Skip to content

Mencuat Gagasan Pembatasan Motor Anak Sekolah di Bandung

30 September 2017

WAJAH Aine Kusumawati tampak serius. Di belakangnya terpapang grafik kecelakaan lalu lintas jalan di Kota Bandung. Sedangkan di hadapannya puluhan pegiat keselamatan jalan dan pemangku kepentingan (stakeholder) keselamatan jalan Kota Bandung.

Perempuan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu tengah memaparkan Bandung Road Safety Annual Report 2015-2016. Rangkuman data dan analisis kecelakaan yang ia paparkan menyedot perhatian peserta Sarasehan dan Diskusi Mengurai Masalah Keselamatan di Jalan Bagi Kelompok Anak dan Remaja, yang digelar Yayasan Sayangi Tunas Cilik mitra Save The Children di Bandung, Rabu, 26 September 2017.

“Pengendara kendaraan roda dua (sepeda motor) berumur 15-24 tahun merupakan kelompok cedera tertinggi di Kota Bandung,” kata Aine Kusumawati.

Saya yang hadir selaku koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) termasuk yang ikut serius menyimak paparan sang dosen. Bagaimana tidak, hal ini membuka mata para peserta bahwa perlu langkah serius dalam melindungi keselamatan anak-anak saat berangkat dan kembali dari sekolah. “Sebanyak 51% penyebab kecelakaan berdasarkan faktor pengemudi di Bandung pada 2016 adalah pengemudi tidak tertib,” tegas dia.

Kita tahu bahwa tidak tertib adalah perilaku melanggar aturan yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Salah satu contoh adalah melawan arus dan berpindah lajur tanpa memberi tanda berupa lampu isyarat penunjuk arah.

Menurut Aine, masih seputar faktor pengemudi, sekitar 23% kecelakaan terjadi akibat melebihi batas kecepatan. Lalu, 18% karena pengemudi lengah, 5% pengemudi mengantuk, dan 3% akibat pengaruh alkohol.

Kecelakaan lalu lintas jalan menempati posisi ke-10 sebagai penyebab kematian warga Kota Bandung, Jawa Barat. Kontribusi kecelakaan menyentuh angka 2,5% dari total penyebab kematian di kota berjuluk Paris van Java itu. Pada 2015-2016, sebanyak 184 orang tewas akibat kecelakaan di kota tersebut. sementara itu, korban luka berat mencapai 29 orang dan luka ringan 1.580 orang.

Kota berpenduduk 2,49 juta jiwa ini memiliki pertumbuhan kendaraan bermotor yang cukup tinggi. Pada 2010, jumlah kendaraan bermotor rata-rata meningkat 11% per tahun. Kondisi itu tak sebanding dengan pertumbuhan jalan yang 1,29% per tahun. Praktis, sejumlah problem lalu lintas jalan pun mencuat, mulai dari kemacetan hingga kecelakaan lalu lintas jalan.

Kini, jumlah kendaraan bermotor yang tercatat mencapai lebih dari satu juta unit. Dari jumlah itu sekitar 69% nya adalah sepeda motor. Ledakan jumlah kendaraan bermotor dituding sebagai salah satu faktor penyebab terhadap kecelakaan lalu lintas jalan.

Larangan Anak

Kecelakaan yang menimpa anak-anak di bawah umur menjadi perhatian serius para pegiat keselamatan jalan yang hadir dalam sarasehan kali ini. Maklum, penyelenggara sarasehan adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memang gencar mengkampanyekan keselamatan jalan bagi anak-anak, khususnya bagi siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

“Keselamatan berlalulintas untuk anak-anak perlu menjadi perhatian seluruh stakeholder karena dampak dari kecelakaan merupakan halangan bagi pemenuhan hak anak untuk hidup,” ujar Central Area Senior Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik (STC) Brian Sriprahastuti.

Masalah kecelakaan yang menimpa anak-anak di bawah umur sebenarnya bukan persoalan Bandung semata. Data Korlantas Mabes Polri terlihat bahwa persentase angka kecelakaan lalulintas terbesar terjadi pada pengguna sepeda motor. Sedangkan persentase angka korban jiwa tertinggi terjadi pada rentang usia 15-25 tahun yang mencapai 60% dari total korban jiwa pada triwulan I-2017. Anak-anak yang mengendarai sepeda motor ataupun menjadi penumpang sepeda motor masuk dalam kelompok rentang usia dengan jumlah korban jiwa tertinggi tersebut.

“Karena itu, dinas pendidikan Kota Bandung diharapkan peran aktifnya untuk membuat aturan pelarangan anak di bawah umur untuk mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah,” tegas dia.
Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Bandung Didi Ruswandi mendukung larangan pelajar menggunakan kendaraan bermotor ke sekolah. Sebab, hal ini dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas sekaligus mengurangi kemacetan di Bandung.

“Tapi, sebelum ini diterapkan, Pak Walikota meminta ada solusi transportasi dulu. Jadi, ini yang harus dipertimbangkan juga,” ujar dia.

Senada dengan Didi, Humas Bike to Work Bandung Hatning Natalia Maindra juga mendukung terbitnya regulasi larangan bermotor ke sekolah. Dia menyarankan aturan ini dibarengi dengan sinergi dengan Pemda sekitar.

Saya melihat peran pemerintah menjadi penting dalam membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan. Aturan pelarangan anak di bawah umur menjadi salah satu instrumen dari dunia pendidikan selain proses edukasi. Bandung bisa saja mencontoh Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mengeluarkan edaran larangan bagi anak didikmembawa kendaraan roda dua maupun roda empat ke sekolah.

Surat Edaran Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 25 Agustus 2015 itu bahkan mencantumkan isyarat pemberian sanksi bagi pelanggar aturan.

Hal itu bagian dari upaya mengurangi potensi anak di bawah umur sebagai pelaku maupun korban kecelakaan lalu lintas jalan. Hal itu mengingat sekitar 139 ribu anak di bawah umur telah menjadi korban kecelakaan sepanjang 2012-2016 di Indonesia. “Belum lagi mereka yang menjadi pelaku kecelakaan, yakni sekitar 21 ribuan anak,” papar dia.

Edukasi Anak

Sementara itu, Brian Sriprahastuti mengatakan, untuk meningkatkan kepedulian orangtua dalam keselamatan berlalulintas, khususnya di Kota Bandung, pihaknya menggulirkan program SELAMAT (Sosialisasi dan Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas). Program yang didukung oleh Sompo Insurance Japan itu memprakarsai Kampanye Orang Tua Peduli Keselamatan Berlalu Lintas Jalan.

“Kampanye ini selaras dengan tema peringatan Hari Anak Nasional yaitu Pengasuhan Anak Dimulai dari Keluarga,” kata dia.

Kampanye ini dilaksanakan satu bulan penuh pada September 2017 sebagai partisipasi aktif Yayasan STC dalam meramaikan Hari Perhubungan Nasional dan Hari Ulang Tahun Kota Bandung ke-207 . Acara puncak dari kegiatan kampanye ini akan dilaksanakan pada 28 September 2017 dengan mengundang 100-150 orangtua dan didukung oleh Dharma Wanita Kota Bandung.

Sepanjangtahun 2016, Save the Children di Indonesia telah bekerja di 12 provinsi, 93 kabupaten, 757 kecamatan, dan 1006 desa, dan telah memberikan dampak langsung pada 304.477 anak dan273.070 orang dewasa. Secara tidak langsung telah menjangkau lebih dari 1.285.012 anak-anak di seluruh Indonesia. Wilayah kerja kami meliputi Aceh (untuk respons bencana), Sumatera Utara,Sumatera Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: