Skip to content

Anak-anak di Tengah Permisifnya Orang Tua

23 Juli 2017

SAAT anak di bawah umur mencari teladan, pasti yang dilihat dan didengar pertama adalah orang yang ada di sekitar. Keluarga menjadi panutan.

Tak heran bila lahir pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohon.

Pepatah tadi meyakinkan kita bahwa anak-anak meniru perilaku orang tua. Lantas, bagaimana perilaku kita, terutama di jalan raya?

Hal ini menjadi penting terutama terkait dengan fakta data keterlibatan anak dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Khususnya ketika anak-anak atau remaja berada di posisi sebagai pelaku kecelakaan. Artinya, mereka aktif memicu terjadinya kecelakaan.

Mari kita tengok sejenak fakta data yang dilansir Korlantas Mabes Polri.

Dalam rentang lima tahun terakhir, yakni 2012-2016, anak-anak di bawah umur yang menjadi pelaku kecelakaan mencapai sekitar 21 ribuan orang. Angka itu setara dengan sekitar 4,25% dari total pelaku kecelakaan yang tercatat di Indonesia.

Bagaimana dengan anak-anak yang menjadi korban?

Angkanya lebih fantastis. Dalam lima tahun terakhir tercatat sekitar 139 ribu anak menjadi korban kecelakaan. Jumlah itu setara dengan sekitar 16% dari total korban kecelakaan di Tanah Air.

Pentingnya Teladan

Pendidikan yang baik adalah dengan contoh nyata. Misal, ketika orang tua mengajarkan kepada anak untuk selalu mentaati aturan, maka saat bersepeda motor, sang orang tua memakai helm pelindung kepala.

Pemakaian helm diatur oleh Undang Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Para pesepeda motor dan penumpangnya wajib memakai helm sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI). Ada sanksi bagi pelanggar aturan itu, yakni dendak maksimal Rp 250 ribu atau penjara maksimal satu bulan.

Artinya, ketika orang tua menjarkan anak untuk memakai helm saat bersepeda motor, dia sedang mengajarkan anak untuk taat pada aturan. Seperti lazimnya peraturan, dibuat untuk kehidupan menjadi aman, nyaman, dan selamat. Mirip dengan orang tua yang membuat aturan bahwa sang anak harus tidur tidak larut malam atau anak harus menghormati orang tua.

Dalam benak sang anak akan terjadi kontradiksi ketika dalam praktiknya sang orang tua justeru naik sepeda motor tidak memakai helm. Atau, mengajak sang anak bersepeda motor, namun sang anak tidak dipakaikan helm.

Contoh lain pentingnya teladan soal disiplin. Antre di tengah kemacetan lalu lintas jalan adalah mutlak. Namun, ketika kemacetan menggila lantas sang orang tua yang membawa mobil malah merangsek bahu jalan, menunjukkan bahwa disiplin masih rendah.

Ironisnya jika di dalam mobil ada sang anak yang dengan kasat mata melihat pembelajaran bahwa melibas bahu jalan adalah sah-sah saja di tengah kemacetan. Lagi-lagi, benak sang anak akan berkecamuk. Di rumah diajarkan disiplin, tapi di jalan ada contoh perilaku semena-mena.

Tentu, teladan bukan semata harus dilakukan orang tua. Para guru, penegak hukum maupun para birokrat serta para pemimpin mutlak memberi teladan bagaimana berlalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang mengedepankan akal sehat dan nurani.

Mendidik anak-anak menyelamatkan generasi penerus. Kita sudah banyak kehilangan anak bangsa akibat kecelakaan di jalan raya. Dalam rentang lima tahun terakhir, 2012-2016, sekitar 137 ribu jiwa melayang sia-sia di jalan raya. Belum lagi mereka yang menderita luka berat dan ringan, jumlahnya berlipat-lipat, yakni sekitar 720 ribuan orang.

Ironisnya, pemicu utama kecelakaan adalah perilaku pengemudi yang melanggar aturan. Perilaku ugal-ugalan, tidak disiplin, dan mau menang sendiri.

Nah, kalau kita menyemai gabah, kelak memanen padi, bukan keladi. (edo rusyanto)

foto: akun IG polantasindonesia

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: