Skip to content

Mengukur Tinggi dan Rendahnya Risiko di Jalan

8 Januari 2018

TAK sedikit perilaku berlalu lintas jalan yang membuat gundah. Bukan apa-apa, perilaku tadi disadari atau tidak, memperbesar risiko yang dipikul pelaku maupun pengguna jalan lainnya.

Sekadar contoh. Banyak yang tahu bahwa saat lampu pengatur lalu lintas jalan berwarna merah artinya berhenti. Tapi, masih tak sedikit yang mengabaikan. 

Padahal, menyerobot lampu merah tadi bukan mustahil menimbulkan kecelakaan. Setidaknya, mempertontonkan perilaku yang merampas hak pengguna jalan yang lain.

Contoh lain. Ada rambu larangan melintas, namun tetap melintas. Jadilah aksi melawan arus. 

Ini juga memperbesar risiko terjadinya kecelakaan di jalan. Tak sedikit contoh mengenai hal itu.

Dua contoh perilaku berisiko tinggi di atas masih menjadi pemandangan sehari-hari. Kalau ditelisik amat pasti dilatarbelakangi ego yang menguasai nafsu diri sendiri. Dalih yang kerap mencuat, demi memangkas waktu tempuh. Walau, bukan mustahil ada alasan lain yang memperkuat mengapa perilaku berkendara risiko tinggi (high risk riding/driving) itu terjadi.

Apa pun alasannya, berkendara dengan risiko tinggi berarti memperbesar celah terjadinya kecelakaan di jalan. Tentu saja termasuk memperberat fatalitas yang mungkin timbul akibat kecelakaan. Kalau semua itu terjadi penderitaan bakal menghampiri banyak pihak. Bahkan, kecelakaan berdampak luas.

Risiko tinggi tak semata memupus produktifitas yang terlibat kecelakaan, tapi juga mengusik kenyamanan orang sekitar. Belum lagi bila merembet ke ranah hukum. Sudah terluka, masih harus berhadapan dengan jeruji penjara.

Di sisi lain, berkendara dengan risiko rendah (low risk riding/driving) pada hakekatnya untuk menekan potensi terjadinya kecelakaan. Tentu, termasuk upaya memperkecil fatalitas yang dipikul bila terpaksa mengalami kecelakaan. 

Perilaku yang satu ini memuat setidaknya empat elemen. Keempatnya mencakup ketrampilan, empati, ketaatan regulasi, dan sinergi. 

Khusus terkait sinergi, maknanya adalah bagaimana tiap pengguna jalan dan pemangku kepentingan menerapkan tugas dan fungsinya dengan maksimal serta sudi bahu membahu. Muaranya, lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat. Lalu lintas jalan yang humanis.

Sementara itu, ketiga elemen yang lain bertumpu pada nurani dan akal sehat. Selain, tentu saja kesehatan jasmani dan kompetensi sang pengemudi.

Nah, sementara itu, upaya menggeser beban risiko juga perlu dilakukan. Pengalihan ini sesuai dengan ketentuan yang ada, bukan asal menggeser dengan jurus menyalahkan pihak lain. 

Salah satu upaya menggeser risiko adalah dengan memiliki jaminan asuransi kecelakaan, jiwa, bahkan kendaraan. Selebihnya, setelah ikhtiar, kita bisa berserah diri dan jangan lupa berdoa. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. 10 Januari 2018 09:16

    Halloww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: