Skip to content

Dampak Ketika Gagal Menjaga Jarak Aman Berkendara

10 Juni 2017

SELALU saja ada yang mencari pembenaran ketika berlalu lintas jalan. Maksudnya, mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya sekalipun jelas-jelas salah.

Contoh, melawan arus lalu lintas jalan. Sang pelaku berdalih hal itu dilakukan karena terpaksa. Situasi yang memaksa antara lain karena terburu-buru mengejar waktu.

Perlindungan yang jamak dicari adalah kata ‘terpaksa’. Seolah-olah kondisi yang ada memang tidak bisa dilawan. Walau, jika ditelaah lebih jauh kondisi yang disebut ‘terpaksa’ tadi itu lebih tepat sebagai kondisi ‘memaksakan diri.’

Ironisnya, dampak dari memaksakan diri itu bisa berbuah getir. Lalu lintas jalan menjadi lebih karut marut. Lalu, gesekan sosial seperti adu urat saraf dan adu jotos. Paling buruk adalah berbuntut pada kecelakaan lalu lintas jalan.

Agar tidak terjebak dalam getirnya kecelakaan lalu lintas jalan dan mencari-cari alasan dengan menyalahkan di luar diri sendiri, perlu disebarluaskan berkendara yang aman dan selamat (road safety). Salah satunya adalah soal menjaga jarak aman ketika berkendara. Pasalnya, dampak gagal menjaga jarak aman tidak mengenakan.

Lihat saja data Korlantas Mabes Polri tahun 2016. Lantaran gagal menjaga jarak aman saat berkendara, setiap hari terjadi sekitar 45 kecelakaan lalu lintas jalan. Angka itu naik 6% bila dibandingkan dengan tahun 2015.

Kecelakaan yang dipicu oleh kegagalan menjaga jarak aman menyumbang sekitar 17,31% terhadap total kecelakaan tahun 2016. Kontribusi itu meningkat bila dibandingkan setahun sebelumnya yang sebanyak 16,61%.

Lantas, apa yang dimaksud dengan jarak aman berkendara?

Saya termasuk yang menganut faham agar jarak cukup aman diberi rentang waktu tiga detik antar kendaraan. Misal, kendaraaan saya dengan satu kendaraan di depan saya, rentang waktu tiga detik dapat mengurangi potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Yakinlah.

Tiga detik tadi bermanfaat untuk, satu detik pertama menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Lalu, detik kedua mengambil keputusan atas pengolahan informasi yang diserap. Terakhir, detik ketiga mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang meminimalisasi potensi kecelakaan dan tentu saja langkah terbaik guna memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas.

Oh ya, data kecelakaan yang saya kutip di atas adalah untuk rentang waktu sepuluh bulan 2016 dibandingkan periode sama setahun sebelumnya. Mari cegah kecelakaan di jalan. Terus bergerak. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: