Lanjut ke konten

Peradaban Baru Bergelayut di Pundak Ratangga

24 Maret 2019

WAJAH lalu lintas jalan di kota Jakarta memasuki babak baru. Kehadiran angkutan umum massal moda raya terpadu atau mass rapid transit (MRT) diharapkan ikut mengurai kemacetan lalu lintas jalan yang demikian menggila di Jakarta.

Pembangunan MRT Jakarta dicanangkan pada Kamis, 26 April 2012 oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Pencanangan itu bagian dari upaya mewujudkan mimpi memiliki MRT sejak 1985 yang oleh Gubernur Sutiyoso, pada 2004, MRT dimasukkan dalam pola transportasi makro yang akan dibangunnya selain bus Transjakarta. Lalu, oleh Gubernur DKI Jakarta selanjutnya, yakni Joko Widodo, pembangunan angkutan umum berbasis rel itu kemudian direalisasikan mulai Kamis, 10 Oktober 2013 di Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Kini, pada Minggu, 24 Maret 2019, Joko Widodo yang telah menjadi Presiden Republik Indonesia sejak 2014, meresmikan pengoperasian MRT untuk fase I, yakni Lebak Bulus, Jakarta Selatan hingga ke Bundaran HI, Jakarta Pusat. Saat yang sama, Presiden melakukan pemancangan tiang pertama (groundbreaking) untuk pembangunan MRT Jakarta fase II, yakni dari Bundaran HI ke Kota. “Dengan pengoperasian MRT Jakarta, maka dimulai peradaban baru di wilayah Ibu Kota Jakarta,” ujar Joko Widodo, seperti dikutip dari Antara, Minggu, 24 Maret 2019.

Peradaban baru transportasi di Jakarta sempat bergulir ketika tampuk Gubernur DKI Jakarta dipegang Sutiyoso dengan meresmikan bus Transjakarta pada 2014. Saat itu, konsep bus kota benar-benar dirombak. Dari semula bisa berhenti dimana saja, menjadi hanya berhenti di halte atau terminal yang disediakan. Bus Transjakarta bahkan memiliki jalur sendiri. Kini, bus tersebut memiliki 13 koridor yang merajut setiap sudut kota Jakarta. Bahkan, sistem pembayaran tiketnya pun memakai e-money.

Jakarta memang terus berbenah. Selain bus rapid transit (BRT), yakni Transjakarta dan MRT, kini dibangun pula kereta ringan (light rail transit/LRT). Ada dua proyek LRT, satu oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan satunya lagi oleh pemerintah pusat yang dibangun oleh badan usaha milik negara (BUMN) PT Adhi Karya Tbk dan dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Khusus untuk versi pemerintah pusat, kelak merajut Jakarta dengan kota di sekitarnya, yakni Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Hingga Maret 2019, infrastruktur yang tengah dibangun adalah yang merajut Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek).

Mengurai Kemacetan

Kembali ke MRT. Angkutan umum massal ini diharapkan mampu ikut menguraikan kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta yang sudah demikian menggila, terutama pada jam-jam sibuk, yakni pagi dan sore hari. Walau, di titik-titik tertentu, kemacetan masih terlihat di sana-sini pada malam hari.


Kemacetan lalu lintas jalan tak terlepas dari tingginya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya. Menurut catatan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya yang membawahi Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), pada 2016, terdapat sekitar 18 juta kendaraan bermotor.

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta dalam Statistik Transportasi DKI Jakarta tahun 2018 menyebutkan, pertumbuhan kendaraan bermotor selama lima tahun terakhir, 2012-2016, mencapai 5,35% per tahun. Jika dirinci menurut jenis kendaraan, mobil penumpang mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 6,48% per tahun. Lalu, sepeda motor ( 5,30%), mobil beban (5,25%), dan bus turun 1,44% per tahun.

Karena itu, lalu lintas di Jakarta tahun 2016 didominasi oleh sepeda motor (73,92%), mobil penumpang (19,58%), mobil beban (3,83%), mobil bus (1,88%), dan kendaraan khusus/ransus (0,79%).

Selain karena pergerakan warga Jakarta yang mencapai sekitar 10,18 juta juta pada 2017, lalu lintas jalan Jakarta juga diwarnai pergerakan warga dari Bodetabek yang beraktifitas di Jakarta. Pada 2015 saja, total perjalanan dari Bodetabek ke DKI Jakarta mencapai 1.419.000 perjalanan/hari.

Nah, mayoritas pergerakan orang itu masih didominasi oleh penggunaan kendaraan pribadi, baik itu mobil penumpang maupun sepeda motor.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang merujuk studi Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) 1, dalam rentang 2002 hingga 2010, jumlah pengguna transportasi umum turun mencapai hampir tiga kali lipat. Sebaliknya, peningkatan jumlah pengguna sepeda motor mencapai hampir tiga kali lipat. Karena itu, peralihan moda transportasi umum ke kendaraan pribadi mengakibatkan kemacetan lalu lintas jalan yang lebih serius.

Kehadiran MRT Jakarta tentu diharapkan memberi angin segar untuk mengurai kemacetan lalu lintas jalan Jakarta. Untuk fase I sepanjang 16 kilometer dan menghabiskan dana sekitar Rp 16 triliun, diharapkan mampu mengangkut sekitar 175 ribu penumpang per hari. Laman beritasatu.com, Minggu, 24 Maret 2019, menulis, angka itu dengan asumsi satu rangkaian kereta MRT yang berisi sembilan gerbong mampu mengangkut 1.900 penumpang serta beroperasi sepanjang pukul 05.00-24.00 WIB. Jika kelak fase II (8,3 km) yang menghabiskan sekitar Rp 22 triliun telah beroperasi, tentu jumlah penumpang yang diangkut bisa lebih besar lagi.

Kini, MRT Jakarta fase I mencakup konstruksi layang (elevated section) dan konstruksi bawah tanah. Laman jakartamrt.co.id menulis, struktur layang (elevated) membentang sekitar 10 km dari Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja. Tujuh Stasiun Layang konstruksi ini adalah Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Lalu, depo kereta api dibangun di area Lebak Bulus, berdekatan dengan stasiun awal/akhir Lebak Bulus. Seluruh stasiun penumpang dan lintasan dibangun dengan struktur layang yang berada di atas permukaan tanah, sementara Depo kereta api dibangun di permukaan tanah (on ground).

Sementara itu, konstruksi bawah tanah (underground) MRT Jakarta membentang sekitar 6 km yang terdiri atas terowongan MRT bawah tanah dan enam stasiun MRT bawah tanah. Stasiun bawah tanah ini adalah Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.


Kehadiran stasiun bawah tanah MRT Jakarta yang tampak megah membuat sebagian warga yang menjajal saat ujicoba secara gratis, baru-baru ini, seperti tergagap-gagap. Sampai-sampai ada yang membawa bekal dan makan bersama di stasiun. Di dalam kereta, ada yang bergelantungan di pegangan tangan, bahkan berdiri di atas tempat duduk. MRT Jakarta memberi kesempatan warga mencoba gratis 25 Maret 2019 sampai 31 Maret 2019 dalam rentang pukul 05.30 sampai 22.30 WIB.

Oh ya, rangkaian kereta MRT Jakarta diberi nama Ratangga. Nama itu diambil dari dari puisi dalam Kitab Arjuna Wijaya dan di Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. Dalam bahasa Jawa Kuno, Ratangga artinya Kereta Perang. Kereta Perang identik dengan kekuatan dan pejuang. “Dalam menjalankan tugasku, aku akan selalu tangguh dan kuat mengangkut para pejuang Jakarta yang sedang berikhtiar untuk kehidupan yang lebih baik,” bunyi kalimat di papan yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sebagai simbolis pemberian nama Ratangga, 10 Desember 2018. (edo rusyanto)

foto:
jakartamrt.co.id
twitter radio elshinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: