Skip to content

Ramai-ramai Jarah Trotoar Dewi Sartika

4 Mei 2017

ARUS kendaraan bermotor padat merayap. Kawasan Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur seakan menjerit. Tak mampu lagi memikul beban ribuan kendaraan yang lalu lalang.

Pagi hari saat para urban maupun warga Jakarta pinggiran yang hendak menuju tengah kota tumpah ruah di kawasan ini. Mereka ada yang menuju tempat bekerja, berdagang, maupun kuliah.

Jalan ini menjadi titik sambung dari Jl Raya Bogor. Simpul masuk dan keluar warga pinggiran maupun kelompok urban dari Bogor dan Bekasi. Dari jalan ini pula warga meneruskan perjalanan ke pusat ekonomi bisnis seperti kawasan Kuningan, Jakarta Selatan maupun pusat perdagangan seperti di Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Kepadatan kendaraan bermotor pun menjadi pemandangan sehari-hari. Terlebih saat jam sibuk seperti pagi dan sore hari. Mobil pribadi, angkutan umum, angkutan barang hingga sepeda motor berjejal disana. Arus kendaraan pun tersendat.

Suatu pagi pada penghujung April 2017 saya berbaur dalam kepadatan tersebut. Laju sepeda motor saya merayap. Jarak antar kendaraan amat rapat. Bahkan, sesekali sempat bersenggolan dengan setang sepeda motor lainnya.

Tiba-tiba, tanpa dikomando, para pesepeda motor meluber ke trotoar jalan. Arus kendaraan dari arah Pusat Grosir Cililitan (PGC) menuju Cawang yang demukian membludak mengusik kesabaran para penunggang kuda besi. Mereka seakan frustrasi akan kemacetan yang menggila. Sampai-sampai trotoar jalan yang notabene adalah hak pejalan kaki pun dirampas.

Para penjarah trotoar tadi tak kenal usia. Tua dan muda sibuk merampas hak pedestrian. Begitu juga dari sisi gender. Pria dan wanita tanpa rasa malu merangsek trotoar.

Laju para penjarah lebih lancar dibandingkan dengan mereka yang bersabar merayap di atas aspal. Entah apa yang ada di benak para penjarah trotoar. Pastinya, ada yang berkesimpulan bahwa mereka tak lagi memiliki rasa malu, sampai-sampai merampas hak sesama pengguna jalan.

Kelakuan para penjarah sebenarnya membuat warga sekitar menjadi gerah. Pernah saya lihat sampai ada yang menghalangi laju penjarah dengan bangku kayu panjang, tapi tak berlangsung lama.

Malah, di salah satu titik trotoar warga menutupnya dengan pot bunga. Itupun tak berlangsung lama karena pot dirusak.

Lalu, saya lihat warga menaruh drum yang diisi beton. Untuk yang satu ini sedikit manjur. Walau ada saja pesepeda motor yang nekat menggeser letak beton tadi agar dapat melintas.

Warga pun geram. Perlawanan terhadap para penjarah trotoar ditingkatkan. Caranya, warga membuat beton permanen di dekat titik drum berisi beton. Pembuatan beton permanen cukup manjur. Para penjarah tak mampu menembus barikade itu.

Di sisi lain, kehadiran beton permanen tadi merusak estetika kota. Dan, hal serius adalah menghalangi para pejalab kaki itu sendiri terlebih pedestrian dari jalangan penyandang tunanetra maupun para difabel yang menggunakab kursi roda.

Inilah salah satu ironi kota Jakarta. Di satu sisi warga melawan sesama warga yang menjarah trotoar. Di sisi lain, perlawanan itu mengusik kenyamanan para difabel. Miris. (edo rusyanto)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: