Lanjut ke konten

Nyimak Obrolan di Warung Kopi

23 April 2014

libas garis putih

DUA pria itu asyik berbincang-bincang di warung kopi. Entah apa awal perbincangan mereka, namun tiba-tiba yang tampak lebih tua usianya melontarkan sebuah kalimat yang cukup menarik perhatian saya.
“Tahu gak kenapa orang menerobos lampu merah saat di jalan?” Kata dia, sambil menyeruput kopi hitam dari gelas bening.

Pemuda yang satunya menjawab dengan enteng. “Karena mereka buru-buru.”

“Selain itu? Apa lagi?”

“Karena gak ada petugas di dekat lampu merah,” kata pria yang lebih mudah sambil tersenyum kecil.

“Emangnya menurut lu kenapa?” Kata dia balik bertanya, sambil mengunyah bakwan goreng.

Nah, jawaban pria yang lebih tua itu yang menggoda saya untuk ikut menyimak diam-diam.

“Begini. Gue tebak mereka menerobos lampu merah karena merasa belum merasa dirugikan akibat tindakannya itu,” katanya sambil masang mimik muka rada serius.
“Maksud lu?”

Pria yang lebih tua tadi terdiam sesaat. Seteguk kopi kembali meluncur melewati kerongkongannya. Lalu dia menyambung kalimatnya.

Menurut dia, seseorang baru kapok melanggar aturan di jalan kalau yang bersangkutan sudah merasakan pahitnya kelakuan itu. Ketika sang pelanggar merasa dirugikan akibat perbuatannya, barulah orang itu kapok melanggar lagi. Kerugian itu bisa berupa petakan kecelakaan di jalan, maupun misalnya didenda maksimal.

“Tahu gak lu, melanggar marka dan rambu jalan, termasuk lampu merah, denda maksimalnya Rp 500 ribu atau penjara maksimal dua bulan,” ujarnya sambil ikut ngemil bakwan goreng.
Pria yang lebih muda manggut-manggut.

“Belum lagi kalau gara-gara menerobos lampu merah, kemudian tabrakan. Dijamin deh, dia bakal kapok melakukan hal yang sama di kemudian hari,” tambahnya.

“Gue gak percaya. Buktinya, masih banyak ajah tuh yang menerobos lampu merah,” timpal yang lebih muda.
Ya. Perbincangan itu cukup menarik sampai disitu. Hingga kemudian pria yang lebih tua menunjukan sebuah kicauan di twitter. “Nih baca di twitter, sekitar 42% kecelakaan dipicu perilaku gak tertib seperti menerobos lampu merah itu,” katanya sambil mendekat.

Mestinya, sambung dia, orang gak mesti merasakan dulu pahitnya melanggar aturan di jalan baru kapok. Fakta sudah menunjukkan bahwa tiap hari Indonesia kehilangan 70-an jiwa akibat kecelakaan di jalan. “Apa mesti masuk rumah sakit dulu baru kapok melanggar?” Tanya pria yang lebih tua.

Sayangnya pembicaraan mereka terhenti ketika tiba seorang teman mereka. Tampaknya mereka sudah janjian dan sibuk dengan perbincangan dengan topik lain. Saya gak mendengar lebih lanjut apa perbincangan diantara ketiganya.
Satu point yang saya dapat, ternyata perilaku melanggar baru bisa berhenti kalau sang pelanggar merasa dirugikan akibat kelakuannya. Hemmm masuk akal juga sih. (edo rusyanto)

Ketika Mendahului Berujung Petaka Jalan Raya

22 April 2014

cipularang ist

MINGGU pagi yang cerah menjadi suram dan tak akan pernah terlupakan bagi Dara, begitu saja kita memanggilnya. Bagaimana tidak, pagi itu dia semestinya mengantarkan sang kakak mencoba baju untuk resepsi pernikahan, tapi situasi berkata lain. Petaka jalan raya membuat saudara perempuannya tak pernah sempat duduk di pelaminan dengan baju spesial.

Semua bermula saat sepeda motor yang dikendarai Dara dan sang kakak melintas di sebuah kawasan di pinggiran Jakarta. Lalu lintas jalan pada pagi itu ramai lancar. Dara melaju dalam kecepatan normal. Di depan dia melihat ada angkot dan mobil pribadi yang sedang berhenti di kiri jalan. Ketika jarak kuda besi Dara dengan angkot kian mendekat, angkutan umum itu ternyata bergerak. Praktis, Dara memilih untuk mendahului dari sisi kanan.

Petaka datang ketika ternyata dari arah belakangnya ada kendaraan lain yang juga ingin mendahului. Truk itu ingin mendahului motor Dara dan angkot. Praktis, Dara terjepit diantara dua kendaraan. Di kiri ada angkot dan di kanan ada truk. Benturan terjadi dengan truk, setidaknya itu yang diingat Dara, saat itu sang kakak terjatuh dan masuk ke kolong truk. Jiwanya tak tertolong.

Ya. Petaka tak pernah kita bisa hindari begitu saja. Setiap saat bisa terjadi kecelakaan lalu lintas jalan. Bisa dipicu oleh kelangahan kita sebagai pengendara, atau karena perilaku pengendara lain yang ugal-ugalan. Kemampuan kita hanya sebatas mengurangi potensi terjadinya kecelakaan sekaligus mengurangi fatalitas agar tidak terlalu buruk.

Saat mendahului di jalan raya memang bukan persoalan main-main. Butuh pertimbangan yang seksama. Mulai dari kondisi di arah depan, pergerakan kendaraan yang hendak didahului, situasi jalan di depan, hingga situasi kendaraan dari arah belakang. Beberapa langkah itu rasanya perlu dilengkapi dengan tindakan lain seperti memberikan lampu isyarat hingga isyarat bunyi-bunyian untuk memberitahukan kepada pengendara yang hendak didahului. Semua langkah itu sebagai bagian ikhtiar, mengurangi potensi maupun fatalitas kecelakaan.

Dalam kasus Dara, sang pengemudi truk pun dicokok oleh petugas. Dia menjadi pesakitan di pengadilan dengan dakwaan bertindak lalai yang menimbulkan kecelakaan hingga membuat orang lain meninggal duni. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) membidik tersangka yang seperti itu dengan ancaman sanksi pidana kurungan maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 12 juta.

Sang pengemudi truk mendapat vonis penjara 18 bulan. Di akhir jalannya persidangan yang sudah berlangsung selama empat bulan, vonis berubah menjadi 12 bulan. Perjuangan sang sopir mencari keadilan berhenti di tingkat Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasinya.

Ya. Kecelakaan berdampak luas. Tak semata menimbulkan kerugian barang, korban luka-luka, dan korban jiwa, melainkan bisa berujung di balik jeruji penjara. Kita hanya bisa ikhtiar, salah satunya, ekstra waspada dan jangan pernah lengah sedikitpun. Apalagi, nekat ugal-ugalan hanya demi kepentingan ego sesaat.

Oh ya, kisah Dara terinspirasi dari keputusan pengadilan yang terjadi pada tahun 2010. Dara bukan nama sebenarnya. (edo rusyanto)

Hal Genting dan Penting di Jalan Raya

21 April 2014

konvoi motor thailand

SUATU ketika kolega saya bertanya soal siapakah yang mesti didahulukan antara Presiden, pemadam kebakaran, dan ambulans. Kami pun asyik dalam perbincangan dengan latar belakang pemahaman masing-masing, hingga akhirnya mengerucut pada kesimpulan, mana yang genting dan mana yang penting.

Dalam mencari jawaban atas pertanyaan di atas, pemahaman soal genting dan penting ternyata menjadi kunci utama. Hal gentinglah yang mesti mendapat prioritas utama. Presiden memang penting, tapi pemadam kebakaran dan ambulans posisinya genting. Ambulans yang sedang bertugas mengangkut orang sakit berada dalam situasi genting. Begitu juga dengan pemadam kebakaran yang sedang bertugas untuk memadamkan api yang memberangus ratusan rumah sehingga mengancam keselamatan para penghungi rumah yang terbakar.

Karena itu, untuk tidak menimbulkan kesimpangsiuran soal persepsi genting dan penting, negara melahirkan peraturan. Terkait dinamika di jalan raya, Indonesia memiliki Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Salah satu yang diatur oleh UU itu adalah adalah soal apa itu hak utama dan siapa saja yang berhak memilikinya.

Pasal 134 UU itu menyebutkan ada tujuh pihak pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan. Pertama, kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas.

Kedua, ambulans yang mengangkut orang sakit. Ketiga, kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas. Keempat, kendaraan pimpinan lembaga negara Republik Indonesia. Kelima, kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara. Keenam, iring-iringan pengantar jenazah. Dan, ketujuh konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Nah, hal yang perlu menjadi perhatian adalah pada bagian ketujuh. Perlu digaris bawahi bahwa dalam penjelasan UU 22/2009 dibeberkan yang dimaksud dengan “kepentingan tertentu” adalah kepentingan yang memerlukan penanganan segera, antara lain, kendaraan untuk penanganan ancaman bom dan kendaraan pengangkut pasukan. Selain itu, kendaraan untuk penanganan huru-hara dan kendaraan untuk penanganan bencana alam.

Lantas bagaimana pengaturannya di jalan raya?

Ini dia, hal itu diatur dalam pasal 135 yang mengatakan bahwa pertama, kendaraan yang mendapat hak utama harus dikawal oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau menggunakan isyarat lampu merah atau biru dan bunyi sirene. Kedua, petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan pengamanan jika mengetahui adanya pengguna jalan yang memiliki hak utama. Dan, ketiga, alat pemberi isyarat lalu lintas dan rambu lalu lintas tidak berlaku bagi kendaraan yang mendapatkan hak utama.
Oh ya, dalam pasal 59 disebutkan bahwa untuk kepentingan tertentu, kendaraan bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene. Sedangkan lampu isyarat terdiri atas warna merah, biru, dan kuning.

Dalam pasal yang sama ditegaskan bahwa lampu isyarat warna merah atau biru serta sirene berfungsi sebagai tanda kendaraan bermotor yang memiliki hak utama. Sedangkan lampu isyarat warna kuning berfungsi sebagai tanda peringatan kepada pengguna jalan lain.

Pada bagian lain disebutkan bahwa lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk kendaraan bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Lalu, lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk kendaraan bermotor tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, rescue, dan jenazah.
Sedangkan lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk kendaraan bermotor patroli jalan tol, pengawasan sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Bagi mereka yang coba-coba melanggar ketentuan tersebut, di dalam UU 22/2009, khususnya di pasal 287 ayat 4 ditegaskan bahwa orang yang melanggar ketentuan hak utama dan penggunaan alat peringatan dengan bunyi dan sinar bisa dipidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.
Nah, rasanya kian jelas mana yang penting dan genting. Lantas, kalau rombongan sepeda motor yang mau touring, masuk dalam kelompok mana? (edo rusyanto)

Bahas Agen Road Safety di HSFCI

20 April 2014

rsa di hsfci jakarta 2014
foto:dok hsfci

BANYAK kelompok pengguna sepeda motor di Indonesia yang memiliki pandangan soal pentingnya keselamatan di jalan (road safety). Salah satunya, Honda Street Fire Club Indonesia (HSFCI).

Kelompok para penunggang sepeda motor Honda CB 150 R ini sadar betul bahwa berkendara yang aman dan selamat perlu diimplementasikan. Safety riding alias keselamatan bersepeda motor bukan berhenti sebagai slogan. Karena itu, Road Safety Association (RSA) Indonesia merasa perlu hadir saat diundang dalam ajang Musyawarah Nasional (Munas) pertama mereka di Gedung Wahana, Gunung Sahari, Jakarta Utara, Sabtu, 19 April 2014 sore hingga malam hari. Munas dihadiri ratusan anggota HSCFI dari sekitar 38 kota di Indonesia.

“Bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran safety di dalam diri kita?” Tanya Dino, dari HSFCI Depok, Jawa Barat.
Dia bertanya begitu mengingat di masyarakat masih tumbuh perilaku bahwa berkendara jarak dekat tidak perlu pakai helm. Padahal, kata dia, kecelakaan bisa terjadi di manapun, jarak dekat maupun jarak jauh.

Terkait hal itu, RSA Indonesia mengajak Dino maupun anggota HSFCI yang kumpul sore itu untuk meningkatkan lagi pemahaman soal keselamatan. Masalah safety riding atau road safety bukan semata masalah kewajiban memenuhi aturan atau etika di masyarakat, melainkan harus menjadi sebuah kebutuhan. Saat kebutuhan itu melekat menjadi kebutuhan mendasar manusia lainnya, seperti makan dan tidur, para pengendara sepeda motor bakal berkendara yang aman dan selamat. Salah satunya, seberapapun jarak yang akan ditempuh, memakai helm adalah mutlak sebagai ikhtiar melindungi kepala dari risiko lebih fatal saat terjebak dalam insiden atau kecelakaan lalu lintas jalan.
Di sisi lain, Arman dari HSFCI Samarinda, Kalimantan Timur menyodorkan fakta bahwa di sekeliling kita banyak anak-anak di bawah umur berkendara di jalan raya. Atau, anak-anak yang berjejalan di satu sepeda motor dengan orang tua mereka. “Semua itu karena transportasi publiknya tidak ada. Sepeda motor menjadi alat transportasi satu-satunya. Kenapa pemerintah tidak menyediakan transportasi bagi warganya?” Sergah dia.

Anak di bawah umur jelas-jelas belum memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang merupakan persyaratan mutlak berkendara, termasuk bersepeda motor. Sedangkan orang tua yang memaksakan mengangkut penumpang lebih dari satu orang sehingga si kuda besi diisi tiga bahkan hingga empat dan lima orang, tentu memikul risiko yang tinggi. Keseimbangan saat berkendara bukan mustahil mengganggu konsentrasi yang membuka peluang lebih besar terjadinya kecelakaan di jalan.

Karena itu, RSA Indonesia memandang pentingnya pemerintah menyediakan moda transportasi public yang aman, nyaman, selamat, serta terjangkau secara akses dan finansial. Penggunaan angkutan umum diharapkan mampu mereduksi kasus kecelakaan lalu lintas jalan menjadi seminimal mungkin. Maklum, saat ini, keterlibatan kendaraan pribadi amat dominan dalam kecelakaan di Indonesia. Tahun 2013, dari 270-an kasus kecelakaan di jalan, lebih dari separuhnya melibatkan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Ironisnya, korban yang ditimbulkan mencapai sedikitnya 70-an jiwa tewas sia-sia per hari.

Sementara itu, Putra dari HSFCI Jakarta menyoroti soal konvoi kendaraan di jalan raya. Dia mengaku pernah mendapat pernyataan bahwa konvoi bisa mendapat prioritas di jalan. Terkait hal ini, RSA Indonesia perlu menyegarkan ingatan bahwa konvoi yang legal sesuai perundangan, yakni Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) adalah iring-iringan kendaraan yang mendapat pengawalan polisi lalu lintas. Bila sudah dikawal seperti itu priortas sudah di tangan. Hanya saja, persoalannya adalah bagaimana dengan etika berkendara di jalan raya. Bila ternyata mengusik nurani dan etika masyarakat, rasanya tidak elok meminta prioritas, apalagi ternyata tujuan konvoi bukan untuk urusan genting.

IKRAR HONDA BIKERS

Nah, soal genting dan penting menjadi sorotan. Prioritas semestinya untuk urusan yang genting seperti ambulans dan pemadam kebakaran. Jika hanya untuk kepentingan touring yang esensinya untuk bersenang-senang, rasanya menodai esensi keadaban sebagai manusia.

HSFCI merupakan bagian dari kelompok pesepeda motor yang dinaungi dealer utama Honda maupun PT Astra Honda Motor (AHM), memiliki “Ikrar Honda Bikers”. Ada lima ikrar tersebut yang esensi utamanya adalah menjadi pesepeda motor dan kelompok pesepeda motor yang menjunjung tinggi keadaban manusia Indonesia. Hal itu termasuk di dalamnya adalah mentaati aturan dan mengkampanyekan keselamatan di jalan kepada masyarakat.

Bila demiian, RSA Indonesia menilai bahwa HSFCI sudah memiliki bekal untuk menjadi agen keselamatan jalan. Menjadi kelompok yang menempatkan keselamatan sebagai sebuah kebutuhan sehari-hari, terutama saat berkendara di jalan raya.
Apakah ikrar itu bisa dilanggar? “Bisaaa” jawab anggota HSFCI. “Bisa tapi gak mau.” Ujar mereka lagi serempak.
Ya. Bisa tapi kalau tidak mau bakal tidak terwujud. Artinya, ikrar tersebut semestinya bisa diimpelementasikan. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga kelompok. (edo rusyanto)

Kok Kaca Spionnya Cuma Satu Yah?

19 April 2014

spion satu_edit

PERNAH bertemu pesepeda motor yang memakai kaca spion hanya satu? Biasanya yang “dihilangkan” adalah bagian kanan. Entah apa alasannya. Timbul pertanyaan, apakah tidak berbahaya berkendara di jalan umum hanya memakai satu kaca spion?

Kaca spion merupakan cermin untuk melihat ke arah belakang kendaraan secara jelas. Karena itu, bagi pesepeda motor amat membantu saat hendak berbelok, baik itu ke kanan, maupun ke kiri jalan. Bahkan, kaca spion juga membantu saat sang pesepeda motor hendak mendahului.

Lewat kaca spion sang pesepeda motor bisa memastikan bahwa arus kendaraan dari arah belakang cukup aman untuk berbelok. Bahkan, guna melengkapi kepastian informasi dari kaca spion, ada yang melengkapi dengan gerakan menoleh sesaat alias head check. Menoleh loh yah, bukan menengok hingga 180 derajat. Harapannya, saat hendak berbelok atau mendahului tidak terjadi benturan atau tabrak belakang. Atau, tidak terjadi serempetan sehingga membuka peluang terjadinya insiden yang memilukan.

Karena itu, tak heran jika kemudian regulasi yang ada mengatur adanya kaca spion sebanyak dua buah di sepeda motor. Satu di sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan. Fungsinya, ya itu tadi, ketika hendak berbelok ke kanan atau ke kiri bisa melihat arus kendaraan yang ada di belakang.

Saking pentingnya fungsi kaca spion, negara bahkan membuatkan Standard Nasional Indonesia (SNI) untuk kaca spion. Di sisi lain, regulasi kita, yakni Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan sepeda motor memiliki kaca spion. Unsur ini menjadi bagian pendukung dari kendaraan roda dua sehingga dapat dinyatakan laik jalan.

UU No 22/2009 tentang LLAJ juga menegaskan, bagi pelanggar aturan tersebut bisa kena semprit. Pilihannya ada dua, mau didenda maksimal Rp 250 ribu atau pidana kurungan maksimal satu bulan.

Bahkan, sanksi bisa lebih berat untuk kendaraan roda empat atau lebih. Sanksi bagi mereka bisa dua kali lipat dari sanksi bagi pesepeda motor.

Oh ya, dalam Peraturan Pemerintah No 55 tahun 2012 tentang Kendaraan ditegaskan bahwa jumlah kaca spion harus dua.
Nah, jika hanya satu bisa ditafsirkan melangar aturan yang ada. Namun, terlepas dari hal itu, rasanya amat riskan jika bersepeda motor hanya memakai satu kaca spion. Bisa jadi mengundang sang petaka jalan raya untuk semakin dekat bagi sang penguna jalan. (edo rusyanto)

Laris Manis R15 dan Fenomena Motor Sport Yamaha

18 April 2014

r15 yamaha sport

MANAJEMEN Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) mengklaim motor sport Yamaha YZF-R15 laris manis di Indonesia. Sebanyak 1.500 unit motor sport yang ditawarkan via online itu ludes dalam waktu 23 jam pada Selasa, 15 Maret 2014. Wow!

”Harga R15 Rp 28 juta dan uang muka Rp 6 juta cocok dengan kantong penduduk kelas menengah, tambah lagi dengan produk ini yang memang sangat dinantikan, membuat konsumen tidak berpikir panjang untuk membelinya,” ujar Eko Prabowo, general manager Marketing Communication & Community Development Yamaha Indonesia, dalam publikasinya di Jakarta, baru-baru ini.

Inikah strategi anyar Yamaha di Indonesia dalam mempertahankan hegemoni di segmen motor sport?
Yamaha Indonesia yang dikenal sebagai pemain nomor wahid di segmen motor sport versi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), tentu tak ingin kebobolan di segmen tersebut. Pelajaran berharga sudah dienyam di segmen motor skutik. Ketika Yamaha Indonesia lengah, segmen yang semula digenggamnya, berpindah tangan ke Honda.

Sepanjang Januari-Maret 2014, Yamaha Indonesia memang masih mengantongi pangsa pasar terbesar dengan torehan 45,47%. Raihan tersebut semakin tipis dengan sang kompetitor utama, yakni PT Astra Honda Motor (AHM) alias Honda. Maklum, per akhir Maret 2014, Honda sudah mengantongi 43,38%. Jarak semakin dekat. Mengingat pada periode sama 2013, rentang diantara keduanya cukup lebar. Saat itu, Yamaha mengantongi 53,37%, sedangkan Honda sebanyak 33,75%.

Boleh jadi pergerakan pangsa pasar Honda ditopang oleh bejibunnya peluru yang digelontorkan di pasar Indonesia. Pada 2014, setidaknya Honda memiliki CBR 150, CBR 250, Tiger, Honda New Megapro, CB150 R, dan Verza. Sedangkan Yamaha mengandalkan, New Vixion, Byson, dan Scorpio Z.

Boleh jadi juga ada aspek lain, misalnya, mindset konsumen yang menganggap sepeda motor sport Yamaha lebih ciamik. Tapi, ini tentu amat subyektif. Tergantung selera dan daya beli konsumen.

Yamaha tampaknya tak bisa duduk tenang di segmen motor sport. Sekalipun raihan pangsa pasarnya masih moncer, dari sisi volume penjualan justeru terjadi penyusutan. Simak saja data Aisi per akhir Maret 2014. Yamaha harus puas mencatat penurunan volume penjualan sekitar 2,96%. Sebaliknya, sang kompetitor, yakni Honda, justeru mendongkrak penjualannya hingga 46,42%.

sport jan mar 13 14

Di tengah itu semua, konsumen di Indonesia tampaknya mulai terus melirik segmen motor sport. Setidaknya jika kita melihat data Aisi yang menyebutkan bahwa segmen motor sport kini sudah mencapai 14,37% dari total penjualan motor tiga bulan pertama 2014 yang sekitar 1,99 juta unit. Coba bandingkan dengan torehan periode sama 2013 yang sekitar 12,74%. Bahkan, volume penjualannya pun ikut meningkat, yakni sekitar 13,91% menjadi sekitar 286 ribuan motor. Artinya, setiap hari rata-rata terjual 3.100-an motor sport.

Sinyalemen daya beli masyarakat yang kian meningkat seperti dilontarkan Eko Prabowo boleh jadi amat masuk akal. Saat Yamaha menjual 1.500 unit YZF-R15 dalam waktu singkat, padahal harga per unitnya Rp 28 juta (on the road Jakarta dan sekitarnya), boleh jadi cerminan membaiknya daya beli masyarakat Indonesia. Kelas menengah terus bertumbuh.

Namun, apa dampaknya kehadiran YZF-R15 terhadap penguasaan Yamaha di segmen motor sport? Kita hanya bisa menerka-nerka. Hanya konsumen yang bisa menjawab. (edo rusyanto)

Secuil Pengurusan SIM yang Hilang

17 April 2014

sim keliling

AKHIRNYA kolega saya bisa tersenyum lega. Kini dia sudah kembali mengantongi surat izin mengemudi (SIM). Sebelumnya, dia panik ketika kehilangan surat mandat dari negara itu.

“Dompet gue hilang, nah SIM A dan C ada di dompet itu. Mau gak mau harus mengurus ulang, daripada kena tilang,” seloroh kolega saya yang sehari-hari menunggang sepeda motor skutik, di Jakarta, baru-baru ini.

Perbincangan di sela makan siang itu mulai agak seru ketika dia menceritakan bagaimana proses mengurus SIM yang hilang tersebut. Kolega saya bercerita.

Suasana di kantor Samsat di Daan Mogot, Jakarta Barat sekarang ini jauh berbeda dengan akhir tahun 1990-an. Dulu dia mengaku ramai ditawari para calo pembuat SIM. Penawaran sudah ada sejak mulai masuk ke areal parkir hingga proses pemotretan.

“Nah, sekarang ini luar biasa. Pengurusannya cepat dan calo yang bergentayangan cuma ada di areal parkir,” katanya.
Proses pengurusan SIM yang hilang di kantor Samsat, Jakarta Barat dimulai dengan tes kesehatan. Biaya untuk urusan yang satu ini sebesar Rp 25 ribu. Lalu, membeli formulir untuk SIM yang dituju. Biaya formulir untuk SIM C sebesar Rp 75 ribu dan SIM A Rp 80 ribu. Biaya baru dikeluarkan lagi saat mengambil kartu asuransi Bhayangkara yang sebesar Rp 30 ribu. “Totalnya gue keluar Rp 240 ribu, udah gitu lancar banget pengurusannya. Yang ngeri, calo nawarin Rp 500 ribu buat ngurus dua SIM, gue gak mau, mahal banget,” kata pria yang tinggal di kawasan Bekasi itu.

Oh ya, katanya, ketika SIM nya hilang, dia melapor ke kantor polisi di area perkiraan hilangnya surat penting tersebut. Setelah membuat surat keterangan hilang, barulah dia mengurus SIM ke kantor Samsat, di Jakarta Barat. “Ngurus surat keterangan di kantor polisi juga gratis, cuma gue ngasih uang buat beli rokok aja,” celotehnya.

Ya. SIM menjadi vital bagi para pengguna kendaraan bermotor. Surat itu merupakan bukti kompetensi dari seorang pengendara. Sang pemegang SIM dianggap memiliki kemampuan menunggang sepeda motor atau mengemudi mobil. Setidaknya ada beberapa tes yang harus dilewati bagi calon penerima SIM, yakni tes kesehatan, tes tertulis, tes psikologi, dan tes praktik. Entah apakah langkah-langkah itu sudah diterapkan sepenuhnya oleh sang penerbit SIM.

Pastinya, SIM menjadi lebih berharga ketika proses penerbitannya pun berbasis pada kompetensi sang pengendara. Pemberian SIM yang keliru bukan mustahil menambah potensi terjadinya kecelakaan. Tahun 2013, setiap hari kita disuguhi tragedi 270-an kasus kecelakaan yang berbuntut tewasnya nyaris tujuh puluh jiwa per hari. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.109 pengikut lainnya.