Skip to content

Saat Truk Menjadi Angkutan Pilihan

1 Juli 2017

BERITA terperosoknya truk pengangkut warga di Purbalingga, Jawa Tengah membuat kita prihatin. Kecelakaan pada Jumat, 30 Juni 2017 itu merenggut tiga korban jiwa dari 34 penumpang. Selebihnya menderita luka-luka

Kabar yang beredar truk berserempetan dengan mobil sebelum akhirnya terjerembab ke bawah jembatan. Niat para peumpang truk untuk berwisata ke pantai pun batal.

Betul bahwa kecelakaan truk yang mengangkut orang bukan kali pertama. Banyak peristiwa serupa. Kejadian demi kejadian terus merenggut korban.

Truk menjadi pilihan bukan tanpa alasan. Jawaban paling atas dapat dipastikan adalah karena kebutuhan. Masyarakat butuh alat angkut untuk menempuh perjalanan secara bersama-sama. Guyup dan bersenang-senang. "Tidak ada perasaan takut kecelakaan karena waktu itu saya masih remaja," tutur seorang warga menceritakan pengalamannya naik truk untuk berwisata.

Alasan lain adalah penghematan biaya. Naik truk bersama-sama, biayanya dinilai lebih hemat dibandingkan naik angkutan umum. Belum lagi harus gonta-ganti jenis angkutan untuk mencapai tujuan. Kerepotan yang ditimbulkan dianggap membuat tidak nyaman.

Alasan di atas bisa jadi ketika seseorang memiliki daya beli mumpuni sontak mendorong hasratnya memilki kendaraan pribadi. Maklum, kendaraan pribadi memungkin mobilitas dari satu titik ke titik lain lebih praktis. Walau di sisi lain, kemacetan lalu lintas jalan pun tak terbendung mengingat laju pertumbuhan kendaraan tak sebanding dengan pertumbuhan infrastruktur jalan.

Bagi saya, ketika truk dijadikan angkutan orang, misalnya untuk berwisata, menunjukan sisi lain dunia transportasi kita. Angkutan umum yang tersedia belum memadai. Masih dianggap belum mudah diakses secara finansial dan teknis. Bahkan, belum ramah secara finansial pula.

Saat itulah masyarakat mencari solusi sendiri. Mereka memilih angkutan yang dianggap paling mudah diakses. Tentu saja termasuk yang dianggap paling ramah bagi kocek mereka.

Apapu risiko dihiraukan. Bahkan, risiko kecelakaan lalu lintas jalan seakan diremehkan. Padahal, ketika kecelakaan terjadi semua teori seefisiensi pembiayaan menjadi runtuh. Bisa jadi produktifitas habis terpangkas, bahkan hilang sama sekali.

Kalau sudah begitu, penyesalan menjadi tak berarti. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: