Lanjut ke konten

Kolaborasi Tiga Unsur Ini Tak Bisa Ditunda

13 Desember 2017

AURA melindungi keselamatan anak-anak dari risiko kecelakaan lalu lintas jalan saya rasakan begitu menggebu. Para peserta yang hadir dalam seminar dan diskusi panel melontarkan banyak jurus untuk itu.

Latar belakang lima puluhan orang yang berkumpul dalam seminar, di Hotel Ibis Braga, Bandung, Sabtu, 9 Desember 2017 pagi itu cukup mumpuni. Ada orang tua yang peduli keselamatan  anak. Ada guru guru yang menggulirkan program keselamatan jalan (road safety) di sekolahnya. 

Lalu, ada pegiat road safety yang bertahun-tahun menapaki aksi edukasi dan advokasi. Selain itu, tampak pula korporasi yang memang getol mengusung program road safety. Bahkan, ada unsur pemerintahan dan kepolisian yang memang sesuai amanat perundangan, bertanggung jawab atas keselamatan para pengguna jalan. 

Bila dikerucutkan, peserta diskusi dalam seminar kali ini mencakup unsur keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Lengkap.

Seminar mengambil tema ‘Pengarusutamaan hak anak dalam edukasi, promosi, dan edukasi keselamatan berlalulintas sebagai bagian upaya mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung.’

“Anak memiliki hak untuk hidup dan berkembang. Keluarga, masyarakat, dan pemerintah punya tanggung jawab untuk memenuhi hak itu. Masyarakat harus aktif melindungi anak termasuk terkait keselamatan di jalan,” kata Brian Sriprahastuti, dari Save The Children dalam diskusi.

Dia menambahkan, pihaknya sejak 2014 mengedukasi kalangan sekolah di Bandung. Mengajak sekolah dan orang tua untuk lebih peduli dan membangun karakter pengguna jalan yang aman dan selamat.

Kepedulian pada hak anak terkait keselamatan berlalu lintas jalan memang bukan mengada-ada. Data yang saya kumpulkan dalam rentang 2011-2016 memperlihatkan, lebih dari 139 ribuan anak menjadi pelaku kecelakaan. Di sisi lain, selaku korban kecelakaan jumlahnya bisa dua kali lipat.

Dalam rentang lima tahun itu setidaknya sekitar 16% dari 875 ribuan korban kecelakaan adalah dari kalangan anak-anak. Sebuah fakta data yang memprihatinkan. 

“Orang tua kadang teledor mengizinkan anak bersepeda motor, lalu celaka di jalan. Padahal, anak rentan kecelakaan, mereka tergantung orang tuanya,” sergah Brian.

Saya setuju. Orang tua tidak boleh teledor, bahkan permisif. Mengizinkan anak di bawah umur untuk berkendara dapat memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Hal itu dapat membuat masa depan sang anak menjadi runyam.

Mengatasi masalah keselamatan anak di jalan raya memang tidak bisa semata dilakukan oleh keluarga. Perlu peran masyarakat, dunia pendidikan, bahkan pemerintah termasuk kepolisian selaku penegak hukum.

Seminar atau diskusi di Bandung kali ini pun sepakat bahwa seluruh elemen mutlak memiliki tujuan yang sama, melindungi anak bangsa dari petaka jalan raya.

“Tapi, usai dialog kali ini dilanjutkan aktifitas yang rutin. Bisa berbentuk forum yang melahirkan program aksi bagi keselamatan anak-anak,” pinta Kamalia Urbani, asisten daerah (Asda) Pemerintah Kota Bandung, saat membuka seminar.

Lontaran Kamalia bak isyarat bahwa realita butuh aksi, bukan semata kumpul untuk berdiskusi. Semua memahami hal itu dan seakan tak sabar untuk kembali membumi. (edo rusyanto)

foto:dokumen stc/pribadi

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: