Skip to content

Ditilang, Mengucapkan Terimakasih

1 November 2014

polantas cawang

LALU lintas jalan siang itu macet total. Persimpangan jalan karut marut. Beragam jenis kendaraan terjebak dalam kesemrawutan. Butuh waktu belasan menit untuk akhirnya mencair, walaupun arus kendaraan tetap padat.

Selepas dari persimpangan arus kendaraan mengalir. Situasi ramai lancar dengan terik mentari yang cukup memanggang kulit penunggang sepeda motor. Maklum, cuaca di Jakarta seakan sulit ditebak. Sudah gak zaman lagi pada bulan yang berakhiran “ber”, seperti September dan Oktober, mesti hujan sering turun seperti zaman saya SD tahun 1970-an. Kini kondisinya berubah, barangkali karena tingginya pemanasan global.

Arus kendaraan di jalan arteri atau jalan biasa terlihat padat merayap. Namun, di sisi lain busway terlihat lengang. Kelengangan di busway atau jalur khusus untuk bus Trans Jakarta pun tak berlangsung lama. Puluhan, bahkan ratusan kendaraan pribadi wira-wiri memakainya sebagai alternatif atas kemacetan di jalur biasa. Terlihat ada sepeda motor, mobil pribadi, hingga mobil angkutan barang ramai-ramai menjarah busway. Potret pragmatisnya masyarakat kota.

Nah, situasi menjadi lain ketika menjelang ujung busway yang mendekati perempatan jalan. Tampak sejumlah polisi lalu lintas jalan menghentikan kendaraan yang masuk busway. Mereka tampak menilang kendaraan nakal tersebut. Kami yang antre di jalur biasa hanya senyum kecut melihat aksi sejumlah kendaraan perangsek busway ada yang nekat “melompat” dari jalur tersebut. Mereka tergopoh-gopoh melintasi median jalan agar tidak ditilang.

Saya dan sejumlah pengendara lain tersendat menjelang perempatan jalan dan sejajar dengan mereka yang ditindak petugas tersebut. Hingga suatu ketika ada pengendara motor yang tampil agak berbeda.

“Selamat siang. Anda tahu kesalahannya?” kata petugas kepada pesepeda motor yang merampas busway.

“Siang pak. Saya tahu. Salah masuk ke busway,” kata sang pesepeda motor.

“Coba lihat surat-suratnya, SIM dan STNK.”

“Ini pak.”

Sang petugas pun menulis nama dan nomor kendaraan sang pelanggar di kertas tilang berwarna merah.

“Ini surat tilangnya,” kata sang petugas.

“Terimakasih pak. Bapak sudah menyelematkan saya dari risiko kecelakaan,” sergah sang pesepeda motor.

Sang petugas tampak terpana dengan ucapan sang pesepeda motor. Dan, hampir semua yang ada di dekat pesepeda motor tadi juga terlihat terbengong-bengong. Mungkin bingung dengan ucapan sang pesepeda motor yang mengucapkan terimakasih saat ditilang.

“Dengan bapak menilang saya, bapak sudah menyelematkan saya agar tidak kecelakaan. Saya jadi ingat bahwa melanggar aturan bisa membuka terjadinya kecelakaan,” seloroh sang pesepeda motor tadi.
Sang petugas tersenyum kecil.

Dan, saya pun terbangun dari tidur. Rupanya adegan tadi hanya mimpi. Mimpi bahwa ada pengguna jalan yang sadar bahwa ketika ditilang justru mereka sebenarnya sudah diselamatkan dari potensi terjadinya kecelakaan. Entah kapan timbul kesadaran yang meluas soal makna tilang seperti itu. Saya juga tidak tahu. (edo rusyanto)

Pedagang Motor Diimbau Beri Dua Helm

31 Oktober 2014

anak pake helm spion

PARA penunggang sepeda motor termasuk yang berisiko tinggi saat berlalu lintas jalan. Baik itu risiko ditabrak, maupun risiko menabrak. Faktanya, sekitar 71% kendaraan yang terlibat kecelakaan pada 2013 adalah sepeda motor.
Langkah yang bisa dilakukan hanya memperkecil risiko, mengingat kecelakaan bisa terjadi kapan dan dimanapun. Pengurangan risiko dari kondisi terburuk bisa dimulai dari kemampuan berkendara. Selain itu, menerapkan perilaku berkendara yang aman dan selamat, hingga sudi toleran termasuk mentaati aturan yang ada di jalan.

Fakta memperlihatkan bahwa cedera di kepala dan leher menjadi penyebab fatalitas bagi pesepeda motor. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa di negara berkembang cedera tersebut memicu hingga lebih dari 70% kematian pesepeda motor yang terlibat kecelakaan.

Ada tiga hal yang memungkinkan cedera serius di kepala, yakni tidak memakai helm, memakai helm yang kualitasnya tidak mumpuni, dan cara memakai helm yang keliru. Sekalipun, memakai helm atau tidak memakai helm kecelakaan bisa terjadi, perbedaan terletak pada tingkat cedera yang ditimbulkan. Sekadar ilustrasi, jitak aja kepala sendiri saat tidak memakai helm, lalu bandingkan dengan saat memakai helm. Beda kan?

Ironisnya, di sekeliling kita dengan mudah kita menjumpai pesepeda motor yang wira-wiri tanpa memakai helm pelindung kepala. Alasan yang mencuat juga beragam, mulai dari gak punya helm, hanya jarak dekat, hingga terpaksa karena menumpang sehingga tidak menyiapkan helm.

Khusus yang menumpang, misalnya, karena tujuan searah lalu menumpang kepada motor teman perlu menjadi perhatian lebih nih. Sekadar berbagi, posisi penumpang yang tidak memakai helm, sedangkan pengendaranya memakai helm, perlu diingatkan bahwa sang penumpang lebih berisiko terlontar jika terjadi benturan atau pengereman mendadak yang ekstrim. Jika terlontar, mudah ditebak bakal membuka risiko yang lebih buruk saat membentur obyek benturan seperti permukaan aspal.

Saat ini, para pembeli sepeda motor di dealer atau di penjual motor resmi akan memperoleh satu helm dari sang pedagang. Selain helm, biasanya pedagang juga memberikan jaket. “Tapi, helm itu bukan bagian kelengkapan sepeda motor. karena itu, hanya diberi satu. Itu pun, ada yang tidak memakai helm tersebut,” kata Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), saat berbincang dengan saya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Artinya, kesadaran menggunakan helm masih perlu terus ditingkatkan. Barangkali lupa soal risiko fatalitas seperti yang dilontarkan WHO.

Di tengah itu semua, termasuk yang tidak memakai helm adalah anak-anak. Baik itu yang berkendara bersama orang tuanya, maupun anak-anak di bawah umur yang nekat diizinkan berkendara sendiri bersama teman-temannya. Terkait hal ini, Jonter Sitohang MT, Kepala Seksi Keselamatan Awak Angkutan Umum Direktorat Keselamatan Transportasi Darat, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan punya usulan.

“Kami merekomendasikan dalam penjualan sepeda motor termasuk di dalamnya adalah helm, yakni satu helm dewasa ditambah satu helm anak,” kata dia dalam seminar yang digelar Aisi, di Jakarta, baru-baru ini.

Tampaknya usulan tersebut berangkat dari fakta di lapangan bahwa banyak anak-anak yang wira-wiri di jalan tanpa memakai helm. Atau, fakta lain, kesulitan para orang tua mencari helm yang sesuai dengan ukuran anaknya.

Apa pun itu, kesadaran memakai helm saat bersepeda motor masih menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat. Edukasi terkait hal ini menjadi tanggung jawab banyak pihak. Peran keluarga menjadi salah satu sisi yang penting. Keluarga mestinya menjadi benteng yang kuat dalam mengajak anggota keluarga lebih aman dan selamat ketika berkendara.

Walau, keluarga mendapat gempuran luar biasa dari berbagai lini. Mulai dari lingkungan hingga kotak hitam bernama televisi di ruang keluarga. Untuk hal yang satu ini, perlu juga menjadi perhatian serius. Bayangkan, televisi menjejali anggota keluarga dengan tayangan seenak jidatnya, yakni naik motor tanpa memakai helm. Baik itu lewat tayangan film remaja dan dewasa, sinetron, hingga film kartun yang untuk anak-anak.

Bayangkan, film kartun untuk anak-anak sudah menjejali tayangan yang mengajak orang melanggar aturan, yakni naik motor tanpa helm. Jika itu terus membombardir benak pemirsa, bukan tidak mungkin menimbulkan persepsi bahwa tidak masalah bersepeda tanpa helm. Ini kan keliru.

Padahal, negara kita memiliki aturan yang berlaku untuk seluruh warga negara, yakni UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mewajibkan pesepeda motor memakai helm. Siapapun, ketika bersepeda motor di jalan wajib memakai helm dengan kualitas Standard Nasional Indonesia (SNI). Kalau melanggar, sanksinya denda maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

“Tapi, hakim rata-rata memutuskan denda maksimal Rp 30 ribu. Hal ini tidak membuat jera para pelanggar aturan di jalan,” sergah Komisaris Besar Polisi Indrajit, kepala bidang Pembinaan Penegakan hukum, Korlantas Polri.
Efek jera menjadi salah satu kata kunci dalam menghidupkan budaya aman dan selamat di jalan raya. Bagaimana setiap orang yang ingin melanggar aturan akhirnya membatalkan niatnya karena tahu dampak dari pelanggaran itu sendiri. Pelangaran bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Betul? (edo rusyanto)

Bisikan Halus di Sudut Hingar Bingar Pameran Otomotif

30 Oktober 2014

forwot foto 2014

LOKASINYA agak terpojok. Hanya sedikit orang yang lalu lalang di area itu. Perhatian pengunjung justru terfokus pada menu utama, pameran otomotif sepeda motor.

Sekalipun terletak di sudut yang kurang eye catching, sesungguhnya apa yang disuguhkan disalah satu sudut Jakarta Convention Centre (JCC) tersebut memiliki kekuatan tersendiri.

Ya. Inilah pameran foto yang dibalut dengan jargon “Everyone Crashes. Some get back on. Some dont some cant”. Pameran yang dimotori awak Forum Wartawan Otomotif (Forwot) itu berada di salah satu sudut ajang Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2014, di JCC, Jakarta, 29 Oktober – 2 November 2014.

Setidaknya ada 15 foto yang dipajang memakai bingkai dan ditata rapi di sudut area IMOS 2014. Foto hasil jepretan anggota Forwot seperti bercerita tentang dramatisnya penggunaan sepeda motor di jalan raya. Salah satu adegan adalah bagaimana sepeda motor ditumpangi lima orang. Dua penumpang dewasa dan tiga penumpang anak-anak. Mereka berjejal-jejalan.

“Gak apa-apa berlima. Masa sih anaknya gak diajak pergi. Memangnya mau ditinggal di rumah sendirian,” gerutu seorang perempuan dewasa yang datang bersama pria dan anak kecil, Rabu, 29 Oktober 2014 siang.

Permisifme seperti yang diutarakan pengunjung perempuan dewasa itu seakan menjadi cerminan masyarakat kita saat ini. Hal itu pula yang direkam oleh deretan foto yang disajikan Forwot di ajang IMOS 2014. Misalnya, ada pengendara sepeda motor yang dengan santainya melenggar di trotoar jalan dan busway.

Trotoar, seperti kita tahu, merupakan lajur bagi pedestrian untuk berjalan kaki. Ketika trotoar dijejali oleh kendaraan bermotor, praktis hak pedestrian tercabik-cabik. Di sisi lain, bukan mustahil bisa memicu terjadinya insiden di jalan.

Begitu pula dengan busway. Jalur yang satu ini dikhususnya bagi angkutan umum massal Trans Jakarta. Artinya, kendaraan bermotor pribadi seperti sepeda motor, tidak berhak melintas di jalur tersebut.

Kehadiran foto-foto yang disajikan Forwot tampaknya ingin menyodorkan fakta-fakta di sekitar kita kepada para pengunjung pameran otomotif IMOS 2014. Pameran foto itu seperti membisikan sesuatu kepada para pengunjung bahwa kalau sudah membeli sepeda motor, cara memakainya lebih beradab dan manusiawi. Tak perlu merampas hak orang lain dengan melintas di trotoar atau berjejalan di satu motor dengan lebih dari dua orang.

“Cara berkendara seperti itu berbahaya. Saya gak berani,” ujar pengunjung pria dewasa saat berbincang dengan saya Jumat sore.

Bisikan itu terdengar sangat halus. Bisikan mengalir dari sudut yang tak seramai pengunjung di deretan motor berkilau yang dijaga para dara berparas jelita. (edo rusyanto)

Pak Polisi Mau Pakai Speed Gun di Jalan Tol

29 Oktober 2014

kombes_indrajit

Kombes Indrajit

SOSOKNYA tegap. Saat berbicara nada suaranya tegas dengan tatapan tajam.

Kali pertama saya berjumpa pria yang satu ini kesan yang mencuat adalah figur yang tegas.

Betul saja, “Besaran tilang rata-rata Rp 30 ribu, bagaimana pelanggar mau jera?”

Itulah salah satu pernyataan lugas yang disampaikan Kabagbingakum Korlantas Mabes Polri Kombes Indrajit, di Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2014.

Saat itu, saya bertemu di forum seminar yang digelar Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dalam rangkaian Indonesia Motor Show, di Jakarta. Dalam seminar bertema “Teknologi Hijau, Sikap Disiplin dan Keselamatan Berkendara” itu Indrajit memaparkan materi Kakorlantas yang mengusung tema “Mewujudkan Keselamatan Jalan Oleh Pengendara Sepeda Motor Melalui Pembenahan di Sektor Hilir.”

Dia bercerita, pihaknya sudah bertindak tegas dengan menilang para pelanggar aturan di jalan. Namun, sanksi yang diberikan oleh pengadilan justru tidak maksimal. Misalnya, kata dia, pelanggaran berkendara tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) semestinya denda maksimal Rp 1 juta. Tapi, pada praktiknya tidak sebesar itu.

Karena itu, dia berharap masyarakat ikut serta mewujudkan keselamatan di jalan. Caranya, kata dia, dengan tidak melanggar aturan di jalan. “Jika tetap melanggar aturan, tinggal tunggu waktu saja, bisa menjadi pelaku atau korban kecelakaan,” sergahnya.

Dalam mengurangi perilaku melanggar aturan, lanjut Indrajit, pihaknya sedang menyiapkan perangkat elektronik sebagai alat penegakan hukum. Penerapan electronic law enforcement (ELE) diyakini mampu mengurangi risiko terjadinya kecelakaan di jalan. “Sepanjang 2014, hingga September, tiap hari dua orang meninggala dunia akibat kecelakaan,” tukasnya.

Alat elektronik yang akan segera diujicobakan, urai dia, adalah alat ukur batas kecepatan atau speed gun. Menurut Indrajit, alat ukur tersebut akan diujicobakan di sejumlah ruas jalan tol yang ada di Indonesia. Saat ini, Korlantas Polri memiliki 19 unit speed gun. “Kini, kami sedang latihan mengenai cara pemakaiannya,” ujar dia.

Speed gun tersebut, tambahnya, akan diarahkan kepada kendaraan yang melintas. Lantas, alat itu akan mengeluarkan data-data kendaraan yang “ditembakan” speed gun. Lalu, petugas akan berkoordinasi dengan petugas lainnya yang ada di arah depannya, misal, di mulut jalan tol, untuk menindak pelanggar batas kecepatan. “Kecepatan maksimal di jalan tol 100 kilometer per jam. Namun, dalam uji coba yang akan digulirkan akhir November 2014, kami akan sesuaikan dengan kondisi yang ada, misalnya, memakai 120 kilometer per jam sebagai batas maksimal,” tegas dia.

Nah, kita tunggu aja nanti bagaimana ceritanya di lapangan. (edo rusyanto)

(Lagi) Sumpah Keselamatan Jalan

28 Oktober 2014

pesanlaka_sumpah

Bertanah Air Satu,
Tanah air tanpa petaka di jalan raya

Berbangsa Satu,
Bangsa tanpa arogansi di jalan raya

Berbahasa Satu,
Bahasa tanpa diskriminasi di jalan raya

PARA pemuda sebelum era kemerdekaan berjuang tanpa pamrih demi satu harapan, MERDEKA!

Ketika puluhan, bahkan mungkin ratusan pemuda pada 28 Oktober 1928 berkumpul di kawasan yang saat ini dikenal sebagai Kramat Raya, Jakarta Pusat, mereka juga punya satu harapan, persatuan yang utuh. Lahirlah saat itu apa yang kita kenal sekarang “Soempah Pemoeda”. Bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia!

Kini, delapan puluh enam tahun kemudian, wajah Indonesia demikian dramatis. Salah satu lekuk wajah itu terpampang di jalan raya. Sudut kelam bernama kecelakaan lalu lintas jalan begitu mudah terlihat.

Dalam lima tahun terakhir, lebih dari setengah juta anak-anak muda terjungkal di jalan raya. Mereka harapan bangsa yang harus tersungkur dalam pedihnya luka dan sebagian berujung pada kematian. Kecelakaan jalan raya mencabik-cabik generasi muda, generasi berusia di bawah 40 tahun.

Ironisnya, sang jagal jalan raya berdarah dingin seakan dibiarkan berkeliaran. Ketika arogansi, egoisme, dan keserakahan berlomba-lomba ditampilkan di jalan raya, ketika itulah sang jagal jalan raya dengan tenang melenggang. Setiap detik, setiap saat dia siap memancung korban tanpa memilih. Setiap jam tiga orang tewas akibat kecelakaan di Indonesia. Artinya, setiap 20 menit, satu nyawa melayang.

Ironisnya, sekali lagi ironis, petaka jalan raya mayoritas dipicu oleh perilaku tidak tertib saat berlalu lintas jalan. Alias mengobrak-abrik aturan yang ada. Perilaku ugal-ugalan di jalan tak bisa dipungkiri lahir karena pragmatisme, enggan menghargai keselamatan diri sendiri, enggan menghargai sesama pengguna jalan, tentu saja, enggan menghargai aturan yang ada.

Mereka yang melanggar aturan di jalan barangkali belum merasa dirugikan atas apa yang dia lakukan. Namun, sejatinya tak perlu harus merasa dirugikan, barulah sudi toleran dan beradab saat di jalan raya.

Kita yang hidup dalam alam kemerdekaan saat ini punya banyak kebebasan untuk berekspresi. Kebebasan dan kemerdekaan itu lahir atas jasa para pejuang tahun 1945. Para pejuang rela mengorbankan nyawa demi Merdekanya Indonesia.

Rasanya tak adil bila kemerdekaan diekspresikan dengan “semerdeka-merdekanya” berkendara di jalan. Rasanya tak adil bila kemerdekaan yang ada justru dimanfaatkan untuk merampas nyawa sesama pengguna jalan. Padahal, kita satu kesatuan, Indonesia. (edo rusyanto)

Kawasan Permukiman Paling Rawan Loh

28 Oktober 2014

pesan laka mentari pagi

PERNAH melihat kecelakaan lalu lintas jalan? Di kawasan mana terjadinya kecelakaan itu? Misal, di kawasan pusat bisnis, pariwisata, atau kawasan permukiman?

Ternyata, kalau ngulik data Korlantas Mabes Polri, lokasi paling rawan terjadinya kecelakaan justeru adalah di kawasan permukiman. Pada semester pertama 2014, kawasan permukiman menyumbang sekitar 81%. Selebihnya tersebar di kawasan perdagangan dan bisnis, kawasan pertokoan, hingga kawasan pariwisata.

Lantas, bila kita sandingkan dengan data lokasi kejadian berdasarkan status jalan, rasanya cukup sinkron. Sepanjang semester pertama 2014, berdasarkan status jalan, lokasi kecelakaan mayoritas terjadi di jalan kabupaten, yakni sekitar 37%. Lokasi kedua terbanyak ada di jalan provinsi (29%), jalan nasional (28%), dana jalan desa (6%).

Bila merujuk data tersebut rasanya perlu menjadi perhatian kita bahwa kecelakaan bisa terjadi dimana saja, bahkan bukan mustahil di kawasan permukiman tempat kita tinggal. Karena itu, menjadi sahih lah jargon bahwa kecelakaan tak pernah mengenal jarak. Bisa terjadi di mana saja.

Karena itu, patut menjadi perhatian kita juga bahwa mengurangi risiko menjadi lebih penting ketimbang membiarkan diri dicabik-cabik sang jagal jalan raya. Salah satu jurus mengurangi risiko adalah dengan senantiasa fokus dan waspada ketika berkendara. Kedua aspek tadi menjadi benteng dalam menjaga konsentrasi tetap terjaga ketika berkendara. Kita tahu bahwa berkendara adalah pekerjaan penuh waktu. Tidak bisa disambi oleh aktifitas lain yang bisa merusak konsentrasi. Risiko berkendara tanpa konsentrasi bisa memperlebar terjadinya kecelakaan.

So, kecelakaan bisa terjadi di mana saja, tidak pernah mengenal jarak, termasuk dari rumah menuju ke depan kompleks perumahan. (edo rusyanto)

Kendaraan Pribadi Dominasi 95% Angkutan di Kota Bandung

27 Oktober 2014

bandung lalin okt 2014

BUAT penglaju yang pernah singgah ke kota Bandung, Jawa Barat, pasti menyaksikan riuhnya kendaraan bermotor di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat itu. Beragam kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil pribadi, berjejalan di jalan raya.

Kondisi itu bakal lebih dramatis lagi ketika memasuki akhir pekan. Beragam kendaraan bermotor dari berbagai kota memadati jalan-jalan di kota berpenduduk sekitar 2,5 juta jiwa tersebut. Kendaraan bermotor dari Jakarta yang berpelat nomor “B” pun mudah dijumpai pada akhir pekan. Tahukah Anda bahwa kota yang memiliki julukan Paris van Java itu ternyata lebih banyak disesaki kendaraan pribadi?

“Saat ini, setidaknya ada 1,25 juta kendaraan bermotor di Kota Bandung. Dari jumlah tersebut sekitar 94% nya adalah kendaraan pribadi,” papar Yudhiana, kepala seksi Manajemen dan Rekayasa Lalilintas Dishub Kota Bandung, di Bandung, Jumat, 24 Oktober 2014.

Terkait jumlah sepeda motor, tambahnya, kini terdapat sekitar 895 ribuan unit atau sekitar 72% dari total komposisi kendaraan bermotor di Bandung. Sedangkan mobil pribadi sekitar 282 ribuan unit atau sekitar 23%. Dahsyat kan?
Ironisnya, kata dia lagi, jumlah jalan yang ada tidak seimbang dengan jumlah kendaraan bermotor yang wira-wiri. Kata dia, tidak seimbangnya pertumbuhan jumlah kendaraan dengan penambahan jaringan jalan di Kota Bandung di pengaruhi beberapa faktor. “Faktor yang mempengaruhinya adalah kemudahan konsumen dalam memiliki kendaraan (fasilitas kredit), sedangkan Pemerintah Daerah kesulitan dalam pembebasan lahan untuk menambah ruas jalan yang baru,” paparnya.

Soal angkutan umum, Yudhiana menguraikan bahwa kini terdapat 39 trayek angkutan kota di kota Bandung dengan jumlah angkutan kota sebanyak 5.521 kendaraan. Lalu, ada bus umum yang mencapai 2.946 unit. Artinya, angkutan umum yang ada di kota Bandung sekitar 1% dari total kendaraan bermotor yang ada di kota yang pada siang hari berpenduduk sekitar lima juta jiwa itu.

bandung jumlah kendaraan bermotor

“Pakai motor lebih murah dan bisa selap selip pak,” ujar seorang pemuda saat berbincang dengan saya di Bandung, baru-baru ini.

Oh ya, ternyata ada Perda Kota Bandung Nomor 16 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Perhubungan dan Retribusi di kota bandung yang membatasi usia kendaraan angkutan umum. Kendaraan yang beroperasi di kota Bandung usia maksimalnya 10 tahun. “Lebih dari 10 tahun sudah tidak boleh di operasikan lagi,” kata dia.

Jadi, gak heran jika Anda ke kota Bandung bakal menjumpai pemandangan padatnya kendaraan bermotor . Mirip dengan kota besar lain di Indonesia. (edo rusyanto)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.518 pengikut lainnya.