Lanjut ke konten

Pengalaman Melintas di Tol Fungsional Bocimi

20 Juni 2018

PAGI baru saja merangkak menuju siang. Cuaca terlihat cerah. Awan putih menghiasi langit nan biru.

Kendaraan bermotor melaju di atas jalan tol fungsional, yakni sebutan untuk jalan tol yang belum beroperasi penuh alias masih gratis. Mayoritas mobil yang melintas adalah kendaraan pribadi, mulai dari jenis sedan, multi purpose vehicle (MPV) hingga sport utility vehicle (SUV). Hanya satu dua kendaraan angkutan umum yang melintas, khususnya jenis angkutan kota (angkot).

Saya menumpang di salah satu mobil yang melaju diantara ratusan kendaraan di Tol Bocimi pada pagi itu. Bocimi adalah kependekan dari Bogor-Ciawi-Sukabumi. Kelak, saat keseluruhan ruas tol itu rampung menghubungkan Bogor hingga Sukabumi lewat Ciawi. Diharapkan waktu tempuh dapat menyusut dibandingkan dengan ketika pengemudi melintas di jalan arteri, yakni Jl Raya Sukabumi yang kini menjadi andalan untuk wira-wiri.

Bocimi terhubung dengan Tol Jagorawi, tol yang menghubungkan kota Jakarta dengan Bogor dan Ciawi. Sekeluar dari Tol Jagorawi, kami berbelok ke kiri memasuki tol fungsional Bocimi. Di mulut Bocimi terdapat tulisan di atas gerbang darurat yang berbunyi ‘Tol Bocimi’. Sepanjang jalan Seksi I Tol Bocimi yang menghubungkan Ciawi dengan Lido/Cigombong sepanjang 15,35 kilometer (km) tampak membentang cukup mulus.

Perjalanan cukup lancar. Lazimnya jalan tol fungsional, di sana-sini tampak masih bertengger sejumlah alat berat, bahkan material pembangunan seperti beton cetakan untuk gorong-gorong jalan. Di sejumlah titik, tebing-tebing yang tampak memerah tanahnya masih terlihat cukup jelas. Ada juga sejumlah rumah penduduk yang bertengger di sisi tebing. Boleh jadi hal itu menjadi pemandangan menarik bagi sejumlah orang.

Untuk urusan rambu, tentu saja belum maksimal. Sekalipun ada, bentuknya masih sementara. Begitu juga dengan fasilitas di jalan tol pada umumnya, seperti rest area, masih belum tersedia. Setidaknya itu yang saya lihat.

Jelan pintu keluar di Cigombong, Sukabumi jalan agak sedikit menanjak dan ukuran jalan mengecil. Praktis antrean kendaraan mengular. Sejumlah petugas jalan tol membantu mengarahkan pengendara yang hendak keluar ke jalan arteri untuk melaju hati-hati karena jalan menanjak.

Mengingat saat saya melintas adalah musim mudik, yakni hari kedua Lebaran, Sabtu, 17 Juni 2018, praktis volume kendaraan cukup tinggi. Guna membantu arus kendaraan, ketika hendak keluar Tol Bocimi seksi I, sejumlah polisi juga ikut membantu di titik tersebut. “Silakan bagi yang mau ke Sukabumi berbelok kiri,” tutur seorang polisi, saat itu.

Ternyata itu adalah jalur alternatif. Jalannya sempit, sebelum masuk ke jalan utama. Hanya bisa dilintasi dua mobil berpapasan ukuran low MPV. Di kanan kiri jalan masih banyak pepohonan dan kebun, termasuk pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi. Para pengendara diharapkan bersabar dan ekstra hati-hati agar tidak saling berserempetan.

Perjalanan dari pintu gerbang tol Bocimi mengarah ke Cigombong saya perkirakan berkisar 20-25 menit. Waktu tempuh itu cukup berbeda signifikan dibandingkan melintas di jalan arteri yang bisa berkisar 50-60 menit.


Oh ya, tol yang memiliki panjang total 54 km itu ditaksir menghabiskan investasi sekitar Rp 7,7 triliun. Jalan bebas hambatan yang digarap PT Trans Jabar Tol itu ditargetkan rampung secara keseluruhan pada 2020. (edo rusyanto)

2 Komentar leave one →
  1. Elsid permalink
    20 Juni 2018 22:11

    kalau kirim aretikel tentang jalur selatan boleh pak Edo?

Trackbacks

  1. Pengalaman Pertama Melintas di Bocimi – Berita Tiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: