Skip to content

Jalan Kaki di Jakarta Bisa Melatih Kewaspadaan

7 April 2017

PERNAH kepikiran bahwa berjalan kaki di Jakarta tak semata mereduksi polusi udara?

Ya. Berjalan kaki di Jakarta juga melatih kewaspadaan. Waspada dari ancaman banyak hal terutama perilaku pengendara yang lepas kontrol.

Latihan itu kian banyak ketika musim galian tanah tiba. Lihat saja di sekitar Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tepatnya dari arah Semanggi menuju fly over Kuningan. Galian tanah untuk pemasangan pipa air memperkecil trotar, bahkan nyaris menutup lajur pedestrian.

Dua bulan terakhir, yakni Maret dan April 2017, kawasan itu benar-benar melatih kewaspadaan pedestrian. Pada titik yang amat sempit, hanya bisa dilalui satu pedestrian. Kalau tidak waspada bisa dicium kendaraan bermotor.

Selain galian tanah, pembangunan sejumlah infrastruktur juga ikut melatih kewaspadaan pedestrian. Lihat saja pembangunan fly over Pancoran yang di beberapa titik mempersempit gerak pedestrian. Bahkan, di dekat Patung Pancoran, ada titik yang memaksa pedestrian berjalan di badan jalan. Bayangkan jika tidak ekstra waspada. Bisa-biaa dicium kendaraan bermotor.

Masih di Jl Gatot Subroto, persisnya di area pembangunan simpang susun Semanggi, pedestrian sungguh-sungguh dilatih waspada. Pedestrian yang berjalan dari Semanggi arah Hotel Crown hanya punya ruang berjalan bagi satu orang. Praktis jika tidak sabar dan waspada bisa mengundang senggolan dengan pengguna kendaraan bermotor.

Pembangunan infrastruktur mutlak dibutuhkan kota sebesar Jakarta. Tanpa infrastruktur yang mumpuni roda kehidupan kota menjadi hambar. Apalagi infrastruktur transportasi. Sedikit saja salah kalkulasi dalam pembangunannya, bukannya mengurai kemacetan, justeru menambah tingkat kemacetan lalu lintas jalan yang sudah demikian menggila di kota berumur 487 tahun itu.

Sekalipun demikian, pembangunan infrastruktur juga eloknya tak mengabaikan hak pedestrian. Warga kota yang berjalan kaki adalah patriot pemangkasan gas emisi buang. Mereka berkontribusi besar atas pengurangan pencemaran udara dan suara. Sewajarnya hak atas kenyamanan dan keselamatan berjalan kaki dijamin oleh pemerintah.

Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan tegas melindungi hak pedestrian. Tinggal bagaimana penyelenggara pemerintahan dengan apik menata kota dan mengontrol pekerjaan proyek pembangunan agar tidak merongrong keselamatan pedestrian. Setuju? (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 9 April 2017 16:30

    Kenyataan pedestiran di jakarte 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: