Skip to content

Sang Penyelamat Bahan Bakar di Gunung

6 Mei 2017

SELAIN listrik, saat ini kehidupan warga juga tergantung kepada bahan bakar. Entah itu bahan bakar minyak (BBM), gas, maupun nabati.

Khusus para pengguna kendaraan bermotor, ketergantungan itu terasa amat tinggi pada BBM. Apalagi mereka yang memiliki hobi berpetualang atau sekadar touring menjelajah pelosok negeri. Kehadiran BBM demikian berarti. Ketika habis BBM, berhenti pula perjalanan.

Belum semua pelosok negeri memiliki stasiun pompa bensin umum (SPBU). Mereka yang jeli melihat itu sebagai peluang usaha sontak mencari cara menjajakan BBM. Ada yang cukup dengan kemasan bekas botol minuman ringan atau derigen kecil terbuat dari plastik.

“Kalau saya beli alat-alat pompa bensin ini seharga Rp 7 juta,” papar Udjang, kita sapa saja begitu, saat berbincang dengan saya di kawasan Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 29 April 2017 pagi.

Pagi itu saya lihat tidak sebatas sepeda motor yang mengisi BBM di tempat Udjang. Sejumlah mobil juga tampak ikut sibuk mengisi bahan bakar fosil tersebut. “Saya ngisi buat jaga-jaga karena bahan bakar saya sudah tinggal sedikit, ini amat membantu saya,” ujar Anto, salah seorang penunggang sepeda motor sport asal Jakarta.

Kawasan Ciwidey merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Bandung Selatan, Jawa Barat. Di kawasan pegunungan ini terdapat sejumlah obyek wisata seperti pemandian air panas dan Kawah Putih, Gunung Patuha yang sudah terkenal kem manca negara.

Jarak Ciwidey dari Jakarta sekitar 188 kilometer (km). Persediaan bahan bakar dituntut dalam jumlah cukup jika tidak ingin kenyamanan perjalanan terusik. “Walau harganya Rp 10 ribu per liter, tapi pertamax yang disediakan ini cukup membantu saya,” tutur pembeli lainnya.

Udjang menjual BBM non subsidi pertamax Rp 10 ribu per liter, sedangkan harga belinya Rp 8.250 per liter. “Saya rasa cukup menjual Rp 10 ribu, kalau lebih dari itu nanti dibilang kemahalan oleh konsumen,” tuturnya.

Dia mengaku mampu menjual BBM berkisar 60-100 liter per hari. Konsumennya beragam. Ketika hari libur, banyak konsumennya yang berasal dari para wisatawan. Sedangkan pada hari biasa, mayoritas adalah penduduk sekitar. Maklum, jarak terdekat ke SPBU membutuhkan waktu berkisar 30-60 menit.

Jadi, bisa dibilang bahwa kehadiran penjual BBM di SPBU mini menjadi penyelamat kebutuhan bahan bakar Anda ketika berada di pelosok. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: