Skip to content

Cerita Jas Hujan Dadakan di Jakarta

3 April 2017
tags:

LANGIT tampak gelap. Suara halilintar bersahutan. Rintik hujan mulai berjatuhan yang perlahan berubah menjadi deras. 

Dari tempat saya berteduh di emperan toko terlihat lalu lintas jalan ramai lancar. Jarak ke jalan raya tak lebih dari dua meter. Toko dalam kondisi tertutup. Persis di sampingnya ada kedai mie ayam bakso. 

Di depan tempat saya berdiri banyak pesepeda motor yang berteduh. Mereka berdiri di depan bengkel dan rumah toko (ruko) yang juga terletak di sisi jalan. 

Hujan kian deras disertai angin cukup kencang. Daun-daun pepohonan meliuk-liuk diterpa angin kencang tadi. Jalan raya mulai membentuk genangan. Air beriak ketika roda-roda menggilas permukaan aspal. 

Sambil menunggu hujan sedikit reda saya pilih mengetik di ponsel. Sesekali percikan air mampir ke wajah dan ponsel. Jas hujan yang membalut tubuh membuat percikan air tak mampu menembus hingga ke pakaian. 

Tiba-tiba menepi sebuah sepeda motor skutik berukuran bongsor. Pengendaranya seorang pria dewasa.

“Numpang tanya pak, kalau ke Kalideres arahnya kemana? ” tanya sang pengendara tadi, awal April 2017 siang.

“Bapak lurus saja, lalu belok kanan. Setelah itu, lurus lagi. Setelah bertemu perempatan jalan belok kiri dan tinggal lurus saja,” jawab saya.

Hujan kian deras. Saya lihat pria itu memakai jas hujan bagian atas saja. Begitu juga perempuan yang diboncengnya. “Jas hujannya baru beli tadi, harganya Rp 10 ribu,” tutur pria tadi.

Dia mengaku bahwa saat pergi dari rumah tidak membawa jas hujan karena cuaca cukup cerah. Tapi, saat di jalan hujan turun deras. Terpaksalah dia membeli jas hujan seadanya. “Lumayan jadi nggak basah semua,” tuturnya lagi.

Pengalaman serupa pernah saya alami saat bersepeda motor malam hari. Ketika itu, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Tubuh sudah sebagian terguyur hujan ketika akhirya bertemu dengan pedagang jas hujan di pinggir jalan.

Pria pedagang jas hujan dadakan itu berdiri di pinggir jalan. Di tangannya terdapat belasan jas hujan. “Untuk yang ponco Rp 10 ribu dan yang sepasang, yakni atas dan bawah Rp 15 ribu,” sergahnya, suatu malam di Jakarta.

Kehadiran pedagang jas hujan dadakan itu cukup membantu bagi pesepeda motor yang tidak berbekal jas hujan. Soal kualitas, tentu saja sangat berbeda dibandingkan dengan ketika kita membeli jas hujan di toko-toko yang dibanderol berkisar Rp 100-300 ribu per unit. (edo rusyanto)

Iklan
One Comment leave one →
  1. 4 April 2017 00:44

    mantappp kakk

    streaming lagu dengan paket musik telkomsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: