Skip to content

Wujudkan Trotoar yang Humanis

25 Agustus 2017

Gebrakan Bulan Tertib Trotoar yang digulirkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada Agustus 2017 menjadi isyarat penting bagi kita para pedestrian untuk lebih pandai dalam berlalu lintas jalan. Di sisi lain, langkah yang digulirkan sebagai terjemahan Instruksi Gubernur DKI Jakarta No 99 tahun 2017 itu juga menjadi introspeksi bagi Pemprov itu sendiri.

Kepandaian dalam berlalu lintas jalan yang perlu ditingkatkan oleh para pedestrian adalah untuk senantiasa memprioritaskan keselamatan berlalu lintas jalan. Urusan yang satu ini terkait dengan fakta bahwa belasan pedestrian tewas akibat kecelakaan di Tanah Air. Dalam prakteknya, hal itu mutlak dicerminkan saat berjalan di trotoar, menyeberang dengan aman dan selamat ketika menyeberang jalan hingga senantiasa fokus ketika berjalan. Khusus yang terakhir, berjalan tak perlu disambi dengan aktifitas yang membuat konsentrasi luluh, misalnya, tidak berponsel saat berjalan.

Dalam menyeberang jalan, pedestrian mutlak di area yang sudah disediakan. Mulai dari marka zebra cross hingga jembatan penyeberangan orang (JPO).

Ketika tidak ada kedua fasilitas itu maka langkah yang harus ditempuh adalah dengan memperhatikan pergerakan lalu lintas jalan di sekitar. Dan, ini yang kerap diabaikan, memberi isyarat kepada para pengendara bahwa pedestrian yang bersangkutan hendak menyeberang jalan. Caranya, lambaikan tangan ke arah pengendara bahwa ada pergerakan pedestrian menyeberang jalan.

Persoalan ini terkait dengan kedisiplinan. Pedestrian juga mutlak disiplin. Kita tahu bahwa di Jakarta dan sekitarnya dalam satu tahun terdeteksi ada sekitar satu juta pelanggaran aturan di jalan. Angka itu baru pelanggaran yang terekam lewat penindakan oleh polisi lalu lintas. Realitanya angka itu bisa berlipat-lipat.

Tanpa disiplin semua pengguna jalan, tentu saja termasuk pedestrian, kecelakaan lalu lintas jalan bakal terus bertubi-tubi menghantam lalu lintas kita. Di situ, posisi pedestrian amat rentan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa pedestrian merupakan salah satu dari tiga kelompok rentan kecelakaan di jalan. Kontribusi pedestrian menyentuh sekitar 22% terhadap total korban tewas akibat kecelakaan di jalan yang mencapai 1,25 juta orang per tahun. Artinya, setiap hari, 740-an pedestrian tewas akibat kecelakaan di dunia.

Di Indonesia, perilaku tidak disiplin pengguna jalan yang mengabaikan jalur hak pejalan kaki ternyata bisa berbuah kecelakaan lalu lintas jalan. Perilaku seperti itu menyumbang sekitar menyumbang sekitar 7% terhadap total kejadian pada 2016. Tiap hari, ada 20 kasus kecelakaan. Angka itu naik sekitar 2% dibandingkan setahun sebelumnya.

Jangan Angin-anginan

Gebrakan Bulan Tertib Trotoar dapat menjadi instrospeksi bagi Pemprov DKI Jakarta juga. Ketika trotoar dijarah penggguna jalan, problem terbesar ada di ketidakdisplinan pengendara. Tapi, ketika trotoar dipakai untuk aktifitas ekonomi, pertanyaannya justeru sejauh mana mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh Pemprov beserta instrumennya?


Introspeksi Pemprov menjadi penting. Wujudnya bisa berupa peningkatan pengawasan maupun penindakan sesuai koridor hukum yang berlaku. Pemprov juga mutlak untuk berbenah atas indikasi kelemahan dalam fungsi pengawasan maupun penindakan.

Betul ada kontribusi dari ketidak disiplinan warga, tapi sumbangsih aparatur justeru tidak kecil. Keduanya mesti dibenahi secara pararel.

Jangan lupa bahwa baru sekitar 20% trotoar yang layak dari total ruas jalan. Bila ditambah oleh pelanggaran aturan dengan memanfaatkan trotoar sebagai aktifitas ekonomi dan jalan pintas di tengah kemacetan, kondisinya tambah runyam.

Padahal, di satu sisi, kondisi trotoar yang aman, nyaman, selamat, dan ramah bagi seluruh pedestrian yang melintas, dapat menjadi daya tarik bagi suatu kota. Apalagi bila trotoar itu ditata dengan ciamik lewat tanaman hijau dan ornamen seperti bangku-bangku eksotik. Wajah kota menjadi lebih humanis dan cantik. Praktis, wisatawan pun tak sebatas melirik, mereka datang dan tinggal dengan nyaman. Bisnis pariwisata pun ikut bertumbuh. Semua menjadi senang.

Kembali soal gebrakan Bulan Tertib Trotoar. Kebijakan itu mestinya diimplementasikan setiap saat, tidak dalam periode waktu tertentu. Maklum, saat operasi digelar, kondisi seakan menjadi tertib, tapi ketika operasi surut, suasana pun kembali semrawut.

Membangun ketertiban di trotoar mesti menjadi tradisi. Sekali lagi, bukan sebatas menjadi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan pedestrian, tapi juga menjadi roda penggerak pertumbuhan sebuah kota. Mari wujudkan trotoar jalan yang humanis. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: