Skip to content

Angkot Masih Jadi Andalan Warga

30 Juni 2018

KEHADIRAN angkutan kota (angkot) masih dibutuhkan warga. Mobilitas masyarakat, termasuk di Jakarta dan sekitarnya, cukup terbantu oleh angkutan umum yang satu ini.

“Saya dari rumah ke stasiun Pondok Cina di Depok, naik angkot,” tutur Ida, kita sebut saja demikian, saat berbincang dengan saya, baru-baru ini.

Ribuan orang, bahkan lebih memanfaatkan angkot di Jakarta dan sekitarnya seperti Ida. Angkutan yang satu ini demikian dekat dengan kehidupan sehari-hari warga kota. Jabodetabek yang berpenduduk sekitar 25 juta jiwa, masih sulit meninggalkan angkot sebagai angkutan sehari-hari di luar kendaraan pribadi.

Tarif yang terjangkau menjadi salah satu alasan Ida untuk memilih angkot. Selain tentu saja jika hujan tidak terkena guyuran air dari langit. Berbeda dengan jika naik ojek sepeda motor yang bakal kebasahan saat hujan turun.

Ya. Angkot masih dengan mudah dijumpai di Jakarta dan sekitarnya. Di kota Jakarta, banyak warga yang memanfaatkannya untuk transportasi harian. Mulai dari yang sekadar dari rumah ke pasar, atau dari rumah ke sekolah, hingga dari rumah menuju ke stasiun kereta api. “Tapi, kadang saya juga naik ojek online. Lebih praktis dibandingkan angkot karena bisa diantar sampai depan rumah,” tutur Wati, kita siapa saja demikian, warga Jakarta, saat berbincang dengan saya, belum lama ini.

Dalam dua tahun terakhir serbuan ojek online (ojol) cukup deras di Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Keunggulan ojol dibandingkan angkot adalah mampu mengantar hingga keluar masuk gang. Hal ini menjadi alasan banyak warga ketika memilih ojol dibandingkan angkot.

Saat ini, tarif angkot di Jakarta berkisar Rp 3.000-5.000 per penumpang untuk satu kali naik. Jarak tempuh berpengaruh pada besar kecilnya ongkos yang dibayar konsumen. Semakin jauh jarak yang di tempuh dalam trayek angkot bersangkutan, kian besar ongkos yang dibayar penumpang. Misal, jika trayek angkot Rp 5.000, untuk jarak maksimal membayar sebesar itu. Sedangkan jika jarak tempuh kurang dari separuh panjang trayek, biasanya penumpang dikenai ongkos Rp 3.000. 

Oh ya, tarif untuk pelajar biasanya juga di bawah orang dewasa. Misal, untuk jarak dekat, jika dewasa membayar Rp 3.000, pelajar cukup membayar Rp 2.000. 

Tarif itu relatif terjangkau oleh kebanyakan warga. Cukup menyediakan uang tunai, saat tiba di tujuan penumpang membayar ongkos kepada sopir angkot. 

Untuk urusan kenyamanan duduk, jika saya bandingkan dengan tahun 1980-an, angkot di Jakarta saat ini lebih nyaman. Maksudnya, jika semula penumpang dapat dengan mudah terpercik air saat musim hujan, kini relatif lebih terlindungi. Maklum, sebelumnya penumpang masuk dari belakang angkot tanpa ada pintu penutup. Kini, penumpang masuk dari samping angkot dan memiliki pintu. Bahkan, untuk angkot tertentu pernah ada yang memiliki pendingin ruangan alias memakai AC. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: