Lanjut ke konten

Jakarta Lahan Subur Bisnis Sepeda Motor

15 Oktober 2011

WARGA Jakarta yang hampir 10 juta jiwa mayoritas gemar bersepeda motor. Buktinya, populasi sepeda motor lebih tinggi dibandingkan jenis kendaraan lain. Sepeda motor menjadi favorit untuk wara-wiri. Lebih hemat dan praktis.
Tak heran jika Jakarta menjadi lahan subur penjualan sepeda motor. Data anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) menyebutkan, sepanjang Januari-September 2011, volume penjualan bertumbuh sekitar 6,74% jika dibandingkan periode sama 2010.
Sembilan bulan 2011, rata-rata per bulan, anggota Aisi menjual sekitar 97.712 unit di Jakarta. Sedangkan sembilan bulan 2010 sekitar 91.541 unit per bulan. Artinya, pada sepanjang 2011, tiap hari ada sekitar 3.257 motor yang terjual di Jakarta. Dahsyat!
Oh ya, jika dibandingkan wilayah lain di Indonesia, Jakarta berkontribusi sekitar 14,14%. Maklum, pada Januari-September 2011, total penjualan di pasar domestik sekitar 6,19 juta unit. Jakarta menjadi wilayah utama penjualan motor anggota Aisi, setelah itu baru Jawa Barat (13,66%) dan Jawa Timur (12,58%).

Periode sama tahun sebelumnya, Jawa Timur peringkat pertama (15,74%), lalu Jakarta (14,91%) dan Jawa Barat (14,31%). Wah, Jakarta menguat karena mungkin di Jawa Timur, khususnya Surabaya, konon sudah diberlakukan bea balik nama (BBN) yang lebih tinggi, yakni sekitar 10%.

Motor dan Kecelakaan
Balik lagi soal Jakarta. Ada yang bertanya, kenapa penjualan sepeda motor demikain pesat?
Jawaban utama adalah karena sepeda motor menjadi alat transportasi yang hemat biaya dan hemat waktu. Tentu saja jika dibandingkan dengan kendaraan pribadi mobil dan angkutan umum. Misalnya saja, untuk jarak tempuh sekitar 40 kilometer, biaya operasional pemotor untuk bahan bakar minyak (BBM) premium, tidak sampai Rp 4.500. Nah, jika naik mobil pribadi bisa lebih, apalagi naik angkutan umum, bisa dua hingga tiga kali lipatnya. Belum lagi urusan waktu tempuh. Sepeda motor bisa menghemat waktu tempuh hingga separuh dari angkutan umum.
Itu dari sisi faedahnya. Dari sisi risiko, sepeda motor juga memiliki risiko tinggi.

Kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta mayoritas melibatkan sepeda motor. Tahun 2010, keterlibatan sepeda motor nyaris mencapai 60%. Sedangkan angkutan umum sekitar 10%. (lihat grafis)
Para pengendara sepeda motor bisa mengurangi potensi risiko terjadinya kecelakaan, maupun fatalitas akibat kecelakaan. Jika merujuk data tahun lalu, faktor manusia masih dominan. Artinya, pengendalian diri saat berkendara menjadi penting. Kunci utama adalah fokus saat berkendara dan tidak mudah emosional. Maklum, emosi yang tidak stabil bisa mengganggu konsentrasi saat berkendara. Setuju? (edo rusyanto)

4 Komentar leave one →
  1. RdP permalink
    15 Oktober 2011 01:03

    Yeah!

  2. 15 Oktober 2011 07:17

    tambah mumet aja nih Jakarta, koq belum jenuh ya ratio kepemilikan sepeda motor? Apakah AISI punya data ratio jumlah penduduk dan kepemilikan sepeda motor? rasa2nya gak mungkin tiap tahun terus naik, pasti ada titik jenuhnya..

  3. 15 Oktober 2011 09:24

    Kenapa Jakarta menjadi lahan subur bisnis sepeda motor? kalo menurut ane salah satunya adalah krn pemerintah blm bisa menyediakan moda transportasi yg aman & nyaman. Belum lagi masalah kemacetan yg menuntut warga jakarta utk bisa mensiasatinya. Yups…pilihan jatuh pd sepeda motor, krn dgn motor warga jakarta lebih mobile dan bisa menghemat waktu. Andai saja pemerintah bisa menyediakan moda transportasi umum yg nyaman & aman, serta membenahi fasilitas jalan terutama sarana dan prasarana transportasi. Bisa ga ya…???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: