Lanjut ke konten

Dilema Pemotor

11 Februari 2011

SUATU malam yang dingin. Para penggiat keselamatan jalan sedang asyik berbincang-bincang di sebuah sudut Jakarta. Ketika tiba-tiba hadir pemandangan pemotor yang terdiri atas, pria dewasa, wanita dewasa, dan satu anak-anak. Satu motor bertiga. Kami hanya saling berpandangan. Sambil bergumam, itulah fenomena klasik Jakarta.

Ya. Jakarta punya segudang cerita soal pemotor. Mulai dari yang tampil santun hingga yang super ugal-ugalan di jalan. Bahkan, mulai dari yang paling tampil ala kadarnya, hingga tampil penuh aksesoris.

Tapi, apa iya hanya fenomena di Jakarta saja? Hemm…boleh jadi sudah menyebar ke seantero pelosok Indonesia.

Termasuk, soal bermotor yang terdiri atas orang dewasa dan anak-anak. Tak bisa disangkal, faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu terjadinya pemandangan seperti itu. Biaya transportasi bisa dihemat dengan bermotor bersama-sama. Bayangkan jika pemotor harus memilih angkutan umum seperti angkot, apalagi taksi, pasti biayanya berlipat. Naik motor, cukup dua liter bahan bakar minyak (BBM), beres.

Namun, apa iya sesederhana itu masalahnya?

 

Ekonomi

Saya sendiri punya problem amat sulit hingga kini. Seperti disinggung di atas, persoalan ekonomi menjadi salah satu pemicu. Di samping itu, ada pemicu lain, yakni enggan repot atau tidak menghiraukan keselamatan berkendara.

Ada sebagian masyarakat yang mampu untuk membayar biaya transportasi angkutan umum, namun memilih bermotor lebih dari dua orang dengan alasan lebih praktis. Pemotor berargumen bahwa tingkat kepraktisan bermotor salah satunya adalah menghemat waktu tempuh.

Lalu, soal keselamatan bermotor. Para pemotor sudah tahu hal itu. Mereka sadar, ada risiko tinggi ketika bermotor bertiga atau berempat, apalagi plus mengangkut barang-barang. Namun, dengan tiga alasan utama tadi yakni irit biaya, tidak mau repot, dan hemat waktu, aspek keselamatan menjadi terlupakan. Bukan tidak tahu, tapi terlupakan. Sekali lagi, alasannya karena terpaksa.

Bertiga, tapi kalau yang ini gak di jalan raya. (foto:adhi)

Soal yang satu ini, terkadang butuh pembelajaran empirik. Artinya, ketika merasakan pahitnya bermotor tiga atau empat orang, barulah tak akan mengulang atau tak pernah mau bermotor lebih dari dua orang. Risiko terlibat kecelakaan lalu lintas jalan tipis sekali.

Ketika keterampilan bersepeda motor tak memadai, lalu dipaksakan berkendara lebih dari dua orang, praktis risiko terlibat kecelakaan lebih besar. Belum lagi jika kondisi sepeda motornya sedang tidak fit. Misalnya saja, kondisi ban yang tidak terawat atau kondisi rem yang tak maksimal.

Lantas, kemana para penegak hukum lalu lintas jalan melihat fenomena ini? Bukankah ada aturan yang melarang pemotor berkendara lebih dari dua orang? Bahkan, ada sanksi denda maksimal Rp 250 ribu atau kurungan badan maksimal satu bulan penjara. Duh dilematis yah? (edo rusyanto)

30 Komentar leave one →
  1. Alano permalink
    11 Februari 2011 12:58

    STOP OVER IDEALIS..

    • AshleyzZzzz permalink
      11 Februari 2011 13:39

      maksudnya apa gan???

  2. pakbambangnunggangjaran permalink
    11 Februari 2011 13:00

    maka dari itu tidak ada mentri perbebekan, kasian beliaunya

  3. 11 Februari 2011 13:05

    hmm…sayapun juga seperti itu pak.
    Tapi insya allah motor fit, piranti keselamatan dipakai, peraturan di patuhi.
    Dan itu pas pulang saja ke cilacap. Apalagi jalanan di daerah relatif sepi.

    Kalo di jakarta saya adalah pengguna busway, taxi, kopaja, metromini.

    • 11 Februari 2011 13:07

      dilema yah bro, saya juga pernah tuh. smoga keselamatan menjadi milik kita semua. aminnn….

  4. Oom Soer permalink
    11 Februari 2011 13:13

    Mo gimana lagi mas. waktu2 tertentu sayapun begitu. hemat waktu dan biaya. kalo saya punya mobil, akan lain ceritanya.

  5. redlight permalink
    11 Februari 2011 13:16

    gak semua orang punya banyak pilihan….

    • 11 Februari 2011 13:23

      di tengah pilihan yg sempit, kita coba semaksimal mungkin agar mampu mereduksi potensi kecelakaan lalu lintas jalan. aminnn

  6. 11 Februari 2011 13:23

    waaahh bener2 dilema banget bro.. dulu paman ane bilang “klo masih kecil kasian ditinggal sendirian dirumah jika ada urusan keluarga.. pasti dibawa tuh..” Mudah2an di ambil hikmahnya dan lebih hati2..

    • 11 Februari 2011 13:26

      aminnn….berdoa memang tak bisa diabaikan ketika berkendara. salam

  7. sekopati permalink
    11 Februari 2011 13:25

    saya juga seperti itu oom edo, akhirnya tambah motor satu lagi buat istri biar gak ber4 naik motornya.

  8. 11 Februari 2011 13:28

    faktor ekonomi memang menjadi faktor mendasar menurut saya,baru merembet ke faktor lainx

  9. 11 Februari 2011 13:31

    @sekopati: wah harus tambah kocek nih buat motor baru, hehehe…

    @az147r: trims bro atas sharingnya, salam.

  10. AshleyzZzzz permalink
    11 Februari 2011 13:42

    setuju dech……kalo kaya didaerah agak susah yg minim taxi….kalo dijakarta…mungkin naek taxi……kalo deket…apa boleh buat……

  11. softech_niQ permalink
    11 Februari 2011 18:26

    dilema jg nih,punya motor tp ga punya SIM,punya SIM tp ga punya motor…hihihihi.

  12. satrio permalink
    11 Februari 2011 19:42

    mas bro bisa aja ane punya motor lebih dari satu.. masalahnya bini ane g bisa naik mtr sendiri trauma pernah terjun ke jurang masa sma……. terpaksa ane klo liburan bonjeng bertiga

  13. Alano permalink
    11 Februari 2011 19:44

    Boncengne anak its’nt crime..

  14. 11 Februari 2011 19:58

    sering berempat, trpaksa… Mo gmana lg…

  15. 11 Februari 2011 20:00

    payah nih masyarakat indonesia

  16. arief permalink
    11 Februari 2011 22:05

    waktu saya kecil, naik motor berlima. Waktu itu naik vespa, dimulai terdepan saya, bapak, kakak saya,adik saya, ibu saya. Polisi pas liat bilang motor koq kaya angkutan umum.Tapi gimana lagi, klo lebaran enaknya bareng2 dan saat itu jalanan masih sepi. Kira2 tahun 1992-1994.

  17. 11 Februari 2011 23:05

    Jadi ingat dulu.., waktu masih kecil. Malah berempat…, Bapak, Ibu, saya bonceng ditengah, kakak bonceng didepan..,
    Selisih harga motor dengan mobil jauh banget.., belum lagi perawatannya.., coba kalo Pemerintah Indonesia kasih dukungan bt bikin mobil murah+ hemat seperti Tata Nano yang di India. N sebetulnya sudah ada calon2nya di Indonesia, klo gak salah tergabung dalam Asianusa..

  18. 11 Februari 2011 23:06

    Jadi ingat dulu.., waktu masih kecil. Malah berempat…, Bapak, Ibu, saya bonceng ditengah, kakak bonceng didepan..,
    Selisih harga motor dengan mobil jauh banget.., belum lagi perawatannya.., coba kalo Pemerintah Indonesia kasih dukungan bt bikin mobil murah+ hemat seperti Tata Nano yang di India. N sebetulnya sudah ada calon2nya di Indonesia, klo gak salah tergabung dalam Asianusa..
    nitip jemuran 😀
    http://bikerpoint.wordpress.com/2011/02/11/di-kelas-sport-150cc-suzuki-masih-berpeluang-kok/

  19. Darlasema permalink
    12 Februari 2011 02:40

    wah, susah yha om.. klo kmrn2 yg sempet saya bacadsalah satu tabloid. jika kita berkendara membawa anak ada beberapa hal utama yg harus d perhatikan.. baik untuk s kecil dan yg dewasa.
    1. anak d berikan peranti keselamatan seperti helm, jaket, spatu dan clana panjang
    2. yg dewasa jgn kalah ma yg kecil dalam peranti keselamatan minimal sama lah..
    3. jgn menempatkan s kecil berada d depan.. (ank kecil kondisi tubuhny gk sebagus org dewasa loh,, org dewasa ja msh bs masuk angin…)
    4. jgn membawa barang berlebih.. (klo mang harus, sediakan tempat seperti box motor)
    5. kondisi motorharus fit lah…
    maaf2 nie klo ada yg salah atw kurang setuju.. sy hanya menshare pengetahuan sy aja.. klo salah d maafkan, klo manfaat d jalankan.. 😀

  20. Oom Soer permalink
    12 Februari 2011 08:54

    sudah saya maafkan mas Edo.., tapi maafkan saya kalo masih semotor bertiga.., anak saya masih 5 tahunan..tapi alhamdulillah gak intens. hanya seminggu 1x, jarak dekat.hehehe..

    • 12 Februari 2011 09:00

      smoga kita semua dalam lindungan keselamatan Nya. amin

  21. 12 Februari 2011 19:43

    Kalau mau selamat dijalan ya harus taat aturan.
    kan tidak sulit hanya kadang2 emang kebiasaan aja

  22. 10 Maret 2011 17:44

    Yah kalau buat mudik/jarak jauh mending pake mobil jadul, 10 jt juga dapet yg tahun 80-an. Tapi yah itu dipake-nya jarang. Tetep aja pake motor bertiga 🙂 . Tapi buat jarak dekat saja.

Trackbacks

  1. Pak Edo, Aktivis Yang Konsisten « Learning To Live
  2. Skywave Memang Cocok Untuk Keluarga « Learning To Live
  3. Skywave Memang Cocok Untuk Keluarga | Maskur's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: