Lanjut ke konten

Pentingnya Mengurangi Risiko Anak-anak di Jalan Raya

24 Januari 2018

SEBUAH pesan tertulis what’s app (WA) masuk ke ponsel saya, baru-baru ini. Isi pesan menceritakan seorang siswi sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) yang mengalami kecelakaan lalu lintas jalan.

Sang siswi tadi dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motornya terjerembab. Sang pengendara harus dirawat dan mengikuti tindakan operasi serius di bagian kepala.

Dalam pesan juga disebutkan perlunya urun rembug dana sukarela untuk meringankan beban keuangan.

Selang satu hari saya membaca berita di media daring tentang siswi SLTP yang terlibat kecelakaan. Sepeda motor yang dikendarainya tertabrak bus.

Kecelakaan diduga karena siswi tersebut ragu-ragu saat hendak menyeberangi jalan. Saat bersamaan datang bus yang lalu menabraknya. Bus lalu banting stir dan menabrak truk yang sedang terparkir di sisi jalan. Akibat kecelakaan tersebut siswi SLTP meninggal dunia.

Kecelakaan dapat menimpa siapa saja dan dimana saja. Kelompok usia anak-anak dan remaja termasuk bagian yang terimbas. Ada yang menjadi pelaku dan tentu saja ada yang menjadi korban kecelakaan. Jumlahnya tidak sedikit.

Di Indonesia, dari sisi penerima santunan korban kecelakaan PT Jasa Raharja untuk kelompok pelajar, yakni anak dan remaja, tercatat naik 4,1% pada 2017. Bila pada 2016 tercatat 32.960 orang, tahun 2017 naik menjadi 34.328 orang.

Artinya, setiap hari ada 94 anak dan remaja yang menerima santunan korban kecelakaan. Sebuah angka yang memilukan.

Tambah Risiko

Anak tak pernah minta dilahirkan orang tua. Ketika tumbuh dan berkembang sepenuhnya tanggung jawab orang tua. Terlebih di rentang bawah umur, yakni sebelum melewati usia 18 tahun.

Orang tua wajib menanggung risiko si buah hati. Risiko itu mulai dari moral, sosial hingga finansial. Menjadi tak adil ketika risiko digeser ke anak, apalagi menambah beban risiko anak, termasuk ketika di jalan raya. Di sisi lain, anak kita memikul risiko dari ancaman banyak bahaya, mulai dari kejahatan seksual, narkoba hingga kecanduan games yang bisa memengaruhi otak mereka.

Mengizinkan anak di bawah umur berkendara di jalan, apapun dalihnya, menjadi salah satu penambahan risiko. Baik itu risiko tindakan kriminal, maupun risiko terlibat kecelakaan lalu lintas jalan. Faedah yang dipetik tak sebanding dengan potensi ancaman yang ada.

Kita tahu bahwa anak di bawah umur masih labil. Manakala berkendara di jalan raya yang penuh dengan watak manusia, dapat memprovokasi perilaku anak. Belum lagi rentan dari sisi fisik dan regulasi yang ada.

Khusus soal regulasi, Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara memiliki surat izin mengemudi (SIM). Usia minimal pemilik SIM adalah 17 tahun.

Manakala terlibat kecelakaan maupun terkena sanksi penegakkan hukum razia lalu lintas jalan, siapapun dia akan terpengaruh jiwanya. Apalagi bila memikul beban derita luka fisik maupun traumatis. Kondisi ini bisa menghambat pertumbuhan anak. Padahal, dia punya cita-cita yang ingin dicapai. Kesemua itu bisa berubah drastis manakala terlibat kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: