Skip to content

Masih Kikuk Ngisi BBM Sendiri

12 April 2017


MASIH kikuk. Kira-kira begitu saat saya mengisi bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pompa bensi umum (SPBU).

“Tinggal tekan aja pak, terus arahin ke tanki selangnya. Oh ya, bayarnya di sini,” ujar pegawai SPBU berseragam kemeja putih dan celana panjang hitam kepada saya, di Jakarta Selatan, Selasa, 11 April 2017 siang.

Rasa kikuk bukan milik saya sendiri. Sebelumnya, saya lihat juga dialami seorang pesepeda motor yang hendak mengisi BBM di SPBU yang sama. Bisa jadi karena tidak biasa, sama seperti saya.

Kekikukan tadi lantaran belum biasa, sudah pasti. Bisa jadi kikuk karena takut BBM yang disalurkan ke tanki takut tercecer. Selain itu, khawatir membahayakan diri dan orang lain. Walau, faktanya semua lancar-lancar saja. Hehehehehe….

Ya. Begitulah suasana saat mengisi BBM di SPBU yang memiliki fasilitas self service alias mengisi sendiri BBM yang akan dibeli konsumen. Kali ini, saya menemuinya di kawasan Jl Lenteng Agung dari arah Kampus Universitas Indonesia, Depok. Lokasinya persis di sisi kiri jalan yang menerapkan satu arah menuju ke Stasisun Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Siang itu saya lihat belasan pesepeda motor dengan tertib menunggu giliran. Sang petugas membantu mengarahkan mereka yang ingin mengisi. Konsumen membayar ke petugas tadi.

Di dekat sang petugas terdapat mesin penghitung uang dan sebuah spanduk informasi berukuran kccil dengan warna mencolok mata.

“Lakukan pembayaran di standing console dan menerima bukti transaksi (struk/nota),” bunyi tulisan di papan informasi itu.

Lalu, terdapat informasi untuk konsumen menempatkan kendaraan sesuai arahan operator dan matikan mesin saat mengisi BBM.

Selain itu, “angkat selang nozzle, tarik tuas nozzle secara perlahan dan hati-hati saat pengisian BBM/BBK.”

Oh ya, di SPBU ini hanya tersedia jenis BBM Pertalite dan Pertamax. Tidak ada jenis Premium.

Pembelian bahan bakar dengan sistem self service ternyata sudah dicanangkan sejak 2011. Saat itu, PT Pertamina (Persero) memulainya lewat SPBU di kawasan Gading Serpong, Tangerang, Banten. Konsumen bisa membeli dengan memakai pembayaran via kartu kredit atau tunai lewat kasir.

SPBU tersebut ternyata merupakan bagian dari Company Own Company Operated (COCO). Badan usaha milik negara (BUMN) tersebut mencanangkan 12 SPBU COCO per tahun. Pernah disebut-sebut bahwa SPBU seperti itu membutuhkan investasi sekitar Rp 20 miliar untuk satu SPBU.

Saya pernah mencoba pertamakali pada 2013. Saat itu, lebih kikuk dari saat ini. Hehehehe….Norak yah? (edo rusyanto)

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 12 April 2017 11:45

    awas luber eyang 😀

  2. 20 April 2017 10:05

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: