Lanjut ke konten

Sesama Ojek Daring Saling Mengingatkan

22 Maret 2018

KEMACETAN lalu lintas jalan demikian menggila. Kendaraan bermotor tumpah ruah dan nyaris tidak bergerak.

Begitulah suana menjelang perempatan Kuningan, Jakarta Selatan dari arah Mampang, Jakarta Selatan. Saya berada di tengah-tengah karut marut lalu lintas tersebut. Sesekali melirik ke sekeliling. Tiap pengendara punya cara sendiri menikmati kemacetan yang dilaluinya.

Ada pengendara yang mengangguk-ngangguk. Sepintas tampaknya pesepeda motor itu sedang menendengarkan musik. Di bagian dadanya menggelayut kabel seperti yang ditemui di alat bantu dengar.

Lalu, ada yang merokok. Nah, ini yang agak tampil beda. Di tengah serbuan polusi dari knalpot kendaraan, dia justeru berlomba-lomba memasukkan asap knalpot, debu, dengan asap dari rokok. Pilihan yang berani.

Dan, ada juga pengendara mobil yang asyik masyuk berponsel ria. Boleh jadi untuk mengusir rasa jenuh dari kemacetan. Begitu juga dengan orang yang duduk sebagai pembonceng di sepeda motor. Menghilangkan rasa jenuh, dia tampak asyik memainkan ponselnya. Entah menjawab pesan atau menulis pesan, entah sedang berselancar di dunia maya.

Begitulah kondisi di tengah kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta, suatu siang. Hingga tiba-tiba orang dikejutkan oleh suara yang cukup keras.

“Mas, salah situ beloknya. Nggak boleh belok di situ,” sergah seorang pengemudi ojek sepeda motor berbasis aplikasi atau ojek daring.

“Memangnya nggak boleh yah?” Tanya yang ditegur.

Keduanya memakai jaket dengan warna dominan hijau. Bedanya, yang menegur dalam posisi arah yang seharusnya. Namun, ojek daring yang ditegur, tampak hendak memotong kemacetan untuk mencari jalan pintas. Upaya itu gagal karena padatnya kendaraan yang terjebak kemacetan.

Entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya. Pastinya, ojek daring yang ditegur akhirnya kembali ke jalur yang semestinya. Sama-sama menikmati kemacetan. Sempat saya lihat wajah perempuan yang menjadi penumpang ojek, tampak sedikit kecewa.

Saling mengingatkan sesama pengguna jalan adalah upaya mulia. Itu yang ada di pikiran saya. Andai bapak ojek daring tadi tidak mengingatkan pengojek yang hendak memotong kemacetan, boleh jadi karut marut lalu lintas jalan seakan tanpa batas. Kemacetan memang menguji kesabaran pengguna jalan.

Sekadar menyegarkan ingatan kita. Di Jakarta dan sekitarnya terdapat sekitar 14 juta sepeda motor dan sekitar tiga juta mobil. Seandainya yang keluar ke jalan raya seperempat dari jumlah itu saja sudah dapat dibayangkan bagaimana macetnya jalan raya Jakarta. Jadi? Sabar aja, menikmati kemacetan yang ada. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: