Lanjut ke konten

Mimpi Sederhana Tukang Ojek Caringin

10 Juni 2011


foto:istimewa

FOTO di atas menimbulkan decak kagum. Ketika potret itu ditampilkan dalam penyuluhan keselamatan bersepeda motor (safety riding) ”Aman Berkendara Bagian dari Karakter Kita” yang digelar Dompet Dhuafa, di Caringin, Bogor, Kamis (9/6/2011), mayoritas peserta merespons. Ada yang menganggap itu kelebihan beban. Ada yang prihatin terhadap penumpang wanitanya.
Itu sisi lain potret sepeda motor sebagai alat angkut. Termasuk masyarakat kita. Potret tersebut bukan hasil jepretan saya.
Para peserta penyuluhan yang mayoritas adalah para penarik ojek sepeda motor di Caringin, Bogor, tampak antusias mengikuti penyuluhan. ”Ini adalah yang pertama kali,” ujar Saefulloh, sesepuh ojek di kawasan tersebut.


Kamal, Saefulloh, Ernita, dan Ipda Edwin. (foto:edo)

Dia mengaku senang bisa mengikuti kegiatan seperti itu. Ojek di bawah binaannya ada sekitar 700 orang. ”Kalau soal pelanggaran aturan memang ada, seperti tidak pakai helm atau tidak mempunyai SIM,” ujarnya polos.
SIM atau surat izin mengemudi bagi pemotor digolongkan dalam kelompok SIM C. Untuk mendapatkannya harus diurus di kantor kepolisian setempat dengan tes tertulis dan praktik.
Sementara itu, Ketua Gema Himpunan Ojek Siang Terpadu (Ghost) Kamal menuturkan, dia sudah belasan tahun jadi tukang ojek tapi belum punya SIM. ”Makanya saya senang sekali bisa ikut penyuluhan safety riding dan ada program dari Dompet Dhuafa untuk bikin SIM kolektif,” tukasnya.

Dia mengaku, setiap hari anggotanya dikutip iuran Rp 1.000 untuk uang kas. ”Tapi habisnya untuk menebus STNK yang ditilang polisi dan untuk membantu anggota yang jadi korban kecelakaan,” sergah dia.

Seakan mendapat durian runtuh, Kamal menuturkan, para anggotanya senang mendapat dukungan untuk membuat SIM. Maklum, selama ini, penghasilan sebagai tukang ojek hanya untuk kebutuhan sehari-hari. ”Bantuan uang pembuatan SIM dari Dompet Dhuafa ini harus dikembalikan secara mencicil,” jelasnya.
Sementara itu, Ipda (Pol) Edwin, kanit Dikyasa Polres Bogor menuturkan, pihaknya siap membantu pembuatan SIM bagi para tukang ojek tersebut. ”Kami akan datangi lokasi para tukang ojek. Minimal ada 100 orang, tim kami akan datang menjemput untuk pembuatan SIM kolektif. Biayanya Rp 100 ribu untuk SIM C dan Rp 150 ribu untuk SIM A,” tukasnya di tempat yang sama.


Suasana pemotor di Caringin, Bogor.

Mendengar hal itu, tak hanya Kamal yang senang. Baihaki, seorang tukang ojek yang memiliki empat anak mengaku gembira. ”Selama lebih dari delapan tahun saya ngojek tidak punya SIM,” selorohnya.

Penyuluhan
Suara hati para tukang ojek itu mencuat dengan gamblang. Saya yang hadir sebagai pembicara tunggal dalam penyuluhan safety riding bagi sekitar 200 tukang ojek cukup merasakan aspirasi mereka.

”Tukang ojek bukannya tidak tahu aturan, yah kami pura-pura tidak tahu saja,” sergah Kamal.
Saat memberi paparan sempat saya utarakan pentingnya ketaatan pada aturan dan perilaku santun dalam berkendara. Termasuk di antaranya memakai helm dan berboncengan tidak lebih dari dua orang.
”Boro-boro buat beli helm pak, uang dari ngojek cuma cukup buat makan sehari-hari,” tambah Baihaki.

Penyuluhan yang saya kombinasikan dengan pemutaran video tentang keselamatan jalan, cukup membuat para tukang ojek betah. Sesekali terdengar decak dan suara gemuruh manakala melihat adegan kecelakaan sepeda motor.

Sejuknya udara kaki Gunung Pangrango, kesulitan menangkis suhu panas di dalam tenda tempat pertemuan yang dipadai para tukang ojek. Saya cukup senang bisa berbagi dengan mereka.
”Kami juga senang ingin berbagi agar para tukang ojek dapat lebih memahami keselamatan, agar pulang dan pergi bisa selamat,” papar Ernita, dari Adira Insurance yang hadir mensosialisasikan surat komitmen selamat pulang ke rumah. (edo rusyanto)

9 Komentar leave one →
  1. ash permalink
    10 Juni 2011 10:03

    mantap nich mas edo…gak bisa berenti bikin ane kagum…terus semangat mas edo!!!!

  2. 10 Juni 2011 10:09

    Gema Himpunan Ojek Siang Terpadu (Ghost) —> KEREN…!!!

  3. 10 Juni 2011 10:12

    @ash: trims atensinya bro.

    @benny: ane juga sempat kaget, kirain hantu?

  4. bagoes permalink
    10 Juni 2011 11:11

    Mantab… maju terusss…
    wow Ojeknya Ghost Rider :mrgreen:

  5. 10 Juni 2011 16:15

    berkendara dengan aman……sayangi jiwa anda!!!!

    ayo semangat

  6. 10 Juni 2011 21:51

    kirain pasar caringin bandung!

  7. 11 Juni 2011 04:04

    Seandainya penyuluhan seperti ini rutin dijalankan di Jabotabek dengan dukungan PENUH pemprov DKI, saya yakin jalanan di Jakarta dan sekitarnya bisa lebih tertib dan lancar. salut buat mas Edo & team.

  8. Vyzex permalink
    11 Juni 2011 22:43

    Gila nih…
    Ini namanya berbuat..

    Gak cuma omdo..

    Salut bung edo!
    Mantap

  9. Vyzex permalink
    11 Juni 2011 22:44

    Oya, saya juga pernah ketemu penjual mi keliling..

    Dia bikin sim aja nyicil…

    Itulah potret masyarakat kita…

    Padahal, kalo dipikir, buat yg lain, uang bikin sim itu sekedar uang sekali makan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: