Lanjut ke konten

Aksi Massa Menentang Pelanggar Rambu

19 Desember 2017

SUARA knalpot sepeda motor meraung-raung. Klakson nyaring bersahutan. Pertigaan jalan pun diisi kendaraan bermotor yang karut marut.

Kemacetan lalu lintas jalan di pertigaan itu sudah akut. Riuhnya suara knalpot dan klakson tadi membuat pengguna jalan yang lain tergoda mencaritahu apa yang terjadi.

“Woi! Makanya sekolah yang bener!” Sergah pesepeda motor kepada pengemudi mobil, di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, suatu siang, pertengahan Desember 2017.

Sumpah serapah lainnya mengalir bak berondongan senapan mesin. Kata-kata yang tidak pantas saya tulis disini keluar begitu saja dari mulut para pengendara sepeda motor.

Awalnya saya belum tahu ada apa. Setelah mendekat rupanya ada pemobil yang hendak berbelok, walau ada rambu dilarang berbelok. Padahal, situasi di pertigaan sudah karut marut. Praktis, niat sang pengemudi yang hendak melanggar aturan tadi menambah beban jalan.

Sebagian tubuh mobil sudah dalam posisi berbelok. Namun, teriakan massa tadi tampaknya membuat sang pengemudi mengurungkan niat. Akhirnya, dari semula hendak berbelok menjadi kembali ke lajurnya. Lurus.

Ketika hendak kembali ke lajurnya, roda mobil sempat melindas median jalan.

Pelanggaran Meruyak

Situasi langgar melanggar aturan di jalan menjadi pemandangan dramatis kota sebesar Jakarta. Dengan jumlah perjalanan lebih dari 25 juta per hari, karut marut lalu lintas menjadi hal yang sulit dibendung.

Situasi kian runyam saat ada pengguna jalan yang berinisiatif melanggar aturan hanya demi memangkas waktu tempuh. Tapi, di sisi lain mengorbankan hak pengguna jalan lainnya. Miris.

Fakta data memperlihatkan bahwa setiap hari tak kurang dari 2.300 pelanggaran lalu lintas jalan di Indonesia. Angka yang dilansir Korlantas Mabes Polri itu tentu saja baru sebagian dari realita. Jumlah pelanggaran bisa berlipat-lipat dari angka tadi.

Ironisnya adalah bahwa pelanggaran demi pelanggaran tadi berbuah getir. Kecelakaan lalu lintas jalan.

Dan, dampak kecelakaan tidak tanggung-tanggung. Pada 2016, setiap hari, ratusan orang terluka. Bahkan, 70-an orang meninggal dunia, setiap hari.

Menjadi masuk akal ketika kemudian mencuat kalimat, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran. Namun, lebih masuk akal lagi bila kita sudi tak melanggar demi keselamatan semua pengguna jalan. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: