Lanjut ke konten

Sekali-sekali Ganti Aliran, dari Kiri Pindah ke Kanan

2 April 2018

BIASANYA waktu bersepeda motor melintas di lajur kiri atau kanan jalan?

Saat saya melontarkan pertanyaan itu kerap mendapat beragam respons jawaban dari kalangan pesepeda motor. Ada yang berkata, “Sesuai aturan, maka melintas di lajur kiri.”

Tapi, ada juga yang menjawab, “Tergantung situasi. Kalau lajur kanan tidak memungkinkan, lajur kiri pun menjadi pilihan.”

Atau, “Kalau mendahului, dari kanan jalan.”

Beragamnya pernyataan itu selaras dengan fakta keseharian. Coba lihat saja di sekitar kita. Sepeda motor bisa ada di kiri, tengah, atau kanan jalan. Tentu saja kesemua itu tak merisaukan selama memang tidak memicu peluang kecelakaan lalu lintas jalan kian membesar. Serta, tak perlu risau manakala kesemua itu tidak mengundang gesekan sosial apalagi sampai adu otot di jalan raya. Kalem.

Kalau mau jujur, aturan yang berlaku saat ini memang mewajibkan pesepeda motor melintas di lajur kiri jalan. Coba saja tengok Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya di di pasal 108 ayat (3). Pasal itu bilang bahwa sepeda motor, kendaraan bermotor yang kecepatannya lebih rendah, mobil barang, dan kendaraan tidak bermotor berada pada lajur kiri jalan.

Hal itu mengingat pada lajur kanan, diatur dalam ayat (4), hanya diperuntukkan bagi kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi, akan membelok kanan, mengubah arah, atau mendahului kendaraan lain.

Masih kalau mau jujur juga, setiap aturan itu mutlak dinyatakan dengan rambu atau marka termasuk tentu saja terkait soal penggunaan lajur di jalan raya. Maklum, bila dinyatakan dengan rambu, alasan untuk menindak sang pelanggar menjadi lebih masuk akal. Maksudnya, jadi ada pijakan, yakni salah karena melanggar rambu.

Oh ya, melanggar marka dan rambu jalan ternyata sanksinya cukup berat. Ancamannya, bisa dipidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.


Eloknya memang kehadiran sebuah aturan bukan melulu soal tindak menindak pelanggaran. Kehadiran aturan agar lalu lintas jalan menjadi lebih aman, nyaman, dan selamat. Kondisi lalu lintas jalan yang humanis, yakni kondisi yang minim kecelakaan lalu lintas. Semua pengguna jalan sesuai dengan porsinya, tidak saling sikut, apalagi saling sikat.

Kembali soal lajur kiri bagi pesepeda motor. Dalam kondisi tertentu aturan itu ternyata bisa saja berubah. Nggak percaya?

Aturan yang meminta pesepeda motor melaju di lajur kanan saya jumpai di kawasan jalan Bypass di Jakarta Timur, awal April 2018. dalam rambu warna biru ditulis “Sepeda motor gunakan lajur kanan.”

Usut punya usut, aturan itu dibuat bukan tanpa alasan. Ternyata di bagian kiri sedang ada pembangunan proyek jalan tol Becakayu yang menghubungkan Kota Bekasi dengan Jakarta Timur. Lagi pula, di sisi kiri di lokasi rambu itu berada mengarah ke gerbang tol.

Praktis, sepeda motor diarahkan ke lajur kanan agar tidak menimbulkan salah faham. Jadi nggak elok kalau tiba-tiba justeru sepeda motor nyasar masuk ke jalan tol.

Jadi, sekali-sekali bolehlah pindah aliran, dari kiri ke kanan jalan. Asal…. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: