Lanjut ke konten

Pandangan Polisi Soal ADR dalam Kasus Kecelakaan

20 Maret 2018

PEREMPUAN muda dengan gamis warna hijau berdiri diantara ratusan orang lainnya. Dia melontarkan pertanyaan.

“Bagaimana pendapat bapak tentang ADR (alternative dispitute resolution) dalam kasus kecelakaan lalu lintas jalan?”

Pertanyaan seperti itu nyaris tidak pernah saya jumpai dalam diskusi maupun sosialisasi terkait keselamatan jalan (road safety). Pertanyaan dari mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, di kampus UINSA di Surabaya, baru-baru ini, juga mendapat perhatian dari Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) M Aldian. Kebetulan, kami sama-sama menjadi narasumber dalam diskusi bertajuk ‘Mahasiswa Indonesia Responsif Berkendara’ di kampus tersebut.

“ADR sebagai penyelesaian di luar pengadilan hanya bagi kecelakaan yang menimbulkan korban luka dan barang,” tuturnya.

Dia menambahkan, ADR tidak diterapkan dalam kasus kecelakaan yang menimbulkan korban meninggal dunia.

Setahu saya, karena kecelakaan bukan delik aduan, praktis peran kepolisian begitu vital dalam menuntaskan kasus kecelakaan. ADR atau juga dikenal dengan alternatif penyelesaian sengketa (APS) dalam kasus kecelakaan pun terasa perlu menghadirkan pihak kepolisian. Sekalipun, tidak semua pihak yang terlibat kecelakaan, terlebih kecelakaan kategori ringan, mau membawa kasusnya ke ranah hukum. Kepolisian memegang simpul penting untuk menentukan kasus kecelakaan untuk masuk ke ranah pengadilan atau sebaliknya.

Dalam sejumlah kasus kecelakaan yang masuk ke ranah hukum, sekalipun pihak korban sudah berdamai dengan pelaku, tetap saja kasusnya terus bergulir hingga ke vonis majelis hakim. Perdamaian dan pemberian uang duka dari pelaku kecelakaan menjadi unsur yang meringankan dalam putusan pengadilan.

Faktanya, tak semua kecelakaan lalu lintas jalan masuk ke meja hijau. Walau, potensi untuk dibawa ke ranah pengadilan cukup besar. Maklum, Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) memungkinkan hal itu. Entah itu bagi pelaku yang menimbulkan korban luka, maupun pelaku yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Berat memang. Sudah menderita luka maupun menderita kerugian, mesti berhadapan dengan ancaman pidana penjara. Tak heran bila kita pun berkesimpulan bahwa kecelakaan berdampak luas.

Karena itu, terus menjaga agar tidak mengalami kecelakaan adalah sebuah ikhtiar mulia. Menerapkan berkendara rendah risiko menjadi jurus utama. Dasarnya tentu saja bertumpu pada dua hal, yakni memahami pemicu kecelakaan dan solusinya. Untuk mencapai tahap itu butuh kemauan untuk mempelajari apa saja yang dimaksud dengan kedua hal tersebut.

Saat terjadi kecelakaan kerap kita disodori fakta soal subyek dan obyek kecelakaan. Dalam keseharian dipilah menjadi pelaku dan korban. Menabrak atau ditabrak.

Perilaku berkendara rendah risiko bermakna menghindari posisi sebagai subyek kecelakaan. Ya, menempati posisi sebagai pelaku kecelakaan merupakan hal tidak ringan. Sudah sepatutnya kita berikhtiar sebelum akhirnya memasrahkan diri pada kehendak Nya. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: