Skip to content

Menggugat Rasionalitas Berlalu Lintas

24 Mei 2017

ADA sebab, ada akibat.

Saat berlalu lintas jalan hukum sebab akibat demikian melekat. Misal, gara-gara menerobos lampu merah, akibatnya bisa ditilang, bahkan bukan tidak mungkin memicu kecelakaan.

Contoh lain, gara-gara tidak konsentrasi, menyenggol orang yang menyeberang jalan.

Akal sehat kita bekerja dan menyimpulkan bahwa konsentrasi yang terganggu menciptakan insiden dan kecelakaan. Kesadaran berintrospeksi pun menjadi tahapan selanjutnya sebelum akhirnya memutuskan, ada kekeliruan yang sudah dilakukan.

Sangat jelas bahwa kelakuan tadi melanggar aturan. Maklum, regulasi yang berlaku saat ini mewajibkan setiap pengendara untuk terus berkonsentrasi saat berlalu lintas jalan.

Itulah logika alias rasionalitas saat berlalu lintas. Meminjam contoh menyenggol penyeberang jalan di atas, amat picik saat persoalan digeser ke orang atau pihak lain, jika jelas-jelas masalahnya ada di diri pengendara yang tidak berkonsentrasi. Perilaku yang buru-buru menyalahkan pihak lain justeru mengerdilkan sang pelaku. Amat kentara kelakuan egois, mau menang sendiri.

Menggeser persoalan ke pihak lain tanpa mau introspeksi diri mencerminkan runtuhnya nurani dan akal sehat. Apalagi jika motivasinya sebatas tidak ingin disalahkan. Gertak sambalpun menjadi pilihan. Kelakuan yang menyedihkan.

Bekerjanya akal sehat tidak terlepas dari kemapanan cara berpikir yang diekspresikan lewat tindakan. Nalar yang logis tercermin lewat cara berlalu lintas jalan yang etis dan elegan. Bukan serampangan hingga ugal-ugalan yang justeru mempertontonkan naluri kebiadaban.

Runtuhnya akal sehat bukan mustahil menyeret nurani jatuh terjerembab. Kesantunan berubah menjadi keliaran. Rasa menghargai hak sesama pengguna jalan pun tercabik-cabik. Hukum rimba menjadi panglima, si kuat menindas yang lemah. Tak peduli orang susah yang penting diri sendiri terpuasi.

Jangan-jangan hal itu yang mendasari perampasan trotoar oleh kendaraan bermotor. Trotoar yang notabene hak pedestrian dengan entengnya dijarah.

Rasa malu menjadi barang mewah. Tak ada rasa sungkan melanggar aturan. Hak orang lain dirampas, ketika ditegur justeru bringas. Tak ada rasa menghormati sesama pengguna jalan, juga terhadap para penegak hukum. Kalau sudah begitu tinggal soal waktu meledaknya gesekan sosial, termasuk kecelakaan lalu lintas jalan.

Padahal, ibarat pepapatah, kalah jadi abu, menang jadi arang. (edo rusyanto)

Grafis: akun instagram kemenhub

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: