Skip to content

Adil, Toleran, dan Perikemanusiaan di Jalan

31 Mei 2017

NGGAK usah berkoar-koar yang maknanya bisa jadi lu nggak ngerti. Nah, kalau punya perikemanusiaan, sikap adil, dan toleransi, mulai aja dari cara lu berlalu lintas jalan. Tunjukin deh mulai dari sekarang.

Begini. Kalau memang mau bertindak adil, gantian dong. Saat posisi lu lagi lampu merah ya berhenti, kasih kesempatan arah lain yang sedang lampu hijau untuk jalan. Kalau lu terobos, nggak adil dong.

Mana perikemanusiaan lu, kalau trotoar yang haknya pedestrian lu rampas. Kendaraan bermotor parkir sembarangan, bahkan melintas seenaknya di trotoar. Aneh, ngakunya berperikemanusiaan, tapi hak orang lain diinjak-injak.

Nggak usah juga ngaku toleran kalau lu ngelawan arus yang jelas-jelas hak orang lain. Toleransi menjadi barang mahal kalau hak pengguna jalan dirampas dan dicabik-cabik seenaknya.

Jadi, watak manusia bisa kelihatan dari cara berlalu lintas jalannya dong yah?

Keadaban kita sebagai manusia dapat ujian di jalan raya. Esensi manusia yang beradab selalu menggunakan akal sehat dan nurani. Bila berkendara kehilangan dua hal itu kita menjadi liar, tidak toleran, bahkan tidak berperikemanusiaan. Seenak jidatnya merampas hak orang lain.

Pertanyaannya, kenapa nalar dan nurani itu hilang?

Jangan-jangan karena egois dan rusaknya akal sehat. Sikap egois alias mau menang sendiri, mau enak sendiri, bahkan mau selamat sendiri menjadi akar persoalan. Nggak peduli nasib orang lain yang penting dirinya cepat sampai tujuan, tidak kena macet, bahkan nggak masuk rumah sakit.

Lalu, rusaknya akal sehat membuat pengguna jalan sudah tidak lagi sudi bertoleransi. Kerusakan tadi juga membuat seseorang sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Apalagi dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Kalau sudah begitu tak heran peraturan menjadi barang hiasan. Lalu, etika dianggap hambatan dalam berekspresi. Tiap hari, rata-rata nggak kurang dari 23 ribu pelanggaran aturan di jalan.

Ketika peraturan dilanggar seenaknya, siap-siap aja bermuara pada keterpurukan. Maklum, polantas bilang bahwa kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran.

Masih ingat bahwa setiap hari 70-an orang tewas akibat kecelakaan di jalan raya kita? Nah, mayoritas dari kecelakaan yang terjadi dipicu oleh perilaku ugal-ugalan alis melanggar aturan. (edo rusyanto)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: