Skip to content

Nyalip Dari Kiri Berujung Bui

7 Juni 2017

2016 02 20 14 03 41

LAJU sepeda motor Rantho, kita sapa saja demikian, berjalan normal seperti biasanya. Si roda dua melenggang di permukaan jalan yang mulus dengan didukung kondisi cuaca yang cukup cerah.

Di jok bagian belakang duduk Rendyan, teman sebaya Rantho. Mereka berdua melaju di atas aspal mulus di tengah keramaian arus kendaraan. Sore itu, kecepatan sepeda motor berkisar 50-60 kilometer per jam (kpj).

Rantho yang belum genap berusia dua puluh tahun itu tergolong bisa mengendarai sepeda motor. Lazimnya anak-anak muda di perkotaan, dia cukup familiar meliuk-liuk dengan kuda besi di jalan raya. Walaupun, di kantongnya belum bersemayam surat izin mengemudi (SIM) C, alias SIM bagi pesepeda motor. Belakangan, tidak memiliki SIM C saat bersepeda motor menjadi faktor pemberat hukuman ketika ia menjadi terdakwa dalam kasus kecelakaan lalu lintas jalan.

Ya. Sore itu jalan hidup Rantho berubah drastis saat dirinya menabrak pejalan kaki. Laju sepeda motornya terhenti oleh benturan dengan penyeberang jalan. Jeritan sang korban dan rasa sakit akibat terjatuh dari motor menjadi catatan kelabu. Apalagi, kasus pun bergulir ke meja hijau.

“Penyeberang jalan terhalang mobil di depan kami yang berjalan pelan, sebelum kejadian, kami menyalip dari kiri,” tutur Rendyan.

Jaksa penuntut umum (JPU) melayangkan tuntutan penjara dua tahun karena kasus kecelakaan ini menyebabkan orang lain meninggal dunia. Rantho dinilai bersalah melanggar Pasal 310 Ayat (4) Undang Undang No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.

Sejatinya, tuntutan JPU lebih rendah dibandingkan dengan ancaman yang termaktub dalam UU tersebut. Maklum, sanksi tertinggi dalam pasal itu memenjarakan enam tahun bagi para pelaku kecelakaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia.

Setelah melewati serangkaian sidang, majelis hakim memutuskan bahwa Rantho dikenai sanksi pidana penjara 1,5 tahun. Dokumen pengadilan yang terbuka untuk publik menyebutkan bahwa hal yang memberatkan adalah sang terdakwa tidak memiliki SIM.

Satu lagi fakta yang dapat menjadi pembelajaran bagi kita adalah bahwa menyalip dari sisi kiri jalan memiliki risiko tinggi. Tentu saja termasuk berkendara tidak memiliki SIM ternyata juga bisa merepotkan sang pengendara. (edo rusyanto)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: