Lanjut ke konten

Menangkis Caci Maki di Jalan Raya

25 Januari 2018

JALAN raya bak panggung pertunjukan film aksi. Orang dengan mudahnya berkata-kata, bahkan bertindak kasar. Caci maki meluncur dengan  mudahnya. Sudah pendekkah sumbu emosi kita?

Salah satu peristiwa yang saya saksikan terjadi pada suatu siang pertengahan Januari 2018.

Saat itu lalu lintas padat merayap. Maklum, area pasar di bilangan Jakarta Timur itu memang tergolong padat aktifitas. Hilir mudiknya pedagang maupun pembeli menjadi pemandangan sehari-hari. Kehadiran pengendara yang melintas praktis menambah karut marut yang ada. 

Di tengah itu semua muncul pesepeda motor dari arah berlawanan dari arus lalu lintas semestinya. Entah demi tujuan apa praktik melawan arus itu berjalan seakan tanpa beban. Pesepeda motor yang berada di jalur semestinya tampak gerah. Mereka berpapasan. Tak tahu persis apa yang terjadi.

Tiba-tiba sang pelawan arus berteriak dengan nada keras. Umpatan kata-kata tak pantas meluncur dari mulutnya. Dia seakan tak terima aksi melawan arusnya mendapat sorotan.

Di bagian lain, masih di bilangan Jakarta Timur ada kejadian mirip. Bedanya, peristiwa itu di persimpangan jalan. 

Kondisi arus lalu lintas cukup padat. Seorang penyeberangan jalan melontarkan ucapan bersubtansi kritik terhadap pemobil yang menerobos lampu merah.

Bukannya, terima kasih, hardikan yang didapat oleh pejalan kaki tadi. Kata-kata kasar dengan sorotan mata berapi-api lahir dari pemobil yang diingatkan agar tak menerobos lampu merah. Sambil mengucapkan kata-kata kasar dia menurunkan kaca jendela mobilnya. Sang pejalan kaki pun melenggang tak menimpali.

Menangkis Caci Maki

Saat emosi meledak bukan mustahil konsentrasi berkendara terusik. Bagaimana tidak, energi dan perhatian teralih pada obyek lain. Praktis membuat suasana hati gundah gulana yang tidak tertutup kemungkinan mengacaukan konsentrasi.

Jika itu terjadi celah terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan kian lebar. Tak heran jika regulasi kita yang berlaku saat ini, yaitu Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan pengendara untuk berkonsentrasi. Ada sanksi bagi pelanggar ketentuan tersebut.

Disinilah pentingnya kita menangkis niat untuk mencaci maki. Berikut ini langkah yang mungkin bisa dicoba untuk meredam emosi agar tidak meledak-ledak saat berkendara di jalan raya.

1. Berpikir Positif
Nah, guna meredam emosi saat berkendara langkah awal yang amat penting adalah dengan berpikir logis. Dalam contoh kasus di atas, pikiran logis yang bisa didorong keluar adalah; “Apa manfaatnya saya mengejar sang pemotong jalur?”
Lalu, “Apakah dengan memarahi dan mengumpat sang pelaku bisa mengubah perilaku ugal-ugalan dia dalam sekejap?”
Atau, “Kalau saya mengejar dengan tergesa-gesa dan tidak berkonsentrasi bisa bikin celaka diri sendiri dan orang lain.”

2. Bertindak Tenang
Redakan sejenak pikiran, yakni sekitar lima detik seraya menarik nafas panjang. Di masyarakat kita kerap disebut dengan istighfar. Lewat istighfar bisa mengurangi sesaknya emosi dan selanjutnya bisa menjernihkan pikiran. Tentu selanjutnya disalurkan lewat tindakan yang positif. Bukan diluapkan dengan emosi yang meledak-ledak.

3. Prioritaskan Keselamatan
Camkan bahwa keselamatan saat berkendara tak semata untuk diri sang pengendara. Ada hak pengguna jalan yang lain untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan yang sama. Bahkan, ada keluarga tercinta yang membutuhkan keselamatan kita kembali ke rumah.

4. Mendoakan Kebaikan
Mendoakan agar pengguna jalan mendapat keselamatan saat berlalu lintas jalan. Mendoakan agar perilaku ugal-ugalan bisa diubah menjadi lebih santun dan tidak membahayakan orang lain. Cara ini efektif untuk meredam emosi kita kala berkendara. Mendoakan orang lain tidak ada ruginya malah bisa membuat diri kita tenang saat berkendara. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: