Skip to content

Begini Perbandingan Kecelakaan Mudik 2016 dengan 2017

2 Juni 2018

PARA pegiat, apalagi para pemangku kepentingan keselamatan jalan, bolehlah bersyukur. Apa yang mereka lakukan sepanjang tahun lalu telah membuahkan hasil positif. Kecelakaan musim mudik Lebaran tahun 2017 dapat dikurangi, baik dari segi kejadian maupun fatalitasnya.

Berkat kerja keras dan jurus cerdas secara terus menerus, petaka di jalan raya selama musim mudik mampu terus ditekan. Entah itu gerakan publik, maupun sepak terjang para pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, serta kalangan swasta, mutlak bergerak terus menerus. Tentu dirajut dengan sinergisitas yang kokoh.

Buah yang dipetik lahir dari gerakan berkesinambungan. Bila dilakukan hanya sesekali dan merasa sudah cukup dengan berbuat satu kali, dapat dipastikan bakal meninju tembok beton. Apalagi cuma berbuat sebentar, lalu tidak mengakar karena berlindung di balik jubah kebesaran, patut diduga cuma menepok angin di siang hari. Biasanya yang begini sudah cukup puas dengan mimpi di siang hari. Tidak becus, lalu berfantasi. Jubahnya cuma onggokan kain kusam tak bermakna. Kasihan.

Karena itu, gelora membangun kesadaran berlalu lintas jalan yang aman dan selamat harus terus digulirkan. Sekali lagi, lewat kerja keras dan jurus cerdas. Gerakan itu tentu saja termasuk mengantisipasi petaka yang mungkin hadir ketika musim mudik dan arus balik Lebaran. Maklum, musim yang memiliki rentang waktu 16 hari itu diwarnai dengan pergerakan orang dan kendaraan dalam jumlah besar dalam waktu yang serempak. “Pada musim mudik tahun 2017, jumlah kendaraan yang bergerak sekitar 3,2 juta mobil dan sekitar 6,4 juta sepeda motor,” kata Direktur Pembinaan Keselamatan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Ahmad Yani, dalam diskusi Sinergi Mudik Sehat, Mudik Selamat, yang digelar Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), di Hotel Ibis Cawang, Jakarta, Sabtu (12/5/2018).

Bayangkan, nyaris 10 juta kendaraan bergerak dalam waktu nyaris bersamaan. Soal kemacetan lalu lintas jalan sudah di depan mata. Tak heran jika waktu tempuh bisa berlipat-libat dibandingkan hari biasa.

Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas jalan pun sudah di depan mata. Tingginya volume kendaraan dan rasa lelah saat berkendara yang didera kemacetan, bisa memperbesar terjadinya kecelakaan. Terbukti, pada musim mudik 2017, setiap hari, rata-rata terjadi 198 kasus kecelakaan. Buntutnya, setiap hari 46 orang meninggal dunia akibat kecelakaan.
Data yang saya kutip dari materi paparan diskusi Ahmad Yani itu juga memperlihatkan bahwa setiap hari 43 orang menderita luka berat. Sedangkan mereka yang menderita luka ringan tercatat sekitar 273 orang setiap hari. Mengerikan.

Nah, terkait buah yang dipetik dari gerakan seluruh elemen bangsa, fakta data tahun 2017 itu bisa disebu cukup positif. Maksudnya, kasus kecelakaan pada 2017 ternyata anjlok 30%, sedangkan fatalitas melorot 41% bila dibandingkan dengan musim mudik tahun 2016.

Bahkan, korban yang luka berat dan luka ringan pun mampu ditekan masing-masing turun 40% dan 23%.
Lantas, bagaimana dengan musim mudik 2018? Kita berharap tentu saja jumlahnya dapat terus menurun sehingga pada suatu titik lalu lintas jalan yang humanis benar-benar terwujud. Sekali lagi, semua dapa terwujud bukan karena datang dari langit, butuh usaha.

Terus bergerak dan jangan lelah tebar kebaikan. (edo rusyanto)

One Comment leave one →
  1. Windu Mulyana permalink
    2 Juni 2018 16:38

    Mohon utk bisa di bagikan ya om datanya klo nanti sudah ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: