Skip to content

Empat Hal Yang Mungkin Memicu Pelanggaran di Jalan

3 Februari 2018

PELANGGARAN aturan lalu lintas jalan yang terjadi berulang-ulang melahirkan kesimpulan bahwa perilaku tadi adalah suatu kebenaran. Apalagi, bila pelanggaran tadi dilakukan secara kolosal, dapat dengan mudah menjalar.

Lihat saja soal pelanggaran marka jalan di persimpangan. Saking seringnya orang melibas marka jalan garis setop atau marka zebra cross, tindakan itu lantas dianggap benar. Padahal, jelas-jelas hal itu merampas hak pengguna jalan yang lain, yakni para pedestrian.

Pelanggaran berulang tersebut ibarat kebohongan yang dihembuskan secara terus menerus, lantas kebohongan tadi dianggap suatu kebenaran. Pertanyaannya, apa yang melatarbelakangi hal itu semua?

Mari kita coba mereka-reka.

Pertama, tidak memprioritaskan keselamatan jalan. Bisa jadi inilah akar permasalahannya. Ketika tidak lagi menempatkan keselamatan sebagai prioritas ketika berlalu lintas jalan, bakal dengan mudah mengabaikan aturan, bahkan etika yang ada. Keselamatan bermakna untuk diri sendiri dan pengguna jalan yang lain. Tak heran jika lahir sinisme, keselamatan diri sendiri saja tidak dipikirkan, bagaimana dengan keselamatan orang lain.
Keselamatan berlalu lintas jalan dapat terwujud setidaknya bila pengguna jalan memiliki kompetensi dan taat pada regulasi. Lalu, senantiasa berempati atas sesama pengguna jalan sesuai dengan porsinya. Terakhir, menerapkan konsep sinergi. Khusus yang terakhir, terkait sinergisitas diantara para pemangku kepentingan keselamatan berlalulintas jalan, serta tentu saja melibatkan pengguna jalan itu sendiri.
Oh ya, di level ini, pengetahuan pengguna jalan menjadi tidak bermakna, ketika pura-pura tidak tahu alias masa bodoh atas hak sesama pengguna jalan.

Kedua, pembiaran. Peran penegak hukum menjadi mutlak. Saat aturan sebagus apapun bila tidak ditegakkan secara konsisten bakal merongrong kewibawaan hukum yang berujung pada pelanggaran. Peran publik juga ada manakala sesama warga saling mengingatkan akan pentingnya menerapkan taat regulasi demi kepentingan banyak orang, bukan sekadar memenuhi hasrat individu.

Ketiga, ketidaktahuan. Aspek ini bisa jadi memicu terjadinya pelanggaran. Tidak tahu disini bermakna tidak faham akan aturan yang berlaku, atau tidak tahu risiko yang ditimbulkan atas tindakan melanggar aturan.

Keempat, merasa kuat. Saat menggenggam kekuatan, baik itu finansial, sosial, hukum, bahkan politik, menggoda seseorang untuk abai pada aturan yang ada. Seakan kekuatan tadi dapat menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan atas pelanggaran tersebut.

Amat mungkin ada latarbelakang lain yang memicu terjadinya pelanggaran aturan di jalan. Apapun itu kita tampaknya harus kembali introspeksi bahwa di jalan raya semua ada porsinya. Jangan lupa bahwa pelanggaran kerap kali mengawali terjadinya kecelakaan. (edo rusyanto)

foto: akun IG gbd

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: