Skip to content

Jangan Tiru Yang Keliru (Lagi)

3 September 2014

Jangan Tiru Yang keliru_25_kopcau_1

SUASANA kedai roti bakar itu kian ramai. Para tamu datang silih berganti. Kian malam, justru tamu yang datang kian ramai. Barangkali karena malam akhir pekan sehingga banyak warga Jakarta yang merelaksasi dirinya dengan berkongkow ria.
Di tiap meja yang ada masing-masing kelompok asyik bersenda gurau. Sambil menikmati kudapan roti bakar dan pisang bakar dengan ditemani coklat panas dan teh manis hangat membuat suasan menjadi lebih hangat. Sesekali terdengar gelak tawa. Semua seperti ingin melepaskan rasa penat setelah sepanjang pekan bergulat dengan rutinitas, termasuk menyumbang kemacetan lalu lintas jalan Jakarta.

Mereka yang tampak asyik mahsyuk dengan perbincangan adalah di meja yang saya tempati.Di meja ini tampak sejumlah para anggota Komunitas Kopdar Pengicau (Kopcau) asyik mengulas beragam masalah keselamatan di jalan (road safety). Komunitas yang dikenal dengan poster digital-nya ini asyik berbincang sambil menikmati kudapan khas Roti Bakar Eddy, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Topik perbincangan pun mengerucut pada perilaku meniru yang kerap terjadi di jalan raya. Maksudnya, ketika ada satu pengendara yang menerobos lampu merah, maka bakal ada yang mengekor. Sang pengekor ikutan menerobos lampu merah.
Para peniru itu barangkali beranggapan bahwa jika beramai-ramai tidak akan ditindak oleh petugas. Atau, bila beramai-ramai melanggar aturan maka sang petugas akan kebingungan untuk menindak yang mana. Tak heran jika kita melihat puluhan pengendara yang ramai-ramai merangsek garis setop, zebra cross, jalur busway, hingga melawan arus.
Perbincangan Kopcau pun mencuatkan fakta lain, yakni bagaimana jika petugas yang justru melanggar aturan. Munculah pertanyaan akankah perilaku keliru itu akan ditiru oleh pengguna jalan yang lainnya?

“Bisa jadi karena menjadi pembenaran bahwa petugas aja melanggar,” sergah Yudi, salah seorang anggota Kopcau yang tinggal di Bogor, Jawa Barat.

Pembenaran atas kekeliruan menjadi wabah yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan berlalu lintas jalan. Bahkan, bukan mustahil menyulut insiden di jalan. Entah itu gesekan horizontal maupun insiden kecelakaan lalu lintas jalan. Ketika egoisme dan mentalitas jalan pintas menjadi panglima, rasa patuh pada aturan menjadi kian terkikis. Ketika ada oknum petugas yang mempertontonkan perilaku keliru, ketika itulah buru-buru para peniru membuat pembenaran.

Melihat gejala seperti itu akhirnya Kopcau merilis poster digital dengan topic “Jangan tiru yang keliru”. Lewat poster itu ajakan untuk berlalu lintas jalan yang aman dan selamat digaungkan oleh komunitas yang berdiri pada 26 Desember 2012 itu. Komunitas ini berharap lalu lintas jalan menjadi lebih humanis. Sebuah lalu lintas jalan yang minim fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan. Kita semua sudah tahu bahwa tiap hari, Indonesia harus kehilangan 70-an anak bangsanya akibat keganasan kecelakaan di jalan. Yuk, jangan tiru yang keliru. (edo rusyanto)

Kecelakaan Bus Maut di Dunia Tahun 2014

2 September 2014

bus laka thailand_tempo

DUNIA terbelalak ketika kabar tersiar sebuah bus tingkat (double-decker) masuk jurang di Thailand. Kejadian pada 24 Maret 2014 malam itu merenggut setidaknya 30 jiwa dan membuat dua puluhan orang lainnya luka-luka.

Bak tak kenal puas, sang jagal jalan raya pun mengejutkan dunia ketika kurang dari sebulan kasus di Thailand, sebuah bus merenggut puluhan jiwa manusia. Kali ini tragedi bermula sebuah bus berkecepatan tinggi menabrak truk trailer. Peristiwa kecelakaan lalu lintas jalan di Pakistan pada 20 April 2014 itu menewaskan 42 orang.

Belum lagi reda, empat bulan kemudian sebuah bus pariwisata mengalami kecelakaan maut. Kali ini, peristiwa di Mesir pada 22 Agustus 2014 tersebut merenggut sebanyak 38 jiwa. Dunia pun berkabung.

Ya. Itulah tiga dari 17 kasus kecelakaan bus dan minibus maut yang terjadi di luar Indonesia. Kejadian sepanjang Januari-Agustus 2014 itu membuka mata kita semua bahwa kecelakaan tak mengenal wilayah. Sang jagal jalan raya bisa hadir di mana saja, di negeri manapun dengan kondisi sosial ekonomi apa pun.

Pada rentang waktu itu kecelakaan terjadi tak hanya di negara berkembang seperti Indonesia, tapi juga terjadi di negara maju sekelas Jerman dan Amerika Serikat. Di Indonesia, kecelakaan maut pada 2014 yang paling menonjol adalah kecelakaan bus pariwisata yang mengangkut siswa sekolah lanjutan tingkat atas di Subang, Jawa Barat. Dalam kecelakaan yang terjadi pada 17 Juni 2014 setidaknya sembilan jiwa melayang.

Kecelakaan bus maut di dunia tak mengenal usia korban. Banyak dari belasan kasus tersebut yang merenggut jiwa pelajar, bahkan anak-anak. Tengok saja kecelakaan yang menimpa bus di India pada 24 Juli 2014, sebanyak 11 anak-anak tewas mengenaskan akibat bus tertabrak kereta. Bahkan, saat kecelakaan bus di Kolombia pada 18 Mei 2014, setidaknya 31 anak sekolah menghembuskan nafas akibat bus yang mereka tumpangi meledak dan terbakar. Kecelakaan tak pernah mengenal batas usia sang korban.

bus dunia jan ags 2014_grafis

Ironisnya, kecelakaan bus maut di dunia tak semata dipicu oleh kondisi jalan ataupun aspek eksternal lainnya. Faktor pengemudi yang ugal-ugalan pun diduga menjadi pemicu utama. Sebut saja misalnya kasus kecelakaan di Jerman pada 19 Juli 2014. Kecelakaan yang merenggut sembilan jiwa pelajar itu diduga lantaran salah satu bus melanggar batas tengah jalan. Atau, seperti kasus di Pakistan yang merenggut 16 jiwa pada 27 Mei 2014. Dalam kasus kecelakaan tersebut sang sopir diduga tertidur ketika mengemudikan bus. Ironis.

Apa pun pemicunya dan dimana pun kejadiannya, kecelakaan bus maut ini memberi pelajaran amat berharga bagi kita semua. Tak hanya bagi penyewa bus, jika itu bus pariwisata, tapi juga tentu bagi perusahaan bus terkait. Khusus bagi perusahaan bus, fakta-fakta di atas mengingatkan soal pentingnya manajemen keselamatan jalan. Mulai dari pemeriksaan kelaikan jalan kendaraan hingga soal manajemen beroperasinya sang pengemudi. Sedangkan bagi pengemudi tentu saja amat berharap pelajaran yang bia dipetik. Selain berisiko mengancam keselamatan jiwa, bukan mustahil berujung di penjara. Kasus di Kolombia membeberkan bagaimana sang pengemudi divonis penjara 60 tahun. (edo rusyanto)

Kata Profesor Danang Soal Kenaikan Harga BBM

1 September 2014

jokowi dan bbm

WAH belakangan ini ramai sekali pemberitaan mengenai perlunya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan. Alasannya, subsidi selama ini tidak tepat sasaran dan kalau gak dinaikkan beban APBN tahun 2015 bakal tambah berat. Kabarnya, subsidi untuk BBM bakal mencapai Rp 291 triliun pada tahun depan. Duh.

Lantaran pingin tahu sedikit soal kenaikan harga BBM dan imbasnya pada transportasi, saya sempatkan diri berbincang-bincang via surel dengan ahli transportasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Profesor Doktor Danang Parikesit, Sabtu, 30 Agustus 2014.

Doktor Transportation Engineering, Technische lulusan Universitat Wien, Austria ini pun bercerita bahwa kenaikan harga BBM semestinya di bawah 30%. Pria kelahiran Yogyakarta 3 Juni 1965 ini juga menyarankan agar publik bermigrasi ke angkutan masal dan pemerintah menyederhanakan perizinan di sektor transportasi.

Berikut ini petikan bincang-bincang via surel yang sebagian besar juga saya tuangkan dalam koran ekonomi Investor Daily, edisi Senin, 1 September 2014.

Bagaimana solusi untuk pemangkasan anggaran subsidi BBM?

Kalau kita mengambil asumsi kelembaman dampak kenaikan harga BBM atau pada harga berapa pengaruh harga BBM tidak memberikan dampak terhadap persepsi publik, maka kenaikan harga BBM haruslah dibawah 30% dari harga saat ini. Artinya kita akan bicara harga BBM subsidi akan menjadi sekitar Rp. 8.000 – 9.000.

Berapa besar pemangkasan subsidi yang bisa menimbulkan gejolak di masyarakat dan tidak melonjakkan inflasi?

Kalau secara teoretik, kenaikan psikologis yang tidak memberikan dampak signifikan adalah sebesar kurang dari 30%. Kenaikan diatas 30% secara psikologis akan menyebabkan perspektif negatif. Kalau secara inflasi, saya menyarankan untuk segera melakukan migrasi ke angkutan masal dan menyederhanakan perijinan di sektor transportasi sehingga biaya logistik berkurang dan harga komoditi terjaga

Jika pemangkasan subsidi kecil atau BBM bersubsidi naik hanya Rp 1.000 per liter, tidak akan terlalu berdampak untuk menaikkan dana infrastruktur, karena paling tidak seperempat penghematannya perlu digunakan untuk dana program Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat?

Ini yang menurut saya menjadi penting, karena BBM adalah kebutuhan sektor transportasi. Sehingga, harus ada yang dikembalikan ke program transportasi publik. Dengan demikian masyarakat akan melihat bahwa pemerintah mengenali bahwa kebijakan transportasi dan kebijakan energi merupakan satu paket kebijakan yang harus dilakukan secara terintegrasi.

Lalu masih perlukan dibarengi pula dengan pelaksanaan RFID, konversi BBM ke gas, dan mandatori biodiesel, apa keuntungannya?

danang edo tys edit

Sarapan pagi bareng pengamat transportasi Darmaningtyas dan profesor Danang Parikesit di Padang, Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Kebijakan RFID perlu dilihat kembali mengapa tidak ada kelanjutannya. Menurut saya kebijakan ini sangat terburu-buru sehingga terlihat hanya fokus pada program pengadaan teknologi tanpa diketahui kemanfaatannya yang secara luas. Prospek yang lebih besar sebenarnya ada pada konversi BBM ke BBG dan fuel blending policy. Kebijakan ini secara bersama-sama menurunkan kebutuhan subsidi dan pada saat yang sama mendorong industri dalam negeri. Kebijakan BBG terutama untuk transportasi perkotaan dan kebijakan dual fuel truk antar kota akan juga memberikan dampak lingkungan, termasuk udara bersih yang signifikan.


Saat ini berapa harga pasar pemium vs harga subsidi per liter dan harga pasar solar vs harga subsidi, berapa masing-masing jatah kiloliter solar dan premium tahun 2014?

Jatah BBM bersubsidi adalah 46 juta KL. Namun persoalannya adalah fuel mix untuk 46 juta KL ini apakah BBM atau juga termasuk biofuel tidaklah dilaksanakan secara konsisten.

Nah, dari perbincangan dengan peraih meraih gelar Master (MSc.(Eng)) dari The Institute for Transport Studies (ITS) di Leeds University, UK, tahun 1990 ini saya berkesimpulan, pentingnya angkutan umum massal. Tentu saja angkutan umum massal yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, terjangkau, dan ramah lingkungan. Semoga ke depan angkutan yang seperti itu bisa terwujud sehingga diharapkan juga dapat mengurangi kecelakaan lalu lintas jalan yang saat ini setidaknya merenggut 72 nyawa setiap hari.

Ngomong-ngomong, kapan angkutan umum massal seperti itu dapat terwujud di seluruh kota di Indonesia? (edo rusyanto)

Hijaber Tetap Cantik kok Pake Helm

31 Agustus 2014

citra yvci di motomaxx
Citra di atas motor

TREN muslimah memakai jilbab terus meluas. Kita dengan mudah menjumpainya di mana-mana. Di kampus, perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga di jalan raya. Para hijaber tampil mempesona dan aura kecantikannya tetap memancar.

Di sisi lain, tak jarang kita menjumpai muslimah berhijab yang wira-wiri bersepeda motor tanpa memakai helm pelindung kepala. Entah apa alasan para hijaber itu tak melindungi kepalanya dari risiko benturan jika terjebak insiden di jalan.

“Pake helm penting dan gak masalah kok sekalipun memakai jilbab,” ujar Citra Ayu Lestari, perempuan pesepeda motor saat berbincang dengan saya, Sabtu, 30 Agustus 2014.

Perempuan penunggang sepeda motor Yamaha Vixion ini mengaku tetap nyaman memakai helm. Tapi, katanya, terpenting adalah bagaimana hijaber ikhtiar melindungi kepalanya jika kecelakaan di jalan raya.

Sementara itu, Dessy, hijaber yang juga menunggang sepeda motor mengaku bahwa kenyamanan berhijab tak terganggu sekalipun memakai helm saat bersepeda motor. “Buat aku sih sama aja, kenyamanan nggak berkurang saat memakai helm,” sergahnya, Sabtu sore.

Dia wanti-wanti, buat hijaber yang naik motor gunakan helm dengan baik dan benar. Karena banyak hijaber yang memakai helm cuma asal nempel di kepala. Selain itu, hindari pemakaian jepit rambut saat menggunakan helm karena tekanan dari helm ke jepit rambut bikin peredaran darah di kepala gak lancar. Ini salah satu yang bisa bikin ggak nyaman. “Bagi saya, pake helm saat naik motor karena kebutuhan untuk keselamatan diri,” papar Dessy yang menunggang sepeda motor skutik.

Hal senada dilontarkan oleh Citra yang doyan touring naik sepeda motor. Menurut dia, memakai helm adalah wajib baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Helm sangat bermanfaat untuk mengurangi fatalitas saat terjadi benturan dengan benda keras jika terjadi kecelakaan.

Memakai helm membuat Citra merasa aman dan nyaman kemanapun bepergian dengan sepeda motor. “Saran saya buat hijabers, gunakanlah helm saat berkendara, gunakan hijab yang simple aja biar ggak terlalu ribet kalo pake helm. Yakin deh dengan pakai helm, gak akan mengurangi kecantikan kita girls,” saran Citra.

Luka Kepala

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa luka di kepala dan cedera leher merupakan penyebab utama dari kecacatan dan kematian pesepeda motor ketika terjebak dalam kecelakaan di jalan. Di Eropa, cedera kepala berkontribusi sekitar75% terhadap kematian para pesepeda motor. Sedangkan di negara-negara tertinggal dan berkembang, diperkirakan hingga 88%.

hijab pake helm

Ya. Helm bagi pesepeda motor bermanfaat untuk mengurangi risiko saat bersepeda motor. Menurut WHO, memakai helm standard dengan kualitas baik bisa mengurangi risiko kematian sebesar 40%. Selain itu, bisa mereduksi risiko cedera serius lebih dari 70%.

WHO dalam laporannya yang bertajuk ‘Global Status Report on Road Safety 2013’ juga mengatakan, setidaknya sebanyak 90 negara yang mencakup 77% populasi dunia, memiliki regulasi terkait helm bagi pemotor, termasuk bagi para pebalap. Salah satunya adalah Indonesia.

Negara kita mengatur soal helm dalam Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam UU sebelumnya, yakni UU No 14 tahun 1992 tentang LLAJ, soal helm juga sudah diatur. Bedanya, jika dalam UU tahun 1992 sanksi denda bagi pemotor yang tidak memakai helm didenda Rp 1 juta, kini dalam UU 22/2009 denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Bedanya yang lain adalah, UU 22/2009 mewajibkan pengendara dan penumpang sama-sama pakai helm dengan standar nasional Indonesia (SNI). Helm yang dimaksud memiliki dua jenis, yakni pertama helm menutup seluruh wajah (full face). Jenis kedua adalah helm yang bagian mukanya terbuka (open face).

Nah, sekalipun ada aturan dengan sanksi cukup berat, dendanya gede loh, tetap saja ada yang tidak memakai helm. Ada beberapa alasan yang saya temui. Mulai dari alasan tidak punya helm, hanya bermotor jarak dekat, hingga tidak ada yang menilang.

Pelanggaran masih terjadi. Bahkan, pada 2011 kasus pelanggaran soal helm melonjak 58,8% dibandingkan 2010.

citra di cbr 250

Citra di atas motor (foto koleksi Citra)

Tahun 2011, polisi menindak sekitar 1.300-an kasus setiap harinya. Pelanggaran mengenai helm saat bersepeda motor menjadi jenis pelanggaran keempat terbesar yang dilakukan para pemotor di Indonesia.
Yuk memakai helm, sebagai salah satu ikhtiar mengurangi fatalitas yang lebih buruk ketika terjebak insiden di jalan. (edo rusyanto)

Foto Citra nyomot dari sini

Ini yang Bisa Bikin Gak Konsentrasi Bawa Motor

30 Agustus 2014

poster_konsentrasi_kopcau7

BERITA duka tentang pesepeda motor menabrak truk yang sedang parkir di Jakarta sontak mengagetkan banyak orang. Tabrakan terjadi kemungkinan karena hilangnya konsentrasi lantaran pesepeda motor beraktifitas lain saat menunggang kuda besi.

Urusan konsentrasi menjadi mutlak ketika berkendara, terlebih mengendarai sepeda motor yang memang secara alamiah lebih rentan kecelakaan dibandingkan mobil. Maksudnya, sepeda motor yang beroda dua lebih mudah terjerembab ketimbang mobil yang beroda empat atau lebih. Sedikit saja konsentrasi terganggu, risiko bersepeda motor jauh lebih besar.

Lantas, apa saja yang bisa mengganggu konsentrasi saat bersepeda motor? Beberapa hal berikut ini bisa jadi merupakan hal-hal yang mengganggu konsentrasi.
Bila dibagi dalam kelompok besar, ada dua hal yang bisa mengganggu konsentrasi, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Beberapa faktor eksternal yang mengganggu konsentrasi berkendara di antaranya;

1. Obyek bergerak yang mencakup pergerakan orang maupun hewan. Misal, tampilan orang yang menarik perhatian bisa mengecoh konsentrasi pengendara.
2. Obyek tidak bergerak. Contohnya, reklame atau papan iklan baik yang konservatif maupun yang memakai layar tv.

Sedangkan beberapa faktor internal pengendara yang mengganggu konsentrasi di antaranya;
1. Melamun
2. Ngantuk
3. Lelah
4. Sakit
5. Mabuk
6. Bercanda atau bercengkerama dengan penumpang
7. Menelepon/SMS

faktor manusia dua terbesar 2013

Bisa jadi ada hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi pesepeda motor ketika menunggang si kuda besinya. Baik itu faktor eksternal maupun internal pengendara. Apa pun itu bila ternyata merusak konsentrasi sebaiknya sebisa mungkin dihindari mengingat kelengahan merupakan aspek yang bisa memicu kecelakaan lalu lintas jalan.
Data Korlantas Mabes Polri menyebutkan, pada 2013, setiap hari ada 81 kecelakaan yang dipicu oleh aspek lengah. Tahun itu, aspek lengah menjadi kontributor kedua terbesar di faktor manusia, yakni menyumbang sekitar 32,2%. Sedangkan jika dibandingkan dengan seluruh faktor dan aspek yang memicu kecelakaan, lengah menyumbang sekitar 29% terhadap terjadinya kasus kecelakaan di Indonesia.

Lantas, bagaimana supaya tetap menjaga konsentrasi saat bersepeda motor?

Kata kuncinya ada pada fokus dan waspada. Fokus saat bersepeda motor berarti sang pengendara tidak terusik oleh kegiatan lain yang bisa mengecoh konsentrasi. Maklum, kecelakaan bisa terjadi dalam hitungan dua atau tiga detik. Brakkk!!!

Guna menjaga fokus dan kewaspadaan, dan tentu saja menjaga konsentrasi, bila di faktor internal pengendara harus dipastikan ketika menunggang kuda besi dalam keadaan bugar. Tubuh yang bugar lebih memungkinkan untuk berkonsentrasi. Tinggal selanjutnya setelah berkonsentrasi adalah menjaga perilaku untuk tetap tertib lewat sudi toleran dan mengikuti aturan yang ada. Setuju?

Oh ya, keterlibatan sepeda motor di dalam kecelakaan lalu lintas jalan masih amat tinggi. Keterlibatan sepeda motor masih berada di kisaran 60-70% dari total kendaraan. Sedangkan dari aspek pelaku maupun korban kecelakaan, pesepeda motor juga masih menempati posisi dominan. (edo rusyanto)

Duh, Pak Sopir Kok Merokok Sambil Nyetir

29 Agustus 2014

angkot merah jakarta 2014

INSIDEN kecelakaan nyaris terjadi. Sebuah angkutan kota (angkot) hampir saja menyerempet pesepeda motor di kawasan pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.

Pagi menjelang siang lalu lintas jalan cukup ramai di kawasan perdagangan Kramat Jati yang dihubungkan oleh Jl Raya Bogor. Beragam jenis kendaraan tumpah ruah, mulai dari kendaraan pribadi hingga bus Trans Jakarta. Mereka seperti berpacu dengan waktu sehingga ketika ada ketersendatan akibat kendaraan berputar arah atau orang menyeberang tak jarang terdengar suara klakson bersahutan.

Tiba-tiba ada angkot berwarna merah yang jalannya agak tak terkendali. Posisi semula yang harus melaju lurus ke depan, menyerong dengan tiba-tiba. Ironisnya, di sisi kanan sanng angkot ada beberapa pesepeda motor. Satu dari tiga pesepeda motor posisinya nyaris berciuman akibat gerakan menyerong tiba-tiba dari angkot tadi. Sontak terdengar sumpah serapah dari pesepeda motor yang nyaris bersenggolan tadi. Posisi saya ada di belakang pesepeda tersebut.

Tak ada kata maaf keluar dari mulut sang sopir angkot. Kejadian itu seakan menjadi lumrah. Risiko di jalan raya. Sang sopir justru terlihat mendelik sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Ternyata, sang sopir mengemudi sambil merokok.

Jangan-jangan, gerakan tiba-tiba tadi lantaran sang sopir mengemudi sambil merokok.

Seingat saya ada Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 yang melarang orang merokok di dalam angkutan umum. Dan, rasanya larangan itu juga berlaku bagi sang pengemudi. Terlebih, bukan mustahil aktifitas merokok yang dilakukan pengemudi bisa mengganggu konsentrasi saat mengendarai mobil. Ujung-ujungnya, bisa saja ikut memicu terjadinya insiden di jalan.

Ironisnya, kadang kita menjumpai pesepeda motor yang melaju sambil mengisap sebatang rokok. Adegan itu sering terlihat ketika pesepeda motor sedang menanti lampu merah. Maksudnya, ada yang baru menyalakan rokok saat menunggu lampu berganti warna hijau. Namun, saat lampu menyala hijau, aktifitas merokok masih berlanjut. Dahsyat. (edo rusyanto)

Horor di Perlintasan Kereta

28 Agustus 2014

kereta perlintasan pasming 2014

BANYAK fakta horor di perlintasan kereta. Horor atau rasa mencekam muncul lewat ulah spekulasi menerobos perlintasan. Lalu, kita pun disuguhi kabar dari berbagai daerah di Indonesia tentang tragedi anak manusia yang berujung pada nestapa. Kecelakaan tabrakan kereta dengan kendaraan bermotor.

Kisah mencekam paling menonjol tahun 2013 datang dari perlintasan kereta di Bintaro, Jakarta Selatan. Sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) tabrakan dengan kereta pada Senin, 9 Desember 2013 pagi. Laman viva.vo.id mengutip Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, truk berada pada satu lintasan sebidang. Lintasan kereta terhalang truk tangki. Tujuh korban jiwa pun bergelimpangan. Lokasi tabrakan tak jauh dari tragedi Bintaro tahun 1980-an, yakni bertabrakannya dua kereta api yang merenggut banyak nyawa penumpang kereta.

Horor di perlintasan kereta muncul diawali oleh tindakan spekulatif. Maksudnya, rasa mencekam mulai terasa saat terjadi aksi penerobosan perlintasan. Spekulasi terjadi karena sang penerobos mengira-ngira bahwa si ular besi jaraknya masih jauh sehingga merasa masih aman untuk melintas. Padahal, bukan mustahil terjadi hal yang tidak diinginkan.

Adegan mencekam dibuka dengan suara sinyal yang memberitahukan bahwa sesaat lagi akan melintas kereta. Lalu, palang perlintasan pun perlahann turun. Nah, sebelum palang menutup dengan sempurna itulah adegan menyedot adrenalin suka muncul, yakni orang menerobos perlintasan. Bahkan, saya pernah menyaksikan pintu yang sudah menutup pun diterobos lewat ujung palang yang ada celahnya. Horor.

Oh ya, kecelakaan lalu lintas jalan di perlintasan kereta di wilayah Polda Metro Jaya pada 2013 tercatat merenggut 15 jiwa. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, angka itu lebih rendah 25% dibandingkan setahun sebelumnya yang sebanyak 20 jiwa. Sedangkan kasus kecelakaannya juga menurun 6,45% menjadi 29 kejadian.

Regulasi yang Berlaku

Saking seriusnya soal kecelakaan di perlintasan kereta, Negara mengaturnya di dalam Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Dalam pasal 114 UU tersebut ditegaskan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain. Selain itu, mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada Kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel.

Bagi para pelanggar, dalam pasal 296 digariskan sanksi yang bakal dijatuhkan, yakni penjara paling lama tiga bulan atau denda maksimal Rp 750 ribu.

Bagi kita para pemotor, cara ampuh untuk mereduksi potensi kecelakaan hanyalah dengan mempertebal rasa sabar. Menunggu hingga semua kereta yang bakal melintas sudah lewat semua. Tak perlu menerabas palang perlintasan ketimbang apes dicium sang ular besi.

Di sisi lain, pemerintah selaku penanggung jawab keselamatan pengguna jalan, wajib menyediakan palang perlintasan. termasuk persinyalan dan petugas yang bisa mengingatkan agar pengguna jalan lebih waspada. Setuju? (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.371 pengikut lainnya.