atau PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) justru mengalami nasib kebalikannya. Ketika tujuh bulan 2010 Yamaha masih bisa menempel ketat Honda dengan pangsa pasar 45,20%, kini kondisinya berbeda tajam. Januari-Juli 2014 pangsa pasar Yamaha melorot menjadi 29%.

Jawa rupanya menjadi pertarungan yang amat ketat bagi para produsen sepeda motor di Indonesia. Segala jurus dikeluarkan para pemain bisnis sepeda motor. Mulai dari melansir produk dan varian anyar, strategi pemasaran, layanan yang mendekatkan dengan konsumen, hingga penguatan citra di kalangan kelompok pengguna sepeda motor. (edo rusyanto)

Merdeka Bukan Sebebas-bebasnya di Jalan

17 Agustus 2014

makassar kawasan lalin

GEGAP gempita perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia amat terasa menjelang 17 Agustus. Tanggal keramat bagi bangsa Indonesia itu senantiasa dirayakan hampir di seantero Nusantara. Kita bangsa yang besar. Bangsa yang bermartabat.

Manusia yang lepas dari penjajahan berhak menentukan hidupnya sendiri. Merdeka dalam berpikir dan bertindak sesuai keadaban sebagai manusia. Hidup bebas menggapai kesejahteraan tanpa penindasan satu dengan yang lain.

Keadaban kita sebagai manusia diuji di jalan raya. Mampu berlalu lintas jalan tanpa arogansi tanpa saling menindas. Si kuat tak perlu menindas si lemah. Menghargai aturan yang berlaku merupakan ciri keadaban kita sebagai manusia.

Pada hakekatnya, merdeka di jalan raya bukan berbuat sekehendak hati. Merdeka di jalan bermakna kita terbebas dari rasa takut pada petaka jalan raya. Terbebas dari ancaman kecelakaan lalu lintas jalan yang pada 2013 merenggut 70-an jiwa per hari. Merdeka bermakna kita terbebas dari itu semua.

Indonesia bangsa yang bermartabat. Semestinya amat mudah mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Suatu kondisi yang mengedepankan moralitas bangsa yang luhur. Sejarah kita mencatat bahwa penindasan melahirkan jutaan orang menderita. Mereka tewas. Mereka terluka, bahkan mereka kehilangan masa depan.

Saat kecelakaan lalu lintas jalan hadir di depan kita, dampaknya cukup mematikan. Kecelakaan bisa meluluhlantakan masa depan. Ketika otoritas jalan raya menyebutkan bahwa 42% kecelakaann dipicu faktor tidak tertib alias doyan melabrak aturan, semestinya keadaban kita terusik. Ada gejala apa di bangsa yang punya rekam jejak panjang soal pedihnya kelakuan arogan.

Dirgahayu bangsaku yang ke-69 tahun. Mari merdeka dari rasa takut di jalan raya, bukan berbuat seenaknya demi kepuasaan diri sendiri. (edo rusyanto)

Tiap Jam Jakarta Diguyur 134 Motor

16 Agustus 2014

angkut motor tangerang

COBA tengok sekeliling kita, pasti dengan mudah menjumpai sepeda motor. Nah, khusus di Jakarta, setiap jam rata-rata diguyur 134 sepeda motor dalam rentang Januari-Juli 2014.
Angka itu mengutip data distribusi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia atau Aisi yang dilansir di Jakarta, Senin, 11 Agustus 2014. Dan, dari data itu pula terlihat bahwa pemain utama bisnis sepeda motor masih dipegang oleh dua raksasa, yakni Honda dan Yamaha. Tiap jam, keduanya rata-rata memasok 61 sepeda motor di Jakarta loh.
Mari kita longok sejenak data Aisi sepanjang lima tahun terakhir. Untuk periode Januari-Juli dalam rentang 2010-2014, ternyata anggota Aisi mengguyur pasar Jakarta dengan sebanyak 3,31 juta sepeda motor. Artinya, tiap jam rata-rata ada 130 kuda besi yang menggerojok Jakarta. Dahsyat kan?
Oh ya, dua pemain utama, yakni Honda dan Yamaha dalam rentang waktu yang sama, masing-masing tiap jam rata-ratanya memasok 54 dan 65 kuda besi. Artinya, jika digabungkan kedua pemain itu menguasai 90% pasar Jakarta.
Ya. Jakarta sebagai kota tersibuk di Indonesia merupakan area yang jadi incaran para pemain bisnis sepeda motor. Maklum, setidaknya ada 9,5 juta jiwa warga yang mendiami kota berumur 487 tahun itu. Kebutuhan berlalu lintas jalan warga Jakarta tergolong cukup tinggi. Setidaknya, tiap hari ada 20 jutaan pergerakan di Jakarta. Itu belum ditambah dengan pergerakan dari kota satelit di sekitarnya, yakni Bogor,Depok, Tangerang, dan Bekasi. Bila digabung dengan pergerakan kota-kota tersebut setidaknya ada 53 juta pergerakan setiap hari.

Oh ya, dua pemain utama, yakni Honda dan Yamaha dalam rentang waktu yang sama, masing-masing tiap jam rata-ratanya memasok 54 dan 65 kuda besi. Artinya, jika digabungkan kedua pemain itu menguasai 90% pasar Jakarta.

Nah, mayoritas pergerakan tersebut ternyata memanfaatkan sepeda motor sebagai alat transportasi. Si kuda besi dianggap paling mampu mengantar sang penunggang ke tujuan secara langsung. Di sisi lain, perawatan dan biaya operasional sepeda motor dianggap cukup terjangkau kocek kebanyakan warga Jakarta.
Tentu saja kehadiran sang sepeda motor tidak terlepas dari skema penjualan yang memberi kemudahan kepada konsumen. Para perusahaan pembiayaan memberikan akses mudah dengan sistem penjualan kredit. Selain tenor yang diberikan cukup panjang, yakni bisa mencapai 33 atau 36 kali, sang konsumen cukup membayar uang muka berkisar Rp 1-2 juta sudah bisa membawa pulang sepeda motor entry level.
Sinergi antara perusahaan pembiayaan dengan para distributor sepeda motor itulah yang mendorong penjualan sepeda motor laris manis. Selain tentu saja karena hingga kini angkutan umum massal yang ada dianggap belum mampu maksimal memenuhi kebutuhan pergerakan warga Jakarta. (edo rusyanto)

Kenapa Tidak Menyalakan Lampu Sein?

15 Agustus 2014

IMG-20121102-01173

SUDAH sepekan ini saya perhatikan sering terjadi pengendara yang berbelok tanpa menyalakan lampu sein sebagai isyarat. Satu dua kasus sempat membuat bingung. Tapi, ada juga yang hampir membuat insiden jika tidak menjaga jarak aman.

Di jalur saya melintas saat menuju ke kantor di kawasan Jakarta Selatan banyak sekali persimpangan atau kelokan. Praktis, bila tidak ekstra waspada bakal berpapasan dengan pengendara yang tidak menyalakan lampu sein saat mau berbelok. Tapi, ada juga yang lupa mematikan lampu isyarat itu ketika sudah berbelok. Bahkan, ada yang menyalakan lampu sein ke kanan, beloknya justru ke kiri. Ada-ada saja.

Padahal, aturan soal itu sudah jelas-jelas ada di dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam pasal 112, ayat (1) disebutkan bahwa pengemudi kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.
Lalu pada ayat (2) pengemudi kendaraan yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, di samping, dan di belakang kendaraan serta memberikan isyarat.

Oh ya, UU No 22/2009 pada pasal 294 menegaskan bahwa pengendara yang berbelok atau berbalik arah tanpa memberi isyarat lampu penunjuk arah atau isyarat tangan bakal diganjar pidana. Tinggal pilih, mau pidana penjara maksimal satu bulan atau denda Rp 250 ribu.

Tapi, cerita menjadi lain jika ternyata lantaran berbelok tanpa memberi isyarat atau lampu sein, kemudian menimbulkan kecelakaan yang membuat orang lain meninggal dunia, sanksinya bisa lebih berat. Maklum, peluru yang dibuat membidik dalam UU tersebut adalah pasal 310 ayat 4. Pasal itu menegaskan bahwa jika seseorang lalai dan menimbulkan kecelakaan yang bikin orang lain meninggal dunia, diancam hukuman penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.
Haduh! Rasanya terlalu berat beban yang harus dipikul. Sudah celaka, luka-luka, keluar biaya, mendekam pula di balik jeruji penjara.

Oh ya, sekadar berbagi soal urusan belok berbelok, pertama, mari kita amati situasi sekitar dengan cara menoleh dan/atau dengan mempergunakan kaca spion. Kedua, sebelum memulai gerakan mengubah arah harus terlebih dahulu memberikan isyarat lampu penunjuk arah. Ketiga, menempatkan posisi kendaraan pada lajur atau bagian mendekati luar lajur jalan. Keempat, peringatan dengan alat penunjuk arah harus diberikan terus menerus selama berlangsungnya gerakan itu dan segera diberhentikan setelah gerakan itu selesai.

Lagi-lagi, semua itu ada di dalam aturan yang dikeluarkan negara pada tahun 2009 itu. Tinggal kita mempelajari dan mempraktikannya. Gampang kan, belok kasih lampu isyarat. Yuk.
Tapi, kenapa orang enggan menyalakan lampu sein saat hendak berbelok? Lupakah mereka? Atau, jangan-jangan mereka berpikir pengendara yang ada di belakangnya harus lebih waspada sehingga mesti memperhatikan kendaraan yang ada di depan. Atau, jangan-jangan ada pikiran kalau ditabrak dari belakang maka yang salah adalah pengendara yang di belakang. Hemmm… (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.343 pengikut lainnya.