Lanjut ke konten

Sulitnya Membangun Budaya Keselamatan Jalan

14 Februari 2018

SEORANG pria muda tampak sedang menghidupkan mesin sepeda motornya ketika bersua dengan saya di area parkir sebuah gedung perkantoran di Jakarta, baru-baru ini. Tak berapa lama, dia melaju tanpa mengenakan helm pelindung kepala.

“Hanya dekat saja. Saya memindahkan sepeda motor ke tempat parkir lain,” alasan sang pria muda berkacamata itu.

“Itu belum seberapa,” sergah seorang teman, di Jakarta, baru-baru ini.

Dia mengaku, dirinya terpaksa memberi tumpangan kepada teman di kantor yang ingin pulang bersama. Padahal, dia sudah menolak karena tidak memiliki dua helm. Namun, rengekan sang teman meluluhlantakan sikap bahwa bersepeda motor wajib memakai helm pelindung kepala. “Dari kantor ke rumah, akhirnya teman saya itu tidak memakai helm,” tutur, seraya menghembuskan asap rokok di areal kantin.

Perjalanan yang ditempuh pira paruh baya malam itu lebih dari 10 kilometer. Berbeda dengan pria muda yang memindahkan sepeda motor tanpa memakai helm yang saya taksir jaraknya sekitar 100 meter.

Budaya Keselamatan

Membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan terasa sulit. Butuh waktu lama untuk menjadikan sebuah kebutuhan dalam keseharian. Entah sampai kapan.

Permisifme begitu kental. Siapa saja, dari kelas ekonomi mana saja, bahkan dari latar pendidikan apapun, masih dengan mudah mengumbar permisif untuk urusan keselamatan berlalulintas jalan. Masih banyak yang bertengger di level pengetahuan. Tahu ada risiko, tapi lantaran permisif tadi, tetap melanggar aturan berlalu lintas jalan.

Tampaknya butuh mencicipi getirnya petaka jalan raya untuk disiplin kemudian. Pahitnya melanggar aturan tak semata risiko mengalami kecelakaan, tapi juga memikul kerugian ekonomi maupun finansial. Bahkan, terkait kecelakaan bisa merembet ke urusan pengadilan.

Disiplin untuk memangkas risiko yang mengancam saat berlalulintas jalan butuh kemauan. Mau untuk tidak menjerumuskan pihak lain dalam kesulitan. Persoalannya, butuh meningkatkan level pengetahuannya tadi pada pemahaman. Faham bahwa saat risiko terjadi, kecelakaan berdampak luas.

Cara meningkatkan pemahaman yang dipadukan dengan kemauan keras membangun budaya keselamatan butuh dua aspek penting. Keduanya ada di dalam diri, yakni nurani dan akal sehat. Saat keduanya tertutup, tak heran bila ugal-ugalan di jalan menjadi pemandangan keseharian.

Hati nurani dan akal sehat bisa lumpuh karena kerusakan cara kerja berpikir. Mesin otak untuk menerima nilai-nilai kebaikan tidak bekerja. Kerusakan dapat tercipta oleh banyak aspek, mulai dari zat kimia hingga kerusakan fisik mesin tadi. Wujudnya manusia, perilakunya berbeda.

“Sulit memang membangun budaya keselamatan berlalulintas jalan,” kata kolega saya yang lain.

Boleh jadi sulit. Tapi, sulit bukan berarti tidak bisa. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: