Lanjut ke konten

Dilarang Ngisi Batere Ponsel Pakai Power Bank di Pesawat Udara

16 Maret 2018

KESIBUKAN karyawan di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur terlihat jelas siang itu. Antrean calon penumpang dilayani oleh bagian check in. Saya terselip diantara antrean siang itu.

Halim Perdanakusuma merupakan bandara yang terletak di Jakarta dan lokasinya sekitar 20 kilometer dari tempat tinggal saya. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk mencapai The Legendary Airport tersebut. Waktu tempuh itu dengan menggunakan kendaraan bermotor roda empat. Jika menggunakan sepeda motor tentu lebih singkat lagi waktu yang dibutuhkan.

Berbeda bila saya harus terbang melalui Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Butuh waktu tempuh berkisar 1,5-2 jam dengan menggunakan angkutan umum, baik bus maupun taksi. Saya belum jajal menggunakan kereta bandara. Maklum, untuk menuju stasiun kereta bandara di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, saya menghabiskan waktu berkisar 1-1,5 jam.

Oh ya, jarak tempuh dari rumah saya ke Bandara Soetta sekitar 52 kilometer. Maklum, tempat tinggal saya di pinggiran Jakarta Timur berbatasan dengan Depok, Jawa Barat.

“Tujuan Surabaya mas? Bisa lihat KTP-nya,” ujar perempuan petugas meja cek-in Batik Air, seraya menyunggingkan senyum, Selasa, 13 Maret 2018 siang.

“Oh ya, bagaimana aturan terkait power bank (penyimpan tenaga)?” tanya saya.

Maklum, hari itulah selang lima hari setelah Menteri Perhubungan (Menhub) mengeluarkan surat edaran (SE) soal power bank.

“Boleh dibawa, asal jangan nge-charge di dalam pesawat saat terbang,” kata perempuan itu.

SE Menhub

Saat saya terbang dengan Batik Air dari Bandara Halim Perdanakusuma merupakan hari kelima setelah Kemenhub menelorkan SE Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Nomor 015/Tahun 2018 yang ditetapkan pada 9 Maret 2018. SE bertajuk ‘Ketentuan Membawa Pengisi Baterai Portabel (Power Bank) dan Baterai Lithium Cadangan Pada Pesawat Udara’ itu menegaskan pelarangan aktifitas mengisi baterai menggunakan power bank ketika pesawat sedang mengudara.
“Melarang penumpang dan personel pesawat udara melakukan pengisian daya ulang dengan menggunakan pengisi baterai portabel (power bank) pada saat penerbangan,” bunyi SE yang ditandatangani oleh Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso.

Dasar dari pelarangan itu adalah berkaitan dengan adanya potensi resiko bahaya meledak/kebakaran pada power bank atau baterai lithium cadangan. Bila itu terjadi sudah barang tentu dapat mengganggu penerbangan pesawat yang bersangkutan.

Menurut Agus Santoso, insiden terkait power bank terjadi dalam sebuah penerbangan di Tiongkok. Hal itu menjadi alarm seluruh dunia terhadap potensi ancaman keselamatan penerbangan dengan adanya perkembangan teknologi dan kebiasaan sosial orang membawa power bank ke mana-mana.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati. Surat edaran ini untuk mencegah agar hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Mengingat sudah adanya kejadian dan kajian terkait bahayanya membawa power bank dan baterai lithium cadangan dengan ukuran daya tertentu pada penerbangan,” ujar Agus, seperti dilansir koran Investor Daily edisi Selasa, 13 Maret 2018.

Oh ya, point penting dalam SE tersebut di antaranya adalah power bank atau baterai lithium cadangan yang dibawa di pesawat udara tidak terhubung dengan perangkat elektronik lain. Lalu, power bank atau baterai lithium cadangan harus
ditempatkan pada bagasi cabin dan dilarang pada bagasi tercatat. Kemudian, power bank atau baterai lithium cadangan yang mempunyai daya jam (watt-hour) tidak lebih dari 100 Wh dapat dibawa oleh penumpang.

Point lainnya adalah power bank atau baterai lithium cadangan yang mempunyai daya per jam (watt-hour) lebih dari 100 Wh tapi tidak lebih dari 160 Wh harus mendapatkan persetujuan dari Badan Usaha Angkutan Udara dan Perusahaan Angkutan Udara Asing dan diperbolehkan untuk dibawa maksimal 2 (dua) unit per penumpang. Selain itu, power bank atau baterai lithium cadangan yang mempunyai daya jam lebih dari 160 Wh atau besarnya daya jam (watt-hour) tidak dapat diidentifikasi dilarang dibawa ke pesawat udara.

Kita semua tentu berharap dapat memperkecil resiko dalam setiap penerbangan. Aturan yang tertuang di dalam SE tersebut diharapkan kian luas tersosialisasi.

Oh ya, saat saya terbang dari Bandara Djuanda, Sidoarjo, Jawa Timur menuju ke Jakarta, Rabu, 14 Maret 2018, saya tidak sempat bertanya ke petugas di bagian check-in soal power bank. Semua berjalan seperti biasa.

Padahal, dalam ketentuan SE kemenhub disebutkan bahwa Badan Usaha Angkutan Udara dan Perusahaan Angkutan Udara Asing diinstruksikanuntuk menanyakan kepada setiap penumpang pada saat proses lapor diri (check-in) terkait
kepemilikan power bank atau baterai lithium cadangan. Bahkan, petugas dapat meminta penumpang untuk menunjukkan power bank saat pemeriksaan di security check point (SCP) untuk diperiksa. Selain itu, tentu saja memastikan daya pengisi power bank sesuai dengan ketentuan.

Bisa jadi hal itu lantaran belum ada standard operating procedure (SOP) nya. Boleh jadi kan? (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: