Lanjut ke konten

Kisah Para Ibu dan SIM

21 Desember 2017

SUARANYA lembut, tapi lugas. Telepon seluler menempel ditelinga, sedangkan tangannya yang satu memegang pulpen.
Malam itu, Sumi, kita sapa saja begitu, sedang membimbing sang anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan guru dari sekolah. Dia meminta sang anak tak melulu menghabiskan waktu menonton televisi.
“Pagi-pagi saya mengantar anak-anak ke sekolah naik sepeda motor,” ujar ibu berusia jelang 40 tahun itu, di Jakarta suatu ketika, saat berbincang dengan saya.

Usai mengantar anak ke sekolah, perempuan yang tinggal di kawasan Jakarta Utara itu memasak untuk hidangan makan siang keluarga. Siang hari, menjemput anak dari sekolah, masih memakai sepeda motor. Lalu, barulah berangkat kerja ke kantornya di bilangan Jakarta Selatan. “Saya naik bus, bisa sekitar satu jam dari rumah ke kantor,” sergah, karyawati swasta lulusan universitas ternama di Jawa Tengah itu.

Banyak ibu seperti Sumi. Di Jakarta Timur, saya menjumpai ibu seperti Sumi. Dia mengantar dan menjemput anak ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Di sela aktifitas itu dia menjaga warung yang dibukanya di depan rumah petak. “Buat menambah pemasukan. Maklum, suami saya hanya seorang sopir angkot,” seloroh Riana, kita sapa saja demikian.

Perempuan berusia 40-an itu bersepeda motor di jalan-jalan perkampungan. Letak sekolah anaknya sekitar satu kilometer dari rumah. “Dulu waktu belum bisa naik motor, saya menjemputnya jalan kaki,” kata perempuan lulusan sekolah dasar tersebut.

Anak Sumi dan Riana sama-sama masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Mengantar dan menjemput anak menjadi rutinitas. Bagian dari tanggung jawab seorang ibu demi masa depan sang anak. Tidak kenal lelah. Karena usai mengantar dan menjemput, kedua perempuan itu masih harus mencari nafkah untuk keluarga, tentu seraya mengurus kebutuhan anak-anak dan suami.

“Tapi, saya tidak punya SIM,” kata Sumi.

Begitu juga Riana. Surat izin mengemudi (SIM) C sebagai persyaratan bersepeda motor menjadi barang mewah bagi keduanya.

“Saya belum punya uang buat mengurus SIM, terus nggak tahu cara bikinnya,” kata Riana.
Sementara itu, Sumi mengaku belum sempat mengurus SIM. “Lagi pula, saya kan naik motornya cuma di sekitar rumah atau kampung,” seloroh dia.

Tanpa SIM

Saya menduga tak sedikit jumlah warga yang seperti Sumi dan Riana. Mereka harus berkendara tanpa memiliki SIM.
Mereka sadar perlu memiliki SIM. Tapi, permisif dengan alasan masing-masing. Inilah realita di Tanah Air kita. Aturan tinggal aturan. Melanggar aturan dianggap lumrah.

Padahal, di sisi lain, mereka mengajarkan keluarga agar tidak melanggar aturan yang ada. Baik itu aturan yang dibuat keluarga, lingkungan hingga aturan pemerintah. Namun, untuk soal aturan SIM mereka luput.
Menjadi tak mengherankan jika kemudian kita disodori fakta bahwa pelaku kecelakaan tanpa SIM jumlahnya sangat tinggi.

Pada 2016, menurut data Korlantas Mabes Polri, kontribusi pelaku tanpa SIM menyentuh 46,71%. Angka itu setara dengan 182 pelaku kecelakaan per hari.

Kontribusi pelaku kecelakaan tanpa SIM juga meningkat pada 2016. Maklum, setahun sebelumnya, kontribusi kelompok yang satu ini sebesar 45,40%. Setiap hari, pada 2015, rata-rata ada 124 pelaku kecelakaan.

Sangat mungkin beragam alasan kenapa orang berkendara tanpa SIM. Sebut saja misalnya alasan seperti yang dilontarkan Riana, belum punya uang. Lalu, soal waktu seperti dituturkan Sumi, belum sempat mengurus. Bahkan, bisa jadi karena alasan yang terdengar unik, yakni bikin SIM susah, gagal terus.

Garda Terdepan

Saya termasuk yang yakin, keluarga adalah gada terdepan penanaman pemahaman keselamatan jalan (road safety). Peran itu bisa dipegang ayah sebagai kepala keluarga dan tentu saja ibu, selaku sosok penting keluarga.

Ibu yang sadar betul untuk urusan keselamatan berlalu lintas jalan pasti tak ingin anggota keluarganya terlibat kecelakaan di jalan. Ibu ingin anggota keluarga kembali ke rumah dengan selamat. Tak heran jika keluar kalimat, “Hati-hati di jalan ya.”

Keselamatan jalan menjadi nilai-nilai kehidupan yang digulirkan ibu kepada anggota keluarga. Lewat bahasa cinta dan kasih sayang, ibu bisa menanamkan nilai-nilai itu dengan mudah. Tentu, selain perkataan, butuh contoh nyata.
Misalnya, memberi contoh dengan naik sepeda motor selalu memakai helm pelindung kepala. Lalu, berkendara setelah memiliki SIM sebagai wujud kompetensi seseorang.

Kesemua itu demi keselamatan. Bukan hanya diri sendiri, tapi bagi keselamatan sesama pengguna jalan. Bahkan, demi keluarga tercinta yang menanti di rumah.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2017. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: