Skip to content

Saat Pegawai Bank Menyoal Jarak Aman

3 Mei 2017

GEDUNG jangkung itu berdiri di pusat kawasan bisnis (central business district/CBD) Kuningan, Jakarta Selatan. Kesan kokoh terlihat jelas dari luar.

Saat menjejakan kaki di lobby gedung berketinggian 48 lantai itu suasana nyaman begitu terasa. Sekalipun, di sebagian sisinya sedang ada pekerjaan peningkatan layanan. “Yang repot kalau parkir motor tamu, harus di luar gedung, bisa di samping atau di belakang gedung,” tutur seorang tamu gedung, saat berbincang dengan saya, Rabu, 3 Mei 2017 pagi.

Hal serupa saya alami. Usai memarkir sepeda motor di luar gedung harus berjalan kaki sekitar 100 meter, anggap saja olah raga. Hari itu saya ada janji dengan kelompok pengguna sepeda motor BTPN Bikers yang anggotanya mayoritas adalah karyawan bank tersebut. “Kami ingin ada sosialisasi mengenai Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan agar lebih aman dan selamat di jalan raya,” kata bro Dedy yang menyambut saya di lobby BTPN.

Di lantai 27 yang diberi nama Beranda, sejumlah kursi ditata dengan apik. Ruangan diberi warna cerah dengan beragam kursi dan sofa. Kapasitas ruangan bisa menampung sekitar 100 orang. “Ini area tempat karyawan istirahat, makan siang hingga mencari hiburan. Disini ada karaoke, billiard hingga permainan bola meja,” tutur bro Riezha, salah seorang karyawan BTPN.

Jarak Aman

Memasuki sekitar 11.30 WIB seminar bertajuk ‘Selamat, Aman Berkendara di Jalan Raya Sesuai UU Lalu Lintas Yang Berlaku’ pun dimulai. Saya didapuk sebagai pembicara tunggal. “Pesertanya dari berbagai divisi di BTPN, nah waktu oom Edo sekitar satu setengah jam,” kata Dedy.

Banyak seminar yang saya jumpai dalam beberapa tahun terakhir, namun untuk kali ini lebih berbeda. Selain karena saya pembicara tunggal, juga karena pesertanya yang mayoritas para karyawan bank. Sebuah pengalaman tersendiri untuk bertukar pikiran dengan mereka yang latar belakang pendidikannya cukup baik. Terutama ketika menyisipkan ideologi keselamatan jalan yang berbasis pada ketaatan pada aturan di jalan.

Pendekatan yang saya pilih adalah lewat 5 W + 1H. Jargon ini sejatinya saya jumpai pertamakali ketika menekuni dunia jurnalistik sekitar 23 tahun lalu. Pendekatan apa, siapa, kapan, kenapa, dimana, dan bagaimana memudahkan proses diskusi dengan para peserta. Setidaknya memudahkan penyampai pesan untuk dapat berkomunikasi dua arah dengan para penerima pesan.

Pendekatan itu saya balut dengan fakta data bahwa di dunia, kecelakaan lebih mematikan 357 kali dibandingkan kalajengking. Bahkan, 21 kali lebih mematikan dibandingkan ular. Fakta data pemicu kecelakaan dan korban yang ditimbulkan oleh kecelakaan mendorong minat peserta untuk berinteraksi.

“Bagaimana mengatur jarak aman saat bersepeda motor di jalan raya?” tanya Wina, salah seorang peserta.

Pertanyaan yang amat menarik mengingat kecelakaan kerap terjadi ketika jarak antara kendaraan tidak terjaga dengan baik. Teori rentang tiga detik antar kendaraan saat melaju di jalan raya menjadi favorit untuk menjawab pertanyaan Wina. Kali ini saya pun mengajak dia untuk menjajal hal itu. Bahkan, saya beri contoh bagaimana cara yang sederhana untuk mengaplikasikan teori tiga detik, yakni dengan membuat patokan saat melaju.

Bila kecepatan 50 kilometer per jam (kpj), jarak aman dalam teori tiga detik sekitar 42 meter. Sedangkan dalam kecepatan 70 kpj, rentang aman sekitar 58 meter.

Rasa ingin tahu BTPN Bikers maupun peserta diskusi kali ini cukup baik. Saya mencatat setidaknya ada empat pertanyaan lain di luar Wina yang dilontarkan oleh dua peserta.

“Bagaimana mengetahui bahwa sebuah operasi kepolisian di jalan raya itu resmi atau tidak resmi? Dan, apa arti slip merah dan biru ketika kena tilang,” tanya Mifta, seorang peserta.

Pertanyaan lain yang muncul. “Bagaimana menghadapi perilaku orang yang membunyikan klakson saat di lampu merah? Apa ada aturan kapan klakson mesti dibunyikan?” tanya seorang pria peserta diskusi.

Fakta membuktikan bahwa masyarakat masih membutuhkan edukasi untuk urusan keselamatan jalan. Peran para pemangku kepentingan keselamatan jalan amat dibutuhkan. Walau, saya tegaskan kepada para peserta diskusi, masyaraat tidak bisa 100% bergantung kepada mereka.

Peran publik pengguna jalan amat menentukan. Upaya saling mencerahkan dengan bertukar pikiran seperti yang dilakukan BTPN Bikers menjadi salah satu katup penting. Edukasi menjadi kata kunci selain penegakan hukum di jalan raya. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. negarakayasayamiskin permalink
    3 Mei 2017 17:23

    Jalan 50kpj jarak 42 meter? Ini teori beneran? Biker jadi-jadian ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: