Lanjut ke konten

Dulu 45 Kpj Maksimal, Sekarang Kecepatan Maksimal Berapa?

6 Oktober 2011

SAYA kerap kali ditanya, berapa kecepatan maksimal sepeda motor di jalan umum yang paling aman? Jawabannya susah-susah gampang.
Maklum, bicara kecepatan laju sepeda motor di jalan, segaris lurus dengan berbicara soal keselamatan jalan. Kita tahu, semakin cepat laju sepeda motor, semakin membutuhkan reflek dan konsentrasi dari pengendaranya. Apalagi di jalan umum. Setiap saat bisa bertemu dengan berbagai obyek bergerak maupun tidak bergerak, seperti lubang atau gundukan di permukaan jalan.
Kalau di jalan bebas hambatan alias jalan tol, kita tahu bahwa batas kecepatan dibatasi, yaitu di tol dalam kota 80 kilometer per jam (kpj) dan tol luar kota 100 kpj. Sedangkan batas kecepatan minimum adalah 60 kpj.
Bagaimana dengan di jalan umum? Rasanya, buat sepeda motor kecepatan maksimal di dalam kota 60 kpj sudah masuk akal. Angka itu melonjak drastis loh. Coba longok Stadblaad 1899 No 303 pada 1 Januari 1900 yang mengatur batas kecepatan maksimal kendaraan adalah 45 kpj. Itu adalah aturan kolonial Belanda untuk masalah lalu lintas jalan. Wow, Belanda sudah mengatur batas kecepatan di jalan sejak 111 tahun lalu.

Seiring derasnya pertumbuhan teknologi kendaraan dan teknologi pembangunan jalan yang berkeselamatan, lalu batas kecepatan juga meningkat. Jika merujuk angka 45 kpj pada tahun 1900 dan angka 100 kpj pada 2011, artinya naik sekitar 122%.
Bahkan, baru-baru ini, Menteri Transportasi Inggris, Philip Hammond, mengumumkan niatnya untuk menaikkan batas kecepatan di jalan raya mulai 70 mph ke 80 mph (112-128,7 km/jam) pada awal 2013. Boleh jadi niat tersebut dipicu oleh pertumbuhan teknologi kendaraan terkait keselamatan jalan. Bagaimana di Indonesia? Khususnya untuk sepeda motor?

Rasanya, sepeda motor melaju di angka 60 kpj di dalam kota sudah cukup tinggi. Apalagi di pagi dan sore hari ketika lalu lintas jalan super padat. Kita juga ingat slogan “Killed Speed Safe Live” yang sangat terbukti berdampak langsung terhadap pengurangan kecelakaan dan fatalitas. Di Negara Bagian Victoria, Australia pengendalian kecepatan mampu menurukan jumlah fatalitas kecelakaan sebesar 25% dalam kurun waktu 20 tahun. Di Indonesia, kadang batas kecepatan maksimal di jalan tol saja sulit untuk dipatuhi.
Regulasi kita menegaskan bahwa aturan batas kecepatan kendaraan ditentukan berdasarkan kawasan permukiman, kawasan perkotaan, jalan antarkota, dan jalan bebas hambatan. Batasan kecepatan harus dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP) yang hingga kini kok saya merasa belum ada. Apa tidak terlalu dianggap penting?
Apalagi, dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan disebutkan bahwa penegakan hukum terkait batas kecepatan maksimal baru pada 2014. padahal, pemerintah juga mengakui bahwa faktor penyebab kecelakaan terbesar diakibatkan kendaraan berjalan dengan kecepatan yang tinggi di mana jalan dan lingkungan sekitarnya seharusnya tidak memperkenankannya.
Kalau sudah begitu, saat ini kita mengatur sendiri batas kecepatan laju sepeda motor di jalan umum? Terpenting, selamat sampai tujuan. Walau, ada teman saya yang berbisik, selamat sampai duluan. (edo rusyanto)

20 Komentar leave one →
  1. anto permalink
    6 Oktober 2011 11:42

    inspiratif.

  2. 6 Oktober 2011 11:51

    masih butuh motor kenceng ❓

  3. assassin permalink
    6 Oktober 2011 12:00

    40-60 mbah……lebih dari 60 cmn di gn sahari yg lagi lenggang dan tengah malam..( takut ada begal…hahahahah)

  4. Arsenal permalink
    6 Oktober 2011 12:26

    40kpj.di jln raya bekasi pada jam 5-9

  5. 6 Oktober 2011 12:38

    bukan nya kecepatan maksimum dijalan umum dalam kota 50 KMJ ?? kalo luar kota 80 KMJ

  6. Kang_OmprenX permalink
    6 Oktober 2011 12:47

    laporan lab 9 mana Om?

  7. 6 Oktober 2011 13:21

    Kalopun ada pp-nya..penerapannya masih jauhhh dr harapan, masuk ke gang ajs ngebut, sampe perlu diberi kata2 kasar ngebut benjut..

    Nitip ya om
    http://boerhunt.wordpress.com/2011/10/06/3s-membangun-bengkel-itu-relatif-mudah-tetapi-sdm-sumber-daya-manusia/

    • 6 Oktober 2011 13:29

      Memang betul point penting adalah kesadaran para pengendara, sekaligus penegakan aturan di jalan. Trims

  8. smoothy blue permalink
    6 Oktober 2011 14:44

    kalo saya dalam gang max 15 kpj,dalam kota max 50 kpj,luar kota 60 kpj,jalan sepi/rawan begal 75 kpj keatas alias gas mentok mbah bro…
    hehehe

  9. 6 Oktober 2011 14:52

    jalan komplek maks 20 kpj,dalam kota maks 60 kpj,luar kota maks 80 kpj jalanan sepi gass pol sampe mentok !!!!!!

  10. 6 Oktober 2011 15:24

    begitulah.. rata2 dikota ane 60 kpk

  11. prie permalink
    6 Oktober 2011 15:49

    dalam kota lebih banyak berhenti daripada jalan 0 km

  12. Hadya_HKM permalink
    6 Oktober 2011 18:12

    Kalo saya, di gang atau komplek 15-20 kpj, dalam kota 50-60 kpj kalo riding luar kota 80 kpj.

  13. nick69 permalink
    6 Oktober 2011 20:40

    Setahu saya, yg lepas dari lampu merah ,sepertinya pada gaspol deh.
    Kalo didlm kota, lebih banyak yg nekat.
    Jalannya sih gak bisa kenceng2, cm ya itu, pada nekat blusuk-an

  14. pulspies permalink
    6 Oktober 2011 23:12

    ga usah tinggi2 , cukup 30 km/j lancar aj dah syukur alhamdulilah pak .., salam

  15. 7 Oktober 2011 02:05

    kalo jalanan berlobang gimana kang edo ? kalo jalanan gak rata gimana ? kalo terlalu pelan atau ngikutin aturan trus diseruduk kopaja / metro mini gimana ? ada statistiknya? paling banter disebut human eror !

Trackbacks

  1. Kecepatan Berujung Maut « Edo Rusyanto's Traffic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: