Skip to content

Mereka Lahir Dari Sistem yang Buruk

25 Maret 2014

anak bertiga tak helm jakarta

BELAKANGAN ini dengan mudah kita melihat anak-anak di bawah umur yang berseliweran menunggang sepeda motor di jalan pemukiman. Bahkan, dia tak sendiri. Kadang berdua, bertiga, dan ada juga yang berempat. Kini, tak hanya anak laki-laki, anak-anak perempuan pun asyik mahsyuk menggelinding di atas roda.

Pemandangan seperti itu bukan lagi monopoli warga perkotaan, di pelosok-pelosok desa pun adegan anak di bawah umur menunggang sepeda motor mudah ditemui. Lama-lama saya berpikir bahwa mereka lahir dari rahim masyarakat yang permisif. Anak-anak di bawah umur menjadi korban sistem yang ada. Mereka lahir ketika para orang tua permisif, ketika sistem transportasi umum belum maksimal, saat sekolah tak mentransformasi nilai-nilai keadaban, dan ketika para penegak hukum juga permisif. Anak-anak pun menjadi sisi kelam di jalan raya. Ironisnya, mereka bisa terjebak dalam petaka jalan raya. Di tabrak atau menabrak.

Di wilayah Polda Metro Jaya yang mencakup Jakarta dan sekitarnya, fakta memperlihatkan hal itu. Anak-anak di bawah umur ikut menyumbang sebagai pelaku kecelakaan lalu lintas jalan. Barangkali masih segar di benak kita bagaimana kasus seorang anak artis yang mengemudi mobil di jalan tol kemudian menabrak kendaraan lain sehingga menimbulkan korban luka dan meninggal dunia. Kasus itu hanya satu potret kelam di jalan raya kita.

Pada 2013, di Jakarta dan sekitarnya kelompok anak di bawah umur, yakni usia di bawah 17 tahun, menyumbang sekitar 1,46% dari total pelaku kecelakaan di jalan. Saat itu, jumlah pelaku kecelakaan yang tercatat mendekati lima ribu orang.

Tren anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan sempat menghenyakan kita semua pada 2012. Ketika itu, kelompok usia anak di bawah umur yang memicu kecelakaan melonjak 160%. Sebuah angka yang tidak bisa dianggap remeh. Namun, kita bersyukur kondisi kian membaik ketika tahun 2013 anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku anjlok hingga 30,76%.

Sekalipun kita tak boleh lega begitu saja. Maklum, dalam rentang 2010-2013, rata-rata pertumbuhan anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan mencapai 32,31%. Angka tersebut jauh di atas rata-rata pertumbuhan di kelompok umur lainnya. Waspada.

Proteksi terhadap anak-anak di bawah umur di jalan raya mesti menjadi perhatian serius. Para orang tua seyogyanya memahami bahwa anak-anak tersebut belum layak menunggang kuda besi maupun mobil. Selain dari segi fisik yang belum mumpuni mengimbangi bobot kendaraan, dari segi kestabilan emosional mereka cenderung mudah terporovokasi oleh situasi sehingga amat labil. Saat itu terjadi, bukan mustahil konsentrasi berkendara menjadi hancur. Kecelakaan lalu lintas jalan pun kian mendekat.

Tak heran jika kemudian negara memiliki instrument yang mengatur soal itu. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mewajibkan para pengendara di jalan raya untuk memiliki surat izin mengemudi (SIM). Khusus sepeda motor, untuk mendapatkan SIM C, usia minimal seseorang yang berhak mendapatkan surat itu adalah mesti berusia 17 tahun. Tentu, terbitnya SIM mesti melalui proses ujian yang mampu menunjukan kompetensi seseorang dalam berkendara. Setidaknya calon penerima SIM melewati ujian tertulis, tes kesehatan, tes psikologi, dan tes praktik berkendara.

pelaku laka jakarta 2013 usia

Setelah keluarga membentengi dengan pemahaman keselamatan berkendara di jalan. Pihak sekolah pun punya kewajiban mentransfer nilai-nilai keadaban kepada para siswa. Menanamkan pentingnya taat pada aturan, termasuk aturan di jalan.

Di sisi lain, para penegak hukum juga bisa melakukan tugasnya dengan melakukan penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu. Sebelum sampai situ, tentu saja peran melakukan edukasi dan teguran bisa menjadi alternatif untuk mengajak publik lebih peduli untuk memproteksi anak-anak dari potensi korban sang jagal di jalan raya. Yuk. (edo rusyanto)

Iklan
6 Komentar leave one →
  1. 25 Maret 2014 12:48

    betul itu..
    padahal bahaya bangettt..

    https://www.facebook.com/pages/Hulssay/728165527214492?fref=ts

  2. 25 Maret 2014 13:08

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  3. 25 Maret 2014 14:46

    kenapa Ank2 tidak diajak bersepeda Saja ya sampai dia mau menginjak kuliah..? Padahal walaupun rata2 sepeda bagus hrgnya mirip motor tapi lebih enak dipakai, tahan lama, ngga pake bbm… justru lebih hemat. Kan lumayan disaat kondisi ekonomi meningkat spt ini.

  4. 25 Maret 2014 15:14

    so..sad…

  5. 25 Maret 2014 15:23

    kecil-kecil gitu haduh…

  6. 26 Maret 2014 09:16

    sistem yang buruk dan budaya yang mulai berubah…

    Yamaha SR400… Sport Retro

    http://aryoblackstar.wordpress.com/2014/03/26/yamaha-sr400-sport-retro-penantang-kawasaki-estrella

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: