Lanjut ke konten

Begini Titik Benturan dan Faktor Kecelakaan Pedestrian

27 Januari 2018

Motorola
RAZRV3x
85.98.90R
2009:02:11 17:37:48

TAHUKAH kita dimana saja titik benturan saat pedestrian terlibat kecelakaan? Apa saja faktor-faktor utama risiko pejalan kaki?

Mari kita simak buku Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bertajuk ‘Keselamatan Pejalan Kaki, manual keselamatan jalan untuk pengambil keputusan dan praktisi’.

Sebagian besar kecelakaan antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor terjadi dari arah depan. Pada saat terjadi kontak antara mobil dan pejalan kaki, seluruh badan pejalan kaki melingkupi bagian depan mobil. Pejalan kaki dewasa biasanya ‘dihempaskan’ bukan ‘dilindas’ oleh mobil penabrak.

Proses kejadian seorang pejalan kaki dewasa yang sedang berdiri ditabrak oleh bagian depan mobil mencakup;

• Kontak pertama terjadi antara bemper dan daerah betis atau sendi lutut, diikuti oleh kontak antara paha dan pinggir kap mesin.
• Bagian bawah badan terhempas ke depan, dan bagian atas badan terputar dan terhempas ke arah mobil.
• Akibatnya, tulang panggul terbentur pinggir kap mesin dan torax (badan) terbentur bagian atas kap.
• Kepala akan membentur kap mesin atau kaca depan dengan kecepatan yang mendekati atau sama dengan kecepatan mobil penabrak.
• Korban jatuh ke tanah.

Titik Tabrakan

Nah, titik tabrakan akan berbeda menurut tinggi mobil dan tinggi badan pejalan kaki. Misalnya, sebuah kendaraan yang ditinggikan mungkin akan menabrak bagian kepala pejalan kaki anak karena dia pendek .

Luka paling parah biasanya disebabkan oleh tumbukan langsung dengan mobil penabrak, bukan ketika pejalan kaki terhempas ke jalan.

Tingkat keparahan luka pada kepala, otak, torax, panggul, dan tubuh bagian bawah dipengaruhi oleh; kecepatan tumbukan mobil, tipe kendaraan, kekuatan bahan dan bentuk kendaraan, dan bentuk bagian depan (misalnya tinggi bemper, tinggi dan panjang kap mesin, rangka kaca depan.

Lalu, usia dan tinggi badan pejalan kaki dan posisi berdiri pejalan kaki terhadap bagian depan kendaraan.

Faktor-faktor Risiko

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi resiko kecelakaan lalu lintas bagi pejalan kaki mencakup kecepatan, alkohol, kurangnya fasilitas pejalan kaki, buruknya visibility pejalan kaki dan lemahnya penegakan peraturan-peraturan lalu lintas.

Mari kita lihat lebih jauh faktor-faktor tersebut.

1). Kecepatan dan risiko kecelakaan pejalan kaki

Kecepatan mobil mempengaruhi risiko dan akibat kecelakaan. Efek pada risiko kecelakaan muncul utamanya dari hubungan antara kecepatan dan jarak berhenti. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin pendek waktu yang dimiliki pengendara untuk berhenti dan menghindari kecelakaan, termasuk tabrakan dengan pejalan kaki.

Dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh pengendara untuk bereaksi terhadap situasi darurat dan menginjak rem, sebuah mobil yang berjalan 50 km/j biasanya membutuhkan jarak 36 meter untuk sepenuhnya berhenti, sementara sebuah mobil yang berjalan 40 km/j membutuhkan 27 meter.

Rata-rata pengendara membutuhkan 1,5 detik untuk menyadari adanya risiko tabrakan dengan pejalan kaki dan menginjak rem. Mobil kemudian berhenti setelah direm dengan daya perlambatan sebesar 0,7g setelah periode laten awal 0,2 detik yang dibutuhkan agar rem bisa sepenuhnya bekerja.

Di beberapa situasi, pengendara mungkin bereaksi lebih cepat sehingga mobil juga berhenti lebih cepat, tetapi di situasi yang lain, jika pengendara tidak berkonsentrasi penuh pada jalan di depannya atau kondisi jalan basah, kejadian sebaliknya akan terjadi.

Jika mobil berjalan luar biasa cepat, pengguna jalan lain seperti pejalan kaki yang sedang menunggu untuk menyeberang jalan mungkin salah memperkirakan kecepatan kendaraan yang mendekat. Pejalan kaki mungkin mengira keadaan sudah aman untuk menyeberang, kemudian berjalan kaki menyeberang dan akhirnya tertabrak oleh kendaraan.
Probabilitas pejalan kaki akan terluka fatal jika ditabrak oleh kendaraan bermotor naik secara drastis dengan kecepatan tumbukan. Penelitian tahun 1990-an menunjukkan bahwa pejalan kaki memiliki 90% peluang selamat dari tabrakan mobil yang berjalan 30 km/j atau lebih lambat, tetapi kurang dari 50% peluang selamat dari tabrakan mobil dengan kecepatan 45 km/jam.

Setelah menyesuaikan bias sampling dan analisis statistik di penelitian tersebut, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pejalan kaki dewasa memiliki sekitar 20% resiko meninggal jika ditabrak oleh mobil berkecepatan 60 km/jam.

Penting untuk dicatat bahwa analisis risiko ini masih dalam tahap pengembangan dan belum ditegaskan oleh peneliti-peneliti lain tetapi masalah yang tak terbantahkan adalah bahwa kecepatan merupakan sebuah faktor risiko penting kecelakaan pejalan kaki dan bahwa tumbukan dengan kecepatan di atas 30 km/jam meningkatkan kemungkinan luka parah atau kematian.

Kecepatan tumbukan dipengaruhi oleh kecepatan berjalan dan pengereman. Sebagian besar kecepatan teredam di beberapa meter terakhir pengereman, sehingga ketika sebuah mobil berjalan dengan kecepatan 40 km/j telah berhenti, mobil dengan kecepatan 50 km/j masih akan berjalan dengan kecepatan 41 km/j. Dengan demikian, perbedaan kecepatan awal sebesar 10 km/j dapat menghasilkan perbedaan sebesar 41 km/j pada kecepatan tumbukan.

2). Alkohol

Pengaruh alkohol merupakan sebuah faktor penting yang mempengaruhi resiko kecelakaan lalu lintas jalan dan seberapa parah dan akibat cedera yang disebabkan kecelakaan tersebut. Konsumsi alkohol mengakibatkan gangguan kesadaran, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan karena pengendara tidak dapat mengambil keputusan dengan baik, memperpanjang waktu reaksi, menurunkan kewaspadaan dan menurunkan ketajaman visual. Konsumsi alkohol juga dikaitkan dengan kecepatan berlebihan.


Perlu dicatat bahwa pengaruh alkohol sebagai sebuah faktor resiko tidak hanya terbatas pada pengendara kendaraan tetapi juga penting untuk pejalan kaki. Seperti halnya pengemudi kendaraan bermotor, resiko kecelakaan pejalan kaki semakin meningkat seiring meningkatnya kandungan alkohol dalam darah.

3). Kurangnya fasilitas pejalan kaki dalam perancangan jalan dan perencanaan tata guna lahan

Risiko pejalan kaki menjadi semakin tinggi ketika rancangan jalan dan perencanaan tata guna lahan tidak merencanakan dan menyediakan fasilitas seperti trotoar, atau perhatian yang memadai terhadap akses pejalan kaki di persimpangan.

Fasilitas infrastruktur dan mekanisme kontrol lalu lintas yang memisahkan pejalan kaki dari kendaraan bermotor dan membantu pejalan kaki menyeberang jalan dengan aman merupakan mekanisme penting untuk menjamin keselamatan pejalan kaki, yang melengkapi kecepatan kendaraan dan manajemen sistem jalan.

4). Buruknya visibility pejalan kaki

Isu tentang buruknya visibility pejalan kaki sering disebut sebagai sebuah resiko cedera pejalan kaki.
Buruknya visibility diakibatktkan oleh:

• Buruknya, atau kurangnya, penerangan jalan;
• Kendaraan dan sepeda tidak dilengkapi lampu;
• Pejalan kaki tidak memakai aksesoris yang memantulkan cahaya atau pakaian berwarna terang, khususnya saat malam dan fajar atau senja; dan
• Pejalan kaki memakai ruang jalan yang sama dengan kendaraan berkecepatan tinggi.

5). Faktor-faktor risiko lain

Beberapa faktor lain yang menyebabkan kecelakaan pejalan kaki meliputi:

• Lemahnya penegakan peraturan lalu lintas;
• Praktik-praktik mengemudi tidak aman;
• Pengalih perhatian pengemudi, termasuk penggunaan handphone; • Kelelahan pengemudi;
• Konflik pejalan kaki dan kendaraan di titik penyeberangan pejalan kaki;
• Berkurangnya waktu reaksi dan kecepatan berjalan kaki orang berusia lanjut;
• Ketidakmampuan anak-anak untuk memperhitungkan kecepatan kendaraan dan informasi relevan lainnya agar dapat menyeberang jalan dengan aman saat sedirian;
• Kurangnya pengawasan terhadap anak-anak yang masih terlalu kecil untuk dapat mengambil keputusan yang tepat;
• Pengalih perhatian pengemudi, termasuk penggunaan handphone; • Sikap pengemudi dan pejalan kaki;
• Ketidakmauan pengemudi untuk menghormati hak jalan pejalan kaki termasuk ketidakmauan untuk mengalah di penyeberangan pejalan kaki;
• Kondisi dan kerusakaan kendaraan (misalnya, rem, lampu, kaca depan); dan
• Senyapnya suara kendaraan (listrik), yang kehadirannya tidak dapat dideteksi oleh indra pendengaran normal. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: